Rabu, 21 Okt 2026
light_mode

Peran RI memudar di ASEAN

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 3 Des 2012
  • print Cetak

JAKARTA, (MO) – Kalau saja jarum jam bisa diputar balik ke posisi 1972, Indonesia akan menemukan kembali momen membanggakan dalam keberadaannya di ASEAN.

Empat dekade lalu, ASEAN yang didirikan pada 8 Agustus 1967, baru terdiri atas lima negara pendiri: Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand dan Filipina. Jumlah ini hanya separuh dari total anggota ASEAN saat ini (2012). Brunei Darussalam, Vietnam, Laos, Myanmar dan Kamboja belum lagi menjadi anggota.

Dengan lima anggota saja, suara, pengaruh dan peran Indonesia begitu dominan. ASEAN yang beranggotakan negara non-komunis, demikian diperhitungkan oleh negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang dan Eropa Barat.

Tidak selamanya harus Presiden Soeharto yang tampil di forum ASEAN. Cukup dengan pejabat setingkat Menteri Luar Negeri Adam Malik saja, para anggota ASEAN lainnya, sudah cukup respek. Menlu yang dijuluki “Si Kancil” itu sangat kredibel di mata para pemimpin ASEAN.

Selain dominan, pengambilan keputusan pun melalui konsesus, lancar. Komunikasi antar para pemimpin dari semua negara anggota relatif bagus dan tentu saja soliditas dan solidaritas pun, cukup kuat. KTT ASEAN yang berlangsung setiap tahun, belum dikenal. Namun ASEAN sangat kokoh dan kekokohan itu menambah wibawa Indonesia sebagai negara terbesar.

Sejatinya persoalan yang dihadapi ASEAN pada era 70 sampai tahun 80-an, bukanlah hal yang mudah. Selain dunia masih dihantui oleh Perang Dingin antara Blok Barat dan Blok Timur pertumbuhan ekonomi dan perdagangan di kawasan ASEAN relatif masih rendah. Kecuali Singapura, di bidang politik, Thailand, Malaysia, Filipina dan Indonesia, semuanya masih menghadapi gangguan subversi dari dalam.

Sementara bagi rakyat Indonesia sudah ada kebanggaan tersendiri. menjadi warga ASEAN. Indonesia seperti memiliki status sosial yang lebih bergengsi di antara sesama anggota. Ini dibuktikan dari sikap sesama anggota ASEAN manakala warga Indonesia berkunjung ke negara-negara tetangga itu.

Sambutan warga Singapura, Malaysia, Thailand dan Filipina terhadap warga Indonesia, hangat dan bersahabat. Praktis tidak ada ejekan ataupun pelecehan yang dilakukan oleh warga dari empat negara anggota ASEAN. Bertandang ke Singapura misalnya, para petugas imigrasi tidak akan menatap wajah orang Indonesia dengan mimik dan bahasa tubuh yang meremehkan.

Bagi Singapura, setiap pendatang dari Indonesia pasti memiliki uang yang banyak untuk berbelanja barang elektronik atau baju dan sepatu berkualitas buatan Eropa. Padahal ketika itu tingkat perekonomian Indonesia masih jauh lebih rendah dibanding di 2012. Nyaris belum pernah terdengar ada warga Indonesia yang memiliki apartemen di Singapura.

Manakala berkunjung ke Manila, ada satu kebanggaan sekaligus bercampur rasa haru. Karena di lampu-lampu merah di kota itu, terdapat begitu banyak pengemis. Hal yang hampir tak terlihat di Jakarta.

Pada era itu, Filipina sudah menjadi negara pengekspor tenaga kerja ke luar negeri. Sementara tenaga kerja Indonesia, masih enggan mencari penghidupan di luar sebuah lowongan pekerjaan di dalam negeri masih cukup banyak tersedia.

Masuk ke hotel bintang lima di Manila, tamu kebanyakan asal Indonesia akan diantar ke kamar oleh dua atau tiga orang staf hotel, bagaikan tamu VIP. Ini sekadar memberi aksentuasi betapa menjadi warga Indonesia di lingkungan ASEAN pada empat dekade lalu sudah seperti warga dunia kelas satu.

Saat itu boleh jadi bukanlah era keemasan Indonesia. Kendati begitu dalam lingkup ASEAN, Indonesia seakan menjadi pusat kekuatan dari lima negara anggota organisasi regional itu.

Masih di era yang membanggakan itu. Thailand yang pernah mengalami kesulitan BBM, pernah minta dibantu pasokan minyak dari Indonesia. Permintaan bantuan, disanggupi. Indonesia yang saat itu menjadi anggota OPEC (Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak) dengan cepat mengulurkan bantuan. Minyak yang dijual ke Thailand dibandrol dengan “harga ASEAN” atau harga yang diberi keringanan.

Buntut positif dari bantuan Indonesia ini dibalas Thailand dengan cara yang lebih mengesankan. Balasan itu terjadi pada 28 Maret 1981, ketika pesawat “Woyla” milik Garuda dibajak oleh teroris lokal kemudian diterbangkan ke bandara Dong Muang, Bangkok. Untuk membebaskan pesawat sipil itu, pemerintah Thailand mengizinkan regu anti teroris Indonesia mendarat di Don Muang.

Pemberian izin tersebut sempat menimbulkan pertanyaan di berbagai negara. Sebab izin seperti itu tidak lazim terjadi di dalam hubungan antar negara. Ada asumsi sebaik apapun hubungan antar dua negara, tapi mengizinkan pasukan asing mendarat dengan alasan mau membebaskan pesawat yang sedang dibajak, tetap merupakan sebuah pelanggaran kedaulatan sebuah negara.

Tapi Thailand yang mau membalas budi, mengabaikan pertanyaan dan kontroversi tersebut. Bagi Thailand itulah makna persahabatan antar sesama anggota ASEAN. Itulah salah satu bentuk penghormatan kepada Indonesia sebagai pemimpin ASEAN.

Keinginan untuk memutar kembali jarum jam itu mengemuka setelah mengikuti perkembangan ASEAN dalam beberapa tahun belakangan ini. Sebab respektasi terhadap Indonesia sepertinya sudah pudar ataupun mengecil. ASEAN yang dibesarkan Indonesia mulai menjadi “asing”. Markas Besar ASEAN yang berkedudukan di Jakarta, seakan berjarak jauh dengan Pejambon ataupun Istana Merdeka. Ini sebuah ironi kalau tidak mau disebut dilema dan tragedi Indonesia.

Yang paling nyata kejadian di KTT Kamboja, November baru lalu. Di KTT ASEAN yang ke-21 tersebut, Kamboja yang baru bergabung dengan ASEAN per 16 Desember 1998, sudah berprilaku seperti anggota senior bahkan bertindak sekehendaknya.

Kamboja misalnya memanipulasi salah satu kesepakatan internal ASEAN. Akibatnya Presiden Filipina Benigno Aquino III melakukan protes. Sejarah ASEAN belum pernah terjadi protes terbuka oleh seorang Presiden. Dan Indonesia sebagai negara pendiri, hanya bisa menyaksikan protes itu tanpa melakukan interupsi apalagi ikut meluruskan.

Padahal yang menjadi persoalan adalah isu yang sangat sensitif yang bisa memecah ASEAN. Protes Aquino itu menyangkut potensi ancaman China terhadap Filipina yang berpangkal pada sengketa kepemilikan pulau oleh dua negara tersebut di Laut China Selatan.

Kamboja memilih lebih membela China, sekalipun harus mengorbankan Filipina, sesama anggota ASEAN. Keberpihakan Kamboja ini merupakan pengingkaran atas semangat ASEAN.

Sikap Kamboja di KTT ASEAN itu tentu tidak akan diprotes Aquino apabila tidak diawali oleh sebuah peristiwa yang memalukan. Para Menlu ASEAN yang bersidang (di Kamboja) – sebagai persiapan untuk KTT, tidak bisa mencapai kesepakatan tentang rancangan deklarasi bersama. Baru kali ini peristiwa serupa terjadi di ASEAN. Lalu tidak dibahasnya masalah Laut China Selatan di KTT ASEAN, juga tidak lepas dari peran tuan rumah. Kamboja menuruti keinginan China.

Perubahan dan pergeseran pengaruh Indonesia dalam ASEAN bagaimanapun patut disayangkan. Sebab ASEAN yang mempunyai mitra dialog tetap dengan Amerika Serikat, Rusia, Uni Eropa, Jepang, China, Korea Selatan dan Australia, sudah berpostur besar. ASEAN sudah memiliki pengaruh. Dan semua itu tidak lepas dari peran Indonesia selama hampir setengah abad.

Hanya saja seperti yang menjadi inti dari pembahasan, ketika ASEAN sudah menjadi besar, peran Indonesia justru mengecil. Sesuatu yang cukup merugikan.(inilah)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pastikan Besok Pengumuman Hasil Tes CPNS

    Pastikan Besok Pengumuman Hasil Tes CPNS

    • calendar_month Senin, 23 Des 2013
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    JAKARTA – Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan-RB) Azwar Abubakar memastikan, pengumuman hasil tes CPNS tidak molor lagi. Besok, (Selasa, 24/12), para peserta tes bisa melihat pengumuman di situs resmi Kemenpan-RB, Badan Kepegawaian Negara (BKN), rencananya juga diumumkan di JPNN.com. Azwar menjelaskan, dirinya memang sudah menerima laporan adanya sejumlah daerah yang menolak mengumumkan […]

  • Program Air Bersih Pemkab Madina Dipastikan Tepat Sasaran

    Program Air Bersih Pemkab Madina Dipastikan Tepat Sasaran

    • calendar_month Rabu, 11 Sep 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pemkab Madina kembali membenahi pelayanan penanganan air bersih dan sanitasi untuk upaya dari menekan penurunan stunting dan kemiskinan ekstrim. Penanganan air bersih ini pun akan dikelola oleh Tirta Madina. Diketahui Pemkab Madina dapat bantuan program inpres air minum dari Kementerian PUPR. Kabid Cipta Karyanya, Ikhwan Dermawan, Selasa, (11/09/2024) mengatakan, Tirta Madina […]

  • Masuk Islam, Mualaf Ini Tulis Dua Kalimat Syahadat di Twitter

    Masuk Islam, Mualaf Ini Tulis Dua Kalimat Syahadat di Twitter

    • calendar_month Senin, 21 Okt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Sejatinya hingga Desember 2011, Arnoud Van Doorn adalah Wakil Ketua Partai Kebebasan di Dewan Kota Den Haag. Sebagian orang tentu tahu kalau Partai Kebebasan sangat resisten dengan kaum Imigran, khususnya muslim. Namun, Maret 2013, bapak dua anak ini dikutip dari Amsterdam Herald, mengumumkan awal yang baru melalui media Twitter. Ia mengaku menjadi seorang Muslim dan […]

  • WILLEM TIDAK BUNUH DIRI, TAPI DIMATIKAN NARASI..!!

    WILLEM TIDAK BUNUH DIRI, TAPI DIMATIKAN NARASI..!!

    • calendar_month Jumat, 19 Jun 2026
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      (CATATAN BERHARGA DARI SEMINAR ILMIAH MENELUSURI JEJAK KEPAHLAWAN WILLEM ISKANDER DALAM MEMBANGUN PENDIDIKAN DAN KESADARAN BANGSA)   Oleh : Moechtar Nasution*   Aula Lantai III Gedung Perkuliahan STAIN Mandailing Natal hari ini menjadi perbincangan di atmosfer sejarawan Indonesia. Dari sini terbit testimoni yang langsung mengoyak-oyak dan mematahkan semua stigma, desas-desus dan bisik-bisik negatif tentang […]

  • Realisasikan Pemekaran Pantai Barat!

    Realisasikan Pemekaran Pantai Barat!

    • calendar_month Jumat, 18 Mar 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MADINA- Sejumlah mahasiswa dan pemuda Kabupaten Mandailing Natal mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berdoa supaya pemekaran Kabupaten Pantai Barat dari Madina segera direalisasikan. “Disusul rapat pansus terkait pemekaran Kabupaten Baru Pantai Barat sudah digelar di DPRDSU, Senin (7/3),” kata Ketua Pergerakan Mahasiswa Peduli Madina, Aswan, bersama Direktur Eksekutif Madina Institute (MI), M Alhasan Nasution, Ketua […]

  • Andar-Isnandar Dilantik Besok

    Andar-Isnandar Dilantik Besok

    • calendar_month Kamis, 3 Jan 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIDIMPUAN, (MO) – Pelantikan Walikota dan Wakil Walikota Padangsidimpuan (Psp) terpilih, Andar Amin Harahap-Muhammad Isnandar Nasution bakal dilaksanakan besok, Jumat (4/1) di Gedung Nasional, Kota Psp. Dan, sebanyak 750 undangan sudah disebar untuk menghadiri pelantikan. Ketua panitia pelantikan yang juga Sekda Psp Sarmadan Hasibuan mengatakan, ia masih berada di Medan untuk mengkoordinasikan kepastian pelaksanaan pelantikan […]

expand_less