Minggu, 8 Mar 2026
light_mode

Peran RI memudar di ASEAN

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 3 Des 2012
  • print Cetak

JAKARTA, (MO) – Kalau saja jarum jam bisa diputar balik ke posisi 1972, Indonesia akan menemukan kembali momen membanggakan dalam keberadaannya di ASEAN.

Empat dekade lalu, ASEAN yang didirikan pada 8 Agustus 1967, baru terdiri atas lima negara pendiri: Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand dan Filipina. Jumlah ini hanya separuh dari total anggota ASEAN saat ini (2012). Brunei Darussalam, Vietnam, Laos, Myanmar dan Kamboja belum lagi menjadi anggota.

Dengan lima anggota saja, suara, pengaruh dan peran Indonesia begitu dominan. ASEAN yang beranggotakan negara non-komunis, demikian diperhitungkan oleh negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang dan Eropa Barat.

Tidak selamanya harus Presiden Soeharto yang tampil di forum ASEAN. Cukup dengan pejabat setingkat Menteri Luar Negeri Adam Malik saja, para anggota ASEAN lainnya, sudah cukup respek. Menlu yang dijuluki “Si Kancil” itu sangat kredibel di mata para pemimpin ASEAN.

Selain dominan, pengambilan keputusan pun melalui konsesus, lancar. Komunikasi antar para pemimpin dari semua negara anggota relatif bagus dan tentu saja soliditas dan solidaritas pun, cukup kuat. KTT ASEAN yang berlangsung setiap tahun, belum dikenal. Namun ASEAN sangat kokoh dan kekokohan itu menambah wibawa Indonesia sebagai negara terbesar.

Sejatinya persoalan yang dihadapi ASEAN pada era 70 sampai tahun 80-an, bukanlah hal yang mudah. Selain dunia masih dihantui oleh Perang Dingin antara Blok Barat dan Blok Timur pertumbuhan ekonomi dan perdagangan di kawasan ASEAN relatif masih rendah. Kecuali Singapura, di bidang politik, Thailand, Malaysia, Filipina dan Indonesia, semuanya masih menghadapi gangguan subversi dari dalam.

Sementara bagi rakyat Indonesia sudah ada kebanggaan tersendiri. menjadi warga ASEAN. Indonesia seperti memiliki status sosial yang lebih bergengsi di antara sesama anggota. Ini dibuktikan dari sikap sesama anggota ASEAN manakala warga Indonesia berkunjung ke negara-negara tetangga itu.

Sambutan warga Singapura, Malaysia, Thailand dan Filipina terhadap warga Indonesia, hangat dan bersahabat. Praktis tidak ada ejekan ataupun pelecehan yang dilakukan oleh warga dari empat negara anggota ASEAN. Bertandang ke Singapura misalnya, para petugas imigrasi tidak akan menatap wajah orang Indonesia dengan mimik dan bahasa tubuh yang meremehkan.

Bagi Singapura, setiap pendatang dari Indonesia pasti memiliki uang yang banyak untuk berbelanja barang elektronik atau baju dan sepatu berkualitas buatan Eropa. Padahal ketika itu tingkat perekonomian Indonesia masih jauh lebih rendah dibanding di 2012. Nyaris belum pernah terdengar ada warga Indonesia yang memiliki apartemen di Singapura.

Manakala berkunjung ke Manila, ada satu kebanggaan sekaligus bercampur rasa haru. Karena di lampu-lampu merah di kota itu, terdapat begitu banyak pengemis. Hal yang hampir tak terlihat di Jakarta.

Pada era itu, Filipina sudah menjadi negara pengekspor tenaga kerja ke luar negeri. Sementara tenaga kerja Indonesia, masih enggan mencari penghidupan di luar sebuah lowongan pekerjaan di dalam negeri masih cukup banyak tersedia.

Masuk ke hotel bintang lima di Manila, tamu kebanyakan asal Indonesia akan diantar ke kamar oleh dua atau tiga orang staf hotel, bagaikan tamu VIP. Ini sekadar memberi aksentuasi betapa menjadi warga Indonesia di lingkungan ASEAN pada empat dekade lalu sudah seperti warga dunia kelas satu.

Saat itu boleh jadi bukanlah era keemasan Indonesia. Kendati begitu dalam lingkup ASEAN, Indonesia seakan menjadi pusat kekuatan dari lima negara anggota organisasi regional itu.

Masih di era yang membanggakan itu. Thailand yang pernah mengalami kesulitan BBM, pernah minta dibantu pasokan minyak dari Indonesia. Permintaan bantuan, disanggupi. Indonesia yang saat itu menjadi anggota OPEC (Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak) dengan cepat mengulurkan bantuan. Minyak yang dijual ke Thailand dibandrol dengan “harga ASEAN” atau harga yang diberi keringanan.

Buntut positif dari bantuan Indonesia ini dibalas Thailand dengan cara yang lebih mengesankan. Balasan itu terjadi pada 28 Maret 1981, ketika pesawat “Woyla” milik Garuda dibajak oleh teroris lokal kemudian diterbangkan ke bandara Dong Muang, Bangkok. Untuk membebaskan pesawat sipil itu, pemerintah Thailand mengizinkan regu anti teroris Indonesia mendarat di Don Muang.

Pemberian izin tersebut sempat menimbulkan pertanyaan di berbagai negara. Sebab izin seperti itu tidak lazim terjadi di dalam hubungan antar negara. Ada asumsi sebaik apapun hubungan antar dua negara, tapi mengizinkan pasukan asing mendarat dengan alasan mau membebaskan pesawat yang sedang dibajak, tetap merupakan sebuah pelanggaran kedaulatan sebuah negara.

Tapi Thailand yang mau membalas budi, mengabaikan pertanyaan dan kontroversi tersebut. Bagi Thailand itulah makna persahabatan antar sesama anggota ASEAN. Itulah salah satu bentuk penghormatan kepada Indonesia sebagai pemimpin ASEAN.

Keinginan untuk memutar kembali jarum jam itu mengemuka setelah mengikuti perkembangan ASEAN dalam beberapa tahun belakangan ini. Sebab respektasi terhadap Indonesia sepertinya sudah pudar ataupun mengecil. ASEAN yang dibesarkan Indonesia mulai menjadi “asing”. Markas Besar ASEAN yang berkedudukan di Jakarta, seakan berjarak jauh dengan Pejambon ataupun Istana Merdeka. Ini sebuah ironi kalau tidak mau disebut dilema dan tragedi Indonesia.

Yang paling nyata kejadian di KTT Kamboja, November baru lalu. Di KTT ASEAN yang ke-21 tersebut, Kamboja yang baru bergabung dengan ASEAN per 16 Desember 1998, sudah berprilaku seperti anggota senior bahkan bertindak sekehendaknya.

Kamboja misalnya memanipulasi salah satu kesepakatan internal ASEAN. Akibatnya Presiden Filipina Benigno Aquino III melakukan protes. Sejarah ASEAN belum pernah terjadi protes terbuka oleh seorang Presiden. Dan Indonesia sebagai negara pendiri, hanya bisa menyaksikan protes itu tanpa melakukan interupsi apalagi ikut meluruskan.

Padahal yang menjadi persoalan adalah isu yang sangat sensitif yang bisa memecah ASEAN. Protes Aquino itu menyangkut potensi ancaman China terhadap Filipina yang berpangkal pada sengketa kepemilikan pulau oleh dua negara tersebut di Laut China Selatan.

Kamboja memilih lebih membela China, sekalipun harus mengorbankan Filipina, sesama anggota ASEAN. Keberpihakan Kamboja ini merupakan pengingkaran atas semangat ASEAN.

Sikap Kamboja di KTT ASEAN itu tentu tidak akan diprotes Aquino apabila tidak diawali oleh sebuah peristiwa yang memalukan. Para Menlu ASEAN yang bersidang (di Kamboja) – sebagai persiapan untuk KTT, tidak bisa mencapai kesepakatan tentang rancangan deklarasi bersama. Baru kali ini peristiwa serupa terjadi di ASEAN. Lalu tidak dibahasnya masalah Laut China Selatan di KTT ASEAN, juga tidak lepas dari peran tuan rumah. Kamboja menuruti keinginan China.

Perubahan dan pergeseran pengaruh Indonesia dalam ASEAN bagaimanapun patut disayangkan. Sebab ASEAN yang mempunyai mitra dialog tetap dengan Amerika Serikat, Rusia, Uni Eropa, Jepang, China, Korea Selatan dan Australia, sudah berpostur besar. ASEAN sudah memiliki pengaruh. Dan semua itu tidak lepas dari peran Indonesia selama hampir setengah abad.

Hanya saja seperti yang menjadi inti dari pembahasan, ketika ASEAN sudah menjadi besar, peran Indonesia justru mengecil. Sesuatu yang cukup merugikan.(inilah)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • 221 Pejabat Eselon II,III,IV Pemkab Madina Dilantik dan Dikukuhkan

    221 Pejabat Eselon II,III,IV Pemkab Madina Dilantik dan Dikukuhkan

    • calendar_month Selasa, 31 Jan 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Sebanyak 221 pejabat eselon II, III dan IV di Pemkab Mandailing Natal dikukuhkan dan dilantik, Selasa (31/1/2016). Pengukuhan dan pelantikan dilakukan oleh Wakil Bupati Mandailing Natal, Jakfar Sukhairi di lapangan Panti Asuhan Siti Aisah, Panyabungan. Pejabat yang dikukuhkan adalah Marwan Bakti Siregar sebagai Inspektur Kabupaten dan Alamulhaq Daulay menjadi Kabag Hukum […]

  • Melirik Gonjang Ganjing Produk Pendidikan Ala Kemendikbud

    Melirik Gonjang Ganjing Produk Pendidikan Ala Kemendikbud

    • calendar_month Sabtu, 15 Okt 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Mariani Siregar, M.Pd.I Dosen Pendidikan lslam Pendidikan di Indonesia di bawah pimpinan Nadim kelihatannya terus berbebenah dengan inovasi-inovasi baru yang ditawarkan. Sehingga terkesan selalu memunculkan program-program yang menghidupkan dan mengikuti kemajuan atau arus globalisasi. Tidak heran sebenarnya jika dikaitkan dengan background Pak Menteri yang seorang pengusaha sukses atau seorang CEO. Tentu saja ia mampu […]

  • Tak Takut Polisi, Tambang Emas Ilegal di Sipogu Bebas Beroperasi

    Tak Takut Polisi, Tambang Emas Ilegal di Sipogu Bebas Beroperasi

    • calendar_month Selasa, 11 Mar 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN ( Mandailing Online ): seolah tidak takut pada Polisi, pelaku penambang emas ilegal di ujung kampung desa sipogu tepatnya berbatas dengan desa ampung siala Kecamatan Batang Natal terus beroperasi. Pelaku tambang ini leluasa menggunakan alat berat jenis excavator padahal lokasi aktifitas tidak jauh dari jalan lintas provinsi Panyabungan-Natal. Informasi dari warga menyebut, aktifitas penambang […]

  • 252 Anggota Koperasi Kuala Tunak Tabuyung Hadiri RAT, Pertanggungjawaban Diterima

    252 Anggota Koperasi Kuala Tunak Tabuyung Hadiri RAT, Pertanggungjawaban Diterima

    • calendar_month Minggu, 25 Agt 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    TABUYUNG ( Mandailing Online) : Rapat Anggota Tahunan (RAT) merupakan kewajiban setiap koperasi, karena merupakan wujud dari pertanggung jawaban pengurus dan pengawas kepada anggota atas kinerjanya. Dalam menjalankan kewajiban tersebut, Koperasi Kuala Tunak yang ada di Desa Tabuyung, Kecamatan Muara Batang Gadis, Kabupaten Mandailing Natal ( Madina) Jum’at 23/8/2024 melaksanakan RAT. Ketua Koperasi Kuala Tunak […]

  • PKB Deklarasikan Pasangan Suka

    PKB Deklarasikan Pasangan Suka

    • calendar_month Senin, 29 Jun 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – DPC Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) mendeklarasikan pasangan Sukhairi-Atika calon bupati/wakil bupati untuk Pilkada Madina 2020. Deklarasi berlangsung di halaman sekretariat DPC PKB Madina, Jl Willem Iskander, Aek Galoga, Panyabungan, Ahad (28/6/2020). Pasangan Jakfar Sukhairi Nasution-Atika Azmi Utammi Nasution merupakan pasangan pertama kandidat bupati/wakil bupati Madina yang memperoleh dukungan syarat pendaftaran ke […]

  • PP Madina Minta Anuar Shah Tetap Ketua PP Sumut

    PP Madina Minta Anuar Shah Tetap Ketua PP Sumut

    • calendar_month Jumat, 3 Feb 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan, Ketua Majelis Pengurus Cabang Pemuda Pancasila (MPC PP) Kabupaten Mandailing Natal (Madina) Sahriwan Nasution alias Kocu meminta Anuar Shah alias Aweng tetap menjadi Ketua MPW PP Sumatera Utara Periode 2012-2017. “Alasan kita kenapa meminta Aweng tetap menjadi Ketua MPW PP Sumut antara lain, solidaritas organisasi kepemudaan yang saat ini semakin maju dan berkembang dan […]

expand_less