Sabtu, 13 Jun 2026
light_mode

Meramal Cuaca, Bolehkah?

  • account_circle Redaksi Abdul Holik
  • calendar_month Selasa, 4 Feb 2014
  • print Cetak

Prediksi cuaca bisa salah dan benar.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memberikan manfaat yang tak sedikit bagi umat manusia. Kemudahan demi kemudahan pun diperoleh berkat inovasi-inovasi mutakhir. Tak terkecuali terkait prediksi cuaca suatu kawasan untuk keesokan hari.

Seperti apakah cuaca besok kini bisa mudah diketahui lewat prakiraan tersebut. Entah hujan, berawan, cerah, mendung, dan lain sebagainya. Tetapi, capaian ini memunculkan pertanyaan besar tentang boleh tidaknya prakiraan tersebut menurut Islam?

Apakah prediksi cuaca itu termasuk kategori ramalan atau praktik pernujuman yang dilarang agama? Lalu, bolehkah meyakini hasil pembacaan cuaca itu?

Tema ini menyedot perhatian sejumlah cendekiawan dan lembaga fatwa Timur Tengah. Di Yordania, Dar al-Ifta atau lembaga fatwa resmi negara monarki itu menyatakan, para pakar meteorologi, klimatologi, ataupun geofisika memprediksi cuaca berdasarkan pergerakan angin dan awan yang menjadi indikator utama hujan.

Kesemua hal itu merupakan bagian dari hukum Allah SWT atas alam semesta. Jadi, ini tidak dikategorikan sebagai ramalan atau intervensi dalam perkara gaib yang mutlak menjadi hak dan otoritas Tuhan semata.

Namun, upaya yang dilakukan manusia itu dianggap sebagai menghukumi suatu hal sesuai dengan premis atau indikator pendahuluan dengan ragam sebab yang ditentukan oleh Sang Khalik.

Oleh karena itu, lembaga ini menggarisbawahi agar ketika informasi tersebut dirilis, harus dibarengi dengan pemahaman ini sebatas prediksi dan tidak boleh memastikan.

Langkah itu akan lebih bijak dan selaras dengan amanat ilmiah. Apa pun perubahan dan hasil yang akan terjadi nantinya adalah hak otoritatif Tuhan.

Bila tetap memaksakan prediksi tersebut sebagai bentuk kepastian, ini tidak boleh lantaran menyalahi akidah. Islam menekankan, kapankah hujan turun hanya Allah SWT yang mengetahui. Apalagi, fakta juga membuktikan berapa banyak ‘ramalan’ cuaca itu meleset.

Pendapat yang sama juga disampaikan Komite Tetap Kajian dan Fatwa Kerajaan Arab Saudi. Komite ini menetapkan, membaca atau memprediksi arah mata angin, topan, atau prakiraan mendung atau hujan dilakukan dengan mengetahui tanda-tanda kebesaran Allah di muka bumi.

Bagi para pakar, pembacaan itu sebatas prakiraan, bukan kepastian menggunakan rangkaian teori ilmiah, eksperimen, lalu dirilis yang berpotensi benar sekaligus salah di saat bersamaan.

Hukumnya persis dengan ketentuan yang berlaku dalam kasus prediksi waktu terjadinya gerhana matari atau bulan. Dan, ini tidak dianggap intervensi terhadap ranah gaib.

Syekh Ibnu Utsaimin menegaskan, prediksi tersebut bukan dianggap bentuk perdukunan atau pernujuman yang diharamkan. Karena, ramalan itu memakai acuan-acuan yang jelas dan bersifat indrawi, yaitu adaptasi cuaca.

Cuaca itu bisa berubah-ubah dan bisa diketahui dengan takaran yang sangat detil, sehingga bisa diprediksi turun hujan atau tidak.

Logika sederhananya, jika melihat ada mendung tebal, angin kencang, bercampur gemuruh atau kilat maka kebanyakan itu adalah pertanda akan turun hujan.

Yang jelas, prakiraan tersebut merujuk pada sesuatu yang indrawi. Bukan ilmu gaib, sekalipun sebagaian masyarakat awam menilai praktik itu tergolong perdukunan.

Guru besar ilmu akidah Fakultas Dakwah dan Teologi Universitas Ummu al-Qura, Makkah, mengatakan, prakiraan tersebut merupakan bagian dari eksperimen manusia yang ditempuh secara kontinu dan rutin dengan pantauan aktif, sehingga bisa memprediksikan pergerakan apa pun dari fenomena alam tersebut, meski sebatas prediksi bukan kepastian.

Sebagai contoh, kalkusi seseorang soal kedatangan kereta berdasarkan jadwal, jarak tempuh, dan indikator lainnya, atau prediksi pakar astronomi perihal peredaran bulan dan matahari.

Ini tidak termasuk memasuki ranah ilmu gaib, tetapi prakiraan atas dasar eksperimen, premis, kajian intensif, dan uji coba berkala, serta tidak bisa mutlak dipastikan kebenarannya. “Jadi, prakiraan itu diperbolehkan,” kata dia.

Syekh Masyhur bin Hasan Alu Salman beranalogi, permisalan prakiraan itu ibarat seseorang melihat suatu objek dari kejauhan menggunakan teropong, kemudian memprediksi pergerakan objek tersebut ke suatu titik dengan acuan jarak dan waktu tempuh.

Jika terbukti benar, apakah ini tergolong ramalan? Jelas tidak sama sekali. Prakiraan cuaca juga demikian karena merujuk pada premis dan indikator pergerakan angin dan lain sebagainya.

Bagaimanapun, ketentuan kapan dan di mana akan turun hujan mutlak hak Allah. “Sesungguhnya Allah hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan.” (QS Luqman [31]: 34).(republika.co.id)

  • Penulis: Redaksi Abdul Holik

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kipang Panyabungan Belum Ditangani Baik

    Kipang Panyabungan Belum Ditangani Baik

    • calendar_month Rabu, 31 Jul 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 3Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Kipang Panyabungan sebagai penganan khas Mandailing sejauh ini sisi pemasarannya belum ditangani dengan baik. “Selayaknya sebagai makanan ciri kahs, kipang ini harus dipajangkan berjejer pada satu tempat yang khusus,” kata anggota DPRD Madina, Iskandar Hasibuan, Rabu (31/7/2013). Tempat khusus yang dimaksud adalah suatu lokasi pemasaran yang ditata tersendiri dan khas dan […]

  • Isu Penculikan Merebak di Sibolga

    Isu Penculikan Merebak di Sibolga

    • calendar_month Selasa, 30 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    TAPTENG-Masyarakat Kota Sibolga dan Tapanuli Tengah Tapteng), khususnya orangtua, resah akibat merebaknya isu melalui SMS tentang aksi penculikan terhadap anak-anak, orang dewasa, bahkan orangtua. Sesuai sms itu, orang yang diculik akan dibunuh untuk diambil organ tubuhnya seperti hati, jantung dan ginjal. “Polsek/Polres Madina memohon maaf untuk semua. Diumumkan kepada Anda bahwa ada penculikan anak, dewasa, […]

  • Warga Dihimbau Waspadai Banjir dan Longsor di November-Desember

    Warga Dihimbau Waspadai Banjir dan Longsor di November-Desember

    • calendar_month Kamis, 30 Okt 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Masyarakat Kabupaten Mandailing Natal (Madina) diingatkan agar mewaspadai terjadinya banjir dan tanah longsor di bulan November dan Desember yang diprediksi akan terjadi hujan yang berlebihan. Drmikian dikatakan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Madina, Rizfan Juliardi, Rabu (29/10). Untuk kategori banjir berada di kawasan-kawasan yang dilintasi aliran sungai. Banjir bisa […]

  • PLN Juga Belum Ada di Desa Batahan, Kotanopan

    PLN Juga Belum Ada di Desa Batahan, Kotanopan

    • calendar_month Jumat, 9 Mei 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    KOTANOPAN (Mandailing Online) – Selain kondisi jalan teramat parah, jaringan PLN juga belum ada di Desa Batahan Kecamatan Kotanopan, Mandailing Natal (Madina). Sektor pendidikan dan kesehatan juga sangat memprihatinkan di desa terisolir tersebut. “Sebetulnya keluhan ini sudah sering kita sampaikan baik itu melalui media, melalui DPRD Madina, akan tetapi nampaknya pembangunan belum terlaksana,” kata tokoh […]

  • Amil Zakat Madina Priode 2018-2023 Dikukuhkan

    Amil Zakat Madina Priode 2018-2023 Dikukuhkan

    • calendar_month Selasa, 26 Apr 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailng Online) Bupati Mandailing Natal, Ja’far Sukhairi Nasution mengukuhkan pengurus Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Mandailing Natal periode 2018-2023. Pengukuhan berada di Mesjid Nur Alan Nur, Panyabungan, Selasa (26/4/2022). Pegurus yang dikukuhkan adalah Drs Muhammad Safe’i Lubis. M.Si sebagai Ketua; H. Alwin Tanjung sebagai Wakil Ketua I; H. Faisal S.Sos sebagai Wakil ketua […]

  • Madung Marbalun-Balun Boto Angkang Tururaan

    Madung Marbalun-Balun Boto Angkang Tururaan

    • calendar_month Kamis, 3 Feb 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Sangajo natangkang boto parmainanon, palan-palan songoni iresek-reseki amantai, mulo-muona irampingkonia, sapala ipainte ia santongkin mangolu-olu osa, hasidunganna itunjangkonia boto marbalun-balun doma jabatna tururaan, mangkasarbing gurung-gurungi songon gurung-gurung ni gulaen panyargutan ni borang. Anggoon madung osah pandokon ni halak Padang Bolah, nabahatan boto halak-halak nasalolot naon naraja parroa, nabeteng pangecek, nalandit songon bolut naigomukan, sapala bangkit […]

expand_less