Selasa, 14 Jul 2026
light_mode

PPKM Terlambat, Negara Kian Darurat

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 12 Jul 2021
  • print Cetak

Oleh: Alfi Ummuarifah, S.Pd
Guru dan Pegiat Literasi Islam di Medan

Sudah terlambat. Begitulah kiranya pernyataan yang tepat dinyatakan saat ini. Hanya nama yang berubah. Namun hasilnya tetap sama. Mulai dari PSBB, PPKM terbatas, hingga PPKM Darurat. Semata-mata hanya pergantian nama. Negara tetap dalam keadaan gawat. Belum nampak gambaran penurunan kasus Covid-19 beberapa bulan ke depan.

Pemerintah melanjutkan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) mikro untuk daerah-daerah di luar pulau Jawa.

Menteri Koordinator Bidang Ekonomi Airlangga Hartarto mengatakan, perpanjangan PPKM mikro untuk luar Pulau Jawa ini dilakukan dari 6 Juli 2021 hingga 20 Juli 2021 (kontan.co.id, 7/7/21)

Terkait PPKM di luar Jawa, nanti diatur perpanjangannya selaras dengan PPKM darurat di Jawa-Bali.

Penetapan strategi PPKM itu memang sudah terlambat. Saat seluruh wilayah Indonesia di daerah sudah tak jelas warna zonanya. Saat kini sudah terlanjur bercampurnya orang yang terpapar dan yang belum.

Begitu juga saat OTG (Orang Tanpa Gejala) semakin banyak tak terdeteksi. Saat mutasi virus sudah terjadi entah berapa varian. Semuanya semakin memberikan keraguan akan berubahnya keadaan negeri ini. Perubahan kesehatan masyarakatnya dan keadaan ekonominya.

Seperti dua parameter yang bertolak belakang. Saat grafik angka paparan meningkat. Saat itulah grafik ekonomi semakin terjun bebas.

Dugaan ramalan sistem ekonomi yang kolaps semakin terlihat. Dugaan peningkatan kasus kematian harian pun semakin nyata terwujud di depan mata. Semua pihak menjadi hilang arah. Masyarakat panik. Hampir putus asa. Kriminal seakan meningkat. Entah kapan membaik. Jelasnya masyarakat hampir putus asa.

Inilah dampak dari keterlambatan penanganan di awal. Andai saat virus ini baru lahir sudah ditangani serius tanpa memperhatikan kepentingan para kapital. Mungkin kejadiannya tak seperti ini. Tentu lebih mudah memblokir perkembangan dan pembelahan makhluk kecil ini.

Namun, pemerintah dan masyarakat memang tak serius di awal. Saat kini angka kematian sudah mencapai 300 orang lebih per hari. Barulah langkah serius itu ditempuh. Padahal kini sudah tak ada  lagi zona yang hijau. Hilir mudik orang masih berlaku di sini.

Parahnya, Pemerintah justru memasukkan TKA dari luar negeri secara massif. Keberpihakan pada korporat masih terjadi. Penularan semakin tak terkendali.

Jadilah nasi sudah menjadi bubur. Tak akan bisa menjadi nasi lagi. Terlambat sudah.

Lalu bagaimanakah mengatasi hal yang sudah terlanjur ini?

Tak ada jalan lain. Harus mencontoh peradaban Islam saat ada pandemi. Tinggal satu cara saja. Lockdown total. Urusan makan dan kebutuhan masyarakat menjadi sepenuhnya tanggung  jawab negara.

Tak bisa dipungkiri. Rupanya jelas ada yang salah dari penanganan pandemi selama ini. Pemerintah tak benar-benar serius mengatasinya tepat waktu. Jika sudah terlambat begini, entah dari mana harus memulai.

Setidaknya ada tiga kesalahan besar yang sudah terjadi dalam mengatasi pandemi selama ini. Pertama, PPKM, PSBB, dan sejenisnya hanyalah langkah panik saja. Saat semua sudah terlambat. Seharusnya lockdown total untuk daerah yg zona merah.

Dalam hal ini pemetaan wilayah yang serius dan rapih sangat dibutuhkan. Pendataan di negeri ini memang acak adut, amburadul dan berantakan. Penyisiran, screening test masyarakat secara gratis dan ramah mesti dilakukan. Bukan ditakuti dan dibuli.

Lalu setelah dipetakan kemudian dieksekusi. Mana wilayah yang harus lockdown dan mana yang tidak. Wilayah yang masih hijau harus tetap beroperasi menjalankan denyut kehidupan. Agar perekonomian tidak kolaps. Orang yang sakit disatukan dalam satu wilayah. Orang tang sehat boleh beraktivitas setelah dites secara gratis.

Langkah kedua pemerintah harus menanggung semua kebutuhan pokok masyarakat selama dalam penguncian itu. Sandang, pangan, papan, kebutuhan obat, fasilitas kesehatan semua gratis diberikan. Sebab saat itu masyarakat tidak bisa bekerja. Mereka diisolasi, dirawat dan diobati hingga sembuh. Setelah sembuh dites kembali secara gratis dan dibolehkan kembali beraktivitas di zona yang masih hijau.

Pemetaan, penguncian, perawatan itu terus berlangsung hingga semua masyarakat sembuh. Dibutuhkan dana APBN yang sangat banyak tentunya. Inilah masalahnya. Saat ini negara sedang defisit keadaannya. Gara-gara sistem ekonomi  kapitalisme yang diterapkan selama ini.

Andai sistem ekonominya berbasis islam tentu sangat mudah mengatasi problematika ini. Sebab pos pemasukannya banyak sekali, karena diurus secara mandiri.

Fasilitas kesehatan juga tak boleh dilupakan. Kebutuhan oksigen, baju hazmat, obat, ruang isolasi steril, obat, dan fasilitas  lain seharusnya disiapkan lebih banyak. Ini juga membutuhkan biaya anggaran yang banyak. Jika anggaran negara defisit dampaknya seperti sekarang ini. Nakes banyak tumbang  karena kelelahan. Kompensasi pun belum tentu diterima, sebab dana terbatas.

Inilah akibat dari sistem ekonomi kapitalis yang pro korporat itu. Sistem yang telah mengacaukan semua. Menjadi puncak masalah bagi masalah yang lain.

Ketiga, saat keadaan sudah seperti ini. Masih ada saja kebijakan yang pro korporat. Misal, kartu prakerja yang diperuntukkan untuk kapital. Korupsi dana Bansos yang menghebohkan. Entah bagaimana kini progres penyelesaiannya. Tenggelam, dan terbawa derasnya masalah multidimensi di negeri ini.

Semua pihak bingung saat ini. Para Nakes hampir putus asa. Fasilitas pengaman untuk keselamatan mereka pun kini menipis. Jika mereka sudah tumbang, siapa lagi yang berada di garda terdepan.

Jika dalam satu hari angka kematian mencapai 300 orang (kompas.com, 6/7/21).Maka dalam satu bulan terakumulasi 9 ribu orang yang wafat karena Covid-19 ini. Mau berapa lagi nyawa yang akan melayang?.

Sesungguhnya negeri sudah darurat keadaannya. Meskipun terlambat, tak salah bertaubat. Bermuhasabah untuk kembali pada aturan islam. Bukan pada sub sistem dan teknis pengelolaan wabahnya saja. Namun juga pada sistem induknya yang cocok (kompatibel).

Tak ada lagi waktu. Kita berpacu dengan waktu. Jangan tunggu kematian meningkat tak menentu. Mari bangkit, kita selesaikan pandemi sesuai yang pencipta mau. Sebab pandemi dan  virus itu berasal darinya. Maka dalam menyelesaikannya kita harus kembali padaNya. Wallahu a’lam bish-showaab.

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Diduga Akibat Limbah Merkuri, Patani Cabai Gagal Panen

    Diduga Akibat Limbah Merkuri, Patani Cabai Gagal Panen

    • calendar_month Senin, 9 Mei 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan, Ratusan hektar kebun cabai di Desa Adian Jior, Kecamatan Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina) mengalami gagal panen diduga akibat limbah merkuri mesin galundung (pemisah batu dengan emas) yang sedang marak-maraknya di Kecamatan Hutabargot dan Kecamatan Panyabungan. Pantuan wartawan, kebun cabai milik warga yang mengalami gagal panen berada di pinggiran Kota Panyabungan tepatnya di Desa […]

  • Penanganan Kasus Dugaan Penipuan Teras Brilink di Polres Madina Dinilai Lamban

    Penanganan Kasus Dugaan Penipuan Teras Brilink di Polres Madina Dinilai Lamban

    • calendar_month Rabu, 2 Apr 2025
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Kasus dugaan penipuan yang merugikan jasa transfer Teras Brilink yang yang diadukan korban Syawaluddin ke Polres Mandailing Natal (Madina) hingga kini belum diketahui progresnya. “Belum ada konfirmasi dari Polres Madina sampai sekarang atas laporan saya,” kata Syawaluddin, warga Panyabungan, Rabu (2/4/2025), di Panyabungan. Kasus itu diadukan Syawaluddin ke Polres Madina tanggal […]

  • Sekda Nisel dan Asisten I ditahan Poldasu

    Sekda Nisel dan Asisten I ditahan Poldasu

    • calendar_month Jumat, 20 Des 2013
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    MEDAN – Didampingi penasehat hukumnya, Sehati Halewa (Sekda) Nias Selatan, Asa’aro Laia bersama Asisten I, Feriaman Sarumaha keluar dari ruangan Subdit III Tipikor  Direktorat Reserse Kriminal Khusus tadi malam. Usut punya usut, Asa’aro Laia bersama Feriaman Sarumaha, baru saja usai menjalani pemeriksaan selama kurang lebih 8 jam. Informasi menyebutkan hari ini, diperiksanya kedua pejabat tersebut, […]

  • Badan Pemangku Adat Jangan Dibawa ke Ranah Politik

    Badan Pemangku Adat Jangan Dibawa ke Ranah Politik

    • calendar_month Senin, 24 Agt 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      KOTANOPAN (Mandailing Online) – Pelantikan Badan Pemangku Adat Mandailing Julu seharusnya tidak dibarengi dengan pernyataan sikap dan dukungan terhadap salah satu pasangan calon Bupati. Itu dikatakan Ketua DPP Himpunan Pemuda Mandailing (HIPMA), M. Suhairy Lubis, S. Fil, kemarin, terkait adanya rangkaian acara pengumuman dukungan Badan Pemangku Adat Mandailing Julu kepada calon bupati Dahlan Hasan […]

  • LKPJ Bupati Madina dan Proyek Dinas Kesehatan – Guru Makan Berdiri, Murid Makan Berlari

    LKPJ Bupati Madina dan Proyek Dinas Kesehatan – Guru Makan Berdiri, Murid Makan Berlari

    • calendar_month Kamis, 30 Jun 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Catatan : Dahlan Batubara Pemimpin Redaksi Mandailing Online Dahlan Hasan Nasution dilantik lagi hari ini menjadi bupati Mandailing Natal. Pelantikan ini merupakan amanat konstitusi atau undang-undang atau peraturan pemerintah terhadap rangkaian proses pemilihan kepala daerah alias pilkada lalu, dimana Dahlan Hasan Nasution yang berstatus incumbent atau patahana memenangi pilkada itu. Pelantikan ini sebagai amanah konstitusi  […]

  • Polisi Diminta Tangkap Penculik dan Perampok Gubernur LIRA Sumut

    Polisi Diminta Tangkap Penculik dan Perampok Gubernur LIRA Sumut

    • calendar_month Minggu, 31 Jul 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 2Komentar

    MEDAN: Pihak kepolisian diharapkan segera menangkap kawanan pelaku perampokan dan kasus penganiayaan terhadap Gubernur Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) Sumatra Utara Rizaldi Mavi. “Kami berharap pihak kepolisian bisa segera menangkap para perampok sekaligus mengusut tuntas kasus perampokan disertai penganiayaan yang menimpa Gubernur LIRA Sumatra Utara Rizaldi Mavi,” kata Wali Kota LIRA Medan Ganda Manurung kepada pers […]

expand_less