Rabu, 14 Okt 2026
light_mode

PPKM Terlambat, Negara Kian Darurat

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 12 Jul 2021
  • print Cetak

Oleh: Alfi Ummuarifah, S.Pd
Guru dan Pegiat Literasi Islam di Medan

Sudah terlambat. Begitulah kiranya pernyataan yang tepat dinyatakan saat ini. Hanya nama yang berubah. Namun hasilnya tetap sama. Mulai dari PSBB, PPKM terbatas, hingga PPKM Darurat. Semata-mata hanya pergantian nama. Negara tetap dalam keadaan gawat. Belum nampak gambaran penurunan kasus Covid-19 beberapa bulan ke depan.

Pemerintah melanjutkan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) mikro untuk daerah-daerah di luar pulau Jawa.

Menteri Koordinator Bidang Ekonomi Airlangga Hartarto mengatakan, perpanjangan PPKM mikro untuk luar Pulau Jawa ini dilakukan dari 6 Juli 2021 hingga 20 Juli 2021 (kontan.co.id, 7/7/21)

Terkait PPKM di luar Jawa, nanti diatur perpanjangannya selaras dengan PPKM darurat di Jawa-Bali.

Penetapan strategi PPKM itu memang sudah terlambat. Saat seluruh wilayah Indonesia di daerah sudah tak jelas warna zonanya. Saat kini sudah terlanjur bercampurnya orang yang terpapar dan yang belum.

Begitu juga saat OTG (Orang Tanpa Gejala) semakin banyak tak terdeteksi. Saat mutasi virus sudah terjadi entah berapa varian. Semuanya semakin memberikan keraguan akan berubahnya keadaan negeri ini. Perubahan kesehatan masyarakatnya dan keadaan ekonominya.

Seperti dua parameter yang bertolak belakang. Saat grafik angka paparan meningkat. Saat itulah grafik ekonomi semakin terjun bebas.

Dugaan ramalan sistem ekonomi yang kolaps semakin terlihat. Dugaan peningkatan kasus kematian harian pun semakin nyata terwujud di depan mata. Semua pihak menjadi hilang arah. Masyarakat panik. Hampir putus asa. Kriminal seakan meningkat. Entah kapan membaik. Jelasnya masyarakat hampir putus asa.

Inilah dampak dari keterlambatan penanganan di awal. Andai saat virus ini baru lahir sudah ditangani serius tanpa memperhatikan kepentingan para kapital. Mungkin kejadiannya tak seperti ini. Tentu lebih mudah memblokir perkembangan dan pembelahan makhluk kecil ini.

Namun, pemerintah dan masyarakat memang tak serius di awal. Saat kini angka kematian sudah mencapai 300 orang lebih per hari. Barulah langkah serius itu ditempuh. Padahal kini sudah tak ada  lagi zona yang hijau. Hilir mudik orang masih berlaku di sini.

Parahnya, Pemerintah justru memasukkan TKA dari luar negeri secara massif. Keberpihakan pada korporat masih terjadi. Penularan semakin tak terkendali.

Jadilah nasi sudah menjadi bubur. Tak akan bisa menjadi nasi lagi. Terlambat sudah.

Lalu bagaimanakah mengatasi hal yang sudah terlanjur ini?

Tak ada jalan lain. Harus mencontoh peradaban Islam saat ada pandemi. Tinggal satu cara saja. Lockdown total. Urusan makan dan kebutuhan masyarakat menjadi sepenuhnya tanggung  jawab negara.

Tak bisa dipungkiri. Rupanya jelas ada yang salah dari penanganan pandemi selama ini. Pemerintah tak benar-benar serius mengatasinya tepat waktu. Jika sudah terlambat begini, entah dari mana harus memulai.

Setidaknya ada tiga kesalahan besar yang sudah terjadi dalam mengatasi pandemi selama ini. Pertama, PPKM, PSBB, dan sejenisnya hanyalah langkah panik saja. Saat semua sudah terlambat. Seharusnya lockdown total untuk daerah yg zona merah.

Dalam hal ini pemetaan wilayah yang serius dan rapih sangat dibutuhkan. Pendataan di negeri ini memang acak adut, amburadul dan berantakan. Penyisiran, screening test masyarakat secara gratis dan ramah mesti dilakukan. Bukan ditakuti dan dibuli.

Lalu setelah dipetakan kemudian dieksekusi. Mana wilayah yang harus lockdown dan mana yang tidak. Wilayah yang masih hijau harus tetap beroperasi menjalankan denyut kehidupan. Agar perekonomian tidak kolaps. Orang yang sakit disatukan dalam satu wilayah. Orang tang sehat boleh beraktivitas setelah dites secara gratis.

Langkah kedua pemerintah harus menanggung semua kebutuhan pokok masyarakat selama dalam penguncian itu. Sandang, pangan, papan, kebutuhan obat, fasilitas kesehatan semua gratis diberikan. Sebab saat itu masyarakat tidak bisa bekerja. Mereka diisolasi, dirawat dan diobati hingga sembuh. Setelah sembuh dites kembali secara gratis dan dibolehkan kembali beraktivitas di zona yang masih hijau.

Pemetaan, penguncian, perawatan itu terus berlangsung hingga semua masyarakat sembuh. Dibutuhkan dana APBN yang sangat banyak tentunya. Inilah masalahnya. Saat ini negara sedang defisit keadaannya. Gara-gara sistem ekonomi  kapitalisme yang diterapkan selama ini.

Andai sistem ekonominya berbasis islam tentu sangat mudah mengatasi problematika ini. Sebab pos pemasukannya banyak sekali, karena diurus secara mandiri.

Fasilitas kesehatan juga tak boleh dilupakan. Kebutuhan oksigen, baju hazmat, obat, ruang isolasi steril, obat, dan fasilitas  lain seharusnya disiapkan lebih banyak. Ini juga membutuhkan biaya anggaran yang banyak. Jika anggaran negara defisit dampaknya seperti sekarang ini. Nakes banyak tumbang  karena kelelahan. Kompensasi pun belum tentu diterima, sebab dana terbatas.

Inilah akibat dari sistem ekonomi kapitalis yang pro korporat itu. Sistem yang telah mengacaukan semua. Menjadi puncak masalah bagi masalah yang lain.

Ketiga, saat keadaan sudah seperti ini. Masih ada saja kebijakan yang pro korporat. Misal, kartu prakerja yang diperuntukkan untuk kapital. Korupsi dana Bansos yang menghebohkan. Entah bagaimana kini progres penyelesaiannya. Tenggelam, dan terbawa derasnya masalah multidimensi di negeri ini.

Semua pihak bingung saat ini. Para Nakes hampir putus asa. Fasilitas pengaman untuk keselamatan mereka pun kini menipis. Jika mereka sudah tumbang, siapa lagi yang berada di garda terdepan.

Jika dalam satu hari angka kematian mencapai 300 orang (kompas.com, 6/7/21).Maka dalam satu bulan terakumulasi 9 ribu orang yang wafat karena Covid-19 ini. Mau berapa lagi nyawa yang akan melayang?.

Sesungguhnya negeri sudah darurat keadaannya. Meskipun terlambat, tak salah bertaubat. Bermuhasabah untuk kembali pada aturan islam. Bukan pada sub sistem dan teknis pengelolaan wabahnya saja. Namun juga pada sistem induknya yang cocok (kompatibel).

Tak ada lagi waktu. Kita berpacu dengan waktu. Jangan tunggu kematian meningkat tak menentu. Mari bangkit, kita selesaikan pandemi sesuai yang pencipta mau. Sebab pandemi dan  virus itu berasal darinya. Maka dalam menyelesaikannya kita harus kembali padaNya. Wallahu a’lam bish-showaab.

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Nasional Partai Aceh Bertekad Menangkan Pemilukada

    Nasional Partai Aceh Bertekad Menangkan Pemilukada

    • calendar_month Minggu, 12 Feb 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Partai yang berisi eks kombatan GAM itu pun unjuk kekuatan dengan mengerahkan ribuan massa Hari ini, Minggu 12 Februari 2012, Partai Aceh menggelar deklarasi kandidat kepala daerah yang mereka usung dalam Pemilukada Aceh April 2012 mendantang. Deklarasi itu digelar di di Stadion H. Dimuthala Lampineung Banda Aceh. Partai Aceh yang didirikan oleh mantan kombatan Gerakan […]

  • Poldasu tinjau lokasi PT SRL

    Poldasu tinjau lokasi PT SRL

    • calendar_month Rabu, 17 Okt 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PADANG LAWAS, (MO) – Kedatangan Komisaris Polisi Khairul dari Reskrim Polda Sumut, didamping oleh Kapolsek Aek Nabara (Barumun AKP. S. Siregar), Kanit Reskrim Polsek Aek Nabara Barumun (IPDA. Lubis) dan empat anggota kepolisian berpakaian preman mendatangi Masyarakat Desa Tobing Tinggi, Kecamatan Aek Nabara Barumun, kabupaten Padang Lawas. Informasi diterima hari ini, kedatangan Kompol Khairul ingin […]

  • Forwakot Dibentuk, Ide Taman Kota Dibenahi Muncul

    Forwakot Dibentuk, Ide Taman Kota Dibenahi Muncul

    • calendar_month Sabtu, 10 Jun 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online)- Forum Wartawan Kota (Forwakot) Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal (Madina) dibentuk. Pembentukan Forwakot berdasarkan hasil musyawarah yang berlangsung di taman kota Panyabungan, Sabtu (10/6/2023). Forwakot merupakan wadah perkumpulan bagi wartawan yang bertugas di Kabupaten Madina. Forwakot bertujuan salah satunya untuk mengembangkan ide-ide dan kreativitas dari para wartawan khususnya yang tergabung dalam forum ini. […]

  • SMAN 2 Plus Sipirok Mulai Penerimaan

    SMAN 2 Plus Sipirok Mulai Penerimaan

    • calendar_month Rabu, 20 Apr 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIPIROK- Sebagai salahsatu langkah pada penerimaan siswa baru, siswa kelas X dan XI SMAN 2 Plus Sipirok Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) menggelar sosialisasi Penerimaan Siswa Baru (PSB) ke beberapa SLTP di kampung halaman masing-masing. Kegiatan tersebut merupakan program Yayasan Pendidikan Marsipature Hutana Be (YPMHB) yang setiap tahunnya digelar. Tujuan kegiatan ini merupakan upaya memberikan pemahaman […]

  • DPD GERRAK PPRI Madina Syukuran Kemenangan Presiden Prabowo Subianto

    DPD GERRAK PPRI Madina Syukuran Kemenangan Presiden Prabowo Subianto

    • calendar_month Sabtu, 9 Nov 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Kelompok Gerakan Relawan Rakyat Pendukung Prabowo Presiden RI 2024 (GERRAK PPRI 2024) Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Madina selenggarakan pesta rakyat sekaligus syukuran atas dilantiknya Prabowo Subianto jadi Presiden RI Ke 8 pada 20 Oktober 2024 lalu. Ketua DPD GERRAK PPRI Muhammad Tohir Nasution mengatakan. kegiatan syukuran dan pesta rakyat ini dilaksanakan […]

  • Paripurna Pansus Palmaris Gagal Dijadwalkan

    Paripurna Pansus Palmaris Gagal Dijadwalkan

    • calendar_month Kamis, 20 Sep 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan (MO) – Hingga menjelang akhir September, laporan hasil kerja Panitia Khusus (Pansus) Palmaris DPRD Mandailing Natal (Madina) belum juga masuk ke meja pimpinan dewan. Akibatnya, laporan kerja Pansus Palmaris tidak masuk dalam daftar tunggu pada sejumlah item agenda sidang paripurna yang ditetapkan Badan Musyawarah DPRD Madina. “Pimpinan Pansus belum menyampaikan laporan kepada pimpinan DPRD, […]

expand_less