Senin, 2 Mar 2026
light_mode

OPUK

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 1 Apr 2022
  • print Cetak

(Indikator  Kesejahteraan Pangan Mandailing di Masa Lalu)

 

Oleh: Dr. M. Daud Batubara, MSi

 

“Bercocok tanam padi itu berkah”. Begitu hal yang sering terdengar bila bincang-bincang dengan petani di pedesaan Mandailing. Bangsa Mandailing memang memiliki hubungan kehidupan yang sangat kuat dengan bercocok tanam padi. Padahal tanaman padi ini, bila di hitung secara matematis, hasilnya dibandingkan dengan tanaman holtikultura saja, sudah lebih untung menanam holtikultura. Lantas kenapa masyarakat di pedesaan Mandailing sering menyebutnya sebagai pekerjaan yang berkah, seolah jauh lebih beruntung dibanding dengan usaha yang lain.

Ternyata pemaknaan keberkahan bercocok tanam padi versi masyarakat petani Mandailing, muncul dari akumulasi hasil pengalaman atas penderitaan para leluhur masa lalu yang sulit ditolerir. Mungkin, saat ini oleh orang Mandailing yang bukan petani masih kurang paham dengan maknanya. Tapi pengalaman tersebut oleh sebahagian kecil orang yang masih hidup saat ini masih langsung merasakannya dan sebahagian lagi memperoleh cerita pengalaman menyedihkan tersebut secara tutur lisan turun-temurun. Pengalaman pahit di masa pemberontakan yang dirasakan oleh rakyat yang tidak mendapatkan kebutuhan beras telah menjadi cemeti yang kuat saat itu, terhadap keadaan masa depannya.

Pengalaman leluhur di masa pemberontakan yang berkali-kali mengalami kesulitan kebutuhan pokok beras, sampai pada kondisi menggunakan jagung dan ubi sebagai makanan pokok adalah masa yang sangat suram yang tidak ternilai harganya. Pantaslah menjadi kesan kuat untuk benar-benar selalu antisifatif terhadap kondisi kebutuhan beras sebagai kebutuhan pokok.

Masyarakat di pedesaan merasakan sulitnya hidup dengan tanpa terpenuhinya beras untuk pangan. Masa pemberontakan, banyak orang memakai baju tangki (pakaian dari kulit kayu), lauk hanya sayur dan cabe tanpa garam, apalagi minyak goreng, bahkan minyak lampu pun ditanak dari getah karet. Ternyata dari sekian masalah tersebut, yang paling sulit dirasakan masyarakat adalah tidak terpenuhinya kebutuhan beras untuk keperluan bertahan hidup.

Inilah yang membuat nilai yang kuat dan mulia atas gabah, yang kemudian mereka maknakan sebagai keberkahan bercocok tanam padi, meskipun mereka paham bahwa senyatanya tidak sebanding hasilnya dengan menanam tumbuhan lain ataupun dibandingkan dengan beternak secara matematis. Sehingga memiliki sawah bagi masyarakat pedesaan bangsa Mandailing sangat memiliki nilai sakral. Pengalaman telah menjadi guru berharga bagi masyarakat Mandailing betapa hal paling utama dalam kehidupan harus memprioritaskan kebutuhan pokok yakni beras.

Penelusuran terhadap makna berkah dimaksud hampir sama halnya dengan makna dari ketahanan pangan yang dielukan pemerintah saat ini, sampai menggandeng TNI dalam programnya sangkin pentingnya. Bangsa Mandailing yang sejak dulu masuk dalam golongan masyarakat cerdas, secara nyata paham bahwa dari sisi ekonomi, sudah disadari bahwa bercocok tanam padi tidak sebanding dengan tingkat pendapatan harian, bila menggunakan indikator waktu dan curah kerja harian. Namun masyarakat dengan pengalaman masa lalu memaknainya sebagai sesuatu yang penting dalam kehidupan, seperti pentingnya ketahan pangan saat ini.

Curah kerja yang digunakan untuk bercocok tanam padi yang tidak sebanding dengan perolehan hasil dalam bentuk gaji harian selama bercocok tanam, bila dibandingkan dengan tanaman holtikultura umpamanya, ternyata tidak mengurangi semangat yang mengkristal di jiwa masyarakat untuk tetap berupaya menanam padi dengan pendekatan bahwa ‘Bercocok Taman Padi itu Berkah’.

Pengalaman masa lalu dalam masa-masa sulit bagi masyarakat, ternyata merupakan pengalam pahit yang sulit dilupakan karena ketiadaan pangan. Hampir seluruh wilayah Mandailing memiliki air yang cukup untuk konsumsi masyarakat. Tapi tidak semua wilayah Mandailing mencukupi untuk kebutuhan pangan (beras) masing-masing. Sehingga sesulit apapaun kehidupan bila beras ada, maka kelanjutan kehidupan masih akan lebih mudah dilalui. Lauk dan sayuran masih banyak yang tersedia secara alami. Pengalaman ini, kemudian semakin membuat para leluhur menguatkan slogan ‘Bercocok Taman Padi itu Berkah’ sebagai bagian falsafah bagi rakyat terutama rakyat kecil.

Disepakati bahwa kata berkah ini setimpal dengan makna Ketahan Pangan yang sangat berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan mendasar dari tiap orang yang cukup jumlah dan mutunya, merata, terjangkau serta tersedia dari waktu ke waktu. Untuk memenuhi jaminan ketersediaan dari waktu ke waktu tersebut, hal yang memungkinkan saat itu dilakukanlah adalah ekstensifikasi, dengan harapan jumlah panen padi dapat melebihi selalu dari jumlah kebutuhan dalam setahun sebagai cadangan. 

Hasil panen padi petani di pedesaan Mandailing yang melimpah, kemudian membutuhkan penyimpanan yang layak dan baik. Para leluhur suku Mandailing mulai mendesain tempat penyimpanan yang representatif. Untuk menampung padi cadangan, maka muncullah tempat penyimpanan yang oleh bangsa Mandailing disebut dengan ‘Opuk’. Opuk di Mandailing ini, sama dengan lumbung padi dibeberapa wilayah adat nusantara.

Di Ulupungkut, Opuk masih banyak bisa dijumpai, ada yang masih berfungsi dan sebagian fungsinya hanya sebagai tempat duduk anggota masyarakat untuk bersantai di waktu-waktu senggang. Biasanya diletakkan pada bagian samping depan rumah. Demikian pula Opuk Raja, dengan ukuran yang lebih luas dan besar yang ada di sekitar lingkungan Bagas Godang (istana).

Di masa lalu, Opuk hampir dimiliki tiap rumah tangga. Hanya saja perbedaanya ada yang terlihat berfungsi ganda, selain untuk penyimpanan gabah, Opuk didesain untuk tempat istrahat pada bagian bawah bagi anggota masyarakat. Bila fungsinya ganda, biasanya Opuk tersebut akan memiliki arsitektur dengan seni dan kenyamanan yang baik, tentu pasti milik orang yang sebanding dengan kualitasnya. Ini dapat dimaknai bahwa kualitas Opuk, menunjukkan tingkat kemapanan ekonomi pemiliknya cukup sejahtera. Artinya Opuk, dapat dijadikan sebagai ukuran kesejahteraan masyarakat. Di sisi lain juga dapat disebut bahwa jumlah sebaran Opuk di masyarakat menunjukan bahwa masa lalu masyarakat telah sampai pada kesejahteraannya di zamannya. Oleh karena itu, keberadaan Opuk ini dapat dijadikan indikator kesejahteraan masyarakat saat itu.

Tentu dapat pula dibandingkan dengan kondisi kekinian dalam kesejahteraan masyarakat yang masih tetap didominasi petani. Padahal saat ini telah memiliki tekhnik intesifikasi, mekanisasi dan praktik aplikatif modern lainnya, untuk jaminan kualitas dan kuantitas yang lebih baik. Sayangnya saat ini Opuk sebagai tempat penyimpanan gabah di Mandailing ternyata tidak berkembang lagi di pedesaan. Pertanyaannya “Kenapa ?”, jawabnya tentu karena kuantitas gabah, jumlahnya tidak membutuhkan Opuk. Sebagai orang Mandailing tentu kita sangat berharap munculnya kembali sebaran Opuk di pedesaan Mandailing, karena kita yakini bahwa hasil gabah sebanding dengan perkembangan sebaran kebutuhan Opuk.***

Dr. M. Daud Batubara, MSi, Anak Petani dari Ulupungkut Mandailing

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Masyarakat Tetap Tolak Keberadaan KP-USU

    Masyarakat Tetap Tolak Keberadaan KP-USU

    • calendar_month Senin, 7 Jan 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MUARA BATANG GADIS (Mandailing Online) – Kehadiran KP-USU dalam usaha pembukaan kebun sawit di Kecamatan Muara Batang Gadis, Mandailing Natal (Madina) masih pro kontra ditengah berlanjutnya sidang di PTUN Medan. Kasus KP-USU ini mencuat setelah pihak Polres Madina menyetop aktivitas KP-SU di lapangan pada bulan Oktober 2012 karena izin lokasi dan izin usaha perkebunan KP […]

  • Bupati Jum’atan di Sirangkap, Warga Keluhkan Infrastruktur

    Bupati Jum’atan di Sirangkap, Warga Keluhkan Infrastruktur

    • calendar_month Jumat, 27 Feb 2026
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN TIMUR (Mandailing Online) – “Masih banyak kekurangan di desa kami ini, Pak Bupati. Seperti insfratruktur jalan dan sebagainya, mohonlah, Pak”. Itu kalimat tokoh Desa Sirangkap Kecamatan Panyabungan Timur, kepada Bupati Mandailing Natal (Madina) Saipullah Nasution, Jum’at (27/2/2026). Menurut warga, pembangunan sebelumnya tertunda akibat efesiensi anggaran dari pemerintah pusat. Mereka berharap agar dilanjutkan. Bupati melaksanakan […]

  • Dengan Dana 3,5 M Untuk Pengamanan, Bupati Berharap Pilkades di Madina Aman

    Dengan Dana 3,5 M Untuk Pengamanan, Bupati Berharap Pilkades di Madina Aman

    • calendar_month Jumat, 28 Jul 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN ( Mandailing Online ) dengan anggaran 3,5 miliar, Bupati Madina HM Jafar Sukhairi Nasution meminta kepada penegak hukum untuk membantu berjalannya pilkades dengan aman. ” saya ucapkan terima kasih atas kesedian TNI/Polri untuk mengamankan pilkades,” kata Sukhairi pada penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) oleh Bupati Madina HM Jafar Sukhairi Nasution, Kapolres Madina HM Reza […]

  • Bupati Madina Minta SMGP Hentikan Operasional Sumur T-11

    Bupati Madina Minta SMGP Hentikan Operasional Sumur T-11

    • calendar_month Kamis, 29 Sep 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Bupati Mandailing Natal Ja’far Sukhairi Nasution menyurati PT SMGP agar menghentikan sementara operasional di Wellpad Sumur T-11. Penghentian dimaksud berlaku sampai ada penyelesaian insiden yang terjadi pada, Selasa (27/9/2022), secara komprehensif. Surat bupati itu ditujukan kepada direktur PT SMGP (Sorik Marapi Geothermal Power) bernomor 660/2812/DLH/2022 tanggal 28 September 2022, perihal Penghentian Sementara Operasional […]

  • Sepanjang 5,5 km Jalan Simpang Pagur-Banjar Lancat Dibangun Hotmix

    Sepanjang 5,5 km Jalan Simpang Pagur-Banjar Lancat Dibangun Hotmix

    • calendar_month Jumat, 17 Mei 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN ( Mandailing Online ):” Pertama kita bangun mulai simpang Pagur melewati Ranto Natas sampai ujung Desa Pardomuan, baru ditahun berikutnya dilanjutkan dengan target hingga desa paling ujung Bandar Lancat, semoga tidak ada kendala seperti cuaca atau lainnya,” kata Kadis PUPR Madina Elpiyanti Harahap Jum’at 17/5/2024. Saat sekarang kata Elpi , Kontraktir pemenang tender mulai […]

  • Petani Saba Palas di Panyabungan Jae ngeluh, 2 tahun Tak Nyawah

    Petani Saba Palas di Panyabungan Jae ngeluh, 2 tahun Tak Nyawah

    • calendar_month Selasa, 13 Jun 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN( Mandailing Online) : bukan karena kemarau, Petani di Desa Panyabungan Jae, Kecamatan Panyabungan Kota, Kabupaten Mandailing Natal ( Madina ) mengeluh karena dua tahun terakhir, lahan persawahan mereka tak lagi bisa di garap akibat ketiadaan air. Sedikitnya ada 60 hektar lahan persawahan di saba palas itu mengalami kekeringan lantaran irigasi batang gadis yang menyuplai […]

expand_less