Senin, 20 Apr 2026
light_mode

OPUK

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 1 Apr 2022
  • print Cetak

(Indikator  Kesejahteraan Pangan Mandailing di Masa Lalu)

 

Oleh: Dr. M. Daud Batubara, MSi

 

“Bercocok tanam padi itu berkah”. Begitu hal yang sering terdengar bila bincang-bincang dengan petani di pedesaan Mandailing. Bangsa Mandailing memang memiliki hubungan kehidupan yang sangat kuat dengan bercocok tanam padi. Padahal tanaman padi ini, bila di hitung secara matematis, hasilnya dibandingkan dengan tanaman holtikultura saja, sudah lebih untung menanam holtikultura. Lantas kenapa masyarakat di pedesaan Mandailing sering menyebutnya sebagai pekerjaan yang berkah, seolah jauh lebih beruntung dibanding dengan usaha yang lain.

Ternyata pemaknaan keberkahan bercocok tanam padi versi masyarakat petani Mandailing, muncul dari akumulasi hasil pengalaman atas penderitaan para leluhur masa lalu yang sulit ditolerir. Mungkin, saat ini oleh orang Mandailing yang bukan petani masih kurang paham dengan maknanya. Tapi pengalaman tersebut oleh sebahagian kecil orang yang masih hidup saat ini masih langsung merasakannya dan sebahagian lagi memperoleh cerita pengalaman menyedihkan tersebut secara tutur lisan turun-temurun. Pengalaman pahit di masa pemberontakan yang dirasakan oleh rakyat yang tidak mendapatkan kebutuhan beras telah menjadi cemeti yang kuat saat itu, terhadap keadaan masa depannya.

Pengalaman leluhur di masa pemberontakan yang berkali-kali mengalami kesulitan kebutuhan pokok beras, sampai pada kondisi menggunakan jagung dan ubi sebagai makanan pokok adalah masa yang sangat suram yang tidak ternilai harganya. Pantaslah menjadi kesan kuat untuk benar-benar selalu antisifatif terhadap kondisi kebutuhan beras sebagai kebutuhan pokok.

Masyarakat di pedesaan merasakan sulitnya hidup dengan tanpa terpenuhinya beras untuk pangan. Masa pemberontakan, banyak orang memakai baju tangki (pakaian dari kulit kayu), lauk hanya sayur dan cabe tanpa garam, apalagi minyak goreng, bahkan minyak lampu pun ditanak dari getah karet. Ternyata dari sekian masalah tersebut, yang paling sulit dirasakan masyarakat adalah tidak terpenuhinya kebutuhan beras untuk keperluan bertahan hidup.

Inilah yang membuat nilai yang kuat dan mulia atas gabah, yang kemudian mereka maknakan sebagai keberkahan bercocok tanam padi, meskipun mereka paham bahwa senyatanya tidak sebanding hasilnya dengan menanam tumbuhan lain ataupun dibandingkan dengan beternak secara matematis. Sehingga memiliki sawah bagi masyarakat pedesaan bangsa Mandailing sangat memiliki nilai sakral. Pengalaman telah menjadi guru berharga bagi masyarakat Mandailing betapa hal paling utama dalam kehidupan harus memprioritaskan kebutuhan pokok yakni beras.

Penelusuran terhadap makna berkah dimaksud hampir sama halnya dengan makna dari ketahanan pangan yang dielukan pemerintah saat ini, sampai menggandeng TNI dalam programnya sangkin pentingnya. Bangsa Mandailing yang sejak dulu masuk dalam golongan masyarakat cerdas, secara nyata paham bahwa dari sisi ekonomi, sudah disadari bahwa bercocok tanam padi tidak sebanding dengan tingkat pendapatan harian, bila menggunakan indikator waktu dan curah kerja harian. Namun masyarakat dengan pengalaman masa lalu memaknainya sebagai sesuatu yang penting dalam kehidupan, seperti pentingnya ketahan pangan saat ini.

Curah kerja yang digunakan untuk bercocok tanam padi yang tidak sebanding dengan perolehan hasil dalam bentuk gaji harian selama bercocok tanam, bila dibandingkan dengan tanaman holtikultura umpamanya, ternyata tidak mengurangi semangat yang mengkristal di jiwa masyarakat untuk tetap berupaya menanam padi dengan pendekatan bahwa ‘Bercocok Taman Padi itu Berkah’.

Pengalaman masa lalu dalam masa-masa sulit bagi masyarakat, ternyata merupakan pengalam pahit yang sulit dilupakan karena ketiadaan pangan. Hampir seluruh wilayah Mandailing memiliki air yang cukup untuk konsumsi masyarakat. Tapi tidak semua wilayah Mandailing mencukupi untuk kebutuhan pangan (beras) masing-masing. Sehingga sesulit apapaun kehidupan bila beras ada, maka kelanjutan kehidupan masih akan lebih mudah dilalui. Lauk dan sayuran masih banyak yang tersedia secara alami. Pengalaman ini, kemudian semakin membuat para leluhur menguatkan slogan ‘Bercocok Taman Padi itu Berkah’ sebagai bagian falsafah bagi rakyat terutama rakyat kecil.

Disepakati bahwa kata berkah ini setimpal dengan makna Ketahan Pangan yang sangat berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan mendasar dari tiap orang yang cukup jumlah dan mutunya, merata, terjangkau serta tersedia dari waktu ke waktu. Untuk memenuhi jaminan ketersediaan dari waktu ke waktu tersebut, hal yang memungkinkan saat itu dilakukanlah adalah ekstensifikasi, dengan harapan jumlah panen padi dapat melebihi selalu dari jumlah kebutuhan dalam setahun sebagai cadangan. 

Hasil panen padi petani di pedesaan Mandailing yang melimpah, kemudian membutuhkan penyimpanan yang layak dan baik. Para leluhur suku Mandailing mulai mendesain tempat penyimpanan yang representatif. Untuk menampung padi cadangan, maka muncullah tempat penyimpanan yang oleh bangsa Mandailing disebut dengan ‘Opuk’. Opuk di Mandailing ini, sama dengan lumbung padi dibeberapa wilayah adat nusantara.

Di Ulupungkut, Opuk masih banyak bisa dijumpai, ada yang masih berfungsi dan sebagian fungsinya hanya sebagai tempat duduk anggota masyarakat untuk bersantai di waktu-waktu senggang. Biasanya diletakkan pada bagian samping depan rumah. Demikian pula Opuk Raja, dengan ukuran yang lebih luas dan besar yang ada di sekitar lingkungan Bagas Godang (istana).

Di masa lalu, Opuk hampir dimiliki tiap rumah tangga. Hanya saja perbedaanya ada yang terlihat berfungsi ganda, selain untuk penyimpanan gabah, Opuk didesain untuk tempat istrahat pada bagian bawah bagi anggota masyarakat. Bila fungsinya ganda, biasanya Opuk tersebut akan memiliki arsitektur dengan seni dan kenyamanan yang baik, tentu pasti milik orang yang sebanding dengan kualitasnya. Ini dapat dimaknai bahwa kualitas Opuk, menunjukkan tingkat kemapanan ekonomi pemiliknya cukup sejahtera. Artinya Opuk, dapat dijadikan sebagai ukuran kesejahteraan masyarakat. Di sisi lain juga dapat disebut bahwa jumlah sebaran Opuk di masyarakat menunjukan bahwa masa lalu masyarakat telah sampai pada kesejahteraannya di zamannya. Oleh karena itu, keberadaan Opuk ini dapat dijadikan indikator kesejahteraan masyarakat saat itu.

Tentu dapat pula dibandingkan dengan kondisi kekinian dalam kesejahteraan masyarakat yang masih tetap didominasi petani. Padahal saat ini telah memiliki tekhnik intesifikasi, mekanisasi dan praktik aplikatif modern lainnya, untuk jaminan kualitas dan kuantitas yang lebih baik. Sayangnya saat ini Opuk sebagai tempat penyimpanan gabah di Mandailing ternyata tidak berkembang lagi di pedesaan. Pertanyaannya “Kenapa ?”, jawabnya tentu karena kuantitas gabah, jumlahnya tidak membutuhkan Opuk. Sebagai orang Mandailing tentu kita sangat berharap munculnya kembali sebaran Opuk di pedesaan Mandailing, karena kita yakini bahwa hasil gabah sebanding dengan perkembangan sebaran kebutuhan Opuk.***

Dr. M. Daud Batubara, MSi, Anak Petani dari Ulupungkut Mandailing

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Penyakit Masyarakat Marak di Madina? 

    Penyakit Masyarakat Marak di Madina? 

    • calendar_month Rabu, 24 Jul 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    MADINA- Mandailing Online : Penyakit masyarakat diakui Satpol PP Madina sudah mengkhawatirkan. Penyakit masyarakat yang dimaksud seperti pasangan yang bukan suami istri diamankan dari hotel. Dari data Satpol PP Madina Selama Tahun 2024 Januari hingga Juli Satpol PP telah menjaring 60 pasangan yang tak mempunyai legalitas di beberapa hotel. “sejak Januari hingga bulan Juli ini, […]

  • Pameran Pembangunan HUT 17 tahun Madina

    Pameran Pembangunan HUT 17 tahun Madina

    • calendar_month Minggu, 6 Mar 2016
    • account_circle webmaster
    • 0Komentar

    Hari Pertama pameran pembangunan Ulang Tahun ke 17 Kabupaten Mandailing Natal, yang dimeriahkan SKPD dan Swasta yang berdomisili di kabupaten Madina. Tetap terlihat kemeriahan meskipun  di protes para pengunjung karena lokasi sekarang yang ada di Tapian Siri Siri sulit di akses pengunjung terutama yang datang secara rombongan. Terlalu jauh untuk jalan kaki, sementara kalau naik […]

  • Pengumuman Hasil Tes CPNS Jalur Umum 24 Desember

    Pengumuman Hasil Tes CPNS Jalur Umum 24 Desember

    • calendar_month Jumat, 13 Des 2013
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    JAKARTA – Pengumuman hasil tes CPNS dari jalur honorer kategori dua (K2) molor sebulan lebih dari jadwal semula. Dari yang direncanakan 14 Desember 2013, menjadi akhir Januari 2014. Jadwal pengumuman terbaru ini diketahui dari surat edaran yang dikeluarkan Sekteratis Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan-RB) Tasdik Kinanto, yang ditujukan kepada seluruh Pejabat Pembina […]

  • Seputar Kasus Pembunuhan Ibu dan Anak di Panyabungan

    Seputar Kasus Pembunuhan Ibu dan Anak di Panyabungan

    • calendar_month Jumat, 24 Sep 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Tak Cukup Bukti, H Dipulangkan Polres Madina masih terus melakukan pendalaman kasus pembunuhan ibu dan anak, Hj Sakinah Rangkuti (82), dan Halimahannum (54), di Kelurahan Dalan Lidang, Kecamatan Panyabungan dengan memeriksa sejumlah saksi. Polisi juga telah memulangkan seorang yang dicurigai sebagai tersangka pelaku, karena tidak memiliki bukti yang kuat. Kapolres Mandailing Natal (Madina), AKBP Hirbak […]

  • Kasus Anak Pejabat Madina Mencabuli Anak TK

    Kasus Anak Pejabat Madina Mencabuli Anak TK

    • calendar_month Jumat, 2 Mei 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Polsek Natal Dinilai Tak Punya Nyali Menahan Tersangka NATAL (Mandailing Online) – Pihak keluarga korban menilai polisi tak memiliki nyali menahan tersangka pencabulan di Kecamatan Natal, Mandailing Natal (Madina). Sebab, Polsek Natal hanya melakukan penahanan selama sehari terhadap tersangka berinisial SMH, kemudian melepaskanya dengan status penangguhan penahanan. Hingga kini, SMH pelajar SMA yang merupakan anak […]

  • Debu Vulkanik Sinabung Makin Dekat

    Debu Vulkanik Sinabung Makin Dekat

    • calendar_month Selasa, 17 Sep 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 2Komentar

    KABANJAHE, – Debu vulkanik yang keluar dari kawah Gunung Sinabung terus menebal dan semakin hitam. Sekitar pukul 23.00 WIB, Senin (16/9), debu vulkanik mulai terasa bertebaran di udara hingga di Desa Tiga Pancur, tempat Tribun melakukan pantauan. Padahal sehari sebelumnya, ketika pertama kali erupso terjadi, debu tersebut tidak menjangkau Desa Tiga Pancur. Pengamanan di posko […]

expand_less