Selasa, 20 Okt 2026
light_mode

OPUK

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 1 Apr 2022
  • print Cetak

(Indikator  Kesejahteraan Pangan Mandailing di Masa Lalu)

 

Oleh: Dr. M. Daud Batubara, MSi

 

“Bercocok tanam padi itu berkah”. Begitu hal yang sering terdengar bila bincang-bincang dengan petani di pedesaan Mandailing. Bangsa Mandailing memang memiliki hubungan kehidupan yang sangat kuat dengan bercocok tanam padi. Padahal tanaman padi ini, bila di hitung secara matematis, hasilnya dibandingkan dengan tanaman holtikultura saja, sudah lebih untung menanam holtikultura. Lantas kenapa masyarakat di pedesaan Mandailing sering menyebutnya sebagai pekerjaan yang berkah, seolah jauh lebih beruntung dibanding dengan usaha yang lain.

Ternyata pemaknaan keberkahan bercocok tanam padi versi masyarakat petani Mandailing, muncul dari akumulasi hasil pengalaman atas penderitaan para leluhur masa lalu yang sulit ditolerir. Mungkin, saat ini oleh orang Mandailing yang bukan petani masih kurang paham dengan maknanya. Tapi pengalaman tersebut oleh sebahagian kecil orang yang masih hidup saat ini masih langsung merasakannya dan sebahagian lagi memperoleh cerita pengalaman menyedihkan tersebut secara tutur lisan turun-temurun. Pengalaman pahit di masa pemberontakan yang dirasakan oleh rakyat yang tidak mendapatkan kebutuhan beras telah menjadi cemeti yang kuat saat itu, terhadap keadaan masa depannya.

Pengalaman leluhur di masa pemberontakan yang berkali-kali mengalami kesulitan kebutuhan pokok beras, sampai pada kondisi menggunakan jagung dan ubi sebagai makanan pokok adalah masa yang sangat suram yang tidak ternilai harganya. Pantaslah menjadi kesan kuat untuk benar-benar selalu antisifatif terhadap kondisi kebutuhan beras sebagai kebutuhan pokok.

Masyarakat di pedesaan merasakan sulitnya hidup dengan tanpa terpenuhinya beras untuk pangan. Masa pemberontakan, banyak orang memakai baju tangki (pakaian dari kulit kayu), lauk hanya sayur dan cabe tanpa garam, apalagi minyak goreng, bahkan minyak lampu pun ditanak dari getah karet. Ternyata dari sekian masalah tersebut, yang paling sulit dirasakan masyarakat adalah tidak terpenuhinya kebutuhan beras untuk keperluan bertahan hidup.

Inilah yang membuat nilai yang kuat dan mulia atas gabah, yang kemudian mereka maknakan sebagai keberkahan bercocok tanam padi, meskipun mereka paham bahwa senyatanya tidak sebanding hasilnya dengan menanam tumbuhan lain ataupun dibandingkan dengan beternak secara matematis. Sehingga memiliki sawah bagi masyarakat pedesaan bangsa Mandailing sangat memiliki nilai sakral. Pengalaman telah menjadi guru berharga bagi masyarakat Mandailing betapa hal paling utama dalam kehidupan harus memprioritaskan kebutuhan pokok yakni beras.

Penelusuran terhadap makna berkah dimaksud hampir sama halnya dengan makna dari ketahanan pangan yang dielukan pemerintah saat ini, sampai menggandeng TNI dalam programnya sangkin pentingnya. Bangsa Mandailing yang sejak dulu masuk dalam golongan masyarakat cerdas, secara nyata paham bahwa dari sisi ekonomi, sudah disadari bahwa bercocok tanam padi tidak sebanding dengan tingkat pendapatan harian, bila menggunakan indikator waktu dan curah kerja harian. Namun masyarakat dengan pengalaman masa lalu memaknainya sebagai sesuatu yang penting dalam kehidupan, seperti pentingnya ketahan pangan saat ini.

Curah kerja yang digunakan untuk bercocok tanam padi yang tidak sebanding dengan perolehan hasil dalam bentuk gaji harian selama bercocok tanam, bila dibandingkan dengan tanaman holtikultura umpamanya, ternyata tidak mengurangi semangat yang mengkristal di jiwa masyarakat untuk tetap berupaya menanam padi dengan pendekatan bahwa ‘Bercocok Taman Padi itu Berkah’.

Pengalaman masa lalu dalam masa-masa sulit bagi masyarakat, ternyata merupakan pengalam pahit yang sulit dilupakan karena ketiadaan pangan. Hampir seluruh wilayah Mandailing memiliki air yang cukup untuk konsumsi masyarakat. Tapi tidak semua wilayah Mandailing mencukupi untuk kebutuhan pangan (beras) masing-masing. Sehingga sesulit apapaun kehidupan bila beras ada, maka kelanjutan kehidupan masih akan lebih mudah dilalui. Lauk dan sayuran masih banyak yang tersedia secara alami. Pengalaman ini, kemudian semakin membuat para leluhur menguatkan slogan ‘Bercocok Taman Padi itu Berkah’ sebagai bagian falsafah bagi rakyat terutama rakyat kecil.

Disepakati bahwa kata berkah ini setimpal dengan makna Ketahan Pangan yang sangat berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan mendasar dari tiap orang yang cukup jumlah dan mutunya, merata, terjangkau serta tersedia dari waktu ke waktu. Untuk memenuhi jaminan ketersediaan dari waktu ke waktu tersebut, hal yang memungkinkan saat itu dilakukanlah adalah ekstensifikasi, dengan harapan jumlah panen padi dapat melebihi selalu dari jumlah kebutuhan dalam setahun sebagai cadangan. 

Hasil panen padi petani di pedesaan Mandailing yang melimpah, kemudian membutuhkan penyimpanan yang layak dan baik. Para leluhur suku Mandailing mulai mendesain tempat penyimpanan yang representatif. Untuk menampung padi cadangan, maka muncullah tempat penyimpanan yang oleh bangsa Mandailing disebut dengan ‘Opuk’. Opuk di Mandailing ini, sama dengan lumbung padi dibeberapa wilayah adat nusantara.

Di Ulupungkut, Opuk masih banyak bisa dijumpai, ada yang masih berfungsi dan sebagian fungsinya hanya sebagai tempat duduk anggota masyarakat untuk bersantai di waktu-waktu senggang. Biasanya diletakkan pada bagian samping depan rumah. Demikian pula Opuk Raja, dengan ukuran yang lebih luas dan besar yang ada di sekitar lingkungan Bagas Godang (istana).

Di masa lalu, Opuk hampir dimiliki tiap rumah tangga. Hanya saja perbedaanya ada yang terlihat berfungsi ganda, selain untuk penyimpanan gabah, Opuk didesain untuk tempat istrahat pada bagian bawah bagi anggota masyarakat. Bila fungsinya ganda, biasanya Opuk tersebut akan memiliki arsitektur dengan seni dan kenyamanan yang baik, tentu pasti milik orang yang sebanding dengan kualitasnya. Ini dapat dimaknai bahwa kualitas Opuk, menunjukkan tingkat kemapanan ekonomi pemiliknya cukup sejahtera. Artinya Opuk, dapat dijadikan sebagai ukuran kesejahteraan masyarakat. Di sisi lain juga dapat disebut bahwa jumlah sebaran Opuk di masyarakat menunjukan bahwa masa lalu masyarakat telah sampai pada kesejahteraannya di zamannya. Oleh karena itu, keberadaan Opuk ini dapat dijadikan indikator kesejahteraan masyarakat saat itu.

Tentu dapat pula dibandingkan dengan kondisi kekinian dalam kesejahteraan masyarakat yang masih tetap didominasi petani. Padahal saat ini telah memiliki tekhnik intesifikasi, mekanisasi dan praktik aplikatif modern lainnya, untuk jaminan kualitas dan kuantitas yang lebih baik. Sayangnya saat ini Opuk sebagai tempat penyimpanan gabah di Mandailing ternyata tidak berkembang lagi di pedesaan. Pertanyaannya “Kenapa ?”, jawabnya tentu karena kuantitas gabah, jumlahnya tidak membutuhkan Opuk. Sebagai orang Mandailing tentu kita sangat berharap munculnya kembali sebaran Opuk di pedesaan Mandailing, karena kita yakini bahwa hasil gabah sebanding dengan perkembangan sebaran kebutuhan Opuk.***

Dr. M. Daud Batubara, MSi, Anak Petani dari Ulupungkut Mandailing

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bupati Lantik Polsus PKS dan UKS MAN 5 Madina

    Bupati Lantik Polsus PKS dan UKS MAN 5 Madina

    • calendar_month Jumat, 13 Jan 2023
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    BATANG NATAL (Mandailing Online) – Bupati Mandailing Natal (Madina) H.M Ja’far Sukhairi Nasution melantik Polisi Khusus Patroli Keamanan Sekolah (Polsus PKS) dan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) MAN 5 Mandailing Natal (Madina) di Kase Rao-rao, Kecamatan Batang Natal, Jumat (13/1). Bupati dalam sambutannya mengatakan, anggota Polsus PKS dan UKS harus mampu membawa perubahan di sekolah. Pembentukan […]

  • Madina Terapkan WFH Setiap Hari Jumat

    Madina Terapkan WFH Setiap Hari Jumat

    • calendar_month Senin, 6 Apr 2026
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal (Pemkab Madina) mulai menerapkan Work from Home (WFH) sejak pekan ini. WFH berlaku setiap hari Jumat setiap pekannya. Ketetapan itu tertuang dalam Surat Edaran Bupati Mandailing Natal Nomor 800/0704/SE/2026 tanggal 6 April 2026 ditandatangani Bupati Madina Saipullah Nasution. Dalam ​surat tersebut, bupati menekankan kebijakan ini akan […]

  • Advokad Minta Menteri ESDM Tutup PT. SMGP di Madina

    Advokad Minta Menteri ESDM Tutup PT. SMGP di Madina

    • calendar_month Rabu, 13 Apr 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      MEDAN (Mandailing Online) – Ketua Umum Pengurus Besar Perkumpulan Advokat Sumatera Utara (PB PASU) Eka Putra Zakran, SH.MH meminta Menteri ESDM mencanut izin dan sekaligus menutup beroperasinya PT Sorik Marapi Geothermal Power (SMGP) di Mandailing Natal. Eka Putra menyatakan itu menyusul hasil investigasi Walhi Sumut yang menemukan indikasi pelanggaran HAM oleh PT. SMGP pada […]

  • Diduga Main Proyek, Setjen DPR Dirombak

    Diduga Main Proyek, Setjen DPR Dirombak

    • calendar_month Selasa, 28 Sep 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Rapat Pimpinan (Rapim) DPR menyepakati jajaran Sekretariat Jenderal (Sekjen) DPR dilakukan reposisi. Reposisi itu dilakukan untuk mengatasi berbagai permasalahan Sumber Daya Manusia (SDM) di lingkup DPR. “Kami telah menyetujui adanya reposisi untuk kemudian diserahkan Badan Pertimbangan Jabatan dan Pangkat atau Baperjakat,” kata Ketua DPR Marzuki Alie kepada wartawan di DPR, Jakarta, Senin (27/9). Salah satu […]

  • Derita Transmigran Singkuang, 15 Tahun Menuntut Hak dan Keadilan (bagian 1 dari 2 tulisan)

    Derita Transmigran Singkuang, 15 Tahun Menuntut Hak dan Keadilan (bagian 1 dari 2 tulisan)

    • calendar_month Sabtu, 11 Nov 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Oleh : MHD RIDWAN LUBIS, S.Pd   Transmigrasi merupakan program Pemerintah Indonesia untuk memindahkan penduduk dari suatu daerah padat penduduk atau perkotaan ke daerah lain di dalam wilayah Indonesia. Program transmigrasi bertujuan untuk mengurangi kemiskinan, memberikan kesempatan bagi orang yang mau bekerja, dan memenuhi kebutuhan tenaga kerja. Seiring berjalannya waktu dan kebijakan baru pemerintah, […]

  • Warga Minta Bupati Madina Tinjau Ulang Pengangkatan Pj Desa Tabuyung

    Warga Minta Bupati Madina Tinjau Ulang Pengangkatan Pj Desa Tabuyung

    • calendar_month Rabu, 24 Jul 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MUARA BATANG GADIS (Mandailing Online) – Warga meminta bupati Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara, meninjau ulang pengangkatan Pj. Kepala Desa Tabuyung, Kecamatan Muara Batang Gadis. Permintaan itu berdasar penilaian warga terhadap beberapa kebijakan dan keputusan pj. kepala desa berinisial IM yang diduga bertentangan dengan peraturan perundangan-undangan. Selain itu, yang bersangkutan juga sudah pernah menjalani hukuman […]

expand_less