Terus Melorot ke Peringkat 22, MTQ Sumut 2026 Pantulkan Bayangan Suram Tata Kelola dan Religiusitas Madina
- account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
- calendar_month 1 menit yang lalu
- print Cetak
Oleh: Tim Mandailing Epicentrum*

“Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya.” (HR. Muslim)
Kalimat Nabi Muhammad SAW itu mengingatkan bahwa Al-Qur’an bukan sekadar bacaan yang indah dilantunkan, melainkan pedoman hidup yang harus membentuk manusia, keluarga, masyarakat, hingga peradaban.
Maka, ketika Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) digelar setiap tahun, yang sesungguhnya dipertaruhkan bukan hanya siapa yang menjadi juara. Yang diuji adalah sejauh mana sebuah masyarakat berhasil membangun ekosistem pendidikan Al-Qur’an.
Karena itu, sebuah unggahan di media sosial yang viral beberapa hari terakhir patut dibaca lebih dalam.
Unggahan itu memuat kekecewaan seorang pegiat MTQ terhadap hasil kafilah Mandailing Natal pada MTQ ke-40 Tingkat Provinsi Sumatera Utara Tahun 2026. Ia mengkritik minimnya pembinaan, lemahnya perhatian pemerintah, kecilnya uang saku peserta, buruknya manajemen official, hingga fenomena qari dan qariah asal Mandailing Natal yang justru membela (kontingen/utusan/bagian kafilah-red) daerah lain.
Banyak orang mungkin akan menganggapnya sebagai keluhan biasa.
Padahal, jika dibaca melalui kacamata sosiologi agama, postingan itu sesungguhnya adalah gejala sosial.
Ia bukan sekadar berbicara tentang MTQ.
Ia sedang berbicara tentang keadaan kita.

Angka yang Tak Boleh Dipandang Remeh
Hasil MTQ Sumut 2026 menunjukkan Mandailing Natal berada di peringkat ke-22 dengan nilai hanya 2.
Dua tahun sebelumnya, Madina masih mengumpulkan 9 poin. Kini tinggal dua di peringkat 14.
Angka memang tidak pernah mampu menjelaskan seluruh kenyataan.
Tetapi angka sering menjadi alarm. Bilangan itu memaksa kita bertanya:
Apa yang sedang terjadi? Iya betul, faktanya cukup mencengangkan.
Apakah kita kekurangan qari dan qariah? Rasanya tidak.
Madina memiliki banyak pesantren, madrasah, guru mengaji, hafiz, qari, qariah, serta tradisi Islam yang telah hidup sejak lama. Julukannya saja: “Serambi Makkah-nya Sumut.” Bahkan banyak putra-putri daerah yang mampu berprestasi lebih baik ketika bergabung dengan lembaga pendidikan atau daerah lain.
Kalau memang modal manusianya masih ada, lalu mengapa prestasinya justru merosot?
Pertanyaan itu membawa kita memasuki lapisan yang lebih dalam.
Bukan Cuma Soal MTQ
Postingan yang beredar di media sosial menyebut berbagai persoalan.
Pembinaan dianggap tidak berjalan optimal. Kacau? Honor pembina dipersoalkan. Uang saku peserta dinilai tidak layak. Official kurang kompeten.
Bahkan, muncul tudingan adanya pembinaan yang hanya tercatat di atas kertas (fiktif?).
Semua itu tentu harus diverifikasi secara objektif. Tuduhan tidak boleh menggantikan fakta. Namun banyaknya keluhan dengan tema yang serupa menunjukkan adanya persepsi publik bahwa tata kelola pembinaan MTQ perlu dievaluasi secara serius.
Di sinilah letak salah satu persoalan utamanya.
Prestasi tidak pernah lahir secara kebetulan. Lahir dari sistem.
Makanya, kalau sistem pembinaan kuat, prestasi akan datang bergantian dan meningkat.
Sebaliknya, kalau sistemnya rapuh, prestasi hanya bergantung pada munculnya individu-individu luar biasa.
Dan individu sehebat apa pun akhirnya akan habis.
Jelas, sistem-lah yang merangkai regenerasi.
Ketika Putra Daerah Pergi
Salah satu bagian paling menyentak dari unggahan tersebut adalah ajakan agar pemerintah memanggil kembali qari dan qariah asal Mandailing Natal yang kini membela kabupaten lain.
Kalau fenomena ini memang terjadi dalam skala yang signifikan, maka persoalannya jauh melampaui MTQ.
Daerah seperti Madina kehilangan sumber daya terbaiknya karena daerah lain menawarkan ruang pembinaan, penghargaan, atau masa depan yang lebih menjanjikan.
Fenomena seperti ini bukan hanya terjadi di dunia tilawah. Sosiologi menyebut problem itu dengan istilah brain drain. Kita juga bisa melihat fakta kejadian itu si dalam olahraga, seni, pendidikan, bahkan birokrasi.
Ketika talenta terbaik memilih pergi, sesungguhnya yang sedang kalah bukan hanya daerah.
Yang sedang kalah adalah kemampuan sebuah sistem mempertahankan manusianya.
Agama: Simbol atau Institusi?
Lebih jauh, realitas ini memaksa kita keluar dari pembahasan MTQ dan masuk ke wilayah sosiologi agama. Para sosiolog, sejak lama sudah membedakan dua wajah agama.
Yang pertama adalah agama sebagai simbol sosial. Gambar yang tampak dalam masjid yang megah, pakaian religius, festival keagamaan, peringatan hari besar Islam, dan MTQ yang meriah.
Yang kedua adalah agama sebagai institusi sosial. Sejatinya, lembaga hidup dalam pembinaan yang sabar, guru yang tekun, tradisi mengaji yang berkesinambungan, keluarga yang menanamkan nilai, dan lembaga yang bekerja sepanjang tahun.
Keduanya, simbol dan institusi itu, sama-sama penting. Namun masalah muncul ketika simbol berkembang jauh lebih cepat daripada institusinya.
Kita menjadi sangat pandai menyelenggarakan acara. Tetapi, kurang sabar membangun manusianya.
Akhirnya, MTQ lebih sibuk menjadi sekedar panggung daripada menjadi puncak dari proses pembinaan panjang.
Padahal, panggung tidak pernah melahirkan juara. Yang melahirkan juara adalah ruang-ruang kecil tempat seorang anak belajar mengeja huruf-huruf Al-Qur’an setiap hari.
Religiusitas yang Mulai Bergeser
Dalam beberapa tulisan sebelumnya, kita telah membahas gejala lain yang juga patut direnungkan.
Ekonomi tumbuh. Investasi meningkat. Uang semakin menjadi ukuran keberhasilan.
Tidak ada yang salah dengan kemajuan ekonomi. Islam sendiri menghargai ikhtiar dan kerja keras. Namun, persoalan muncul ketika orientasi material mulai menggeser orientasi pembinaan.
Ketika ukuran keberhasilan lebih banyak ditentukan oleh apa yang dimiliki daripada apa yang dibentuk.
Ketika seremoni lebih dihargai daripada proses.
Ketika hasil instan lebih diprioritaskan daripada pendidikan jangka panjang.
Dalam situasi seperti itu, kegiatan keagamaan pun berisiko mengalami nasib yang sama: tetap ramai, megah, bahkan viral.
Tetapi, secara perlahan kita jadi kehilangan akar pembinaannya.
Karena itu, tulisan ini tidak sedang mengatakan bahwa masyarakat Mandailing Natal telah kehilangan religiusitasnya. Bukan! Kesimpulan seperti itu terlalu sederhana dan tidak adil.
Yang sedang kita pertanyakan adalah: Apakah religiusitas kita telah cukup berhasil membangun institusi-institusi yang menopangnya?
Sebab religiusitas yang sehat bukan hanya terlihat pada ramainya acara keagamaan. Kesalihan terlihat pada hidupnya tradisi mengaji, kuatnya pendidikan Al-Qur’an, lahirnya generasi baru qari dan qariah, serta bekerjanya lembaga pembinaan secara profesional.
Saatnya Berbenah
Kalau memang hasil MTQ 2026 menjadi titik terendah dalam beberapa tahun terakhir, maka respons terbaik bukanlah saling menyalahkan.
Yang dibutuhkan adalah keberanian melakukan evaluasi total. LPTQ perlu membuka peta pembinaan secara transparan.
Program latihan harus berlangsung sepanjang tahun, bukan hanya menjelang perlombaan.
Database dan perlombaan qari dan qariah perlu disusun sejak tingkat desa. Pesantren, madrasah, sekolah, perguruan tinggi, guru mengaji, dan pemerintah harus bekerja dalam satu ekosistem.
Penghargaan terhadap peserta dan pelatih pun perlu diperbaiki.
Lalu, yang tidak kalah penting, evaluasi harus dilakukan berdasarkan kinerja, bukan kedekatan.
Karena pada akhirnya, MTQ bukanlah tujuan. Event itu hanyalah cermin. Kalau hari ini cermin itu memantulkan wajah yang kurang membanggakan, jangan pecahkan cerminnya.
Benahilah wajah yang dipantulkan itu.
Penutup
Mandailing Natal selama ini dikenal sebagai daerah yang kuat dengan identitas Islam dan tradisi keilmuannya. Modal sosial itu tidak boleh dibiarkan memudar karena lemahnya tata kelola.
Peringkat ke-22 bukanlah aib yang harus ditutupi. Capaian ini adalah alarm yang harus didengar. Sebab, sebuah daerah tidak kehilangan masa depannya ketika kalah dalam sebuah perlombaan.
Madina mulai kehilangan masa depannya ketika ia berhenti belajar dari kekalahannya.
Mudah-mudahan hasil MTQ Sumut 2026 bukan menjadi akhir dari sebuah cerita, melainkan awal dari keberanian untuk bercermin, membenahi tata kelola, memperkuat pembinaan Al-Qur’an, dan mengembalikan MTQ pada hakikatnya: bukan sekadar lomba membaca ayat, tetapi jalan panjang melahirkan generasi yang hidup bersama nilai-nilai Al-Qur’an.
Itulah kemenangan yang sesungguhnya. ***
*Wadah pemikiran, pergerakan dan motivasi kritis untuk sinergi yang energik.
- Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

