Rabu, 2 Sep 2026
light_mode

Ketika Lagu Mandailing Tapsel Naik Kelas

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Sabtu, 18 Jul 2026
  • print Cetak

 

Oleh: Moechtar Nasution
Penggiat GEREP INSTITUTE (Pusat Kajian Mandailing Natal)

 

 

Musik Tapsel-Mandailing mengalir dalam denyut nadi kebudayaan masyarakat Sumatera Utara dengan karakter melodinya yang melankolis sekaligus magis. Sejak beberapa dekade lampau, lagu-lagu tradisional maupun pop daerah ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari ruang pesta adat, “lopo-lopo” kopi, hingga menemani perjalanan naik bus ALS atau SAMPAGUL dari dan menuju Medan melintasi pinggiran perbukitan Bukit Barisan. Namun, seiring berjalannya waktu dan derasnya gempuran tren musik modern global, karya-karya legendaris tersebut perlahan sempat tersisih ke sudut ruang nostalgia. Generasi muda mulai merasa berjarak dengan aransemen musik masa lalu yang dianggap terlalu konvensional dan monoton. Di tengah kekhawatiran akan pudarnya eksistensi identitas bunyi lokal inilah, muncul gerakan pembaruan yang membawa angin segar bagi industri musik.

Kebangkitan ini menemukan momentum emasnya ketika seorang musisi, pencipta lagu, dan penata musik berbakat, Amin Wahyudi Harahap, mengambil langkah elegan dan soft untuk melakukan rekonstruksi estetika musik daerah. Lewat tangan dinginnya, lagu-lagu Mandailing dan Tapsel yang dahulu termasyhur kembali dihidupkan lewat proyek aransemen ulang yang revolusioner, berdampingan dengan karya orisinal fenomenalnya seperti “Siti Mawarni”.

Amin Wahyudi tidak sekadar mendaur ulang lagu lama dengan instrumen modern secara asal-asalan. Ia memperlakukan draf melodi warisan leluhur dengan penuh rasa hormat, sembari menyuntikkan elemen soundscape kekinian seperti pop-etnik modern, sentuhan string yang sinematik, hingga balutan ritme baru yang membuat komposisi lagunya terdengar jauh lebih enak, segar, dan berkelas.

Hasilnya nyata di lapangan, karya-karya ini bertransformasi menjadi jembatan emosional yang melintasi batasan usia, disukai oleh generasi tua yang merindukan kenangan masa lalu sekaligus memikat hati generasi muda yang haus akan keunikan rasa. Rentetan tembang legendaris seperti Parsarakan, Tatap Ma Gambarku, Pancur Paridian, Sidenggan Roha, Saias Ni Roha, Bue-Bue, Pengangguran, Poswan, Nagagal Marcinta, Pio Pio Manuk, Marsak, hingga Malungun kini mendadak bangkit dan menjelma menjadi jajaran hits yang disukai.

Ini adalah sebuah fenomena seni yang sangat unik dan langka, di mana dewasa ini lagu Mandailing-Tapsel bermutasi menjadi sesuatu yang jauh lebih “bernyawa”. Karakter aransemennya tidak lagi terdengar datar atau sekadar meratap, melainkan memiliki hentakan jiwa, dinamika suara yang megah, dan kedalaman rasa yang mampu berbicara langsung pada emosi pendengarnya. Lebih dari sekadar melodi, untaian lirik dalam tembang seperti Pengangguran, Nagagal Marcinta, Parsarakan, bait keluh kesah dalam Marsak, atau metafora puitis dalam Pio Pio Manuk dan kedalaman rasa rindu dalam Malungun bertindak sebagai katarsis sosial yang jujur, menangkap getirnya realitas hidup, kekecewaan asmara, dan patah hati yang sangat relevan dengan keresahan psikologis anak muda zaman sekarang. Sisi teaterikal vokal yang memadukan cengkok andung-andung tradisional dengan karakter vokal modern yang renyah membuat lagu-lagu ini memiliki daya pikat magis yang seketika menghentikan jempol netizen saat berselancar di lini masa.

Daya pikat magis inilah yang memicu ledakan tren di kalangan Gen Z, kelompok anak muda yang biasanya paling cepat mengadopsi budaya luar, kini justru tanpa canggung dan tanpa rasa malu sedikit pun menjadikan lagu-lagu Tapsel-Mandailing hasil aransemen baru ini sebagai lagu latar (backsound) utama untuk status cerita Instagram, histori WhatsApp, TikTok, hingga berbagai unggahan platform media sosial lainnya. Kehadiran musik ini berhasil meruntuhkan stigma usang bahwa mendengarkan lagu daerah tidak lagi dicap sebagai sesuatu yang “kampungan” atau “kuno”, melainkan telah bergeser menjadi simbol kebanggaan identitas lokal yang estetis (aesthetic local pride) di ruang publik digital global.

Ruang dengar musik ini pun mengalami pergeseran radikal dari yang dulunya hanya menggema di lopo kopi atau angkutan kota atau angkutan pedesaan, kini menduduki tempat terhormat di dalam earphone generasi urban, sudut kafe estetis, di kantor-kantor, di taman-taman kota hingga ruang dengar masyarakat yang sifatnya pribadi. Anak-anak muda masa kini menemukan ruang ekspresi baru di mana melodi tradisional terasa sangat trendi untuk mewakili perasaan harian mereka.

Menariknya lagi, ledakan tren musik ini melahirkan kedaulatan algoritma lokal (algorithmic sovereignty) di tengah gempuran arus budaya pop global. Ketika ruang digital dunia disesaki oleh musik Barat dan K-Pop, netizen dan penikmat musik daerah berhasil “menjinakkan” algoritma media sosial agar berpihak pada kebudayaan lokal melalui interaksi yang masif dan organik.

Dampaknya meluas menjadi sebuah efek ekonomi dan promosi pariwisata daerah yang luar biasa. Potongan-potongan lagu hasil aransemen baru ini kini menjadi bahan baku utama bagi para kreator konten dan videografer amatir untuk mengiringi video sinematik keindahan alam bumi Tapanuli Bagian Selatan mulai dari lanskap hijau Sipirok hingga eksotisme bumi gordang sambilan Mandailing Natal. Promosi wisata yang bergerak secara mandiri di media sosial ini secara otomatis ikut mendongkrak kebanggaan dan nilai ekonomi kreatif daerah dari bawah.

Anehnya pula, pesona lagu-lagu lama yang didaur ulang ini nyatanya mampu menembus batas-batas geografis dan kultural, dinikmati secara luas oleh publik umum dan sama sekali tidak lagi terbatas di kalangan masyarakat Tapanuli Bagian Selatan semata. Musik yang awalnya diproduksi sebagai konsumsi internal suku atau etnis tertentu, kini melompat menjadi konsumsi musik yang melintasi berbagai suku bangsa.

Kekuatan aransemen baru yang universal berhasil membuat orang-orang yang tidak memahami bahasa Mandailing sekalipun tetap bisa menikmati keindahan estetikanya, terhanyut dalam ketukan ritme yang adiktif, serta merasakan kedalaman emosi yang dipancarkan oleh setiap bait lagu. Keberhasilan ini membuktikan bahwa ketika sebuah musik daerah dikemas dengan standar produksi yang modern dan bercita rasa global, ia akan kehilangan sifat kedaerahannya yang eksklusif dan berubah menjadi bahasa universal yang dapat diterima oleh telinga siapa saja.

Secara sosiologis, fenomena ini membuka ruang transkulturalisme baru, di mana elemen budaya lokal diadopsi tanpa menghilangkan esensi aslinya. Ketika instrumen modern seperti synthesizer dan sequencer dipadukan dengan tiupan gordang sambilan atau serunai, ada dialog harmonis yang tercipta antara masa lalu dan masa depan. Hal ini penting karena sering kali modernisasi dituduh sebagai pembunuh kebudayaan tradisional. Melalui gelombang baru musik Mandailing ini, kita menyaksikan thesis sebaliknya bahwa teknologi modern justru bisa menjadi juru selamat yang mendiseminasi tradisi ke ruang yang lebih luas. Melalui aransemen yang berakar kuat pada kearifan lokal namun dieksplorasi secara bebas, batas-bakat kaku sosiologis runtuh digantikan oleh apresiasi estetika yang murni.

Pandangan kritis ini sejalan dengan pokok pikiran Dr. Rizaldi Siagian, M.A.  Sebagai seorang begawan etnomusikologi kawakan  yang rekam jejak risetnya diakui dunia, Rizaldi secara konsisten memaparkan bahwa merawat ingatan kolektif generasi muda terhadap ekspresi seni tradisi tidak bisa lagi menggunakan metode indoktrinasi yang kaku atau sekadar imbauan moral yang dogmatis. Dalam pandangannya, ia menegaskan bahwa telinga generasi hari ini telah dikondisikan oleh standardisasi industri audio global yang bersih, dinamis, dan memiliki kedalaman frekuensi yang presisi. Apa yang diwujudkan oleh generasi baru musisi seperti Amin Wahyudi Harahap harus dipandang sebagai sebuah lompatan taktis yang sangat cerdas. Dengan menaikkan kelas teknis produksi audio musik Mandailing-Tapsel setara dengan musik pop arus utama tanpa menggerus lekuk cengkok tradisinya dan bunyi syairnya.

Musik daerah ini berhasil merebut kembali kedaulatan eksistensinya di ruang digital. Pengemasan ulang ini membuktikan bahwa musik etnis lokal tidak pernah kehilangan peminat, melainkan hanya membutuhkan jembatan estetika baru yang kompatibel dengan perkembangan zaman.

Tidak hanya itu, jika kita melihat dari sisi rantai nilai industri kreatif jelas kebangkitan kembali lagu-lagu hit klasik ini memberikan dampak kesejahteraan yang berputar (multiplier effect) secara nyata di daerah. Penyanyi-penyanyi lokal yang sebelumnya hanya tampil di panggung kecil kini mendapatkan pengakuan global lewat jumlah putaran lagu yang mencapai jutaan kali di platform digital seperti Spotify, YouTube Music, dan iTunes. Hak royalti dan distribusi digital yang dikelola secara profesional membuka ekosistem ekonomi baru yang menjanjikan bagi para pelaku seni lokal. Ini membuktikan bahwa kedaulatan budaya dapat berjalan beriringan dengan kemandirian ekonomi pelaku seni. Kebanggaan kolektif yang muncul pada akhirnya memicu gairah generasi baru untuk terus menggali kekayaan tradisi yang selama ini terpendam di perpustakaan sejarah lisan masyarakat Tapanuli.

Kehadiran era baru musik Mandailing Natal dan Tapanuli Bagian Selatan ini menandai metamorfosis kebudayaan yang adaptif tanpa harus kehilangan jati diri asli atau khitah leluhurnya. Aransemen ulang mutakhir ini berhasil merebut kembali ruang publik digital yang selama ini disesaki oleh tren musik luar. Seni tradisional tidak lagi dipandang sebelah mata sebagai pelengkap seremoni adat semata, liriknya yang kuat bahkan mampu membawa pesan edukasi sosial yang menyentuh realitas kehidupan.

Keberhasilan penataan ulang musik tersebut tidak hanya memulihkan ingatan kolektif generasi lama pada masa jaya tembang kenangan mereka, melainkan juga melahirkan kebanggaan kultural baru bagi anak-anak muda bermarga Nasution,Lubis, Rangkuti, Rambe hingga Siregar untuk merayakan kebanggaan dengan identitas silsilah mereka di ruang digital.

Industri rekaman lokal yang sempat lesu kini kembali bergairah, membuka ruang kerja produktif bagi para penyanyi daerah, videografer, hingga talenta musik tradisional perkusi dan tiup lokal untuk ikut terlibat dalam ekosistem modernisasi ini. Kreativitas tanpa batas ini menjadi pembuktian penting bahwa kelestarian budaya daerah tidak melulu harus kaku, melainkan bisa hidup berdampingan dengan industri hiburan komersial yang menjanjikan.

Fajar baru musik Tapsel-Mandailing telah terbit, ia membuktikan bahwa budaya daerah tidak harus punah diterjang disrupsi zaman. Namun ia mampu tegak berdiri dan terus relevan ketika nostalgia masa lalu dikawinkan dengan kreativitas modern yang visioner. Musik adalah cermin jiwa sebuah bangsa, dan hari ini, cermin itu memperlihatkan wajah Mandailing-Tapsel yang bersinar lebih benderang, lebih berani, dan jauh lebih bernyawa di panggung nasional berdampingan dengan lagu-lagu Karo, Toba, Minang dan sebagainya.

Sebagai anak yang lahir di tano Mandailing ini, saya  merasa sangat bangga dengan keindahan dan keunikan lagu-lagu Mandailing yang sarat dengan makna kehidupan. Namun, rasa bangga itu menjadi berlipat ganda dan membuncah lebih hebat lagi ketika menyaksikan bahwa lagu-lagu Mandailing hasil aransemen baru yang modern ini ternyata juga mampu melintasi batas kultural, memikat telinga lintas etnis, serta disukai oleh begitu banyak orang dari berbagai kalangan.

Fenomena ini adalah sebuah perayaan identitas yang luar biasa diera digital, dimana tradisi tidak lagi sunyi, melainkan menggema lantang menjadi bagian dari gaya hidup global. Menyaksikan musik warisan leluhur kita diapresiasi secara luas adalah sebuah kebahagiaan batin yang tiada tara, sebuah bukti nyata bahwa karya lokal bisa menjadi raja di negerinya sendiri. Sebuah pencapaian estetis yang tidak hanya menghibur, namun juga menyatukan rasa kebersamaan kita.

Ada rasa bangga yang mendalam saat syair indah yang terangkum dalam senandung lagu dalam versi musik baru dinyanyikan dengan semangat “O…O… Ale Si Boru Suti, Rohaon Ulangma Hatciti, Muda Tarlanjur Maho Sanoli, Saumur Hidupmu Au Inda Parduli. Kehe Do Au Manyunduti, Boru Natama Boti Najogi, Anak Ni Tulang Boru Rangkuti, Ari-Ari Do Au Di Ligi.”

Penggalan syair ini begitu hidup dan penuh nyawa itu menjadi penegas abadi bahwa kebudayaan kita tidak pernah kehilangan jiwanya di tengah zaman yang terus melesat maju. Lantas, setelah anda dengarkan lagu-lagu tersebut yang nota benenya merupakan gelombang kebangkitan seni tradisi yang begitu benderang dan bernyawa ini, bagaimana dengan pendapat anda?

Wallohu Aqlam Bisshawab

 

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • AMPG Madina Serahkan Bantuan Modal Usaha kepada Mantan Pemakai Narkoba

    AMPG Madina Serahkan Bantuan Modal Usaha kepada Mantan Pemakai Narkoba

    • calendar_month Rabu, 16 Feb 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    KOTASIANTAR (Mandailing Online) – Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) Kabupaten Mandailing Natal (Madina) menyerahkan bantuan modal usaha bagi mantan pemakai narkoba di wilayah Kotasiantar, Panyabungan, Rabu (16/2) sore. Penyerahan bantuan dilakukan di wisata Sawah 3 Dimensi Silangitkoi Hutasiantar. Adapun bantuan modal yang diserahkan kepada sepuluh mantan pemakai narkoba tersebut berupa uang, semen dan riol serta […]

  • Mahasiswa Nilai Kejatisu Lamban Tuntaskan Dugaan Korupsi Dana Stunting Madina

    Mahasiswa Nilai Kejatisu Lamban Tuntaskan Dugaan Korupsi Dana Stunting Madina

    • calendar_month Senin, 4 Agt 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    MADINA ( Mandailing Online ): Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara ( Kejatisu ) nampaknya belum berani menaikkan status kasus dugaan korupsi dana stunting di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) tahun 2022-2023. Padahal kasus ini ditangani Kejatisu sudah hampir satu tahun. Sejumlah pejabat Pemkab Madina yang berhubungan dengan dana itu pun telah diperiksa penyidik di Kejatisu. Masyarakat Kabupaten […]

  • Komnas HAM selidiki kasus penganiayaan jurnalis

    Komnas HAM selidiki kasus penganiayaan jurnalis

    • calendar_month Minggu, 28 Okt 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Pekanbaru, (MO)- Tim yang terdiri atas dua anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) langsung turun ke Provinsi Riau untuk menyelidiki kasus penganiayaan terhadap jurnalis dan warga yang dilakukan oknum TNI AU di lokasi jatuhnya pesawat Hawk 200. Tim yang terdiri atas Plt Kabag Pengaduan Eko Dahana dan Penyelidik Pelanggaran HAM Firdiansyah, melakukan pemeriksaan […]

  • Oknum Petugas LP Siborongborong Diduga Cabuli Tahanan

    Oknum Petugas LP Siborongborong Diduga Cabuli Tahanan

    • calendar_month Selasa, 26 Apr 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Siborongborong, Oknum petugas Lembaga Permasyarakatan (LP) Siborongborong berinisial RS diduga melakukan pencabulan terhadap tahanan wanita Polres Humbang Hasundutan (Humbahas) yang dititipkan di LP Siborongborong. Informasi yang diperoleh Senin (25/04/2011), kejadian tersebut terjadi pada Ahad sekitar pukul 10.30 WIB. Setelah RS mengeluarkan tahanan dari ruang tahanan, lalu dibawa ke ruang tamu selanjutnya disuruh masuk ke kamar […]

  • Panitia: Tournamen Mobile Legends Sudah Mengglobal dan Dilombakan di PON XX Papua

    Panitia: Tournamen Mobile Legends Sudah Mengglobal dan Dilombakan di PON XX Papua

    • calendar_month Sabtu, 23 Apr 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Panitia Turnamen Mobile Legends Bupati Cup 1 menyatakan e-sport layak disebut sebagai sport (olahraga). Panitia merujuk pada sisi ketekunan, unsur pelatih dan fasilitas. “E-sports ini layak disebut sebagai sport juga karena ini membutuhkan latihan yang tekun, pelatih, dan dukungan semacam fasilitas”, ujar Katua Panitia Tournament Mobile Legends, Andika Ibrahim Nasution dalam […]

  • Meresahkan, Gelondongan Emas Harus Dilarang Beroperasi di Pemukiman

    Meresahkan, Gelondongan Emas Harus Dilarang Beroperasi di Pemukiman

    • calendar_month Jumat, 8 Sep 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Gelondongan emas  PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Gelondongan emas yang sudah menjamur di Kecamatan Panyabungan, Mandailing Natal sudah sangat meresahkan masyarakat. Tak hanya di pinggiran pemukiman, malah sangat bebas di tengah-tengah pemukiman warga. Pemerintah daerah didesak untuk melakukan pelarangan, sebab dampak mercuri yang dihasilkan gelondongan emas ini akan membawa malapeteka bagi tubuh manusia di masa […]

expand_less