Minggu, 9 Agu 2026
light_mode

Ketika Lagu Mandailing Tapsel Naik Kelas

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Sabtu, 18 Jul 2026
  • print Cetak

 

Oleh: Moechtar Nasution
Penggiat GEREP INSTITUTE (Pusat Kajian Mandailing Natal)

 

 

Musik Tapsel-Mandailing mengalir dalam denyut nadi kebudayaan masyarakat Sumatera Utara dengan karakter melodinya yang melankolis sekaligus magis. Sejak beberapa dekade lampau, lagu-lagu tradisional maupun pop daerah ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari ruang pesta adat, “lopo-lopo” kopi, hingga menemani perjalanan naik bus ALS atau SAMPAGUL dari dan menuju Medan melintasi pinggiran perbukitan Bukit Barisan. Namun, seiring berjalannya waktu dan derasnya gempuran tren musik modern global, karya-karya legendaris tersebut perlahan sempat tersisih ke sudut ruang nostalgia. Generasi muda mulai merasa berjarak dengan aransemen musik masa lalu yang dianggap terlalu konvensional dan monoton. Di tengah kekhawatiran akan pudarnya eksistensi identitas bunyi lokal inilah, muncul gerakan pembaruan yang membawa angin segar bagi industri musik.

Kebangkitan ini menemukan momentum emasnya ketika seorang musisi, pencipta lagu, dan penata musik berbakat, Amin Wahyudi Harahap, mengambil langkah elegan dan soft untuk melakukan rekonstruksi estetika musik daerah. Lewat tangan dinginnya, lagu-lagu Mandailing dan Tapsel yang dahulu termasyhur kembali dihidupkan lewat proyek aransemen ulang yang revolusioner, berdampingan dengan karya orisinal fenomenalnya seperti “Siti Mawarni”.

Amin Wahyudi tidak sekadar mendaur ulang lagu lama dengan instrumen modern secara asal-asalan. Ia memperlakukan draf melodi warisan leluhur dengan penuh rasa hormat, sembari menyuntikkan elemen soundscape kekinian seperti pop-etnik modern, sentuhan string yang sinematik, hingga balutan ritme baru yang membuat komposisi lagunya terdengar jauh lebih enak, segar, dan berkelas.

Hasilnya nyata di lapangan, karya-karya ini bertransformasi menjadi jembatan emosional yang melintasi batasan usia, disukai oleh generasi tua yang merindukan kenangan masa lalu sekaligus memikat hati generasi muda yang haus akan keunikan rasa. Rentetan tembang legendaris seperti Parsarakan, Tatap Ma Gambarku, Pancur Paridian, Sidenggan Roha, Saias Ni Roha, Bue-Bue, Pengangguran, Poswan, Nagagal Marcinta, Pio Pio Manuk, Marsak, hingga Malungun kini mendadak bangkit dan menjelma menjadi jajaran hits yang disukai.

Ini adalah sebuah fenomena seni yang sangat unik dan langka, di mana dewasa ini lagu Mandailing-Tapsel bermutasi menjadi sesuatu yang jauh lebih “bernyawa”. Karakter aransemennya tidak lagi terdengar datar atau sekadar meratap, melainkan memiliki hentakan jiwa, dinamika suara yang megah, dan kedalaman rasa yang mampu berbicara langsung pada emosi pendengarnya. Lebih dari sekadar melodi, untaian lirik dalam tembang seperti Pengangguran, Nagagal Marcinta, Parsarakan, bait keluh kesah dalam Marsak, atau metafora puitis dalam Pio Pio Manuk dan kedalaman rasa rindu dalam Malungun bertindak sebagai katarsis sosial yang jujur, menangkap getirnya realitas hidup, kekecewaan asmara, dan patah hati yang sangat relevan dengan keresahan psikologis anak muda zaman sekarang. Sisi teaterikal vokal yang memadukan cengkok andung-andung tradisional dengan karakter vokal modern yang renyah membuat lagu-lagu ini memiliki daya pikat magis yang seketika menghentikan jempol netizen saat berselancar di lini masa.

Daya pikat magis inilah yang memicu ledakan tren di kalangan Gen Z, kelompok anak muda yang biasanya paling cepat mengadopsi budaya luar, kini justru tanpa canggung dan tanpa rasa malu sedikit pun menjadikan lagu-lagu Tapsel-Mandailing hasil aransemen baru ini sebagai lagu latar (backsound) utama untuk status cerita Instagram, histori WhatsApp, TikTok, hingga berbagai unggahan platform media sosial lainnya. Kehadiran musik ini berhasil meruntuhkan stigma usang bahwa mendengarkan lagu daerah tidak lagi dicap sebagai sesuatu yang “kampungan” atau “kuno”, melainkan telah bergeser menjadi simbol kebanggaan identitas lokal yang estetis (aesthetic local pride) di ruang publik digital global.

Ruang dengar musik ini pun mengalami pergeseran radikal dari yang dulunya hanya menggema di lopo kopi atau angkutan kota atau angkutan pedesaan, kini menduduki tempat terhormat di dalam earphone generasi urban, sudut kafe estetis, di kantor-kantor, di taman-taman kota hingga ruang dengar masyarakat yang sifatnya pribadi. Anak-anak muda masa kini menemukan ruang ekspresi baru di mana melodi tradisional terasa sangat trendi untuk mewakili perasaan harian mereka.

Menariknya lagi, ledakan tren musik ini melahirkan kedaulatan algoritma lokal (algorithmic sovereignty) di tengah gempuran arus budaya pop global. Ketika ruang digital dunia disesaki oleh musik Barat dan K-Pop, netizen dan penikmat musik daerah berhasil “menjinakkan” algoritma media sosial agar berpihak pada kebudayaan lokal melalui interaksi yang masif dan organik.

Dampaknya meluas menjadi sebuah efek ekonomi dan promosi pariwisata daerah yang luar biasa. Potongan-potongan lagu hasil aransemen baru ini kini menjadi bahan baku utama bagi para kreator konten dan videografer amatir untuk mengiringi video sinematik keindahan alam bumi Tapanuli Bagian Selatan mulai dari lanskap hijau Sipirok hingga eksotisme bumi gordang sambilan Mandailing Natal. Promosi wisata yang bergerak secara mandiri di media sosial ini secara otomatis ikut mendongkrak kebanggaan dan nilai ekonomi kreatif daerah dari bawah.

Anehnya pula, pesona lagu-lagu lama yang didaur ulang ini nyatanya mampu menembus batas-batas geografis dan kultural, dinikmati secara luas oleh publik umum dan sama sekali tidak lagi terbatas di kalangan masyarakat Tapanuli Bagian Selatan semata. Musik yang awalnya diproduksi sebagai konsumsi internal suku atau etnis tertentu, kini melompat menjadi konsumsi musik yang melintasi berbagai suku bangsa.

Kekuatan aransemen baru yang universal berhasil membuat orang-orang yang tidak memahami bahasa Mandailing sekalipun tetap bisa menikmati keindahan estetikanya, terhanyut dalam ketukan ritme yang adiktif, serta merasakan kedalaman emosi yang dipancarkan oleh setiap bait lagu. Keberhasilan ini membuktikan bahwa ketika sebuah musik daerah dikemas dengan standar produksi yang modern dan bercita rasa global, ia akan kehilangan sifat kedaerahannya yang eksklusif dan berubah menjadi bahasa universal yang dapat diterima oleh telinga siapa saja.

Secara sosiologis, fenomena ini membuka ruang transkulturalisme baru, di mana elemen budaya lokal diadopsi tanpa menghilangkan esensi aslinya. Ketika instrumen modern seperti synthesizer dan sequencer dipadukan dengan tiupan gordang sambilan atau serunai, ada dialog harmonis yang tercipta antara masa lalu dan masa depan. Hal ini penting karena sering kali modernisasi dituduh sebagai pembunuh kebudayaan tradisional. Melalui gelombang baru musik Mandailing ini, kita menyaksikan thesis sebaliknya bahwa teknologi modern justru bisa menjadi juru selamat yang mendiseminasi tradisi ke ruang yang lebih luas. Melalui aransemen yang berakar kuat pada kearifan lokal namun dieksplorasi secara bebas, batas-bakat kaku sosiologis runtuh digantikan oleh apresiasi estetika yang murni.

Pandangan kritis ini sejalan dengan pokok pikiran Dr. Rizaldi Siagian, M.A.  Sebagai seorang begawan etnomusikologi kawakan  yang rekam jejak risetnya diakui dunia, Rizaldi secara konsisten memaparkan bahwa merawat ingatan kolektif generasi muda terhadap ekspresi seni tradisi tidak bisa lagi menggunakan metode indoktrinasi yang kaku atau sekadar imbauan moral yang dogmatis. Dalam pandangannya, ia menegaskan bahwa telinga generasi hari ini telah dikondisikan oleh standardisasi industri audio global yang bersih, dinamis, dan memiliki kedalaman frekuensi yang presisi. Apa yang diwujudkan oleh generasi baru musisi seperti Amin Wahyudi Harahap harus dipandang sebagai sebuah lompatan taktis yang sangat cerdas. Dengan menaikkan kelas teknis produksi audio musik Mandailing-Tapsel setara dengan musik pop arus utama tanpa menggerus lekuk cengkok tradisinya dan bunyi syairnya.

Musik daerah ini berhasil merebut kembali kedaulatan eksistensinya di ruang digital. Pengemasan ulang ini membuktikan bahwa musik etnis lokal tidak pernah kehilangan peminat, melainkan hanya membutuhkan jembatan estetika baru yang kompatibel dengan perkembangan zaman.

Tidak hanya itu, jika kita melihat dari sisi rantai nilai industri kreatif jelas kebangkitan kembali lagu-lagu hit klasik ini memberikan dampak kesejahteraan yang berputar (multiplier effect) secara nyata di daerah. Penyanyi-penyanyi lokal yang sebelumnya hanya tampil di panggung kecil kini mendapatkan pengakuan global lewat jumlah putaran lagu yang mencapai jutaan kali di platform digital seperti Spotify, YouTube Music, dan iTunes. Hak royalti dan distribusi digital yang dikelola secara profesional membuka ekosistem ekonomi baru yang menjanjikan bagi para pelaku seni lokal. Ini membuktikan bahwa kedaulatan budaya dapat berjalan beriringan dengan kemandirian ekonomi pelaku seni. Kebanggaan kolektif yang muncul pada akhirnya memicu gairah generasi baru untuk terus menggali kekayaan tradisi yang selama ini terpendam di perpustakaan sejarah lisan masyarakat Tapanuli.

Kehadiran era baru musik Mandailing Natal dan Tapanuli Bagian Selatan ini menandai metamorfosis kebudayaan yang adaptif tanpa harus kehilangan jati diri asli atau khitah leluhurnya. Aransemen ulang mutakhir ini berhasil merebut kembali ruang publik digital yang selama ini disesaki oleh tren musik luar. Seni tradisional tidak lagi dipandang sebelah mata sebagai pelengkap seremoni adat semata, liriknya yang kuat bahkan mampu membawa pesan edukasi sosial yang menyentuh realitas kehidupan.

Keberhasilan penataan ulang musik tersebut tidak hanya memulihkan ingatan kolektif generasi lama pada masa jaya tembang kenangan mereka, melainkan juga melahirkan kebanggaan kultural baru bagi anak-anak muda bermarga Nasution,Lubis, Rangkuti, Rambe hingga Siregar untuk merayakan kebanggaan dengan identitas silsilah mereka di ruang digital.

Industri rekaman lokal yang sempat lesu kini kembali bergairah, membuka ruang kerja produktif bagi para penyanyi daerah, videografer, hingga talenta musik tradisional perkusi dan tiup lokal untuk ikut terlibat dalam ekosistem modernisasi ini. Kreativitas tanpa batas ini menjadi pembuktian penting bahwa kelestarian budaya daerah tidak melulu harus kaku, melainkan bisa hidup berdampingan dengan industri hiburan komersial yang menjanjikan.

Fajar baru musik Tapsel-Mandailing telah terbit, ia membuktikan bahwa budaya daerah tidak harus punah diterjang disrupsi zaman. Namun ia mampu tegak berdiri dan terus relevan ketika nostalgia masa lalu dikawinkan dengan kreativitas modern yang visioner. Musik adalah cermin jiwa sebuah bangsa, dan hari ini, cermin itu memperlihatkan wajah Mandailing-Tapsel yang bersinar lebih benderang, lebih berani, dan jauh lebih bernyawa di panggung nasional berdampingan dengan lagu-lagu Karo, Toba, Minang dan sebagainya.

Sebagai anak yang lahir di tano Mandailing ini, saya  merasa sangat bangga dengan keindahan dan keunikan lagu-lagu Mandailing yang sarat dengan makna kehidupan. Namun, rasa bangga itu menjadi berlipat ganda dan membuncah lebih hebat lagi ketika menyaksikan bahwa lagu-lagu Mandailing hasil aransemen baru yang modern ini ternyata juga mampu melintasi batas kultural, memikat telinga lintas etnis, serta disukai oleh begitu banyak orang dari berbagai kalangan.

Fenomena ini adalah sebuah perayaan identitas yang luar biasa diera digital, dimana tradisi tidak lagi sunyi, melainkan menggema lantang menjadi bagian dari gaya hidup global. Menyaksikan musik warisan leluhur kita diapresiasi secara luas adalah sebuah kebahagiaan batin yang tiada tara, sebuah bukti nyata bahwa karya lokal bisa menjadi raja di negerinya sendiri. Sebuah pencapaian estetis yang tidak hanya menghibur, namun juga menyatukan rasa kebersamaan kita.

Ada rasa bangga yang mendalam saat syair indah yang terangkum dalam senandung lagu dalam versi musik baru dinyanyikan dengan semangat “O…O… Ale Si Boru Suti, Rohaon Ulangma Hatciti, Muda Tarlanjur Maho Sanoli, Saumur Hidupmu Au Inda Parduli. Kehe Do Au Manyunduti, Boru Natama Boti Najogi, Anak Ni Tulang Boru Rangkuti, Ari-Ari Do Au Di Ligi.”

Penggalan syair ini begitu hidup dan penuh nyawa itu menjadi penegas abadi bahwa kebudayaan kita tidak pernah kehilangan jiwanya di tengah zaman yang terus melesat maju. Lantas, setelah anda dengarkan lagu-lagu tersebut yang nota benenya merupakan gelombang kebangkitan seni tradisi yang begitu benderang dan bernyawa ini, bagaimana dengan pendapat anda?

Wallohu Aqlam Bisshawab

 

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Klaim Menang di Arab dan Mesir, Jokowi-JK Malah Kalah

    Klaim Menang di Arab dan Mesir, Jokowi-JK Malah Kalah

    • calendar_month Sabtu, 12 Jul 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Klaim kemenangan yang dilakukan kubu Joko Widodo-Jusuf Kalla dinilai terlalu dini. Belajar dari pengalaman sebelumnya tim Jokowi-JK menggunakan data tidak valid untuk mengklaim kemenangan di luar negeri, seperti Arab Saudi dan Mesir. “Prabowo justru menang di Mesir dan Jeddah. Sebaiknya kubu Jokowi hati-hati menggunakan data. Publik disodori informasi tidak valid,” kata pengamat […]

  • Hadiri Pengajian di Sinunukan II, Atika Cerita Posisi Perempuan

    Hadiri Pengajian di Sinunukan II, Atika Cerita Posisi Perempuan

    • calendar_month Minggu, 20 Okt 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SINUNUKAN (Mandailing Online) – Atika Azmi Utammi Nasution menunaikan janji untuk menghadiri pengajian Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) Kecamatan Sinunukan di Desa Sinunukan II, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Minggu (20/10/2024). Kedatangan ini, kata Atika, adalah janji yang harus ditunaikan karena sebulan lalu tidak bisa hadir karena sakit. “Bulan lalu saya diundang hadir pengajian di Sinunukan […]

  • Bupati Rencanakan Dana TT Untuk Perbaikan 2 Tanggul Jebol di Kawasan Siabu

    Bupati Rencanakan Dana TT Untuk Perbaikan 2 Tanggul Jebol di Kawasan Siabu

    • calendar_month Jumat, 10 Feb 2023
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIABU (Mandailing Online) – Bupati Mandailing Natal (Madina) H.M Ja’far Sukhairi Nasution akan mengalokasikan Dana Tidak Terduga (TT) Tahun 2023 untuk memperbaiki dua tanggul yang jebol akibat bencana alam yang terjadi pada Desember 2022 di Kecamatan Siabu. Itu diungkap Kepala Dinas Pertanian Madina, Siar Nasution didampingi Plt Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Madina, Mukhsin […]

  • Resesi Buah Pahit Sistem Kapitalis

    Resesi Buah Pahit Sistem Kapitalis

    • calendar_month Senin, 27 Jul 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh : Sri Handayani Tahun 2020 menjadi tahun yang berat bagi perekonomian global. Satu demi satu negara berjatuhan ke jurang resesi. Perekonomian dunia berada di ambang ketidakpastian akibat pandemi virus Corona (COVID-19). Begitu juga dengan perekonomian Indonesia yang diprediksi kuat pada kuartal II-2020 ini mengalami kontraksi. Belum lagi isu resesi yang berada di depan mata, […]

  • Bangunan Sekolah SD di Aek Baru Julu Dihantam Banjir Bandang

    Bangunan Sekolah SD di Aek Baru Julu Dihantam Banjir Bandang

    • calendar_month Senin, 13 Nov 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    BATANG NATAL ( Mandailing Online )- Tidak hanya jembatan penghubung yang mengalami kerusakan akibat banjir bandang di Desa Aek Baru Julu, Kecamatan Batang Natal, Mandailing Natal, ( Madina ) Senin 13/11/2023. Sebuah gedung Sekolah juga menjadi sasaran derasnya arus sungai aek baru. Video yang diperoleh Mandailing Online, kondisi bangunan sekolah nyaris terbawa arus sungai, hanya […]

  • Pembentukan Provinsi Sumteng Mendesak, DPRD Sumut Desak Moratorium Dicabut

    Pembentukan Provinsi Sumteng Mendesak, DPRD Sumut Desak Moratorium Dicabut

    • calendar_month Jumat, 21 Jun 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

      MEDAN (Mandailng Online) : DPRD Provinsi Sumatera Utara kembali menggulirkan rencana pembentukan Provinsi Sumatera Tenggara (Sumteng) yang sempat terhenti dalam beberapa tahun karena moratorium pembentukan otonomi daerah baru oleh Pemerintah Pusat. Ketua DPRD Sumut, Wagirin Arman meminta agar pemerintah pusat bijak menyikapi rencana pemekaran Provinsi Sumteng ini. Ketua DPRD Sumut, Wagirin Arman mengatakan, digulirkannya […]

expand_less