Rabu, 8 Jul 2026
light_mode

WILLEM TIDAK BUNUH DIRI, TAPI DIMATIKAN NARASI..!!

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 19 Jun 2026
  • print Cetak

 

(CATATAN BERHARGA DARI SEMINAR ILMIAH MENELUSURI JEJAK KEPAHLAWAN WILLEM ISKANDER DALAM MEMBANGUN PENDIDIKAN DAN KESADARAN BANGSA)

 

Oleh : Moechtar Nasution*

 

Aula Lantai III Gedung Perkuliahan STAIN Mandailing Natal hari ini menjadi perbincangan di atmosfer sejarawan Indonesia. Dari sini terbit testimoni yang langsung mengoyak-oyak dan mematahkan semua stigma, desas-desus dan bisik-bisik negatif tentang tokoh sejarah kebanggan masyarakat Mandailing Natal. Suara keras dan tegas  Patuan Mandailing, salah satu narasumber seminar ini yang juga merupakan perwakilan keluarga besar Willem Iskander menghantam telinga seperti pukulan keras yang langsung menghantam jantung pusat produksi hoaks dan narasi sesat milik kolonial sejak ratusan tahun yang lalu hingga sekarang ini. Suara ini mendobrak sejarah. Luka lama itu diingatkan kembali, sebuah ingatan yang teramat perih untuk dikenang karena dibumbui pemutar-balikan fakta dan pembunuhan karakter terhadap Sati Nasution-glr Sutan Iskandar-yang kelak lebih dikenal dengan nama Willem Iskander.

Seminar ilmiah hari ini kerjasama Dinas Sosial, Perlindungan Anak dan Perempuan Madina dengan GEREP INSTITUTE (Pusat Kajian Madina) jelas bukan hanya urusan pemenuhan terhadap fortopolio pengajuan sebagai syarat pengajuan calon pahlawan nasional, bukan juga urusan formalitas akademis untuk mendapatkan sertifikat dengan sekian Jam Pelajaran (JP). Tidak…Jauh dari itu semua. Seminar ini adalah panggilan untuk menggugat narasi sejarah yang telah sekian purnama masih mengabadikan kebohongan demi kebohongan yang dilestarikan dalam berbagai persfektif kajian.

Dari aula ini lahir pengakuan yang mungkin besok atau lusa atau puluhan tahun nanti akan tetap diperdebatkan karena telah meruntuhkan tembok-tembok narasi pengebirian dalam memaknai seorang Sati Nasution. Jelas testimoni ini akan meretas atmosfir dunia kesejarahan karena yang berbicara adalah keluarga besar almarhum Willem Iskander yang makamnya pun di Belanda tidak diketahui persis lagi di mana letaknya. Kesimpulan seminar ini beliau bukan hanya layak tapi wajib diusulkan sebagai calon pahlawan nasional. Titik, dan tidak ada perdebatan lagi. Mau dibantah dengan apapun seminar telah menjawabnya lugas dan bertanggungjawab. Tanpa rekayasa dan settingan, peserta seminar dari budayawan, sejarawan, akademisi, birokrasi, mahasiswa, pemuda dan beberapa organisasi yang bergerak dalam profesi kependidikan dengan tanggung jawab terhadap masa depan bersepakat untuk memperjuangkan hal ini menjadi kenyataan.

Terlalu lama kita abai karena membiarkan kabut tebal menutupi fakta sejarah yang terungkap hari ini. Cukuplah makam tokoh pelopor ini saja yang tidak diketahui pasti, jangan tambahi dosa ini lagi dengan menutupi makam pemikirannya dengan sikap tidak peduli dan “gutgut”mu itu.

Hari ini di aula itu, jeritan ketidakadilan itu akhirnya pecah jadi perdebatan dan penegasan. Suasana yang biasanya kaku dan formal berubah total, cair seketika. “Kami  bukan untuk mengemis pengakuan  dengan tangan menengadah seolah-olah kami butuh belas kasihan mereka tapi kami datang untuk menuntut hak sejarah tokoh besar kami yang sudah terlanjur dirampas selama ini” tegas Patuan Mandailing dengan mata berbinar dan suara serak. Statemen yang membakar nalar, logika, dan emosi.

Bukan itu saja, beliau juga membedah habis dinding-dinding keraguan yang sengaja ditiupkan selama ini oleh pihak-pihak tertentu. Beliau menegaskan bahwa semua kontroversi yang mengelilingi kisah perjuangan Willem Iskander selama di Eropa sebenarnya tak lebih dari bentuk manipulatif kolonial dengan maksud dan tujuan tertentu. Penjajah kan selalu punya cara licik untuk mematikan karakter para pejuang pribumi agar generasinya kehilangan teladan. Isu sensitif mengenai status keagamaan dan akhir hayatnya pun dipatahkan dengan argumen yang sangat rasional dari atas podium. “Boleh saja orang berargumen bahwa dia menjadi kristiani dan mati bunuh diri, tapi sedikit pun kami sama sekali tidak mempercayainya,” tegasnya dengan suara yang bergetar di depan forum dengan mata menghunus kedepan.

Seingat saya inilah pertama kalinya keluarga besar Sati Nasution berbicara di forum ilmiah. Masih dengan semangat yang sama seperti semangatnya Sati Nasution saat berhadapan dengan para pembesar kolonial di Batavia, Patuan Mandailing juga begitu. “Kenapa kami yakin” tanyanya  sembari menjawabnya sendiri ‘karena kamilah keluarganya yang tahu persis siapa Sati Nasution itu”. Setelah acara selesai saya kembali pertegas ini dan dijawabnya dengan lugas bahwa cerita tentang Willem Iskander ini “dituturkan dengan penuh kearifan oleh para tetua kami dari generasi ke generasi karena hanya dia yang melanjutkan sekolah sampai ke Belanda. Cerita ini tetap awet dan terpelihara dengan baik dalam keluarga besar kami hingga hari ini” jelasnya.

Jawaban ini nyata telak mengalahkan seribu pertanyaan yang selama ini seperti tersumbat dalam tenggorokan sejarah. Logikanya sederhana saja namun logis dan rasional. Dari mana dia  bisa mendapatkan senjata api?? Padahal sebagai seorang pribumi yang berada di tanah penjajah, gerak-gerik beliau jelas selalu diawasi dengan ketat. Apakah di Eropa saat itu mendapatkan senjata semudah membalikkan telapak tangan, padahal saat itu beliau sama sekali tidak memiliki akses privilege ke semua lini kekuasaan??

Tentu saja bagi keluarga, dan bagi kita yang mau berpikir jernih, aneka pertanyaan ganjil ini adalah bukti telanjang. Ini hanyalah settingan opini dari pihak kolonial untuk “menjebak” Willem Iskander dalam narasi sesat yang irasional. Mengapa Belanda tega melakukan itu? Jawabannya sederhana: karena Willem tidak patuh. Beliau menolak keras tunduk pada semua desain dan skenario yang akan dikerjasamakan dengannya setelah pulang kembali ke Hindia Belanda. Karena ketidakpatuhan itulah, namanya harus dihancurkan lewat pembunuhan karakter atau character assassination yang teramat keji. Melalui pembunuhan karakter inilah kolonial Belanda sengaja menyuntikkan racun ke dalam memori publik, agar generasi berikutnya merasa malu dan enggan mengingat sosok Sati Nasution sebagai sang pembebas nalar Mandailing.

Tesis pembunuhan karakter ini bukan sekadar luapan emosi keluarga, melainkan sebuah hipotesis ilmiah yang kokoh dalam arus dekolonisasi sejarah. Almarhum Basyral Hamidy Harahap, sejarawan kawakan yang mendedikasikan hidupnya meluruskan sejarah ini, dalam bukunya Peranan Willem Iskander dalam Pembaharuan (1986) secara konsisten membongkar kekeliruan akut tersebut . Beliau mengingatkan bahwa rujukan masa lalu yang menyudutkan Willem sering kali sarat akan distorsi informasi kolonial.

Dan itu benar, selama empat tahun saya  bergelut dengan kearsipan. Setiap arsip tidak boleh ditelan mentah-mentah sebagai kebenaran mutlak karena setiap yang menciptakan arsip pasti memiliki kepentingan. Ada metodologi untuk memastikan otensifikasinya dan seterusnya dan seterusnya. Hal ini juga berlaku dalam dunia penulisan sejarah. Bukankah selalu pemenang yang akan menentukan jalannya sejarah. Bisa disimpulkan bahwa pendapat keluarga ini berdiri di atas kesadaran sejarah yang mumpuni karena dimana-manapun narasi Barat mengenai tokoh pribumi adalah formula standar psychological warfare (perang psikologis) kolonial untuk merubuhkan moral para pejuang dan pengikutnya seperti dalam konteks Willem Iskander yang kerap dinarasikan mati bunuh diri karena depresi. Ini politik kolonial yang jahat…!!!

Tujuannya tidak lain memotong suksesi ideologi gerakan literasi yang lahir dari rahim Kweekschool Tanobato sebelum ia sempat membesar. Sikap kritis Patuan Mandailing ini sebenarnya sudah sejalan dengan teori besar historiografi yang dikemukakan oleh para pemikir pascakolonial Barat sendiri. Edward Said dalam karya monumentalnya, Orientalism (1978), secara gamblang memaparkan bagaimana institusi Barat sengaja memproduksi pengetahuan yang dimanipulasi untuk melemahkan karakter serta menjinakkan mentalitas bangsa-bangsa Timur yang membangkang. Melalui Orientalism, Said menunjukkan bahwa stigmatisasi ini bukan sekadar prasangka pribadi, melainkan sebuah alat kekuasaan terstruktur yang dirancang untuk mempertahankan dominasi imperialisme dengan cara meruntuhkan kredibilitas moral para pejuang.

Sejalan dengan itu, sejarawan pascakolonial Ranajit Guha dalam magnum opus-nya, Elementary Aspects of Peasant Insurgency in Colonial India (1983), secara mendalam membongkar bagaimana penguasa kolonial melakukan kriminalisasi dan delegitimasi secara sistematis untuk merusak citra para pejuang kemerdekaan atau pemberontak nalar. Guha menegaskan bahwa dokumen primer buatan birokrat kolonial selalu menderita bias akut karena ditulis dari sudut pandang “kontra-pemberontakan”. Kematian para pemikir pribumi sengaja dibingkai sebagai tindakan keputusasaan, kegilaan personal, atau aib moral demi menyembunyikan fakta ketakutan sistemik pemerintah kolonial terhadap bangkitnya kesadaran nalar masyarakat jajahan.

Melihat aula STAIN Madina hari ini, saya rasa Willem di atas sana sudah bisa tersenyum sedikit. Setidaknya, dia melihat generasinya sekarang yang terpaut jauh masa dan umurnya sudah mulai bangun dari tidur panjang dan sudah mulai menggeliat sedikit, berani bersuara, dan mencoba menghidupkan lagi ingatan tentang dirinya di tengah masyarakat yang selama ini apatis terhadap perjuangannya. Pertemuan ini membuktikan kalau air mata dan darah intelektual yang dia tumpahkan dulu tidak menguap sia-sia. Kita ini sedang belajar tahu diri…!!

Seminar memang sudah bubar, tapi bola api yang dilemparkan dari STAIN Madina sekarang menggelinding panas ke mana-mana utamanya menohok para pemuja narasi sesat tentang kematian Willem Iskander. Dan secara birokrasi, hasil seminar ini akan menyinggahi meja kerja para pejabat hingga sampai ke kementerian di Jakarta  jika semua mulus dan terencana. Tugas kemanusiaan sekarang adalah mengawal proses ini, jangan sampai perjuangan hari ini berakhir jadi arsip berdebu di laci kantor pemerintah.

Suara dari Madina sudah membahana, menggelar dan membelah langit kesadaran. Mengabaikan Willem Iskander setelah hari ini sama saja dengan mengkhianati sejarah literasi bangsa kita sendiri. Sati Nasution sudah menuntaskan tugasnya mencerdaskan tanah ini. Sekarang bolanya ada di tangan kita: mau jadi bangsa yang tahu cara menghormati guru, atau tetap nyaman menjadi manusia pelupa yang buta sejarah? Wallahu Aqlam Bissawab…

*Penulis adalah ASN pada Dinas Pariwisata Madina dan Penggiat GEREP INSTITUTE (Pusat Kajian Mandailing Natal)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Aulia Sani Disibukkan Juri Audisi Vokal

    • calendar_month Jumat, 24 Feb 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 3Komentar

    Panyabungan (MO) – Bintang film “Biola Na Mabugang” Aulia Sani disibukkan kegiatan audisi vokal dan akting. Kesibukan itu terkait rangkaian program Sanggar Amaloan yang akan memproduksi album musik asli Mandailing dan film “Biola Na Mabugang 2” serta film “Senandung William”. Jum’at (24/2) sore, Aulia yang memerankan mahasiswi Taipeh di film “Biola Na Mabugang” ini manjadi […]

  • 2 Bulan, 3 Kali Lantik Pejabat

    2 Bulan, 3 Kali Lantik Pejabat

    • calendar_month Jumat, 4 Mar 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    59 Pejabat Madina Dilantik MADINA Penjabat Bupati Mandailing Natal Ir Aspan Sofian Batubara MM melantik 59 pejabat eselon II, III dan IV, Selasa (1/3). Sebelumnya bulan Februari lalu, Aspan juga telah dua kali melantik pejabat di Pemkab Madina. Pelantikan 59 pejabat tersebut menyahuti tentang Perda Susunan Organisasi Tata Pemerintahan (Suorta) baru tahun 2010. Pj Bupati […]

  • Oknum Petugas LP Siborongborong Diduga Cabuli Tahanan

    Oknum Petugas LP Siborongborong Diduga Cabuli Tahanan

    • calendar_month Selasa, 26 Apr 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Siborongborong, Oknum petugas Lembaga Permasyarakatan (LP) Siborongborong berinisial RS diduga melakukan pencabulan terhadap tahanan wanita Polres Humbang Hasundutan (Humbahas) yang dititipkan di LP Siborongborong. Informasi yang diperoleh Senin (25/04/2011), kejadian tersebut terjadi pada Ahad sekitar pukul 10.30 WIB. Setelah RS mengeluarkan tahanan dari ruang tahanan, lalu dibawa ke ruang tamu selanjutnya disuruh masuk ke kamar […]

  • Jakfar Sukhairi Daftar ke PPP

    Jakfar Sukhairi Daftar ke PPP

    • calendar_month Rabu, 27 Nov 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Bakal Calon Bupati Madina, HM Jakfar Sukhairi Nasution hari ini selain mendaftar di PKB Madina, juga di PPP. Dengan demikian Jakfar Sukhairi sudah mendaftar di 6 partai politik. Yakni PDIP, Gerindra, Berkarya, Demokrat, PKB dan PPP. Jakfar Sukhairi yang saat ini mejabat wakil bupati Madina mendaftar di sekretriat DPC Partai […]

  • Mahasiswa & Masyarakat Saling Dorong

    Mahasiswa & Masyarakat Saling Dorong

    • calendar_month Selasa, 19 Jul 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Terjadi saat HUT ke-4 Kabupaten Palas PALAS- sejumlah ahasiswa dan ratusan masyarakat terlibat aksi saling dorong di sekitar Mapolsek Sibuhuan, Kecamatan Barumun, Palas, Minggu (17/7). Aksi ini bertepatan dengan hari jadi Kabupaten Palas. Masyarakat merasa aksi massa mengganggu proses HUT ke-4 Palas sehingga aksi mahasiswa dibubarkan oleh masyarakat dengan menghalangi mereka masuk ke lapangan Merdeka […]

  • Ini Dia Daftar Pantangan Bagi PNS di Pilkada

    Ini Dia Daftar Pantangan Bagi PNS di Pilkada

    • calendar_month Kamis, 17 Sep 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Ini dia daftar pantangan bagi pegawai negeri sipil (PNS) dalam hal dukung mendukung calon bupati/wakil bupati pada Pilkada serentak tahun 2015. PNS tak boleh mengajak keluarga dan warga mendukung salah satu pasangan calon. PNS tak boleh menghimbau atau menyerukan berupa seruan mendukung salah satu pasangan calon. PNS yang punya jabatan tak […]

expand_less