Selasa, 22 Sep 2026
light_mode

MAREDANG-EDANG

  • account_circle Moechtar Nasution
  • calendar_month 1 jam yang lalu
  • print Cetak

Oleh: Moechtar Nasution
Forum Lintas Studi Tulila*

 

Ilustrasi para pemuda keluyuran santai (maredang-edang) di satu kampung Mandailing, Sumatera. (foto: redaksi Mandailing Online)

Di bawah langit Mandailing yang mulai meranum oleh senja, ada satu kata yang selalu berhasil mengetuk pintu ingatan paling hangat di dada yakni “maredang-edang”. Apa artinya? Bagi orang luar atau telinga modern yang terbiasa dengan istilah-istilah perkotaan, kata ini mungkin terdengar sederhana bahkan membingungkan—hanya sebatas padanan instan dari aktivitas pesiar, berjalan-jalan sore melepas penat atau istilah populer Gen- Z hari ini, healing yang sering mereka plesetkan menjadi hiling.

Namun bagi jiwa yang lahir dan bertumbuh di bawah bayang-bayang tor Sihite di Mandailing Godang atau tor Sijanggut di Mandailing Julu, maredang-edang punya kedalaman rasa yang jauh berbeda sekali. Ia bukan sekadar perkara gerak motorik melangkahkan kaki tanpa tujuan. Ia adalah sebuah seni merayakan hidup yang paling jujur. Ia adalah warisan berharga dari nenek moyang kita yang berbisik lirih melintasi zaman, mengingatkan bahwa sekeras apa pun hidup mencari nafkah, jiwa kita selalu butuh jeda untuk menikmati dunia.

Secara akar kata, edang adalah sebuah perjalanan, penjelajahan, atau pengembaraan kecil. Namun ketika ia luluh dan menjelma menjadi kata kerja repetitif maredang-edang, maknanya meluas melampaui jarak geografis yang ditempuh oleh kaki. Ia menjadi sebuah kesadaran batin yang dalam untuk keluar sejenak dari lingkaran rutinitas yang menjemukan dan melelahkan. Ia adalah sebuah momen kebebasan ketika kita berani meninggalkan bustak (lumpur) di saba (sawah) atau hodok yang bercucuran di porlak (ladang) untuk menghadirkan kembali ketenangan pikiran yang sering kali luput dijaga di tengah tuntutan ekonomi dan masalah lainnya. Di sini, ada keputusan sadar dari manusia Mandailing untuk tidak menomorsatukan produktivitas material secara ofensif, melainkan memberi ruang bagi pemulihan jiwa setelah didera ragam permasalahan.

Langkah kaki dalam maredang-edang ini juga tidak lahir di ruang yang sepi melainkan sangat dipengaruhi oleh cara  memeluk dan berinteraksi dengan ruang hidup di sekeliling kita. Tradisi ini tidak akan pernah seindah sekarang jika tidak lahir dari rahim tanah Mandailing, sebuah wilayah yang didominasi oleh konsep rura—lembah-lembah subur yang landai, dialiri oleh jernihnya aliran Batang Gadis, serta dipagari oleh lanskap megah sirkum Bukit Barisan. Bentang alam yang bersahabat dan terhubung erat dengan wilayah pemukiman (huta) ini seolah menciptakan sebuah jalur alami yang merayu masyarakatnya untuk berjalan kaki secara santai dari huta ke huta lainnya.

Saat kaki melangkah menyusuri pematang sawah atau duduk-duduk di tepian Aek  Pohon atau Batang Natal saat sore hari menyadarkan kita bahwa alam Mandailing tidak pernah ditempatkan sebagai pemandangan mati atau komoditas yang harus dieksploitasi. Udara sejuk yang turun dari bukit-bukit Bumi Gordang Sambilan ini seolah menjadi tabib alami yang menyembuhkan lelahnya pikiran setelah seharian didera beban kerja.

Di sini alam adalah subjek hidup—sahabat karib yang memeluk erat, mengembalikan kesegaran pikiran yang letih, dan mendengarkan keluh kesah manusia tanpa pernah menghakimi. Ini adalah ruang paling personal antara manusia, tanah tempatnya berpijak, dan Sang Pencipta.

Secara waktu, maredang-edang juga memiliki detak jantung dan ritmenya sendiri yang sangat presisi dalam kalender kehidupan masyarakat agraris. Dalam kehidupan pedesaan, waktu santai tidak pernah datang secara acak atau tanpa alasan. Aktivitas ini akan tumbuh subur dan mencapai puncaknya yang paling dinanti justru pada masa jeda pertanian—seperti saat benih padi telah selesai ditanam (manuan) atau ketika riuh rendahnya musim panen (manyabi) telah usai.

Ini adalah momen katarsis atau pelepasan lelah yang luar biasa. Ketika beban pekerjaan fisik di sawah menurun, energi masyarakat tidak dibiarkan menguap dalam kekosongan yang menjemukan, melainkan dialihkan menjadi sebuah mekanisme pemulihan komunal yang hangat. Masyarakat merayakan selesainya fase kerja keras itu dengan keluar rumah secara kolektif untuk menyegarkan kembali raga mereka.

Namun, keunikan yang paling indah dari maredang-edang justru terletak pada penolakannya yang tegas terhadap kesunyian yang egois. Berbeda dengan tren pengelolaan stres modern yang cenderung menyendiri, individualis, dan sering kali mahal, maredang-edang justru didesain sebagai aktivitas bersama yang sepenuhnya inklusif dan tanpa biaya material sedikit pun. Ia tidak menjadi “Me Time” seperti bahasa gaul sekarang.

Di sinilah rahasia kebersamaan Mandailing terkuak luas melandasi aktivitas ini. Tradisi ini dijalankan atas kesadaran filosofis yang mendalam seperti bait ungkapan adat yang berbunyi: “Holong do maroban domu, domu maroban parsaulian”. Sebuah pesan luhur yang mengingatkan kita bahwa kasih sayang yang tulus (holong) adalah motor utama yang membawa manusia pada persatuan dan kebersamaan (domu), dan dari kedekatan spiritual itulah kebaikan serta kebahagiaan bersama (parsaulian) baru bisa terwujud nyata dalam kehidupan.

Saat orang Mandailing melangkah keluar untuk maredang-edang, mereka tidak sedang mengejar kepuasan pribadi, melainkan sedang menenun dan merajut rasa kasih sayang itu di sepanjang jalan. Semua orang terlibat tanpa sekat generasi maupun kelas sosial dan ia tumbuh subur dalam riuh rendah tawa pemuda-pemudi (poso-poso dan nauli bulung) hingga langkah-langkah lambat sepasang orang tua yang berjalan beriringan menikmati sore hari di masa tua mereka.

Sepanjang jalan setapak desa atau saat meniti jembatan gantung, semua formalitas luntur. Di sinilah kehangatan manusia begitu terasa karena masyarakat berjalan bersama sambil margiri (bercanda riang) serta marcerito (berbagi kisah dan pengalaman hidup) secara lepas mengenai dinamika kehidupan sehari-hari. Melalui obrolan-obrolan sederhana tanpa beban inilah hubungan kekerabatan makro Mandailing yang luhur dan berbasis pada sistem Dalian Na Tolu (Mora, Kahanggi, Anak Boru) justru kembali disegarkan dan diperkuat secara alami setiap harinya.

Sambil melangkah mereka saling mendengarkan, saling menghibur, dan saling menegaskan kembali bahwa di dalam komunitas ini, tidak ada satu jiwa pun yang dibiarkan berjalan sendirian menghadapi kerasnya dunia. Indikator kebahagiaan bagi orang Mandailing bukan diukur dari seberapa kaya kita dalam ruang privat yang terasing, melainkan apakah kita bisa merasakan kondisi sonang (senang) dan dame (damai) bersama-sama di dalam ekosistem sosial yang sehat dan hangat.

Yang paling memikat dari perjalanan waktu ini adalah bagaimana kata maredang kini tidak lagi hanya diam di jalan-jalan setapak terpencil. Ia telah melompat dan bertransformasi menembus batas-batas modernitas dengan cara yang sangat anggun. Sebuah fakta lapangan yang hangat memperlihatkan bahwa kata yang sarat makna ini telah dipeluk oleh ranah kuliner sebagai nama sebuah Rumah Makan (RM) Maredang dikaki tor Sihite Panyabungan Timur tepatnya di Padang Laru bahkan eksistensinya kini telah resmi tercatat dan dikurasi di dalam aplikasi pariwisata Indonesia.

Pergeseran ini melahirkan sebuah validasi budaya yang luar biasa menarik. Ketika sebuah tempat makan memilih untuk menamai dirinya “Maredang“, mereka sebenarnya tidak sedang sekadar menyajikan kepulan asap kopi Mandailing, piring “gule parcak” yang gurih, nikmatnya ikan mas madu bakar, atau aroma khas ikan sale yang menggugah selera. Lebih dalam dari itu, mereka sedang menjual sebuah ruang jeda.

Rumah makan tersebut bertransformasi menjadi titik temu fisik, sebuah destinasi kuliner tempat orang-orang modern datang—bukan cuma untuk mengisi perut yang lapar—melainkan untuk benar-benar menikmati waktu luang, meletakkan beban pikiran, dan duduk melingkar merajut kembali kedekatan bersama keluarga serta kerabat tercinta. Di tengah riuhnya dunia digital manusia membutuhkan ruang nyata untuk mempraktikkan esensi asli dari tradisi maredang-edang.

Sayangnya kearifan yang intim ini sekarang sedang menghadapi tantangan eksistensial yang besar akibat gempuran digitalisasi dan modernitas. Maredang-edang di era kontemporer sering kali kehilangan ruh aslinya karena distraksi layar ponsel pintar. Mobilitas fisik yang dulunya bertujuan untuk merekatkan kebersamaan secara mendalam dengan sesama dan alam, kini kerap bergeser arah menjadi sekadar ajang berburu foto estetis demi meraup validasi semu di media sosial. Ketika mata kita lebih sering menatap layar kaca ketimbang menatap mata sahabat di sebelah kita, dialog-dialog jujur dan organik di sepanjang jalan desa perlahan mulai sunyi. Manusia modern akhirnya kerap merasa kesepian di tengah keramaian, mengalami keterasingan sosial yang sebenarnya sudah disembuhkan oleh tradisi maredang-edang sejak ratusan tahun yang lalu.

Maredang-edang adalah sebuah cara yang paling lembut bagi  kita dalam menjalani hidup hari ini. Ia membuktikan kepada kita bahwa warasnya pikiran dan bahagianya hati tidak harus dibeli dengan ponsel dan kenderaan yang mahal. Kebahagiaan sejati tersimpan rapat pada kesediaan kita untuk menjaga kelestarian alam tempat kita hidup (rura) dan ketulusan kita untuk terus merawat hubungan antar-manusia secara nyata—baik itu saat menyusuri tepian Batang Gadis yang syahdu, maupun saat duduk bersama menikmati hidangan di meja makan.

Esai ini adalah sebuah undangan sunyi untuk kita semua guna sejenak meletakkan ponsel Iphone 18 Pro Max yang kamu banggakan itu, melangkahlah keluar pintu rumahmu, hiruplah aroma tanah basah setelah hujan reda, tatap mata orang-orang terkasihmu, dan mari kita maredang-edang. Karena terkadang kedamaian hidup yang sejati tidak ditemukan di ujung pencapaian materi yang megah melainkan pada setiap tapak langkah santai yang kita lalui bersama dalam pelukan hangat alam dan indahnya persaudaraan.

Wallohu Aqlam Bisshawab…

*Forum Lingkar Studi Tulila adalah Lembaga nirlaba tempat eksperimen berpikir dan ruang diskusi terbuka—sebuah ikhtiar kecil untuk menjadi kurator nalar dan peradaban di tanah kelahiran.

 

  • Penulis: Moechtar Nasution
  • Editor: Dahlan Batubara

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pemkab Kurang Berani Berinvestasi Di Sektor Perkebunan

    Pemkab Kurang Berani Berinvestasi Di Sektor Perkebunan

    • calendar_month Senin, 14 Jan 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pemkab Mandailing Natal (Madina) dinilai kurang berani membuka perkebunan milik pemkab. Padahal potensi perkebunan sangat hebat meningkatkan pendapatan daerah menuju otonomi daerah yang lebih mandiri. “Fakta yang ada ternyata sampai sekarang Pemkab Madina belum pernah mengalokasikan anggaran belanja-nya untuk belanja modal secara serius, terencana dan terukur untuk investasi di bidang perkebunan,” […]

  • Saipullah Bantu Pengobatan Korban Hipnotis dan Pemerkosaan

    Saipullah Bantu Pengobatan Korban Hipnotis dan Pemerkosaan

    • calendar_month Rabu, 9 Okt 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Calon Bupati Mandailing Natal (Madina) nomor urut 2 Saipullah Nasution membantu biaya perobatan anak gadis yang menjadi korban hipnotis dan pemerkosaan oleh orang yang tidak dikenal di kebun milik warga di Kecamatan Nagajuang, Madina, Minggu (6/10/2024) lalu. Saipullah melalui utusannya menyerahkan bantuan dana perobatan kepada anak gadis yang malang itu melalui […]

  • Melissa Perez Kagumi Ritual Shalat

    Melissa Perez Kagumi Ritual Shalat

    • calendar_month Jumat, 30 Agt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 2Komentar

    Melissa Perez lahir dan besar dalam keluarga Katolik. Sejak kecil ia akrab dengan ritual Katolik seperti Natal, Misa, dan Rosario. Meski keluarganya percaya pada satu Tuhan, yang disebut Yesus, namun, pada waktu lain mereka menyebutnya lain, yakni Bapa. Inilah yang membingungkan Mellisa. Menurut Melissa, cara hidup Katolik tidak benar-benar ketat. Meski banyak aturan dalam Alkitab […]

  • Warning Light Tak Berfungsi, Di Persimpangan Timbangan Pal 11

    Warning Light Tak Berfungsi, Di Persimpangan Timbangan Pal 11

    • calendar_month Senin, 23 Sep 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 2Komentar

    TAPSEL, – Lampu peringatan (warning light) di Persimpangan Timbangan Pal 11, Kecamatan Angkola Timur, Kabupaten Tapsel, tidak berfungsi. Bahkan, keberadaan fasilitas milik negara tersebut terkesan kurang terurus dan mubazir. Keberadaan fasilitas lampu peringatan yang terpasang tidak berfungsi alias lampunya tidak menyala lagi. Beberapa pengguna jalan yang melintas juga kurang memperhatikan keberadaan lampu tersebut. Padahal melihat […]

  • RAMADHAN DI KAMPUNG KAMI (bagian satu)

    RAMADHAN DI KAMPUNG KAMI (bagian satu)

    • calendar_month Minggu, 10 Apr 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Diceritakan Tagor Lubis dari Pojok Kedai Lontong Medan (kenangan masa kecil di Mandailing 1970 – 1980)   Ramadhan bulan penuh rahmat,  bulan penuh berkah, serta bulan penuh ampunan. Dan banyak lagi sebutan untuknya. Dahulu, waktu kami masih kanak kanak, saat saat seperti ini adalah hari hari yang sangat menyenangkan, bagaimana tidak sebentar lagi kami akan […]

  • Wilayah Pantai Barat Memprihatinkan

    Wilayah Pantai Barat Memprihatinkan

    • calendar_month Senin, 22 Agt 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 2Komentar

    Jalan Rusak Seperti Kubangan Kerbau Warga Pantai Barat, Madina khususnya di Kecamatan Batahan dan Sinunuk berharap kepada pemerintah agar melaksanakan perbaikan jalan. Selama ini, jalan yang ada di daerah mereka memprihatinkan, berlubang-lubang di sana sini. Jalan penghubung kedua daerah sepanjang kurang lebih 18 kilometer telah bertahun-tahun tak pernah diperbaiki, padahal kondisi badan jalan ibarat kubangan […]

expand_less