Selasa, 3 Nov 2026
light_mode

IPK Tinggi, Ijazah Ada, Sudah Siap Kerja?

  • account_circle Supardi
  • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
  • print Cetak

Oleh: Supardi S.H.I
Sociopreneur / Founder Business Owners Community (BOC)

 

 

…

Ada satu pertanyaan yang mungkin membuat sebagian mahasiswa tidak nyaman: Kalau besok wisuda, selain ijazah, apa yang benar-benar bisa Anda tawarkan kepada dunia?

Pertanyaan ini bukan untuk meremehkan pendidikan tinggi. Justru sebaliknya, ini adalah ajakan kepada mahasiswa untuk melihat pendidikan secara lebih luas.

Ijazah penting, tetapi ijazah bukan tiket otomatis menuju pekerjaan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada Februari 2026, jumlah angkatan kerja Indonesia mencapai 154,91 juta orang, sementara penduduk yang bekerja sebanyak 147,67 juta orang. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) nasional memang turun menjadi 4,68 persen, tetapi itu tetap berarti terdapat jutaan orang yang berada dalam kondisi pengangguran terbuka.

Yang lebih menarik untuk direnungkan mahasiswa, persoalan pengangguran tidak hanya terjadi pada mereka yang berpendidikan rendah.

Dalam data BPS Agustus 2025, TPT pendidikan tinggi mencapai 5,21 persen. Bahkan pada Agustus 2025, sekitar 14,08 persen dari seluruh penganggur merupakan mereka yang masuk kategori pendidikan tinggi.

Angka ini tentu tidak berarti kuliah tidak berguna.

Justru pesan yang lebih penting adalah: pendidikan tinggi perlu dilengkapi keterampilan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan dunia usaha.

Kuliah Empat Tahun, Tetapi Apa yang Bertambah?

Mari kita kritik diri sendiri.

Ada mahasiswa yang sangat rajin mengerjakan tugas, tetapi masih takut berbicara di depan umum.

Bisa menghafal teori, tetapi kesulitan menjelaskan gagasan kepada orang lain.

Mendapat nilai bagus, tetapi belum pernah mencoba menjual produk.

Aktif menggunakan media sosial, tetapi hanya menjadi konsumen konten.

Setiap hari memegang smartphone berjam-jam, tetapi belum pernah serius memikirkan bagaimana teknologi tersebut bisa menjadi alat produktif.

Ironisnya, setelah wisuda kita berharap perusahaan datang menawarkan pekerjaan.

Bukankah ada yang perlu kita evaluasi?

Jangan sampai empat tahun kuliah hanya menghasilkan satu benda bernama ijazah.

Selama kuliah seharusnya ada hal lain yang ikut bertambah: kemampuan komunikasi, keberanian, jaringan, pengalaman organisasi, kepemimpinan, kreativitas, kemampuan memecahkan masalah, literasi keuangan, memahami teknologi, dan kemampuan beradaptasi.

Itulah bagian dari life skill.

Lapangan Kerja Tidak Menunggu Kita Wisuda

Mahasiswa juga perlu memahami kenyataan bahwa pasar kerja memiliki persaingan.

Pada Februari 2026, angkatan kerja Indonesia bertambah sekitar 1,86 juta orang dibanding Februari 2025. Dalam periode yang sama, jumlah penduduk bekerja bertambah sekitar 1,90 juta orang.

Artinya, pasar kerja terus bergerak. Ada pekerjaan yang bertambah, ada pekerjaan yang berubah, dan ada pekerjaan yang membutuhkan kemampuan baru.

BPS juga mencatat bahwa pada Februari 2026 sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menjadi lapangan usaha dengan penyerapan tenaga kerja terbesar, mencapai 42,49 juta orang atau 28,78 persen dari penduduk bekerja.

Maka mahasiswa jangan hanya berpikir: “Saya nanti bekerja di mana?”

Mulailah bertanya: “Kemampuan apa yang membuat saya dibutuhkan?”

Dan pertanyaan yang lebih berani: “Kalau pekerjaan yang saya cari belum tersedia, bisnis apa yang bisa saya ciptakan?”

Tidak semua mahasiswa harus menjadi pengusaha. Tetapi setiap mahasiswa perlu memiliki mental untuk melihat peluang, menciptakan solusi, berani mencoba, dan menghasilkan nilai.

Smartphone Jangan Hanya Menjadi Mesin Scrolling

Di sinilah marketing digital menjadi relevan.

Hari ini mahasiswa hidup dalam dunia yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Smartphone berada di tangan hampir setiap saat. Media sosial menjadi tempat orang mencari informasi, membangun reputasi, berkomunikasi, bahkan melakukan aktivitas ekonomi.

BPS mencatat sektor informasi dan komunikasi juga terus menunjukkan aktivitas ekonomi yang kuat; pada 2025 sektor tersebut tumbuh 9,65 persen secara tahunan pada triwulan III.

Maka mahasiswa perlu bertanya: Mengapa saya hanya menjadi penonton di dunia digital ketika saya bisa belajar menjadi pelaku?

Belajar membuat konten.

Belajar copywriting.

Belajar personal branding.

Belajar memahami audiens.

Belajar memasarkan produk.

Belajar membangun kepercayaan.

Belajar menggunakan media sosial secara produktif.

Semua itu dapat menjadi bagian dari life skill.

Tetapi jangan salah memahami teknologi.

Memiliki akun TikTok bukan berarti menguasai marketing digital.

Memiliki smartphone bukan berarti memiliki bisnis.

Skill-lah yang membuat teknologi memiliki nilai.

BOC: Ruang Belajar di Luar Kelas

Semangat inilah yang ingin dibangun melalui Business Owners Community (BOC).

BOC tidak hadir untuk menggantikan kampus. Pendidikan formal tetap penting. Ilmu sesuai jurusan tetap harus dikuasai.

Namun mahasiswa juga membutuhkan ruang untuk mempraktikkan keterampilan yang tidak cukup hanya dipelajari melalui teori.

Belajar public speaking.

Belajar leadership.

Belajar networking.

Belajar personal branding.

Belajar marketing digital.

Belajar membuat konten.

Belajar melihat peluang.

Belajar menghadapi penolakan.

Dan belajar mengubah ide menjadi sesuatu yang bernilai.

Masuk komunitas bukan sekadar mendapatkan teman baru, tetapi pulang membawa skill baru.

27 September: Jangan Hanya Jadi Penonton

Untuk membuka ruang belajar tersebut, BOC akan menggelar seminar pada Minggu, 27 September 2026, pukul 13.00 WIB sampai selesai, bertempat di Aula Hotel Rindang, Panyabungan.

Seminar ini menghadirkan H. Fery Fansury, S.H., yang diperkenalkan sebagai praktisi TikTok dan pembicara yang akan berbagi pengalaman mengenai pemanfaatan media digital.

Bagi mahasiswa, manfaat acara ini bukan sekadar mendapatkan motivasi.

Peserta dapat memperoleh wawasan mengenai marketing digital, pembuatan konten, pemanfaatan TikTok, personal branding, peluang di dunia digital, networking, serta pola pikir kewirausahaan.

Yang tidak kalah penting, mahasiswa dapat melihat contoh bagaimana teknologi digital dapat dipelajari secara serius sebagai keterampilan, bukan sekadar sarana hiburan.

Tentu seminar bukan jalan pintas menuju kesuksesan. Seminar hanyalah pintu. Skill tetap membutuhkan proses belajar, latihan dan tindakan.

Kritik Terbesar Harus Dimulai dari Diri Sendiri

Mahasiswa harus berani mengoreksi dirinya sendiri.

Jangan selalu menyalahkan lapangan kerja.

Jangan selalu menyalahkan kampus.

Jangan pula menganggap pemerintah harus menyediakan pekerjaan untuk semua lulusan.

Sebelum menyalahkan keadaan, tanyakan:

Selama kuliah, apa yang sudah saya persiapkan selain ijazah?

Sudahkah saya memiliki skill komunikasi?

Sudahkah saya berani berbicara?

Sudahkah saya belajar marketing digital?

Sudahkah saya membangun jaringan?

Sudahkah saya memiliki pengalaman?

Sudahkah saya menghasilkan sesuatu?

Jika jawabannya masih “belum”, maka jangan menunggu setelah wisuda.

Mulailah sekarang.

Sebab ketika wisuda tiba, toga hanya dipakai beberapa jam. Ijazah mungkin disimpan di dalam map.

Tetapi skill akan ikut berjalan bersama kita setiap hari.

Jadi, jangan hanya bercita-cita menjadi sarjana.

Jadilah sarjana yang punya kemampuan.

Jangan hanya mengejar pekerjaan.

Belajarlah menciptakan nilai.

Dan jangan menunggu dunia berubah untuk memberikan peluang kepada kita.

Persiapkan diri agar ketika peluang datang, kita sudah memiliki kemampuan untuk menangkapnya.

Seminar BOC pada 27 September 2026 adalah salah satu ruang untuk memulai proses itu.

Karena masa depan tidak cukup dihadapi dengan ijazah di tangan.

Masa depan membutuhkan skill di kepala, keberanian di dada, dan tindakan nyata di lapangan.

Sudah siap untuk bekerja? Bahkan harus bisa menciptakan lapangan kerja? ***

  • Penulis: Supardi
  • Editor: Dahlan Batubara

Rekomendasi Untuk Anda

  • PERANTAU PUJI SIKAP BUPATI MADINA

    PERANTAU PUJI SIKAP BUPATI MADINA

    • calendar_month Minggu, 21 Apr 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA (Mandailing Online) – Foto surat pengunduran diri Bupati Madina, Dahlan Hasan Nasution yang beradar di facebook menjadi perhatian perantau di Jakarta. “Jika surat pengajuan pengunduran diri itu benar, menunjukkan Dahlan Hasan Nasution seorang yang gentelmen,” ujar Erie Batubara perantau asal Mandailing yang merantau di Jakarta, kepada Mandailing Online via telefon seluler, Minggu (21/4/2019). Berdasar […]

  • KPK dukung tim independen kasus Novel

    KPK dukung tim independen kasus Novel

    • calendar_month Sabtu, 13 Okt 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA, (MO) – Komisi Pemberantasan Korupsi mendukung pembentukan tim independen atas tuduhan terhadap Novel Baswedan dalam kasus penganiayaan berat. Saat ini, posisi Novel tidak berubah, baik sebagai penyidik di KPK maupun ketua salah satu tim penyidikan kasus dugaan korupsi pengadaan simulator berkendara di Korps Lalu Lintas Polri. ”Kalau ada tim independen, itu bisa menjadi semacam […]

  • Hadapi Bencana Alam, Satpol PP Madina Dilatih 

    Hadapi Bencana Alam, Satpol PP Madina Dilatih 

    • calendar_month Selasa, 15 Nov 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Musim penghujan telah berlangsung, dan bencana alam di bulan bulan depan tidak dapat diprediksi, tetapi harus diantisipasi. Saat ini Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan Linmas di Mandailing Natal (Madina) dilatih menghadapi bencana alam. Bupati Madina Jafar Sukhairi Nasution membuka pelatihan itu di lapangan masjid agung Nur Ala Nur, […]

  • Basarnas Hentikan Pencarian Korban

    Basarnas Hentikan Pencarian Korban

    • calendar_month Rabu, 13 Feb 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) -Tim Basarnas menyatakan, Rabu (13/2) menghentikan kegiatan pencarian korban di reruntuhan tambang rakyat Huta Bargot, Mandailing Natal. Pernyataan penghentian ini dinyatakan Ketua Tim Basarnas, Andi Pandawa kepada wartawan di Panyabungan. Dengan demikian, tim Basarnas tersebut akan meninggalkan Mandailing Natal dan pulang ke pangkalannya di Sibolga. Alasan penghentian ini, tim tak mampu mengeluarkan […]

  • Jalan Raya Palas-Madina Akan Dibuka

    Jalan Raya Palas-Madina Akan Dibuka

    • calendar_month Selasa, 8 Agt 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      JAKARTA (Mandailing Online) – Pembukaan badan jalan raya jalur Padang Lawas-Mandailing Natal bakal segera dimulai. Kepastian itu tertuang dalam Memorandum of Understanding (MoU) yang ditandatangani Dirjen Bina Marga Kementerian PU dan Pangdam I/BB serta Kepala Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional II di Kantor Direktorat Jenderal Kementerian PU, Senin (7/8/2017). Pembukaan jalur jalan itu akan […]

  • Amin Daulay: Perlu reformasi birokrasi Madina

    Amin Daulay: Perlu reformasi birokrasi Madina

    • calendar_month Rabu, 22 Sep 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Wakil Ketua DPD II Partai Golkar Kabupaten Mandailing Natal Amin Daulay menilai reformasi birokrasi di tubuh Pemkab Madina pasca masuknya Pj Bupati Madina Ir Aspan Sofian Batubara sangat diperlukan. Hal itu dianggapnya sangat penting untuk mensukseskan tugas-tugas pemerintahan dan pelayanan masyarakat yang dibebankan oleh presiden kepadanya disamping untuk menghantarkan pemungutan suara ulang di Madina sampai […]

expand_less