Jumat, 26 Jun 2026
light_mode

Duo Sutan dalam Perjuangan Gerep Institute Naik ke Panggung Pahlawan Nasional

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month 1 menit yang lalu
  • print Cetak

Oleh: Tim Mandailing Epicentrum

 

Ada yang menarik dari gerakan kebudayaan yang sedang tumbuh di Mandailing Natal. Gerep Institute mengusung dua tokoh tangguh menuju panggung Pahlawan Nasional.

Dalam waktu yang hampir bersamaan, dua nama besar kembali diperbincangkan sebagai calon Pahlawan Nasional. Keduanya sama-sama menyandang gelar adat Sutan. Dari diskusi kedai kopi, diskusi grup WA, rapat kerja, rapat kolaborasi dan seminar level kabupaten.

Keduanya lahir dari rahim intelektual Mandailing.

Keduanya memilih pena dan pikiran sebagai alat perjuangan.

Yang pertama adalah Sati Nasution gelar Sutan Iskandar, yang lebih dikenal sebagai Willem Iskander. Yang kedua adalah Sutan Takdir Alisjahbana, sastrawan, filsuf kebudayaan, dan salah satu arsitek bahasa Indonesia modern.
Dua Sutan.
Dua zaman.
Satu benang merah: keyakinan bahwa masa depan bangsa dibangun melalui ilmu pengetahuan.

Willem Iskander hidup pada abad ke-19, ketika kesempatan memperoleh pendidikan bagi bumiputera masih menjadi kemewahan. Ia tidak memilih jalan perlawanan bersenjata. Ia memilih membangun sekolah guru di Tanobato, menulis dalam bahasa Mandailing, dan menanamkan kesadaran bahwa kemajuan hanya mungkin lahir dari pendidikan.

Sekitar setengah abad kemudian, lahirlah Sutan Takdir Alisjahbana.
Jika Willem Iskander membuka pintu pendidikan, maka STA memperluas cakrawala pemikiran bangsa. Ia ikut merumuskan bahasa Indonesia modern, mendirikan lembaga kebudayaan, menulis novel, esai, dan filsafat, serta mengajak bangsa Indonesia berdialog dengan peradaban dunia.
Yang satu membangun fondasi.
Yang satu lagi membangun bangunan.

Ada sesuatu yang jarang disadari publik, termasuk di kampung mereka yang sudah jadi Kabupaten Mandailing Natal.
Mandailing ternyata pernah melahirkan dua “Sutan” yang berada dalam satu mata rantai sejarah Indonesia.

Yang pertama, Sati Nasution gelar Sutan Iskandar.

Yang kedua, Sutan Takdir Alisjahbana.

Yang pertama berdarah Mandailing dan bergemuruh mendirikan sekolah unyuk guru Tanobato di dalaman Sumatera.

Yang kedua berdarah Jawa-Minang, lahir di Natal, pesisir Mandailing. Mengawali debutnya di Pulau Jawa, gaung pemikirannya menggema ke seluruh Indonesia melalui bahasa, sastra, filsafat, dan pendidikan.
Mereka hidup di dua abad yang berbeda.
Namun keduanya sedang mengerjakan pekerjaan historis yang sama. Membangun manusia Indonesia.

Willem Iskander memulainya dari Tanobato.
Pada tahun 1862 ia mendirikan Kweekschool Tanobato, sekolah guru bumiputera yang terbuka bagi masyarakat tanpa membedakan status sosial. Di sana ia tidak sekadar mengajarkan membaca dan berhitung. Ia sedang mencetak para guru yang kelak menyebarkan cahaya ilmu ke berbagai wilayah Sumatera. Penelitian bahkan mencatat lulusan-lulusan Kweekschool Tanobato kemudian mengajar di berbagai daerah, menjadikan sekolah itu sebagai pusat reproduksi tenaga pendidik bumiputera.

Enam puluh tahun kemudian, estafet itu seperti menemukan babak baru.
Sutan Takdir Alisjahbana bergerak bukan lagi pada tingkat sekolah guru.
Ia ikut membangun Universitas Nasional sebagai ruang lahirnya generasi intelektual Indonesia, sambil merumuskan arah bahasa Indonesia, sastra modern, dan filsafat kebudayaan bangsa.
Jika Willem Iskander membangun fondasi rumah pendidikan Indonesia, maka STA ikut memperluas rumah itu menjadi ruang perjumpaan ilmu pengetahuan bagi sebuah bangsa yang sedang tumbuh.

Yang satu membangun kweekschool.
Yang satu membantu membangun universitas.

Yang satu menanam benih. Yang satu merawat pohonnya.
Yang satu mempersiapkan guru.
Yang satu mempersiapkan pemikir.
Mereka berada pada mata rantai yang sama.
Tetapi bekerja pada mata zaman yang berbeda.
Mungkin di situlah letak keistimewaan “Duo Sutan” ini.
Mereka tidak dikenang karena kebetulan berasal dari tanah yang sama.

Mereka dikenang karena sama-sama percaya bahwa jalan paling panjang menuju kemerdekaan adalah pendidikan, dan jalan paling kokoh menuju peradaban adalah ilmu pengetahuan.

Lebih menarik lagi, keduanya sama-sama sering disalahpahami.
Willem Iskander kerap dinilai hanya sebagai guru sekolah kolonial.

Padahal, jika dibaca secara utuh melalui Si Boeloes-Boeloes, Si Roemboek-Roemboek, tampak jelas bahwa pendidikan baginya adalah jalan membangunkan kesadaran masyarakat, bukan sekadar mengajarkan membaca dan berhitung.
Sementara itu, STA acap kali dipersempit hanya sebagai sastrawan atau tokoh “pro-Barat”.

Padahal, yang ia perjuangkan bukanlah peniruan Barat, melainkan keberanian bangsa Indonesia untuk berpikir modern, kreatif, dan terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan tanpa kehilangan kemampuan mencipta jati dirinya sendiri.
Keduanya sesungguhnya sedang mengerjakan pekerjaan yang sama: memerdekakan manusia melalui pikiran.

Ada pula persamaan lain yang jarang dibicarakan.
Keduanya adalah tokoh yang melampaui daerah asalnya.
Willem Iskander memang lahir di Pidoli — Mandailing, tetapi gagasan pendidikannya menjadi bagian dari sejarah pendidikan Indonesia.
Sutan Takdir Alisjahbana memang berasal dari Natal, Sumatera Utara, tetapi pengaruhnya menjangkau bahasa, sastra, kebudayaan, hingga pemikiran modern Indonesia.
Dengan kata lain, keduanya bukan sekadar kebanggaan Mandailing atau Sumatera Utara.
Mereka telah menjadi bagian dari sejarah intelektual bangsa.

Karena itu, bagi Gerep Institute, perjuangan mengusulkan keduanya sebagai Pahlawan Nasional tidak semestinya dipahami sebagai proyek kedaerahan.
Ini bukan soal menambah daftar tokoh asal Mandailing yang memperoleh gelar. Bukan!
Ini adalah upaya menghadirkan kembali satu mata rantai sejarah Indonesia yang selama ini belum memperoleh perhatian yang memadai.
Bangsa ini telah lama memberi penghormatan kepada para pejuang politik dan militer.
Kini saatnya kita juga memberi panggung yang lebih agung kepada para pejuang pendidikan, bahasa, sastra, dan kebudayaan.
Sebab sebuah bangsa tidak hanya dibangun oleh mereka yang memenangkan peperangan. Bangsa juga dibangun oleh mereka yang mengubah cara berpikir rakyatnya.

Barangkali inilah makna terdalam dari hadirnya dua nama itu dalam satu tarikan napas sejarah.
Sati Nasution gelar Sutan Iskandar dan Sutan Takdir Alisjahbana dipisahkan oleh hampir satu abad. Namun keduanya dipertemukan oleh cita-cita yang sama: memuliakan manusia melalui ilmu pengetahuan.
Jika perjuangan fisik melahirkan kemerdekaan, maka perjuangan intelektual menjaga agar kemerdekaan itu terus memiliki arah.
Dan mungkin, justru di situlah kita menemukan alasan mengapa “Duo Sutan” layak diperjuangkan bersama menuju Pahlawan Nasional.
Bukan semata karena mereka putra Mandailing. Melainkan karena karya, gagasan, dan pengabdiannya telah melampaui batas-batas daerah, menjelma menjadi bagian dari warisan intelektual Indonesia.

“Jika Willem Iskander meletakkan batu pertama rumah pendidikan bumiputera, maka Sutan Takdir Alisjahbana membantu membangun serambi peradaban Indonesia.” ***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Minum Kopi Mandailing 2.500 Gelas Akan Meriahkan HUT Madina

    Minum Kopi Mandailing 2.500 Gelas Akan Meriahkan HUT Madina

    • calendar_month Selasa, 28 Feb 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Aksi minum kopi mandailing secara missal akan memeriahkan peringatan HUT Kabupaten Mandailing Natal (Madina) ke 18. Pihak panitia menarget aksi minum missal itu akan menghabiskan sebanyak 2.500 gelas, dilangsungkan di Tapian Sirisiri, Panyabungan tanggal 6 Maret 2017. Demikian rilis pers pihak Humas Pemkab Madina, HUT Madina sendiri jatuh pada tanggal 9 […]

  • Info Jalur Mudik: Jalur Panyabungan-Gunung Baringin Ada 3 Titik Rawan

    Info Jalur Mudik: Jalur Panyabungan-Gunung Baringin Ada 3 Titik Rawan

    • calendar_month Senin, 13 Jul 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN TIMUR (Mandailing Online) : Bagi pembaca Mandailing Online yang hendak mudik lebaran ke kampung halaman Panyabungan Timur, Mandailing Natal, berikut ini kami sampaikan info jalur Panyabungan-Gunung Baringin. Berdasar pantauan di jalur ini, Minggu (12/7) setidaknya terdapat 3 titik rawan kecelakaan. Para pemudik diharapkan agar santai dan berhati-hati, tidak ngebut. Titik rawan pertama : […]

  • Golkar Tak Khawatirkan Hak Angket Pajak

    Golkar Tak Khawatirkan Hak Angket Pajak

    • calendar_month Minggu, 6 Feb 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA – Politisi Partai Golkar, Priyo Budi Santoso, mengaku heran dengan para politisi DPR yang mencabut dukungannya dalam usulan hak angket pajak yang sedang bergulir di parlemen. Partai Golkar, kata Priyo, tidak merasa khawatir dengan adanya usulan hak angket mafia pajak tersebut. Padahal, ia melanjutkan, semula Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie disebut-sebut berkaitan dengan […]

  • Pemkab Madina Tingkatkan Pengelolaan Pasar

    Pemkab Madina Tingkatkan Pengelolaan Pasar

    • calendar_month Selasa, 29 Mar 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan. Agar mampu menyumbang pada pendapatan asli daerah (PAD), Pemkab Mandailing Natal (Madina) akan meningkatkan pengelolaan Pusat Pasar Panyabungan dan pasar-pasar tradisional lainnya di daerah itu. “Secara perlahan kita akan terus melakukan penataan dan meningkatkan pengelolaan pasar-pasar tradisional di Madina sehingga mampu menghasilkan PAD dari penerimaan retribusi yang ditetapkan. Sebab selama ini, karena kurang maksimalnya […]

  • Kapolresta: ‘Geng Motor’ sudah diamankan

    Kapolresta: ‘Geng Motor’ sudah diamankan

    • calendar_month Selasa, 8 Feb 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN – Kepala Kepolisian Resor Kota Medan, Kombes Tagam Sinaga, mengatakan sebanyak 10 orang “geng motor” yang membuat kerusuhan Senin, sekitar pukul 05.45 WIB di Petronas Jalan Patimura, telah diamankan petugas kepolisian. “Mereka (geng motor,red) yang sempat melarikan diri di sejumlah tempat, setelah peristiwa tersebut telah kita tangkap dan proses secara hukum yang berlaku,” katanya, […]

  • Tuntutan Belum Direspon, Warga Batu Sondat Batahan Larang Pengangkut CPO Milik PTPN IV Beroperasi

    Tuntutan Belum Direspon, Warga Batu Sondat Batahan Larang Pengangkut CPO Milik PTPN IV Beroperasi

    • calendar_month Senin, 15 Jul 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    MADINA – Mandailing Online : sejak minggu malam sampai senin pagi ini 15/7, jalan utama truk pengangkut CPO milik PTPN IV gang beroperasi di Desa Batu Sondat, Kecamatan Batahan, Kabupaten Mandailing Natal ( Madina) masih di tutup warga. Aksi penutupan jala truk CPO ini dilakukan warga sebagai bentuk kekecewaan belum dipenuhinya tuntutan terkait kekurangan lahan […]

expand_less