MERDEKA DI DEPAN ALGORITMA
- account_circle Moechtar Nasution
- calendar_month 13 menit yang lalu
- print Cetak

Oleh: Moechtar Nasution*
Penggiat GEREP INSTITUTE (Pusat Kajian Madina)
Pendahuluan
Setiap fajar menyingsing hal pertama yang mengetuk kesadaran kita bukanlah derit pintu yang dibuka melainkan membuka telpon selular. Sesuatu yang intim telah berpindah, seakan-akan telepon selular itulah yang menemani malam hingga azan subuh memecah sunyi. Kita hidup di dalam dunia di mana hasrat, kecenderungan berbelanja, pilihan pakaian, hingga cara kita merawat kesedihan dan kemarahan telah ditakar dengan presisi oleh barisan kode biner yang bekerja tanpa suara. Di permukaan kita merasa menjadi subjek yang bebas karena kita dengan sadar mengklik, membagikan dan mengetik apapun itu.
Namun di balik kebiasaan yang sudah menjadi adat tersebut, sebuah pertanyaan retoris yang barangkali getir—mesti kita bisikkan ke dalam diri kita sendiri: Benarkah pikiranmu telah merdeka? Ataukah kebebasan yang diagungkan ini hanyalah sejenis etalase kosmetik, sebuah ruang di mana kita merasa sedang memilih, padahal kita sebenarnya sedang digiring layaknya kerumunan ternak menuju sebuah altar kepatuhan baru yang tak kasat mata?
Dari “Ompung Google” ke Tirani Jawaban Tunggal
Belum terlampau lama berlalu saat ketergantungan kita pada jagat digital masih menyisakan sedikit ruang bagi jeda. Dahulu, ketika ingatan kita macet atau tugas kuliah menemui jalan buntu, sikit-sikit kita mengetikkan kata kunci pada mesin pencari, bersandar pada apa yang dengan jenaka kita sebut sebagai “Ompung Google.” Urusan pun selesai. Efisien dan efektif. Namun Google di masa lalu sebenarnya masih membiarkan manusia bekerja secara kognitif. Ketika ia menyodorkan lembar-lembar tautan, kita masih diharuskan meluangkan waktu untuk membaca serpihan teks, menimbang, membandingkan, dan akhirnya memilih di antara rimba perspektif yang berbeda. Ada proses kurasi mandiri, sebuah percikan sunyi di dalam batok kepala kita, sebelum sebuah simpulan diputuskan.
Kini kemudahan itu datang layaknya sihir yang mematikan. Manusia modern tidak lagi mencari, mereka hanya memberikan sebaris perintah (prompting), dan dalam sekedipan mata sebuah produk intelektual tersaji lengkap. Makalah kuliah yang rumit, proposal penelitian yang njlimet, bahkan PPT untuk diseminarkan dapat lahir hanya dari sekali entakan jari.
Namun di balik keajaiban instan itu, sebuah horor kebudayaan sedang merayap masuk. Jika Google dahulu masih menawarkan belantara pilihan, teknologi kecerdasan buatan (AI) hari ini langsung menyodorkan sebuah “kebenaran tunggal”. Ia tidak lagi mengajak kita mengunyah data atau meragukan premis karena ia langsung mendiktekan jawaban mutlak yang siap ditelan mentah-mentah. Ketika manusia berhenti membandingkan opsi dan berserah sepenuhnya pada satu jawaban tunggal dari program digital, di titik itulah kedaulatan berpikir kita sebagai manusia sesungguhnya telah diserahkan dengan sukarela kepada algoritma.
Kematian Dialektika
Di sinilah kita menyaksikan sebuah ironi yang ganjil, ketika kenyamanan instan pelan-pelan membunuh proses dialektika paling elementer dalam tradisi intelektual manusia. Sebuah pemikiran yang kokoh karena lahir dari sejarah yang panjang, selalu membutuhkan sebuah ekosistem yang riuh namun waras. Sebuah tesis mesti berani diadu di ruang terbuka, dihantam oleh data dan arugemen tandingan yang dingin, hingga melahirkan sebuah antitesis yang tajam. Dari benturan dan elaborasi mendalam antara keduanya, barulah lahir sebuah sintesis yang mencerahkan peradaban.
Tradisi yang penuh dialektika itu—perdebatan ksatria yang pernah menghidupkan ruang-ruang kelas dan jurnal kebudayaan kita—kini nyaris menjadi barang antik yang sulit diketemukan. Semuanya runtuh di bawah deru mesin efisiensi yang pragmatis. Kita pun merayakan lahirnya sebuah generasi baru yang ajaib sekaligus mencemaskan yakni generasi yang tiba-tiba sudah pandai menulis esai ratusan halaman, tiba-tiba sudah mahir menyusun presentasi Power Point (PPT) yang estetik, dan tiba-tiba terkesan menguasai segalanya.
Tentu saja semua produk itu lahir tanpa meninggalkan jejak keringat. Tidak ada malam-malam panjang membedah buku tebal, tidak ada ketegangan intelektual dalam diskusi kelompok, dan tidak ada kegelisahan batin saat menyusun argumen. Ketika hasil akhir dipuja tanpa memedulikan proses berpikirnya, kita sebenarnya sedang melahirkan manusia penurut dan bukan pembelajar. Kita sedang memelihara sepasukan pembebek tak bernyawa yang kepalanya kosong, namun jempolnya lihai memerintah robot untuk memalsukan kecerdasan.
Lahirnya Kaum “Intelektual Cemas”
Patologi kultural ini pada akhirnya melahirkan sejenis manusia baru di lanskap sosial kita yakni kaum intelektual cemas (the anxious intellectual). Mereka adalah para akademisi, mahasiswa, pelajar, penulis, guru, konsultan, pemikir dan deretan profesi lainnya yang tidak lagi didera oleh kecemasan eksistensial tentang seberapa dalam makna kebenaran yang mereka cari. Ketakutan mereka telah bergeser menjadi sesuatu yang sangat teknis, dangkal, dan artifisial. Mereka cemas jika tulisan mereka tidak lolos dari sensor mesin deteksi orisinalitas digital, mereka panik jika cita rasa bahasa mereka yang masih menyisakan cacat manusiawi dianggap “kurang sempurna” oleh standar mesin, dan mereka gemetar jika argumen otonom mereka tidak sejalan dengan apa yang diputuskan benar oleh tren algoritma siber.
Kecemasan massal ini pelan-pelan merusak intuisi asli manusia, membunuh estetika bahasa, dan mengikis orisinalitas karakter kepenulisan yang otonom. Kaum intelektual cemas ini rela menyensor pikiran kritis mereka sendiri, memotong ketajaman analisis mereka, dan memperhalus kejujuran ilmiah mereka demi menyesuaikan diri dengan “selera moral” kecerdasan buatan. Manusia dipaksa untuk berpikir dan menulis secara mekanis layaknya mesin yang kaku, di saat mesin-mesin di luar sana justru sedang dikembangkan mati-matian untuk meniru kehangatan cara manusia mengekspresikan rasa dan logika. Ini adalah sebuah tragedi pembalikan logika peradaban yang teramat muram.
Yang Tak Teraba Oleh Jemari Biner
Maka dari itu, jangan serahkan apa pun yang paling berharga dari kesadaranmu kepada kecerdasan buatan. Jangan pasrahkan keputusan moral dan imajinasimu, karena teknologi ini memang didesain sedemikian rupa hanya untuk mereplikasi, mengkalkulasi, dan memprediksi probabilitas data. AI bukanlah manusia. Ia tidak memiliki sekerat perasaan pun layaknya makhluk bernyawa karena ia hanyalah mesin mati yang patuh digerakkan oleh entakan jemari kita di atas papan tik.
Sesuatu yang biner tidak akan pernah tahu bagaimana perih dan luluhnya menahan kerinduan yang sunyi. Ia tidak akan pernah mengerti rasanya cinta yang dihancurkan oleh keadaan, seperti kepedihan Samsul Bahri yang harus kehilangan Siti Nurbaya karena sang kekasih dipersunting paksa oleh Datuk Maringgih. Robot juga tidak akan pernah merasakan guncangan jatuh cinta setengah mati yang sanggup meruntuhkan kewarasan, seumpama Laila yang membuat Majnun kehilangan dirinya—Majnun yang dalam keputusasaan berbisik lirih pada butiran pasir, berbicara sendiri kepada tumbuhan di gurun yang gersang, serta menatap langit malam yang kosong dengan mata yang basah.
Kecerdasan buatan ini juga tidak akan pernah bisa secara mekanis merekam megahnya sebuah pengorbanan demi seseorang yang dicintai, layaknya kisah pilu tenggelamnya kapal Van der Wijck yang menguji kesetiaan Zainuddin dan Hayati. Semua itu adalah domain exclusif milik manusia, rasa sakit, keindahan patah hati, air mata, dan keteguhan rohani. Ketika kita menyerahkan nalar, pledoi hidup, dan esai kebudayaan kita sepenuhnya pada AI, kita sedang mereduksi kemewahan batin kemanusiaan yang maha luas ini ke dalam kotak data yang dingin dan tak bernyawa.
Salah satu puncak ironi dari matinya rasa itu mewujud dalam sebuah fragmen getir yang terjadi di sebuah kamar hotel di Kota Medan belum lama ini. Bayangkan pemandangan ini, dua orang perempuan sedang berada di dalam ruang privat yang mendadak beku, sesaat setelah pasangan kencan mereka melompat bunuh diri, menjatuhkan tubuhnya dari atas ketinggian menuju maut yang tak terelakkan. Dalam detik-detik yang mencekam itu sejatinya kepanikan memicu syok kemanusiaan yang paling purba. Tetapi faktanya berkata tidak, kedua perempuan ini malah menghadap layar telepon pintar dan membuka aplikasi kecerdasan buatan untuk melakukan interaksi intens dengan AI.
Ada deretan pertanyaan yang meluncur dari ketikan yang gemetar: “Apa yang harus saya lakukan sekarang?”, “Bagaimana cara membersihkan nama saya?”, “Apakah saya akan dipenjara?” Mereka memohon petunjuk hidup untuk mencari naskah penyelamatan diri dengan menagih “kebenaran tunggal” dari sebuah mesin mati untuk merespons kematian manusia sejati. Di titik inilah insting kemanusiaan menjadi runtuh sepenuhnya. Ketika takdir dan kematian pun harus dikonsultasikan melalui kalkulasi algoritma.
Manusia adalah Pengendali Utama, Bukan Pembebek Algoritma
Di tengah kepungan krisis mentalitas ini, sebuah batas demarkasi yang tegas dan radikal mesti ditegakkan kembali. Manusia adalah tokoh utama, pemilik sah kedaulatan kesadaran, dan pengendali utama yang harus mendikte algoritma—bukan sebaliknya..! Algoritma, telepon selular canggih, dan kecerdasan buatan hanyalah perkakas mati. Mereka adalah sebilah alat bantu yang posisinya berada di bawah kaki nalar kemanusiaan kita. Mereka diciptakan dari rekam jejak masa lalu untuk melayani masa depan manusia, bukan untuk bertindak sebagai “tuhan baru” yang mendikte ke mana arah isi kepala kita harus melompat.
Ada sesuatu yang memalukan ketika manusia—dengan keluhuran nilai dan moralnya, akal budi, dan kemampuan berefleksi—justru memilih untuk membebek pasrah di hadapan kode biner buatan tangannya sendiri. Menjadi pengendali berarti kita memperlakukan teknologi digital sebagai batu loncatan untuk mempercepat kerja teknis, sementara otoritas penuh untuk menimbang nilai, menguji kebenaran, dan mengambil keputusan moral tetap berada di dalam kendali absolut ruang pikiran kita. Kita tidak boleh menjadi generasi pemalas yang menelan mentah-mentah kesimpulan instan mesin tanpa kunyahan kritik. Kedaulatan kepala kita adalah benteng pertahanan terakhir kemanusiaan yang tidak boleh diserahkan, dipinjamkan, atau digadaikan kepada server digital mana pun di atas muka bumi ini.
Menggugat Kedunguan
Di sinilah frasa tajam Rocky Gerung mengenai anatomi kedunguan fungsional menemukan panggungnya yang paling telanjang. Kedunguan massal di era digital bukanlah ketiadaaan ijazah atau gelar akademik, melainkan kepandiran fungsional di mana seseorang memiliki akses terhadap seluruh perpustakaan dunia di dalam telepon pintarnya namun memilih menyerahkan kewajiban berpikirnya pada sebaris prompt AI demi melahirkan kertas kerja palsu atau makalah instan tanpa nyawa intelektual. Ketumpulan berpikir ini terjadi karena kita telah membuang batu asah diskusi yang sehat dan membiarkan nalar kritis kita berkarat dalam kenyamanan algoritma yang menidurkan daya kritis.
Tengoklah masa lalu di sebuah rumah kos yang pengap di Gang VII Peneleh, Surabaya. Di bawah atap kayu milik Hadji Oemar Said Tjokroaminoto, sejarah Indonesia pernah dimasak dalam sebuah kawah dialektika yang luar biasa riuh dan jantan. Di sanalah Soekarno muda, Musso, Alimin, dan Kartosuwiryo dan beberapa sahabatnya yang lain hidup berdesakan sebagai sekelompok anak muda miskin yang lapar akan ilmu. Mereka adalah teman sekamar yang berbagi sebungkus nasi, kawan karib yang bersenda gurau di bawah lampu minyak, dan sahabat dekat yang saling mengejek tanpa jarak.
Namun, di sela-sela tawa dan bau apek kamar kos itu, mereka adalah pemikir-pemikir ulung yang tekun membentuk nalar kritis mereka sendiri. Setiap malam perdebatan meletus di antara mereka. Soekarno dengan retorika nasionalismenya, Musso dan Alimin yang mulai gandrung pada nalar Marxisme radikal, serta Kartosuwiryo yang khusyuk merajut teokrasi Islam. Buku-buku tebal dialirkan dari tangan ke tangan. Argumen-argumen digiling, tesis-tesis diadu tanpa ampun hingga subuh buta menyergap kamar. Tidak ada satu pun di antara mereka yang meminjam jawaban instan atau membebek pada konsensus yang aman. Kepala mereka adalah tungku api yang menyala mandiri.
Tragedinya adalah setelah sekian lama waktu memisahkan mereka, bahan-bahan diskusi hangat yang dulu mereka perbincangkan hingga fajar itu pelan-pelan mengkristal menjadi ideologi yang mengeras dan saling bertolak belakang secara ekstrem. Jagat sejarah kemudian mempertemukan kembali sahabat sekamar ini, bukan lagi di atas meja kayu yang melahirkan sintesis ilmiah luhur, melainkan di palagan bersenjata yang basah oleh darah dan air mata. Soekarno sebagai kepala negara terpaksa menandatangani surat eksekusi mati untuk Kartosuwiryo, sahabatnya yang memproklamasikan Darul Islam. Soekarno pula yang harus berhadapan dengan Musso dalam pemberontakan Madiun 1948, sebuah konflik yang berakhir di ujung peluru jalanan.
Persahabatan Peneleh yang indah itu karam di altar pertarungan prinsip yang radikal. Namun, dalam konfrontasi fisik yang paling tragis sekalipun mereka tetap bertarung sebagai raksasa pemikir yang ksatria. Mereka tidak pernah menjadi pengecut siber atau budak pembebek algoritma. Mereka membayar mahal kedaulatan pikiran mereka dengan nyawa.
Lihat juga mentalitas para pendiri bangsa kita. Mereka para founding fathers kita—termasuk Hatta, Sjahrir, hingga Tan Malaka—adalah para raksasa pemikir yang membeli buku bukan untuk dijadikan pajangan estetis latar belakang foto, melainkan untuk dilahap dan dijadikan senjata argumentasi. Mereka menolak meminjam otak siapa pun, apalagi memasrahkan keputusan penting nasib bangsa pada kalkulasi robotik.
Tengoklah juga bagaimana dahsyatnya benturan ideologis antara Sukarno dan Buya Hamka di masa lalu. Mereka bertarung argumen secara ekstrem, ksatria, dan terbuka di depan publik, bukan berbisik pengecut di belakang layar. Hamka bahkan harus membayar harga mahal dengan mendekam di penjara tanpa proses peradilan yang sah, namun kemerdekaan pikirannya tak pernah bisa dipenjara oleh kuasa tirani mana pun karena akal budinya tidak pernah ia gadaikan kepada sistem kepatuhan baik tirani manusia maupun tirani biner.
Penutup
Pada akhirnya, esai budaya ini hadir bukan untuk mengutuk kegelapan zaman, namun mencoba menjadi lilin untuk menerangi pelan tentang hakikat kemerdekaan berpikir kita yang paling murni dan asasi. Merdeka sejati hanya akan dimulai ketika kita berani berdiri tegak, menolak menjadi pembebek yang dungu, dan berani menyatakan merdeka di depan jerat algoritma. Selama kita masih gemetar mengeluarkan pendapat hanya karena takut dihujat oleh massa siber, dan selama kita memilih memasrahkan makalah atau apapun yang berkaitan dengan kehidupan kita pada kebenaran tunggal buatan AI maka sesungguhnya kita belum merdeka.
Sudah saatnya kita kembali kepada kedaulatan kepala kita, menghidupkan kembali taji debat yang sehat, jujur, dan bertanggung jawab, serta dengan lantang menyatakan bahwa jiwa dan pikiran ini adalah milik otonom kita seutuhnya, bebas dari tirani digital mana pun. Satu hal lagi, jika engkau sudah mampu memerdekakan pikiranmu dari jerat algoritma, maka pantaslah kemudian jika engkau turut berbahagia atas kemerdekaan bangsamu. Wallahu’alam bissawab
* Tulisan pribadi dan bukan mewakili Institusi
- Penulis: Moechtar Nasution
- Editor: Dahlan Batubara

