Jumat, 16 Okt 2026
light_mode

BERMARGA, BERADAT MELAYU: Membaca Keunikan Budaya Masyarakat Kampung Mesjid, Labuhanbatu Utara, Sumatera Utara

  • account_circle Nur'ainun Ritonga dan Yunizar Ritonga
  • calendar_month Selasa, 15 Sep 2026
  • print Cetak

 

Oleh:
Nur’ainun Ritonga
Dosen Sekolah Tinggi Islam Negeri Mandailing Natal

&

Yunizar Ritonga
Guru Sekolah Dasar Swasta Shinta Jaya Labuhanbatu Utara

 

 

Di Sumatera Utara, marga sering menjadi penanda identitas seseorang. Ritonga, Hasibuan, Siregar, Nasution, Harahap, Daulay, Simanjuntak, Marpaung, dan berbagai marga lainnya mudah ditemukan. Namun, bagaimana jika bermarga Tapanuli atau Mandailing, tetapi dalam kesehariannya menggunakan bahasa Melayu dan menjalankan adat Melayu? Fenomena inilah yang ditemukan di Kampung Mesjid, Labuhanbatu Utara.

Di daerah ini, marga tetap menjadi bagian penting dari identitas keluarga. Tapi, marga tersebut tidak serta-merta menentukan adat dan kebiasaan yang dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah masyarakat yang memiliki beragam latar belakang marga, adat Melayu justru hadir kuat dalam bahasa keseharian, tradisi, tata cara kehidupan sosial, hingga berbagai upacara keluarga.

Keunikan tersebut tampak dalam berbagai praktik budaya, dalam perkawinan misalnya, penggunaan sunting memperlihatkan nuansa Melayu yang berbeda dari perangkat busana yang lazim dikenakan dalam tradisi Mandailing dan Toba, seperti Bulang pada tradisi Mandailing dan Sortali pada tradisi Toba. Masyarakat mengenal tari inai, bordah, dan nasi hadap-hadapan dalam acara pernikahan, tolak bala, upah-upah, menurunkan, mengayun bayi dalam acara pra dan pasca kelahiran bayi. Berbagai tradisi tersebut memperlihatkan kuatnya nuansa Melayu dalam kehidupan masyarakat yang sebagian besar memiliki marga. Fenomena “Bermarga, tetapi beradat Melayu”, menunjukkan bahwa identitas tidak selalu tunggal. Marga dapat menjadi penanda garis keturunan, sedangkan bahasa, adat dan kebiasaan sehari-hari terbentuk melalui lingkungan sosial tempat seseorang tumbuh dan berinteraksi. Menurut Koentjaraningrat, kebudayaan mencakup berbagai unsur kehidupan yang saling berkaitan dan kebudaayan bersifat dinamis mengikuti perkembangan masyarakat.

Lalu, apakah seseorang yang bermarga tetapi tidak bisa berbahasa Tapanuli atau Mandailing berarti kehilangan identitas budayanya? Atau, apakah seseorang yang bermarga tapi menjalankan adat melayu dapat disebut tidak lagi memiliki identitas dari garis keturunannya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak harus dipandang sebagai pertentangan, justru menunjukkan bahwa identitas budaya terbentuk melalui proses yang panjang.

Seseorang dapat mempertahankan marga sebagai identitas keluarga, sekaligus menggunakan bahasa dan menjalankan adat yang berkembang di lingkungan tempat tinggalnya. Kondisi ini juga tidak serta-merta berarti bahwa suatu budaya telah hilang. Ketika satu unsur melemah, unsur lainnya dapat tetap bertahan atau bahkan berkembang. Bahasa mungkin berubah, tetapi bukan berarti seluruh identitas yang diwariskan ikut hilang.

Sebagai masyarakat pesisir, Kampung Mesjid menjadi ruang perjumpaan berbagai latar belakang sosial dan budaya. Interaksi yang berlangsung dari waktu ke waktu memungkinkan terjadinya proses pewarisan, penyesuaian, dan percampuran budaya. Dari proses tersebut lahir identitas masyarakat yang tidak selalu dapat dijelaskan hanya berdasarkan marga.

Daerah ini memperlihatkan bahwa identitas budaya dapat berlapis, marga tetap memiliki posisi penting sebagai penanda genealogis. Sementara bahasa Melayu dan berbagai adat Melayu menjadi bagian kuat dari kehidupan sosial masyarakat sehari-hari. Dari masyarakat Kampung Mesjid, Labuhanbatu Utara kita belajar, bahwa marga menjadi jejak keturunan, sedangkan bahasa dan adat mencerminkan perjalanan sosial masyarakatnya. Keunikan tersebut bukan kekacauan identitas, melainkan bagian dari kekayaan budaya masyarakat pesisir Sumatera Utara yang terus hidup, bergerak dan berkembang. ***

 

  • Penulis: Nur'ainun Ritonga dan Yunizar Ritonga
  • Editor: Dahlan Batubara

Rekomendasi Untuk Anda

  • Donatur Demokrat bukan hanya dari AS

    Donatur Demokrat bukan hanya dari AS

    • calendar_month Selasa, 25 Mar 2014
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    JAKARTA – Pengacara Anas Urbaningrum, Firman Wijaya membeberkan, dana Pemilu yang mengalir ke Partai Demokrat bukan saja dari Amerika Serikat. “Yang jelas dalam pengamatan saya, Mas Anas tahu bahwa ini bukan sumber dana yang sebenarnya,” ujar Firman di KPK, Jakarta Selatan, tadi malam. Soal siapa saja yang menjadi donatur Demokrat, Firman meminta KPK untuk kembali […]

  • Aparatur Desa: Budiman Sudjatmiko Palsukan Sejarah UU Desa

    Aparatur Desa: Budiman Sudjatmiko Palsukan Sejarah UU Desa

    • calendar_month Sabtu, 5 Jul 2014
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    Prabowo Subianto tidak pernah memalsukan sejarah Undang-Undang Desa. Justru, capres nomor urut 1 itu telah terlebih dahulu menandatangi komitmen dengan para aparatur desa yang tergabung dalam Parade (Persatuan Rakyat Desa) Nusantara. Demikian disampaikan Ketua Parade Nusantara Sudir Santoso  kepada wartawan di Jakarta, Rabu (7/6). "Prabowo Subianto adalah satu-satunya capres yang memiliki andil dan kontribusi dalam […]

  • 8 Rumah di Ujung Marisi Kotanopan Habis Terbakar

    8 Rumah di Ujung Marisi Kotanopan Habis Terbakar

    • calendar_month Kamis, 4 Jun 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      KOTANOPAN (Mandailing Online) – Delapan unit rumah, satu unit mobil dan satu unit sepeda motor ludes terbakar di Desa Ujung Marisi, Kecamatan Kotanopan, Mandailing Natal (Madina), Rabu (3/6) sekira pukul 11.30 Wib. Delapan  rumah yang habis terbakar diketahui milik Sofian (35), Sahbana (38), Sholahuddin (40), Ahmaniyah (45), Ridoan (35), Nurhayati (46), Hasan Basri ( […]

  • Kapolda Diminta Usut Tuntas

    Kapolda Diminta Usut Tuntas

    • calendar_month Selasa, 8 Feb 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Wakil Ketua DPRD Provinsi Sumatera Utara Kamaluddin Harahap datang meninjau langsung kondisi rumah Ketua KPU Kabupaten Mandailing Natal Jefri Anthoni di Jalan Abdul Haris Nasution, Lingkar Timur, Kayujati, Panyabungan, Sabtu (05/02/2011) siang. Kamal meminta Kapoldasu dan jajarannya sesegera mungkin menuntaskan permasalahan ini. Karena dari kondisi lapangan, kebakaran yang terjadi ada unsur kesengajaannya dan besar kemungkinan […]

  • Satuan Narkoba Tangkap 2 Pengedar Ganja

    Satuan Narkoba Tangkap 2 Pengedar Ganja

    • calendar_month Rabu, 19 Agt 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Satuan Narkoba Polres Mandailing Natal (Madina) menangkap 2 tersangka pengedar ganja, Rabu (19/08) sekira pukul 11. 30 Wib di Desa Simalagi kecamatan Huta Bargot. Kedua tersangka berinisial PN (25) warga Desa Barbaran Kecamatan Panyabungan Barat dan AS (27) warga Desa Barbaran Julu kecamatan yang sama. Kasat Narkoba Polres Madina, E. Banjar […]

  • Isteri Surung Minta Suaminya Dituntut Ringan

    Isteri Surung Minta Suaminya Dituntut Ringan

    • calendar_month Jumat, 18 Okt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    MEDAN (Mandailing Online) – Isteri Surung Panjaitan, Blondina Marpaung, menangis dan meminta jaksa KPK untuk meringankan tuntutan hukum bagi suaminya. Permohonan tersebut diungkapkan anak pendiri RS Boloni, Medan, itu usai persidangan pembacaan tuntutan di Pengadilan Negeri Tipikor Medan, Kamis (17/10/2013). Blondina yang berwajah muram meninggalkan keluarganya yang duduk di kursi lobi Pengadilan untuk menemui jaksa […]

expand_less