Rabu, 16 Sep 2026
light_mode

BERMARGA, BERADAT MELAYU: Membaca Keunikan Budaya Masyarakat Kampung Mesjid, Labuhanbatu Utara, Sumatera Utara

  • account_circle Nur'ainun Ritonga dan Yunizar Ritonga
  • calendar_month 56 menit yang lalu
  • print Cetak

 

Oleh:
Nur’ainun Ritonga
Dosen Sekolah Tinggi Islam Negeri Mandailing Natal

&

Yunizar Ritonga
Guru Sekolah Dasar Swasta Shinta Jaya Labuhanbatu Utara

 

 

Di Sumatera Utara, marga sering menjadi penanda identitas seseorang. Ritonga, Hasibuan, Siregar, Nasution, Harahap, Daulay, Simanjuntak, Marpaung, dan berbagai marga lainnya mudah ditemukan. Namun, bagaimana jika bermarga Tapanuli atau Mandailing, tetapi dalam kesehariannya menggunakan bahasa Melayu dan menjalankan adat Melayu? Fenomena inilah yang ditemukan di Kampung Mesjid, Labuhanbatu Utara.

Di daerah ini, marga tetap menjadi bagian penting dari identitas keluarga. Tapi, marga tersebut tidak serta-merta menentukan adat dan kebiasaan yang dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah masyarakat yang memiliki beragam latar belakang marga, adat Melayu justru hadir kuat dalam bahasa keseharian, tradisi, tata cara kehidupan sosial, hingga berbagai upacara keluarga.

Keunikan tersebut tampak dalam berbagai praktik budaya, dalam perkawinan misalnya, penggunaan sunting memperlihatkan nuansa Melayu yang berbeda dari perangkat busana yang lazim dikenakan dalam tradisi Mandailing dan Toba, seperti Bulang pada tradisi Mandailing dan Sortali pada tradisi Toba. Masyarakat mengenal tari inai, bordah, dan nasi hadap-hadapan dalam acara pernikahan, tolak bala, upah-upah, menurunkan, mengayun bayi dalam acara pra dan pasca kelahiran bayi. Berbagai tradisi tersebut memperlihatkan kuatnya nuansa Melayu dalam kehidupan masyarakat yang sebagian besar memiliki marga. Fenomena “Bermarga, tetapi beradat Melayu”, menunjukkan bahwa identitas tidak selalu tunggal. Marga dapat menjadi penanda garis keturunan, sedangkan bahasa, adat dan kebiasaan sehari-hari terbentuk melalui lingkungan sosial tempat seseorang tumbuh dan berinteraksi. Menurut Koentjaraningrat, kebudayaan mencakup berbagai unsur kehidupan yang saling berkaitan dan kebudaayan bersifat dinamis mengikuti perkembangan masyarakat.

Lalu, apakah seseorang yang bermarga tetapi tidak bisa berbahasa Tapanuli atau Mandailing berarti kehilangan identitas budayanya? Atau, apakah seseorang yang bermarga tapi menjalankan adat melayu dapat disebut tidak lagi memiliki identitas dari garis keturunannya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak harus dipandang sebagai pertentangan, justru menunjukkan bahwa identitas budaya terbentuk melalui proses yang panjang.

Seseorang dapat mempertahankan marga sebagai identitas keluarga, sekaligus menggunakan bahasa dan menjalankan adat yang berkembang di lingkungan tempat tinggalnya. Kondisi ini juga tidak serta-merta berarti bahwa suatu budaya telah hilang. Ketika satu unsur melemah, unsur lainnya dapat tetap bertahan atau bahkan berkembang. Bahasa mungkin berubah, tetapi bukan berarti seluruh identitas yang diwariskan ikut hilang.

Sebagai masyarakat pesisir, Kampung Mesjid menjadi ruang perjumpaan berbagai latar belakang sosial dan budaya. Interaksi yang berlangsung dari waktu ke waktu memungkinkan terjadinya proses pewarisan, penyesuaian, dan percampuran budaya. Dari proses tersebut lahir identitas masyarakat yang tidak selalu dapat dijelaskan hanya berdasarkan marga.

Daerah ini memperlihatkan bahwa identitas budaya dapat berlapis, marga tetap memiliki posisi penting sebagai penanda genealogis. Sementara bahasa Melayu dan berbagai adat Melayu menjadi bagian kuat dari kehidupan sosial masyarakat sehari-hari. Dari masyarakat Kampung Mesjid, Labuhanbatu Utara kita belajar, bahwa marga menjadi jejak keturunan, sedangkan bahasa dan adat mencerminkan perjalanan sosial masyarakatnya. Keunikan tersebut bukan kekacauan identitas, melainkan bagian dari kekayaan budaya masyarakat pesisir Sumatera Utara yang terus hidup, bergerak dan berkembang. ***

 

  • Penulis: Nur'ainun Ritonga dan Yunizar Ritonga
  • Editor: Dahlan Batubara

Rekomendasi Untuk Anda

  • Jembatan Gantung Bernilai 4,6 M di Kampung Baru Selesai, Ini Harapan Bupati ke Warga

    Jembatan Gantung Bernilai 4,6 M di Kampung Baru Selesai, Ini Harapan Bupati ke Warga

    • calendar_month Senin, 20 Nov 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN ( Mandailing Online )- Jembatan gantung aek batang gadis di Desa Kampung Baru, Kecamatan Panyabungan Utara ,Mandailing Natal ( Madina ) bernilai Rp.4,6 miliar kelar dikerjakan, Bupati Madina H.M.Jakfar Sukhairi Nasution berharap masyarakar bisa merawat nya. ” dengan selesainya pekerjaan jembatan gantung yang diharapkan masyarakat ini, saya berharap masyarakat bisa merawat nya, karena jembatan […]

  • Budidaya Jengkol Belum Diseriusi

    • calendar_month Senin, 3 Jun 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Di Mandailing Natal (Madina) belum ada petani yang menekuni budidaya jengkol secara terrencana dan tertata dan berskala luas. Meski ada yang sengaja menanam, tetapi hanya sebatas tanaman sampingan. Padahal, kebutuhan terhadap buah jengkol termasuk cukup tinggi di pasaran. Di Madina saja, dalam perhari sekitar 800 kilo gram mampu diserap konsumen. “Belum […]

  • Bupati Labuhan Batu Selatan Kagumi Darul Mursyid

    Bupati Labuhan Batu Selatan Kagumi Darul Mursyid

    • calendar_month Kamis, 27 Jun 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    TAPSEL (Mandailing Online) – Bupati Kabupten Labuhan Batu Selatan, H.Wildan Aswan Tanjung menilai Pesantren Modern Unggulan Terpadu Darul Mursyid (PDM) yang berlokasi di Saipar Dolok Hole, Tapanuli Selatan sebagai pesantren yang patut dicontoh. Itu dikatakan Wildan Aswan ketika mengunjungi pesantren itu pada 9 Juni 2013 yang lalu. Dia mengunjungi anaknya yang sekolah di pesantren tersebut […]

  • Biaya Melimpah Untuk Menikah

    Biaya Melimpah Untuk Menikah

    • calendar_month Minggu, 28 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Pernikahan merupakan salah satu tahap dalam hidup setiap manusia. Sebagai bentuk kasih-sayang antar laki-laki terhadap perempuan, ikatan pernikahan dilakukan berdasar ajaran setiap agama dan Negara. Dalam Undang-undang tentang Perkawinan disebutkan, suatu perkawinan dapat dinyatakan sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaan pasangan yang melakukan pernikahan. Suatu pernikahan wajib dicatat oleh Negara. Bagi warga […]

  • Siapapun Presiden Indonesia, Pembangunan Tetap Kewajiban Pemerintah

    Siapapun Presiden Indonesia, Pembangunan Tetap Kewajiban Pemerintah

    • calendar_month Senin, 4 Mar 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Kewajiban membangun Indonesia dari pusat hingga daerah tetap berada di pundak pemerintah, siapapun presidennya. Itu dikatakan Ketua DPC Partai Gerindra Kabupaten Mandailing Natal, Erwin Efendi Lubis menjawab Mandailing Online, Minggu (3/3/2019) di sekretariat DPC Gerindra Madina, Panggorengan, Panyabungan. Dia menghimbau agar masyarakat objektif memahami pembangunan negara maupun pembangunan daerah. Di sisi […]

  • Lagi MCK Dana Desa di Batang Gadis Jae Bertahun Tak Berfungsi

    Lagi MCK Dana Desa di Batang Gadis Jae Bertahun Tak Berfungsi

    • calendar_month Sabtu, 22 Jul 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN( Mandailing Online ) Bertahun tahun, bangunan MCK di Desa Batang Gadis Jae, Kecamatan Panyabungan Barat, Kabupaten Mandailing Natal tak terawat bahkan tak berfungsi, padahal MCK tersebut dibangun dari Dana Desa tahun 2020 lewat. Dari hasil investigasi, kondisi bangunan MCK saat ini di tutupi rumput liar, kondisi MCK sendiri tidak miliki air sebagai mana fungsinya […]

expand_less