Selasa, 13 Okt 2026
light_mode

Dari Tolak Bala Hingga Mengayun: Jejak Tradisi Kelahiran di Kampung Mesjid, Labuhanbatu Utara, Sumatera Utara

  • account_circle Nur'ainun Ritonga
  • calendar_month Jumat, 11 Sep 2026
  • print Cetak

Oleh: Nur’ainun Ritonga & Yunizar Ritonga
Dosen Bahasa dan Sastra Arab STAIN Mandailing Natal & Guru Sekolah Dasar Swasta Shinta Jaya, Labuhanbatu Utara

 

 

Kelahiran seorang anak bukan sekadar peristiwa biologis, tetapi juga peristiwa sosial dan sarat makna budaya. Di Kampung Mesjid, Labuhanbatu Utara, kelahiran masih diiringi sejumlah tradisi yang melibatkan keluarga, tetangga, mencerminkan nilai-nilai keagamaan, serta pengetahuan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Tradisi tersebut dipandang sebagai bagian dari ats-tsaqafah al- mahalliyah (الثقافة المحلية) yaitu budaya lokal yang tumbuh dari pengalaman, kebiasaan, nilai, dan pengetahuan masyarakat. Di dalamnya terdapat doa, harapan, makanan tradisional, praktik perawatan, serta berbagai simbol yang mencerminkan cara masyarakat memaknai kelahiran.

Jika dilihat dari perspektif antropologi budaya, rangkaian tradisi tersebut tidak hanya merupakan serangkaian upacara yang dilakukan menjelang atau setelah kelahiran. Di dalamnya terdapat cara masyarakat memahami kehidupan, membangun hubungan sosial, mewariskan pengetahuan, serta memberi makna terhadap setiap kelahiran. Karena itu, tradisi kelahiran dapat dipandang sebagai bagian dari kebudayaan yang terus hidup melalui praktik, simbol, makanan, istilah lokal dan cerita yang diwariskan antargenerasi.

Istilah Tolak Bala dan sajian Tradisional

Ketika usia kehamilan mendekati persalinan, sebagian keluarga mengundang saudara dan tetangga untuk datang ke rumah dan biasanya acara ini dilaksanakan pada malam hari usai salat Magrib atau Isya.  Al-Qur’an dibaca, zikir dilantunkan dan doa dipanjatkan agar ibu dan bayi memperoleh keselamatan. Kegiatan ini dikenal oleh masyarakat dengan istilah tolak bala. Selain bacaan Al-Qur’an, do’a dan zikir, para tamu juga disuguhi berbagai panganan tradisional, seperti kue talam, nasi manis (wajik), kue malako (Malaka), kue masidah, pisang, bortih dan makanan tradisional lainnya.

Diantara berbagai panganan tersebut, bortih menjadi salah satu sajian khas dalam tradisi tolak bala masyarakat Kampung Mesjid. Bortih dibuat dari beras yang disangrai hingga mengembang, kemudian diberi gula putih dan dicampurkan dengan kue-kue tradisional lainnya sebelum disajikan di atas talam.

Sajian sederhana tersebut bukan sekedar hidangan bagi tamu. Di dalamnya terdapat pengetahuan kuliner yang diwariskan dalam keluarga, sekaligus cara masyarakat membangun hubungan sosial melalui kegiatan berbagi makanan.

Ketika Bidan Medis dan Bidan Kampung Berdampingan

Seiring perkembangan zaman, masyarakat Kampung Mesjid kini memanfaatkan tenaga kesehatan atau bidan medis dalam membantu proses persalinan. Sedangkan bidan kampung memiliki tempat tersendiri dalam kehidupan mayoritas masyarakat. Tidak hanya dalam perawatan tradisional setelah lahiran, sebelum persalinan (Qabla (قبل، para calon ibu masih datang untuk bekusuk (pijat tradisional). Kehadiran kedua peran tersebut menunjukkan bahwa perubahan zaman tidak serta merta memutus hubungan masyarakat dengan tradisi. Pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi tetap bertahan dengan menyesuaikan diri, berjalan berdampingan dengan layanan kesehatan modern dalam kehidupan masyarakat.

Setelah persalinan (Ba’da بعد،), dikenal beberapa praktik perawatan bagi ibu, antara lain bekusuk atau pijat, bapilis atau pilis, dan batangas atau tangas. Bekusuk merupakan tradisi urut atau pijat tradisional pada tubuh ibu pasca lahiran. Dalam pengetahuan masyarakat setempat, praktik ini dipercaya membantu memulihkan kondisi tubuh ibu setelah persalinan. Berikutnya bapilis atau pilis, yaitu praktik mengoleskan ramuan tradisional pada bagian dahi dan pelipis. Ramuan tersebut umumnya dibuat dari bahan-bahan rempah yang dihaluskan, kemudian dicampur sedikit air hingga berbentuk pasta. Dalam kepercayaan masyarakat, pilis digunakan untuk memberikan rasa hangat dan membantu mengurangi rasa tidak nyaman atau pusing pasca lahiran. Adapun batangas atau tangas merupakan praktik penguapan tradisional bagi ibu pasca lahiran. Tubuh ibu dipaparkan pada uap atau asap yang berasal dari ramuan tradisional yang telah direbus atau dibakar dalam wadah tertentu. Praktik ini merupakan bagian dari pengetahuan perawatan tardisional yang dilakukan oleh tukang urut atau bidan kampung dan diwariskan secara turun-temurun.

Berbagai tradisi tersebut merupakan bagian dari pengetahuan lokal masyarakat. Dalam penerapannya tentu perlu memperhatikan kondisi ibu dan bayi serta berjalan seiring dengan anjuran tenaga kesehatan. Bidan kampung juga menyiapkan nasi lado (nasi lada) yaitu panganan tradisional berupa nasi yang dipadukan dengan beragam rempah-rempah, serta minuman berbahan rempah. Sajian tersebut menghadirkan cita rasa gurih, hangat, dan aroma rempah yang khas menjadi bagian dari sajian tradisional yang diberikan kepada ibu setelah persalinan.

Upah-Upah dan Tradisi Menurunkan

Setelah kelahiran, sebagian keluarga melaksanakan tradisi mangupah upah atau upah-upah sebagai bentuk doa, harapan baik, nasihat dan penguatan bagi keluarga serta anak yang baru lahir. Dalam pandangan masyarakat, upah-upah juga berkaitan dengan upaya mengembalikan semangat atau tondi kepada sang ibu setelah melewati proses persalinan yang menguras tenaga dan membutuhkan kekuatan fisik dan mental.

Selain upah-upah, terdapat pula tradisi yang dikenal dengan istilah “menurunkan”. Dalam prosesi ini, bayi digendong oleh bidan kampung menggunakan Kain Panjang, kemudian dibawa keluar dari rumah dengan membawa payung dan beberapa perlengkapan bayi. Prosesi biasanya dilakukan di sekitar rumah, terutama di halaman dan diiringi oleh anak-anak hingga remaja.

Sesampainya di halaman rumah, kaki bayi diturunkan dan menyentuh tanah. Prosesi yang tampak sederhana tersebut memiliki makna sosial tersendiri. Bayi untuk pertama kalinya diperkenalkan kepada lingkungan di luar rumah dan kepada masyarakat sekitarnya. Dengan demikian, kelahiran seorang anak tidak hanya menjadi kebahagiaan bagi keluarga inti, tetapi menjaga kegembiraan bersama lingkungan sosialnya.

Aqiqah dan Mengayun Bayi

Aqiqah menjadi salah satu bentuk ungkapan syukur atas kelahiran anak. Sebagian keluarga yang memiliki kemampuan, melaksanakan aqiqah dan menyertakan tradisi upah-upah dan juga acara mengayun. Bayi diayun di dalam ayunan yang dibuat dalam bentuk beragam, salah satunya ayunan berbentuk miniatur bot atau perahu. Bentuk ayunan tersebut bukan sekedar hiasan tetapi juga mencerminkan kedekatan masyarakat dengan lingkungan dan kehidupan sungai atau pesisir.  Dalam prosesi mengayun, bayi diletakkan di atas ayunan kemudian diayun secara perlahan sambil diiringi doa, lantunan shalawat atau nyayian tertentu, serta pembacaan barzanji. Pemberian nama dan mencukur rambut bayi juga menjadi bagian dari rangkaian kegiatan tersebut.

Namun, tidak semua keluarga menjalankan seluruh tradisi dengan cara yang sama. Pelaksanaannya dapat berbeda berdasarkan kemampuan, keyakinan, kondisi dan pilihan masing-masing keluarga. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa tradisi selalu mengalami penyesuaian dengan kehidupan masyarakat.

Menjaga Ingatan Tentang Kelahiran

Jika diperhatikan, rangkaian tradisi tersebut menunjukkan bahwa kelahiran di Kampung Mesjid bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Ada doa dalam tolak bala, sajian panganan tradisional, perawatan ibu, peran bidan medis dan bidan kampung, upah-upah, menurunkan hingga aqiqah dan mengayun bayi.

Tradisi tidak harus dipertahankan dalam bentuk yang kaku, terlebih penting adalah nilai, pengetahuan, istilah lokal dan cerita yang terkandung di dalamnya tetap dikenali dan didokumentasikan. Dalam hal perawatan ibu dan bayi, praktik tradisional juga perlu berjalan berdampingan dengan pengetahuan serta standar kesehatan modern. Sebab, ketika sebuah tradisi hilang, yang mungkin ikut hilang bukan hanya sebuah prosesi, tetapi juga istilah lokal, makanan tradisional, bahasa, pengetahuan para bidan kampung, serta cerita tentang bagaimana masyarakat dahulu menyambut kehidupan baru.

Pada akhirnya, seorang anak tidak lahir dan tumbuh sendirian. Ia hadir dalam pelukan keluarga, disambut oleh doa, diterima oleh masyarakat dan diperkenalkan pada nilai-nilai agama serta budaya yang hidup di sekitarnya. Dari tolak bala hingga menurunkan, dari upah-upah hingga aqiqah dan mengayun bayi, setiap tradisi menyimpan jejak tentang cara masyarakat Kampung Mesjid memaknai kelahiran. Merawat tradisi bukan sekedar menjaga masa lalu, tetapi menjaga ingatan dan identitas agar tetap dapat dikenali oleh generasi yang akan datang. ***

 

  • Penulis: Nur'ainun Ritonga
  • Editor: Dahlan Batubara

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gozali Pulungan Ditetapkan Jadi Bupati Madina

    Gozali Pulungan Ditetapkan Jadi Bupati Madina

    • calendar_month Selasa, 29 Jun 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN (Mandailing Online) – Sekretaris Daerah Kabupaten Mandailing Natal (Madina) Gozali Pulungan ditetapkan menjadi Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Madina, Selasa (29/6/2021). Penetapan dilakukan Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi menetapkan sampai ada keputusan lebih lanjut dari Kemendagri. Masa jabatan Gozali ini akan berakhir setelah Sukhairi-Atika dilantik menjadi bupati/wakil bupati defenitif. Hal itu sesuai dengan radiogram gubernur […]

  • Eli Mahrani Monitoring PBM PAUD

    Eli Mahrani Monitoring PBM PAUD

    • calendar_month Kamis, 20 Okt 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Bunda Paud Kabupaten Mandailing Natal (Madina) Eli Mahrani Jafar Sukhairi Nasution melakukan Monitoring Pelaksanaan Belajar Mengajar (PBM) di enam Sekolah di Kabupaten Madina. Enam sekolah yang di monitoring yaitu, TK Model Negeri, TK Aba Gunungtua, TK Satu Atap SDN 062 Negeri Mompang, TK Masitoh Assalam, Kelompok bermain Bunda, dan TK Negeri […]

  • Musda Golkar Madina, H. Aswin Terpilih Aklamasi

    Musda Golkar Madina, H. Aswin Terpilih Aklamasi

    • calendar_month Rabu, 26 Agt 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – H. Aswin Parinduri terpilih secara aklamasi untuk memimpin kembali DPD Partai Golkar Kabupaten Mandailing Natal (Madina) priode 2020-2025. Aklamasi itu berlangsung pada Musyawarah Daerah (Musda) ke-VI DPD Partai Golkar Madina, Rabu (26/8/2020) di Aula Hotel Abara, Panyabungan. Aswin merupakan calon tunggal di Musda itu. Dengan demikian Aswin akan menjadi ketua DPD Golkar […]

  • Hari ini, Fitrah Suryani Nasution Ikuti Ujian Teori, OSN Nasional di Palembang

    Hari ini, Fitrah Suryani Nasution Ikuti Ujian Teori, OSN Nasional di Palembang

    • calendar_month Rabu, 18 Mei 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PALEMBANG (Mandailing Online) – Hari ini, Rabu (18/5/2016) Fitrah Suryani Nasution akan mengikuti ujian teori pada Olimpiade Sains Nasional di Palembang, Suamtera Selatan. Pelajar kelas VIII dari SMP Negeri 1 Kotanopan, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara ini  bejuang dan bersaing dengan utusan 34  provinsi dari seluruh Indonesia. Sementara itu, pada Selasa kemarin, Fitrah Suryani Nasution […]

  • Geng motor kembali merampas

    Geng motor kembali merampas

    • calendar_month Senin, 24 Sep 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN, (MO)- Untuk kesekian kalinya, komplotan geng motor kembali beraksi di Medan. Aksi kali ini adalah melakukan perampasan sepeda motor M Ikhsan (25) warga Jalan Rahmadsyah Gang Silahturahmi Kelurahan Kota Matsum II Kecamatan Medan Area. Aksi perampasan sepeda motor korban Yamaha Mio BK 2406 MDR warna putihterjadi di Jalan HM Yamin Simpang Jalan Sentosa Baru, […]

  • Pariwisata dan Budaya Dalam Diskusi Pemuda Mandailing

    Pariwisata dan Budaya Dalam Diskusi Pemuda Mandailing

    • calendar_month Senin, 15 Nov 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Kebudayaan bisa dimaknai sebagai basis pariwisata. Pariwisata bukanlah ‘predator’ pemangsa kebudayaan, namun menempatkan pariwisata  menjadi fasilitator dan agen kebudayaan. Agen yang dimaksud adalah mengangkat eksistensi budaya ke tingkat yang tinggi dengan cara mengeksplorasi nilai-nilai budaya, bukan mengeksploitasi (memperalat atau memeras) budaya. Dengan demikian, industri pariwisata tidak lagi meletakkan budaya sebagai sub-ordinasi, melainkan sebagai orientasi nilai […]

expand_less