Senin, 14 Sep 2026
light_mode

OPUK, RIWAYATMU KINI

  • account_circle Moehctar Nasution
  • calendar_month Kamis, 3 Sep 2026
  • print Cetak

Oleh: Moechtar Nasution
Penggiat GEREP INSTITUTE (Pusat Kajian Madina)

 

 

Akhir tahun 2024 yang lalu, langkah saya bersama teman-teman dari tim kearsipan daerah sempat terhenti di sebuah sudut desa di Kecamatan Panyabungan Barat. Tujuan awal perjalanan kami hari itu sebenarnya sangat sederhana, yaitu menyusuri jalanan desa untuk mencatat, merekam, dan menyelamatkan serpihan-serpihan peninggalan masa lalu yang mungkin masih tersisa di tanah Mandailing Godang ini. Namun di tengah perjalanan, kami mendadak bergembira oleh rasa senang yang luar biasa. Di sebuah pekarangan rumah warga yang cukup luas, mata kami menangkap sesuatu yang sudah sangat jarang ditemukan hari ini yakni sebuah Opuk.

Bagi kami yang bergerak di bidang kearsipan, melihat lumbung padi tradisional khas Mandailing itu masih berdiri tegak seolah-olah kami baru saja menemukan selembar dokumen sejarah berharga yang berhasil lolos dari kepunahan waktu. Ada rasa syukur yang hangat dan sukacita yang meluap di dada kami saat pertama kali mata kami memandangnya. Kami merasa sangat beruntung hari itu. Namun, kebahagiaan itu ternyata tidak bertahan lama. Ketika langkah kaki kami kian mendekat, memasuki pekarangan rumah, dan jemari kami mulai meraba guratan-guratan halus pada kayunya, realitas yang ada di depan mata justru memukul kesadaran kami dengan sebuah kenyataan yang cukup getir.

Melihat sebuah opuk sebenarnya adalah melihat bagaimana orang-orang tua kita dahulu merajut hidup mereka bersama alam dengan sangat jujur dan penuh perhitungan. Tiang-tiang panggung yang menopang seluruh beban bangunan tidak pernah dipilih dari sembarang pohon. Leluhur Mandailing menjatuhkan pilihan pada jior, sejenis pohon  yang tumbuh subur di tanah ini. Pilihan ini bukanlah kebetulan. Jior dikenal memiliki akar tunggang yang menghunjam sangat dalam ke jantung bumi. Karakternya kokoh dan keras. Ia membutuhkan waktu bertahun-tahun, melintasi pergantian musim yang panjang hanya untuk matang secara alami di dalam pelukan hutan.

Bagi masyarakat Mandailing, jior adalah metafora dari manusia adat itu sendiri. Jauh di masa lalu, keteguhan jior ini telah merasuk ke dalam imajinasi puitis sang pelopor pendidikan kita, Sati Nasution yang bergelar Sutan Iskandar—atau yang dunia kenal sebagai Willem Iskander. Dalam buku magnum opusnya, Si Bulus-bulus Si Rumbuk-rumbuk, jior dinarasikan bukan sekadar sebagai tegakan kayu mati melainkan saksi bisu kecintaan akan tanah air. Ketika ia merenung dalam goresan penanya, ia menulis: “Muda hutindo tingon Bania, hutatap ma aek ni Batang Gadis, mangelduk-elduk dalannia, atir hamun jior marbaris.”

Bait ini adalah sebuah lukisan sosiologis dimana jior yang berbaris rapi di tepi jalan dan aliran Batang Gadis melambangkan ketertiban, keteguhan prinsip, dan keselarasan hidup. Akar jior yang mencengkeram bumi adalah simbol dari prinsip hidup yang tangguh menahan zaman, tidak goyah oleh badai modernitas yang sering kali mencabut manusia dari identitasnya. Sementara batangnya yang teguh berdiri mengingatkan bahwa meski daun-daun pemikiran kita melambai ke mana-mana—merantau jauh melintasi benua seperti jalannya hidup Willem Iskander di Eropa—batang tubuh spiritual kita harus tetap satu, berakar pada tanah ibu pertiwi.

Struktur barisan jior yang rapi di pinggir-pinggir jalan—yang diabadikan dalam sajak Willem Iskander tersebut—adalah bukti hidup bahwa pohon ini kemungkin sengaja dibudidayakan. Mereka menanam jior layaknya beringin, sebuah investasi sosial agar kelak ketika pohon itu membesar, tajuknya yang rindang bisa menjadi tempat berlindung bagi siapa saja yang kelelahan dalam perjalanan

Begitu lekatnya jior dalam denyut nadi harian masyarakat, hingga pohon ini abadi dalam ingatan geografis kita. Jior menjelma menjadi nama-nama tempat (toponimi) yang kita kenal hingga hari ini. Di Pidoli kita mengenal Jior Patontang. Di sudut-sudut Mandailing lainnya, jejaknya terekam lewat Saba Jior (sawah jior), Adian Jior (tempat beristirahat jior), hingga Poken Jior (pasar jior). Nama-nama ini adalah prasasti hidup yang mengingatkan generasi hari ini bahwa di tempat-tempat itulah dahulu manusia dan alam saling menyapa, bertukar cerita, dan menyambung hidup.

Jior inilah yang membuat bangunan ini sanggup menantang kelembapan tanah dan serangan koloni rayap. Di atas tiang-tiang perkasa yang menancap bumi itu, dirancang pula lempengan kayu bulat berbentuk piringan horizontal yang bertindak sebagai pembatas fisik pelindung guna menghalau laju tikus tanah agar tidak mampu menyentuh hasil panen. Sementara itu, jubah pelindung di sekelilingnya dirajut dari “Gogat”, yaitu bambu pilihan yang dipecah, diratakan, dan dijalin dengan penuh kesabaran oleh tangan-tangan perajin tua.

Jalinan gogat ini sengaja dibuat tidak terlalu rapat seutuhnya karena ia dibiarkan untuk menyisakan celah-celah mikro yang sangat presisi, membiarkan angin pegunungan bebas keluar masuk secara berirama. Lewat sirkulasi udara alami inilah, bulir-bulir gabah atau eme di dalamnya dijaga agar tetap kering, hangat, dan terhindar dari jamur pembusukan.

Secara tata ruang, arsitektur opuk dirancang dalam struktur ruang bertingkat untuk mewakili dua sisi kehidupan huta yang berjalan beriringan dengan sangat anggun. Pada ruang bagian atas yang diteduhi oleh rangka atap ijuk tebal, gabah disimpan dalam keheningan yang takzim. Di tempat tertinggi ini, padi bukan sekadar komoditas logistik untuk mengisi perut yang lapar, melainkan simbol martabat dan lambang kehormatan tertinggi bagi sebuah keluarga. Menariknya pemandangan padi yang melimpah di dalam ruang sakral itu tidak pernah dikumpulkan lewat keegoisan atau kerja keras satu orang saja, melainkan buah manis dari tradisi Marsialap Ari, sebuah sistem gotong royong bergiliran di sawah di mana warga kampung saling “menjemput hari” dan menyumbangkan tenaga bersama tanpa mengharapkan upah uang sepeser pun.

Namun sore itu di Panyabungan Barat, saat kami mencoba melongok ke dalam ruang atas lumbung tersebut justru yang kami temukan hanyalah keheningan yang terasa amat memilukan. Ruangan di lantai dua itu kini sudah sepenuhnya sepi dari butiran padi yang sewajarnya memenuhi dadanya. Tempat yang dahulu menjadi jantung pertahanan hidup sebuah keluarga kini telah dialihfungsikan menjadi gudang pasif untuk menimbun barang-barang remeh-temeh yang disingkirkan dari rumah utama. Kami melihat kardus-kardus usang yang berdebu, perkakas plastik yang sudah pecah, jeriken kosong, dan segala rongsokan barang harian yang telah kehilangan makna. Fungsi luhurnya sebagai benteng kedaulatan pangan mikro telah runtuh, digantikan oleh kepraktisan hidup modern yang menyingkirkan kemandirian masa lalu ke dalam sudut penyimpanan barang bekas yang tak berharga.

Meskipun bagian puncaknya telah mati, bangunan tua ini tampaknya menolak untuk menyerah begitu saja pada kesunyian zaman. Jika lantai atasnya telah berubah menjadi tempat pembuangan barang tak terpakai, area dasar atau kolong panggung di bagian bawahnya justru memperlihatkan denyut kehidupan kemanusiaan yang enggan padam. Terutama ketika matahari mulai tenggelam di balik bukit dan udara malam yang dingin mulai turun, ruang terbuka di bawah struktur tiang-tiang kayu Jior itu menjelma menjadi tempat yang sangat hangat.

Di sanalah emak-emak kampung berkumpul, duduk melingkar bersama selepas menyelesaikan urusan rumah tangga mereka masing-masing. Di bawah naungan atap lumbung tua itu, mengalirlah tawa, cerita harian tentang anak dan ladang, keluh kesah, hingga gurauan ringan yang merekatkan kembali hubungan ketetanggaan. Dasar opuk ini berfungsi rupa menjadi ruang hidup yang menyatukan batin warga, seolah-olah bangunan kuno itu sengaja menangkap sisa-sisa kehangatan sosial masyarakat Mandailing agar dirinya tidak benar-benar mati dan terlupakan dari ingatan peradaban. Fungsi lain dari opuk ini menjadi tempat kreatifas generasi muda khususnya kalangan perempuan (nauli bulung) untuk belajar mengayam tikar. Selain itu, tentu saja sebagai sarana interaksi sosial dimana cerita-cerita rakyat yang sarat dengan eduksi, histori dan sosilogis ditransformasikan ke generasi muda.

Pola hidup yang mandiri dan penuh kebersamaan seperti ini dahulu dipertegas oleh tata ruang kampung tradisional kita yang menempatkan posisi bangunan secara cermat. Opuk tidak pernah diletakkan bersembunyi di pekarangan belakang rumah yang gelap dan tertutup, melainkan berjejer dengan anggun di sisi halaman depan yang terbuka luas, yang kita sebut dengan Alaman.

Penataan arsitektur lanskap ini sengaja dibuat agar ruang di antara rumah tinggal dan lumbung bisa bertransformasi menjadi area publik milik bersama seluruh warga. Di halaman yang lapang inilah jalinan sosial antar tetangga diikat secara erat tanpa sekat kaku. Batas-batas tanah antar keluarga melebur begitu saja ketika warga bebas melintas untuk saling meminjamkan alat penumbuk padi atau sekadar menyapa ramah dari kejauhan.

Penataan kosmis dan sosiologis ini menegaskan bahwa ketahanan pangan dalam adat Mandailing tidak boleh disembunyikan sebagai rahasia pribadi yang egois, melainkan dipajang sebagai kebanggaan kolektif yang mendasari tegaknya sebuah peradaban. Ketika sebuah keluarga memiliki opuk yang penuh di halaman depan rumahnya, ia sedang mengirimkan pesan sunyi nan mulia kepada tetangganya melalui untaian petuah purba ; “Ulang mabiar hita naso mangan arana ison adong do isimpan eme pala porlu angkan naro—janganlah kita takut tidak makan, karena di sini ada disimpan padi, jika perlu bagi mereka yang akan datang atau yang membutuhkan.

Di balik keterbukaan pekarangan itu, opuk juga menyimpan kisah tentang besarnya otoritas domestik yang dipegang penuh oleh kaum perempuan Mandailing. Meskipun kaum lelaki yang mandi keringat di sawah, mencangkul lumpur, dan memikul karung-karung hasil panen ke kampung, begitu padi naik ke atas lumbung, kekuasaan mutlak berpindah total ke tangan para ibu atau inang. Merekalah manajer logistik tertinggi keluarga, sang pemegang kunci opuk yang menakar dengan sangat cermat kapan padi harus dikeluarkan, seberapa banyak yang boleh ditumbuk untuk konsumsi harian, dan seberapa ketat persediaan yang wajib dipertahankan demi menghadapi masa darurat. Namun hari ini, seiring dengan pudarnya fungsi lumbung, otoritas pangan para inang yang dahulu memegang kunci kebahagiaan dapur ikut menyusut, berubah menjadi sekadar obrolan pelepas lelah di sore hari di kolong bangunan yang kosong.

Sistem pertanian modern yang mengutamakan kecepatan dan pola transaksi dagang “beli-jual” di mana padi langsung dipotong oleh mesin dan berpindah tangan ke tengkulak atau juga toke seketika itu juga di atas tanah sawah—telah memutus secara radikal hubungan emosional yang mendalam antara petani dan lumbungnya. Hilangnya padi dari  opuk melahirkan sebuah kenyataan sosiologis yang teramat getir sekaligus ironis di tengah masyarakat desa hari ini. Jika pada masa lalu membeli beras kemasan di toko atau pasar dipandang sebagai sebuah aib sosial yang besar karena dianggap tidak mampu menghidupi tanah sendiri, sekarang keadaannya justru berbalik seratus delapan puluh derajat. Para petani yang membiarkan bangunan opuk di pekarangannya kosong kini telah berubah menjadi konsumen setia dari beras-beras kemasan yang dikirim dari luar daerah.

Namun kini tata ruang filosofis itu perlahan runtuh tergerus zaman. Alaman yang dulunya luas dan menjadi tempat bertemunya rasa kini mulai disesaki oleh sekat-sekat beton bangunan baru. Opuk yang anggun di halaman depan satu per satu roboh dimakan usia atau sengaja diruntuhkan untuk digantikan oleh kepraktisan modernitas. Hilangnya opuk dari halaman  rumah masyarakat Mandailing bukan sekadar hilangnya seonggok bangunan kayu jior dan rajutan gogat. Ia adalah penanda mulai berkurangnya kemandirian dan ketahan agraris kita. Kita tidak lagi menatap lumbung sendiri saat terbangun di pagi hari karena kita telah beralih menatap ketergantungan baru pada pasar atau toko sembako.

Menganalisa opuk yang kami temukan itu seolah-olah membawa kita pada sebuah perenungan yang cukup memilukan batin. Bangunan itu kini berdiri limbung—bagian atasnya telah kehilangan ruh sejatinya sebagai benteng kedaulatan pangan, sementara bagian bawahnya terseok-seok mencoba menampung sisa-sisa kehangatan sosial yang tersisa. Ia layaknya seorang tetua adat yang mulai renta dan terlupakan oleh anak-cucunya di sudut pekarangan sepi, namun tubuh tuanya masih berkeras ingin mendekap siapa saja yang butuh ruang untuk bercerita.

Opuk tidak sedang meminta untuk sekadar diawetkan menjadi museum mati yang beku dan berdebu. Ia sedang menggugat ingatan kita semua. Ketika bulir eme terakhir tidak lagi menghuni ruang sakral di atasnya, dan ketika jalinan tikar dari tangan-tangan nauli bulung di kolong panggungnya kelak berganti dengan sekat telepon selular pintar yang mengisolasi manusia, maka di titik itulah riwayat opuk benar-benar tamat.

Menyelamatkan opuk berarti memanggil pulang cara hidup yang mandiri dan bergotong-royong. Sebelum tiang kayu jior itu lapuk sepenuhnya dikunyah waktu mari kita bawa kembali filosofi lumbung ini ke dalam dada kita masing-masing. Kita perlu diingatkan kembali pada sebuah kenyataan yang benderang bahwa ketahanan dan kemandirian pangan sejati sebuah bangsa tidak akan pernah lahir dari lembaran kebijakan ekonomi makro semata, melainkan dari lumbung-lumbung pangan kecil yang dirawat dengan penuh cinta, kehangatan hubungan sosial, dan rasa syukur di setiap pekarangan rumah kita sendiri.

Pertanyaannya hari ini adalah masihkah ada opuk dikampungmu? ***

 

 

  • Penulis: Moehctar Nasution
  • Editor: Dahlan Batubara

Rekomendasi Untuk Anda

  • Teroris RI bukan jaringan Osama

    Teroris RI bukan jaringan Osama

    • calendar_month Minggu, 8 Mei 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA – Selama ini, aksi teror yang terjadi di Indonesia selalu dikaitkan dengan Al Qaidah miliknya Osama Bin Laden. Bahkan kematian Osama pun dikhawatirkan akan membuat jaringan teror di Indonesia kembali marak sebagai aksi balas dendam. Ketakutan ini dibantah mantan . “Tidak ada efek besar dari tewasnya Osama Bin Laden terhadap teroris di Indonesia,” kata […]

  • H Sawaluddin Nasution Sahuti Permintaan Warga Banjar Sauh

    H Sawaluddin Nasution Sahuti Permintaan Warga Banjar Sauh

    • calendar_month Minggu, 25 Jun 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN(Mandailing Online) – Pengusaha sekaligus Anggota DPRD Kabupaten Mandailing Natal (Madina) dari fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sawaluddin Nasution sahuti permintaan warga dengan memberikan bantuan Speaker aktif di Lingkungan III Banjar Sauh, Kelurahan Panyabungan II Kabupaten Madina. Minggu (25/06/2023). Bantuan berupa Speaker aktif ini diserahkan Sawaluddin yang diterima langsung oleh Lurah Panyabungan II Abdul Aziz […]

  • Reses Fahrizal, Penguatan Hubungan Legislator dengan Pemilih

    Reses Fahrizal, Penguatan Hubungan Legislator dengan Pemilih

    • calendar_month Jumat, 2 Des 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Reses anggota DPRD Sumut, H. Fahrizal Efendi Nasution di Kecamatan Panyabungan, Mandailing Natal, Jum’at (2/12/2022) dihadiri warga dengan antusias. Reses berlangsung di Kelurahan Panyabungan II dan Desa Pagaran Tonga. Di Desa Pagaran Tonga, Kecamatan Panyabungan, antusias warga juga sangat tinggi, meski reses berlangsung malam, Jum’at (2/12/2022). Hubungan antara legislator (anggota DPRD […]

  • Relasi Kadin dan Pemkab Madina Penting di Progres KEK

    Relasi Kadin dan Pemkab Madina Penting di Progres KEK

    • calendar_month Sabtu, 22 Feb 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Progres Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) menjadi wacana penting di Rapat Kerja Daerah Kadin Madina, selain aspek-aspek kinerja lainnya. Rapat Kerja Daerah (Raker) itu berlangsung di aula Hotel Rindang, Panyabungan, Mandailing Natal (Madina), Sabtu (22/2/2020) dihadiri Ketua Kadin Sumut, Ivan Iskandar Batubara bersama pengurus Kadin Sumut lainnya, juga dihadiri Bupati Madina, […]

  • Polres Madina Sita 205 Pucuk Senjata Mainan

    Polres Madina Sita 205 Pucuk Senjata Mainan

    • calendar_month Kamis, 28 Mei 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Polres Madina menyita 205 pucuk senjata mainan dalam beberapa hari terakhir. Selain itu disita juga 8 ketapel plastik, 98 buah petasan berbagai jenis. Penyitaan penyitaan itu berlangsung dalam rangkaian razia petasan dan senjata mainan. Penertiban dan razia petasan dilakukan menjelang hari raya Idul Fitri. Sementara penertiban senjata mainan menggunakan peluru butiran […]

  • DPRD Madina Temukan Banyak Kejanggalan Tender di Dinas PU

    DPRD Madina Temukan Banyak Kejanggalan Tender di Dinas PU

    • calendar_month Kamis, 17 Okt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 3Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – DPRD Mandailing Natal (Madina) banyak menemukan kejanggalan pada pelaksanaan proses tender LPSE (Layanan Pengadaan Cara Elektronik) di Dinas Pekerjaan Umum Madina. “Tidak masuk logika bila ada satu perusahaan bisa memenangkan paket proyek 18 milyar lebih padahal kelas perusahaan yang ikut dalam proses tender itu sama kualifikasinya ataupun kelasnya dengan yang lain,” […]

expand_less