Cinta Rakyat kepada Indonesia: Jangan Biarkan Bertepuk Sebelah Tangan
- account_circle Dina Syarifah Nasution
- calendar_month 29 menit yang lalu
- print Cetak

Oleh: Dina Syarifah Nasution, M.Pd
Dosen STAIN Madina / Pegiat di GEREP INSTITUTE
Di tengah berbagai keterbatasan hidup, ada pemandangan yang sesungguhnya sangat mengharukan setiap kali Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tiba. Para orang tua rela mengeluarkan uang untuk membiayai anak-anak mereka mengikuti berbagai kegiatan perayaan kemerdekaan. Ada yang membeli pakaian, perlengkapan lomba, makanan, hingga berbagai kebutuhan lainnya.
Mungkin hari ini kantong mereka berkurang. Bahkan, bisa jadi besok belum tentu masih ada banyak uang yang tersisa. Namun mereka tetap tersenyum dan berkata, “tidak apa-apa, yang penting anak-anak senang merayakan kemerdekaan.”
Di balik kesederhanaan itu ada keyakinan yang begitu besar: rezeki tidak hanya datang dari apa yang ada di tangan, tetapi dari kekuasaan Allah SWT.
Bukankah kemerdekaan Indonesia sendiri adalah sebuah perjalanan panjang yang penuh perjuangan dan pengorbanan? Pada akhirnya, bangsa ini berdiri sebagai negara merdeka atas perjuangan para pahlawan dan atas kehendak serta kuasa Allah SWT. Karena itu, cinta kepada Indonesia bagi rakyat kecil bukan sekadar kata-kata. Mereka membuktikannya dengan pengorbanan, meskipun dalam kesederhanaan.
Rakyat rela berkorban untuk negeri ini. Mereka bekerja, membayar pajak, mendidik anak-anak, menjaga lingkungan, mengikuti upacara, memasang bendera, dan merayakan kemerdekaan dengan kemampuan yang mereka miliki.
Maka sudah sepatutnya cinta rakyat itu dibalas dengan cinta dari para pemimpin dan para pelayan masyarakat.
Para pejabat negara, pemimpin daerah, dan seluruh penyelenggara pemerintahan hendaknya menyadari bahwa jabatan bukanlah kesempatan untuk memperkaya diri, melainkan amanah untuk mengabdi. Bangunlah Indonesia dengan kejujuran. Jauhkan negeri ini dari korupsi, kolusi, dan nepotisme. Jangan biarkan kepentingan pribadi mengalahkan kepentingan rakyat.
Rakyat kecil mungkin tidak memiliki kekuasaan besar. Mereka mungkin tidak memiliki akses ke ruang-ruang pengambilan keputusan. Tetapi merekalah yang terus menjaga api kecintaan kepada Indonesia tetap menyala.
Jangan biarkan cinta rakyat kepada bangsanya menjadi cinta yang bertepuk sebelah tangan.
Ketika rakyat rela mengeluarkan uang terakhir yang mereka miliki demi membuat anak-anak mereka merasakan kebahagiaan dalam merayakan kemerdekaan, maka negara juga harus hadir memberikan rasa aman, keadilan, kesejahteraan, pendidikan yang baik, serta masa depan yang lebih cerah bagi mereka.
Kemerdekaan bukan hanya tentang bebas dari penjajahan. Kemerdekaan juga harus berarti bebas dari ketidakadilan, bebas dari keserakahan, bebas dari korupsi, dan bebas dari segala bentuk penyalahgunaan kekuasaan.
Mari kita jadikan peringatan kemerdekaan tahun ini sebagai momentum untuk kembali bertanya kepada diri sendiri: sudahkah kita benar-benar mencintai Indonesia dengan cara yang nyata?
Untuk rakyat, teruslah mencintai negeri ini dengan ketulusan.
Untuk para pemimpin, balaslah cinta itu dengan pengabdian.
Untuk para pejabat dan pelayan masyarakat, jagalah amanah dengan kejujuran.
Dan untuk kita semua, mari terus percaya bahwa Indonesia yang lebih baik bukanlah sesuatu yang mustahil selama kita mau bekerja, berjuang, dan menjaga negeri ini bersama-sama.
Jayalah negeriku. Jayalah Indonesiaku.
Negeri indah tempat matahari terbit setiap harinya. Negeri yang kaya akan budaya, alam, dan manusia-manusia yang mencintainya dengan segenap hati.
Dirgahayu Republik Indonesia.
Merdeka!
- Penulis: Dina Syarifah Nasution
- Editor: Dahlan Batubara


