Minggu, 27 Sep 2026
light_mode

PARPOL HARUS IKUT BAHAS R-APBD MADINA 2027

  • account_circle Ludfan Nasution
  • calendar_month 0 menit yang lalu
  • print Cetak

Oleh: Muhammad Ludfan Nasution – Koordinator Mandailing Epicentrum

 

 

Parpol mestinya tak hanya bekali Caleg dengan atribut, tapi juga tingkatkan vitalitas kader di DPRD dengan kemampuan advokasi (politik) anggaran.

Pembahasan R-APBD Madina 2027 semestinya tidak hanya menjadi urusan TAPD dan DPRD. Ada satu institusi yang perlu ikut memberi perhatian ekstra dari sisi yang berbeda, yaitu: partai politik.

Peran itu tidak untuk mencampuri kewenangan DPRD.

Bukan pula untuk mengatur proyek.

Tetapi untuk memastikan kader partai yang duduk di DPRD memiliki bekal politik anggaran ketika berhadapan dengan konsepsi teknokratis pemerintah.

Sebab, antara keduanya, ada perbedaan mendasar.

TAPD datang dengan perangkat teknis: proyeksi pendapatan, belanja wajib, nomenklatur program, indikator, asumsi fiskal dan kemampuan keuangan daerah.

DPRD membawa mandat politik.

Pertanyaannya: apakah mandat politik itu sudah diterjemahkan menjadi politik anggaran yang dapat digunakan untuk menguji R-APBD?

BELAJAR DARI ANGKA

Kita punya alasan untuk mengajukan pertanyaan tersebut.

RPJMD Madina 2025–2029 memproyeksikan pendapatan daerah 2027 sekitar Rp2,222 triliun. Ya, angka yang sangat optimis.

Tetapi dalam Rancangan P-APBD 2026, pendapatan daerah justru berada sekitar Rp1,741 triliun.

Ada selisih sekitar Rp481 miliar antara proyeksi RPJMD 2027 dengan posisi pendapatan dalam P-APBD 2026.

Untuk mencapai angka proyeksi RPJMD tersebut, pendapatan harus tumbuh sekitar 27,6% dari basis P-APBD 2026.

Pertanyaannya sederhana: Dari mana tambahan Rp481 miliar itu akan diperoleh?

Pertanyaan ini bukan untuk menyalahkan siapa pun. Ia justru contoh bagaimana DPRD seharusnya membaca APBD: membandingkan rencana dengan kenyataan, lalu menguji asumsi di belakang angka.

Lebih jauh lagi, proyeksi RPJMD 2027 menempatkan PAD sekitar Rp208,92 miliar, sedangkan P-APBD 2026 memproyeksikan PAD sekitar Rp176,66 miliar.

Transfer bahkan menjadi sumber yang jauh lebih dominan.

Maka pertanyaan berikutnya: Apakah APBD 2027 sedang dibangun di atas peningkatan kapasitas ekonomi daerah atau terutama menunggu peningkatan transfer?

Ini pertanyaan politik anggaran.

JANGAN BERHENTI PADA “BERAPA?”

APBD tidak cukup dibaca dengan pertanyaan: “Berapa anggarannya?”

Harus dilanjutkan: “Untuk apa?”

“Siapa yang menerima manfaat?”

“Apa hasilnya?”

“Kapan hasilnya dapat ditagih?”

Misalnya, belanja modal pada P-APBD 2026 naik dari sekitar Rp73,94 miliar menjadi Rp107,72 miliar. Kenaikannya, mencapai Rp33,77 miliar.

Tetapi angka tersebut masih berada di bawah belanja modal APBD 2025 yang sekitar Rp135,76 miliar.

Sementara dalam proyeksi RPJMD 2027, belanja modal diperkirakan mencapai sekitar Rp235,95 miliar.

Maka DPRD tidak cukup bersorak karena belanja modal naik.

Pertanyaan yang lebih penting: Apa yang akan dibangun? Di mana? Untuk siapa? Apa indikator keberhasilannya? Dan apakah kemampuan pelaksanaannya sebanding dengan kenaikan anggaran?

Begitulah angka berubah menjadi kebijakan.

 

CELAH PARPOL

Partai politik sebenarnya dapat melakukan sesuatu yang sangat konkret.

Membekali anggota DPRD dengan politik anggaran partai, atau apa yang disebut dengan kemampuan meng-advokasi anggaran.

Setiap partai tentu memiliki visi, program dan janji politik. Tetapi program politik akan kehilangan makna apabila tidak pernah diuji ketika APBD dibahas.

Karena itu, sebelum memasuki ruang pembahasan, partai dapat menyusun semacam matriks politik anggaran: PROGRAM PARTAI → MASALAH RAKYAT → TARGET → KEBUTUHAN ANGGARAN → POS APBD → INDIKATOR HASIL.

Jika pendidikan menjadi prioritas, misalnya, pertanyaannya bukan sekadar berapa anggaran pendidikan.

Tetapi: Masalah pendidikan apa yang hendak diselesaikan? Berapa sekolah? Berapa anak? Berapa kebutuhannya? Di mana lokasinya? Apa target 2027? Dan berapa anggaran yang diperlukan?

Begitu pula dengan jalan produksi, pertanian, kesehatan, UMKM, pemuda, lapangan kerja, pariwisata, ekonomi pesisir dan berbagai agenda lainnya.

Dengan cara itu, anggota DPRD tidak hanya membawa daftar aspirasi.

Mereka membawa konsepsi.

 

APBD: CERMIN PROGRAM PARTAI

Di sinilah politik anggaran menjadi menarik.

Partai mengukur APBD dengan programnya.

Sebaliknya: Rakyat mengukur partai dengan jejak programnya dalam APBD.

Rantai politiknya menjadi jelas: PROGRAM PARTAI → KADER DPRD → POLITIK ANGGARAN → APBD → PROGRAM PUBLIK → HASIL → EVALUASI RAKYAT.

Kalau rantai ini hidup, partai tidak hanya hadir menjelang pemilu.

Ia hadir ketika uang publik dibahas.

Ia hadir ketika prioritas pembangunan ditentukan.

Ia hadir ketika hasil pembangunan harus dipertanggungjawabkan.

 

MOMENTUM PENGUATAN PARPOL

Seperti yang kami gambarkan dalam artikel berjudul “Gugatan Politik dari Survey Terbaru: Mengapa Parpol Masih Jauh dari Rakyat”, temuan survei nasional Poltracking pada Agustus 2026 mencatat 66,8% responden menyatakan tidak dekat dengan partai politik, sementara 12,3% menyatakan dekat. Temuan ini adalah gambaran nasional, bukan ukuran khusus Madina.

Tetapi ia cukup menjadi alarm untuk bertanya: Bagaimana parpol membangun kembali kedekatan psikologis dengan rakyat?

Mungkin salah satu jawabannya justru ada di meja APBD.

Bukan dengan lebih banyak baliho.

Bukan dengan lebih banyak slogan.

Tetapi dengan membuat wakil rakyatnya mampu mengatakan kepada konstituen:

Uang daerah kita berapa. Datang dari mana. Akan dibelanjakan untuk apa. Siapa yang menerima manfaat. Apa hasil yang harus dicapai. Dan apa yang harus kita tagih bersama.

Itulah pendidikan politik yang konkret.

 

BUKAN HARUS JADI AKUNTAN

Anggota DPRD tentu tidak harus menjadi akuntan.

Tetapi mereka harus mampu mengajukan pertanyaan yang tepat.

Apa yang direncanakan?

Apa yang terjadi?

Mengapa berbeda?

Apa koreksinya?

Dan satu pertanyaan pamungkas:

“Jika program ini dibiayai uang rakyat, perubahan apa yang harus terlihat?”

Sederhana.

Tetapi jika pertanyaan itu dibawa secara konsisten oleh seluruh fraksi, pembahasan APBD dapat bergerak dari sekadar membaca angka menuju menguji kebijakan.

TAPD membawa kemampuan teknokratis.

DPRD membawa mandat politik.

Parpol menyediakan konsepsi politik anggaran.

Dan rakyat menjadi pemilik mandat sekaligus penguji hasilnya.

Maka R-APBD Madina 2027 bukan hanya soal berapa triliun rupiah yang disahkan.

Ia adalah ujian apakah program politik benar-benar mampu menemukan jalannya menuju anggaran publik.

Sebab pada akhirnya: Program tanpa anggaran adalah janji.
Anggaran tanpa konsepsi adalah administrasi.
Politik anggaran mempertemukan keduanya.

Dan ketika uang publik telah menjadi APBD, pertanggungjawabannya bukan hanya kepada rakyat.

Ia juga amanah di hadapan Tuhan. ***

 

  • Penulis: Ludfan Nasution
  • Editor: Dahlan Batubara

Rekomendasi Untuk Anda

  • Polri: Tak ada penjemputan paksa

    Polri: Tak ada penjemputan paksa

    • calendar_month Sabtu, 6 Okt 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA, (MO) – Kepada Divisi Humas Mabes Polri, Irjen Pol Suhardi Aliyus membantah telah mengirimkan personel Provos ke KPK untuk menjemput paksa lima anggotanya yang bertahan menjadi penyidik di KPK. Berdasar pesan singkat yang diterima Republika, Jumat (5/10), Suhardi menyatakan telah menelpon langsung Karo Provos. “Tidak Benar. Baru saja saya menelpon Karo Provos yang sudah […]

  • Pemerintah dan Kadin Sepakat Genjot Kawasan Ekonomi Khusus Madina

    Pemerintah dan Kadin Sepakat Genjot Kawasan Ekonomi Khusus Madina

    • calendar_month Senin, 10 Feb 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      JAKARTA (Mandailing Online) – Pemerintah dan Kadin menyepakati kelanjutan pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Mandailing Natal (Madina) karena memiliki prospek yang bagus. Berdasar kajian dan analisa yang dilakukan pemerintah Indonesia serta Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sumatera Utara disimpulkan KEK Madina mengandung peluang dan potensi besar sebagai salah satu kawasan ekonomi di sepanjang […]

  • Inspektorat Madina Harus Usut Kegagalan Program SRI

    Inspektorat Madina Harus Usut Kegagalan Program SRI

    • calendar_month Jumat, 13 Jun 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Inspektorat harus segera mengusut gagalnya program optimalisasi pertanian dalam program SRI (System of Race Intencification) tahun anggaran 2013 dan 2014 Kabupaten Mandailing Natal (Madina) yang bersumber dari APBN tersebut. “Diduga anggaran yang diperuntukkan untuk kelompok tani itu banyak yang diselewengkan oleh oknum yang ada di Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Madina, […]

  • Harga Daging Mahal, Bupati Madina Sampaikan Aspirasi Kaum Ibu

    Harga Daging Mahal, Bupati Madina Sampaikan Aspirasi Kaum Ibu

    • calendar_month Sabtu, 29 Mar 2025
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Bupati Mandailing Natal (Madina), Saipullah Nasution menyampaikan aspirasi kaum ibu kepeda pedagang terkait harga daging di Panyabungan lebih mahal dibandingkan di Sidimpuan. “Kami berkeliling ke beberapa tempat dan ada aspirasi masyarakat, aspirasi ibu-ibu yang katanya harga daging di Panyabungan lebih mahal dibandingkan di Sidimpuan misalnya,” kata bupati memulai diskusi dengan pedagang […]

  • 4 Orang Terbakar, Penjual Minyak Tanah Eceran Dipukuli Warga

    4 Orang Terbakar, Penjual Minyak Tanah Eceran Dipukuli Warga

    • calendar_month Senin, 1 Feb 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    KOTANOPAN (Mandailing Online) : Seorang pengecer minyak tanah, Minggu siang (31/1) sekitar pukul 13.00 Wib dipukuli warga desa Manambin Kecamatan Kotanopan, Mandailing Natal. Pria bernama Asnawi Lubis alias Lokot (45) warga Jorong Hutanauli, Kelurahan Rao, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat dipukuli warga karena mencoba melarikan diri setelah minyak tanah yang dibawanya terbakar menyebabkan korban luka. Informasi […]

  • Pimpinan DPRD Madina Beda Rombongan Awasi Ujian CPNS

    Pimpinan DPRD Madina Beda Rombongan Awasi Ujian CPNS

    • calendar_month Senin, 4 Nov 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pimpinan DPRD Mandailing Natal (Madina) berpisah rombongan pada pengawasan dan pemantauan ujian CPNS di Madina, Minggu (3/11/2013). Wakil Ketua DPRD Madina, Fakhrizal Efendi Nasution memimpin Tim Komisi I DPRD Madina melakukan pengawasan ketat. Sementara Ketua DPRD Madina, As Imran Khitamy Daulay berada dalam rombongan Plt. Bupati Dahlan Hasan Nasution bersama Muspida […]

expand_less