KETIKA KISAH CINTA BERTUTUR DI LEMBAR DEDAUNAN MANDAILING
- account_circle Moechtar Nasution
- calendar_month 2 menit yang lalu
- print Cetak
Oleh: Moechtar Nasution

…
Ketika mendengar nama Mandailing, benak kita kerap kali langsung menangkap gemuruh yang megah. Kita membayangkan deretan sembilan gendang ukuran raksasa Gordang Sambilan yang bertalu-talu membelah langit, atau keteguhan struktur Dalihan Na Tolu yang kokoh menjaga tatanan sosial atau tiang-tiang kokoh Bagas Godang. Narasi besar ini selalu menampilkan Mandailing sebagai manusia yang gagah, tegak dan terstruktur. Namun cobalah selami kedalam kehidupan sehari-hari yang paling intim dan bersahaja puluhan tahun atau ratusan tahun dimasa lampau, dan melangkahlah sedikit lebih pelan, menepi dari riuh upacara adat, melihat ke pekarangan rumah atau rumah berdindingkan “gogat” yang sunyi niscaya kita akan menemukan sebuah sudut tersembunyi yang hampir tidak pernah dibicarakan orang yakni sebuah ruang komunal yang penuh melankolis, kelembutan jiwa, dan keromantisan yang sunyi melalui bahasa daun.
Leluhur Mandailing adalah para filsuf kehidupan yang paham betul bahwa perasaan manusia—terutama cinta yang membuncah—terlalu suci dan terlalu dalam untuk sekadar diobral dengan kata-kata lisan yang bising. Di masa lalu ketika aturan adat dan norma kesantunan begitu ketat membatasi interaksi langsung antara pemuda (naposo bulung) dan gadis (nauli bulung) tidak lantas membuat cinta mereka langsung mati terpakar.
Cinta itu bagi orang Mandailing justru memilih jalan yang sangat puitis. Cinta itu bertransformasi menjadi Hata Bulung-bulung atau yang dalam catatan kolonial disebut Bladerentaal (Bahasa Daun-daunan). Ini adalah surat cinta paling rahasia di dunia, sebuah sandi asmara visual yang tidak menggunakan goresan tinta, melainkan alfabet yang dipetik langsung dari rahim alam.
Keunikan tradisi ini bahkan mencuri perhatian seorang ahli bahasa asal Belanda, Prof. Ch.A. van Ophuijsen. Saat ia menjabat sebagai pimpinan Kweekschool (sekolah guru) di Padangsidimpuan, pandangan akademisnya terpikat oleh ketajaman rasa masyarakat Mandailing. Ia mencatat sebuah kesimpulan yang menakjubkan bahwa orang Mandailing adalah satu-satunya suku bangsa yang memiliki bahasa daun. Catatan sejarah itu seolah mengamini sebuah kebenaran universal bahwa di balik pembawaan masyarakatnya yang tampak tegas, tersimpan sebuah kecerdasan emosional yang teramat peka dan tidak ditemukan di belahan bumi mana pun.
Rahasia terbesar dari kecerdasan ini terletak pada bagaimana alfabet hijau tersebut dipilih. Pilihan daun sebagai kosakata Bladerentaal terutama didasarkan pada persamaan atau kemiripan lafal (rima) antara nama daun tersebut dengan kata-kata dalam bahasa Mandailing sehari-hari. Namun, yang membuat tradisi ini terasa teramat intim dan magis adalah kenyataan bahwa sebagian besar dari dedaunan ini bukanlah tumbuhan liar.
Mereka adalah tanaman obat tradisional yang biasa diramu sebagai pulungan ni ubat (ramuan obat-obatan kampung). Ada lapisan filosofi yang sangat menyentuh di sini bahwa leluhur Mandailing secara sadar memilih tanaman penyembuh luka fisik untuk menyampaikan getaran hati. Seolah-olah sejak awal mereka sudah tahu bahwa cinta dan kerinduan adalah sejenis rasa sakit yang membutuhkan obatnya sendiri, dan alam telah menyediakan penawarnya pada helai-helai daun yang ada disekitar.
Membaca kiriman daun ini adalah seni meraba rasa dengan kedalaman jiwa. Ketika seorang pemuda merindukan kekasihnya namun terhalang oleh dinding adat, ia akan menyelinap ke jalan setapak untuk menyelipkan seikat pulungan rahasia. Jika ia mengirimkan bulung sitarak, dedaunan itu akan berbisik lirih tentang kata marsarak (berpisah atau berjauhan). Dan jika rindu itu mulai menyiksa batinnya hingga tak tertahankan, ia akan menyandingkannya dengan bulung sitanggis—sebuah lambang puitis dari kata tangis (menangis karena rindu).
Namun bagian paling indah dan intim dari komunikasi sunyi ini terjadi ketika sang gadis memutuskan untuk memberikan jawaban. Bayangkan sebuah percakapan rahasia yang bergetar tanpa satu pun suara di antara bilah pagar. Ketika sang gadis ingin membisikkan isi hatinya untuk menyatakan kesediaan, kemauan, atau menerima seluruh ketulusan cinta itu—ia tidak akan mengucapkannya lewat bibir yang gemetar. Ia cukup mengirimkan balasan berupa ikatan dua jenis daun pakis. Ia memetik bulung ni pau (daun pakis hijau) yang secara rima bunyi bermakna au (aku atau pada saya). Di sampingnya, ia menyelipkan selembar pau rara (pakis merah) yang bermakna ra (mau atau bersedia). Ketika kedua daun pakis itu bersentuhan dalam satu ikatan yang erat, mereka menjelma menjadi kalimat paling jujur sekaligus berani di tanah Mandailing yakni ra au yang berarti “saya mau”.
Meskipun terkesan bebas dalam keliaran imajinasi asmara, Hata Bulung-bulung sejatinya berpijak pada fondasi moralitas yang sangat tinggi. Di sinilah letak kedalaman filosofinya bahwa bahasa daun bukan sekadar permainan cinta belaka anak muda melainkan sebuah instrumen estetika yang tunduk pada nilai luhur dan kesantunan sosial.
Sebab cinta bagaimanapun tidak selamanya berakhir pada pelukan hangat pertemuan. Ada kalanya ia harus merawat kepedihan perpisahan yang teramat sunyi, di mana etika adat memaksa rasa harus mengalah pada kepatuhan. Di sinilah Hata Bulung-bulung menjelma menjadi ratapan batin yang paling melankolis. Bayangkan seseorang yang terpaksa menjauh dari belahan jiwanya, lalu mengirimkan seuntai ikatan dedaunan yang disusun lambat-lambat dengan air mata: bulung sitarak, bulung niadungdung, bulung ni sitata, bulung sitanggis, bulung ni podom-podom, jala bulung ni pau.
Saat jemari menerima anyaman itu, tak perlu ada jeritan duka. Rima urutan dedaunan itu mengalirkan pesan yang teramat perih ke lubuk hati: “Dung do hita marsarak, laing najolo tangis do au anso modom.” Sejak kita berpisah, aku selalu menangis baru bisa memejamkan mata dan tertidur.
Dedaunan itu bukan lagi sekadar bagian dari pulungan ni ubat untuk menyembuhkan raga, melainkan saksi atas hidup yang dingin, malam-malam yang panjang, dan bantal yang basah oleh air mata kerinduan. Filosofi ekologis Mandailing meyakini bahwa rasa sakit tidak boleh membebani dada sendirian. Ia harus dititipkan pada urat-urat daun podom-podom (daun putri malu) agar alam ikut memeluk dan menidurkan jiwa yang sedang patah.
Di zaman sekarang, ketika jarak ditiadakan oleh ketukan jempol di atas layar kaca ponsel, anak muda menyatakan cinta dengan begitu instan namun kerap kali kehilangan maknanya yang sakral. Bladerentaal zaman dahulu menghentak kesadaran modern kita tentang esensi sebuah penantian dan ketulusan. Aturan adat masa lalu tidak membuat pemuda-pemudi Mandailing frustrasi atau bertindak kasar namun ruang gerak yang terbatas justru melahirkan sebuah literasi ekologis yang teramat romantis.
Mereka merayu tanpa menyentuh, menyampaikan hasrat tanpa melanggar kehormatan diri, dan menjadikan isi hutan serta pekarangan rumah sebagai saksi bisu yang santun. Daun pakis dan pakis merah bukan lagi sekadar tumbuhan liar, melainkan perpanjangan jemari dan denyut nadi yang menyampaikan getaran hati ke seberang dinding rumah.
Menjelajahi Mandailing lewat seikat daun rindu adalah sebuah perjalanan mengetuk pintu hati yang paling personal. Pengakuan dari Van Ophuijsen dimasa lalu menyuguhkan kenyataan yang membalikkan semua stereotipe luar bahwa di balik ketegasan adat dan kegagahan fisiknya, manusia Mandailing adalah manusia yang merawat kelembutan batinnya dengan cara yang paling terhormat. Mereka mengajarkan kepada kita bahwa cinta, sedalam dan sesunyi apa pun ia disembunyikan, akan selalu menemukan jalannya sendiri untuk pulang dengan anggun—cukup lewat selembar daun pakis yang hijau dan sehelai pakis merah yang pasrah atau dengan daun yang lainnya.
Wallahu Aqlam Bisshawab…
- Penulis: Moechtar Nasution
- Editor: Moechtar Nasution




