Jiwa yang Menunduk pada Gunung
- account_circle Moechtar Nasution
- calendar_month 1 menit yang lalu
- print Cetak
Oleh: Moechtar Nasution
Koordinator Daerah n’BASIS (Pengembangan Basis Sosial Inisiatif & Swadaya) Madina*

…
Pengantar
Di bawah bentangan langit nusantara yang sangat luas terbentang satu kenyataan bahwa bumi dengan segala isinya yang kita pijak sesungguhnya tidak pernah benar-benar tertidur. Ia senantiasa bernapas, berdentum, dan sesekali melepaskan akumulasi energinya dalam bentuk yang paling murni sekaligus mengerikan. Itulah yang kita sering sebut dengan erupsi gunung berapi.
Namun bagi manusia modern yang hidup di abad ke-21 bencana alam tersebut sering kali direduksi sehingga mengalami perubahan makna dan menjadi sesuatu yang sangat kering. Ketika satu wilayah diguncang gempa atau dihujani abu, peristiwa tersebut segera diubah menjadi deretan angka yang dingin berupa indeks magnitudo, tinggi kolom abu dalam satuan meter, atau radius zonasi evakuasi resmi pemerintah. Semua dikurung melalui lensa statistik, menjabarkannya dalam grafik, dan mengira telah memahaminya hanya karena berhasil mengukurnya. Kecepatan arus informasi digital membuat kita mahir menghitung kerugian materi namun sering kali abai terhadap getaran spiritual yang bergejolak di kedalaman tanah.
Bagi masyarakat adat yang akar budayanya telah menghujam selama berabad-abad di sepanjang patahan Ring of Fire (Cincin Api Pasifik), gejolak vulkanik bukanlah sebuah anomali statistik yang harus diratapi dengan kepanikan masif. Bagi mereka, letusan gunung adalah ritme kosmis yang hidup, sebuah dialog berkala antara bumi yang memberi kehidupan dan manusia yang menumpang di atasnya.
Ketika Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali menunjukkan geliat erupsinya yang menerus pada September 2026, peristiwa itu tidak sekadar memicu alarm kesiapsiagaan dari lembaga mitigasi negara namun lebih dalam dari itu. Dentuman dari tengah laut tersebut membangunkan kembali memori kolektif yang lama terlelap dan menguji ketahanan budaya (cultural resilience) manusia nusantara.
Sebuah ikatan spiritual dan ketangguhan ekologis yang serupa ternyata juga dapat kita temukan jejaknya ribuan kilometer di belahan utara, tepatnya pada eksistensi sakral Gunung Sorik Marapi di tanah Mandailing, Sumatra Utara. Di sini kita disadarkan, bahwa di balik riuh rendahnya pemberitaan erupsi Anak Krakatau, ada jiwa yang sedang menunduk takzim dan mendengarkan gemuruh bumi dengan penuh rasa hormat.
Rahim Tektonik Tua
Membaca kembali riwayat agung kedua raksasa vulkanik ini adalah sebuah perjalanan spiritual melintasi ruang dan waktu untuk memahami bagaimana jati diri kebudayaan Indonesia sebenarnya ditempa oleh bencana. Secara ilmiah, baik Anak Krakatau maupun Sorik Marapi adalah produk dari dinamika tektonik lempeng yang sangat rumit. Namun, sejarah geologi mereka bukanlah sekadar catatan tentang batuan yang meleleh. Anak Krakatau adalah potret dari sebuah kelahiran kembali dari puing-puing kehancuran total dan sebuah manifesto alam bahwa kehidupan akan selalu menemukan jalan keluarnya.
Pada akhir Agustus tahun 1883, Gunung Krakatau induk mengalami erupsi kolosal bertipe Plinian yang mencatatkan diri sebagai salah satu amuk katastrofe paling mengerikan dalam ingatan planet bumi. Sulit bagi akal manusia untuk membayangkan kedahsyatan energinya; catatan sejarah vulkanologi modern mengestimasi bahwa kekuatan ledakan Krakatau 1883 setara dengan 13.000 kali daya ledak bom atom yang meluluhlantakkan Hiroshima di masa Perang Dunia II. Ledakan puncaknya menciptakan gelombang kejut akustik terbesar yang pernah dicatat sejarah, menggelegar membelah udara hingga terdengar sejauh 4.800 kilometer sampai ke Australia dan wilayah Afrika.
Dahsyatnya tekanan uap hidro-vulkanik kala itu seketika meruntuhkan lebih dari dua pertiga tubuh Gunung Krakatau masuk ke dalam laut dengan melahirkan lubang kaldera bawah laut yang menganga lebar dan memicu tsunami setinggi 40 meter. Gelombang raksasa yang bergerak secepat peluru itu menyapu bersih peradaban pesisir Banten serta Lampung, merenggut lebih dari 36.000 jiwa dalam hitungan jam dan melarutkan seluruh pemukiman ke dalam dekapan samudra.
Bumi mengalami luka yang teramat dalam dan dampaknya tidak berhenti di Selat Sunda semata namun jutaan ton abu vulkanik dan gas sulfur dioksida yang terlempar ke stratosfer membentuk tabir raksasa yang menyelimuti atmosfer bumi, menghalangi radiasi surya hingga mampu menurunkan suhu global planet ini selama lebih dari setahun.
Dari rahim laut yang terluka parah itulah, magma sisa di bawah bumi terus mendesak naik. Perlahan tapi pasti, batuan cair yang membeku akibat pelukan air laut menumpuk selama puluhan tahun hingga akhirnya menyembul ke permukaan sebagai pulau baru yang kini kita kenal sebagai Anak Krakatau.
Sementara itu di tanah Mandailing, Gunung Sorik Marapi terbentuk dari sebuah drama geologis yang sangat berbeda namun sama hebatnya. Ia lahir bukan dari sebuah ledakan tunggal yang meruntuhkan dirinya ke dalam air, melainkan dari proses robekan daratan yang berlangsung selama ratusan ribu tahun di sepanjang Sesar Besar Sumatra (The Great Sumatran Fault).
Akibat tabrakan miring Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia, kerak bumi di tanah Mandailing robek dan membentuk zona depresi tektonik. Melalui celah-celah robekan bumi inilah magma dari mantel dalam menerobos naik, berinteraksi dengan limpahan air tanah pegunungan, dan melahirkan rentetan letusan eksplosif. Proses panjang ini secara perlahan membangun tubuh Sorik Marapi menjadi sebuah gunung api kerucut berlapis-lapis (stratovolcano) yang kokoh berdiri setinggi 2.145 meter di atas permukaan laut.
Kedua gunung ini membuktikan secara radikal bahwa bentang alam Indonesia lahir dari rahim tektonik yang penuh pergolakan, di mana luka-luka bumi di masa lalu justru menjadi tempat lahirnya lanskap baru yang menopang peradaban manusia.
Jejak Erupsi Purba dan Detak Volkanologi Mandailing
Kehebatan riwayat Sorik Marapi sebagai salah satu pemegang kendali tektonik di Pulau Sumatra bukanlah sebuah isapan jempol, melainkan sebuah realitas objektif yang terekam tebal dalam dokumen vulkanologi dunia. Melalui catatan monumental Catalogue of the Active Volcanoes of the World yang dirintis sejak pertengahan abad ke-20, para ilmuwan mencatat bahwa raksasa Mandailing ini telah berulang kali menegaskan eksistensinya melalui letusan-letusan dahsyat yang mengubah wajah lembah di bawahnya.
Sejarah mencatat bahwa pada tanggal 8 September 1830, Sorik Marapi melepaskan salah satu amuk freatomagmatik terbesarnya. Gunung ini menjebol puncaknya sendiri, mengirimkan suara dentuman yang menggetarkan batuan dasar sedimen Mandailing, dan melontarkan kolom abu kelabu pekat berbentuk kembang kol raksasa setinggi 1.500 meter ke angkasa. Tekanan hidrotermal yang mahadasyat dalam perut bumi kala itu menyisipkan trauma sekaligus kekaguman mendalam pada peradaban awal yang bermukim di sekitarnya.
Siklus pergolakan itu tidak berhenti di abad kuno. Memasuki abad ke-20, Sorik Marapi mengubah karakter batiniahnya menjadi lebih tenang namun tetap mematikan melalui serangkaian erupsi freatik dan semburan lumpur panas. Pada Mei 1917 dan tahun 1970, instrumen vulkanologi mencatat letusan berskala kekuatan VEI 2 (Volcanic Explosivity Index) yang menghentak kawasan tersebut.
Pertemuan Api-Air vs Harmoni Api-Tanah
Perbedaan lanskap geografis tempat kedua gunung ini tumbuh pada akhirnya melahirkan sebuah komparasi filosofis elemen alam yang sangat kaya dan mendalam untuk direnungkan oleh jiwa manusia. Anak Krakatau adalah manifestasi dari pertemuan epik antara elemen api dan elemen air. Ia adalah api yang bergolak di atas hamparan samudra luas Selat Sunda. Lava pijar yang berpijar merah harus langsung berhadapan dengan dingin dan asinnya air laut. Karakteristik alam yang sedemikian rupa membentuk mentalitas budaya masyarakat pesisir Banten dan Lampung yang dinamis, terbuka terhadap perubahan, cair layaknya air laut, namun memiliki insting kewaspadaan yang sangat tajam. Mereka adalah pelaut dan nelayan yang terbiasa membaca riak gelombang, memahami bahwa ketenangan laut di atas permukaan sering kali menyimpan rahasia pergolakan magma di dasar kaldera. Kebudayaan air di Selat Sunda diajarkan untuk senantiasa fleksibel, tangguh, dan tidak mudah patah oleh gelombang takdir.
Sebaliknya, Gunung Sorik Marapi adalah representasi murni dari harmoni antara elemen api dan elemen tanah (bumi). Sebagai gunung api kontinental, Sorik Marapi berakar kuat di pedalaman Bukit Barisan, dikelilingi oleh lebatnya hutan tropis yang basah dan lembah-lembah agraris yang subur. Di sini, api tidak berhadapan langsung dengan samudra yang mengikis, melainkan didekap oleh tanah yang meredam dan memelihara. Perbedaan elemen pembentuk ini secara luar biasa melahirkan respons budaya material yang sangat spesifik, kontekstual, dan membumi di kalangan masyarakat Mandailing.
Jika manusia pesisir belajar mengalir bersama ombak, maka manusia lereng gunung belajar untuk berakar kuat di atas tanah. Peradaban di kaki Sorik Marapi tumbuh menjadi masyarakat agraris yang memiliki kedekatan batin yang sangat intim dengan ritme kesuburan bumi, merawat hutan, dan memahami bahwa kehangatan api di dalam perut gunung adalah energi tersembunyi yang menjaga denyut nadi kehidupan tumbuhan di atasnya.
Mahakarya Perisai Organik dari Lereng Sibanggor Julu
Kearifan ekologis dalam mempertemukan elemen api dan tanah ini tidak berhenti sebagai wacana abstrak dalam ingatan, melainkan termaterialisasi secara visual dalam wujud Bagas Ijuk—arsitektur rumah panggung tradisional yang beratapkan serat ijuk hitam dari pohon aren, yang hingga kini masih bisa dijumpai berdiri dengan anggun di Desa Sibanggor Julu. Jika kita memandang Bagas Ijuk hanya dari sudut pandang estetika arsitektur kuno yang eksotis, maka kita akan kehilangan makna filosofis terbesarnya. Penggunaan atap ijuk di lereng Sorik Marapi adalah sebuah teknologi adaptasi bencana yang sangat jenius dari para leluhur Mandailing. Mereka menyadari bahwa tinggal di kaki gunung api aktif berarti harus siap hidup berdampingan dengan hembusan gas asam dan hujan abu belerang yang turun secara periodik dari kawah aktif tanpa diketahui jadwalnya.
Di lingkungan yang pekat akan zat belerang seperti ini, teknologi modern yang diagungkan oleh manusia kota justru menjadi material yang sangat rapuh. Atap seng modern akan mengalami korosi hebat, berkarat, berlubang, dan hancur hanya dalam hitungan bulan jika terus-menerus terpapar uap asam Sorik Marapi. Namun, serat ijuk hitam—sebuah material organik yang disediakan secara melimpah oleh alam melalui pohon aren yang tumbuh di tanah mereka—terbukti memiliki sifat kimiawi yang luar biasa. Ijuk bersahabat erat dengan belerang karena ia bebal dan kebal terhadap korosi asam dan yang paling penting ia akan mampu bertahan menghadapi terpaan cuaca ekstrem hingga puluhan bahkan ratusan tahun tanpa perlu diganti.
Lebih dari itu struktur ijuk bertindak sebagai isolator termal alami yang sangat cerdas karena ia mampu memerangkap kehangatan di dalam ruangan ketika kabut dingin pegunungan turun menusuk tulang dan sebaliknya ia justru mengalirkan kesejukan ketika matahari terik membakar atap rumah.
Namun faktanya lembar sejarah kontemporer hari ini mencatat sebuah ironi. Jumlah Bagas Ijuk di lereng Sorik Marapi kini kian hari kian menyusut, menjadi semakin sedikit dan terancam punah di tanah kelahirannya sendiri. Modernisasi dan kalkulasi ekonomi jangka pendek perlahan mengikis kearifan arsitektur ini.
Pohon aren yang menjadi sumber serat ijuk kian langka karena pembukaan lahan sementara biaya serta keahlian khusus untuk merajut atap ijuk semakin mahal dan jarang diwarisi oleh generasi muda. Akibatnya, banyak warga beralih menggunakan atap seng atau asbes demi kepraktisan yang semu.
Di sinilah letak paradoks kebudayaan modern itu tercipta ketika manusia mengabaikan pengetahuan ekologis leluhur demi menghemat biaya di awal, padahal secara nyata mereka harus menghadapi kenyataan bahwa seng mereka akan hancur bolong diterpa belerang dalam hitungan bulan.
Melalui Bagas Ijuk yang semakin sedikit ini, kita diajarkan sebuah prinsip hidup yang sangat mendalam bahwa cara terbaik untuk selamat di atas tanah Cincin Api bukanlah dengan menantang atau memusuhi kekuatan alam menggunakan ego teknologi melainkan dengan merunduk dan mempercayakan keselamatan kita pada material-material rendah hati yang disediakan oleh rahim bumi sendiri.
Mitos Sebagai Kisah Penyelamat
Kebudayaan Nusantara yang adiluhung tidak hanya berhenti pada adaptasi fisik bangunan. Manusia-manusia masa lalu juga menjinakkan rasa takut mereka terhadap bencana melalui untaian bahasa spiritual, mitos, dan cerita rakyat. Di era modern, mitos sering kali disalahartikan secara pejoratif sebagai sebuah takhayul kuno atau kebohongan masa lalu yang tidak masuk akal. Namun, dalam kacamata antropologi budaya, mitos adalah “bahasa kemanusiaan” yang paling jujur.
Mitos adalah jembatan emosional yang digunakan oleh leluhur kita untuk menerjemahkan kedahsyatan semesta yang tidak terjangkau oleh akal manusia pada masanya, sekaligus menyisipkan instruksi keselamatan yang dibungkus dengan narasi sakral agar dipatuhi tanpa syarat oleh anak cucu mereka.
Di pesisir Selat Sunda, kedahsyatan letusan tahun 1883 diabadikan dalam ingatan kolektif melalui mitos tentang keris atau parang sakti seorang raja purba yang digoreskan ke tanah hingga membelah Pulau Jawa dan Sumatra. Ketika Anak Krakatau muncul kembali ke permukaan laut pada tahun 1930, masyarakat setempat tidak menyambutnya dengan ketakutan histeris yang membuat mereka mengungsi selamanya dari pesisir. Melalui folklor, mereka menobatkan gunung baru itu sebagai seorang “Anak” yang sah, seorang pewaris takhta kosmis yang sedang tumbuh dewasa menggantikan tugas ibunya untuk menjaga keseimbangan spiritual Selat Sunda. Ketika gunung tersebut terbatuk-batuk mengeluarkan abu vulkanik atau lava pijar, masyarakat pesisir memandangnya sebagai cara sang anak bernapas dan berkomunikasi dengan alam sekitarnya. Narasi kultural ini secara psikologis berhasil meredam kepanikan massal (mass panic), membiarkan masyarakat tetap hidup produktif di sekitar pesisir dengan batasan rasa hormat yang jelas yakni jangan pernah melewati radius aman yang telah ditentukan oleh alam bersanding elegan dengan instruksi pemerintah.
Kearifan yang jauh lebih intim dan sarat dengan nilai kosmologis dapat kita temukan di lereng Gunung Sorik Marapi melalui hukum adat dan kisah lisan yang mengakar kuat. Cerita rakyat di desa Sibanggor Julu meyakini bahwa kawah puncak Sorik Marapi dikuasai oleh entitas gaib sakral yang menuntut kemurnian mutlak dari siapa saja yang berniat mendakinya. Di sinilah lahir salah satu pantang larang (pantangan adat) yang paling ketat dan turun-temurun bahwa kaum perempuan dilarang keras untuk mendaki atau menapakkan kaki di wilayah puncak Gunung Sorik Marapi.
Bagi nalar modern sekuler, aturan tak tertulis ini mungkin terburu-buru dicap sebagai bentuk pembatasan sosial. Namun, jika kita menyelaminya dengan bahasa manusia dan empati kebudayaan yang mendalam, larangan ini sesungguhnya adalah bentuk penghormatan tertinggi adat terhadap marwah perempuan sekaligus benteng proteksi psikologis bagi komunitas.
Dalam kosmologi Mandailing kuno, perempuan dianggap sebagai perlambang kesuburan, kelangsungan hidup, dan “jantung” dari ruang domestik keluarga di lembah. Membawa perempuan mendekati bibir kawah aktif yang sewaktu-waktu bisa menyemburkan gas beracun (H₂S) atau mengalami letusan freatik fana, dipandang sebagai tindakan ceroboh yang mempertaruhkan masa depan peradaban.
Mitos ini juga mengajarkan bahwa kawah Sorik Marapi konon memiliki watak yang “cemburu” dan sensitif terhadap energi keduniawian. Kehadiran perempuan ke wilayah puncak diyakini bisa mengusik ketenteraman sang penjaga gaib dan memantik kemarahan gunung dalam bentuk kabut pekat yang membutakan mata atau hembusan angin belerang yang mematikan. Melalui narasi tabu ini leluhur Mandailing secara cerdas menciptakan sebuah mekanisme mitigasi bencana berbasis kultural (positive deterrence).
Batasan-batasan ini tidak diciptakan untuk mengekang, melainkan untuk menegaskan bahwa ada ruang-ruang di alam semesta ini yang harus dibiarkan suci, steril dari jamahan manusia, dan dihormati kedaulatannya. Lewat mitos dilarangnya perempuan naik ke puncak, masyarakat diingatkan setiap hari jika manusia tahu cara membatasi diri dan menghormati batasan mistis gunung, maka gunung pun akan dengan sukarela membentengi dan menjaga keselamatan jiwa-jiwa yang hidup di bawah kakinya.
Simfoni Enam Suara Alam di Awal September
Kehebatan filosofis dari relasi manusia dan gunung ini menemukan pembuktian realitasnya yang paling mutakhir pada jalinan peristiwa di awal September 2026. Bumi Indonesia tidak hanya mengirimkan satu peringatan, melainkan sebuah simfoni orkestrasi vulkanik yang megah sekaligus menegangkan. Dalam catatan ilmiah Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), wilayah Nusantara menyaksikan enam gunung api aktif bergejolak secara independen dalam rentang waktu yang sangat berdekatan [PVMBG].
Puncak dari simfoni ini dipimpin oleh Gunung Anak Krakatau yang memasuki fase erupsi menerus (sustained eruption) sejak Jumat malam, 4 September 2026. Letusan bertipe Strombolian ini memancarkan air mancur lava pijar ke angkasa, mengirimkan gelombang kejut akustik berupa dentuman keras yang menggetarkanrumah penduduk di Banten dan Lampung. Tirai abu kelabu ini berarak secara horizontal menyelimuti atmosfer di atas lima provinsi sekaligus: Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta, Lampung, hingga Bengkulu. Akibatnya realitas modernitas kota lumpuh seketika seperti operasional penerbangan di bandara utama, termasuk Bandara Internasional Soekarno-Hatta (CGK) dan Bandara Halim Perdanakusuma (HLP) terpaksa ditutup sementara. Di jantung ibu kota Jakarta, anak-anak sekolah dirumahkan untuk kembali belajar jarak jauh akibat paparan partikel abu vulkanik.
Namun gejolak di Selat Sunda bukanlah pertunjukan tunggal. Di ujung pulau Sumatra yang lain, Gunung Sinabung ikut terbatuk dan memuntahkan kolom abu setinggi 3.500 meter di atas puncaknya, memaksa PVMBG menaikkan statusnya menjadi Level III (Siaga). Secara bersamaan, denyut magmagis di daratan Jawa diwakili oleh letusan berkala Gunung Semeru yang melepaskan awan panas guguran, diikuti oleh kepulan abu kelabu dari Gunung Ibu di Maluku Utara, Gunung Ili Lewotolok, serta aktivitas Gunung Lewotobi Laki-Laki di Nusa Tenggara Timur.
Secara vulkanologi murni, PVMBG menegaskan sebuah fakta penting yang mematahkan mitos kepanikan bahwa rentetan letusan enam gunung ini sama sekali tidak saling memicu atau berhubungan secara sistemik. Masing-masing gunung berapi tersebut memiliki kantung magma (magma chamber) dan jalur pipa vulkanik yang sepenuhnya terpisah dan mandiri. Rentetan erupsi ini terjadi semata-mata karena posisi geografis Indonesia yang bertumpu di atas patahan subduksi sabuk tektonik dunia. Inilah realitas hakiki bumi Nusantara, sebuah tanah yang hidup di atas jalinan api bawah tanah yang dinamis.
Ketika enam gunung meletus hampir bersamaan di awal September 2026, alam sedang mengingatkan manusia melalui sains bahwa kita tidak pernah benar-benar menguasai bumi bahwa kita hanya sedang menumpang hidup di atas punggung raksasa yang sewaktu-waktu harus bernapas dan meregangkan tubuhnya.
Penutup
Rentetan peristiwa meletusnya enam raksasa vulkanik di seantero nusantara pada awal September 2026 ini bukanlah pertunjukan teatrikal alam yang jauh di ujung cakrawala. Bagi kita yang berdiam, bernapas, dan merajut kehidupan di bumi Mandailing, gemuruh Anak Krakatau di Selat Sunda serta batuk debu Semeru di tanah Jawa adalah sebuah lonceng peringatan kosmis yang bergema sangat dekat tepat di atas ubun-ubun kita.
Di bawah bayang-bayang Gunung Sorik Marapi yang berdiri kokoh mengawal lembah, rentetan letusan demi letusan erupsi dari beberapa gunung aktif ini menjelma menjadi sebuah pelajaran ilmiah yang teramat berharga sekaligus tamparan realitas bagi eksistensi kemanusiaan kita.
Kita harus segera sadar dari tidur panjang modernitas untuk menyadari bahwa ketenangan danau kawah belerang di puncak Sorik Marapi hari ini bukanlah sebuah keabadian yang mati melainkan sebuah jeda dinamis dari akumulasi energi mantel bumi yang sewaktu-waktu bisa menagih ruangnya kembali.
Secara ilmiah dan mitigasi taktis, peristiwa kontemporer ini mengajarkan kepada kita di Mandailing bahwa kesiapsiagaan tidak boleh hanya lahir ketika tanah mulai bergetar atau ketika satwa mulai keluar dari hutan.
Pelajaran terbesar dari lumpuhnya kota akibat abu Anak Krakatau menunjukkan betapa rapuhnya rantai peradaban modern ketika berhadapan dengan material piroklastik makro. Kita yang hidup berdampingan dengan Sorik Marapi harus mulai membaca kembali alfabet alam secara lebih presisi. Integrasi antara parameter sains berbasis teknologi seismograf milik pemerintah dan local knowledge (pengetahuan lokal) masyarakat Mandailing harus segera dirapatkan. Data kegempaan vulkanik formal harus mampu diterjemahkan ke dalam tindakan komunal yang cepat tanpa sedikitpun menggerus rasa hormat kita terhadap hukum adat leluhur.
Secara filosofis dan humanis, letusan-letusan di awal September ini menyodorkan cermin besar bagi jiwa-jiwa kita di Mandailing untuk merenungkan kembali bagaimana kita memperlakukan kearifan lokal, merawat tradisi adat, menjaga kelestarian hutan larangan, dan merawat jiwa yang senantiasa menunduk hormat pada keagungan gunung yang menghidupi kita.
Wallahu a’lam bishawab……
DAFTAR PUSTAKA
- Ashari, Arif. (2023). Bentanglahan Vulkanik Indonesia: Aspek Fisikal dan Kultural. Yogyakarta: ResearchGate Publication [Ashari].
- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). (2026). Laporan Khbaran Peta Iso-Abu Vulkanik Lintas Provinsi Klaster Selat Sunda. Jakarta: BMKG Indonesia [BMKG].
- Bemmelen, R. W. van. (1949). The Geology of Indonesia: Vol. 1A: General Geology. The Hague: Government Printing Office [Bemmelen].
- Novianti, Yenny, dkk. (2024). Tampilan Karakter Visual Kampung Tradisional Sibanggor Julu Sebagai Identitas Kawasan Wisata Budaya. Jurnal Ilmiah Malikussaleh, Vol. 3 (1): 114-125 [Novianti].
- Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). (2026). Evaluasi Berkala dan Zonalitas Sektoral Status Tingkat Aktivitas Level III (Siaga) Gunung Api Anak Krakatau. Bandung: MAGMA Indonesia [PVMBG].
- Simkin, Tom & Fiske, Richard S. (1983). Krakatau 1883: The Volcanic Eruption and Its Effects. Washington, D.C.: Smithsonian Institution Press.
- Suhadi, D., dkk. (2004). Inventarisasi Topografi Gunung Api Anak Krakatau. Bandung: Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (DVMBG) [Suhadi].
- Winchester, Simon. (2003). Krakatoa: The Day the World Exploded: August 27, 1883. New York: HarperCollins Publishers [Winchester].
- Yusuf, M. F. (2011). Letusan Gunung Krakatau 1883: Pengaruhnya Bagi Ekologi dan Gerakan Sosial Banten. Jurnal Masyarakat dan Budaya – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), 13(2): 225-246 [Yusuf].
*n’BASIS (Pengembangan Basis Sosial Inisiatif & Swadaya) adalah forum atau lembaga kajian sosial dan kemasyarakatan di Indonesia yang aktif memberikan analisis kritis terhadap kebijakan publik dan pembangunan.
- Penulis: Moechtar Nasution
- Editor: Dahlan Batubara




