Minggu, 13 Sep 2026
light_mode

Merawat Pelangi Nusantara: Falsafah Keberagaman Sebagai Jalan Peradaban Islam

  • account_circle Erna Dewi
  • calendar_month Rabu, 2 Sep 2026
  • print Cetak

Oleh: Erna Dewi

 

Indonesia merupakan negara kesatuan yang memiliki ribuan pulau. Luas wilayah Indonesia yang besar berpengaruh terhadap banyaknya keberagaman yang dimiliki. Bangsa Indonesia terdiri dari 1.340 suku, 718 bahasa, dan terbentang di 17.504 pulau. Sejak Kerajaan Sriwijaya, Majapahit, hingga Kesultanan, Nusantara sudah terbiasa hidup dalam perbedaan. Pedagang Gujarat, Tionghoa, Arab, dan Eropa datang silih berganti, tapi mereka tidak melebur jadi satu. Mereka berbaur, tetap bawa identitas, dan sama-sama membangun peradaban.

Sumpah Pemuda 1928 adalah titik kulminasi, “bertumpah darah satu, berbangsa satu dan berbahasa satu”. Di situ para pemuda dari berbagai suku sepakat menanggalkan ego kesukuan demi Indonesia. Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika lahir bukan untuk menyeragamkan, tapi untuk mempersatukan perbedaan. Keberagaman bisa muncul karena pengaruh kebudayaan asing yang memiliki ciri yang berbeda. Perbedaan tersebut biasanya terjadi lewat komunikasi atau budaya yang mereka bawa ke Indonesia. Sehingga terjadi akulturasi atau pencampuran unsur kebudayaan asing dengan kebudayaan Indonesia. Kondisi itu menjadikan sumber keberagaman tercipta, seperti suku, budaya, ras, dan golongan. Dengan kondisi tersebut menimbulkan perbedaaan dalam masyarakat. Pastinya satu pulau dengan pulau yang lain memiliki perbedaan atau karakteristik masing-masing.

Keberagaman Indonesia adalah ketetapan Tuhan, sebagaimana dijelaskan dalam surah Al-Hujurat:13 “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal”. Kata lita’arafu adalah kunci. Tujuan Allah menciptakan kita berbeda adalah agar kita saling mengenal, saling belajar dan saling menguatkan, bukan untuk saling menghina.

Islam datang bukan untuk menghapus perbedaan, Islam datang untuk mengatur perbedaan agar menjadi rahmat. Rasulullah SAW adalah orang yang paling cinta tanah air. Saat hijrah dari Mekah, beliau menoleh dan berkata: “Demi Allah, engkau adalah negeri yang paling aku cintai. Kalau bukan karena kaummu mengusirku, aku tidak akan keluar darimu”. Di Indonesia kita lihat buktinya, ada masjid gaya Jawa, gaya Aceh, gaya Minang. Ada NU, Muhammadiyah, Persis. Ada orang Bugis, Melayu, Jawa, semua salat di shaf yang sama, inilah wajah Islam Nusantara.

Rasulullah SAW hidup di Madinah yang isinya orang muslim, Yahudi, Nasrani, dan musyrik. Banyak sekali contoh keberagaman di Zaman Nabi, di antaranya Adalah:

  • Piagam Madinah: Konstitusi pertama yang menjamin hak semua warga negara berbeda agama dan suku, adanya keadilan, keamanan, dan tolong-menolong.
  • Menghormati Budaya Lokal: Nabi tidak memaksa semua orang Arab, Beliau mengakui adat selama tidak bertentangan dengan syariat, sesuai dengan kaidah fikih “Adat kebiasaan bisa menjadi hukum”.
  • Sahabat dari berbagai latar: Islam datang mempersatukan tanpa menyeragamkan, seperti Bilal dari Habasyah, Salman dari Persia, Shuhaib dari Romawi.

Ada beberapa bentuk keberagaman dalam Islam, di antaranya adalah:

  • Keberagaman Mazhab & Pemikiran. Ada 4 madzhab: Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hambali. Beda cara qunut, beda cara shalat, tapi tetap satu kiblat. Imam Syafi’i dan Imam Ahmad murid-guru tapi beda pendapat namun tidak saling menyesatkan.
  • Keberagaman Budaya/‘Urf. Lebaran di Jawa ada ketupat, di Minang ada rendang, di Aceh ada kuah pliek. Semua boleh dikonsumsi, selama halal dan tidak ada unsur syirik.
  • Keberagaman Bahasa. Al-Qur’an diturunkan bahasa Arab, tapi tafsirnya ada bahasa Indonesia, Jawa dan Bahasa lainnya. Adzan tetap dalam Bahasa Arab, tapi khutbah pakai bahasa lokal agar jamaah paham.
  • Keberagaman dalam Muamalah. Ada sistem ekonomi syari’ah, wakaf, zakat, koperasi. Setiap daerah boleh punya model sesuai potensi. Yang penting adalah menerapkan prinsip keadilan dan tidak merugikan sebelah pihak.

Islam dan kebangsaan tidak bertentangan justru saling menguatkan. Islam juga mengajarkan keadilan sebagai pondasi persatuan. Islam mengajarkan musyawarah yang merupakan ruh demokrasi Pancasila. Dan Islam mengajarkan cinta tanah air “hubbul wathan minal iman”, NU dan Muhammadiyah sudah buktikan dengan ikut andil kemerdekaan. Di Indonesia, Islam tidak memaksa semua jadi sama. Islam menyatu dengan budaya lokal, oleh sebab itu lahirlah Islam nusantara yang ramah, toleran, cinta damai.

Keberagaman adalah takdir dari Tuhan, persatuan adalah ikhtiar dari kita. Selama kita masih mau duduk semeja, makan dengan lauk berbeda, tapi minum dari gelas yang sama bernama Indonesia, maka pelangi Nusantara ini tidak akan pernah padam. Selama kita berpegang teguh kepada Al-Qur’an, Sunnah, dan akhlak Nabi, maka perbedaan tidak akan terpecahkan. Justru akan membuat Islam semakin indah dan Indonesia semakin kuat. Islam itu satu, tapi wajahnya banyak. Dan semuanya indah jika dipandang dengan mata rahmat. ***

 

  • Penulis: Erna Dewi
  • Editor: Dahlan Batubara

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tujuh Janin Menunggu Lamaran Kekasih, Potret Kian Suramnya Liberalisme Mencengkram Negeri

    Tujuh Janin Menunggu Lamaran Kekasih, Potret Kian Suramnya Liberalisme Mencengkram Negeri

    • calendar_month Rabu, 22 Jun 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Mariani Siregar, S.Pd.I, M.Pd.I Dosen Pendidikan Islam Ambyar! Seram! Seorang wanita yang kini jadi perbincangan berita karena telah menjadi tersangka atas kasus ditemukannya janin sebanyak tujuh di kontrakannya. Janin yang ternyata digugurkan oleh satu wanita yang sama dan sepuluh tahun lamanya. Konon, janin-janin itu selalu dibawa kemanapun si wanita pergi pindah kontrakan. Kejadian mengerikan […]

  • KPK Panggil Kepala Biro Keuangan Pemprov Sumut

    KPK Panggil Kepala Biro Keuangan Pemprov Sumut

    • calendar_month Selasa, 27 Agt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Medan, – Penyidikan kasus dugaan korupsi APBD Provinsi Sumatera Utara, mendekati titik terang. Wakapolri Komjel Pol Oegroseno, juga mendukung Komisi Pemberantsan Korupsi (KPK) memantau penyidikan kasus korupsi APBD Sumut di Polda Sumut. Demikian dikatakan Ketua Gerakan Transparansi Anggaran Rakyat (Getar) Arief Tampubolon di Medan, Senin (26/8/2013). “Kemarin saya ada komunikasi dengan Wakapolri melalui seluler, dia […]

  • KEUTAMAAN BULAN RAMADAN

    KEUTAMAAN BULAN RAMADAN

    • calendar_month Selasa, 14 Mei 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Bulan ramadhan adalah bulan yang mulia. Bulan ini dipilih  sebagai bulan untuk berpuasa dan pada bulan ini pula Al Qur’an diturunkan. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan […]

  • Dukcapil Deliserdang Sudah Mampu Cetak e-KTP

    Dukcapil Deliserdang Sudah Mampu Cetak e-KTP

    • calendar_month Kamis, 15 Jan 2015
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    Lubukpakam – Terhitung sejak Januari 2015, Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) Kabupaten Deliserdang telah dapat melakukan penyetakan Kartu Tanda Penduduk Elektronik (e-KTP). Karenanya, bagi warga yang belum merekam e-KTP agar melakukan perekaman di kantor camat masing-masing tanpa dipungut biaya apapun. "Selama ini pencetakan e-KTP di pusat, kita hanya melakukan perekaman.Tapi mulai Januari ini kita […]

  • Terkait Pemberitaan, Wartawan Waspada Diancam Akun Rizki Nasution

    Terkait Pemberitaan, Wartawan Waspada Diancam Akun Rizki Nasution

    • calendar_month Rabu, 21 Jun 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN(Mandailing Online): Salah satu wartawan media Harian Waspada Kabupaten Mandailing Natal mendapat ancaman berupa serangan dari akun facebook milik Rizki Nasution yang diduga merupakan warga desa Hutanamale, Kecamatan Puncak Sorik Marapi, Kabupaten Madina. Dalam percakapan singkat melalui messenger antara wartawan dengan pemilik akun Rizki Nasution, terlihat pemilik akun merasa tidak senang akibat pemberitaan yang dilakukan […]

  • Inflasi Tahunan Padangsidimpuan Terendah Nasional

    Inflasi Tahunan Padangsidimpuan Terendah Nasional

    • calendar_month Selasa, 16 Des 2014
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    Sibolga – Secara spasial, Pulau Sumatera mencatat inflasi 1,87% (mtm) pada bulan November 2014, atau lebih besar dibanding kawasan lainnya di Indonesia. Kondisi tersebut terpicu akibat kenaikan harga BBM bersubsidi, juga akibat kenaikan harga komoditas pangan strategis, khususnya cabai merah. "Pada November 2014, Sumatera Barat mengalami inflasi tertinggi di Indonesia dengan mencatatkan inflasi sebesar 3,27 […]

expand_less