Sabtu, 17 Okt 2026
light_mode

Merawat Pelangi Nusantara: Falsafah Keberagaman Sebagai Jalan Peradaban Islam

  • account_circle Erna Dewi
  • calendar_month Rabu, 2 Sep 2026
  • print Cetak

Oleh: Erna Dewi

 

Indonesia merupakan negara kesatuan yang memiliki ribuan pulau. Luas wilayah Indonesia yang besar berpengaruh terhadap banyaknya keberagaman yang dimiliki. Bangsa Indonesia terdiri dari 1.340 suku, 718 bahasa, dan terbentang di 17.504 pulau. Sejak Kerajaan Sriwijaya, Majapahit, hingga Kesultanan, Nusantara sudah terbiasa hidup dalam perbedaan. Pedagang Gujarat, Tionghoa, Arab, dan Eropa datang silih berganti, tapi mereka tidak melebur jadi satu. Mereka berbaur, tetap bawa identitas, dan sama-sama membangun peradaban.

Sumpah Pemuda 1928 adalah titik kulminasi, “bertumpah darah satu, berbangsa satu dan berbahasa satu”. Di situ para pemuda dari berbagai suku sepakat menanggalkan ego kesukuan demi Indonesia. Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika lahir bukan untuk menyeragamkan, tapi untuk mempersatukan perbedaan. Keberagaman bisa muncul karena pengaruh kebudayaan asing yang memiliki ciri yang berbeda. Perbedaan tersebut biasanya terjadi lewat komunikasi atau budaya yang mereka bawa ke Indonesia. Sehingga terjadi akulturasi atau pencampuran unsur kebudayaan asing dengan kebudayaan Indonesia. Kondisi itu menjadikan sumber keberagaman tercipta, seperti suku, budaya, ras, dan golongan. Dengan kondisi tersebut menimbulkan perbedaaan dalam masyarakat. Pastinya satu pulau dengan pulau yang lain memiliki perbedaan atau karakteristik masing-masing.

Keberagaman Indonesia adalah ketetapan Tuhan, sebagaimana dijelaskan dalam surah Al-Hujurat:13 “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal”. Kata lita’arafu adalah kunci. Tujuan Allah menciptakan kita berbeda adalah agar kita saling mengenal, saling belajar dan saling menguatkan, bukan untuk saling menghina.

Islam datang bukan untuk menghapus perbedaan, Islam datang untuk mengatur perbedaan agar menjadi rahmat. Rasulullah SAW adalah orang yang paling cinta tanah air. Saat hijrah dari Mekah, beliau menoleh dan berkata: “Demi Allah, engkau adalah negeri yang paling aku cintai. Kalau bukan karena kaummu mengusirku, aku tidak akan keluar darimu”. Di Indonesia kita lihat buktinya, ada masjid gaya Jawa, gaya Aceh, gaya Minang. Ada NU, Muhammadiyah, Persis. Ada orang Bugis, Melayu, Jawa, semua salat di shaf yang sama, inilah wajah Islam Nusantara.

Rasulullah SAW hidup di Madinah yang isinya orang muslim, Yahudi, Nasrani, dan musyrik. Banyak sekali contoh keberagaman di Zaman Nabi, di antaranya Adalah:

  • Piagam Madinah: Konstitusi pertama yang menjamin hak semua warga negara berbeda agama dan suku, adanya keadilan, keamanan, dan tolong-menolong.
  • Menghormati Budaya Lokal: Nabi tidak memaksa semua orang Arab, Beliau mengakui adat selama tidak bertentangan dengan syariat, sesuai dengan kaidah fikih “Adat kebiasaan bisa menjadi hukum”.
  • Sahabat dari berbagai latar: Islam datang mempersatukan tanpa menyeragamkan, seperti Bilal dari Habasyah, Salman dari Persia, Shuhaib dari Romawi.

Ada beberapa bentuk keberagaman dalam Islam, di antaranya adalah:

  • Keberagaman Mazhab & Pemikiran. Ada 4 madzhab: Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hambali. Beda cara qunut, beda cara shalat, tapi tetap satu kiblat. Imam Syafi’i dan Imam Ahmad murid-guru tapi beda pendapat namun tidak saling menyesatkan.
  • Keberagaman Budaya/‘Urf. Lebaran di Jawa ada ketupat, di Minang ada rendang, di Aceh ada kuah pliek. Semua boleh dikonsumsi, selama halal dan tidak ada unsur syirik.
  • Keberagaman Bahasa. Al-Qur’an diturunkan bahasa Arab, tapi tafsirnya ada bahasa Indonesia, Jawa dan Bahasa lainnya. Adzan tetap dalam Bahasa Arab, tapi khutbah pakai bahasa lokal agar jamaah paham.
  • Keberagaman dalam Muamalah. Ada sistem ekonomi syari’ah, wakaf, zakat, koperasi. Setiap daerah boleh punya model sesuai potensi. Yang penting adalah menerapkan prinsip keadilan dan tidak merugikan sebelah pihak.

Islam dan kebangsaan tidak bertentangan justru saling menguatkan. Islam juga mengajarkan keadilan sebagai pondasi persatuan. Islam mengajarkan musyawarah yang merupakan ruh demokrasi Pancasila. Dan Islam mengajarkan cinta tanah air “hubbul wathan minal iman”, NU dan Muhammadiyah sudah buktikan dengan ikut andil kemerdekaan. Di Indonesia, Islam tidak memaksa semua jadi sama. Islam menyatu dengan budaya lokal, oleh sebab itu lahirlah Islam nusantara yang ramah, toleran, cinta damai.

Keberagaman adalah takdir dari Tuhan, persatuan adalah ikhtiar dari kita. Selama kita masih mau duduk semeja, makan dengan lauk berbeda, tapi minum dari gelas yang sama bernama Indonesia, maka pelangi Nusantara ini tidak akan pernah padam. Selama kita berpegang teguh kepada Al-Qur’an, Sunnah, dan akhlak Nabi, maka perbedaan tidak akan terpecahkan. Justru akan membuat Islam semakin indah dan Indonesia semakin kuat. Islam itu satu, tapi wajahnya banyak. Dan semuanya indah jika dipandang dengan mata rahmat. ***

 

  • Penulis: Erna Dewi
  • Editor: Dahlan Batubara

Rekomendasi Untuk Anda

  • Geliat Pastap Julu, Ekowisata Hingga Agribisnis (bagian 1)

    Geliat Pastap Julu, Ekowisata Hingga Agribisnis (bagian 1)

    • calendar_month Senin, 27 Apr 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Catatan : Dahlan Batubara Desa Pastap Julu berada di Kecamatan Tambangan, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara. Desa ini berposisi paling ujung jalur Pastap, sekitar 6 Km dari simpang jalan raya Lintas Sumatera. Lebar badan jalan jalur Pastap rata rata sekitar 2,5 meter. Waktu tempuhnya lumayan lama karena separoh jalan merupakan bebatuan bekas aspal lapen yang […]

  • Takjub pada Al-Qur’an, Wanita Jerman Ini Masuk Islam

    Takjub pada Al-Qur’an, Wanita Jerman Ini Masuk Islam

    • calendar_month Selasa, 27 Agt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Setelah masuk Islam, ia memiliki nama Aminah Amatullah. Aminah, berasal dari keluarga Protestan. Sebenarnya gadis yang tinggal di Hannover, Jerman, ini tidak merasa terlalu religius. Tetapi ia seperti menyadari ada yang salah dengan keyakinan yang dianut keluarga dan masyarakat umumnya. Dalam berdoa misalnya, Aminah tak mau berdoa kepada Yesus. Dan ia juga meyakini, berdoa bisa […]

  • Nasib Syariat Islam Di “Negeri” Serambi Mekah

    Nasib Syariat Islam Di “Negeri” Serambi Mekah

    • calendar_month Minggu, 6 Feb 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Kilas balik sembilan tahun lalu, gegap gempita masyarakat di Aceh menyambut “kado” istimewa yang diberikan Pemerintah Pusat kepada provinsi itu. “Kado” itu adalah Syariat (hukum) Islam, dan diberikan pada 1 Muharram 1423 Hijriyah atau bertepatan dengan 14 Maret 2002. Gegap gempita itu diawali dengan gelar pawai saat Aceh dipimpin Abdullah Puteh sebagai gubernur. Kini, “kado” […]

  • IPB Telah Diperoleh, PT SMGP Memulai Kembali Kegiatannya

    IPB Telah Diperoleh, PT SMGP Memulai Kembali Kegiatannya

    • calendar_month Kamis, 23 Apr 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Menteri ESDM Republik Indonesia, Sudirman Said telah mengeluarkan Izin Panas Bumi untuk PT Sorik Marapi Geothermal Power, Selasa (21/4) sebagai bagian dari penerapan Undang-Undang Panas Bumi yang terbaru untuk memulai kembali kegiatan pengusahaan panas bumi di Sorik Marapi, Mandailing Natal. Hal ini memantapkan hak PT SMGP’s untuk melakukan pengusahaan panas di […]

  • Atika Kumpul Fakta Permasalahan UKM

    Atika Kumpul Fakta Permasalahan UKM

    • calendar_month Selasa, 23 Jun 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) : Senin kemarin (22/6/2020) Atika Azmi Utammi Nasution mengunjungi sejumlah pelaku UKM di Panyabungan. Kunjungan ini merupakan pengumpulan data dan fakta fakta ril tentang kendala, kesulita, peluang dan harapan para pengusaha Usaha Kecil Menengah (UKM). Atika melakukan dialog langsung dengan pelaku UKM guna merekam seluruh masalah yang dihadapi pengusaha. Dialog ini merupakan […]

  • Kegiatan Sorikmas Mining Disosialisasikan Kepada LSM

    Kegiatan Sorikmas Mining Disosialisasikan Kepada LSM

    • calendar_month Senin, 27 Agt 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan (MO) – Manajemen PT. Sorikmas Mining melakukan sosialisasi tentang aktifitas perusahaan itu kepada pimpinan dan pengurus Lembaga Swadaya Masayarakat (LSM) yang ada di Mandailing Natal, Senin (27/8) bertempat di aula Hotel Rindang, Panyabungan. Aspek-aspek yang disosialisasikan mulai dari pofil perusahaan, persentase saham perusahaan, izin-izin yang dikantongi perusahaan, tahapan kegiatan perusahaan mulai dari eksplorasi hingga […]

expand_less