Rabu, 2 Sep 2026
light_mode

Merawat Pelangi Nusantara: Falsafah Keberagaman Sebagai Jalan Peradaban Islam

  • account_circle Erna Dewi
  • calendar_month 16 menit yang lalu
  • print Cetak

Oleh: Erna Dewi

 

Indonesia merupakan negara kesatuan yang memiliki ribuan pulau. Luas wilayah Indonesia yang besar berpengaruh terhadap banyaknya keberagaman yang dimiliki. Bangsa Indonesia terdiri dari 1.340 suku, 718 bahasa, dan terbentang di 17.504 pulau. Sejak Kerajaan Sriwijaya, Majapahit, hingga Kesultanan, Nusantara sudah terbiasa hidup dalam perbedaan. Pedagang Gujarat, Tionghoa, Arab, dan Eropa datang silih berganti, tapi mereka tidak melebur jadi satu. Mereka berbaur, tetap bawa identitas, dan sama-sama membangun peradaban.

Sumpah Pemuda 1928 adalah titik kulminasi, “bertumpah darah satu, berbangsa satu dan berbahasa satu”. Di situ para pemuda dari berbagai suku sepakat menanggalkan ego kesukuan demi Indonesia. Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika lahir bukan untuk menyeragamkan, tapi untuk mempersatukan perbedaan. Keberagaman bisa muncul karena pengaruh kebudayaan asing yang memiliki ciri yang berbeda. Perbedaan tersebut biasanya terjadi lewat komunikasi atau budaya yang mereka bawa ke Indonesia. Sehingga terjadi akulturasi atau pencampuran unsur kebudayaan asing dengan kebudayaan Indonesia. Kondisi itu menjadikan sumber keberagaman tercipta, seperti suku, budaya, ras, dan golongan. Dengan kondisi tersebut menimbulkan perbedaaan dalam masyarakat. Pastinya satu pulau dengan pulau yang lain memiliki perbedaan atau karakteristik masing-masing.

Keberagaman Indonesia adalah ketetapan Tuhan, sebagaimana dijelaskan dalam surah Al-Hujurat:13 “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal”. Kata lita’arafu adalah kunci. Tujuan Allah menciptakan kita berbeda adalah agar kita saling mengenal, saling belajar dan saling menguatkan, bukan untuk saling menghina.

Islam datang bukan untuk menghapus perbedaan, Islam datang untuk mengatur perbedaan agar menjadi rahmat. Rasulullah SAW adalah orang yang paling cinta tanah air. Saat hijrah dari Mekah, beliau menoleh dan berkata: “Demi Allah, engkau adalah negeri yang paling aku cintai. Kalau bukan karena kaummu mengusirku, aku tidak akan keluar darimu”. Di Indonesia kita lihat buktinya, ada masjid gaya Jawa, gaya Aceh, gaya Minang. Ada NU, Muhammadiyah, Persis. Ada orang Bugis, Melayu, Jawa, semua salat di shaf yang sama, inilah wajah Islam Nusantara.

Rasulullah SAW hidup di Madinah yang isinya orang muslim, Yahudi, Nasrani, dan musyrik. Banyak sekali contoh keberagaman di Zaman Nabi, di antaranya Adalah:

  • Piagam Madinah: Konstitusi pertama yang menjamin hak semua warga negara berbeda agama dan suku, adanya keadilan, keamanan, dan tolong-menolong.
  • Menghormati Budaya Lokal: Nabi tidak memaksa semua orang Arab, Beliau mengakui adat selama tidak bertentangan dengan syariat, sesuai dengan kaidah fikih “Adat kebiasaan bisa menjadi hukum”.
  • Sahabat dari berbagai latar: Islam datang mempersatukan tanpa menyeragamkan, seperti Bilal dari Habasyah, Salman dari Persia, Shuhaib dari Romawi.

Ada beberapa bentuk keberagaman dalam Islam, di antaranya adalah:

  • Keberagaman Mazhab & Pemikiran. Ada 4 madzhab: Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hambali. Beda cara qunut, beda cara shalat, tapi tetap satu kiblat. Imam Syafi’i dan Imam Ahmad murid-guru tapi beda pendapat namun tidak saling menyesatkan.
  • Keberagaman Budaya/‘Urf. Lebaran di Jawa ada ketupat, di Minang ada rendang, di Aceh ada kuah pliek. Semua boleh dikonsumsi, selama halal dan tidak ada unsur syirik.
  • Keberagaman Bahasa. Al-Qur’an diturunkan bahasa Arab, tapi tafsirnya ada bahasa Indonesia, Jawa dan Bahasa lainnya. Adzan tetap dalam Bahasa Arab, tapi khutbah pakai bahasa lokal agar jamaah paham.
  • Keberagaman dalam Muamalah. Ada sistem ekonomi syari’ah, wakaf, zakat, koperasi. Setiap daerah boleh punya model sesuai potensi. Yang penting adalah menerapkan prinsip keadilan dan tidak merugikan sebelah pihak.

Islam dan kebangsaan tidak bertentangan justru saling menguatkan. Islam juga mengajarkan keadilan sebagai pondasi persatuan. Islam mengajarkan musyawarah yang merupakan ruh demokrasi Pancasila. Dan Islam mengajarkan cinta tanah air “hubbul wathan minal iman”, NU dan Muhammadiyah sudah buktikan dengan ikut andil kemerdekaan. Di Indonesia, Islam tidak memaksa semua jadi sama. Islam menyatu dengan budaya lokal, oleh sebab itu lahirlah Islam nusantara yang ramah, toleran, cinta damai.

Keberagaman adalah takdir dari Tuhan, persatuan adalah ikhtiar dari kita. Selama kita masih mau duduk semeja, makan dengan lauk berbeda, tapi minum dari gelas yang sama bernama Indonesia, maka pelangi Nusantara ini tidak akan pernah padam. Selama kita berpegang teguh kepada Al-Qur’an, Sunnah, dan akhlak Nabi, maka perbedaan tidak akan terpecahkan. Justru akan membuat Islam semakin indah dan Indonesia semakin kuat. Islam itu satu, tapi wajahnya banyak. Dan semuanya indah jika dipandang dengan mata rahmat. ***

 

  • Penulis: Erna Dewi
  • Editor: Dahlan Batubara

Rekomendasi Untuk Anda

  • TKW Asal Batubara Diterlantarkan di Malaysia

    TKW Asal Batubara Diterlantarkan di Malaysia

    • calendar_month Senin, 29 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN : Tenaga kerja wanita asal Kabupaten Batubara, Sumatera Utara, Nurmadaniyah (16) mengaku ditelantarkan di Malaysia, meski telah empat bulan berada di negara itu. Pengakuan tersebut disampaikan orang tua kandung Nurmadaniyah, Effendi penduduk Dusun 7 Desa Bogak, Kecamatan Tanjung Tiram, Batubara, di Medan, Senin 29 November 2010. Sebenarnya, kata Effendi, cukup banyak masalah dengan keberangkatan […]

  • Masyarakat Minta Kafe di Jalan STAIM Ditertibkan

    Masyarakat Minta Kafe di Jalan STAIM Ditertibkan

    • calendar_month Sabtu, 23 Apr 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan, Keberadaan kafe di sekitar Jalan Sekolah Tinggi Agama Islam Madina (STAIM), membuat resah masyarakat Desa Hutabaringin, Kecamatan Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina). Masyarakat berharap Satpol PP segera melakukan penertiban terhadap kafe tersebut. Apalagi di kawasan itu juga sering terjadi keributan. Demikian disampaikan Ketua Komisi IV DPRD Madina Arminsyah Batubara setelah mendapat surat tembusan laporan […]

  • Polri-Komnas HAM Kerjasama Investigasi Kasus Bima

    Polri-Komnas HAM Kerjasama Investigasi Kasus Bima

    • calendar_month Sabtu, 7 Jan 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Jakarta, Kepolisian Negara RI dan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) melakukan kerjasama investigasi terkait kasus bentrok antara massa pengunjuk rasa dengan aparat kepolisian di Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada hari Sabtu (24/12). “Hasil temuan kami beserta rekomendasinya telah disampaikan kepada Kapolri terkait yang terjadi di pelabuhan Sape, bentuk pelanggaran HAM yang terjadi […]

  • Koruptor bahagia atas konflik KPK-Polri

    Koruptor bahagia atas konflik KPK-Polri

    • calendar_month Minggu, 7 Okt 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA, (MO) – Kasus yang menyeret penyidik Komisi Pemerantasan Korupsi, Komisaris Novel Baswedan, diyakini akan menganggu kasus-kasus korupsi yang tengah ditangani KPK. Untuk itu, perkara yang dituduhkan kepada Novel harus segera diselesaikan. “Mengganggu. Siapa bilang enggak menganggu?” kata juru bicara KPK Johan Budi di Gedung KPK, Jakarta, hari ini, ketika ditanya apakah perkara Novel akan […]

  • Lakukan Penyerangan, Dua Ustadz Jadi Tersangka

    Lakukan Penyerangan, Dua Ustadz Jadi Tersangka

    • calendar_month Senin, 5 Mei 2014
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    MEDAN – Puluhan massa dari berbagai ormas islam mendatangi Polresta Medan, Senin (5/5/2014). Informasi diperoleh Tribun di Polresta Medan menyebutkan, kedatangan puluhan ormas islam ini lantaran ada dua orang ustadz yang dikabarkan telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Polresta Medan. Menurut sumber di kepolisian, dua orang ustadz yang ditetapkan sebagai tersangka adalah ustadz IS dan SU. […]

  • Ini Syarat untuk Pendaftaran Calon Ketua PWI Madina Periode 2022-2025

    Ini Syarat untuk Pendaftaran Calon Ketua PWI Madina Periode 2022-2025

    • calendar_month Rabu, 31 Agt 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online)  – Panitia konferensi IV Persatuan Wartaawan Indonesia (PWI) Kabupaten Mandailing Natal (Madina) membuka penjaringan atau pendaftaran calon Ketua PWI Kabupaten Madina masa bakti 2022-2025 Dapat diketahui, PWI Madina akan mengadakan konferensi IV untuk menyusun program kerja juga menyusun kepengursan untuk periode 2022-2025 pada hari Senin (5/9) depan. Ketua Panitia, Zamharir Rangkuti kepada […]

expand_less