Gemilang 16 Tahun, Mandailing Online Hadapi Tantangan Transformasi
- account_circle Ludfan Nasution
- calendar_month 26 menit yang lalu
- print Cetak
Oleh: Muhammad Ludfan Nasution Pegiat Gerep Institute

…
Enam belas tahun terbilang gemilang. Sejak 27 Agustus 2010, ketika dunia media digital masih sepi-sepi saja dan media online menjadi inovasi, Mandailing Online hadir dengan spirit menyuguhkan berita dan opini tentang realitas bagi masyarakat di Mandailing Natal sekitar (Tabagsel), perantau di kota-kota besar Indonesia dan negeri jiran Malaysia.
Saat itu, telepon pintar belum menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Media sosial belum menjelma menjadi mesin distribusi informasi seperti sekarang. Dan istilah algoritma belum menjadi bagian dari percakapan sehari-hari para pekerja media.
Hari ini, Mandailing Online genap berusia 16 tahun. Ada kegemilangan. Pionir dan jadi petarung dalam membangun budaya redaksi.
Singkatnya, 16 tahun menjadi usia yang layak dirayakan.
Sebab di tengah kerasnya kehidupan media, tidak sedikit media yang lahir dengan semangat besar tetapi kemudian berhenti di tengah jalan. Ada yang kehilangan pembaca dan kehilangan tenaga. Ada yang kehilangan model bisnis. Ada pula yang akhirnya hanya tinggal nama dan domain.
Mandailing Online masih eksis. Menjadi sebuah pencapaian.
Tetapi justru karena itulah usia 16 tahun semestinya tidak hanya menjadi momentum untuk menengok ke belakang.
Harus menjadi momentum untuk bertanya: Ke mana Mandailing Online hendak melangkah dalam 10 atau 16 tahun berikutnya?
Sebab, sadar tak sadar, dunia media berubah. Makin instan dan makin cepat. Dan perubahan itu tidak menunggu siapa pun.

Tampil sebagai Inovasi
Enam belas tahun lalu, memiliki media online sendiri merupakan sebuah keberanian. Membangun website. Menyusun jajaran redaksi. Memburu berita. Menulis kreatif. Menyunting indah. Unggah dan bagikan tautan. Lalu, menunggu pembaca.
Mandailing Online mengambil jalan tersebut ketika ekosistem media digital di daerah belum seinteraktif sekarang.
Kini, situasinya berbeda. Mengelola website berita bukan lagi hal luar biasa. Hampir semua orang dapat membuat portal. Semua orang boleh bikin akun media sosial. Semua orang bisa membuat dan memposting video dengan menyebutnya sebagai apa pun, termasuk hoax dan anti hoax.
Bahkan, dengan kecerdasan buatan, seseorang dapat menghasilkan tulisan, gambar, suara dan video dalam hitungan menit.
Maka standar kompetisi media pun berubah. Dulu, pertanyaannya adalah: siapa yang bisa menerbitkan berita dan opini?
Sekarang pertanyaannya: Siapa yang mampu membuat berita/opini ditemukan, dibaca, dipercaya, dibagikan dan menjadi percakapan publik (viral) ?
Di situlah tantangan transformasi mulai terlihat.
Kompetisi Media
Inilah perubahan yang mungkin paling penting.
Mandailing Online hari ini tidak hanya bersaing dengan portal berita lain. Selain bisa bersinergi, MO juga mesti bersaing dengan Facebook, Instagram, TikTok, YouTube, WhatsApp, Podcast, Influencer, Citizen journalism dan grup-grup komunitas.
Bahkan dengan konten yang dibuat oleh mesin kecerdasan buatan.
Semua berebut hal yang sama: perhatian manusia.
Waktu pembaca terbatas. Setiap orang hanya mempunyai 24 jam sehari. Sementara informasi yang masuk ke layar mereka tidak terbatas.
Karena itu, media yang hanya berpikir tentang berapa banyak berita yang diterbitkan akan menghadapi persoalan baru.
Ukuran keberhasilan harus mulai bergeser menjadi:
- Berapa orang yang membaca?
- Berapa lama mereka membaca?
- Apa yang mereka cari?
- Apa yang mereka bagikan?
- Dari mana mereka datang?
- Mengapa mereka kembali?
- Konten seperti apa yang membuat mereka bertahan?
Itulah bahasa baru dalam industri media digital.
Bisa Pelan, Tepi Berbahaya
Tidak ada yang salah dengan media yang berjalan hati-hati.
Tidak semua media harus mengejar kecepatan secara membabi buta.
Kualitas jurnalistik tetap penting.
Verifikasi tetap penting.
Etika tetap penting.
Independensi tetap penting.
Tetapi ada satu hal yang juga harus disadari: Dunia digital tidak pernah berhenti bergerak hanya karena sebuah media sedang berhenti sejenak.
Ketika produksi konten melambat, perhatian pembaca tidak ikut berhenti.
Ia berpindah.
Ketika sebuah media tidak hadir dalam percakapan digital, ruang itu segera diisi oleh pihak lain.
Ketika sebuah media tidak membangun audience secara aktif, audience akan menemukan tempat lain.
Inilah sebabnya transformasi bukan sekadar pilihan estetika.
Ia adalah persoalan survival dan relevansi.
Modal Besar
Tetapi di sinilah kita perlu melihat Mandailing Online dengan cara yang berbeda.
Mandailing Online tidak memulai dari nol. Ada modal yang tidak bisa dibeli begitu saja oleh media yang baru lahir. Enam belas tahun sejarah.
Di situ, ada nama yang telah dikenal. Pengalaman jurnalistik. Jaringan. Arsip pemberitaan. Hubungan dengan berbagai sumber.
Ada pengetahuan tentang karakter masyarakat Mandailing. Rekam jejak mengenai berbagai peristiwa yang pernah terjadi.
Semua itu adalah modal. Modal besar.
Masalahnya, hanya satu: Apakah modal tersebut sudah diubah menjadi kekuatan baru?
Sebab, sejarah yang hanya disimpan sebagai masa lalu akan menjadi arsip.
Tetapi sejarah yang diolah dengan teknologi, kreativitas dan strategi dapat menjadi modal masa depan.
Jangan Biakan Arsip Jadi “Kuburan” Berita
Bayangkan kalau arsip Mandailing Online selama 16 tahun tidak hanya menjadi halaman-halaman lama yang terkubur di mesin pencari.
Bayangkan arsip itu dihidupkan kembali. Susun peristiwa-peristiwa penting menjadi timeline. Ubah cerita tokoh-tokoh yang pernah diberitakan menjadi profil perjalanan.
Telusuri kembali isu-isu besar. Bandingkan berita lama dengan keadaan sekarang. Kumpulkan data pembangunan. Catat perubahan sosial. Bikin dokumentasi sejarah lokal.
Rangkai foto-foto lama dalam konteks aktual. Gerakkan berita-berita penting menjadi video dokumenter.
Dari sana, Mandailing Online bukan hanya menjadi media yang memberitakan apa yang terjadi hari ini.
Ia menjadi media yang membantu masyarakat memahami: Apa yang terjadi kemarin, mengapa terjadi hari ini, dan ke mana arahnya besok.
Pada titik itu, arsip berubah menjadi aset pengetahuan yang juga memiliki nilai jual.
Dari Newsroom ke Contentroom
Transformasi juga menuntut perubahan cara berpikir tentang ruang redaksi.
Media di masa lalu memiliki newsroom.
Media masa depan membutuhkan sesuatu yang lebih luas: contentroom.
Satu informasi tidak harus berhenti sebagai satu berita.
Sebuah isu bisa menjadi berita.
Kemudian bisa sikreasi menjadi video pendek, infografik, podcast, wawancara, tulisan analisis, topik diskusi menantang, dokumenter atraktif dan arsip pengetahuan yang monumental.
Dengan cara seperti itu, kerja jurnalistik tidak hanya menghasilkan jumlah berita, tetapi menghasilkan umur panjang sebuah isu.
Satu liputan yang bagus, pun dapat hidup berminggu-minggu bahkan bertahun-tahun dalam berbagai bentuk.
Inilah yang memungkinkan media lokal memiliki daya tahan di tengah banjir informasi.
Keunggulan Media Lokal
Media daerah punya satu keuntungan besar. Tapi sering kali tidak disadari. Yakni: Kedekatan dengan publik di sekitarnya (proximity).
Media nasional bisa memberitakan Mandailing. Tetapi mereka tidak mungkin memiliki kedalaman tentang pengetahuan lokal. Di situlah media unggul. Sebab, media yang berbasis di daerah bisa hidup dan bercengkerama dengan masyarakat di sekitarnya.
Sebaliknya, media nasional bisa saja datang ketika ada peristiwa besar. Tapi, tetap terbatas untuk menangkap sinyal yang khas daerah itu.
Selanjutnya, media lokal sudah hadir di sana sebelum dan setelah peristiwa itu terjadi.
Pun tentang mengenal tokoh, tempatnya, konteks, bahasa sosial dan sejarah konfliknya.
Intinya, media seperti Mandailing Online, dapat mengenal masyarakatnya dengan lebih presisi.
Itulah competitive advantage media lokal.
Karena itu, masa depan media daerah bukan dengan berusaha menjadi “media nasional kecil”.
Justru sebaliknya.
Ia harus menjadi media lokal yang tidak mungkin digantikan oleh media nasional.
Mandailing Online memiliki competitive advantage (peluang) itu.
Menjadi Ekosistem Media
Mungkin sudah waktunya membayangkan Mandailing Online bukan sekadar sebagai sebuah portal berita.
Tetapi sebagai sebuah ekosistem media Mandailing.
Di dalamnya tak cuma ada berita. Tetapi juga kategori tulisan opini dalam beragam jenis: feature, kolom, kartun, komik dan karikatur.
Secara teknis pemberitaan, Mandailing Online dapat menonjolkan liputan investigasi, data hasil riset, kajian sejarah dan budaya.
Bisa juga mengekspos perjuangan heroik seorang tokoh.
Membangunkan podcast, video, dokumenter dan ikut gerakan literasi.
Membangun dan mendorong komunitas tersendiri.
Dan, masih dimungkinkan untuk mengkemas berbagai bentuk pengetahuan lainnya.
Dengan demikian, pembaca tidak hanya datang karena ada berita baru.
Mereka datang karena Mandailing Online menjadi tempat untuk memahami Mandailing lebih utuh sebagai bagian dari Nusantara.
Itulah lompatan yang jauh lebih besar.
Jaga Identitas
Tentu saja transformasi bukan berarti semua yang lama harus dibuang.
Tidak.
Justru identitas lama harus menjadi fondasinya.
Nama Mandailing Online tetap memiliki sejarah.
Karakter jurnalistiknya harus tetap dijaga.
Etika komunikasi global harus tetap menjadi batas.
Independensi harus tetap menjadi prinsip.
Yang berubah adalah cara bekerja. Cara memproduksi, mendistribusikan, mengukur keberhasilan dan membangun audience.
Yang berubah adalah cara mengolah arsip, memanfaatkan teknologi dan melihat masa depan. Transformasi bukan menghapus masa lalu.
Transformasi adalah membuat masa lalu mempunyai arti baru bagi masa depan.
Pertanyaan untuk Usia 16 Tahun
Karena itu, pada ulang tahunnya yang ke-16, mungkin Mandailing Online tidak membutuhkan terlalu banyak ucapan selamat.
Ia membutuhkan beberapa pertanyaan.
Apakah kita masih cukup cepat?
Apakah kita masih cukup relevan?
Apakah kita memahami pembaca baru?
Apakah kita memahami algoritma?
Apakah kita sudah mengoptimalkan seluruh platform digital?
Apakah arsip 16 tahun telah menjadi aset pengetahuan?
Apakah kita memiliki strategi pertumbuhan audience?
Apakah kita sudah mempersiapkan generasi baru jurnalis dan pengelola media?
Dan pertanyaan yang paling mendasar: Apakah Mandailing Online ingin sekadar bertahan, atau ingin kembali menjadi pelopor?
Untuk 16 Tahun Kemudian
Mandailing Online sudah membuktikan bahwa ia mampu bertahan selama 16 tahun. Itu modal penting. Bravo. Dirgahayu.
Tetapi 16 tahun berikutnya merupakan permainan yang berbeda.
Teknologinya berbeda, terus berubah. Pembacanya bertambah. Platformnya kian beragam.
Karena itu, cara orang mengonsumsi berita, informasi dan edukasi pun berbeda.
Muncul pula tuntutan untuk mengubah model bisnisnya agar lebih kokoh, lebih tangguh dan lebih mumpuni.
Lebih-lebih karena definisi tentang “media” pun sedang berubah.
Karena itu, tidak mungkin membangun dan menapaki masa depan dengan teori, pendekatan, strategi dan cara kerja yang sama.
Enam belas tahun pengalaman sejatinya melahirkan keberanian untuk melakukan lompatan.
Bukan lagi sekadar memperbarui tampilan, memperbanyak berita dan membuat akun medsos baru.
Tetapi, tantangan nyatanya, melakukan transformasi yang sungguh-sungguh.
Panjang Umur, Naik Kelas
Dengan sejarah perjuangan yang apik dan heroik, Mandailing Online memiliki masa depan. Hanya saja, masa depan perlu dirancang, dikerjakan, diukur dan nantinya dapat dievaluasi.
Kemudian, penting untuk melakukan perbaikan lagi.
Karena itu, ulang tahun ke-16 sebaiknya tidak berhenti pada perayaan.
Jadikan angka 16 sebagai titik balik. Dari media yang sekadar hadir menjadi media yang hadir dengan strategi dan portal berita handal menjadi satu ekosistem konten. Mengubah arsip menjadi pengetahuan baru, merangkul pembaca sebagai komunitas.
Pengalaman menjadi inovasi. Setelah bertahan 16 tahun, ke depan mesti masuk fase tumbuh-kembang.
Enam belas tahun lalu, Mandailing Online berani masuk ke dunia digital ketika dunia itu belum sebesar sekarang.
Hari ini dunia digital sudah berubah menjadi medan yang jauh lebih keras. Maka hadirkan kembali keberanian yang sama untuk melakukan lompatan lebih tinggi.
Selamat ulang tahun ke-16, Mandailing Online.
Kembalilah menjadi pelopor dan cetak sejarah baru.
Panjang umur nian dan naik kelas. ***
- Penulis: Ludfan Nasution
- Editor: Dahlan Batubara



