Selasa, 13 Okt 2026
light_mode

FOMO, Krisis Validasi, dan Resolusi Menjadi “Manusia Unggul”

  • account_circle Ludfan Nasution
  • calendar_month Rabu, 26 Agt 2026
  • print Cetak

Oleh: Muhammad Ludfan Nasution
Pegiat Gerep Institute dan Pengurus/Pengajar Madrasah Darussalam Kotasiantar

 

 

…

Perilaku sejumlah remaja, khususnya generasi muda yang tumbuh bersama media sosial, terus menjadi kegelisahan dan bahan renungan mendalam bagi saya. Ada pola-pola tertentu yang tampak berulang: pencarian pengakuan, kecemasan berlebihan terhadap penilaian orang lain, hingga tindakan yang kadang membahayakan diri sendiri.

Kegelisahan itu terasa semakin nyata karena aktivitas saya sebagai staf pengajar di Madrasah Darussalam Kotasiantar (MDTA). Penyimpangan-penyimpangan perilaku yang dahulu mungkin dianggap kasuistik, kini tampak semakin mudah ditemukan dan, dalam beberapa hal, semakin sulit dikendalikan.

Pada momentum 12 Rabiul Awal 1448 Hijriah, bertepatan dengan 25 Agustus 2026, kegelisahan itu saya coba bawa ke ruang percakapan dengan kecerdasan buatan. Setelah beberapa kali memberikan perintah dan meminta pengembangan gagasan, lahirlah sebuah kerangka tulisan populer yang menawarkan pendekatan psikologi praktis terhadap keresahan manusia modern.

AI itu bahkan menawarkan sejumlah teknik penulisan: membangun curiosity gap, menyusun struktur yang mudah dipindai pembaca, serta mendekati persoalan yang sedang akrab dengan keresahan netizen—krisis identitas, kecanduan validasi media sosial, dan kesehatan mental.

Dari sana, lahirlah narasi yang kemudian saya olah kembali menjadi tulisan berjudul ini: “FOMO, Krisis Validasi, dan Resolusi Menjadi Manusia Unggul.”

Pertanyaannya sederhana: pernahkah kita merasa lelah hanya karena melihat kehidupan orang lain?

Di era digital, harkat dan martabat manusia seolah-olah semakin mudah diukur dengan angka. Jumlah pengikut. Likes. Saldo rekening. Jabatan. Popularitas. Penampilan. Atau kemampuan menghadirkan kehidupan yang tampak sempurna di layar telepon.

Kita pun masuk ke dalam perlombaan yang sering kali tidak kita pahami garis akhirnya. Kita merasa kurang bukan karena benar-benar kekurangan, melainkan karena terus-menerus membandingkan diri dengan apa yang dipertontonkan orang lain.

Di situlah FOMO—Fear of Missing Out—mendapat ruangnya.

Kita takut tertinggal.

Takut tidak dianggap.

Takut tidak ikut.

Takut tidak memiliki.

Dan, yang lebih berbahaya, takut menjadi diri sendiri tanpa terlebih dahulu mendapatkan persetujuan dari orang lain.

Hari ini, ketika umat Islam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, semestinya momentum ini tidak berhenti sebagai perayaan seremonial tahunan. Maulid seharusnya juga menjadi ruang refleksi yang jauh lebih dalam: apa yang sesungguhnya sedang terjadi pada jiwa manusia modern yang tampak kehilangan jejak tokoh ideal atau panutannya?

Lebih dari empat belas abad lalu, Rasulullah SAW sebagai figur contoh terbaik sepanjang sejarah dunia telah menunjukkan model manusia yang memiliki keteguhan spiritual, kematangan emosi, kekuatan sosial, dan orientasi hidup yang sangat kokoh. Keteladanan beliau tidak hanya dapat dibaca sebagai seperangkat ajaran moral, tetapi juga sebagai sumber refleksi bagi manusia yang sedang mengalami krisis identitas dan kehilangan arah.

Bagi seorang Muslim, Rasulullah adalah model paling sempurna tentang bagaimana manusia dapat mencapai kualitas dirinya secara utuh.

Mari kita telusuri beberapa gejala yang sedang kita hadapi. Dan, pada saat bersamaan, kita bandingkan secara simultan, dengan pengamalan dan pengalaman spiritual yang tengah kita jalani.

1. Ketika Harga Diri Bergantung pada Validasi

Salah satu persoalan besar manusia modern adalah kecenderungan menggantungkan harga dirinya pada penilaian eksternal.

Kita ingin diakui.

Kita ingin dipuji.

Kita ingin dianggap berhasil.

Kita ingin menjadi penting di mata orang lain.

Masalahnya, ketika harga diri sepenuhnya bergantung pada pengakuan manusia, maka jiwa kita berada dalam posisi yang sangat rapuh. Hari ini dipuji, kita merasa tinggi. Besok dikritik, kita merasa runtuh.

Sedikit sindiran dapat terasa seperti penghinaan. Sedikit penolakan dapat berubah menjadi tekanan psikologis. Bahkan, ketika tidak memperoleh perhatian, seseorang dapat merasa kosong dan tidak berarti.

Padahal, dalam perspektif spiritual, manusia memiliki martabat yang tidak semestinya ditentukan oleh algoritma media sosial.

Harga diri manusia tidak lahir dari jumlah followers.

Tidak pula dari jumlah likes.

Bukan dari tepuk tangan.

Bukan dari jabatan.

Dan bukan pula dari seberapa sering nama kita disebut.

Dalam khazanah psikologi agama, hubungan manusia dengan Tuhan dapat menjadi salah satu fondasi penting bagi ketenangan batin. Kesadaran sebagai makhluk ciptaan Tuhan memberikan manusia titik pijak yang lebih kuat daripada penilaian publik yang setiap saat dapat berubah.

Di sinilah keteladanan Rasulullah SAW menjadi sangat relevan.

Beliau tidak goyah karena hinaan. Namun, beliau juga tidak menjadi jumawa karena pujian.

Martabat beliau tidak bergantung pada tepuk tangan manusia. Orientasi beliau bersandar pada hubungan transendental dengan Sang Pencipta.

Prinsip inilah yang perlu kita renungkan kembali.

Sebab ketika manusia terlalu jauh dari nilai-nilai yang membentuk dirinya—nilai kemanusiaan, akhlak, hubungan dengan alam, sesama manusia, dan Tuhan kita mulai kehilangan orientasi hidup.

Lupa siapa dirinya, dari mana asalnya dan untuk apa kita hidup.

Dan akhirnya, menjadi sangat mudah dipengaruhi oleh apa pun yang masuk ke dalam pikirannya.

Pada fase inilah manusia dapat mengalami paradoks yang menyedihkan: merasa miskin, padahal sesungguhnya ia kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada harta.

Ia kehilangan dirinya sendiri.

Rasulullah SAW menawarkan jalan sebaliknya. Bukan mengejar pengakuan manusia, melainkan membangun kualitas diri melalui ketakwaan yang merefleksikan akhlak.

Dengan demikian, kita tidak lagi harus tersiksa oleh FOMO, gila hormat, atau perlombaan tanpa akhir untuk mendapatkan validasi.

2. Era Dehumanisasi Digital

Media sosial seharusnya memperpendek jarak antar-manusia. Namun, pada saat yang sama, ia juga dapat menciptakan bentuk baru dehumanisasi.

Kita melihat komentar jahat. Perundungan siber. Penghinaan. Penyebaran ungkapan atau pernyataan kebencian. Menghakimi secara spontan dan kecenderungan merendahkan orang lain hanya untuk memperoleh kemenangan sesaat di ruang digital.

Ironisnya, manusia yang sedang mencari validasi justru dapat memperoleh serangan.

Padahal, kita masuk ke media sosial untuk mendapatkan pengakuan, tetapi pulang dengan luka.

Bayangkan seseorang yang sudah merasa kurang, kemudian dihina. Sudah rapuh, lalu dirundung pula.

Sudah kehilangan rasa percaya diri, lalu kesalahannya pun dipertontonkan di hadapan publik.

Bukankah itu memberi tekanan psikologisnya yang berlipat-ganda?

Lebih tragis lagi, sekalipun mengalami semua itu, manusia modern sering tetap kembali ke ruang yang sama untuk mencari pengakuan.

Kita seperti sedang haus di tengah laut: dikelilingi oleh air, tetapi tidak mampu menemukan sesuatu yang benar-benar dapat menghilangkan dahaga.

Nabi Muhammad SAW hadir di tengah masyarakat Arab Jahiliyah yang juga menghadapi persoalan serius tentang martabat manusia. Budak, perempuan, dan kelompok-kelompok lemah tidak selalu memperoleh posisi kemanusiaan yang setara.

Namun Rasulullah tidak menjawab keadaan itu dengan kehilangan orientasi.

Beliau melakukan perubahan.

Dengan strategi. Prinsip yang teguh. Dengan hikmah dan visi besar.

Maka, dalam rangkulan Sang Uswathun Hasanah, Bilal bin Rabah memperoleh tempat terhormat. Kaum perempuan memperoleh penguatan martabat. Anak yatim memperoleh perlindungan. Persaudaraan dibangun melampaui sekat-sekat kesukuan.

Rasulullah kemudian membangun masyarakat Madinah melalui sebuah tata kehidupan bersama yang menempatkan manusia sebagai bagian dari komunitas yang harus saling menjaga.

Itulah salah satu pelajaran terpenting dari keteladanan Nabi: perubahan besar tidak selalu dimulai dengan kekuatan untuk menghancurkan lawan, tetapi dengan kemampuan untuk mengembalikan martabat manusia.

Maka, meneladani Nabi Muhammad SAW pada tahun 2026 dapat dimulai dari tindakan yang sangat sederhana.

Berhenti menggunakan jempol untuk menghina.

Berhenti menjadikan layar sebagai tempat membunuh karakter.

Berhenti merasa paling benar hanya karena berada di balik akun. Dan, mulai menggunakan ruang digital untuk membangun kesadaran, memperluas empati, serta mengangkat kembali harkat dan martabat manusia.

3. Kembali kepada Fitrah

Pembicaraan tentang harkat dan martabat manusia pada akhirnya membawa kita kepada pertanyaan yang lebih mendasar: siapakah manusia sebelum dunia membentuknya?

Dalam Islam, manusia lahir dalam keadaan fitrah.

Karena itu, menjadi manusia unggul tidak semestinya dimaknai sebagai usaha menjadi seseorang yang sama sekali baru. Bisa jadi, manusia unggul justru adalah manusia yang mampu menjaga, merawat, dan mengembalikan dirinya kepada nilai-nilai dasar yang membentuk fitrahnya.

Di sinilah persoalan menjadi sensitif.

Sebab sering kali kita menganggap penyimpangan kecil sebagai sesuatu yang biasa. Padahal, ketika nilai-nilai dasar terus diabaikan, perlahan-lahan dapat terjadi perubahan pada cara seseorang melihat dirinya, Tuhannya, dan sesamanya.

Dalam tradisi keagamaan, terdapat pembahasan tentang fase penciptaan manusia, peniupan ruh, serta kesaksian primordial manusia terhadap ketuhanan Allah sebagaimana digambarkan dalam Surah Al-A’raf ayat 172:

“Alastu bi Rabbikum?”
Bukankah Aku ini Tuhanmu?

Dan manusia menjawab:

“Bala syahidna.”
Benar, kami bersaksi.

Peristiwa ini dapat direnungkan sebagai sebuah pengingat mendasar: manusia tidak hadir ke dunia sebagai makhluk tanpa orientasi.

Ada hubungan primordial antara manusia dan Tuhannya. Ada fitrah. Ada kesadaran. Ada tanggung jawab.

Karena itu, perjalanan hidup manusia semestinya bukan sekadar perjalanan untuk memperoleh pengakuan dari dunia, tetapi juga perjalanan untuk terus mengingat dan menjaga orientasi dasar kehidupannya.

Masalahnya, dunia modern menawarkan terlalu banyak gangguan.

Kita dilahirkan. Lalu tumbuh. Kemudian masuk ke dalam suasana yang sangat kompetitif.

Tanpa kontrol, kita pun ikut-ikutan seperti buih di tengah lautan, membandingkan diri dengan orang-orang sekitar.

Kemudian, mengejar pengakuan. Mengejar popularitas. Dan, tanpa sadar, lupa pada pertanyaan paling sederhana: untuk apa semua ini?

Di titik inilah Maulid Nabi seharusnya menjadi momentum evaluasi. Benarkah kita sudah menjadikan Rasulullah sebagai tauladan terbaik, ikutan yang sudah membuktikan secara spektakuler semua perjuangan batin dan fisiknya.

Bukan hanya untuk mengingat kelahiran Nabi Muhammad SAW, melainkan untuk bertanya apakah nilai-nilai yang beliau perjuangkan masih hidup dalam diri kita.

4. Resiliensi Mental: Tidak Semua Luka Harus Dibalas dengan Luka

Psikologi modern mengenal konsep resilience atau resiliensi — kemampuan manusia untuk bertahan, pulih, dan bangkit ketika menghadapi kesulitan.

Dalam sejarah hidup Rasulullah SAW, kita menemukan pelajaran besar tentang ketahanan mental.

Bayangkan peristiwa Thaif.

Ketika mengalami penolakan dan kekerasan, respons spontan manusia tentu dapat berupa kemarahan dan keinginan membalas. Namun, keteladanan Rasulullah menunjukkan bentuk respons yang berbeda: kesabaran, pengendalian diri, dan harapan terhadap kebaikan.

Pelajaran itu sangat relevan dengan manusia hari ini.

Kita hidup dalam masyarakat yang sering mendorong reaksi spontan. Kalau dihina? Balas. Disindir? Langsung menyerang. Sikap tidak sepakat, kita musuhi.

Lebih fatal lagi, kalau pilihan berbeda, bisa berujung putusnya persaudaraan.

Namun, kemampuan terbesar manusia tidak selalu terlihat dari seberapa keras ia membalas.

Kadang-kadang, kekuatan justru terlihat dari kemampuan mengendalikan diri.

Akhlak Rasulullah—siddiq, amanah, fathanah, dan tabligh—tidak hanya dapat dipahami sebagai konsep moral. Nilai-nilai tersebut juga dapat menjadi fondasi pembentukan pribadi yang lebih stabil.

Kejujuran mencegah manusia hidup dalam kepalsuan.

Amanah membangun rasa tanggung jawab.

Kecerdasan menuntun manusia mengambil keputusan secara bijak.

Kemampuan menyampaikan kebenaran membangun keberanian sekaligus komunikasi.

Ketika semua itu dipadukan dengan kedalaman spiritual, manusia memiliki fondasi yang lebih kuat untuk menghadapi badai kehidupan.

Menjadi Manusia Unggul di Tahun 2026

Menjadi “Manusia Unggul” versi Rasulullah SAW tidak berarti menjadi manusia tanpa cela.

Kita tidak mungkin hidup tanpa masalah.

Tidak mungkin selalu berhasil.

Tidak mungkin terbebas dari kesedihan.

Dan tidak mungkin setiap hari memperoleh validasi.

Manusia unggul justru adalah manusia yang terus berproses. Mengenali kelemahan. Bangkit setelah jatuh. Tidak menyerahkan harga dirinya kepada penilaian orang lain, apalagi orang sembarang (rarasan — Bahasa Mandailing). Dan senantiasa menjaga hubungan dengan Tuhan.

Di sisi lain, kita pun mesti menghormati manusia. Memiliki dan menjaga empati.

Dan, tidak kehilangan diri sendiri ketika dunia berubah terlalu cepat.

Peringatan Maulid Nabi tahun ini dapat menjadi alarm bagi jiwa kita yang mungkin sudah terlalu lama terengah-engah mengejar dunia.

Mungkin kita terlalu sibuk mengejar perhatian.

Terlalu sibuk membandingkan kehidupan.

Terlalu sibuk membuktikan sesuatu kepada orang lain.

Sampai lupa bertanya: apakah kita masih mengenal diri kita sendiri?

Mari mengembalikan harkat dan martabat manusia ke tempat yang lebih tinggi.

Kurangi kebencian. Dan, jangan biarkan algoritma menentukan nilai diri kita.

Sebab, pada akhirnya, kebahagiaan sejati tidak terletak pada seberapa besar dunia bertekuk lutut di hadapan kita.

Kebahagiaan sejati mungkin justru lahir ketika kita mampu menjaga kedamaian di dalam diri, meskipun dunia di luar sedang sibuk menawarkan seribu alasan untuk merasa kurang.

Maka, 12 Rabiul Awal tidak boleh berlalu begitu saja sebagai seremoni yang memusatkan ingatan dan energi hanya untuk sesaat.

Ia harus menjadi titik balik. Titik untuk kembali. Kembali kepada Tauladan Sejati — Nabi Muhammad SAW. Kembali kepada fitrah.

Kembali kepada kehambaan. Kembali kepada kemanusiaan. Dan, pada akhirnya, kembali kepada jalan untuk menjadi manusia yang benar-benar unggul.

Sebab kita tidak diciptakan untuk menjadi salinan orang lain.

Kita tidak harus mengidolakan seseorang hanya karena ia berada dalam sorotan kamera.

Dan kita tidak harus menyerahkan martabat kepada validasi yang hari ini datang, tetapi besok dapat hilang.

Kita adalah manusia yang memiliki nilai sebelum dunia memberikan penilaiannya.

Dan barangkali, itulah salah satu resolusi terbesar yang perlu kita ambil di tengah dunia yang semakin bising: menjadi manusia yang tidak kehilangan dirinya sendiri. ***

 

  • Penulis: Ludfan Nasution
  • Editor: Dahlan Batubara

Rekomendasi Untuk Anda

  • MARSIDAO-DAO (episode 29)

    MARSIDAO-DAO (episode 29)

    • calendar_month Jumat, 10 Jun 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Novel Mandailing Nanisuratkon : Dahlan Batubara I Huta Donok, tar pukul 5.40 kehe si Pikek maridi tu tapian; Si Poso parorot anggina i bagas. Tarsigop do alai ngot na, harana pature anggina nibaen inangna na kehe mangomo marsidao-dao tu huta balian. Muli tingon tapian, oban do Si Pikek aek sa ember ambaen paridian anggina i […]

  • Pobsi Lahirkan Atlet Berprestasi Melalui Turnamen Billiar 2011

    Pobsi Lahirkan Atlet Berprestasi Melalui Turnamen Billiar 2011

    • calendar_month Rabu, 4 Jan 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIDIMPUAN- Turnamen biliar cup tahun 2011 tingkat Kota Psp yang dilaksanakan Pengurus Cabang Persatuan Olahraga Biliar Seluruh Indonesia (Pengcab Pobsi) Kota Psp sejak tanggal 28-31 Desember lalu, di lantai III Pasar Sangkumpal Bonang telah melahirkan atlet beprestasi. Adapun yang tampil sebagai juara untuk tingkat senior yakni, juara I, Ardi, Juara II, Ceppan, Juara III Budi […]

  • Kejatisu belum layak terbaik

    Kejatisu belum layak terbaik

    • calendar_month Selasa, 20 Nov 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN (MO)– Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejati Sumut) dinilai tidak layak menerima peringkat terbaik ke-3 prestasi kerja Kejati se-Indonesia Tahun 2012 dari Kejaksaan Agung. Sementara segudang kasus besar khususnya kasus korupsi yang yang sedang ditangani Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara belum mampu diselesaikan. “Pemberian penghargaan ini hanya seremonial dan tidak layak Kejati Sumut untuk mendapatkan gelar […]

  • Sedang Ngamar, Pasangan Usia 50 tahun Diamankan Pol PP Madina

    Sedang Ngamar, Pasangan Usia 50 tahun Diamankan Pol PP Madina

    • calendar_month Sabtu, 9 Sep 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN( Mandailing Online )- Satu pasangan bukan suami istri asal Kota Padang Sidimpuan diamankan petugas razia gabungan Satpol PP dari salah satu kamar hotel dikawasan kota Panyabungan, Mandailing Natal ( Madina ) Jum’at dini hari 9/9/2023. parahnya, pasangan yang diamankan itu sudah diusia 50 tahunan. HTP (52) dan pasangannya NRM (50) selanjutnya diamankan ke kantor […]

  • Harun-Ikhwan di Mata Pelaku UMKM

    Harun-Ikhwan di Mata Pelaku UMKM

    • calendar_month Rabu, 28 Agt 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pasangan Harun Mustafa Nasution-Muhammad Ichwan Husein Nasution dinilai memiliki visi tajam menggerakkan perekonomian Mandailing Natal khususnya UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah). Pasangan bakal calon bupati/wakil bupati Mandailing Natal ini dinilai memiliki kemampuan itu plus kemauan politik mengembangkan sektor ekonomi. Sosok Harun Mustafa misalnya, disamping mempunyai jaringan luas, juga sudah berpengalaman […]

  • Pernyataan Wakil Bupati Madina Bertentangan Dengan Pertemuan Juni Jakarta

    Pernyataan Wakil Bupati Madina Bertentangan Dengan Pertemuan Juni Jakarta

    • calendar_month Sabtu, 27 Agt 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Bupati Madina dan pihak DPRD telah melakukan pertemuan dengan PT KS Orka, PT.SMGP dan Direktur Panas Bumi Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM, Yunus Saefulhak. Pertemuan yang juga dihadiri OTP Geothermal serta pejabat eseleon III dan IV Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian […]

expand_less