Rabu, 9 Sep 2026
light_mode

Gen Z, Hegemoni Kapitalisme, dan Industri Kebahagiaan Semu

  • account_circle Dhea Rahma Artika
  • calendar_month Rabu, 26 Agt 2026
  • print Cetak

Oleh: Dhea Rahmah Artika, A.Md.Keb
Praktisi Kesehatan, Aktivis Dakwah Remaja 

 

Survei Deloitte Global Gen Z and Millennial Survey pada tahun 2025 menunjukkan bahwa 48% Gen Z merasa tidak aman secara finansial, meningkat tajam dari 30% pada tahun sebelumnya.

Mirisnya, di saat yang sama, fenomena selfreward, healing, hiburan, dan konsumsi gaya hidup kian populer. Setelah bekerja keras, seolah menjadi tuntutan untuk membeli makanan favorit, kosmetik, pakaian, jalan-jalan, atau menikmati hiburan dianggap sebagai bentuk penghargaan kepada diri sendiri. Fenomena ini sebenarnya tidak otomatis salah. Persoalannya muncul ketika konsumsi dijadikan mekanisme utama untuk mengatasi tekanan hidup.

Timbullah sebuah pertanyaan mendasar, mengapa generasi hari ini menjadi golongan yang merasa tidak aman secara finansial sehingga semakin membutuhkan konsumsi untuk merasakan arti bahagia?

Ada Tekanan Struktural

Gen Z sering disebut sebagai generasi yang paling adaptif terhadap kemajuan teknologi, paling akrab dengan euporia media sosial, sekaligus paling terbuka untuk membicarakan kesehatan mental. Namun, di balik berbagai label tersebut ada realitas yang jauh lebih serius dan butuh atensi lebih, yaitu generasi muda kini sedang hidup dalam himpitan ekonomi, tekanan sosial, dan ketidakpastian masa depan.

Terlalu mudah untuk menyalahkan Gen Z sebagai generasi yang boros, tidak mampu menabung, atau terlalu gemar healing. Narasi semacam itu justru berpotensi besar menutup persoalan struktural yang lebih besar. Bagaimana mungkin tuntutan terhadap anak muda untuk hidup hemat ketika biaya hidup terus meningkat, harga kebutuhan semakin mahal, sementara akses terhadap pekerjaan layak dan kepastian ekonomi tidak selalu mudah? Artinya, problem Gen Z bukan semata-mata hanya seputar tidak bisa mengatur keuangan. Ada tekanan struktural yang membuat masa depan terasa semakin mahal dan semakin tidak pasti.

Sistem yang Terpatri Nyatanya Rusak

Hari ini ada sebuah aturan hidup rusak yang justru diagungkan yaitu Kapitalisme, dimana standar kehidupan akan disandarkan pada keuntungan nilai materi belaka. Dalam sistem kapitalisme ini sendiri kebutuhan dasar kehidupan semakin banyak diletakkan sebagai tanggung jawab atas individu. Pendidikan, kesehatan, tempat tinggal, transportasi, hingga kebutuhan ekonomi keluarga harus diperjuangkan masing-masing. Negara justru hanya hadir melalui berbagai kebijakan, tetapi mekanisme ekonomi yang dominan tetap membuat individu berhadapan langsung dengan tekanan pasar.

Ironisnya, tekanan ekonomi tersebut kemudian bertemu dengan budaya konsumtif yang dinilai sangat agresif. Media sosial tidak hanya sarana ruang komunikasi, kini media sosial telah berubah menjadi etalase kehidupan. Anak muda setiap hari diperlihatkan standar semu seperti kecantikan, kesuksesan, liburan, kuliner, fesyen, gadget, dan gaya hidup tertentu.

Lalu muncullah istilah FOMO, takut tertinggal dari gegap gempita sebuah tren, takut tidak dianggap, takut hidupnya tidak cukup menarik. Hari ini self-reward. Besok healing. Lusa little treat mungkin saja setelah itu akan muncul tren-tren baru. Akibatnya, konsumsi tidak lagi sekadar memenuhi kebutuhan namun telah menjelma menjadi simbol identitas.

Sayangnya, hari ini agama telah dipisahkan dari pengaturan kehidupan, ukuran keberhasilan dengan mudahnya bergeser menjadi materi, berapa penghasilan, apa pekerjaan, mobil apa yang digunakan, rumah seperti apa yang dimiliki, ke mana bisa berlibur, dan seberapa menarik kehidupan yang dapat ditampilkan di media sosial.

Negara Bukan Sekadar Regulator

Di sinilah fenomena ini akhirnya menjadi persoalan politik. Jika masalah Gen Z hanya dianggap sebagai persoalan financial literacy, solusinya cukup hanya dengan seminar mengatur keuangan. Jika masalahnya dianggap sebagai persoalan kesehatan mental, solusinya cukup dengan konseling. Kemudian jika dianggap persoalan konsumtif, solusinya cukup menyuruh anak muda gemar menabung.

Padahal persoalannya jauh lebih besar. Sistem ekonomi seperti apakah yang sedang membentuk kehidupan generasi muda? Negara seperti apa yang seharusnya hadir untuk menjamin kesejahteraan rakyat? Dan nilai apa yang seharusnya menjadi dasar pembentukan generasi?

Dalam perspektif Islam, negara wajib memiliki tanggung jawab besar terhadap pemenuhan kebutuhan rakyat. Pengelolaan kekayaan alam tidak semestinya hanya berorientasi pada keuntungan segelintir pihak, tetapi diarahkan untuk kemaslahatan masyarakat. Dalam gagasan negara Khilafah, pengelolaan sumber daya alam yang menjadi milik umum ditempatkan sebagai bagian dari mekanisme pemenuhan kebutuhan masyarakat. Negara juga berkewajiban menciptakan kondisi yang memungkinkan rakyat memenuhi kebutuhan hidupnya secara layak.

Islam juga tidak memandang generasi sebagai pasar yang harus terus-menerus didorong untuk menjadi agen-agen konsumtif. Informasi, media, dan pendidikan seharusnya membangun kepribadian dan ketakwaan, bukan semata-mata mengejar engagement, klik, dan keuntungan iklan. Generasi muda harus dibentuk menjadi manusia yang memiliki visi, bukan sekadar konsumen. Mereka harus dididik untuk mampu membedakan kebutuhan dan keinginan, memahami batas halal-haram, memiliki kepedulian sosial, serta memiliki kesadaran bahwa hidup bukan hanya tentang dirinya sendiri.

Yang dibutuhkan adalah sistem yang mampu memberikan jaminan kebutuhan dasar, kesempatan kerja yang layak, pendidikan yang berkualitas, perlindungan terhadap masyarakat dari kerusakan budaya, serta pembentukan kepribadian yang memiliki tujuan hidup. Sebab tidak adil rasanya jika generasi muda terus disuruh beradaptasi dengan mahalnya kehidupan, sementara akar persoalannya tidak pernah disentuh.

Islam menawarkan paradigma berbeda, kehidupan tidak dibangun di atas kebebasan tanpa batas dan pengejaran materi, tetapi di atas akidah, syariah, dan tanggung jawab negara terhadap rakyat. Karena itu, persoalan Gen Z sesungguhnya bukan hanya persoalan self-reward. Ini adalah persoalan ekonomi, politik, budaya, pendidikan, dan ideologi. Jika generasi muda terus dibiarkan terhimpit antara biaya hidup yang semakin tinggi, budaya konsumtif yang semakin kuat, dan tujuan hidup yang semakin kabur.
Wallahu a’lam bissawab

  • Penulis: Dhea Rahma Artika
  • Editor: Dahlan Batubara

Rekomendasi Untuk Anda

  • Calbup Saipullah Jadi Imam dan Penceramah Kultum Subuh di Gunungtua

    Calbup Saipullah Jadi Imam dan Penceramah Kultum Subuh di Gunungtua

    • calendar_month Minggu, 6 Okt 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Calon Bupati Mandailing Natal (Madina) nomor urut 2 Saipullah Nasution didaulat menjadi imam salat Subuh di Masjid Raya Suhada’a Gunungtua, Kecamatan Panyabungan, Madina, Ahad (6/10/2024). Selain jadi imam salat, Saipullah juga tampil sebagai penceramah kultum subuh di masjid itu usai salat Subuh. Dalam ceramah singkat, Saipullah mengurai sejumlah hadis yang berkaitan […]

  • DPRD Sumut Desak PTPN 4 dan Bank Mandiri Transparan di Batahan, Madina

    DPRD Sumut Desak PTPN 4 dan Bank Mandiri Transparan di Batahan, Madina

    • calendar_month Jumat, 15 Jan 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN (Mandailing Online) – Anggota Komisi B DPRD Sumut, H. Fahrizal Efendi Nasution,SH meminta PTPN 4 menyerahkan hak rakyat Batahan, Mandailing Natal. Politisi asal Madina ini juga mendesak Bank Mandiri membuka data pencairan uang senilai Rp. 84 M yang dipakai untuk pembiayaan operasional kebun KUD Pasar Baru Batahan seluas 1.700 – 1.726 Ha. Apalagi semenjak dini, KUD Pasar […]

  • Peringatan Harkitnas di Tapsel & Psp

    Peringatan Harkitnas di Tapsel & Psp

    • calendar_month Minggu, 22 Mei 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Tabur Bunga di Makam Pahlawan TAPSEL- Peringatan Hari Kebangkitan Nasional atau Harkitnas di Tapsel dan Psp, Jumat (20/5) diisi dengan upacara dan tabur bunga di Taman Makam Pahlawan oleh pejabat-pejabat di kedua daerah itu. Di Tapanuli Selatan (Tapsel), upacara dipimpin Sekdakab H Aswin Efendi Siregar MM. Upacara digelar di halaman Kantor Bupati Tapsel, Jalan Kenanga, […]

  • Miliki Ganja, Residivis Warga Panyabungan Jae Kembali Berurusan Dengan Polisi

    Miliki Ganja, Residivis Warga Panyabungan Jae Kembali Berurusan Dengan Polisi

    • calendar_month Rabu, 31 Mei 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN( Mandailing Online ) – MSN alias Klara (45) seorang residivis kasus ganja, warga Desa Panyabungan Jae, Kecamatan Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina) kembali berurusan dengan polisi Klara kembali diamankan Satresnarkoba Polres Madina karena memiliki ganja kering siap edar sebanyak 12,38 gram untuk dijual. Pria botak ini diamankan di Jalan Masjid Panyabungan Jae beserta uang […]

  • Misteri: Ketika Raja Inggris Bersyahadat

    Misteri: Ketika Raja Inggris Bersyahadat

    • calendar_month Senin, 6 Jan 2014
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    LIVERPOOL – Tidak ada yang tahu apa yang sedang berlangsung atau apa yang sedang dipikirkan saat Raja Offa di Inggris mencetak uang negaranya dengan ucapan syahadat. Raja Anglo-Saxon yang memerintah Mercia, Inggris, tahun 757 sampai 796 ini sangat kontroversial, khususnya dalam hubungannya dengan pemerintahan Abbasiyah di Irak. Para sejarawan menganggap Offa merupakan salah satu raja […]

  • Belum jadi Bupati Madina, Hari ini Harun Mustafa Usulkan 3 Proyek Strategis lewat Komisi V DPR-RI

    Belum jadi Bupati Madina, Hari ini Harun Mustafa Usulkan 3 Proyek Strategis lewat Komisi V DPR-RI

    • calendar_month Rabu, 30 Okt 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    Panyabungan ( Mandailing Online ): Perjuangan membangun Kabupaten Mandailing Natal ( Madina ) terus diupayalan calon bupati madina nomor urut 1 Harun Mustafa Nasution. kali ini lewat Musa Rajekshah anggota komisi V DPR-RI, Harun Mustafa mengusulkan program percepatan peningkatan tata guna air irigasi (P3TGAI) untuk Kabupaten Madina. ” hari ini pak Musa Rajekshah selaku anggota […]

expand_less