Rabu, 26 Agu 2026
light_mode

DARI TATARING HINGGA OPUK DAN STIGMA MANIPOL

  • account_circle Moechtar Nasution
  • calendar_month 16 menit yang lalu
  • print Cetak

 Oleh: Moechtar Nasution
Penggiat GEREP INSTITUTE (Pusat Kajian Madina)

 

Di bawah temaram lampu kedai kopi di pelosok Medan, atau dalam riuh rendah seloroh di pasar-pasar tradisional Sumatra Utara, sebuah frasa lama kerap melintas bagai angin buritan yang usil “Mandailing Polit”. Kadang ia datang dalam bentuk singkatan yang getir “Manipol”. Bagi mereka yang hanya singgah di permukaan, frasa ini terdengar seperti vonis sosial—sebuah stempel ketat yang menuduh sekelompok manusia memiliki hati yang sempit dan tangan yang menggenggam erat setiap keping rupiah.

Namun, kebudayaan tidak pernah tumbuh dari tanah yang dangkal. Di balik karikatur urban yang sering kali jenaka sekaligus sinis itu, tersimpan sebuah bentangan psikologis yang dalam. Menuduh orang Mandailing pelit adalah kegagalan membaca sebuah laku hidup yang asketis, sebuah disiplin eksistensial yang akarnya menghujam jauh ke dalam tanah falsafah leluhur mereka di bumi Mandailing. Esai budaya  ini mencoba membongkar stigma tersebut, bukan untuk membela diri, melainkan untuk menatap ulang bagaimana sebuah etos hidup mengalami pergeseran makna ketika berbenturan dengan dinamika ruang urban yang konsumtif. Hidup di perantauan sering kali menuntut penyederhanaan yang kejam terhadap identitas kemanusiaan, dan “Mandailing Polit” atau stigma Manipol adalah salah satu korban dari simplifikasi yang tidak adil tersebut.

Dalam lanskap sosiokultural Sumatra Utara yang heterogen dan blak-blakan, stereotip etnis menjadi bumbu dalam interaksi sehari-hari. Etnis Mandailing, dengan sejarah panjangnya sebagai perantau, pedagang, dan kaum terpelajar, sering kali terperangkap dalam pelabelan ini. Frasa “Manipol”—yang secara jenaka memelesetkan istilah sejarah ”Manifesto Politik” era Soekarno—menjadi cara masyarakat verbal Sumatra Utara mengemas prasangka menjadi seloroh. Namun, sebuah esai budaya yang jernih tidak boleh berhenti pada tawa di kedai kopi. Kita harus melangkah masuk ke dalam bilik rumah adat, melihat dapur yang mengepul, dan membaca ulang catatan keuangan keluarga Mandailing untuk memahami akar dari perilaku ini.

Secara antropologis, apa yang dibilang “polit” oleh orang luar sebenarnya adalah bentuk frugalitas (gaya hidup hemat) dan ketajaman kalkulasi ekonomi. Masyarakat Mandailing memiliki kesadaran yang sangat tinggi terhadap nilai keringat. Uang tidak dipandang sebagai alat untuk pamer sosial (conspicuous consumption) atau dibakar dalam kesenangan sesaat. Ada prinsip kehati-hatian yang ketat dalam membelanjakan harta. Di mata kebudayaan lain yang mungkin lebih ekspresif dalam urusan konsumsi atau hura-hura, sikap menahan diri dan penuh perhitungan ini dengan mudah dikategorikan sebagai kepelitan.

Menariknya, genggaman erat tangan orang Mandailing pada rupiahnya akan langsung melonggar ketika berhadapan dengan dua hal yakni pendidikan anak dan institusi sosial.

Dalam falsafah hidup Mandailing, kemiskinan materi di kampung halaman bisa dimaafkan, tetapi kemiskinan ilmu adalah aib. Sifat hemat yang ekstrem sering kali dipraktikkan orang tua di kampung demi satu tujuan suci yaitu mengirimkan anak-anak mereka kuliah ke Jawa, atau bahkan ke luar negeri. Uang yang “disembunyikan” dari pergaulan sehari-hari itu mewujud menjadi biaya buku, uang semester, dan ongkos merantau. Hasil dari “kepelitan” ini terbukti secara historis bahwa etnis Mandailing menyumbang begitu banyak nama besar dalam jajaran militer, intelektual, hukum, sastra, dan birokrasi di tingkat nasional.

Asal Usul Istilah Ikan Kerek di Tanah Rantau

Untuk mengurai benang kusut stigma ini, kita harus melacaknya melalui titik temu paling krusial yakni perjumpaan antara realitas domestik asli Mandailing dengan tatapan asing di tanah perantauan. Di tengah masyarakat luas, mitos urban yang paling sering dilekatkan pada orang Mandailing adalah anekdot satir tentang “ikan kerek”—sepotong ikan yang diikat tali lantas dicelupkan ke dalam gulai mendidih sekadar untuk meminjam aromanya, lalu ditarik kembali ke atas langit-langit dapur untuk disimpan demi masakan esok hari. Mitos ini hidup subur dalam ruang prasangka urban karena ia menawarkan sebuah tawa yang murah atas pengorbanan yang mahal.

Jika ditelisik secara sosiolinguistik, istilah “ikan kerek” sebenarnya memuat keganjilan yang sangat mendasar. Istilah ini sama sekali asing dan tidak pernah diketemukan dalam khazanah kosa kata etnis Mandailing asli, baik mereka yang berdomisili di wilayah kultural Kabupaten Mandailing Natal maupun kabupaten/kota tetangga lainnya di kawasan Tapanuli Bagian Selatan. Jangankan di tanah asal, orang-orang tua Mandailing di perantauan pun akan mengernyitkan dahi mendengar istilah tersebut. Dalam memori bahasanya, masyarakat Mandailing tidak mengenal kata “ikan” untuk menyebut fauna air, melainkan menggunakan leksikon asli ian atau gulaen. Kehadiran kata “ikan” dan “kerek” dalam satu frasa adalah bukti konkret adanya intervensi bahasa dari luar yang dipaksakan masuk untuk melabeli sebuah kebiasaan yang tidak dipahami esensinya.

Fakta kebahasaan ini membawa kita pada sebuah kesimpulan historis yang logis yakni istilah “ikan kerek” besar kemungkinan lahir dan diproduksi di luar teritori kultural Mandailing, tepatnya di Tanah Deli (wilayah Medan dan sekitarnya). Ketika arus migrasi besar-besaran membawa etnis Mandailing keluar dari lembah dan bukit pegunungan Bukit Barisan dengan puncaknya Gunung Sorik Marapi menuju pesisir timur Sumatra, perjumpaan kultural tidak lagi tak terhindarkan. Di tanah perantauan yang kosmopolitan ini, mereka membaur, berinteraksi, dan bertransaksi dengan berbagai etnis lain, termasuk suku Melayu Deli, Batak dan para perantau rumpun Jawa atau Minangkabau. Perantauan adalah kuali besar di mana identitas-identitas diaduk secara paksa, dan dalam proses pengadukan itulah gesekan-gesekan sosial melahirkan anekdot sebagai katup penjelas atas perbedaan watak ekonomi antarsuku.

Dalam ruang asimilasi yang riuh itulah karikatur “ikan kerek” digubah. Kata “kerek” sendiri, yang dalam bahasa Jawa atau Melayu pasaran merujuk pada aktivitas menaikkan atau menurunkan sesuatu dengan tali (seperti menimba air), dipinjam untuk menggambarkan prasangka visual tentang cara orang Mandailing berhemat. Karikatur fiktif ini diciptakan oleh komunitas urban di sekitar mereka sebagai bumbu penyedap gurauan jalanan. Sebuah produk bahasa hibrida yang lahir di perantauan, namun secara keliru dilekatkan kembali sebagai identitas asli etnis Mandailing. Bahasa di sini tidak lagi berfungsi sebagai alat komunikasi, melainkan sebagai cermin buram yang memantulkan kesalahpahaman sosiologis antar-etnis yang hidup berdampingan namun gagal saling menyelami kedalaman rasa.

Kelahiran stigma ini menemukan momentumnya yang paling ironis dan berdaya hantam kuat pada tahun 1959. Saat itu, Presiden Soekarno membacakan pidato kenegaraan legendaris bertajuk Penemuan Kembali Revolusi Kita, yang kemudian ditetapkan oleh Dewan Pertimbangan Agung sebagai Haluan Negara dengan nama Manifesto Politik Republik Indonesia, yang disingkat Manipol (kemudian dipadukan dengan USDEK). Konsep “Manipol” adalah doktrin politik agung, sebuah manifesto ideologis yang mewajibkan seluruh rakyat Indonesia untuk melakukan penghematan nasional, pengetatan ikat pinggang, dan pengorbanan materi demi tegaknya kedaulatan bangsa yang baru seumur jagung. Negara saat itu sedang menginstruksikan laku hidup asketis secara makro.

Namun di jalanan tanah Deli, bahasa elite negara ini mengalami “pembajakan” semantik yang sangat tak terduga. Masyarakat perantauan di pesisir timur yang terkenal gemar bersilat kata dan memiliki selera humor satiris yang tajam, menangkap gaung kata “Manipol” yang saban hari disiarkan di radio. Berbarengan dengan pandangan mereka terhadap ketatnya kedisipilinan finansial para perantau Mandailing, lidah pasar yang usil langsung memotong jalur ideologis tersebut. Singkatan agung “Manifesto Politik” diplesetkan menjadi akronim lokal yang menggigit yaitu Mandailing Polit.

Secara sosiologis, ini adalah sebuah ironi yang mendalam. Kebijakan pengetatan ekonomi yang diinstruksikan oleh negara justru dijadikan tameng kebahasaan untuk mencemooh etnis yang secara alamiah memang mempraktikkan asketisme ekonomi demi masa depan. Istilah “Manipol” bertransformasi menjadi senjata kultural ganda, ia dipakai untuk menertawakan doktrin politik Orde Lama sekaligus menstempel etnis Mandailing dengan cap kikir yang pekat. Sejak era tersebut berkelindan dengan mikrososial jalanan Deli, akronim Manipol mengkristal dalam memori kolektif pergaulan antarsuku lintas generasi, meninggalkan luka sejarah yang disembunyikan dengan rapi di balik gelak tawa kedai kopi.

Rahasia Memasak Daun Ubi Tumbuk dan Ikan Sungai

Cetak biru dari karikatur “ikan kerek” tersebut sebenarnya bersumber dari tindakan domestik yang biasa disaksikan mata luar ketika orang Mandailing memasak menu legendaris mereka yaitu bulung gadung na ni duda (daun ubi tumbuk) atau yang kerap disebut gule parcak. Sayur ini bukan sekadar pengisi perut, melainkan sebuah ritus rasa yang menghubungkan ingatan perantau dengan tanah asal. Dalam kebiasaan memasak tradisional, tungku perapian adalah ruang sakral tempat bertemunya elemen alam dan ketulusan tangan seorang ibu.

Dalam pakem kuliner Mandailing, keagungan rasa sayur daun ubi tumbuk justru bertumpu pada esensi aromatik, bukan pada tumpukan materi daging. Proses mencelupkan ikan sale (ikan asap) ke dalam gulai yang tengah mendidih di atas tataring (dapur kayu tradisional), lalu mengangkat dan menggantungnya kembali di atas tungku perapian, adalah sebuah teknik kuliner murni untuk mengekstrak aroma asap yang khas ke dalam kuah. Kuah ubi tumbuk itu perlu “dinodai” oleh kepekatan aroma asap ikan sale, namun tekstur ikannya sendiri sengaja dijaga agar tidak hancur lebur bersatu dengan tumbukan daun ubi. Ada pemahaman estetika kuliner yang sangat tinggi di sini, bahwa rasa terbaik didapatkan dari saripati yang dilepaskan secara perlahan, bukan dari penghancuran fisik materi makanan.

Mata asing yang menyaksikan ritual kuliner ini dari luar jendela asimilasi, tanpa pemahaman filosofis yang utuh, tergesa-gesa mereduksinya menjadi sebuah tanda kekikiran. Mereka mengira orang Mandailing terlalu pelit untuk membiarkan ikan itu hancur dimakan bersama. Mereka melihat tindakan menggantung kembali ikan tersebut sebagai bentuk ketakutan akan kehilangan harta benda berupa makanan. Penilaian superfisial ini lahir dari kultur masyarakat urban yang konsumtif, yang mengukur kemurahan hati hanya dari seberapa cepat dan seberapa banyak materi dihabiskan dalam sekali lahap, tanpa mengerti arti dari efisiensi aromatik.

Padahal jika kita menantang karikatur itu dengan logika sejarah ekonomi dan ekologi, sebuah pertanyaan retoris yang runtuh akan muncul, jika memang saat itu ketakutan akan kehabisan makanan melanda pikiran mereka, mana mungkin mereka menggantung ikan sale tersebut berhari-hari hanya karena cemas?

Menggantung daging atau ikan di atas tataring justru membutuhkan rasa aman dan kepercayaan yang tinggi bahwa alam di luar sana masih menyediakan segalanya. Orang yang cemas akan kelaparan tidak akan menyimpan makanannya di tempat terbuka yang mudah dilihat orang namun sebaliknya mereka akan menyembunyikannya atau langsung menghabiskannya karena takut besok tidak ada lagi.

Logika kelangkaan pangan sama sekali tidak berlaku di sini. Pada zaman itu, bumi Mandailing dan wilayah-wilayah tangkapannya adalah surga kelimpahan air. Sungai-sungai masih perawan dan menghasilkan ikan segar setiap harinya. Semiskin apa pun seorang manusia Mandailing pada masa itu, untuk melangkah beberapa meter ke sungai dan mendapatkan sepiring ikan segar adalah urusan yang teramat mudah. Alam menyediakan pangan tanpa batas, sehingga gagasan tentang menyimpan sepotong ikan karena takut miskin adalah sebuah ketidakpahaman terhadap realitas ekologis masa lalu.

Maka, argumen bahwa mereka menolak menghabiskan ikan sale karena takut kekurangan pangan adalah sebuah anomali berpikir. Menggantung kembali ikan sale di atas tataring bukan karena ketakutan esok hari kelaparan, melainkan karena ikan tersebut memang berfungsi sebagai bumbu esensial, penjiwa rasa, yang sengaja disimpan dalam ekosistem pengasapan dapur kayu agar kualitas aromanya tetap prima untuk masakan-masakan berikutnya. Sifat merawat kualitas rasa dan menghormati esensi bumbu inilah yang disalahpahami oleh mata luar sebagai sifat kikir. Orang Mandailing memperlakukan ikan sale seperti seorang koki Prancis memperlakukan kaldu pekatnya karena ia adalah fondasi rasa yang harus dihormati kehadirannya, bukan rongsokan yang dihabiskan tanpa rencana.

Tradisi Menjaga Sungai Lewat Lubuk Larangan

Bantahan paling telak terhadap tuduhan “pelit” atau “kikir” yang dikonstruksikan lewat satire ikan kerek di perantauan ini sebenarnya menemui jangkar moralnya di tanah asal mereka. Prasangka urban di tanah Deli langsung menguap ketika kita menghadapkannya pada kosmologi masyarakat Mandailing terhadap air dan bumi tempat mereka berpijak. Sejak zaman purba, bumi Mandailing dikenal sebagai berkah yang basah. Alamnya melimpah ruah oleh kekayaan sumber daya yang tak habis diperas. Hamparan pertanian padi berundak terbentang luas sejauh mata memandang, bersanding megah layaknya permadani hijau yang membingkai kaki-kaki bukit. Kesuburan ini tidak melahirkan kesombongan, melainkan kesadaran spiritual bahwa manusia hanyalah penumpang di atas punggung bumi yang murah hati.

Di sela-sela kemakmuran agraris itu, mengalir urat nadi peradaban mereka terdiri dari sungai-sungai besar dan kecil yang dalam bahasa setempat disebut batang atau aek. Dari aliran Batang Gadis hingga Aek Pohon, air bukan sekadar elemen hidrologis, melainkan ibu yang melahirkan kebudayaan, membentuk pemukiman atau huta, serta menyediakan pangan berupa kelimpahan ian atau gulaen bagi anak cucu Mandailing. Sungai bagi mereka adalah ruang suci tempat kehidupan bermula dan dibersihkan. Di tepian aliran air inilah falsafah hidup bersama dirumuskan, di mana setiap riak air membawa pesan tentang keharusan berbagi ruang dengan makhluk hidup lainnya.

Namun di tengah kelimpahan sumber daya yang bisa saja membuat manusia menjadi serakah dan eksploitatif, masyarakat Mandailing justru menetapkan sebuah batas moral yang agung melalui institusi adat yang kita kenal sebagai “Lubuk Larangan”. Di sinilah letak keunikan komparatif masyarakat Mandailing dalam memperlakukan alam. Mereka tidak menguras sungai secara sembarangan, melainkan memberlakukan sistem zonasi dan kalender ekologis yang ketat. Lubuk Larangan mengajari kita tentang konsep self-restraint (penahanan diri) yang radikal. Di bawah hukum adat, keserakahan individu diredam demi keselamatan kolektif.

Lubuk Larangan adalah sebuah oase kearifan lokal yang melarang siapa pun mengambil, memancing, atau menjala ikan di bagian aliran sungai tertentu selama jangka waktu yang disepakati biasanya antara enam bulan hingga satu tahun. Aturan ini dijaga oleh sanksi adat yang tegas sekaligus kepatuhan magis religius yang kuat. Selama masa penutupan, ekosistem sungai diberi ruang sunyi untuk bernapas. Ikan-ikan lokal seperti garing atau jurung dibiarkan tumbuh besar, memijah, dan bertelur tanpa interupsi keserakahan manusia. Larangan ini adalah bentuk “kepelitan” yang suci—sebuah tindakan menutup akses sementara agar alam dapat melakukan pemulihan mandiri (self-healing).

Ketika hari pembukaan tiba—sebuah ritus komunal yang dinanti-nanti—seluruh lapisan masyarakat turun ke sungai bersama-sama dalam pesta tangkap ikan massal (Horja Mangalo-alo Ikan). Hasil tangkapan tersebut dinikmati bersama, dan sebagian keuntungannya dilelang untuk kas pembangunan fasilitas umum desa seperti masjid atau madrasah. Di sini kita melihat perpindahan yang indah dari laku menahan diri menuju selebrasi kebersamaan. Harta yang dijaga bersama dikembalikan sepenuhnya untuk kemaslahatan bersama.

Fakta sosiologis Lubuk Larangan ini menguak tabir esensial yaitu masyarakat Mandailing tidak pernah pelit terhadap sesama, melainkan mereka “pelit” terhadap ego keserakahan mereka sendiri demi keberlanjutan masa depan alam. Mereka menahan diri hari ini agar sungai tetap menghidupi generasi esok. Ini adalah prinsip konservasi modern yang dibungkus dalam spiritualitas adat tradisional—sebuah pembuktian bahwa pengelolaan komunal mereka jauh melampaui stigma dangkal yang disematkan masyarakat urban perantauan. Suku yang dituduh pelit ini ternyata adalah arsitek pelestarian alam yang visioner, yang tahu persis kapan harus menggenggam dan kapan harus melepaskan.

Cara Unik Mengawetkan Ikan, Durian, dan Padi

Kecerdasan mengelola alam ini tidak berhenti pada urusan memanen, melainkan berlanjut pada bagaimana hasil panen tersebut dikelola setelahnya. Ketika masa pembukaan Lubuk Larangan usai dan kelimpahan ian berhasil ditangguk, masyarakat Mandailing tidak pernah menghabiskan seluruh tangkapan itu seketika dalam satu pesta jamuan makan yang konsumtif. Ada kesadaran ekologis dan teoritis yang menuntun mereka untuk mengawetkan sebagian hasil bumi sebagai cadangan pasokan pangan strategis keluarga. Kemampuan untuk menunda kenikmatan instan ini adalah ciri dari peradaban yang telah matang berpikir. Mereka paham bahwa alam tidak akan selalu tersenyum, dan keserakahan menghabiskan segalanya dalam satu malam adalah bentuk pengkhianatan terhadap hari esok. Bagi orang Mandailing, makanan yang tersisa di piring hari ini adalah benih keselamatan untuk minggu depan.

Secara geografis, wilayah Mandailing didominasi oleh bentang alam Bukit Barisan yang bergunung-gunung dan berlembah-lembah. Kondisi alamiah yang berlekuk dan menantang ini membentuk sebuah kearifan sosiologis. Dimana manusia Mandailing harus selalu bersiap menghadapi ketidakpastian alam. Cuaca yang bisa berubah ekstrem, akses mobilitas antar-lembah yang kala itu tidak mudah, serta masa paceklik menuntut sebuah sistem manajemen logistik domestik yang andal. Pangan harus awet, terjaga, namun harus mudah diambil seketika saat dibutuhkan tanpa mengurangi kehormatan rasanya. Geografi adalah takdir, namun cara menyikapinya adalah kebudayaan dan orang Mandailing memilih membentuk kebudayaan yang tangguh menghadapi tantangan ruang. Mereka menolak menjadi korban dari topografi tempat mereka tinggal dan sebaliknya mereka menjadikan lembah dan gunung itu sebagai guru yang mendidik mereka menjadi pengatur strategi logistik yang ulung.

Dari sinilah lahir berbagai teknik pengawetan pangan tradisional yang sangat maju. Ikan-ikan segar hasil tangkapan sungai yang melimpah diawetkan melalui metode pengasapan lambat di atas tungku, sebuah teknik yang menghasilkan produk legendaris yang kita kenal sebagai “Ikan Sale”.

Proses pengasapan ini bukan sekadar cara memperpanjang umur simpan daging ikan agar terhindar dari pembusukan, melainkan sebuah transformasi kuliner yang memberikan cita rasa dan aroma asap yang sangat khas, pekat, sekaligus menggugah selera. Asap dari kayu bakar meresap ke dalam serat daging, mengunci nutrisi sekalian mengusir kelembapan yang merusak.

Secara filosofis, Ikan Sale adalah simbol dari ketahanan yang ditempa oleh waktu dan panasnya perjuangan hidup. Proses pengasapan yang memakan waktu berjam-jam mengajarkan manusia Mandailing tentang arti kesabaran dan ketekunan. Sesuatu yang berharga tidak lahir dari ketergesaan, melainkan dari proses “pematangan” yang lambat di bawah asuhan hawa panas tungku perapian domestik. Menariknya, kecerdasan pengasapan ini tidak hanya diterapkan pada ikan namun juga untuk belut sungai yang licin pun turut diawetkan dengan sistem pengasapan yang serupa, membuktikan bahwa teknologi ini telah diadopsi secara luas di dapur-dapur mereka sebagai bentuk kesiapsiagaan komunal menghadapi musim kelangkaan.

Ketika musim buah tiba dan hutan adat mereka menjatuhkan ribuan buah durian yang ranum, masyarakat Mandailing kembali menolak membiarkan berkah alam itu membusuk sia-sia. Mereka mengembangkan cara unik yang eksotis dengan memfermentasikan daging durian di dalam tabung-tabung bambu penyengat, sebuah mahakarya kuliner awetan bernama “Joruk” (atau dikenal luas sebagai asam durian/tempoyak). Melalui Joruk, rasa manis durian yang fana diubah menjadi rasa asam-gurih yang abadi.

Di dalam kegelapan tabung bambu yang tertutup rapat, daging durian mengalami metamorfosis spiritualnya sendiri. Proses fermentasi ini adalah analogi dari fase penahanan diri dalam hidup perantauan: untuk mencapai ketahanan dan nilai filosofis yang lebih tinggi, seseorang harus rela mengisolasi diri dari kesenangan duniawi yang berlebihan, membiarkan proses internal membentuk karakter baru yang lebih kuat dan tidak mudah rusak oleh zaman. Joruk mengajarkan bahwa apa yang tampaknya membusuk dan hancur di mata orang luar, jika dikelola dengan kearifan yang tepat, justru akan melahirkan cita rasa baru yang memperkaya khazanah kehidupan.

Siklus penahanan diri dan penyimpanan ini mencapai puncaknya di sektor agraris. Sesaat setelah masa panen raya di atas permadani sawah selesai, bulir-bulir gabah kering tidak langsung dijual demi kesenangan instan atau dibakar dalam pesta pora yang sia-sia. Masyarakat Mandailing mengalirkan hasil jerih payah mereka ke dalam lumbung-lumbung padi komunal atau domestik yang disebut “Opuk”. Opuk bukan sekadar bangunan kayu tempat menumpuk padi, melainkan rahim pelindung bagi kedaulatan sebuah peradaban. Arsitektur Opuk dirancang dengan penuh perhitungan filosofis karena ia berdiri tegak di atas tiang-tiang penyangga, terpisah dari tanah. Sebagai simbol bahwa urusan kedaulatan pangan harus diletakkan pada posisi yang terhormat dan suci, jauh dari jangkauan hama kerakusan bumi.

Opuk adalah jaminan bahwa sekencang apa pun badai ekonomi, kegagalan panen di musim berikutnya, atau perubahan cuaca yang ekstrem melanda lembah, dapur-dapur di huta tidak akan pernah kekurangan kepulan asap nasi. Budaya menyimpan di dalam lumbung ini menunjukkan bahwa esensi tertinggi dari kemakmuran bukanlah seberapa banyak yang kita makan hari ini, melainkan seberapa aman kita menghadapi hari esok. Opuk mendidik jiwa kolektif Mandailing untuk memiliki pandangan yang melampaui batas hari ini. Ketika sebuah keluarga melihat lumbung mereka terisi penuh, mereka tidak melihatnya sebagai tumpukan kekayaan untuk dipamerkan kepada tetangga, melainkan sebagai rasa tenang yang memerdekakan jiwa mereka dari ketakutan akan masa depan. Dengan pangan yang aman di dalam Opuk, orang Mandailing memiliki kemerdekaan berpikir untuk merencanakan hal-hal yang lebih besar: pendidikan anak-anak mereka, keteguhan menjalankan syariat agama, dan pengabdian pada tatanan adat.

Gaya Hidup Hemat demi Pendidikan dan Agama

Ketika watak menjaga alam dan kecerdasan logistik ini bertransformasi ke dalam laku individu di perantauan, ia mewujud sebagai prinsip “Mangirit”—sebuah kompas hidup yang mengutamakan kecermatan, penahanan diri, dan kalkulasi masa depan yang matang. Prinsip ini memiliki tarikan napas yang sama dengan falsafah Ikan Sale, Joruk, dan Opuk yakni menunda konsumsi hari ini demi keselamatan dan kedaulatan di masa depan. Di tanah rantau yang penuh ketidakpastian, Mangirit adalah atmosfir psikologis yang melindungi para perantau dari kebangkrutan moral dan finansial.

Bagi orang Mandailing di perantauan, hidup bukanlah tentang apa yang bisa dipamerkan hari ini, melainkan tentang apa yang bisa diwariskan esok hari. Ada penolakan kultural yang mendalam terhadap perilaku goyang lidah (pemuasan syahwat konsumsi) atau pamer kemewahan lahiriah (show-off) atau FOMO.

Suku Mandailing memandang konsumatisme yang dangkal sebagai bentuk kelemahan karakter—sebuah tanda bahwa seseorang dikendalikan oleh nafsunya sendiri daripada akal budinya. Mereka memilih jalan sunyi asketisme di tengah gemerlap lampu kota, menjaga jarak dari kompetisi gengsi yang melelahkan.

Ketika seorang perantau Mandailing memilih berjalan kaki alih-alih naik angkutan, atau memilih menu makanan yang bersahaja, ia sedang tidak mengidap penyakit kikir. Ia sedang menundukkan kediriannya di bawah disiplin yang ketat. Di balik setiap rupiah yang ia tahan di dalam saku, ada dua menara suci yang sedang ia bangun di dalam kepalanya yakni Sita-sita (cita-cita luhur pendidikan).

Orang Mandailing memiliki keyakinan mutlak bahwa kemiskinan struktural hanya bisa dihancurkan oleh ilmu pengetahuan. Mereka rela hidup menderita di bawah atap yang bocor di perantauan, asalkan anak-anak mereka kelak bisa menyandang gelar sarjana, magister, hingga doktor dari universitas-universitas terkemuka. Pendidikan adalah harga diri (surgo) yang tak bisa ditawar. Bagi mereka, warisan terbaik bukan berupa petak tanah yang bisa diperebutkan, melainkan kapasitas intelektual yang tertanam di dalam kepala generasi penerus.

Kewajiban teologis (Ibadah Haji) yakni kehidupan beragama yang kuat menempatkan tanah suci Mekkah Al Mukarromah sebagai muara dari seluruh jerih payah duniawi. Menabung dengan sangat ketat adalah manifestasi dari kerinduan spiritual yang mendalam untuk menyempurnakan rukun Islam. Setiap keping koin yang disisihkan adalah langkah batin yang mendekatkan mereka pada Baitullah.

Dalam ruang privat, mereka adalah petapa finansial. Mereka mengalirkan uang bukan berdasarkan keinginan (harohayan), melainkan berdasarkan kebutuhan esensial yang visioner. Ketatnya pengelolaan uang di ruang privat ini bukanlah tanda bahwa mereka mencintai uang secara berlebihan namun sebaliknya, itu adalah bukti bahwa mereka sangat menghargai nilai dari setiap tetes keringat yang dikeluarkan di perantauan.

Pesta Adat Besar Sebagai Bukti Suka Berbagi

Kontradiksi dialektis etnis Mandailing kembali mengemuka saat mereka sangat hemat dalam urusan personal, namun bertabur kemurahan hati yang melimpah dalam urusan sosial. Sifat ini sering kali membingungkan pengamat luar yang gagal melihat jembatan yang menghubungkan ruang domestik dan ruang komunal mereka. Watak komunal yang kokoh pada tradisi Lubuk Larangan dan lumbung Opuk beresonansi kuat dalam pelaksanaan Horja Godang (pesta adat besar). Di sinilah kepribadian asli mereka meledak dalam bentuk kedermawanan yang paripurna, dan untuk memahaminya, kita harus menyelami struktur sosial Dalihan Na Tolu.

Dalihan Na Tolu adalah sistem kekerabatan tiga jangkar adat yang sakral yaitu Mora (pihak pemberi gadis yang sangat dihormati), Anak Boru (pihak penerima gadis yang menjadi pelayan adat), dan Kahanggi (teman semarga/sederajat). Laku hidup Mangirit di ruang privat dilakukan justru agar ketika tiba giliran mengemban tanggung jawab adat, mereka tidak tampil dengan tangan hampa. Ketika bertindak sebagai Anak Boru, mereka harus memiliki bekal materi yang cukup untuk melayani dan memuliakan seluruh kerabat. Di sinilah letak kedalaman nilainya ketika berhemat dalam kesunyian rumah tangga dilakukan demi menjaga kelayakan dan martabat diri di hadapan tatanan sosial masyarakatnya.

Di panggung ritus Horja Godang, kalkulator finansial yang biasanya mereka pegang dengan erat seolah dilemparkan ke lubang terdalam. Kerbau-kerbau gemuk disembelih, anyaman tikar dibentangkan, dan seluruh pintu rumah dibuka lebar tanpa kunci. Siapa saja boleh datang, duduk, dan makan hingga kenyang tanpa perlu menunjukkan undangan formal. Biaya yang dihabiskan bisa mencapai angka yang fantastis, hasil dari tabungan bertahun-tahun yang dikumpulkan lewat jalan hidup hemat yang kerap dicemooh itu. Harta tidak ditumpuk untuk kesombongan pribadi, melainkan diredistribusikan demi harmoni sosial dan penghormatan leluhur berdasarkan keadilan Dalihan Na Tolu.

Jauh di pedalaman, sifat ini juga mengalir dalam tradisi Marsialapari (arisan tenaga). Ketika musim panen tiba di atas permadani sawah mereka, masyarakat akan turun bersama secara bergiliran tanpa ada transaksi rupiah sepeser pun. Mereka menyumbangkan keringat, waktu, dan energi untuk tetangga mereka berdasarkan asas ketulusan yang murni (ikhlas). Marsialapari adalah bukti nyata bahwa modal sosial terbesar mereka bukanlah kapital finansial, melainkan rasa percaya dan kesiapan untuk saling menopang beban. Apakah komunitas yang fondasi sosialnya dibangun di atas keringat tanpa upah ini layak disebut pelit? Tentu tidak. Mereka adalah manusia-manusia yang kaya secara sosial, yang mengukur kekayaan dari seberapa banyak lengan yang siap merangkul ketika musibah datang.

 Jejak Nyata Para Tokoh Besar Mandailing

Jika bangunan argumen filosofis, pembongkaran linguistik, serta data ekologis di atas dirasa belum cukup untuk meruntuhkan stigma “Manipol” atau tuduhan pelit tersebut, sejarah menyediakan bukti empiris yang tak terbantahkan melalui riwayat hidup para tokoh besar berdarah Mandailing. Karakter sejati sebuah suku bangsa terpancar paling benderang lewat tindakan para anak kandungnya yang paling terkemuka, mereka yang mengorbankan hidup dan harta benda demi tegaknya peradaban dan kemerdekaan.

Mari kita tengok langkah sunyi Willem Iskander, yang terlahir dengan nama Sati Nasution pada abad ke-19. Beliau adalah guru bangsa, seorang visioner yang mendedikasikan seluruh energi, waktu, dan masa mudanya untuk mendirikan Kweekschool Tanobato (Sekolah Guru) pertama di Sumatra Utara. Willem Iskander adalah perwujudan hidup dari falsafah Sita-sita. Beliau tidak mengumpulkan uang peras keringatnya untuk memperkaya diri atau membangun istana megah namun seluruh kapital yang ia miliki dihabiskan demi memerdekakan pikiran bangsanya dari kegelapan kebodohan kolonial lewat jalur pendidikan. Seorang anak manusia dari suku yang dituduh “pelit” justru menjadi salah satu penyumbang modal intelektual terbesar bagi lahirnya fajar budi di Nusantara.

Di kancah perjuangan fisik dan arsitektur negara, sejarah mencatat nama Jenderal Besar DR.H Abdul Haris Nasution. Beliau adalah peletak dasar strategi perang gerilya yang teorinya dipelajari di berbagai akademi militer dunia, seorang tokoh sentral yang memanggul senjata demi tegaknya Republik ini di masa-masa paling kritis. Namun, mari kita tatap ruang privat kehidupan sang Jenderal. Di balik pangkat bintang lima dan nama besarnya yang menggetarkan panggung sejarah nasional, A.H. Nasution sepanjang hidupnya dikenal sebagai pribadi yang teramat asketis, puritan dan menjauhkan diri dari gelimang harta.

Sisi kemanusiaan beliau yang paling menyentuh justru terekam dalam memori visual sejarah  nasional, sebuah rekaman yang secara abadi diabadikan dalam film kolosal Pemberontakan G30S/PKI. Pada fragmen paling mengerikan di malam jahanam 1 Oktober 1965, ketika pasukan Tjakrabirawa memborbardir kediaman resminya dengan senapan otomatis di Jalan Teuku Umar, mata jutaan penonton disuguhi pemandangan yang menggetarkan sanubari. Saat melarikan diri melompati tembok barikade di bawah hujan peluru, Jenderal Besar Abdul Haris Nasution terlihat hanya mengenakan kemeja bersahaja dengan paduan kain sarung.

Detail sinematik ini bukanlah sebuah dramatisasi fiktif karena ia adalah salinan jujur dari realitas keseharian sang Jenderal. Sudah menjadi kebiasaan mutlak bagi beliau, sesaat setelah melangkah masuk melintasi pintu rumah dan kembali ke ruang privat keluarga, untuk menanggalkan segala kebesaran militer, seragam dinas bertabur lencana dan langsung melilitkan kain sarung ke pinggangnya. Laku hidup ini adalah kontinuitas kultural yang tak terputus—sebuah cerminan dari kebiasaan sehari-hari yang dipraktikkan oleh para orang tua di kampung halaman bumi Mandailing ketika sore menjelang setelah lelah memeras keringat di sawah atau kebun.

Menyaksikan seorang panglima tertinggi angkatan perang, sang tokoh puncak militer bangsa, menghadapi maut dan mempertahankan kedaulatan hidupnya dalam balutan kain sarung domestik membawa kita pada satu konklusi filosofis yang telak yakni  puncak kesederhanaan. Jabatan adiluhung di ruang publik sama sekali tidak mampu menanggalkan jatidiri keaslian budayanya yang membumi. Ketatnya beliau menjaga integritas  bukanlah tanda kekikiran finansial, melainkan wujud kepatuhan total pada kode etik kesatria dan nilai luhur budayanya yang menolak kemegahan palsu. Beliau hemat, sederhana, bersahaja dan menjaga kesucian karakternya akan tetapi disisi yang lain dia menyerahkan seluruh jiwa raganya tanpa sisa untuk kedaulatan Indonesia. Tokoh besar ini adalah saksi sejarah yang sahih, yang membuktikan bahwa etos Mandailing adalah tentang kesederhanaan privat yang mendalam dan pengorbanan makro untuk ruang publik, bukan ketamakan mikro di ruang privat.

Rasa Sayang dan Kebersamaan Suku Mandailing

Jika kita menggali lebih dalam hingga ke inti spiritual kebudayaan Mandailing, kita akan menemukan konsep Holong (kasih sayang) dan Domu (rasa kebersamaan/persaudaraan). Dua kata ini bukan sekadar pemanis dalam pidato adat, melainkan kompas moral sakral yang mengatur bagaimana orang Mandailing memandang sesamanya sekaligus lingkungannya. Holong adalah energi ketulusan batin yang menggerakkan empati, sementara Domu adalah ruang manifestasi tempat energi kasih sayang itu diaktualisasikan menjadi jalinan persatuan yang erat dan tidak mudah retak.

Prinsip Mangirit atau berhemat tidak pernah berdiri sendiri dalam kesendirian yang dingin; ia selalu dikontrol, dikemudikan, dan dinaungi oleh payung luhur Holong. Mereka berhemat bukan karena mencintai lembaran uang secara membabi buta, melainkan karena mereka menaruh kasih sayang yang mendalam pada masa depan keturunan mereka, peduli pada keutuhan keluarga, dan sangat menghormati institusi adat. Kasih sayang yang sejati dalam alam pikir Mandailing tidak diwujudkan lewat gelimang kemewahan konsumtif instan yang berpotensi merusak karakter anak-cucu, melainkan diwujudkan lewat kepastian bahwa masa depan anak-cucu telah dipagari oleh fondasi ekonomi, iman, dan pendidikan yang kokoh.

Uang di tangan orang Mandailing adalah hamba, bukan tuan. Ia dijaga dengan penuh kedisiplinan agar ketika saatnya Domu memanggil—apakah itu untuk menyatukan kembali kerabat yang sedang kesusahan, mendirikan rumah ibadah di kampung halaman, menjaga ekosistem aliran sungai lewat kearifan Lubuk Larangan, atau membiayai sekolah kemenakan—tangan mereka berada dalam keadaan siap dan berisi untuk memberi kelimpahan.

Di sinilah arti terdalam dari jalinan persaudaraan (Domu) itu mewujud nyata. Sifat menahan diri di ruang privat domestik adalah strategi luhur mereka untuk mengumpulkan energi kapital agar dapat berkontribusi secara maksimal saat ruang publik adat menghendaki persatuan. Ketika seorang perantau Mandailing menolak membelanjakan uangnya untuk hal-hal yang remeh di luar sana, ia sebenarnya sedang menabung kemampuan untuk berkata “ya” ketika komunitasnya membutuhkan bantuan besar demi kemaslahatan bersama. Kebudayaan Mandailing mengajarkan bahwa tangan yang menggenggam erat di rumah adalah tangan yang sama yang akan memberi dengan limpah di tengah gelanggang kebersamaan adat. Ini adalah sebentuk manajemen eksistensial yang luar biasa seimbang: menyederhanakan kebutuhan internal yang bersahaja di bawah atap rumah, demi merayakan kebersamaan yang megah di bawah naungan persaudaraan yang utuh.

Pelajaran Penting di Balik Cerita Olok-olok

Hari ini, di era di mana informasi mengalir tanpa batas dan sekat-sekat etnis di ruang urban semakin mencair, istilah “Mandailing Polit” perlahan-lahan bertransformasi. Ia kehilangan taring sinisnya dan kini lebih sering terdengar sebagai sebentuk nostalgia kelakar masa lalu di antara kawan karib. Generasi baru Sumatra Utara mulai melihat dengan mata yang lebih jernih, terutama setelah menyadari bahwa metafora “ikan kerek” itu sendiri hanyalah fiksi linguistik yang lahir dari benturan kultural di perantauan tanah Deli akibat salah tafsir atas aroma gule parcak. Tawa yang dulu bernada mengejek kini berubah menjadi kekaguman atas ketahanan sebuah suku dalam menjaga prinsip hidupnya.

Pada akhirnya, kisah tentang “Mandailing Polit” memberi kita pelajaran penting tentang sosiologi prasangka. Stereotip sering kali lahir karena ketidakmampuan kita memahami jalan sunyi yang ditempuh oleh orang lain serta ketidaktahuan kita dalam melacak keagungan filosofi sebuah etnis. Suku Mandailing telah membuktikan dengan anggun bahwa di balik pembawaan mereka yang tenang, terukur, dan penuh perhitungan baik dalam menjaga isi dompet, merawat aliran batang leluhur, maupun dalam menggantung Ikan Sale di atas tataring terlihat nyata mengalir sungai kebudayaan yang jernih, hangat dan alamiah.

Mereka adalah manusia-manusia yang memilih untuk tidak menghabiskan semuanya hari ini, demi memastikan bahwa hari esok bagi keturunan dan alam mereka tetap lestari, merdeka, dan bermartabat. Mereka telah melintasi waktu dengan memegang erat martabatnya, membuktikan bahwa apa yang dikira dunia sebagai kemiskinan materi di ruang privat sesungguhnya adalah kekayaan spiritual, kedalaman iman, jalinan ritme melodi ingatan, dan kedaulatan masa depan yang tak ternilai harganya. Stigma Manipol telah runtuh, digantikan oleh kebenaran sejarah dari sebuah peradaban yang teguh berdiri di atas pondasi luhur tataring hingga kesucian opuk, yang digerakkan oleh denyut suci holong menuju keabadian domu.

Botima…..

 

  • Penulis: Moechtar Nasution
  • Editor: Dahlan Batubara

Rekomendasi Untuk Anda

  • DPRD Sumut Desak PTPN 4 dan Bank Mandiri Transparan di Batahan, Madina

    DPRD Sumut Desak PTPN 4 dan Bank Mandiri Transparan di Batahan, Madina

    • calendar_month Jumat, 15 Jan 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN (Mandailing Online) – Anggota Komisi B DPRD Sumut, H. Fahrizal Efendi Nasution,SH meminta PTPN 4 menyerahkan hak rakyat Batahan, Mandailing Natal. Politisi asal Madina ini juga mendesak Bank Mandiri membuka data pencairan uang senilai Rp. 84 M yang dipakai untuk pembiayaan operasional kebun KUD Pasar Baru Batahan seluas 1.700 – 1.726 Ha. Apalagi semenjak dini, KUD Pasar […]

  • Plasma PTPN IV Terkendala Status Lahan Tumpang Tiindih

    Plasma PTPN IV Terkendala Status Lahan Tumpang Tiindih

    • calendar_month Kamis, 1 Nov 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pihak PTPN IV mengaku kesulitan mengadakan lahan perkebunan plasma sawit yang akan diperuntukkan bagi warga sekitar. Sebab, banyak lahan yang berstatus tumpang tindih. Hal itu terungkap pada acara dengatr pendapat antara DPRD Kabupaten Mandailing Natal dengan pihak PTPN IV di gedung dewan, Selasa (1/11). DPRD memanggil manajemen PTPN IV terkait mencuatnya […]

  • PP Gabema Madina Beberkan Dampak Negatif Geothermal

    PP Gabema Madina Beberkan Dampak Negatif Geothermal

    • calendar_month Selasa, 29 Mar 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan, Ketua Pimpinan Pusat Keluarga Besar Mahasiswa Mandailing Natal (PP Gabema Madina) Agussalam Nasution mengatakan, sebetulnya banyak sekali dampak negatif dari kehadiran geothermal, diantaranya pengeboran sumur geothermal menghasilkan berbagai macam limbah. Hal itu disampaikan Agussalam di Desa Sibanggor Julu, Kecamatan Puncak Sorik Marapi, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Jumat (25/03/2011). Dijelaskannya, dalam eksplorasi geothermal jumlah limbah […]

  • Dua Pejabat PU Madina Ditangkap

    Dua Pejabat PU Madina Ditangkap

    • calendar_month Kamis, 21 Mei 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) –  Dua pejabat Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Mandailing Natal (Madina) ditangkap Polres Madina, Rabu petang (20/5). Kedua pejabat yang ditangkap itu masing-masing SF dan ZN. Keduanya diduga melakuan tindak pidana korupsi pada proyek pembangunan gedung dan aula sekretariat daerah Madina Tahun Anggaran 2012. Kapolres Madina AKBP Andry Setiawan, melalui kasat Reskrim […]

  • Resesi Buah Pahit Sistem Kapitalis

    Resesi Buah Pahit Sistem Kapitalis

    • calendar_month Senin, 27 Jul 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh : Sri Handayani Tahun 2020 menjadi tahun yang berat bagi perekonomian global. Satu demi satu negara berjatuhan ke jurang resesi. Perekonomian dunia berada di ambang ketidakpastian akibat pandemi virus Corona (COVID-19). Begitu juga dengan perekonomian Indonesia yang diprediksi kuat pada kuartal II-2020 ini mengalami kontraksi. Belum lagi isu resesi yang berada di depan mata, […]

  • Peran Penting Trio Anak Mandailing, Sebelum Soekarno Pembacakan Teks Proklamsi

    Peran Penting Trio Anak Mandailing, Sebelum Soekarno Pembacakan Teks Proklamsi

    • calendar_month Minggu, 18 Agt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    Peranan trio anak Mandailing (Adam Malik, Pangulu Lubis, Rahmat Nasution) dalam menyiarkan berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia jarang dipublikasi. Padahal berita itu sangat vital dan disiarkan satu setengah jam sebelum Soekarno membacakan teks Proklamasi di Pengangsaan Timur 56, Jakarta. (Dikutip dari buku Madina Madani ditulis Basyral Hamidi Harahap) Perlu dicatat peranan anak Mandailing: Adam Malik, Pangulu […]

expand_less