Selasa, 22 Sep 2026
light_mode

Pekan Raya Sumatera Utara Harus Menampilkan Wajah Utuh Budaya Mandailing Natal

  • account_circle Dina Syarifah
  • calendar_month Kamis, 30 Jul 2026
  • print Cetak

 

Oleh: Dina Syarifah Nasution
Pegiat di GEREP INSTITUTE (Pusat Kajian Mandailing Natal)

 

Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) merupakan salah satu agenda budaya terbesar di Provinsi Sumatera Utara. Kegiatan ini bukan sekadar ajang hiburan, melainkan ruang strategis untuk memperkenalkan identitas, kekayaan budaya, serta potensi setiap kabupaten dan kota kepada masyarakat luas. Oleh karena itu, setiap daerah seharusnya diberikan kesempatan untuk menampilkan representasi budayanya secara utuh dan berimbang.

Sebagai salah satu kabupaten yang memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam, Mandailing Natal semestinya tidak hanya diwakili oleh budaya Mandailing saja. Memang, budaya Mandailing merupakan identitas besar yang telah dikenal secara nasional melalui adat istiadat, seni musik Gordang Sambilan, tari tradisional, pakaian adat, hingga falsafah hidup masyarakatnya. Namun, Mandailing Natal bukan hanya Mandailing.

Kabupaten ini memiliki keberagaman budaya yang lahir dari kondisi geografis dan sejarah yang berbeda. Di wilayah pesisir Pantai Barat terdapat masyarakat dengan tradisi, kesenian, bahasa, kuliner, dan adat yang memiliki karakteristik tersendiri. Kekayaan budaya pesisir tersebut merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari identitas Mandailing Natal. Justru keberagaman inilah yang menjadi kekuatan daerah, sekaligus memperkaya mozaik budaya Sumatera Utara.

Sangat disayangkan apabila dalam pelaksanaan Pekan Raya Sumatera Utara tahun ini, pertunjukan seni dan budaya yang ditampilkan lebih didominasi oleh budaya Mandailing. Dominasi tersebut tentu tidak mengurangi nilai budaya Mandailing yang memang sangat luhur, tetapi di sisi lain menyisakan pertanyaan mengenai representasi budaya masyarakat pesisir Pantai Barat yang juga merupakan bagian resmi dari Kabupaten Mandailing Natal.

Budaya pesisir memiliki daya tarik yang unik. Mulai dari seni pertunjukan, musik tradisional, adat istiadat, bahasa, kuliner laut, hingga tradisi masyarakat nelayan yang telah diwariskan secara turun-temurun. Keunikan inilah yang sesungguhnya dapat menjadi nilai tambah dalam promosi pariwisata dan budaya Sumatera Utara. Wisatawan maupun masyarakat luar daerah akan memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai kekayaan budaya Mandailing Natal apabila seluruh unsur budayanya diberikan ruang untuk tampil.

Pelestarian budaya tidak hanya berarti menjaga tradisi yang telah dikenal luas, tetapi juga memberikan kesempatan yang sama kepada budaya-budaya lokal yang belum banyak diperkenalkan. Ketika salah satu unsur budaya terus-menerus menjadi representasi tunggal, sementara unsur budaya lainnya kurang memperoleh ruang, maka secara perlahan akan muncul kesenjangan dalam upaya pelestarian dan regenerasi budaya.

Ke depan, pemerintah daerah bersama panitia penyelenggara diharapkan dapat lebih bijaksana dalam menentukan konsep representasi budaya pada setiap event tingkat provinsi maupun nasional. Hal-hal yang tampak kecil, seperti pemilihan jenis pertunjukan seni atau delegasi budaya, sesungguhnya memiliki dampak besar terhadap pengakuan identitas masyarakat, rasa memiliki, dan keberlanjutan warisan budaya.

Representasi budaya yang inklusif bukan berarti mengurangi nilai budaya Mandailing, melainkan memperkuat citra Mandailing Natal sebagai daerah yang kaya akan keberagaman. Ketika budaya Mandailing dan budaya masyarakat pesisir Pantai Barat dapat tampil berdampingan, masyarakat akan melihat wajah Mandailing Natal yang sesungguhnya: sebuah daerah yang memiliki kekayaan adat, seni, tradisi, dan kearifan lokal yang saling melengkapi.

Sudah saatnya Mandailing Natal diperkenalkan kepada publik bukan hanya melalui satu identitas budaya, tetapi melalui keseluruhan warisan budayanya. Dengan demikian, Pekan Raya Sumatera Utara benar-benar menjadi panggung yang mencerminkan keberagaman budaya Sumatera Utara secara adil, proporsional, dan membanggakan bagi seluruh masyarakatnya. ***

  • Penulis: Dina Syarifah
  • Editor: Dahlan Batubara

Rekomendasi Untuk Anda

  • Abdul Aziz Myatt, Neo-Nazi yang Tak Lagi Anti-Islam

    Abdul Aziz Myatt, Neo-Nazi yang Tak Lagi Anti-Islam

    • calendar_month Senin, 21 Okt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Abdul Aziz Myatt dahulu seorang yang membenci Islam. Kebencian itu kian menjadi karena ia merupakan anggota kelompok ekstrim sayap kanan. Namun, kunjungan ke Mesir mengubah jalan hidup Aziz. Alhamdulillah, atas pertolongan Allah SWT, Aziz kembali pada Islam. “Saya memutuskan menjadi Muslim karena pikiran dan hati saya mengaku tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan […]

  • Kepala Desa 7 Bulan Belum Digaji

    Kepala Desa 7 Bulan Belum Digaji

    • calendar_month Sabtu, 13 Jul 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 4Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Para kepala desa di Kecamatan Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina) belum menerima gaji dalam 7 bulan terakhir. “Sejak bulan Januari hingga bulan Juli ini,” ungkap Kepala Desa Gunung Tua Panggorengan, Enda Timbul Nasution, Jum’at (12/7/2013) didampingi kepala desa Panyabungan Jae, Darussalam, Gunungtua Tonga dan Desa Siobon. Ketiadaan gaji selama 7 bulan […]

  • 11 prioritas nasional ditetapkan pemeritah

    11 prioritas nasional ditetapkan pemeritah

    • calendar_month Selasa, 16 Agt 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Jakarta – Implementasi program pembangunan jangka menengah diterjemahkan pemerintah dengan penetapkan 11 program nasional dalam RAPBN 2012, sebagaimana dikatakan Presiden Susilo B Yudhoyono dalam pidato pengantar nota keuangan pemerintah di depan Sidang Paripurna DPR/DPD, di Gedung Parlemen, Jakarta, Selasa. Sidang dengan agenda mendengar kebijakan keuangan pemerintah dan belanja negara itu merupakan agenda tahunan sehari menjelang […]

  • Diperkuat Hanura, Pengusung Saifullah-Atika Total 7 Parpol

    Diperkuat Hanura, Pengusung Saifullah-Atika Total 7 Parpol

    • calendar_month Jumat, 30 Agt 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Menyusul penyerahan rekom dari Partai Hanura, kini jumlah partai politik yang mengusung pasangan Saifullah Nasution- Atika Azmi Utammi Nasution bertotal 7 partai politik. Penyerahan dokumen Model B Persetujuan KWK dari Hanura diserahkan langsung oleh pasangan bakal calon bupati Madina/bakal calon wakil bupati Madina Saifullah Nasution- Atika Azmi Utammi Nasution dan Ketua […]

  • Pembangunan Jembatan Gantung di Kampung Baru Terus Dikebut

    Pembangunan Jembatan Gantung di Kampung Baru Terus Dikebut

    • calendar_month Selasa, 17 Okt 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN ( Mandailing Online )- Jembatan gantung aek batang gadis yang menghubungkan Desa Kampung Baru- Simanondong di Kecamatan Panyabungan Utara ,Mandailing Natal ( Madina ) bernilai Rp.4,6 miliar terus dikebut penyelesaiannya, diperkirakan pertengahan bulan november 2023 jembatan ini sudah bisa di fungsikan. Plt Kepala Dinas PUPR Madina Elpiyanti Harahap saat meninjau pembangunannya Selasa 17/10/2023, mengku […]

  • PMII Sumut Minta Kapoldasu Evaluasi Kapolres Madina

    PMII Sumut Minta Kapoldasu Evaluasi Kapolres Madina

    • calendar_month Senin, 11 Sep 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Sumatera Utara meminta Kapolda Sumatera Utara melakukan evaluasi terhadap kinerja Kapolres Mandailing Natal (Madina). Itu dicetuskan Wakil Ketua PKC PMII Sumut,  Muhammad Amin Lubis kepada wartawan di Panyabungan, Senin (11/9/201). Amin Lubis menyatakan PMII Sumut menilai Kapolres Madina relatif gagal dalam menjaga kekondusifan Mandailing Natal akhir-akhir […]

expand_less