Jumat, 14 Agu 2026
light_mode

H. Ayyub Sulaiman Lubis, Perintis Kemerdekaan Asal Kotanopan

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 21 Mei 2018
  • print Cetak

Pesanggrahan Kotanopan tempo doeloe

Catatan : Askolani Nasution

Tahun 1990, saya mewakili orang tua dalam Ramah Tamah dengan para keluarga Perintis Kemerdekaan asal Sumatera Utara di Medan, bertemu dengan H. Ayyub Sulaiman Lubis. Lelaki berperawakan kecil yang menjadi Ketua Persatuan Persatuan Perintis Kemerdekaan Sumatera Utara setelah H. Mahals meninggal. Tak banyak bicara. Bersama saya waktu itu ada Muhammad TWH, penulis dan wartawan harian “Waspada” yang baru saja menulis novel “Api Berkobar di Kampung Mesjid”.

Nama Ayyub Sulaiman memang sering saya dengar kisahnya dari orang tua yang kebetulan teman seperjuangan beliau masa sebelum merdeka di Kotanopan. Jadi ketika hari itu saya bertemu beliau, ingatan saya mengembang ke masa-masa perjuangan mereka yang aktif menggagas kemerdekaan Indonesia.

Seingat saya, hanya dua kali saya bertemu beliau. Berbeda dengan H. Mahals, yang beberapa kali datang ke rumah waktu saya kecil, membongkar isi lemari kami untuk menemukan berkas-berkas perjuangan kemerdekaan.

Kebetulan ada beberapa data perjuangan yang tersimpan di rumah. Lalu dari beberapa catatan lain yang diberikan kepada saya oleh keluarga-keluarga Perintis Kemerdekaan, saya merangkum data perjuangan Ayyub Sulaiman Lubis. Ini ringkasannya untuk menjadi bahan refleksi bagi kita bersama:

Tahun 1931, beliau Ketua Badan Propagandis “Partindo” Cabang Kotanopan, 1933. “Partindo” itu partai yang dibentuk Soekarno masa kolonial dan amat besar pengaruhnya di kawasan Mandailing Julu. Lalu beliau dipenjara di Kotanopan, di belakang Pesanggarahan, karena dituduh mengadakan Rapat Umum “Partindo” tanpa izin yang mengandung penghasutan. Keluar dari penjara terus melanjutkan pekerjaannya sebagai Badan Propogandis “Partindo”.

Tahun 1933 beliau menjadi Ketua Himpunan Pemuda Islam Indonesia (HPII) Cabang Kotanopan. 1934, seluruh Partai Politik dibubarkan Belanda. Beliau kemudian membangun sekolah dengan nama “Ayyub Sulaiman School Al Madrasatul Islamiah” di Padang Sidempuan.

Tahun 1936, mendapat Plang Pintu (Posebt Ctelsel), yaitu dihukum tidak boleh mengajar, tidak boleh bergaul bersama lebih dari dua orang, dan tidak boleh keluar dari Daerah Tapanuli selama dua tahun. Tahun 1938, aktif kembali di Partai Politik yang baru yaitu Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) Cabang Padang Sidempuan.

1939, bulan September, dipenjarakan kembali di Padang Sidempuan karena kegiatan politik dan menuntut Indonesia berparlemen. Tahun 1940, menjadi Komisaris Gerindo Andalas Tengah berkedudukan di Sibolga, Ibukota Keresidenan Tapanuli Tengah untuk mewakili Pengurus Besar dari Jakarta. Tahun itu juga beliau ditangkap kembali dengan alasan untuk menjaga ketertiban umum. Waktu itu Belanda jatuh ke tangan Jerman di masa awal Perang Dunia II.

Tahun 1942, saat itu seluruh tanah air diduduki oleh Pertakbiran Tentara Daiton (Jepang). Bung Karno yang waktu itu berada di Padang memanggilnya. Dengan Surat Mandat tgl. 24-4-1942 beliau diutus menemui Bung Karno untuk menerima petunjuk dan Garis Perjuangan Nasional. Beliau diterima Bung Karno di rumah Abu Bakar Djoar, rumah No. 14 Kampung Tarandam, Padang.

Tahun 1945, 7 September 1945, menjadi orang pertama memproklamasikan kemerdekaan Indonesia untuk daerah Tapanuli dan membentuk laskar-laskar rakyat. Beliau juga menjadi Ketua Umum Partai Nasional Indonesia (PNI) di Daerah Tapanuli, membentuk Komite Nasional serta menyumpah pegawai-pegawai untuk menjadi Pegawai Republik Indonesia. Lalu menjadi anggota Komite Nasional Derah Karesidenan Tapanuli di Sibolga.

1949, bergerilya masuk hutan di masa Agresi Militer Belanda II, dan tetap menjadi Ketua Dewan Pertahanan dan Bupati Kepala Daerah Darurat Padang Sidempuan. Tahun 1946, diangkat menjadi Wedana di Kantor Residen Tapanuli di Sibolga. Tahun 1947, dipindahkan ke Padang Sidempuan. Kemduian menjadi Patih Kabupaten Padang Sidempuan.

Desember 1948, oleh karena Agresi ke II, diangkat menjadi Ketua Dewan Pertahanan Daerah Padang Sidempuan. Tahun 1950, sesudah Penyerahan Kedaulatan, didudukkan kembali sebagai Patih. Tahun 1951 hingga 1960, aktif di berbagai jabatan pemerintah di Aceh. Tahun 1961, diangkat menjadi Bupati Kabupaten Tapanuli Tengah di Sibolga.

Maksud saya, hanya ingin menunjukkan bahwa betapa di kawasan Mandailing Natal ini dulunya banyak tokoh pejuangan kemerdekaan. Nama-nama mereka ada di Tugu Perintis Kemerdekaan di Kotanopan. Dan saya beruntung memiliki catatan perjuangan mereka. Insya allah dalam waktu dekat akan saya susun menjadi buku seri perjuangan.***

Askolani Nasution

Askolani Nasution adalah budayawan Mandailing

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • 785 Guru Pontren & 1.308 Guru MDA Terima Insentif

    785 Guru Pontren & 1.308 Guru MDA Terima Insentif

    • calendar_month Kamis, 3 Jan 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MADINA, (MO) – Bersyukur bagi para guru-guru pondok pesantren dan Madrasah Diniyah Awaliah (MDA). Sebab Pemkab Mandailing Natal (Madina) menyerahkan dana insentif atau bantuan bagi guru Pontren sebanyak 785 orang dan guru MDA sebanyak 1.308 orang. Besaran dana yang mereka terima Rp100 ribu per bulan. Bupati Madina HM Hidayat Batubara melalui Kepala Bagian Kesra M […]

  • Usai UN Siswa SMK Coret -coret

    Usai UN Siswa SMK Coret -coret

    • calendar_month Sabtu, 23 Apr 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIPIROK- Pelaksanaan Ujian Nasional (UN) untuk SMK berakhir Rabu (20/4) kemarin. Berakhirnya UN tersebut, beberapa peserta meluapkan rasa kegembiraan dengan aksi corat-coret seragam. Bagi mereka tentu hal ini merupakan tren atau luapan kegembiraan, tetapi harus disadari tindakan tersebut kurang terpuji apalagi dibarengi dengan tindakan lain di luar corat-coret karena tidak mencerminkan generasi terdidik. Pantauan METRO, […]

  • Hujan Deras, Jembatan Penghubung Antardesa Ambruk di Tapsel

    Hujan Deras, Jembatan Penghubung Antardesa Ambruk di Tapsel

    • calendar_month Selasa, 20 Sep 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    TAPANULI SELATAN: Hujan deras yang turun sejak beberapa hari ini di Desa Kampung Lalang, Kecamatan Angkola Selatan, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) mengakibatkan salah satu jembatan penghubung antar kampung yang ada di desa itu terputus. Jembatan itu selama ini menjadi fasilitas menyeberangi Sungai Aek Baringin. Badan jembatan yang sudah ambruk hanya diganti dengan batang pohon kelapa.Para […]

  • Penduduk Miskin di Tapsel Bertambah

    Penduduk Miskin di Tapsel Bertambah

    • calendar_month Jumat, 19 Des 2014
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    Tapsel –  Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Tapanuli Selatan (Tapsel), jumlah penduduk miskin di Kabupaten Tapsel tahun 2013 bertambah 0,23 persen bila dibandingkan tahun 2012 sebesar 11,10 persen. "Jika dibandingkan dengan 4 wilayah kabupaten/kota di kawasan Tabagsel, yaitu Kabupaten Paluta, Palas, Madina dan Kota Padangsidimpuan, jumlah penduduk miskin di Tapsel jauh lebih tinggi," […]

  • Kepala Desa Harus Transparan Kelola Dana Desa

    Kepala Desa Harus Transparan Kelola Dana Desa

    • calendar_month Rabu, 24 Agt 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN(Mandailing Online) – Para kepala desa di Mandailing Natal harus transparan mengelola Dana Desa agar tidak terjebak dalam masalah hukum. “Karena jika penggunaanya disalahgunakan akan menimbulkan proses hukum yang bisa menjerumuskan kades ke penjara,” kata Ketua DPC PDI Perjuangan Madina, Iskandar Hasibuan kepada Mandailing Online di Panyabungan, Rabu (24/8/2016). Dia juga mengingatkan para kepala desa […]

  • GARA-GARA “GANTI SURAT”

    GARA-GARA “GANTI SURAT”

    • calendar_month Sabtu, 20 Agt 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Cerpen: Rina Youlida N “Praaang…… praaaang….….” Suara piring berdentang sahut-sahutan dari arah dapur. Tak asing lagi jika suara itu sudah menjadi langganan setiap kali Rahma, istri Udin menyuci piring. Seolah itu adalah pekerjaan yang sangat melelahkan atau memalukan, Rahma tidak pernah ikhlas untuk mengerjakannya. Bukan itu saja, memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah lainnya yang lazim […]

expand_less