Rabu, 30 Sep 2026
light_mode

Benarkah Negara Nyasar di Arse Tapsel?

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 15 Mei 2026
  • print Cetak

 

Oleh: Tim Mandailing Epcentrum

 

Ada bincang-bincang di Grup WA “Kami Sumut Bersatu dan Bersaudara”. Tajam, hiperbolis dan emosional. Muncul Pertanyaan tentang negara yang terlalu lama tersesat di jalan negara, jalan miliknya sendiri. Sekaligus mohon izin, kami angkat topik seru ini ke media. Teorinya, agenda media bisa jadi sama dengan agenda negara.

Kadang-kadang, kegelisahan paling jujur tentang negara tidak lahir dari seminar, forum pembangunan, atau rapat resmi.

Debat kerap muncul dari grup WhatsApp.

Di grup WA “Kami Sumut Bersatu dan Bersaudara”, beberapa hari terakhir, percakapan tentang akses jalan menuju Dusun Aeknabara, Tanoponggol dan Nanggoluon di Desa Dalihan Natolu, Kecamatan Arse, Tapanuli Selatan, berubah menjadi potret kecil tentang bagaimana rakyat memandang negara hari ini.

Ada yang mempertanyakan validitas database jalan milik pemerintah daerah.
Ada yang membela dengan menjelaskan hambatan kawasan hutan lindung dan regulasi kehutanan. Ada pula yang menyentil keberanian politik pemerintah daerah dalam memperjuangkan rakyat marginal.

Diskusi itu mungkin terlihat biasa.
Padahal sebenarnya sedang membuka luka lama pembangunan Sumatera Utara: Negara kita terlalu sering hadir sebagai administrasi, tetapi terlalu lambat hadir sebagai keberpihakan.

Masalahnya menjadi lebih serius karena fakta di lapangan ternyata memang keras.

Bupati Tapanuli Selatan, Gus Irawan Pasaribu, bahkan mengakui sendiri beratnya medan menuju Dusun Aek Nabara setelah turun langsung ke lokasi.

Jalan terjal. Licin. Berada di kawasan hutan lindung. Nyaris mustahil dilalui kendaraan.

Dan yang paling menampar adalah pengakuan warga:

Selama Kabupaten Tapanuli Selatan berdiri, baru kali ini ada seorang bupati yang datang langsung ke Aek Nabara.

Kalimat itu terdengar sederhana.
Tetapi secara politik, itu sangat brutal.

Artinya: Selama puluhan tahun, ada wilayah yang secara administratif masuk Tapanuli Selatan — tetapi secara psikologis mungkin merasa terlalu jauh dari negara.

Ironinya, jumlah warga di sana sebenarnya sangat kecil. Dusun Nanggoluan hanya dihuni 7 KK.

Dusun Aek Nabara 19 KK. Dan, Dusun Tano Ponggol sekitar 35 KK sekaligus menjadi pusat pemerintahan desa.

Secara hitung-hitungan teknokratis, kawasan seperti ini sering kalah prioritas:

  • penduduk sedikit,
  • biaya pembangunan mahal,
  • medan ekstrem,
  • terbentur status hutan lindung.

Tetapi justru di situlah ukuran moral dan empati sebuah negara diuji. Keadilan pembangunan seharusnya tidak hanya dihitung dari:

Berapa banyak suara pemilih,
melainkan juga:
seberapa jauh negara bersedia hadir untuk warganya yang paling terpencil.

Di sinilah diskusi grup WA itu menjadi menarik. Di situ, Asman Hutasuhut memberi kalimat pancingan. Lalu, Rudy Hermato Hutaliang dan Halomoan Harahap pun memberi respon sinergis.

Ada warga yang marah karena menganggap pemerintah terlalu birokratis: izin, regulasi, kajian dan koordinasi kementerian. Ada pula yang membela bahwa kawasan hutan lindung memang tidak bisa disentuh sembarangan.

Keduanya benar.

Dan justru karena keduanya benar, masalah ini menjadi tragis sekaligus strategis.

Karena rakyat kecil akhirnya terjebak di antara:

  • negara ekologis yang menjaga hutan,
  • dan negara kesejahteraan yang seharusnya menjaga manusia.

Akibatnya, negara seperti sibuk berdebat dengan dirinya sendiri,
sementara rakyat tetap berjalan di lumpur yang sama.

Yang paling mengganggu sebenarnya bukan soal jalan rusak.

Tetapi soal bagaimana publik mulai memandang negara.

Ketika ada anggota grup yang berkata:

“Untuk kepentingan elite, aturan bisa dilenturkan. Tapi untuk rakyat kecil semuanya mendadak kaku.”

Itu bukan lagi kritik biasa. Sudah menjadi tanda mulai munculnya krisis kepercayaan. Ketika rakyat melihat:

  • proyek strategis bisa dipercepat,
  • kepentingan politik bisa menemukan celah hukum,
  • investasi besar bisa mendapat karpet merah.

Tetapi, untuk akses dusun terpencil? Negara mendadak terkesan penuh kehati-hatian.

Seolah penderitaan rakyat harus menunggu disposisi.

Namun “kripis” (kritik tipis) ini juga tidak boleh jatuh menjadi romantisme ngawur:
seolah semua hutan harus dibuka demi popularitas politik.

Karena jika kawasan lindung dibabat sembarangan, seperti yang sudah menjadi sejarah viral, maka yang datang berikutnya adalah:

  • longsor,
  • banjir,
  • rusaknya sumber air,
  • dan kehancuran ekologis yang justru menghantam rakyat miskin lebih dulu.

Karena itu, pernyataan Gus Irawan tentang dua solusi — relokasi warga atau meminta izin khusus membuka akses terbatas berupa rabat beton, sebenarnya memperlihatkan bahwa masalah ini jauh lebih kompleks daripada sekadar “pemerintah malas”.

Tetapi, kompleksitas itu bukan alasan untuk membiarkan keterasingan menjadi warisan turun-temurun, apalagi hingga ratusan tahun.

Sebab ketika seorang bupati baru pertama kali tiba di sebuah dusun setelah sekian lama daerah itu berdiri, maka sesungguhnya yang sedang dipertanyakan bukan cuma kondisi jalan.

Melainkan:

Benarkah negara sedang nyasar di Arse Tapsel?

Karena mungkin problem terbesar kita hari ini bukan kekurangan anggaran.

Bukan pula sekadar soal regulasi.

Tetapi karena terlalu banyak pejabat melihat jalan hanya sebagai proyek fisik.

Padahal bagi rakyat kecil, jalan adalah:

  • akses hidup,
  • harga diri, dan
  • bukti apakah negara benar-benar menganggap mereka ada.

Dan dari ujung Arse, rakyat seperti sedang bertanya pelan kepada republik ini:

“Kalau negara memang tahu jalan pulang ke rakyatnya, kenapa kami baru ditemukan sekarang?”

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pemkab Madina Diminta Kendalikan Harga

    Pemkab Madina Diminta Kendalikan Harga

    • calendar_month Rabu, 19 Jun 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pemerintah daerah diminta melakukan antisipasi terkait harga kebutuhan pokok yang mulai merangkak naik dua hari terakhir di Mandailing Natal (Madina). Arman Tanjung, konsumen yang ditemui di pasar lama Panyabungan, Rabu (19/6/2013) mengatakan dua hari ini harga kebutuhan pokok terus merangkak. (berita terkait di http://mandailingonline.com/harga-naik-di-panyabungan/) Asiah, seorang pedagang, mengungkapkan ada dua faktor […]

  • Dianggap Kodrat, Adakah Sebagai Sinyal Penerimaan Seks Menyimpang?

    Dianggap Kodrat, Adakah Sebagai Sinyal Penerimaan Seks Menyimpang?

    • calendar_month Jumat, 9 Jun 2023
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Mariani Siregar, M.Pd.I Dosen “LGBT itu sebagai kodrat kan tidak bisa dilarang.” Kalimat ini menjadi viral di sosial media yang kemudian menjadi perbincangan banyak pihak. Kalimat tersebut tentu saja mengejutkan rakyat Indonesia. Karena belum ada tokoh manapun yang notabene Muslim berani secara gamblang memberikan pernyataan demikian. Pernyataan tersebut disampaikan oleh seorang Menteri, professor yang […]

  • Ruas Jalan Simpang Pagur-Bandar Lancat Dibangun Tahun ini

    Ruas Jalan Simpang Pagur-Bandar Lancat Dibangun Tahun ini

    • calendar_month Jumat, 3 Mei 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN ( Mandailing Online ): Ruas jalan simpang pagur- banjar lancat, Kecamatan Panyabungan Timur ini merupakan prioritas Pemkab Madina sejak beberapa tahun lalu, tahun ini akan di bangun sepanjang 5,5 KM dan Lebar 5 M, dengan Anggaran 12 M dan sudah tandatangan kontrak dengan pihak penyedia kata Elpiyanti Harahap Kepala Dinas PUPR Mandailing Natal ( […]

  • Warga Serbu Operasi Pasar

    Warga Serbu Operasi Pasar

    • calendar_month Senin, 3 Jan 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Masyarakat menyerbu operasi pasar yang diadakan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Mandailing Natal di Pasar Baru Panyabungan, Kamis (30/12/2010). Dalam operasi pasar kali ini, harga beras Bulog dijual Rp 6.300 per kilo. Sementara harga beras di pasaran saat ini mencapai Rp 8.000-8.500 per kilo. Operasi pasar akan terus digelar sampai harga beras dipasaran normal kembali. […]

  • Menunggak, Telepon Kantor Walikota Medan Diblokir

    Menunggak, Telepon Kantor Walikota Medan Diblokir

    • calendar_month Rabu, 6 Apr 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Medan, Telepon di Kantor Walikota Medan, Jalan Kapten Maulana Lubis No 2, Medan, tidak bisa digunakan. Pasalnya, rekening telepon belum dibayar. Informasi yang diperoleh di Kantor Walikota Medan, Selasa (29/03/2011), telepon di kantor orang nomor satu di Medan tersebut sudah tidak bisa digunakan dalam dua minggu terakhir. Dampaknya, setiap urusan dinas para staf terpaksa harus […]

  • Bamus DPRD Madina Gagal Lagi

    Bamus DPRD Madina Gagal Lagi

    • calendar_month Senin, 13 Agt 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan (MO) – Rapat Badan Musyawarah (Bamus) DPRD Madina gagal lagi, Senin (13/8) untuk menetapkan jadwal agenda pembahasan Perhitungan APBD 2011. Ini gagal kali kedua setelah pada Jum’at (10/8) gagal rapat akibat tak mencukupi quorum. Kegagalan kali kedua ini juga akibat jumlah anggota yang hadir tidak mencukupi quorum. Dari 23 total jumlah anggota Bamus plus […]

expand_less