Kamis, 11 Jun 2026
light_mode

Willem Iskander, Hutasiantar dan Pergulatan Bumiputera Mencari Jalan Modernitas

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month 1 menit yang lalu
  • print Cetak

Nama Willem Iskander selama ini lebih sering muncul dalam ruang akademik dan nostalgia sejarah Mandailing. Tetapi jika ditelusuri lebih dalam, jejak hidupnya sebenarnya menyimpan satu pergulatan besar yang sangat relevan bagi Indonesia modern:

> bagaimana bumiputera bisa maju tanpa kehilangan jiwa.

Dan mungkin, justru di situlah kekuatan terbesar Willem Iskander sebagai calon Pahlawan Nasional.

Selama ini Willem sering dibaca secara sederhana:
* anak Mandailing,
* sekolah ke Belanda,
* pulang mendirikan Kweekschool Tanobato tahun 1862,
* lalu wafat tragis di Amsterdam tahun 1876.[1]

Tetapi, pembacaan seperti itu terlalu tipis untuk menjelaskan kompleksitas dirinya.

Sebab, di balik proyek pendidikan Tanobato, ada dunia sosial Mandailing abad ke-19 yang jauh lebih kaya:
* elite adat,
* ulama,
* jalur perdagangan kopi,
* hubungan diplomatik dengan Belanda,
* migrasi sosial,
* hingga pergulatan antara Islam, adat, dan modernitas.

Dan, salah satu nama penting yang muncul dari ruang sejarah itu adalah Sutan Kumala Yang Dipertuan Hutasiantar.

Hutasiantar: Ruang Sunyi yang Mungkin Membentuk Willem

Menurut sejumlah memori keluarga dan cerita sosial yang masih hidup di Mandailing, sepulang dari Belanda Willem justru lebih sering berada di lingkungan Hutasiantar dibanding Harajaon Pidoli.

Kalau jejak ini benar, maka Hutasiantar kemungkinan bukan sekadar tempat singgah.
Tetapi:

> ruang kontemplasi intelektual Willem Iskander.

Dan, ini penting.

Karena Sutan Kumala bukan figur adat biasa. Dalam tradisi lokal, Sutan Kumala Nasution dikenal:
* punya hubungan diplomatik elegan dengan Belanda,
* menjadi tokoh kunci dalam pembukaan jalur perdagangan kopi Panyabungan–Natal,
* ikut dalam kerja sosial pembangunan jalan,
* mendukung migrasi sosial untuk mengatasi wabah penyakit “pamantason”,
* sekaligus dikenal sebagai “Raja Ulama.”

Raja bijaksana ini disebut aktif:
* mendatangkan ulama dari luat yang jauh.
* mendukung pendidikan santri ke Arab, termasuk Syeikh Abdul Qodir Almandili bin Shobir
* dan memberi posisi kuat (otoritas) kepada haguruan (ulama) dalam struktur sidang adat Dalihan Na Tolu.

Artinya, Hutasiantar bukan hanya ruang adat.
Tetapi:

> titik temu antara adat, Islam, perdagangan, dan modernitas.

Dan di lingkungan seperti itulah Willem kemungkinan besar membentuk kesadaran intelektualnya.

Willem Iskander: Terlalu Belanda atau Terlalu Mandailing?

Di sinilah konflik Willem menjadi sangat menarik.

Karena sepanjang hidupnya dia berada di tiga dunia sekaligus:
1. Adat Mandailing,
2. Tradisi Islam dan Haguruan,
3. Pendidikan modern Eropa.

Sati Nasution belajar di Belanda. Menikahi perempuan Belanda, dan hidup dalam sistem pendidikan kolonial.

Tetapi pada saat yang sama:
* Dia tetap membangun sekolah untuk Bumiputera,
* Memakai konteks lokal, dan
* mencoba mendidik rakyat Mandailing agar keluar dari keterbelakangan.

Maka, dari fakta seperti itu, jelas bahwa Willem bukan figur hitam-putih.

Sutan Iskander bukan pejuang perang seperti Diponegoro.
Tetapi juga bukan sekadar produk pendidikan kolonial.

Willem adalah:

> Bumiputera awal yang mencoba mencari jalan agar bangsanya bisa maju tanpa kehilangan jiwa (adat dan agama).

Dan justru di situlah relevansinya bagi Indonesia hari ini.

Tanobato: Sekolah atau Simbol Peradaban?

Kweekschool Tanobato sering hanya disebut sebagai sekolah guru. Padahal, maknanya jauh lebih besar.

Sekolah itu lahir ketika:
* sebagian besar Bumiputera belum mengenal pendidikan modern,
* Kolonialisme mulai mengubah struktur sosial, dan
* Elite lokal sedang mencari cara bertahan menghadapi zaman baru.

Artinya, Tanobato bukan sekadar proyek pendidikan. Lembaga ini adalah:

Rentetan upaya awal membangun martabat intelektual Bumiputera.

Dan kemungkinan besar semangat itu tidak lahir dari Willem seorang diri.
Tetapi tumbuh dari ekosistem Mandailing yang:
* Menghormati ilmu,
* Menghormati ulama, sekaligus
* Mulai membaca pentingnya modernitas.

Mengapa Sati Nasution Penting Hari Ini?

Karena problem yang dihadapi Willem abad ke-19 sebenarnya belum selesai sampai sekarang. Indonesia masih terus bergulat dengan pertanyaan:

* Bagaimana maju tanpa kehilangan budaya?
* Bagaimana modern tanpa tercerabut?
* Bagaimana belajar dari Barat tanpa membenci akar sendiri?

Nah, Willem Iskander tampaknya sudah bergulat dengan pertanyaan itu jauh sebelum republik ini lahir.

Itulah sebabnya perjuangan menjadikannya Pahlawan Nasional terus hidup. Dan mungkin pula karena publik mulai sadar:

> sejarah Indonesia tidak hanya dibangun oleh mereka yang mengangkat senjata.

Tetapi, juga oleh guru-guru yang berjuang di ruang-ruang sunyi dan mencoba membangunkan bangsanya dengan ilmu. Agar bangkit. Tegak. Sebagai satu bangsa besar yang setara dengan bangsa lain.

Catatan Referensi:
[1] [Wikipedia — Willem Iskander](https://en.wikipedia.org/wiki/Willem_Iskander?utm_source=chatgpt.com)

[2] Tradisi lisan keluarga dan memori sosial Mandailing mengenai Sutan Kumala Yang Dipertuan Hutasiantar, jalur kopi Panyabungan–Natal, migrasi sosial Hutasiantar, dan peran haguruan dalam Dalihan Na Tolu.

[3] [Islamic Education Journal — Peranan Willem Iskander dalam Pendidikan Sumatera Utara](https://jurnal.medanresourcecenter.org/index.php/IE/article/view/1152?utm_source=chatgpt.com)

[4] [MIND Jurnal — Peranan Willem Iskander dalam Pendidikan Sekolah Guru di Tanobato](https://jurnal.radisi.or.id/index.php/JurnalMIND/article/view/492?utm_source=chatgpt.com)

[5] [Kemdikbud — Kweekschool Tanobato](https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbsumbar/kweekschool-tanobato-sekolah-guru-di-mandailing/?utm_source=chatgpt.com)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • NU dan Muhammadiyah Kompak Lebaran 8 Agustus

    NU dan Muhammadiyah Kompak Lebaran 8 Agustus

    • calendar_month Selasa, 6 Agt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    JAKARTA, – Hari Raya Idul Fitri atau 1 Syawal 1434 H dipastikan akan jatuh pada Kamis, 8 Agustus 2013. Dengan demikian, tidak akan terjadi perbedaan hari raya Lebaran antara pemerintah dan Nahdlatul Ulama maupun Muhammadiyah yang sudah jauh hari menetapkan Idul Fitri pada 8 Agustus. Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ma’ruf Amin mengatakan, bahwa […]

  • Plt Bupati Didesak Tertibkan Mobil Dinas

    Plt Bupati Didesak Tertibkan Mobil Dinas

    • calendar_month Jumat, 13 Des 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Plt Bupati Mandailing Natal (Madina) Dahlan Hasan Nasution didesak menertibkan mobil dinas yang ada dilingkungan Pemkab Madina agar digunakan sesuai dengan peruntukkannya serta untuk menghemat anggaran pada tahun 2014 mendatang. “Saat ini banyak mobil dinas tidak sesuai lagi peruntukkannya, tak sesuai dengan jabatannya, bahkan sering disalahgunakan oleh oknum-oknum tertentu. Bahkan ada […]

  • Ahiri Tahun 1444 Hijriah, Ribuan Jamaah Baitul Bukhori Longat Laksanakan Sholad Tasbih

    Ahiri Tahun 1444 Hijriah, Ribuan Jamaah Baitul Bukhori Longat Laksanakan Sholad Tasbih

    • calendar_month Minggu, 16 Jul 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    LONGAT ( Mandailing Online) di akhir tahun 1444 Hijriah, pagi ini ribuan jamaah pengajian Baitul Bukhori Al Yusufiah Mandailing Natal ( Madina ) laksanakan sholad Tasbih. Sholad Tasbih di imami langsung oleh Ustadz H.Yusuf Amiril Soleh ( Tuan Nalomok ) bertempat di pengajian Yayasan Baitul Bukhori Longat Ahad 16/7/2023. Sholad Tasbih seperti diketahui merupakan salat […]

  • BPN Madina Didemo Mahasiswa

    BPN Madina Didemo Mahasiswa

    • calendar_month Rabu, 28 Okt 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Sekitar tiga puluh mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Pemuda Indonesia (IKAMPI) melakukan unjukrasa di kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) Mandailing Natal (Madina), Selasa (27/10). Unjuk rasa mahasiswa ini merupakan kali ke 2 ke BPN Madina. Kali pertama dilakukan pada 21 Oktober lalu. Dalam orasi di halaman kantor Badan Pertanahan Nasional […]

  • Lagi, 3 Ha Ladang Ganja Ditemukan

    Lagi, 3 Ha Ladang Ganja Ditemukan

    • calendar_month Jumat, 8 Mei 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Polres Kabupaten Mandailing Natal (Madina) menemukan 3 hektar ladang ganja siap panen dari tiga lokasi di kawasan perbukitan Tor Sinite Kecamatan Panyabungan Timur, Kamis (7/5). Informasi yang dihimpun di Mapolres Madina, ribuan batang ganja itu langsung dimusnahkan dengan cara dibakar langsung di lokasi. Sebanyak 250 batang dibawa ke Mapolres sebagai barang […]

  • Curah Hujan Tinggi Produksi dan Harga Karet di Madina Turun

    Curah Hujan Tinggi Produksi dan Harga Karet di Madina Turun

    • calendar_month Minggu, 7 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan. Hujan yang terus mengguyur wilayah Kabupaten Mandailing Natal (Madina) dalam satu pekan terakhir mengakibatkan produksi dan harga getah karet di pasar-pasar lelang karet menurun. Seperti di Kelurahan Kota Siantar, harga getah karet turun dari semula Rp15.000 menjadi Rp13.500 per kilogramnya. Begitu juga di Desa Gunungtua Kecamatan Panyabungan, harganya hanya Rp13.000 per kg, dan di […]

expand_less