Senin, 20 Jul 2026
light_mode

Willem Iskander, Hutasiantar dan Pergulatan Bumiputera Mencari Jalan Modernitas

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 11 Jun 2026
  • print Cetak

Nama Willem Iskander selama ini lebih sering muncul dalam ruang akademik dan nostalgia sejarah Mandailing. Tetapi jika ditelusuri lebih dalam, jejak hidupnya sebenarnya menyimpan satu pergulatan besar yang sangat relevan bagi Indonesia modern:

> bagaimana bumiputera bisa maju tanpa kehilangan jiwa.

Dan mungkin, justru di situlah kekuatan terbesar Willem Iskander sebagai calon Pahlawan Nasional.

Selama ini Willem sering dibaca secara sederhana:
* anak Mandailing,
* sekolah ke Belanda,
* pulang mendirikan Kweekschool Tanobato tahun 1862,
* lalu wafat tragis di Amsterdam tahun 1876.[1]

Tetapi, pembacaan seperti itu terlalu tipis untuk menjelaskan kompleksitas dirinya.

Sebab, di balik proyek pendidikan Tanobato, ada dunia sosial Mandailing abad ke-19 yang jauh lebih kaya:
* elite adat,
* ulama,
* jalur perdagangan kopi,
* hubungan diplomatik dengan Belanda,
* migrasi sosial,
* hingga pergulatan antara Islam, adat, dan modernitas.

Dan, salah satu nama penting yang muncul dari ruang sejarah itu adalah Sutan Kumala Yang Dipertuan Hutasiantar.

Hutasiantar: Ruang Sunyi yang Mungkin Membentuk Willem

Menurut sejumlah memori keluarga dan cerita sosial yang masih hidup di Mandailing, sepulang dari Belanda Willem justru lebih sering berada di lingkungan Hutasiantar dibanding Harajaon Pidoli.

Kalau jejak ini benar, maka Hutasiantar kemungkinan bukan sekadar tempat singgah.
Tetapi:

> ruang kontemplasi intelektual Willem Iskander.

Dan, ini penting.

Karena Sutan Kumala bukan figur adat biasa. Dalam tradisi lokal, Sutan Kumala Nasution dikenal:
* punya hubungan diplomatik elegan dengan Belanda,
* menjadi tokoh kunci dalam pembukaan jalur perdagangan kopi Panyabungan–Natal,
* ikut dalam kerja sosial pembangunan jalan,
* mendukung migrasi sosial untuk mengatasi wabah penyakit “pamantason”,
* sekaligus dikenal sebagai “Raja Ulama.”

Raja bijaksana ini disebut aktif:
* mendatangkan ulama dari luat yang jauh.
* mendukung pendidikan santri ke Arab, termasuk Syeikh Abdul Qodir Almandili bin Shobir
* dan memberi posisi kuat (otoritas) kepada haguruan (ulama) dalam struktur sidang adat Dalihan Na Tolu.

Artinya, Hutasiantar bukan hanya ruang adat.
Tetapi:

> titik temu antara adat, Islam, perdagangan, dan modernitas.

Dan di lingkungan seperti itulah Willem kemungkinan besar membentuk kesadaran intelektualnya.

Willem Iskander: Terlalu Belanda atau Terlalu Mandailing?

Di sinilah konflik Willem menjadi sangat menarik.

Karena sepanjang hidupnya dia berada di tiga dunia sekaligus:
1. Adat Mandailing,
2. Tradisi Islam dan Haguruan,
3. Pendidikan modern Eropa.

Sati Nasution belajar di Belanda. Menikahi perempuan Belanda, dan hidup dalam sistem pendidikan kolonial.

Tetapi pada saat yang sama:
* Dia tetap membangun sekolah untuk Bumiputera,
* Memakai konteks lokal, dan
* mencoba mendidik rakyat Mandailing agar keluar dari keterbelakangan.

Maka, dari fakta seperti itu, jelas bahwa Willem bukan figur hitam-putih.

Sutan Iskander bukan pejuang perang seperti Diponegoro.
Tetapi juga bukan sekadar produk pendidikan kolonial.

Willem adalah:

> Bumiputera awal yang mencoba mencari jalan agar bangsanya bisa maju tanpa kehilangan jiwa (adat dan agama).

Dan justru di situlah relevansinya bagi Indonesia hari ini.

Tanobato: Sekolah atau Simbol Peradaban?

Kweekschool Tanobato sering hanya disebut sebagai sekolah guru. Padahal, maknanya jauh lebih besar.

Sekolah itu lahir ketika:
* sebagian besar Bumiputera belum mengenal pendidikan modern,
* Kolonialisme mulai mengubah struktur sosial, dan
* Elite lokal sedang mencari cara bertahan menghadapi zaman baru.

Artinya, Tanobato bukan sekadar proyek pendidikan. Lembaga ini adalah:

Rentetan upaya awal membangun martabat intelektual Bumiputera.

Dan kemungkinan besar semangat itu tidak lahir dari Willem seorang diri.
Tetapi tumbuh dari ekosistem Mandailing yang:
* Menghormati ilmu,
* Menghormati ulama, sekaligus
* Mulai membaca pentingnya modernitas.

Mengapa Sati Nasution Penting Hari Ini?

Karena problem yang dihadapi Willem abad ke-19 sebenarnya belum selesai sampai sekarang. Indonesia masih terus bergulat dengan pertanyaan:

* Bagaimana maju tanpa kehilangan budaya?
* Bagaimana modern tanpa tercerabut?
* Bagaimana belajar dari Barat tanpa membenci akar sendiri?

Nah, Willem Iskander tampaknya sudah bergulat dengan pertanyaan itu jauh sebelum republik ini lahir.

Itulah sebabnya perjuangan menjadikannya Pahlawan Nasional terus hidup. Dan mungkin pula karena publik mulai sadar:

> sejarah Indonesia tidak hanya dibangun oleh mereka yang mengangkat senjata.

Tetapi, juga oleh guru-guru yang berjuang di ruang-ruang sunyi dan mencoba membangunkan bangsanya dengan ilmu. Agar bangkit. Tegak. Sebagai satu bangsa besar yang setara dengan bangsa lain.

Catatan Referensi:
[1] [Wikipedia — Willem Iskander](https://en.wikipedia.org/wiki/Willem_Iskander?utm_source=chatgpt.com)

[2] Tradisi lisan keluarga dan memori sosial Mandailing mengenai Sutan Kumala Yang Dipertuan Hutasiantar, jalur kopi Panyabungan–Natal, migrasi sosial Hutasiantar, dan peran haguruan dalam Dalihan Na Tolu.

[3] [Islamic Education Journal — Peranan Willem Iskander dalam Pendidikan Sumatera Utara](https://jurnal.medanresourcecenter.org/index.php/IE/article/view/1152?utm_source=chatgpt.com)

[4] [MIND Jurnal — Peranan Willem Iskander dalam Pendidikan Sekolah Guru di Tanobato](https://jurnal.radisi.or.id/index.php/JurnalMIND/article/view/492?utm_source=chatgpt.com)

[5] [Kemdikbud — Kweekschool Tanobato](https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbsumbar/kweekschool-tanobato-sekolah-guru-di-mandailing/?utm_source=chatgpt.com)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Asap Berubah Warna dan Kian Pekat

    Asap Berubah Warna dan Kian Pekat

    • calendar_month Senin, 26 Okt 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Kabut asap di Mandailing Natal (Madina) mulai berubah warna, Senin (26/10). “Asapnya terlihat kotor dan kelam. Kemarin-kemarin tak seperti ini. Kemarin-kemarin aspa masih warna keputihan, hari ini warnanya kotor dan pekat,” kata Sahnan Nasution, warga Panyabungan kepada Mandailing Online. Ketebalan asap juga kian menjadi-jadi. “Jarak pandang Cuma 250 meter, Ipar,” kata […]

  • Apresiasi Janji Kadisdik Revitalisasi SDN 099, Ketua Komisi I: Semoga Terealisasi Secepatnya

    Apresiasi Janji Kadisdik Revitalisasi SDN 099, Ketua Komisi I: Semoga Terealisasi Secepatnya

    • calendar_month Jumat, 26 Nov 2021
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Langkah Plt. Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Mandailing Natal (Madina) Arbiuddin Harahap meninjau dan berjanji memperjuangkan revitalisasi gedung SDN 099 Proyek Batang Gadis di Desa Sipapaga mendapat apresiasi dari Ketua Komisi I DPRD Madina Zubaidah Nasution. Apresiasi itu disampaikan ketika dihubungi Mandailing Online di ruang Fraksi Partai Golkar DPRD Madina pada […]

  • Radiasi Nuklir Picu Eksodus WNI

    Radiasi Nuklir Picu Eksodus WNI

    • calendar_month Jumat, 18 Mar 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA- Gelombang pemulangan Warga Negara Indonesia (WNI) ke Tanah Air terus mengalir. Hingga tadi malam puluhan WNI terus berdatangan baik dengan penerbangan reguler dari Jepang. Sebagian ikut dalam rombongan evakuasi Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) namun ada juga yang pulang dengan biaya pribadi. Salah seorang WNI bernama Susi misalnya, dia mengatakan bahwa banyak WNI yang panik […]

  • Pergeseran Jabatan Terjadi, Eli Mahrani Lantik 6 Ketua PKK Baru

    Pergeseran Jabatan Terjadi, Eli Mahrani Lantik 6 Ketua PKK Baru

    • calendar_month Rabu, 18 Jan 2023
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pergeseran jabatan yang terjadi di lingkungan Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal (Madina) turut berimbas pada posisi ketua PKK di beberapa kecamatan. Atas hal tersebut, Ketua TP PKK Madina Eli Mahrani melantik enam ketua PKK kecamatan. Keenam ketua PKK kecamatan yang baru dilantik adalah Emmy Kholidah sebagai ketua TP PKK Kecamatan Panyabungan, Rohima […]

  • Dalihan Na Tolu dalam Perspektif Moderasi Beragama

    Dalihan Na Tolu dalam Perspektif Moderasi Beragama

    • calendar_month Jumat, 25 Jul 2025
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: M.Daud Batubara   Kota Medan di Sumatera Utara merupakan Tanah Leluhur Puak Melayu Deli, meskipun secara umum dalam benak orang luar bahwa wilayat ini adalah milik suku Batak. Entah dominasi apa yang membuat persepsi yang salah tersebut masih terus menjalar, dan saudara-saudara dari etnis Melayu tetap saja adem dan tidak mempermasalahkan persepsi yang kurang […]

  • Kadis Juga Tersinggung, Dua Guru Diperiksa

    Kadis Juga Tersinggung, Dua Guru Diperiksa

    • calendar_month Kamis, 29 Agt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    SELUMA, – Kemarin, dua orang guru SMAN 6 Seluma dipanggil dan diperiksa terpisah oleh Kementerian Agama (Kemenag) dan Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Seluma. Salah satunya guru agama SMAN 6 Seluma, Thamrin, S.Ag. Dia diperiksa Kemenag guna mengklarifikasi dan untuk memastikan apakah benar Alquran atau buku lainnya yang diinjak 6 siswa. Thamrin ke Kemang membawa barang […]

expand_less