Malam yang Pekat di Istana Tahun 1962
- account_circle Moechtar Nasution
- calendar_month 0 menit yang lalu
- print Cetak
(Kisah Persahabatan yang Tragis)

Oleh: Moechtar Nasution
Apa saja yang menjadi kerisauanmu di saat malam mulai berbisik dengan anginnya yang menusuk? Apa yang engkau pahami memaknai malam dengan keheningannya hingga suara detak jam pun terdengar lebih keras dari biasanya? Apa yang engkau kerjakan saat pergantian hari sudah dimulai ketika jarum jam berhenti sejenak menuju 00.00 dini hari? Karena sesungguhnya, malam itu adalah ruang kejujuran murni, sebuah fase sakral ketika setan-setan dikalahkan dengan kekuatan hati. Malam hari merupakan jadwal penggalan waktu yang sangat tidak disukai oleh kaum jin dan setan, sebab pada saat kegelapan merajut sepi, ego manusia meluruh dan manusia biasanya mulai melakukan introspeksi dan evaluasi diri. Bermuhasabah atas segala khilaf, dan bersimpuh memanjatkan munajat di keheningan sepertiga malam.
Malam bukanlah ruang bagi kebisingan lahiriah di mana tawa riang dan canda fana berkuasa membius kesadaran, melainkan sebuah dimensi sunyi yang pemilik sahnya adalah tetesan air mata. Sebuah metafora spiritual universal dan komunal dalam kultur ketimuran yang menandai puncak kejujuran batin makhluk di hadapan Khalik-nya. Malam kerap menjelma sebagai palung terdalam tempat hati atau qolbu berkuasa mutlak, mengambil alih kendali dengan meruntuhkan arogansi logika dan jangkauan pikir manusia yang terbatas. Sebab, qolbu adalah esensi kemanusiaan yang fitrah dan teramat bersih adanya. Ia akan memancarkan cahaya kebenaran sejati yang tidak akan pernah bisa diajak untuk berkompromi melakukan kesalahan, apalagi digunakan sebagai alat untuk menghakimi dan menyalahkan sesama manusia. Inilah malam yang menghasilkan kebaikan dan pahala.
Akan tetapi, dalam hukum dualitas kosmik, malam tidak selamanya menjadi kuil penyucian spiritual. Sejarah mencatat dengan tinta yang teramat pekat bahwa malam juga memiliki sisi jahanam dan jahat. Ia bisa menjelma menjadi inkubator raksasa yang menepis semua suara hati dan qolbu ketika angkara murka, ambisi buta, dan dendam kesumat dibiarkan menguasai jiwa manusia. Di bawah selimut kegelapan, rasionalitas pikiran sering kali lumpuh dan digantikan oleh konspirasi yang dingin. Lihatlah lembaran sejarah kita sendiri. Peralihan dari malam 30 September menuju fajar 1 Oktober 1965 adalah saksi bisu bagaimana keheningan malam dicabik oleh desing peluru dan derap sepatu laras. Ketika konspirasi politik memuncak di bawah naungan gelap, keputusan-keputusan fatal diambil dalam hitungan jam. Malam itu, angkara murka mengeksekusi para jenderal, melarung rasa kemanusiaan ke dalam sumur tua yang sempit, dan seketika membalikkan arah jarum sejarah Indonesia untuk selamanya. Keheningan malam jahanam itu tidak melahirkan muhasabah, melainkan menyulut badai pembantaian massal yang menelan ratusan ribu jiwa di seluruh tanah air pada bulan-bulan berikutnya. Malam telah menutup mata kemanusiaan dan membiarkan nalar menjadi budak dari kekejaman kolektif. Itulah malam yang menghasilkan duka sejarah.
Belajarlah kepada Bapak Bangsa, bagaimana Ir. Soekarno melewati malam-malam yang dingin, kaku dan pekat di istana saat membayangkan hari-hari yang telah ia lewati bersama teman-temannya dahulu di Surabaya saat masih muda. Malam menjadi panggung pengadilan batin yang teramat kejam di balik megahnya dinding Istana yang dahulu dibangun VOC tersebut.
Di siang hari, ia menjelma menjadi singa podium sejati yang tak terkalahkan, membelah hiruk-pikuk sidang kabinet dengan suara bariton yang mengguncang dunia. Siang adalah milik otak kiri—wilayah kuasa, rasio, informasi intelijen, dan kalkulasi politik yang dingin. Namun, begitu matahari tenggelam dan malam mulai merayap menuju peraduannya, keagungan rasional itu seketika sirna tanpa sisa. Di bawah selimut kegelapan, seakan-akan ada sepasang tangan tak kasat mata yang merenggut paksa seluruh kepiawaian dan wibawa siang harinya. Semuanya meninggalkan Soekarno sendirian sebagai pria tak berdaya di hadapan nuraninya sendiri. Fakta neuro-kultural membuktikan bahwa malam hari adalah waktu di mana belahan otak kanan manusia berkuasa secara dominan. Ketika kegelapan mengeliminasi kebisingan duniawi, logika kaku dan pasal-pasal hukum memudar, digantikan oleh gelombang emosi, intuisi, empati, dan memori visual yang teramat pekat. Di bawah sunyinya langit Jakarta, malam-malam istana berubah menjadi siksaan psikologis yang melumpuhkan raganya, menjebak tidurnya dalam mimpi buruk, dan memaksa sang Proklamator diadili oleh bayang-bayang masa lalunya sendiri.
Dalam pusaran waktu yang sunyi itulah, Soekarno ditarik masuk ke dalam pusaka falsafah spiritual leluhurnya, di mana malam sejatinya adalah ruang untuk menyemai keheningan batin. Jika siang hari adalah dunia luar yang bising oleh topeng sosial dan ambisi kekuasaan, maka malam adalah gerbang untuk meredam kebisingan luar itu, memaksa manusia masuk ke dalam kedalaman dirinya sendiri. Di sinilah, di bawah kepungan gelap istana, Soekarno melakoni waktu yang tepat untuk introspeksi diri secara radikal mengambil alih kesadarannya. Saat jarum jam bergerak lambat mendekati 00.00 dini hari, seluruh kalkulasi politik otak kiri runtuh, digantikan oleh pengadilan nurani yang mengadili kesalahan diri sendiri. Puncaknya terjadi di sepertiga malam yang sunyi, ruang di mana sekat antara hamba dan Pencipta menipis dalam keheningan total. Di ruang antara inilah, air mata yang menetes dipandang sebagai air suci yang membasuh noda hitam di hati, mengalahkan kepungan angkara murka, jin, dan setan yang berbisik menggoda keteguhannya.
Di tengah keheningan absolut malam tempat ia melakukan introspeksi diri itu, selembar berkas keputusan eksekusi mati Kartosuwiryo menjelma menjadi ujian paling mengerikan. Selama berbulan-bulan lamanya, dokumen itu dibiarkan teronggok membeku di sudut meja kerja kepresidenan. Soekarno sengaja membiarkannya, bukan karena kelalaian administratif melainkan karena malam-malamnya dikepung oleh ketakutan luar biasa untuk menyentuh kertas itu dengan ujung penanya.
Ketika jam dinding istana berdentang lambat memotong sepi, Bung Karno kerap berjalan perlahan tanpa alas kaki. Langkah kaki yang nyeker di atas lantai marmer istana yang beku memantulkan rasa dingin yang menjalar langsung ke hulu hatinya. Di bawah sorot lampu meja yang temaram—satu-satunya cahaya yang tersisa di ruangan itu, lembar eksekusi tersebut tampak berkilau putih, seolah-olah memiliki sepasang mata gaib yang terus menatap balik ke arahnya. Sambil mengisap rokoknya dalam-dalam, Bung Karno membiarkan pusaran asap bergulung menembus kegelapan, merayap ke langit-langit tinggi, menciptakan siluet mistis yang menghidupkan kembali rupa kawan-kawan lamanya di masa muda.
Malam dalam kesendirian istana itu bukan lagi sekadar penanda waktu, melainkan ruang sidang tanpa hakim resmi di mana seluruh dimensi kejiwaan Soekarno ditelanjangi. Angin malam yang berdesir menusuk celah jendela seakan menjelma menjadi proyektor bioskop gaib yang memantulkan gema masa lalu ke dinding-dinding kamar yang sunyi. Di malam yang pekat, embusan angin itu sering kali terdengar seperti letusan senapan jarak dekat yang merobohkan Musso di Ponorogo, lalu di detik berikutnya, berubah menjadi gema zikir yang sayup-sayup ditiupkan dari persembunyian Kartosuwiryo di belantara Gunung Geber. Dua orang sahabat mudanya dahulu yang memilih jalan berbeda dengan dirinya.
Malam memadamkan keangkuhan singa podium itu, memaksa sang orator itu untuk mendengarkan jeritan paling lirih dari masa lalunya sendiri. Di saat seisi Jakarta terlelap dalam mimpi masing-masing, Soekarno justru terjaga, dihantui oleh kenyataan bahwa jarum jam malam itu terus berputar mendekati subuh, membawa takdir kematian para sahabatnya yang semakin hari semakin dekat. Sementara ia sendiri lumpuh, tak sanggup bersembunyi dari sorot berkas eksekusi yang terus menuntut ketegasan penanya.
Malam-malam beku itu sekaligus menyingkap kebenaran paling getir dari puncak kekuasaan, sebuah realitas yang dipenuhi oleh ironi kesepian yang absolut. Ketika kegelapan menyapu megahnya istana, Soekarno dipaksa sadar bahwa mahkota kepemimpinan tertinggi pada dasarnya adalah sekat tebal yang memenjarakannya dalam kesendirian.
Di siang hari, ia dipuja bagai dewa, dikelilingi oleh lautan manusia yang meneriakkan namanya, dan dijaga ketat oleh barisan senapan pengawal. Namun di malam hari, semua kemegahan duniawi itu menguap ke udara, meninggalkannya sebatang kara di tengah sunyi ruangan yang teramat luas. Kesepian politik ini begitu menyiksa, ia menyadari bahwa di titik nadir batin seperti ini, tidak ada satu jiwa pun di dunia yang bisa ia mintai tolong untuk memikul separuh dari rasa hancurnya. Di atas ranjang tidurnya yang sunyi, sang Proklamator harus memeluk kepedihannya sendirian, menghadapi fakta tragis bahwa kekuasaan sebesar apa pun tidak akan pernah bisa membelikan ketenangan bagi hati seorang manusia yang dipaksa sejarah untuk menyembelih kenangan sahabatnya sendiri.
Malam-malam panjang yang meremukkan nyenyak tidurnya itu memaksa Soekarno bernostalgia pada masa remaja mereka di Surabaya. Jauh sebelum istana memenjarakan batinnya, malam-malam panjang di kamar kos sempit Gang Peneleh milik H.O.S. Tjokroaminoto adalah ruang yang penuh kehangatan.
Di bawah temaram lampu minyak puluhan tahun silam, mereka makan dari piring yang sama, berdebat hingga subuh, dan berikrar meruntuhkan kolonialisme. Otak kanan Soekarno di malam hari terus memutar ulang rekaman memori jenaka, wajah jahil Kartosuwiryo muda yang tertawa terpingkal-pingkal di luar pintu kamar mandi saat mengejek suara Soekarno yang sedang bernyanyi, atau ejekan jenaka sang sahabat ketika memergokinya sedang berlatih pidato berapi-api di depan cermin.
Kenangan manis itu kini menjelma menjadi duri maut. Bagaimana mungkin tangan yang dulu merangkul bahu sahabatnya dalam tawa, kini di malam hari harus menggoreskan pena untuk mencabut nyawanya?
Letupan amuk spiritual itu kian membakar dada Soekarno ketika kegelapan malam membenturkan batinnya pada takdir tragis lingkaran persaudaraan mereka. Satu orang sahabat mudanya, yakni Musso, demi dan atas nama keutuhan bangsa, telah lebih dulu roboh, tertembak mati oleh bedil tentara Republik di bawah perintah kedaulatan negara yang dipimpinnya. Kehilangan Musso adalah goresan luka pertama yang belum mengering .
Kini di hadapannya, satu lagi belahan jiwa masa lalunya yakni Kartosuwiryo, sedang mendekam di sel gelap penjara, menghitung hari dalam sisa napas yang kian ringkih sembari menunggu jadwal kepastian untuk ditembak mati demi dan atas nama keutuhan bangsa yang sama.
Tragisnya, maut yang mengintai sahabat-sahabat karibnya itu justru mewujud nyata ketika Soekarno telah berada di puncak kejayaan duniawi ketika ia menjadi Presiden. Kekuasaan tertinggi yang dahulu mereka impikan bersama di kamar kos sempit Surabaya, kini berbalik menjadi algojo bagi persahabatan mereka sendiri.
Khusus untuk Kartosuwiryo, takdir menggelar sandiwara yang jauh lebih sadis. Kematian sang sahabat tidak dilepaskan oleh sebutir peluru liar di medan pertempuran seperti Musso, melainkan harus melewati jalur hukum formal yang mutlak memerlukan persetujuan Soekarno sebagai Presiden. Tanpa goresan pena dari jemarinya yang meneken lembar perintah eksekusi itu, Kartosuwiryo tidak akan mati.
Realitas inilah yang menciptakan letupan amuk spiritual yang luar biasa dahsyat. Soekarno sadar bahwa dialah yang memegang tombol kematian bagi nyawa sahabat kentalnya di masa muda. Meneken kertas itu berarti ia bertindak sebagai pembunuh dari kenangan termanis masa mudanya, namun menolaknya berarti ia meruntuhkan wibawa negara yang telah dibangun dengan darah ribuan rakyat.
Kontras kejiwaan ini begitu menyiksa, siang Soekarno menjadi sang singa podium yang siangnya sanggup mendikte nasib jutaan rakyat, di malam hari justru lumpuh di hadapan bayangan masa lalunya sendiri, meratapi ketakberdayaannya memisahkan antara cinta seorang sahabat dengan tuntutan kejam sepotong jabatan kepala negara.
Pertanyaan-artanyaan retoris ini bukanlah sekadar gugatan terhadap masa lalu, melainkan sebuah pintu masuk untuk memahami kedalaman tragedi kebudayaan kita. Dalam lanskap sejarah bangsa Indonesia, malam sunyi sering kali menjelma menjadi panggung kontemplasi kebudayaan yang paling intim sekaligus menyakitkan. Di balik megahnya dinding-dinding tebal istana, keheningan malam itu memaksa Soekarno—seorang seniman, pemikir, sekaligus pemimpin bangsa untuk berhadapan dengan bayang-bayang masa mudanya sendiri.
Di bawah temaram lampu minyak rumah kos Gang Peneleh, Surabaya, puluhan tahun sebelumnya, ia tumbuh dalam sebuah ekosistem kebudayaan pergerakan yang guyub. Bersama Musso yang meledak-ledak, Semaoen yang taktis, dan Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo yang khusyuk belajar agama, mereka menimba ilmu pada sumur spiritual yang sama: Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto. Kebudayaan Peneleh adalah kebudayaan komunal yang hangat, sebuah ruang di mana mereka makan dari piring yang sama, saling melemparkan banyolan, berbagi mimpi tentang kemerdekaan, dan merajut jalinan persaudaraan yang sekilas tampak abadi.
Namun, benturan modernitas dan kristalisasi ideologi pasca-kemerdekaan menjadi batu uji yang teramat kejam bagi kebudayaan komunal tersebut. Ketika waktu tidak lagi memungkinkan mereka untuk membersamai aktivitas seperti dahulu akibat kesibukan memimpin massa, waktu justru mempertemukan mereka kembali dalam situasi yang berbalik seratus delapan puluh derajat.
Rentang waktu yang lama tanpa perjumpaan fisik ternyata tidak melunakkan hati, melainkan semakin mempertebal fanatisme terhadap gagasan masing-masing yang diyakini sebagai kebenaran mutlak. Kebudayaan gotong royong yang mereka agungkan saat melawan kolonialisme, perlahan runtuh dan digantikan oleh kebudayaan politik yang kaku, eksklusif, dan tanpa kompromi. Garis nasib membawa para sahabat seiring sejalan ini pada titik anjlok yang paling tragis. Mereka tidak pernah lagi bertemu secara langsung untuk saling merangkul, melainkan justru dipertemukan di titik kesedihan tertinggi.
Tragedi ini meletus hebat ketika takdir menghadapkan mereka pada dua kutub jargon politik yang saling menghancurkan: “Musso atau Soekarno-Hatta”. Kalimat biner ini menjadi mantra pemecah belah yang diteriakkan di jalanan, di barak-barak militer, dan di atas panggung propaganda saat meletusnya peristiwa Madiun pada tahun 1948. Dua nama besar yakni Musso dan Soekarno, yang dahulu kerap duduk bersama di lantai kayu Peneleh, berbagi rokok, dan menertawakan kemiskinan mereka di bawah asuhan Tjokroaminoto, kini dipaksa sejarah untuk saling meniadakan.
Keheningan malam di istana seolah menangkap kembali gema pidato radio Bung Karno yang menggetarkan batinnya sendiri, ketika ia harus meminta rakyat memilih antara dirinya bersama Hatta, atau mengikuti jalan komunisme Musso. Logika revolusi yang dingin telah mereduksi persahabatan masa muda yang hangat menjadi sekadar hitungan hitam-putih kekuasaan, memaksa dua kawan lama berdiri di garis depan pertempuran frontal yang berdarah.
Tragedi kebudayaan ini mencapai puncaknya ketika relasi kemanusiaan dipaksa tunduk di bawah kuasa hukum legal-formal negara. Musso telah lebih dulu menemui takdirnya, tewas tertembak oleh tentara Republik setelah peristiwa Madiun 1948. Dan kini, takdir mempertemukan Soekarno kembali dengan Kartosuwiryo—bukan dalam kehangatan ruang diskusi Peneleh—melainkan di atas meja kerja kepresidenan melalui selembar berkas keputusan eksekusi mati berdasarkan Keputusan Mahkamah Darurat Perang.
Berbulan-bulan lamanya berkas itu tergeletak membeku. Sebagai kepala negara, logika hukum menuntut ketegasan, namun sebagai manusia yang dibentuk oleh kultur ketimuran yang menjunjung tinggi nilai persahabatan, Soekarno mengalami pergolakan batin yang luar biasa. Setiap kali matanya melirik itu, yang muncul bukanlah sosok musuh negara, melainkan fragmen-fragmen ingatan yang jahil saat wajah Kartosuwiryo muda yang tertawa terpingkal-pingkal di luar pintu kamar mandi saat mendengar Soekarno bernyanyi, atau ejekan jenaka sang sahabat ketika memergokinya sedang berlatih pidato berapi-api di depan cermin.
Amuk psikologis yang meradang di dalam dada Soekarno membuktikan bahwa politik kekuasaan sering kali merobek tenun ikat kemanusiaan. Ketika batinnya tak lagi sanggup membendung kepedihan, suatu ketika konon Soekarno pernah membuang lembaran surat eksekusi itu ke lantai, membuat para jenderal yang hadir terpaku disergap keheningan yang mencekam. Suasana psikologis yang luar biasa remuk ini dikonfirmasi oleh ajudan tepercayanya, Kolonel KKO Bambang Widjanarko, dalam memoar klasiknya Sewindu Dekat Bung Karno [5.3]. Widjanarko menyaksikan bagaimana di balik jubah ketegarannya sebagai Pemimpin Besar Revolusi, Soekarno adalah manusia biasa yang mengalami keterbelahan batin yang akut.
Sebelum takdir menyeret jemarinya pada pena eksekusi, Bung Karno melewati malam-malam panjang yang menyiksa, mondar-mandir di koridor istana yang sepi, bersujud dalam salat sunah, dan menangis tersedu-sedu meratapi runtuhnya persaudaraan masa muda. Bahkan suatu ketika, Mayjen S. Parman yang kelak terbunuh pada malam 1 oktober 1965, pernah menghadap Soekarno di istana di pagi hari untuk membawa kembali Surat Perintah Eksekusi untuk ditandatangani, namun disarankan Bung Karno untuk kembali selepas magrib.
Bagi institusi militer, Kartosuwiryo adalah pucuk pimpinan pemberontakan DI/TII yang telah menumpahkan darah banyak prajurit dan rakyat di medan laga, terikat mutlak oleh Putusan Mahkamah Darurat Perang (Mahadper) tahun 1962. Namun bagi Soekarno pribadi, menandatangani surat itu sama saja dengan mengeksekusi sebagian dari jiwanya sendiri. Sebagaimana dicatat oleh sejarawan Solichin Salam dalam buku Soekarno-Hatta, Bung Karno kelak mengakui bahwa vonis tersebut ditandatangani dengan berat hati yang teramat sangat, sebuah keputusan paling memilukan yang hanya dilakukan sekali seumur hidupnya demi tegaknya hukum bangsa. Pada akhirnya, demi eksistensi sebuah konsep abstrak bernama “negara”, Soekarno terpaksa menyerah pada tuntutan sejarah. Dengan tangan bergetar hebat dan air mata yang menetes deras membasahi dokumen, vonis itu ditandatangani .
Eksekusi yang dilaksanakan secara rahasia pada 5 September 1962 di belahan sunyi Pulau Ubi, Kepulauan Seribu, tidak serta-merta menyudahi prahara batin tersebut. Ketika jenderal kepercayaannya datang menghadap ke istana untuk melaporkan bahwa tugas telah selesai dilaksanakan, Soekarno alih-alih menanyakan perihal teknis milter, justru melontarkan pertanyaan psikologis yang teramat dalam “Bagaimana sorot matanya saat menghadapi detik-detik eksekusi? Apakah matanya melotot? Pertanyaan yang mengunci lidah sang jenderal ini merefleksikan kerinduan spiritual seorang Soekarno akan kearifan masa muda mereka. Ia sangat memahami watak keras sahabat kentalnya itu—seorang laki-laki sederhana yang dahulu banyak mengajarkan makna kesetiaan, ketulusan dan keteguhan dalam prinsip.
Soekarno ingin memastikan apakah sahabatnya mati dengan memegang teguh prinsip ksatria, atau mati dengan membawa dendam kesumat terhadap dirinya. Pertanyaan atas keteguhan sorot mata tanpa penutup kain ini kelak dibuktikan secara empiris melalui dokumentasi militer rahasia yang dihimpun dalam buku Hari Terakhir Kartosoewirjo: 81 Foto Eksekusi Imam DI/TII oleh Fadli Zon [1.2, 3.5].
Secara filosofis-kultural, prahara batin Soekarno menjunjung tinggi sebentuk tragedi kosmik yang dalam pewayangan Jawa kerap dikenal sebagai lakon Baratayuda. Sebuah titik nadir kebudayaan di mana ikatan darah dan persaudaraan suci harus dikorbankan di atas altar kewajiban yang lebih besar. Seperti Kresna yang harus meyakinkan Arjuna untuk melepaskan anak panah ke arah mahaguru dan saudaranya sendiri di padang Kuruwsetra, Soekarno dipaksa mengenakan jubah kekuasaan “Raja” yang dingin dan menanggalkan kehangatan seorang “Sedulur”. Ini adalah kritik kebudayaan yang mendalam atas kelahiran sebuah bangsa bahwa kemerdekaan Indonesia tidak hanya ditebus dengan darah para syuhada yang melawan penjajah, tetapi juga disucikan oleh air mata seorang presiden yang terpaksa memancung ingatan masa mudanya sendiri demi sebuah keutuhan geopolitik.
Di titik inilah, kekuasaan itu bertransformasi menjadi sebuah ‘penjara ingatan’ (the prison of memory). Fisik Kartosuwiryo dilepaskan dari dunia melalui timah panas, namun jiwanya tetap tinggal, menyusup ke setiap sudut ruang batin Soekarno, menyanderanya dalam labirin sunyi yang tak bertepi.
Bagi generasi hari ini yang hidup di bawah tirani algoritma, gema luka dari Peneleh ini menyodorkan pemantik refleksi yang teramat tajam. Di era digital di mana polarisasi politik dirayakan, cancel culture diagungkan, dan jari-jari netizen begitu ringan menghakimi, mencaci, serta memutus ikatan persaudaraan hanya karena perbedaan pilihan di ruang siber, kita seolah kehilangan substansi kemanusiaan terkecil.
Sejarah merobek kepalsuan zaman melalui potret keterbelahan batin Soekarno-Kartosuwiryo dan perseteruan bersenjata melawan Musso. Sama-sama bersahabat semenjak muda. Kisah mereka berpesan jika para raksasa sejarah yang taruhannya adalah nyawa, ideologi, dan tumpahnya darah di medan laga saja masih menyisakan air mata, penghormatan mendalam, serta pergulatan batin yang begitu suci saat harus terpisah jalan, lantas atas dasar kepicikan apa kita hari ini begitu mudah mengutuk kawan seiring sejalan hanya demi pemenuhan ego yang rapuh?
Itulah malam dengan segala ceritanya, dan setiap manusia pasti memiliki cerita yang berbeda di setiap malamnya. Lihatlah epos bagaimana Soekarno yang hampir lebih kurang selama berbulan-bulan lamanya dipaksa “berkelana” dengan perasaannya, meraba hatinya yang meradang, dan bertarung dengan tumpukan kenangan manis masa lalu sebelum akhirnya dengan air mata yang menderu, ia terpaksa meneken surat persetujuan eksekusi mati bagi sahabat karibnya sendiri.
Malam yang pekat di Istana Negara kala itu adalah panggung yang penuh dengan tetesan air mata, sebuah ruang sakral yang padat akan drama dan konflik batin yang teramat suci dari seorang pemimpin dunia. Kenyataan ini berdiri tegak sebagai tamparan kultural yang sunyi bahwa ia kontras dengan kedangkalan hidup kita hari ini, yang kerap menghabiskan malam-malam panjang dalam kepalsuan, terombang-ambing tanpa arah perjuangan yang jelas, dan kehilangan kompas kemanusiaan terkecil demi obsesi keduniawian yang fana.
Prahara di medan laga mungkin bisa dihentikan oleh peluru dan hukum, kemegahan fisik sebuah bangsa mungkin bisa dipamerkan melalui menara yang menjulang tinggi, namun gema luka akibat menghakimi kawan seiring sejalan akan tetap tinggal menetap dalam keabadian yang tidak akan bisa dilupakan. Karena ia merayap seperti cicak didinding dan seperti jarum jam di setiap keheningan malam. Ia berposisi menjadi pengingat bahwa mahakarya peradaban sebuah negara, sebuah bangsa bahkan sebuah institusi sering kali dibangun di atas puing-puing patah hati terbesar para pendirinya.
Wallohu Aqlam Bisshawab.
- Penulis: Moechtar Nasution
- Editor: Dahlan Batubara

