Selasa, 30 Jun 2026
light_mode

Harganas dan Bahaya “Shortcut Berita” dalam Membaca Ketahanan Keluarga

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month 1 menit yang lalu
  • print Cetak

Oleh: Tim Mandailing Epicentrum

 

 

Di Mandailing Natal, peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 berlangsung semarak di pelataran Masjid Agung Nur Ala Nur, Panyabungan, Senin, 29 Juni 2026.

Dalam kesempatan itu, Wakil Bupati Mandailing Natal Atika Azmi menyampaikan pidato tentang pentingnya ketahanan keluarga sebagai fondasi ketahanan bangsa. Ia menekankan bahwa kualitas generasi tidak hanya ditentukan oleh pertumbuhan ekonomi atau pembangunan fisik, tetapi juga oleh kekuatan moral dan ketahanan keluarga.

“Tidak ada gunanya pertumbuhan ekonomi yang tinggi, tidak ada gunanya infrastruktur yang megah, jika generasi yang mewarisinya adalah generasi yang rapuh moralnya dan rusak mentalnya,” ujarnya.

Ia juga menyoroti peran ayah dalam pengasuhan anak, bukan sekadar sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai figur yang hadir secara emosional dan aktif dalam proses tumbuh kembang anak.

“Keterlibatan aktif, kehadiran fisik, dan kedekatan emosional seorang ayah dalam proses pengasuhan anak adalah faktor determinan bagi pembentukan struktur kepribadian dan kestabilan emosi anak-anak,” katanya.

Pola Lama: Seremonial dan Kutipan

Di banyak daerah, termasuk Sumatera Utara, pola pemberitaan seperti ini nyaris selalu berulang. Pejabat hadir, upacara berlangsung, sambutan disampaikan, lalu media mengutip dua atau tiga pernyataan normatif tentang pentingnya keluarga. Setelah itu, berita selesai.

Padahal, di situlah persoalan mulai tampak.

Ketahanan keluarga bukan sekadar tema seremonial. Ia adalah realitas sosial yang bisa diukur, diuji, dan dibandingkan dari tahun ke tahun. Ketika media berhenti pada kutipan sambutan, sementara pejabat merasa tugasnya selesai di podium, publik sesungguhnya sedang disuguhi sesuatu yang bisa disebut sebagai shortcut berita.

Apa Itu “Shortcut Berita”

Shortcut berita adalah cara kerja peliputan yang memindahkan fokus dari realitas menuju seremoni, dari data menuju retorika, dari persoalan menuju simbol.

Tidak ada yang keliru dengan pidato atau upacara. Namun masalah muncul ketika keduanya menjadi isi utama pemberitaan, sementara kondisi riil keluarga justru tidak dibaca secara serius. Tidak dikupas. Tidak dipublikasi.

Padahal, situasi keluarga di Indonesia belum sepenuhnya baik-baik saja.

Di Mandailing Natal, sekitar 37 ribu penduduk masih hidup dalam kemiskinan, atau sekitar 7,91 persen dari total penduduk menurut data BPS 2025. Di Sumatera Utara, jumlah penduduk miskin mencapai sekitar 1,13 juta jiwa atau 7,24 persen. (BPS Sumatera Utara)

Secara nasional, tekanan terhadap keluarga juga tidak ringan. Kemiskinan, stunting, perceraian, kekerasan terhadap perempuan dan anak, hingga penyalahgunaan narkoba masih menjadi tantangan nyata dalam kehidupan rumah tangga Indonesia.

Bahkan, BPS mencatat sebuah rumah tangga beranggotakan lima orang membutuhkan pengeluaran sekitar Rp3,7 juta per bulan agar tidak tergolong miskin. (BPS Sumatera Utara)

Pertanyaan yang Sering Hilang

Karena itu, setiap Harganas seharusnya tidak hanya menghadirkan pertanyaan “siapa yang berpidato?” atau “apa isi sambutannya?”

Pertanyaan yang lebih penting justru: apakah keluarga hari ini lebih kuat dibanding tahun sebelumnya?

Apakah angka stunting menurun? Apakah perceraian berkurang? Apakah kemiskinan keluarga menurun? Apakah anak-anak semakin mampu menyelesaikan pendidikan 12 tahun? Apakah kekerasan dalam rumah tangga berkurang?

Jika jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu tidak jelas, maka pidato tentang ketahanan keluarga hanya akan menjadi gema yang hilang setelah upacara selesai.

Data yang Tidak Boleh Diabaikan

Secara nasional, pada 2025 tercatat 438.168 perkara perceraian di Indonesia, dengan penyebab terbesar adalah perselisihan berkepanjangan (64,4 persen), disusul faktor ekonomi. (Databoks)

Meski perceraian tidak selalu berujung pada dampak buruk bagi anak, berbagai studi menunjukkan bahwa dalam kondisi konflik yang berlarut dan dukungan ekonomi yang lemah, anak menjadi pihak paling rentan. Mereka berisiko mengalami gangguan pengasuhan, tekanan psikologis, penurunan prestasi belajar, hingga putus sekolah.

Hal ini sejalan dengan data BPS yang mencatat angka putus sekolah pada 2025 masih terjadi di berbagai jenjang: SD (0,09 persen), SMP (0,54 persen), dan SMA/SMK (0,86 persen), dengan kecenderungan lebih tinggi di wilayah perdesaan. (Databoks)

Angka-angka ini menunjukkan bahwa keluarga bukan sekadar unit sosial yang dirayakan, tetapi juga ruang yang sedang menghadapi tekanan nyata.

Media dan Pejabat dalam Satu Pola

Ironisnya, shortcut berita kerap berjalan seiring dengan shortcut pencitraan. Pejabat cukup hadir, berpidato, lalu dianggap telah menyelesaikan agenda substansi. Media pun cukup mengutip tanpa menggali lebih dalam.

Akibatnya, publik lebih sering mengetahui siapa yang berbicara daripada memahami bagaimana kondisi keluarga yang sebenarnya.

Di titik ini, tanggung jawab menjadi kolektif.

Media semestinya tidak berhenti sebagai pencatat acara. Tugas jurnalistik adalah menghubungkan pidato dengan realitas. Ketika pejabat berbicara tentang ketahanan keluarga, media perlu mengajukan pertanyaan lanjutan: indikator apa yang berubah? Program apa yang berdampak? Data apa yang mendukung klaim tersebut?

Sebaliknya, pejabat juga perlu keluar dari jebakan simbolik seremonial. Ketahanan keluarga tidak cukup dijelaskan dengan kalimat normatif yang berulang setiap tahun, tetapi harus dibuktikan melalui kebijakan yang terukur dan hasil yang dapat diverifikasi publik.

Ketahanan Tidak Lahir dari Podium

Pada akhirnya, ketahanan keluarga tidak lahir dari pidato di podium, tetapi dari kebijakan yang menyentuh kehidupan sehari-hari: pekerjaan yang layak, pendidikan yang terjangkau, layanan kesehatan yang memadai, perlindungan sosial yang efektif, dan rasa aman dalam rumah tangga.

Karena itu, Harganas semestinya tidak berhenti sebagai seremoni tahunan, tetapi menjadi momentum evaluasi yang jujur terhadap kondisi keluarga.

Sebab berita yang baik bukan sekadar mengabarkan siapa yang berbicara, melainkan membantu publik memahami apakah kehidupan mereka benar-benar berubah ke arah yang lebih baik.

Dan selama itu belum terjadi, maka pertanyaan paling penting tetap sama:

Apakah keluarga kita benar-benar sudah lebih kuat—atau masih berjalan di tempat di balik meriahnya panggung seremoni? ***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Miliki Sabu, Istri Mantan PLH Kadis PU Siantar Diringkus

    Miliki Sabu, Istri Mantan PLH Kadis PU Siantar Diringkus

    • calendar_month Jumat, 13 Mei 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PEMATANGSIANTAR : Sarina br Sianipar alias Omek (47), istri mantan Pelaksana Harian (PLH) Kepala Dinas Pekerjaan Umum (Kadis PU) Kota Pematangsiantar, almarhum Dohar Sidabutar, ditangkap Sat Narkoba Polres setempat, Selasa malam 10 Mei 201, saat menggelar pesta sabu-sabu di rumahnya Jalan Narumonda bawah, Kelurahan Kebun Sayur Kecamatan Siantar Timur. Selain itu, juga diamankan lima orang […]

  • Kaum Ibu Perlu Berinovasi di Usaha Kuliner

    Kaum Ibu Perlu Berinovasi di Usaha Kuliner

    • calendar_month Kamis, 9 Des 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – PKK diharap berupaya keras mendorong kaum ibu berinovasi di sektor usaha kuliner dalam menunjang ekonomi keluarga. Lebih jauh dari itu, kaum ibu juga harus mampu berkompetisi di era digital dalam dinamika potensi kuliner sehingga bisa bersaing di pasar konvensional dan pasar pola digital. Tim Penggerak PKK Kabupaten Mandailing Natal berposisi strategis mendorong […]

  • Viral, Video Aksi Polisi Tangkap Pembawa Narkoba Jenis Ganja di Panyabungan

    Viral, Video Aksi Polisi Tangkap Pembawa Narkoba Jenis Ganja di Panyabungan

    • calendar_month Kamis, 13 Jul 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    Sumber Video Group Forum Anak Madina PANYABUNGAN( Mandailing Online ) aktraksi  penangkapan diduga pelaku pembawa narkoba jenis ganja di kota Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal Viral di Media sosial. Dalam video tersebut, seorang pemuda berpakaian preman di duga polisi sedang mengikat tangan seorang lelaki dan dikerumuni warga tepatnya jalan raya di depan masjid raya kota Panyabungan […]

  • IYE Madina Nilai Kasus Dugaan Korupsi Stunting Madina Bualan Kejatisu

    IYE Madina Nilai Kasus Dugaan Korupsi Stunting Madina Bualan Kejatisu

    • calendar_month Jumat, 26 Sep 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    MADINA -Mandailing Online : Meski Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara ( Kejatisu ) telah melakukan pemanggilan beberapa kali terhadap sejumlah pejabat dilingkungan Pemkab Mandailing Natal ( Madina ) terkait dugaan korupsi proyek stunting tahun 2022-2023. Namun sampai hari ini perkembangan kasus tersebut masih jalan ditempat. Menanggapi hal ini Ketua Indonesia Youth Epicentrum (IYE) Madina, Farhan Donganta, […]

  • Infrasruktur jalan Muara Batang Gadis memprihatinkan

    Infrasruktur jalan Muara Batang Gadis memprihatinkan

    • calendar_month Senin, 9 Jan 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    PANYABUNGAN – Kondisi infrasruktur jalan dan jembatan yang ada di Kecamatan Muara Batang Gadis sampai saat ini masih buruk dan memperihatinkan dengan meliputi akses jalan ke Desa Suka Makmur, Aek Godang, Panunggulan dan beberapa desa lainnya. “Untuk alternatif lainnya menuju desa itu jika musim hujan melalui sungai menggunakan perahu bot jenis robin dengan ongkos Rp.50 […]

  • LABUSEL: KETIKA RAJA KOTAPINANG HADIR DI ISTANA BUPATI (bagian 2)

    LABUSEL: KETIKA RAJA KOTAPINANG HADIR DI ISTANA BUPATI (bagian 2)

    • calendar_month Minggu, 7 Jun 2026
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Sutan Diaru dan Mimpi Besar dari Pinang Awan   Oleh: Tim Mandailing Epicentrum   Jika sejarah Sumatera dibaca hanya berdasarkan batas kabupaten modern, maka sebagian besar cerita penting kawasan ini akan hilang. Karena pada masa lalu tidak ada Labuhanbatu Selatan. Tidak ada Mandailing Natal. Tidak ada Padang Lawas. Yang ada adalah jaringan sungai, perdagangan, dan […]

expand_less