Senin, 5 Okt 2026
light_mode

Harganas dan Bahaya “Shortcut Berita” dalam Membaca Ketahanan Keluarga

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Selasa, 30 Jun 2026
  • print Cetak

Oleh: Tim Mandailing Epicentrum

 

 

Di Mandailing Natal, peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 berlangsung semarak di pelataran Masjid Agung Nur Ala Nur, Panyabungan, Senin, 29 Juni 2026.

Dalam kesempatan itu, Wakil Bupati Mandailing Natal Atika Azmi menyampaikan pidato tentang pentingnya ketahanan keluarga sebagai fondasi ketahanan bangsa. Ia menekankan bahwa kualitas generasi tidak hanya ditentukan oleh pertumbuhan ekonomi atau pembangunan fisik, tetapi juga oleh kekuatan moral dan ketahanan keluarga.

“Tidak ada gunanya pertumbuhan ekonomi yang tinggi, tidak ada gunanya infrastruktur yang megah, jika generasi yang mewarisinya adalah generasi yang rapuh moralnya dan rusak mentalnya,” ujarnya.

Ia juga menyoroti peran ayah dalam pengasuhan anak, bukan sekadar sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai figur yang hadir secara emosional dan aktif dalam proses tumbuh kembang anak.

“Keterlibatan aktif, kehadiran fisik, dan kedekatan emosional seorang ayah dalam proses pengasuhan anak adalah faktor determinan bagi pembentukan struktur kepribadian dan kestabilan emosi anak-anak,” katanya.

Pola Lama: Seremonial dan Kutipan

Di banyak daerah, termasuk Sumatera Utara, pola pemberitaan seperti ini nyaris selalu berulang. Pejabat hadir, upacara berlangsung, sambutan disampaikan, lalu media mengutip dua atau tiga pernyataan normatif tentang pentingnya keluarga. Setelah itu, berita selesai.

Padahal, di situlah persoalan mulai tampak.

Ketahanan keluarga bukan sekadar tema seremonial. Ia adalah realitas sosial yang bisa diukur, diuji, dan dibandingkan dari tahun ke tahun. Ketika media berhenti pada kutipan sambutan, sementara pejabat merasa tugasnya selesai di podium, publik sesungguhnya sedang disuguhi sesuatu yang bisa disebut sebagai shortcut berita.

Apa Itu “Shortcut Berita”

Shortcut berita adalah cara kerja peliputan yang memindahkan fokus dari realitas menuju seremoni, dari data menuju retorika, dari persoalan menuju simbol.

Tidak ada yang keliru dengan pidato atau upacara. Namun masalah muncul ketika keduanya menjadi isi utama pemberitaan, sementara kondisi riil keluarga justru tidak dibaca secara serius. Tidak dikupas. Tidak dipublikasi.

Padahal, situasi keluarga di Indonesia belum sepenuhnya baik-baik saja.

Di Mandailing Natal, sekitar 37 ribu penduduk masih hidup dalam kemiskinan, atau sekitar 7,91 persen dari total penduduk menurut data BPS 2025. Di Sumatera Utara, jumlah penduduk miskin mencapai sekitar 1,13 juta jiwa atau 7,24 persen. (BPS Sumatera Utara)

Secara nasional, tekanan terhadap keluarga juga tidak ringan. Kemiskinan, stunting, perceraian, kekerasan terhadap perempuan dan anak, hingga penyalahgunaan narkoba masih menjadi tantangan nyata dalam kehidupan rumah tangga Indonesia.

Bahkan, BPS mencatat sebuah rumah tangga beranggotakan lima orang membutuhkan pengeluaran sekitar Rp3,7 juta per bulan agar tidak tergolong miskin. (BPS Sumatera Utara)

Pertanyaan yang Sering Hilang

Karena itu, setiap Harganas seharusnya tidak hanya menghadirkan pertanyaan “siapa yang berpidato?” atau “apa isi sambutannya?”

Pertanyaan yang lebih penting justru: apakah keluarga hari ini lebih kuat dibanding tahun sebelumnya?

Apakah angka stunting menurun? Apakah perceraian berkurang? Apakah kemiskinan keluarga menurun? Apakah anak-anak semakin mampu menyelesaikan pendidikan 12 tahun? Apakah kekerasan dalam rumah tangga berkurang?

Jika jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu tidak jelas, maka pidato tentang ketahanan keluarga hanya akan menjadi gema yang hilang setelah upacara selesai.

Data yang Tidak Boleh Diabaikan

Secara nasional, pada 2025 tercatat 438.168 perkara perceraian di Indonesia, dengan penyebab terbesar adalah perselisihan berkepanjangan (64,4 persen), disusul faktor ekonomi. (Databoks)

Meski perceraian tidak selalu berujung pada dampak buruk bagi anak, berbagai studi menunjukkan bahwa dalam kondisi konflik yang berlarut dan dukungan ekonomi yang lemah, anak menjadi pihak paling rentan. Mereka berisiko mengalami gangguan pengasuhan, tekanan psikologis, penurunan prestasi belajar, hingga putus sekolah.

Hal ini sejalan dengan data BPS yang mencatat angka putus sekolah pada 2025 masih terjadi di berbagai jenjang: SD (0,09 persen), SMP (0,54 persen), dan SMA/SMK (0,86 persen), dengan kecenderungan lebih tinggi di wilayah perdesaan. (Databoks)

Angka-angka ini menunjukkan bahwa keluarga bukan sekadar unit sosial yang dirayakan, tetapi juga ruang yang sedang menghadapi tekanan nyata.

Media dan Pejabat dalam Satu Pola

Ironisnya, shortcut berita kerap berjalan seiring dengan shortcut pencitraan. Pejabat cukup hadir, berpidato, lalu dianggap telah menyelesaikan agenda substansi. Media pun cukup mengutip tanpa menggali lebih dalam.

Akibatnya, publik lebih sering mengetahui siapa yang berbicara daripada memahami bagaimana kondisi keluarga yang sebenarnya.

Di titik ini, tanggung jawab menjadi kolektif.

Media semestinya tidak berhenti sebagai pencatat acara. Tugas jurnalistik adalah menghubungkan pidato dengan realitas. Ketika pejabat berbicara tentang ketahanan keluarga, media perlu mengajukan pertanyaan lanjutan: indikator apa yang berubah? Program apa yang berdampak? Data apa yang mendukung klaim tersebut?

Sebaliknya, pejabat juga perlu keluar dari jebakan simbolik seremonial. Ketahanan keluarga tidak cukup dijelaskan dengan kalimat normatif yang berulang setiap tahun, tetapi harus dibuktikan melalui kebijakan yang terukur dan hasil yang dapat diverifikasi publik.

Ketahanan Tidak Lahir dari Podium

Pada akhirnya, ketahanan keluarga tidak lahir dari pidato di podium, tetapi dari kebijakan yang menyentuh kehidupan sehari-hari: pekerjaan yang layak, pendidikan yang terjangkau, layanan kesehatan yang memadai, perlindungan sosial yang efektif, dan rasa aman dalam rumah tangga.

Karena itu, Harganas semestinya tidak berhenti sebagai seremoni tahunan, tetapi menjadi momentum evaluasi yang jujur terhadap kondisi keluarga.

Sebab berita yang baik bukan sekadar mengabarkan siapa yang berbicara, melainkan membantu publik memahami apakah kehidupan mereka benar-benar berubah ke arah yang lebih baik.

Dan selama itu belum terjadi, maka pertanyaan paling penting tetap sama:

Apakah keluarga kita benar-benar sudah lebih kuat—atau masih berjalan di tempat di balik meriahnya panggung seremoni? ***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • ISLAM TEGAS MENGHARAMKAN MIRAS

    ISLAM TEGAS MENGHARAMKAN MIRAS

    • calendar_month Jumat, 5 Mar 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Setelah menuai kontroversi di tengah masyarakat, akhirnya Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Selasa, 2 Maret 2021, mencabut lampiran Perpres No. 10 tahun 2021 tentang Bidang Usaha Penanaman Modal. Perpres ini mengatur pembukaan investasi baru industri miras yang mengandung alkohol. “Bersama ini saya sampaikan, saya putuskan lampiran Perpres terkait pembukaan investasi baru dalam industri miras yang […]

  • Saparuddin-Miswaruddin Hadiri Kegiatan di Ponpes

    Saparuddin-Miswaruddin Hadiri Kegiatan di Ponpes

    • calendar_month Kamis, 29 Okt 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Pasangan calon bupati/wakil bupati Madina Saparuddin Haji-Miswaruddin Daulay foto bersama dengan para santri Pondok Pesantren Darul Hadist Huta Baringin Kecamatan Siabu, Senin (26/10). Pasangan kandidat ini menhadiri undangan kegiatan penutupan perlombaan antar pelajar ponpes Darul Hadist dalam rangka penyambutan tahun baru Hijriah. Foto         : Sapaima Saparuddin Miswaruddin/Azanul Akbar Panjaitan Sumber   : KORANBOGOR.COM

  • 700 Guru Bersertifikasi di Madina Diminta Dievaluasi

    700 Guru Bersertifikasi di Madina Diminta Dievaluasi

    • calendar_month Senin, 6 Des 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan, Sebanyak 700-an guru yang sudah bersertifikasi di Kabupaten Mandailing Natal diminta suoaya dievaluasi. Sebab dinilai guru-guru yang bersertifikasi tidak memberikan nilai tambah bagi peningkatan kualitas pendidikan di Kabupaten Madina. Hal itu disampaikan Wakil Ketua DPC PKB madina Abdul waris Rangkuty kepada Analisa, di Panyabungan, Sabtu (4/12). Dia mengatakan, sampai sejauh ini tidak diketahui tolok […]

  • Mahasiswa Asal Hutabaringin Julu Minta Anggaran Desa Mereka Diaudit Kejaksaan

    Mahasiswa Asal Hutabaringin Julu Minta Anggaran Desa Mereka Diaudit Kejaksaan

    • calendar_month Jumat, 14 Feb 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    MADINA – Mandailing Online- Mahasiswa Minta Pihak berwenang audit Dana Desa Hutabarigin Julu, Kecamatan Puncak Sorik Marapi, Tahun 2023 dan 2024. Intensif Guru Magrib mengaji diduga tak dibayar penuh Kades Hutabarigin Julu, serta bagunan desa tak kelar sejak tahun 2022 hingga 2024. Munawir Ahmad Mahasiswa sekaligus Warga di Desa itu menduga Kades Hutabarigin Julu Darman […]

  • Sekda Gozali Pimpin Rapat Finalisasi Perayaan HUTRI

    Sekda Gozali Pimpin Rapat Finalisasi Perayaan HUTRI

    • calendar_month Selasa, 9 Agt 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Sekretaris Daerah Kabupaten (Sekdakab) Mandailing Natal (Madina) Gozali Pulungan membuka rapat finalisasi kegiatan HUT ke-77 Kemerdekaan Republik Indonesia di Aula Kantor Bupati Madina, Desa Parbangunan, Kecamatan Panyabungan, Selasa (9/8/2022). Dalam rapat itu, Gozali berharap perayaan HUT RI tahun ini dapat bermakna dan berkesan di hati masyarakat. Seperti tagline Madina Bersyukur Madina […]

  • Percepat Pengusutan Kebakaran Pasar Hilir, Kapolres Madina Mendapat Apresiasi

    Percepat Pengusutan Kebakaran Pasar Hilir, Kapolres Madina Mendapat Apresiasi

    • calendar_month Selasa, 11 Okt 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Tim Percepatan Pemeriksaan yang dibentuk Polres Madina dalam mengusut kasus penyebab kebakaran di Pasar Hilir, Panyabungan mendapat apresiasi. Pembentukan tim ini dinilai sebagai keseriusan Kapores Mandailing Natal (Madina), AKPB Rudy Rifani menegakkan supremasi hukum serta azas keadilan bagi para keluarga korban kebakaran. “PDI Perjuangan mengapresiasi langkah kapolres yang telah membentuk Tim […]

expand_less