Senin, 5 Okt 2026
light_mode

Duo Sutan, Duo Pahlawan Nasional

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Selasa, 30 Jun 2026
  • print Cetak

(Masih Sekitar Polemik Strategi Pengusulan Pahlawan Nasional)

 

Oleh: Muhammad Ludfan Nasution
Pegiat di Mandailing Epicentrum

 

Saya menyampaikan apresiasi kepada Bung Moechtar Nasution atas esainya yang merespons tulisan kami mengenai perjuangan Gerep Institute mengusulkan Willem Iskander dan Sutan Takdir Alisjahbana sebagai Pahlawan Nasional.

Bagi saya, esai tersebut bukan gangguan terhadap perjuangan ini.

Sebaliknya, ia membuktikan bahwa literasi dan dialektika intelektual di Mandailing masih hidup.

Sebuah gagasan besar memang semestinya tidak berjalan sendirian. Ia perlu diuji, diperdebatkan, bahkan sesekali disalahpahami, agar semakin matang ketika memasuki ruang pengambilan keputusan negara.

Sesungguhnya, jika dicermati dengan tenang, perbedaan kami tidak terletak pada tujuan.

Kami sama-sama meyakini Willem Iskander dan Sutan Takdir Alisjahbana telah memberikan sumbangan yang melampaui batas daerah asalnya.

Kami sama-sama percaya bahwa keduanya layak memperoleh Gelar Pahlawan Nasional. Yang berbeda hanyalah cara membangun komunikasi publik menuju tujuan yang sama.

Di situlah saya merasa perlu menjelaskan mengapa sejak awal saya memilih memperkenalkan istilah “Duo Sutan.”

Bagi sebagian orang, itu mungkin sekadar terdengar sebagai padanan yang enak diucapkan. Padahal, istilah itu lahir sebagai strategi komunikasi. Bukan sekadar label, melainkan sebuah bingkai berpikir.

Selama ini, publik mengenal Willem Iskander dan Sutan Takdir Alisjahbana sebagai dua tokoh besar yang berdiri sendiri-sendiri. Padahal, jika kita membaca sejarah Indonesia secara lebih utuh, keduanya sesungguhnya berada pada satu garis besar yang sama: pelopor modernitas Indonesia melalui jalan pendidikan, bahasa, dan kebudayaan.

Willem Iskander meletakkan fondasi pendidikan modern di Sumatra melalui Kweekschool Tanobato. Sutan Takdir Alisjahbana kemudian menjadi salah satu arsitek bahasa Indonesia modern, pemikir kebudayaan, sekaligus pendiri Universitas Nasional.

Yang satu membangun manusia melalui sekolah. Yang satu lagi membangun kesadaran bangsa melalui bahasa dan kebudayaan.

Dua jalan berbeda, tetapi menuju cita-cita yang sama: Indonesia yang tercerahkan.

Karena itulah saya sengaja menyebut mereka sebagai Duo Sutan.

Bukan untuk mengaburkan identitas masing-masing, melainkan untuk membantu publik melihat bahwa sejarah sering kali menjadi lebih terang ketika dibaca melalui simpul-simpul gagasan, bukan sekadar melalui tokoh-tokoh yang berdiri sendiri.

Saya berharap, cara pandang ini pada akhirnya juga ikut menginspirasi ruang-ruang akademik, ruang kebijakan, hingga ruang pertimbangan negara agar melihat keduanya sebagai satu momentum kepahlawanan yang saling melengkapi.

Saya juga memandang penyelenggaraan seminar nasional mengenai Sutan Takdir Alisjahbana di Jakarta sebagai kabar yang menggembirakan. Seminar tersebut menunjukkan bahwa perhatian terhadap jasa dan pemikiran STA semakin menguat di tingkat nasional. Itu patut diapresiasi, bukan dipertentangkan.

Justru karena itu, saya berharap langkah tersebut dapat segera dilengkapi dengan penyelenggaraan seminar nasional mengenai Willem Iskander, misalnya di Universitas Negeri Medan atau Universitas Sumatera Utara. Bukan untuk menandingi seminar STA, melainkan untuk melengkapi mozaik sejarah Indonesia yang sedang kita susun bersama.

Semakin banyak forum akademik yang mengkaji kedua tokoh ini, semakin kaya pula landasan ilmiah yang dapat menjadi rujukan bagi negara dalam mengambil keputusan.

Pada akhirnya, yang ingin kita perjuangkan bukanlah kemenangan satu daerah, satu komunitas, atau satu lembaga. Yang ingin kita perjuangkan adalah cara bangsa ini mengingat para pelopor yang membangun Indonesia dengan pena, sekolah, bahasa, dan gagasan.

Harapan saya sederhana, tetapi indah.

Biarlah sejarah mempertemukan keduanya dalam satu momentum kebangsaan.

Duo Sutan, Duo Pahlawan Nasional

Bukan karena keduanya berasal dari rumpun budaya yang saling bersentuhan — Mandailing dengan gelar adat Sutan Iskandar dan Minangkabau dengan nama Sutan Takdir Alisjahbana yang membawa jejak adat Pagaruyung — melainkan karena keduanya sama-sama telah melampaui batas asal-usulnya untuk mengabdi kepada Indonesia.

Jika Kementerian Kebudayaan hari ini sedang berupaya memperluas cara pandang sejarah Indonesia agar tidak terpusat pada satu kawasan saja, maka kisah Duo Sutan menawarkan sebuah pelajaran berharga. Peradaban Indonesia dibangun oleh banyak mata air. Dari Mandailing, dari Minangkabau, dari Jawa, dari Sulawesi, dari Bali, dari Maluku, dari Papua, dan dari seluruh penjuru Nusantara.

Negara tidak sedang diminta memberi penghormatan kepada dua putra daerah.

Negara sedang diajak menyempurnakan ingatan kolektifnya sendiri.

Sebab bangsa yang besar bukan hanya pandai melahirkan tokoh, tetapi juga bijaksana mempertemukan kembali kepingan-kepingan sejarahnya menjadi satu mozaik yang utuh.

Semoga, pada saat bangsa ini kembali menetapkan Pahlawan Nasional, sejarah menghadirkan satu pemandangan yang akan dikenang lama oleh generasi mendatang:

Duo Sutan: Duo Pahlawan Nasional?

Menurut saya, justru klimaks terakhir itulah yang harus terus diulang. Bukan lagi “STA atau Willem”, melainkan sebuah citra yang mudah diingat, indah didengar, dan kuat secara psikologis:

Duo Sutan: Willem Iskander atau Sutan Iskandar dan Sutan Takdir Alisjahbana — Duo Pahlawan Nasional. ***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sampah di TPA meluber kejalan umum (ist )

    TPA Batang Gadis “Amburadul”, Sampah Meluber ke Jalan Bukit Kamuning – Barbaran

    • calendar_month Senin, 14 Sep 2026
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN|| Mandailing Online — Tumpukan sampah di sepanjang Jalan Bukit Kamuning – Barbaran, tepatnya menuju Tempat Pembuangan Akhir atau TPA Batang Gadis, Kecamatan Panyabungan Barat, menjadi sorotan. Kondisi ini dinilai warga sebagai bukti gagalnya Pemerintah Daerah Kabupaten Mandailing Natal dalam menangani persoalan sampah. Hal itu disampaikan warga Panyabungan, M I Nasution, Senin (14/9/2026). Menurutnya, menumpuknya […]

  • Zubeir Lubis Kunjungi Pasar Sihepeng

    Zubeir Lubis Kunjungi Pasar Sihepeng

    • calendar_month Selasa, 23 Jun 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIABU (Mandailing Online) – Calon Wakil Bupati Madina, Ir. H. Zubeir Nasution melakukan kunjungan ke pasar Sihepeng, Kecamatan Siabu, Selasa (23/6/2020). Zubeir Lubis didampingi Mudir Ponpes Musthafawiyah, H. Musthofa Bakri Nasution dan rombongan. Masyarakat yang berada di pasar sangat antusias begitu melihat Zubeir Lubis dan rombongan memantau pasar itu. Bahkan beberapa kaum ibu dan pedagang […]

  • Harun Mustafa Mendaftar di Gerindra

    Harun Mustafa Mendaftar di Gerindra

    • calendar_month Jumat, 5 Jul 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN (Mandailing Online) – Kabar beredar selama ini yang menyebut H.Harun Musthafa Nasution akan maju sebagai calon bupati di Pilkada Madina 2024 mengandung kebenaran. Akhirnya cucu pendiri pondok pesantren Musthafawiyah Purba Baru itu mendaftarkan diri di Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerindra Sumatera Utara, Medan, Jum’at (5/7/2024). “Sebenarnya saya mendaftar calon bupati Madina atas dorongan […]

  • Darul Mursyid Latihan OSN di Bogor dan Medan

    • calendar_month Senin, 27 Mei 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    TAPSEL (Mandailing Online) – Menjelang Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat Provinsi Sumut, Pesantren Modern Unggulan Terpadu Darul Mursyid mengirim pelajarnya mengikuti latihan di Bogor dan di Medan sejak tanggal 19 hingga 25 Mei 2013. “Dua tempat latihan yang berbeda ini digunakan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam meraih sukses pada OSN tingkat provinsi 2013 yang akan […]

  • Balita Penderita Jantung Bocor Butuh Bantuan Dermawan

    Balita Penderita Jantung Bocor Butuh Bantuan Dermawan

    • calendar_month Rabu, 15 Nov 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN UTARA (Mandailing Online) : Bayi penderita jantung bocor sejak lahir membutuhkan bantuan biaya operasi di rumah sakit. Bayi itu bernama M. Rizky Halomoan Lubis (1,8 tahun) anak dari pasangan Napjali Lubis dengan Nuriah Siregar warga Desa Mompang Julu Kecamatan Panyabungan Utara, Madina. Kondisi keluarga ekonomi yang sangat terbatas menyebabkan kendala untuk mengobati Rizky […]

  • APBD Perubahan 2025 Diajukan, PAD Naik, Transfer Turun

    APBD Perubahan 2025 Diajukan, PAD Naik, Transfer Turun

    • calendar_month Kamis, 18 Sep 2025
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Mandailing Natal (Madina) naik di APBD Perubahan tahun 2025. Di sisi lain transfer dari pemerintah pusat justru turun. Nota APBD Perubahan tahun anggaran 2025 diajukan pada rapat paripurna DPRD Madina, Kamis (18/9/2025). Paripurna dipimpin Ketua DPRD Madina Erwin Efendi Lubis. Dalam Pengantar Nota Keuangan APBD Perubahan yang […]

expand_less