Senin, 20 Jul 2026
light_mode

Duo Sutan, Duo Pahlawan Nasional

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Selasa, 30 Jun 2026
  • print Cetak

(Masih Sekitar Polemik Strategi Pengusulan Pahlawan Nasional)

 

Oleh: Muhammad Ludfan Nasution
Pegiat di Mandailing Epicentrum

 

Saya menyampaikan apresiasi kepada Bung Moechtar Nasution atas esainya yang merespons tulisan kami mengenai perjuangan Gerep Institute mengusulkan Willem Iskander dan Sutan Takdir Alisjahbana sebagai Pahlawan Nasional.

Bagi saya, esai tersebut bukan gangguan terhadap perjuangan ini.

Sebaliknya, ia membuktikan bahwa literasi dan dialektika intelektual di Mandailing masih hidup.

Sebuah gagasan besar memang semestinya tidak berjalan sendirian. Ia perlu diuji, diperdebatkan, bahkan sesekali disalahpahami, agar semakin matang ketika memasuki ruang pengambilan keputusan negara.

Sesungguhnya, jika dicermati dengan tenang, perbedaan kami tidak terletak pada tujuan.

Kami sama-sama meyakini Willem Iskander dan Sutan Takdir Alisjahbana telah memberikan sumbangan yang melampaui batas daerah asalnya.

Kami sama-sama percaya bahwa keduanya layak memperoleh Gelar Pahlawan Nasional. Yang berbeda hanyalah cara membangun komunikasi publik menuju tujuan yang sama.

Di situlah saya merasa perlu menjelaskan mengapa sejak awal saya memilih memperkenalkan istilah “Duo Sutan.”

Bagi sebagian orang, itu mungkin sekadar terdengar sebagai padanan yang enak diucapkan. Padahal, istilah itu lahir sebagai strategi komunikasi. Bukan sekadar label, melainkan sebuah bingkai berpikir.

Selama ini, publik mengenal Willem Iskander dan Sutan Takdir Alisjahbana sebagai dua tokoh besar yang berdiri sendiri-sendiri. Padahal, jika kita membaca sejarah Indonesia secara lebih utuh, keduanya sesungguhnya berada pada satu garis besar yang sama: pelopor modernitas Indonesia melalui jalan pendidikan, bahasa, dan kebudayaan.

Willem Iskander meletakkan fondasi pendidikan modern di Sumatra melalui Kweekschool Tanobato. Sutan Takdir Alisjahbana kemudian menjadi salah satu arsitek bahasa Indonesia modern, pemikir kebudayaan, sekaligus pendiri Universitas Nasional.

Yang satu membangun manusia melalui sekolah. Yang satu lagi membangun kesadaran bangsa melalui bahasa dan kebudayaan.

Dua jalan berbeda, tetapi menuju cita-cita yang sama: Indonesia yang tercerahkan.

Karena itulah saya sengaja menyebut mereka sebagai Duo Sutan.

Bukan untuk mengaburkan identitas masing-masing, melainkan untuk membantu publik melihat bahwa sejarah sering kali menjadi lebih terang ketika dibaca melalui simpul-simpul gagasan, bukan sekadar melalui tokoh-tokoh yang berdiri sendiri.

Saya berharap, cara pandang ini pada akhirnya juga ikut menginspirasi ruang-ruang akademik, ruang kebijakan, hingga ruang pertimbangan negara agar melihat keduanya sebagai satu momentum kepahlawanan yang saling melengkapi.

Saya juga memandang penyelenggaraan seminar nasional mengenai Sutan Takdir Alisjahbana di Jakarta sebagai kabar yang menggembirakan. Seminar tersebut menunjukkan bahwa perhatian terhadap jasa dan pemikiran STA semakin menguat di tingkat nasional. Itu patut diapresiasi, bukan dipertentangkan.

Justru karena itu, saya berharap langkah tersebut dapat segera dilengkapi dengan penyelenggaraan seminar nasional mengenai Willem Iskander, misalnya di Universitas Negeri Medan atau Universitas Sumatera Utara. Bukan untuk menandingi seminar STA, melainkan untuk melengkapi mozaik sejarah Indonesia yang sedang kita susun bersama.

Semakin banyak forum akademik yang mengkaji kedua tokoh ini, semakin kaya pula landasan ilmiah yang dapat menjadi rujukan bagi negara dalam mengambil keputusan.

Pada akhirnya, yang ingin kita perjuangkan bukanlah kemenangan satu daerah, satu komunitas, atau satu lembaga. Yang ingin kita perjuangkan adalah cara bangsa ini mengingat para pelopor yang membangun Indonesia dengan pena, sekolah, bahasa, dan gagasan.

Harapan saya sederhana, tetapi indah.

Biarlah sejarah mempertemukan keduanya dalam satu momentum kebangsaan.

Duo Sutan, Duo Pahlawan Nasional

Bukan karena keduanya berasal dari rumpun budaya yang saling bersentuhan — Mandailing dengan gelar adat Sutan Iskandar dan Minangkabau dengan nama Sutan Takdir Alisjahbana yang membawa jejak adat Pagaruyung — melainkan karena keduanya sama-sama telah melampaui batas asal-usulnya untuk mengabdi kepada Indonesia.

Jika Kementerian Kebudayaan hari ini sedang berupaya memperluas cara pandang sejarah Indonesia agar tidak terpusat pada satu kawasan saja, maka kisah Duo Sutan menawarkan sebuah pelajaran berharga. Peradaban Indonesia dibangun oleh banyak mata air. Dari Mandailing, dari Minangkabau, dari Jawa, dari Sulawesi, dari Bali, dari Maluku, dari Papua, dan dari seluruh penjuru Nusantara.

Negara tidak sedang diminta memberi penghormatan kepada dua putra daerah.

Negara sedang diajak menyempurnakan ingatan kolektifnya sendiri.

Sebab bangsa yang besar bukan hanya pandai melahirkan tokoh, tetapi juga bijaksana mempertemukan kembali kepingan-kepingan sejarahnya menjadi satu mozaik yang utuh.

Semoga, pada saat bangsa ini kembali menetapkan Pahlawan Nasional, sejarah menghadirkan satu pemandangan yang akan dikenang lama oleh generasi mendatang:

Duo Sutan: Duo Pahlawan Nasional?

Menurut saya, justru klimaks terakhir itulah yang harus terus diulang. Bukan lagi “STA atau Willem”, melainkan sebuah citra yang mudah diingat, indah didengar, dan kuat secara psikologis:

Duo Sutan: Willem Iskander atau Sutan Iskandar dan Sutan Takdir Alisjahbana — Duo Pahlawan Nasional. ***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ima Madina Buat Seminar dan Petisi Tolak Narkoba

    Ima Madina Buat Seminar dan Petisi Tolak Narkoba

    • calendar_month Jumat, 8 Mar 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Ikatan Mahasiswa Mandailing Natal Dewan Pimpinan Cabang STAIN Selenggarakan seminar anti narkoba bagi anak muda di Aula SMAN 2 Plus Kota Panyabungan kamis 7/3/2024. Seminar ini beranjak dari  banyaknya kasus peredaran dan pemakaian narkoba di Mandailing Natal. Bekerjasama dengan Polres Madina, Dinas Kesehatan, BNNK Madina , seminar selain diisi pemateri dari […]

  • Dianggap Berjasa, Warga Banjar Malayu Janji Menangkan Harun – Ichwan di Pilkada Madina

    Dianggap Berjasa, Warga Banjar Malayu Janji Menangkan Harun – Ichwan di Pilkada Madina

    • calendar_month Selasa, 8 Okt 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    Banjar Malayu ( Mandailing Online) : Tim Harun – Ichwan kali ini menelusuri  daerah Desa Banjar Malayu di Kecamatan Batang Natal, Kabupaten Mandailing Natal ( Madina). Dengan mengendarai kendaraan khusus Of Road, tim ini akhirnya bisa sampai ke lokasi dan disambut hangat masyarakat sekitar. ” Terimakasih atas kedatangan Mudir Ponpes Mustafawiyah beserta tim On Ma […]

  • Masyarakat Diminta Turut Awasi Pelaksanaan Proyek

    Masyarakat Diminta Turut Awasi Pelaksanaan Proyek

    • calendar_month Senin, 25 Nov 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    SIDIMPUAN – Musim hujan yang melanda Kota Padangsidimpuan (Psp) saat ini dan waktu yang sempit dalam pengerjaan proyek pembangunan, dikhawatirkan pengerjaannya asal-asalan demi mengejar waktu yang ditentukan. Sehingga kualitas proyek ditakutkan tidak bagus. Tentunya ini akan sangat disesalkan jika sampai terjadi. Untuk itu, masyarakat Psp diminta ikut serta mengawasi pelaksanaan proyek yang sedang berjalan saat […]

  • Hutagodang Muda dan Hutabargot Lombang Raih Predikat Desa Cantik Terbaik se- Sumut

    Hutagodang Muda dan Hutabargot Lombang Raih Predikat Desa Cantik Terbaik se- Sumut

    • calendar_month Selasa, 6 Mei 2025
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN BARAT (Mandailing Online) – Dua desa di Mandailing Natal (Madina) meraih predikat Desa Cantik Terbaik 1 se-Sumatera Utara tahun 2024. Desa Cantik singkatan dari Desa Cinta Statistik. Program yang dimotori Badan Pusat Statistik (BPS) secara nasional. Desa Hutagodang Muda Kecamatan Siabu memperoleh predikat Desa Cantik Utama Terbaik 1 se-Sumatera. Desa Hutabargot Lombang Kecamatan Hutabargot […]

  • Mulai Besok, Guru TKS di Madina Terima Gaji 7 Bulan

    Mulai Besok, Guru TKS di Madina Terima Gaji 7 Bulan

    • calendar_month Senin, 7 Nov 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Mulai besok, Selasa (8/11/2022) para guru status honorer TKS di Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumut, akan memperoleh gaji 7 bulan. “Saya sudah menandatangani surat pencairan gaji guru honorer atau TKS. Saat ini sedang proses di Dinas Keuangan. Insa Allah besok sudah bisa dicairkan, pencairnya kita rapel 7 bulan sekaligus sampai bulan […]

  • PAN Setujui Sofwat-Zubeir

    PAN Setujui Sofwat-Zubeir

    • calendar_month Jumat, 19 Jun 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA (Mandailing Online) – Partai Amanat Nasional (PAN) memberikan persetujuan kepada Sofwat-Zubeir calon Bupati dan Wakil Bupati Madina di Pilkada 2020. Persetujuan itu tertuang dalam surat keputusan DPP PAN nomor PAN/A/Kpts/KU-SJ/066/VI/2020 tentang persetujuan calon Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Mandailing Natal (Madina). Surat keputusan tanggal 18 Juni 2020 yang ditandatangani Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan […]

expand_less