Ketika Pencuri pun Malas Mengambil Buku
- account_circle Moecktar Nasution
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak
Oleh: Moechtar Nasution
Forum Lintas Studi Tulila*

Ilustrasi mengembangkan nalar dan keputusan.
Titi Gantung
Pernah mendengar ungkapan lama ini? “Pembaca tidak mencuri, dan pencuri tidak membaca.”
Ada benarnya juga, ya. Kalau kita menengok ke belakang, ada satu tempat legendaris di Kota Medan yang menjadi bukti nyata dari kebenaran kalimat itu: Titi Gantung. Bagi anak Medan, terutama para pemburu buku lawas dan mahasiswa berkantong tipis, jembatan peninggalan Belanda yang berlokasi tepat di sebelah Stasiun Kereta Api ini adalah surga tersembunyi. Sejak dekade 1970-an hingga sebelum direlokasi, lapak-lapak buku loak di sana dibiarkan terhampar terbuka begitu saja. Uniknya, nyaris tidak pernah ada cerita tentang pencurian buku di tempat ini sejak zaman dulu. Para penjualnya bisa dengan sangat santai meninggalkan tumpukan dagangan mereka demi sekadar pergi salat, makan siang, atau mengobrol santai di kedai kopi sebelah.
Mengapa tempat terbuka di atas jembatan penyeberangan yang ramai lalu lalang manusia itu bisa seaman itu dari tangan panjang? Jawabannya bukan karena kawasan sekitar stasiun itu mendadak suci tanpa kriminalitas, atau orangnya sudah alim semua melainkan karena buku menempati posisi yang sangat unik dalam radar hasrat manusia.
Coba pikirkan kembali, barang yang biasanya menjadi incaran utama maling adalah benda-benda dengan nilai tukar instan yang bisa cepat menghasilkan uang tunai: perhiasan emas, ponsel pintar, dompet, atau kendaraan bermotor. Buku itu beda. Nilai sebuah buku baru akan keluar dan menampakkan wujud aslinya kalau kita mau “membayarnya” dengan modal yang jauh lebih mahal daripada nominal yang tertera di label harga sampulnya. Modal itu adalah waktu, perhatian, kesabaran, dan kesediaan untuk berpikir kritis.
Seorang pencuri mungkin bisa mengantongi sebuah buku tebal dalam hitungan detik. Namun, untuk mendapatkan esensi isinya? Dia harus rela duduk diam berjam-jam demi mengeja bab demi bab. Di situlah ironinya; buku adalah barang mewah yang sering kali disalahpahami oleh pasar sebagai barang murah yang tidak mendatangkan keuntungan instan bagi perut yang lapar.
Membeli Kertas vs Membeli Pikiran
Bagi saya pribadi, Titi Gantung bukan sekadar deretan lapak buku bekas biasa. Tempat itu adalah saksi bisu, sekaligus monumen kenangan dari perjuangan hidup saat saya menimba ilmu di Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Unimed dahulu. Sebagai mahasiswa sejarah, buku adalah napas. Di bawah bimbingan Drs. Romanus Sibero, M.Si—Ketua Jurusan Sejarah FIS Unimed yang sangat disegani—kami selalu dituntut untuk melihat masa lalu bukan sekadar deretan angka tahun, melainkan sebagai untaian proses berpikir yang kritis.
Belum lagi kalau masuk kelas Prof. Ester Lubis. Karakter beliau yang terkenal cerewet justru selalu dirindukan dan terasa sangat mengasyikkan. Setiap kali beliau mulai “berkhotbah” dan menceritakan potongan-potongan masa lalunya, ruang kuliah mendadak menjelma menjadi panggung sejarah yang hidup. Cerita-cerita personal beliau bukan sekadar nostalgia, melainkan cara magis untuk menularkan gairah membaca ke dalam kepala kami.
Ingatan akademis saya juga semakin diperkaya oleh keteduhan ilmu dari sang Guru Besar, Prof. Dr. Samsidar Tanjung, M.Pd. dan Prof Dr Bungaran Anthonius Simandjuntak, dua guru besar Sosiologis dan Antropologi serta Mentodologi Penelitian Sejarah disadarkan bahwa ilmu yang kokoh membutuhkan fondasi bacaan yang kokoh pula. Nasihat-nasihat akademis dari beliau selalu menjadi jangkar intelektual yang mengingatkan kami agar tidak menjadi sarjana yang instan.
Untuk memahami kebudayaan dan perubahan sosial, kami harus membaca, membedah struktur teks, dan memahami realitas secara mendalam. Kombinasi para pendidik hebat inilah yang membuat kami memandang buku bukan sebagai beban SKS, melainkan sebagai kebutuhan eksistensial.
Ketika kantong mahasiswa mulai menipis dan tugas dari para dosen menuntut referensi yang mendalam, Titi Gantung adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Berdesakan di antara tumpukan kertas yang mulai menguning, mencium aroma khas kertas tua yang pekat, dan beradu urat leher saat menawar harga dengan abang penjualnya adalah sebuah ritual wajib demi bisa menyelesaikan tugas makalah kuliah.
Pengalaman berburu buku murah di Titi Gantung dulu sebenarnya mengajak kita untuk membedah perbedaan mencolok antara sekadar “memiliki buku” dan “menjadi manusia berpengetahuan”. Buku sebagai benda fisik memang bisa dibeli dengan mudah, ditumpuk rapi, dan dimiliki secara material. Namun, ilmu di dalamnya menolak tunduk pada hukum kepemilikan biasa. Kita bisa saja memborong seribu buku sejarah paling mahal, lalu isi kepala kita tetap saja miskin gagasan. Sebaliknya, saat zaman kuliah dulu, kita bisa saja cuma meminjam satu buku usang dari kawan atau membelinya dengan harga miring hasil menawar di Titi Gantung, tetapi setelah tuntas membacanya, cara pandang kita terhadap dunia langsung berubah total.
Ilmu pengetahuan itu punya hukum alam yang magis dan spiritual. Ketika kita memberikan uang kepada orang lain, jelas isi dompet kita otomatis berkurang. Namun, ketika ilmu dibagikan ke orang lain, pengetahuan kita justru makin berkembang luas, tajam, dan menancap kuat di dalam memori.
Makanya, gedung perpustakaan yang megah atau rak buku kayu jati yang menjulang tinggi, daftar pengunjungnya ratusan perhari tidak otomatis menjadi jaminan bahwa penghuninya adalah manusia yang gemar berpikir. Buku itu cuma benda mati yang terbuat dari serat kayu; sedangkan membaca adalah sebuah tindakan epistemologis yang nyata untuk memahami hakikat kehidupan.
Jebakan Tsundoku dan Panggung Sandiwara
Lucunya, zaman modern sekarang ini malah melahirkan tren baru yang agak menggelitik sekaligus menyedihkan. Kita hari ini mengalami gejala akut yang dalam bahasa Jepang disebut tsundoku—sebuah kebiasaan mengoleksi dan membeli buku baru tetapi cuma ditumpuk hingga berdebu di sudut kamar tanpa pernah dibaca sama sekali. Buku akhirnya mengalami pergeseran fungsi yang drastis, dari yang awalnya alat pencari ilmu menjadi komoditas gaya hidup kelas menengah. Dari sebuah instrumen pengetahuan, ia bertransformasi jadi ornamen identitas intelektual, atau istilah kasarnya: ajang intellectual cosplay.
Di sinilah kita terjebak dalam apa yang dinamakan literasi performatif. Kita membeli buku bukan untuk memperluas cakrawala batin melainkan untuk mempercantik citra luar agar dinilai berkelas di mata publik. Sampul buku yang estetik difoto bersebelahan dengan cangkir kopi kekinian di kafe, ditata sedemikian rupa dengan pencahayaan sinematik untuk kebutuhan konten di platform digital demi merawat estetika feed media sosial.
Setelah foto berhasil diunggah dan mendapat banyak tanda suka, tugas membaca yang melelahkan dan menyita waktu itu diam-diam kita serahkan sepenuhnya kepada algoritma: “Tolong dong, bikinkan rangkuman lima poin saja via AI.” atau sekadar menonton ulasan berdurasi dua menit di video pendek.
Ketika Otak Diambil Alih oleh Algoritma
Teknologi digital memang sangat membantu akses kita terhadap informasi, tetapi sekaligus menjadi sebuah paradoks yang menjebak. Alat yang awalnya diciptakan untuk mempercepat manusia menjangkau pengetahuan, malah kerap digunakan sebagai jalan pintas untuk menghindari proses berpikir itu sendiri. Kita sedang mengalami “Tiktokisasi” cara berpikir: kita selalu ingin menyuap makanan pemikiran yang sudah dikunyah dan dilembutkan oleh orang lain. Padahal, gizi utama dari sebuah buku bukan terletak pada lembar kesimpulan akhirnya, melainkan pada proses panjang penalarannya.
Ketika kita cuma membaca rangkuman instan atau poin-poin singkat dari kecerdasan buatan, kita kehilangan seni menikmati perdebatan batin, keindahan retorika penulis, dan runtutan argumen logis yang sebenarnya bertugas melatih otot-otot otak kita agar tetap kritis. Kita menjadi generasi yang manja secara intelektual, yang menelan bulat-bulat opini orang lain tanpa pernah tahu bagaimana opini tersebut dirumuskan dari awal. Kita mengumpulkan kesimpulan orang lain untuk dijadikan bahan gaya-gayaan.
Sukses Diet Karbo Tapi Obesitas Informasi
Tanpa disadari, hari-hari kita habis untuk aktivitas doom scrolling—menggulir layar ponsel tanpa henti dari pagi hingga malam, memanen hormon dopamin instan dari video-video pendek berdurasi belasan detik. Akibatnya, rentang fokus kita rusak parah. Otak kita langsung memberontak dan merasa jenuh ketika disuruh membaca lembaran buku fisik yang statis, karena teks buku tidak memberikan kejutan visual atau suara berisik setiap tiga detik. Kemampuan deep reading (membaca mendalam) kita pun akhirnya runtuh.
Kita sukses melakukan diet makanan fisik, tetapi justru mengalami obesitas informasi. Kita menimbun jutaan potongan informasi permukaan dari internet setiap hari, tetapi tidak paham satu hal pun secara mendalam. Kita merasa pintar hanya karena tahu banyak hal yang sedang viral di jagat maya, padahal isi kepala kita sebenarnya sedang kelaparan kebijaksanaan dan kering akan substansi.
Dampaknya terasa sangat nyata dalam kehidupan sosial sehari-hari. Kita sering terjebak dalam penyakit FOMO (Fear of Missing Out) terhadap buku-buku yang lagi viral atau masuk daftar terlaris. Kita berbondong-bondong membelinya agar tidak ketinggalan tren obrolan di berbagai lini masa, membacanya terburu-buru, lalu sebulan kemudian mengalami “amnesia isi”.
Kita lupa apa yang kita baca karena kita tidak benar-benar mencerna maknanya, melainkan cuma ingin menggugurkan kewajiban biar dianggap manusia yang mengikuti perkembangan zaman. Kita ingin terlihat pintar tanpa repot-repot belajar. Kita ingin punya opini instan tanpa mau melewati rumitnya argumentasi. Bahkan, parahnya, kita sering ikut berdebat kusir di kolom komentar tentang sebuah buku yang halaman pertamanya saja belum sempat di buka sama sekali.
CCTV hidup namun Alarm Membaca Mati
Melihat realitas sosial yang semakin abai ini, para pedagang buku di Titi Gantung dari dulu tampaknya sudah paham betul psikologi massa. Mereka tidak perlu mengeluarkan uang untuk membeli gembok yang mahal dan rantai yang kuat. Musuh terbesar buku hari ini bukan lagi seorang pencuri yang butuh uang, melainkan ketidakpedulian dan kemalasan dari diri kita sendiri.
Sindirannya terasa makin getir ketika kita rela memasang kamera CCTV mahal demi menjaga agar seisi rumah atau kantor terpantau termasuk didalamnya fisik buku-buku di rak tidak hilang, tetapi kita tidak pernah memasang alarm peringatan saat kebiasaan membaca dalam masyarakat perlahan-lahan lenyap. Kita merawat fisik bukunya dengan sangat baik, tetapi menelantarkan jiwanya hingga mati. Seorang pencuri paling-paling cuma membawa kabur beberapa jilid buku dari rak. Namun, sebuah masyarakat yang kehilangan tradisi membaca bisa kehilangan kemampuan berpikir kritis satu generasi penuh!
Kelak, toko buku mungkin tidak perlu takut kemalingan sama sekali. Bukan karena semua orang sudah menjadi jujur dan saleh, melainkan karena para pencuri pun sudah tahu hukum pasar yang baru: “Tenang, Bos, untuk ap akita mengambil buku itu. Wong yang punya saja belum tentu membacanya, apalagi kita.”
Gagah di Media Sosial Tapi Gagap Saat Diskusi
Lebih jenaka lagi, hari ini banyak orang yang takut setengah mati bukunya dipinjam atau dicuri orang lain, tetapi mereka sama sekali tidak takut kalau isi pikirannya kosong melompong. Buku di rak dikunci rapat-rapat di dalam lemari kaca, diberi stempel nama kepemilikan yang besar, bahkan buku langka dibungkus plastik bening berlapis-lapis seolah itu adalah jimat purbakala. Tapi anehnya, begitu orang tersebut diajak berdiskusi serius mengenai isi dan substansi bukunya, mendadak semua halaman yang dia miliki terasa seperti wilayah asing yang belum pernah dijamah sama sekali.
Ada juga tipe manusia yang suka mengutip nama-nama filsuf besar dunia demi menaikkan status sosial dan wibawa di jagat maya, lalu mereka langsung tersinggung dan marah-marah saat argumennya diuji di dunia nyata. Seolah-olah dengan mencantumkan nama tokoh-tokoh genius seperti Plato, al-Ghazali, Immanuel Kant, atau Michel Foucault diInstagram, otomatis tingkat kecerdasan isi kepala kita ikut naik level menjadi filosofis. Padahal, nama-nama besar itu hanyalah tameng rapuh untuk menyembunyikan kedangkalan berpikir kita yang malas belajar.
Berdebu Itu Lebih Seram daripada Hilang
Ada satu pepatah Arab kuno bernada satir yang sangat terkenal di kalangan para pencinta buku: “Hanya orang bodoh yang mau meminjamkan bukunya. Dan hanya orang gila yang mau mengembalikan buku yang sudah dia pinjam.”
Ungkapan ini terdengar lucu, tapi jika direnungkan secara mendalam, ia membawa kita pada satu ironi besar kehidupan. Di satu sisi, si pemilik buku dianggap “bodoh” karena rela melepas sebuah benda berharga yang nilai isinya belum tentu bisa dinilai dengan uang. Di sisi lain, si peminjam dianggap “gila” kalau sampai mengembalikannya, karena dia tahu betapa mahalnya petualangan batin yang dia dapatkan dari halaman-halaman tersebut sampai-sampai rasanya berat untuk berpisah.
Namun, mari kita bandingkan kegilaan masa lalu itu dengan realitas hari ini. Dulu, orang sampai enggan mengembalikan buku karena mereka benar-benar mabuk oleh isinya. Sekarang? Jangankan meminjamkan bahkan seorang pencuri sajapun enggan mengambil buku yang jelas-jelas bukan miliknya, sedangkan orang yang malas membaca membiarkan pengetahuan berharga yang seharusnya sudah sah menjadi miliknya, tetap dibiarkan menjadi milik orang lain atau terkunci selamanya di dalam kepala sang penulis.
Jadi, kenangan tentang lapak Titi Gantung yang aman tanpa gembok mengajarkan kita satu hal berharga. Jangan terlalu cemas atau menangis histeris kalau ada satu atau dua buku yang hilang dari rak bukumu—entah karena dicuri takdir, atau karena dipinjam kawan kuliah dulu yang menganut prinsip “orang gila” yang ogah mengembalikan pinjamannya.
Khawatirlah kalau deretan buku-buku itu tetap utuh, rapi, manis, berselimut debu tebal, dan berdiri di tempat yang persis sama selama bertahun-tahun tanpa pernah bergeser satu sentimeter pun. Karena kalau itu sampai terjadi, yang hilang sebenarnya bukan bukunya, melainkan rasa ingin tahu dan gairah belajar di dalam diri kita yang sudah mati perlahan-lahan.
Wallohu Aqlam Bisshawab…
* Forum Lingkar Studi Tulila adalah Lembaga nirlaba tempat eksperimen berpikir dan ruang diskusi terbuka—sebuah ikhtiar kecil untuk menjadi kurator nalar dan peradaban di tanah kelahiran.
- Penulis: Moecktar Nasution




