Jumat, 24 Jul 2026
light_mode

Bukan Orang Tua Sempurna, Tapi Orang Tua yang Hadir

  • account_circle Erna Dewi
  • calendar_month 1 menit yang lalu
  • print Cetak

 

Oleh: Erna Dewi

 

Kita hidup di zaman yang menuntut kesempurnaan, di media sosial seperti Instagram, sering kita lihat ibu yang bisa masak 5 menu, sambil nemenin anak les piano. Di TikTok, ada ayah yang rajin bikin konten edukasi sambil gendong bayi. Lalu kita, orang tua biasa, jadi merasa gagal. “Kok aku masih suka marah?”, “Kok aku belum bisa konsisten?”, “Kok aku sering capek?”. Padahal mungkin anak kita tidak butuh orang tua sempurna. Yang anak butuh adalah orang tua yang hadir.

Media sosial hari ini penuh dengan standar “orang tua ideal”. Ibu yang bisa masak, kerja, dan mengantar les tanpa terlihat lelah. Ayah yang selalu punya waktu main bola tiap sore. Melihat itu, banyak orang tua merasa gagal karena sering marah, sering capek, dan tidak selalu sabar. Padahal, anak tidak butuh orang tua sempurna. Yang anak butuh adalah orang tua yang hadir.

Kehadiran bukan soal berapa jam kita di rumah. Ada orang tua yang 24 jam di rumah tapi sibuk dengan handphone. Ada juga orang tua yang sibuk kerja tapi 20 menit sebelum tidur selalu menyempatkan mendengarkan cerita anak. Anak punya rasa peka, dia tahu mana orang tua yang benar-benar “ada” untuknya.

Kehadiran tidak diukur dari durasi. 15 menit benar-benar fokus tanpa HP lebih bermakna daripada 3 jam satu rumah tapi semua sibuk dengan layar masing-masing. Anak tahu kapan kita “ada badan tapi pikiran melayang”. Dan dia juga tahu kapan kita benar-benar menatap matanya saat dia bercerita.

Tantangan terbesar kita saat ini adalah godaan perfeksionisme dan tidak bisa “konsistensi hadir” di tengah hidup yang sibuk. “Hadir” di era digital artinya berani menahan ego, matiin HP dan milih dengerin anak walau cuma 20 menit. Hadir secara fisik seperti makan malam tanpa TV, menatap mata saat anak bicara, jalan sore tanpa earphone atau sekadar duduk  ikut mewarnai bersama anak. Hadir secara emosi seperti saat anak marah, kita tidak langsung menghakimi, kita tanya “kamu kenapa nak?” dan hadir secara jujur, yakni kita akui kalau kita juga capek, kita juga salah, kita minta maaf ke anak. Itu pelajaran paling mahal tentang kerendahan hati.

Tidak ada buku panduan jadi orang tua. Tidak ada tutorial jadi ibu/ayah yang 100% benar. Kita semua sedang belajar sambil jalan. Jadi berhentilah membandingkan diri dengan “orang tua di internet”. Anak tidak butuh kita menjadi superhero. Dia butuh kita jadi rumahnya, tempat pulang saat dunia luar terlalu bising.

Bukan orang tua sempurna yang diingat anak sampai dewasa. Tapi orang tua yang dulu pernah ikut mewarnai, mendengarkan ceritanya yang panjang lebar, dan bilang “cerita lagi dong”. Karena pada akhirnya, kehadiran adalah bahasa cinta paling sederhana. Dan bahasa itu yang paling diingat anak sepanjang hidupnya.

Psikolog anak, Dr. Ross Greene, pernah berkata: “Kids do well if they can”. Anak berperilaku baik jika dia merasa aman dan dimengerti. Rasa aman itu lahir dari kehadiran, bukan dari kesempurnaan.

Kita semua sedang belajar menjadi orang tua. Akan ada hari kita gagal, akan ada hari kita membentak. Tapi anak akan memaafkan, selama dia tahu rumah adalah tempat paling aman untuk pulang. Jadi, berhentilah mengejar kesempurnaan tapi kejarlah kehadiran. Karena yang diingat anak 20 tahun dari sekarang bukan mainan mahal yang kita belikan, tapi pelukan saat dia gagal, dan tawa saat bermain bersama.

Kita sering mendengar: “Ibu adalah madrasah pertama”. Benar, tapi kita lupa melanjutkannya: “…dan Ayah adalah temboknya.” Membesarkan anak bukan tugas satu orang. Anak hebat lahir dari kolaborasi Ibu dan Ayah. Ibu adalah tempat pertama anak belajar tentang cinta. Dari pelukan ibu, anak belajar bahwa dunia aman. Dari suara ibu, anak belajar bahwa ia berharga. Tapi ibu juga manusia. Ibu yang lelah, stres, dan tidak pernah diapresiasi akan sulit memberi energi positif. Jadi, membahagiakan ibu bukan soal memanjakan. Cukup dengan: “Ma, terima kasih ya” atau “Nanti biar Ayah yang cuci piring”. Karena Ibu yang bahagia akan melahirkan rumah yang hangat.

Dulu ayah sering dianggap pencari nafkah saja, padahal anak butuh ayah untuk hal lain. Anak butuh ayah yang bermain, yang mendengarkan, yang jadi contoh bagaimana memperlakukan perempuan dengan hormat. Ayah yang hadir mengajari anak laki-laki tentang tanggung jawab, mengajari anak perempuan tentang standar cinta yang benar. Kehadiran ayah membuat anak punya rasa aman dan percaya diri saat menghadapi dunia luar.

Anak tidak butuh Ibu dan Ayah yang sempurna. Anak butuh melihat Ibu dan Ayah yang saling mendukung, saling menghargai, bahkan saat bertengkar pun tetap saling memaafkan. Anak belajar tentang pernikahan bukan dari buku, tapi dari cara Ibu Ayah berbicara satu sama lain di meja makan.

Di era sekarang, jangan sampai kita berlomba jadi “Ibu Hebat” atau “Ayah Keren” versi media sosial, tapi lupa jadi tim di rumah sendiri. Karena rumusnya sederhana: Anak yang tumbuh dengan Ibu yang bahagia + Ayah yang hadir = Anak yang kuat secara mental dan emosional.

Jadi, berhentilah mengejar gelar “orang tua sempurna”. Tidak ada di dunia ini yang sempurna, yang ada adalah orang tua yang mau belajar, mau minta maaf saat salah, dan mau duduk di lantai hanya untuk mendengarkan cerita panjang anaknya. Karena anak tidak akan ingat seberapa rapi rumah kita. Anak tidak akan ingat berapa banyak les yang kita daftarkan.  Yang ia ingat adalah: dulu saat ia jatuh, siapa yang pertama memeluknya. Saat ia takut, siapa yang bilang “tidak apa-apa, ada Ayah dan Ibu di sini”.

Membesarkan anak bukan lomba, bukan tentang siapa yang paling hebat jadi Ibu, atau siapa yang paling sukses jadi Ayah. Membesarkan anak adalah tentang tim, tentang Ibu yang dijaga kebahagiaannya, tentang Ayah yang tidak absen secara emosi, tentang rumah yang jadi tempat paling aman untuk pulang. Karena anak hebat tidak lahir dari rumah yang sempurna, anak hebat lahir dari rumah yang penuh cinta. ***

  • Penulis: Erna Dewi
  • Editor: Dahlan Batubara

Rekomendasi Untuk Anda

  • Didemo Ibu-ibu, Zainuddin Mars Lari dari Pintu Belakang

    Didemo Ibu-ibu, Zainuddin Mars Lari dari Pintu Belakang

    • calendar_month Sabtu, 28 Mei 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    DPRD Janji Bentuk Pansus InvesTigasi Dugaan Korupsi Amri Tambunan LUBUK PAKAM- Ratusan massa yang tergabung dalam Barisan Rakyat Anti Korupsi melakukan aksi unjuk rasa di depan gerbang kantor DPRD Deli Serdang, Kamis (26/5) pukul 11.30 WIB. Massa mendesak anggota DPRD menggunakan hak politiknya mempercepat pengungkapan kasus dugaan korupsi Bupati Deliserdang Amri Tambunan serta wakilnya Zainuddin […]

  • BNPB : Setidaknya 60 Rumah Rusak Ringan Akibat Gempa Sidimpuan

    BNPB : Setidaknya 60 Rumah Rusak Ringan Akibat Gempa Sidimpuan

    • calendar_month Sabtu, 15 Jul 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      JAKARTA (Mandailing Online) – Berdasar data sementara BNPB, setidaknya 60 rumah warga rusak ringan akibat gempa 5,5 SR yang mengguncang Sidimpuan dan sekitarnya, Sumatera Utara, Jum’at (14/7/2017). “Jumlah keseluruhan rumah yang rusak akibat bencana gempa pagi tadi ada 60 unit. Ke-60 unit rumah ini tersebar di Kota Padangsidempuan dan Tapanuli Selatan,” kata Kepala Pusat […]

  • Mandailing Indonesia Setuju Iktiraf Tortor Mandailing dan Gordang Sambilan

    Mandailing Indonesia Setuju Iktiraf Tortor Mandailing dan Gordang Sambilan

    • calendar_month Rabu, 11 Jul 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan (MO) – Etnis Mandailing di tanah leluhur, Sumatera Utara, Indonesia menyetujui perjuangan etnis Mandailing di Malaysia dalam pengajuan iktiraf Tortor Mandailing dan Gordang Sambilan sebagai warisan kesenian Etnis Mandailing untuk disetarakan dengan kesenian etnis lain di Malaysia. Persetujuan itu muncul dalam pertemuan antara pengurus Persatuan Halak Mandailing Malaysia (PHMM) dengan beberapa unsur, di Sopo […]

  • Dinasti dan Aji Mumpung Politik Demokrasi Kapitalis

    Dinasti dan Aji Mumpung Politik Demokrasi Kapitalis

    • calendar_month Kamis, 23 Jul 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh : Nahdoh Fikriyyah Islam Dosen dan Pengamat Politik Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDI Perjuangan akhirnya angkat bicara soal pemberian “tiket” kepada putra sulung Presiden Joko Widodo (Jokowi) Gibran Rakabuming Raka di Pemilihan Walikota (Pilwalkot) Solo yang disebut-sebut bagian dari dinasti politik. Pencalonan Gibran telah melalui proses politik elektoral sejak di internal PDI Perjuangan dan […]

  • Sebanyak 125 Kepala Sekolah dan Guru Dilantik

    Sebanyak 125 Kepala Sekolah dan Guru Dilantik

    • calendar_month Kamis, 26 Mar 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Sebanyak 125 kepala sekolah dan guru, mulai dari tingkat SLTA hingga SD, dilantik oleh Sekda Mandailing Natal (Madina) Yusuf Nasution, Kamis (26/3) di gedung serba guna, Panyabungan. Pengambilan sumpah jabatan itu dihadiri oleh Kepala Dinas Pendidikan Madina Sahnan Pasaribu, Kepala BKD Madina, Meinul dan para pejabat di Pemkab Madina. Pelantikan […]

  • Terkait Tingginya Harga Mitan

    Terkait Tingginya Harga Mitan

    • calendar_month Senin, 3 Jan 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Dinilai Tak Maksimal Awasi MADINA- Tingginya harga minyak tanah (mitan) di sejumlah kecamatan di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) sejak sebulan lalu hingga saat ini dikecam Ketua Komisi II DPRD Madina, Ir H Alimakmur. Dia menuding Pemkab tidak maksimal mengawasi harga jual, sehingga harga mitan di sejumlah pedagang mencapai Rp9.000-Rp10.000 per liter. Ir H Alimakmur kepada […]

expand_less