Sabtu, 15 Agu 2026
light_mode

Menelusur Tiga Kampung Berbahasa Mandailing di Negeri Sembilan, Malaysia

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 7 Apr 2016
  • print Cetak
Kampung Tambahtin

Kampung Tambahtin

Catatan : Dahlan Batubara
Pemimpin Redaksi Mandailing Online

 

Kawasan itu serupa dengan kawasan Kotanopan dan Ulu Pungkut, berbukit dan sedikit memiliki hamparan lembah maupun hamparan landai. Namanya Kampung Kerangai di Jelebu, Negeri Sembilan, Malaysia. Sebuah perkampungan kaum Mandailing yang berbahasa Mandailing.

Misalnya anda orang Mandailing dari Indonesia datang ke kampung ini, jangan berbahasa Melayu atau berbahasa Indonesia, sebab seluruh penduduknya berbahasa Mandailing, dari anak-anak hingga yang tua.

Saya tiba di Kampung Kerangai ini pada hari Sabtu 12 Maret 2016. Sebelumnya, ketika saya ke Malaysia pada November 2015 saya sudah merencanakan mendatangi perkampungan itu, hanya saja ketika itu saya tak memiliki banyak waktu sehingga baru pada Maret 2016 saya memiliki rezeki waktu untuk memasuki perkampungan tersebut.

Salah satu rumah kaum Mandailing di Kerangai

Salah satu rumah kaum Mandailing di Kerangai

Saya dan rombongan terdiri dari Ramli Bin Abdul Karim Hasibuan (pria kelahiran Kampung Kerangai yang kini tinggal di Nilai, Negeri Sembilan yang berprofesi redaktur di surat kabar Utusan Malaysia; kemudian Bayo Hasibuan dan istrinya (warga Palembang perantau asal Padang Lawas).

Di (provinsi) Negeri Sembilan, ada tiga perkampungan yang berbahasa Mandailing, yakni Kampung Kerangai dan Kampung Tambahtin, kedua-duanya di Daerah (kabupaten) Jelebu dan Kampung Baru Lanjut Manis di Daerah Kuala Pilah.

Kaum Mandailing di tiga kampung ini masih mengetahui letak kampung leluhurnya di Tano Mandailing, Sumatera. Berbeda dengan perkampungan kaum Mandailing lainnya di Malaysia yang mayoritas sudah tak tahu letak kampung leluhurnya di tanah Mandailing.

 

KAMPUNG KERANGAI

Mencapai perkampungan ini membutuhkan waktu tempuh sekira 1,5 jam dari Kuala Lumpur, atau sekira 0,5 jam dari Seremban, ibukota Negeri Sembilan.

Jalan menuju perkampungan ini dari Seremban penuh dengan kelokan karena melalui berbagai bentangan perbukitan. Tetapi jangan dibayangkan seperti kondisi jalan menuju Kotanopan dari Panyabungan di Sumatera Utara yang membuat pinggang sakit, sebab jalanan di Negeri Sembilan lebar-lebar dan aspal yang mulus sebagaimana jalanan di negeri-negeri lain di negera Malayasia.

Jalan Batubara di Kampung Kerangai

Jalan Batubara di Kampung Kerangai

Sesampai di Kerangai, saya mendapatkan nama-nama jalan yang diambil dari marga suku Mandailing seperti Jalan Batubara, Jalan Nasution, Jalan Harahap, Jalan Hasibuan, Jalan Pene. Kepala desa-nya bermarga Nasution , masih muda sekitar umur 35 tahun.

Semua orang yang saya temui berbahasa Mandailing. Termasuk ketika saya memasuki satu lopo kopi, mulai dari pengunjung hingga pemilik lopo berbahasa Mandailing. Logat atau langgam bicara mereka sama dengan langgam di Mandailing Godang (Panyabungan hingga Siabu) di Sumatera Utara, Indonesia.

Rumah-rumah di Kampung Kerangai ini mayoritas rumah semen, sebagian masih melestarikan jenis rumah panggung. Pemukiman itu dikelilingi kebun karet, kebun duku, durian, rambutan dan lain-lain.

Ada tiga kelompok lokasi pemukiman, satu kelompok pemukiman berada di sepanjang jalan besar, dua kelompok pemukiman lainnya masuk ke dalam sekitar 300 meter dari jalan besar. Semua kelompok pemukiman sama-sama berbahasa Mandaling, karena tidak ada kaum Melayu yang berdomisili di kampung ini.

Jalan Nasution di Kampung Kerangai

Jalan Nasution di Kampung Kerangai

Kampung Kerangai ini juga tak berbatas langsung dengan kampung lain yang berbahasa melayu, dipisah hamparan kebun memanjang berratus meter.

“Pangomoan nami ison mangguris, adong deba markobun sawit,” kata Karim Hasibuan ketika saya bertamu ke rumahnya.

Tetapi menurutnya, generasi baru sekarang mayoritas sudah bekerja di sektor industri, perdagangan dan jasa, sehingga kebanyakan kebun karet harus “diguris” oleh TKI (Tenaga Kerja Indonesia).

Uniknya TKI yang “mangguris” di sini adalah TKI dari tanah Mandailing, Sumatera, hanya ada satu dua TKI dari Jawa. Dampak kemakmuran ekonomi itu juga ditandai dengan jenis kenderaan penduduk di kampung itu, setiap rumah selalu memiliki mobil.

 

KAMPUNG TAMBAHTIN

Kampung Tambahtin ini tak jauh dari Kampung Kerangai. Kampung Tambahtin berada di Pertang yang masih kawasan Jelebu.  Di sini, pemukiman orang Mandailing bertetangga dengan pemukiman kaum Cina. Makanya ada dua bahasa di sini : bahasa Mandailing dan Bahasa Cina.

Ketika saya membeli rokok di salah satu kedai (warung sembako) di pemukiman Cina itu mereka  berbahasa China dialek Hokkian serupa dengan bahasa orang Tionghoa yang di Medan, Sumtaera Utara.

Lalu, ketika saya berjalan memasuki pemukiman kaum Mandailing, maka bahasanya bahasa Mandailing berlanggam Mandailing Godang.

Apabila kaum Cina dan kaum Mandailing bertemu, maka yang dipakai adalah bahasa Melayu.

Mandailing Online (kaos hijau) bersama kaum Mandailing di satu lopo Kampung Kerangai

Mandailing Online (kaos hijau) bersama kaum Mandailing di satu lopo Kampung Kerangai

Kaum Mandailing yang berada di Kampung Tambahtin ini memiliki sejarah dan hubungan persaudaraan dengan penduduk di Kampung Kerangai dan Kampung Baru Lanjut Manis.  Sehingga jika ada “siriaon” maupun “siluluton” di Tambahtin maka akan diutus “naipas langka” menuju Kampung Kerangai dan Kampung Baru Lanjut Manis, demikian juga sebaliknya.

Saya sempat bertamu ke salah satu rumah milik Maznah Hasibuan. “Oi baya, pado itelefon ko gari au nangkin dompak so ro tu son, kan madung marmasak au sugari sigop,” katanya dengan langgam Mandailing Godang. Kami memang tak bisa berlama-lama di Tambahtin karena harus melanjutkan perjalanan ke Kampung Baru Lanjut Manis.

Menurut Maznah, semua penduduk di pemukiman itu berbahasa Mandailing dalam percakapan sehari-hari, yang turun temurun hingga kepada generasi sekarang.

 

KAMPUNG BARU LANJUT MANIS

Kampung Baru Lanjut Manis berada di Mukim (kecamatan) Terachi, Kuala Pilah. Agak jauh dari Kerangai, yaitu 67 kilometer dan 62 kilometer dari Tambahtin. Sekitar 35 menit perjalanan mobil dari Kerangai.

Pemukiman kaum Mandailing di kampung ini bertetangga tak berbatas dengan pemukiman kaum berbahasa Melayu. Otomatis di kampung ini juga ada dua bahasa : Mandailing dan Melayu.

Kaum Mandailing di kampung ini sebagian sudah ada yang berbahasa Melayu sebagai bahasa sehari-hari, berbeda dengan kaum Mandailing di Tambahtin dan Kerangai yang seratus persen berbahasa Mandailing.  Pergaulan antara yang berbahasa Mandailing dengan kaum yang berbahasa Melayu serta perkawinan antar yang beda suku menjadi salah satu penyebabnya.

 

MARKOBAR

Meski masih berbahasa Mandailing, kaum Mandailing di kawasan ini tak lagi menjalani tradisi “markobar” secara betahap sebagaimana tahapan-tahapan “markobar” di tanah leluhur Mandailing. “Markobar” di acara “siriaon” maupun “siluluton” tetap dilakukan, hanya saja tak lagi memiliki tahapan bergantian dari “kahanggi”, “anakboru” dan “mora”.

Esensi ketiga pilar itu tak lagi terlalu mempengaruhi sistem sosial kaum Mandailing di sana. Sehingga peran dan fungsi  “kahanggi”, “anakboru” dan “mora” tak lagi menjadi unsur-unsur penting dalam pelaksanaan “horja” pernikahan maupun dalam “siluluton”.

Tak diketahui secara pasti sejak kapan perubahan pola markobar itu terjadi serta faktor-faktor penyebabnya.

 

JEJAK SEJARAH

Berdasar keterangan yang saya catat dari kaum Mandailing di tiga kampung itu, kaum Mandailing di Kampung Kerangai, Tambahtin dan Kampung Baru Lanjut Manis memiliki sejarah yang sama serta sebagian dari mereka memiliki hubungan kekerabatan.

Kaum Mandailing yang bermukim di tiga kampung itu dulunya berasal dari kawasan Negeri Perak yang berimigrasi ke kawasan Negeri Sembilan pada era penghujung 1800-an. Migrasi itu erat kaitannya dengan kenyamanan beribadah serta pelestarian ajaran Tuan Nadua yakni Tuan Natobang dan Tuan Naposo.

Salah satu model rumah di Kampung Baru Lanjut Manis

Salah satu model rumah di Kampung Baru Lanjut Manis

Kawasan pertama sebagai tujuan migrasi adalah Kerangai. Perpindahan selanjutnya juga terjadi di awal 1900-an (?), yakni dari Kerangai ke Tambahtin, lalu dari Tambahtin menuju Lanjut Manis. Kemudian kembali lagi ke Kerangai. Tak semua penduduk ikut pindah dalam rentang etape perpindahan itu. Sebagian ada yang memilih menetap di Tambahtin, sebagian menetap di Lanjut Manis. Itulah sebab lahirnya 3 kampung itu.

Selain di tiga kampung Mandailing ini, kaum Mandailing juga ada yang berdomisili di kampung lain di kawasan Jelebu itu, seperti perkampungan Felcra Belia Lakai. Hanya saja kampung-kampung itu sudah bercampur penduduknya dengan kaum Melayu, sehingga tak bisa dikatakan sebagai kampung Mandailing. Meski begitu, orang Mandailing yang tinggal di kampung campuran masih bisa berbahasa Mandailing karena hubungan silaturrahim masih terus dilakukan, baik dalam acara “siriaon”, “siluluton” maupun pergaulan lainnya.

Ajaran Tuan Natobang dan Tuan Naposo itu juga yang diduga menjadi faktor lestarinya bahasa Mandailing di kalangan penduduk tiga kampung tersebut. Sebab, dalam ajaran kaji diri sebagai salah satu tahapan dasar, dilafazkan dalam bahasa Mandailing.

Ajaran Tuan Nadua itu juga ada di kawasan Siabu, Mandailing Natal, Sumatera Utara, yakni di kawasan Huta Raja hingga Sihepeng sebagai kampung kelahiran Tuan Naposo yang bermigrasi ke tanah Semenanjung pada era 1800-an atas panggilan Tuan Natobang dari tanah Semenanjung.

Secara umum, kaum Mandailing yang bermukim di tiga kampung itu berasal dari berbagai kawasan tanah leluhur : mulai dari Mandailing Julu, Mandailing Godang higga Mandailing Angkola yang bermigrasi pada era 1800-an ke kawasan Perak sebelum berpindah ke kawasan Negeri Sembilan.

“Halak di son asalna adong na tingon Kotanopan, Panyabungan, Siabu sampe tu Padang Lawas. Sudena koumta na i tolu kampung on leng marsibinoto tano leluhur. Tai kampung-kampung halak hita na asing di Malaysia on, madung bahat naso mamboto ijia hutana i tano leluhur,” kata Ramli Bin Abdul Karim Hasibuan.

Pada program “Mulak Tu Huta 1”, yakni kunjungan silaturrahim kaum Mandailing Malaysia ke tanah leluhur yang diselenggarakan Persatuan Halak Mandailing Malaysia (PHMM) tahun 2012 lalu, banyak peserta yang berasal dari tiga kampung ini. Begitu juga program “Mulak Tu Huta 2” tahun  2013 yang diselenggarakan Ikatan Mandailing Malaysia Indonesia (IMAMI) serta program tahun 2014 dan tahun 2015.

Bagi kaum Mandailing lainnya yang tak mengatahui letak kampung leluhurnya, hanya dibawa keliling melihat-lihat tanah leluhur serta menginap di hotel di Panyabungan dan Sidempuan, serta menyaksikan pertunjukan Gordang Sambilan di Pidoli Lombang, sebab mereka tak tahu harus kemana, karena mereka tak tahu di mana dan apa nama desa kelahiran nenek moyang mereka di tanah leluhur.

Dan, sebenarnya keluarga keturunan leluhur mereka masih ada di Mandailing Natal atau di Tapanuli Selatan atau di Sidimpuan atau di Palas atau di Paluta, tetapi di mana desa-nya belum diketahui. Oleh karena itu, diperlukan satu lembaga yang dibentuk pemerintah-pemerintah daerah di kawasan Mandailing Raya bekerjasama dengan lembaga Mandailing Malaysia untuk bekerja menelusurinya, agar perpisahan keluarga yang sudah berratus tahun dapat kembali dipertemukan. Padomu na marigat, palagut na marserak. ***

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Penilaian tahap II Lomba Inovasi daerah tahun 2023

    Penilaian tahap II Lomba Inovasi daerah tahun 2023

    • calendar_month Sabtu, 28 Okt 2023
    • account_circle webmaster
    • 0Komentar

    Panyabungan (Mandailing Online) Bertempat Di Aula Bapperida Pada Jumat 27/10 Kelanjutan Dari Lomba Inovasi Daerah yakni tahap Penilaian 2 yang memilih 10 Inovasi Daerah Kabupaten Mandailing Natal. Peserta Inovasi daerah yang lolos Tahap 2 Yaitu Simasgara dari BKD, Baginda Madina dari Bapperida, Melayani dengan Sijeges dari RSUD Panyabungan. Bersiap Matoga Dari Puskesmas Longat, Saru Satahi […]

  • Tujuh Tuntutan Rakyat Penambang

    Tujuh Tuntutan Rakyat Penambang

    • calendar_month Kamis, 12 Des 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

        PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Terdapat 7 poin tuntutan rakyat penambang emas kepada DPRD dan Pemkab Mandailing Natal (Madina). Ketujuh tuntutan itu tertuang dalam surat pernyataan yang diorasikan di halaman DPRD Madina dalam aksi unjukrasa melibatkan sekitar 5.000 orang, Kamis (12/12/2019). Poin-poin tuntutan diantaranya : Pertama : Meminta DPRD Madina untuk segera membentuk Panitia […]

  • Kemiri dari Pastap Julu

    Kemiri dari Pastap Julu

    • calendar_month Selasa, 2 Agt 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Dua orang memindahkan goni berisi biji kemiri ke atas mobil di Desa Pastap Julu, beberapa waktu lalu. Desa Pastap Julu, Kecamatan Tambangan, Mandailing Natal, Sumut merupakan desa penghasil kemiri dan hasil kebun lainnya. Desa ini berada di ujung selatan barat daya Kecamatan Tambangan. Berbatas langsung dengan hutan. Pohon kemiri menyebar di beberapa titik perbukitan […]

  • Pasaman Barat Akan Jadi Sentra Produksi Ikan Laut

    Pasaman Barat Akan Jadi Sentra Produksi Ikan Laut

    • calendar_month Minggu, 29 Jan 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIMPANG AMPEK : Pasaman Barat, satu wilayah berada di kawasan pantai barat Sumatera Barat memiliki potensi besar bidang perikanan, dan optimis punya prospek cerah untuk dikembangkan menjadi sentra produksi ikan laut terbesar di provinsi itu. Bupati Pasaman Barat Baharuddin di Simpang Ampek berjarak 200 km dari Kota Padang, mengatakan, ada lima kecamatan berada di kawasan […]

  • Tambang Emas Ilegal, 7 Orang Operator dan 1 Unit Alat Berat Diamankan Polisi

    Tambang Emas Ilegal, 7 Orang Operator dan 1 Unit Alat Berat Diamankan Polisi

    • calendar_month Selasa, 28 Mei 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) –  sebanyak 7 orang operator alat berat tambang emas ilegal di Desa Aek Kapesong, Kecamatan Kota Nopan, Mandailing Natal ( Madina )  diamankan petugas Kepolisian dari Polres Madina. Mereka diamankan petugas saat mengoperasikan alar berat di aliran sungai batang gadis. Dengan tangan di ikat tali, operator alat berat itu di giring petugas. […]

  • Warga Rantonatas Masih Takut ke Kebun

    Warga Rantonatas Masih Takut ke Kebun

    • calendar_month Kamis, 18 Feb 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN  TIMUR (Mandailing Online) –  Penduduk Rantonatas Kecamatan Panyabungan Timur masih takut ke kebun pasca bentrokan dengan warga Pardomuan. Meski Polres Mandailing Natal sudah menempatkan personilnya siang malam di Desa Rantonatas, tetapi hingga Kamis (18/2) ketakutan berada di kebun masih mendominasi penduduk. Warga Desa Rantonatas bentrok dengan warga Desa Pardomuan pada Jum’at (12/2) lalu menyebabkan […]

expand_less