Sabtu, 29 Agu 2026
light_mode

Dilema Gen-Z, Buah Simalakama Kehidupan Sekuler Yang Membuat Frustasi

  • account_circle Dewi Sofiariani
  • calendar_month 1 menit yang lalu
  • print Cetak

Oleh: Dewi Soviariani
Ibu Dan Pemerhati Umat

Gen-Z, dari kalangan remaja abad ini hidup penuh problematik. Tekanan demi tekanan dalam kehidupan yang kapitalistik menjadikan para Gen-Z kehilangan arah dan tujuan hidup yang jelas. Berbagai persoalan menghampiri dunia Gen-Z, tak sedikit dari mereka terancam oleh suramnya masa depan yang terus menghantui.

Tekanan hidup menyerang dari semua lini. Sosial media turut memperparah dengan memicu gaya hidup FOMO (Fear Of Missing Out). Berdasarkan riset Deloitte tahun 2025, sekitar 48% Gen Z merasa tidak aman secara finansial. Himpitan ekonomi dari berbagai arah, ditambah upah yang pas-pasan membuat mereka terjebak dalam tekanan finansial sistemik.

Namun demikian, di tengah tekanan ekonomi, alokasi belanja Gen Z untuk self-reward, healing, dan gaya hidup justru terus meningkat karena dianggap kebutuhan emosional, bukan sekadar kemewahan. Mereka menjadikan self-reward sebagai bentuk ekspresi atas kerja keras dan healing dari berbagai tekanan hidup. Tak heran jika self-reward mendapat anggaran tersendiri yang dikhususkan.

Fenomena yang terjadi telah memperlihatkan bagaimana kehidupan Kapitalisme merusak generasi. Kesenjangan ekonomi menjadi pemicu besar Gen-Z tidak mampu memiliki kemandirian finansial dan terus dihantui suramnya arah masa depan mereka.

Secara global, kehidupan Kapitalisme telah merenggut kesejahteraan ekonomi masyarakat. Kekayaan hanya dinikmati oleh segelintir orang yang berkuasa dan memiliki modal yang kuat. Monopoli ekonomi membuat generasi kehilangan hak untuk sejahtera secara finansial. Sungguh ironis, padahal Gen-Z hidup di negeri yang begitu kaya dengan sumber daya alam yang melimpah. Emas, baru bara, nikel, gas, dan jenis-jenis SDA lainnya hanya dieksploitasi untuk kepentingan para oligarki.

Hal ini diperparah dengan abainya negara dalam menjamin kebutuhan dasar masyarakat. Di mana biaya hidup terus naik sementara gaji stagnan. Gen-Z dibiarkan berjuang sendiri dan diserang oleh berbagai tekanan. Negara hanya berperan sebagai regulator perpanjangan tangan para pemilik modal, bukan pelindung bagi generasi.

Upah minimum menunjukkan disparitas yang cukup lebar—sekitar Rp 5,4 juta di Jakarta dan Rp 2,1 juta di Jawa Tengah—namun angka ini kian kehilangan relevansinya terhadap biaya hidup riil. Di kota besar seperti Jakarta, kebutuhan dasar individu sudah mendekati Rp 7 juta per bulan, bahkan sebelum menyentuh komponen biaya tempat tinggal. Dalam kondisi ini, kemandirian finansial penuh pada tahap awal karier menjadi anomali statistik. Ruang antara pendapatan dan kebutuhan primer sudah terlalu sempit, menyebabkan disposable income atau pendapatan yang bisa ditabung berada pada titik nadir. (Kompas.com 3/5/2026).

Inilah realitas yang harus dihadapi Gen-Z. Ketidakhadiran negara menyebabkan keterpurukan mereka semakin parah. Gen-Z dilanda kecemasan kolektif untuk menemukan arah masa depannya, kehidupan kapitalistik telah menjerumuskan mereka kedalam jurang kesengsaraan.

Dan di tengah kondisi psikologis yang rapuh, Gen-Z juga terkepung dalam algoritma sosial media yang dipenuhi dengan konten gaya hidup hedonis. Kemudahan akses menggunakan uang digital turut andil memperparah kondisi. Tak heran, sebagian mereka terjebak dalam kehidupan FOMO yaitu kebutuhan akan pengakuan sosial, rasa takut tertinggal. Akibatnya, mereka memberi ruang tersendiri untuk budget menikmati hasil kerja keras berupa self-reward.

Adapun bentuk self-reward yang dipilih cenderung sebatas pelarian dari rasa frustasi yang mendera. Healing yang tak tepat sasaran justru malah membuat mereka menjadi konsumtif dalam membelanjakan harta. Dan tak sedikit yang terjebak pay later atau pinjol demi memenuhi gaya hidup hedonis tersebut. Bak buah simalakama Gen-Z menjadi korban kehidupan sekuler yang kapitalistik.

Lantas, bagaimana caranya kita menyelamatkan Gen-Z dari keterpurukan ini? Sebagai bangsa yang besar jumlah penduduk muslim-nya kita harus mengembalikan solusi terbaik sesuai petunjuk Al-Qur’an dan Sunnah. Solusi fundamental dalam pandangan Islam menjadi alternatif terbaik untuk menyelamatkan generasi.

Gen-Z yang lahir dari sistem hidup sekulerisme dimana agama dipisahkan dari aturan kehidupan. Mereka tumbuh dengan pemahaman agama yang minim dan tidak sedikit dari mereka hanya sebatas Islam KTP saja. Sejak bangku pendidikan mereka telah didesain untuk jauh dari nilai-nilai Islam.

Sebuah survei dari IPSOS 2025 menunjukkan bahwa mata pelajaran agama menjadi salah satu yang paling tidak diminati Gen Z. Pendidikan agama yang seharusnya menjadi panduan hidup dipersepsikan tidak relevan. Akibatnya mereka tidak memiliki tujuan hidup yang jelas, kebahagiaan yang dituju hanya bersifat meraih kebahagiaan materi semata. Jiwa mereka kosong secara spiritual rapuh menghadapi tekanan hidup yang datang bertubi-tubi.

Sementara sekolah hanya menjadi sarana pencetak tenaga kerja. Ijazah dan gelar yang diraih hanya menjadi alat meningkatkan taraf ekonomi semata. Standar keberhasilan diukur dari pencapaian materi yang diraih, gelar akademik, dan jabatan yang bergengsi. Pola kapitalisme sekuler telah menjadikan karakter Gen-Z generasi yang mudah putus asa dan hidup dalam jebakan hedonisme. Sistem ini harus segera ditinggalkan dan beralih kepada sistem Islam untuk selamatkan Gen-Z dari kehancuran sistemik.

Islam memiliki pandangan yang khas terkait persoalan ini. Generasi adalah komponen masyarakat yang harus mendapatkan jaminan perlindungan penuh dari negara sesuai petunjuk syariat. Rasulullah ﷺ mengingatkan,“Barang siapa yang diangkat oleh Allah menjadi pemimpin bagi kaum muslim, lalu ia menutup dirinya tanpa memenuhi kebutuhan mereka, (menutup) perhatian terhadap mereka dan kemiskinan mereka, Allah akan menutupi (diri-Nya), tanpa memenuhi kebutuhannya, perhatian kepadanya, dan kemiskinannya.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi dari Abu Maryam).

Kepala negara adalah pelayan rakyat yang akan dimintai pertanggungjawaban atas pengurusannya. Rasulullah ﷺ bersabda,

الإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Imam/Khalifah itu laksana penggembala, dan hanya dialah yang bertanggungjawab terhadap gembalaannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Inilah paradigma Islam tentang tanggung jawab kepemimpinan. Begitu besar hisab yang harus dipikul apabila amanah tidak ditunaikan seperti yang Allah perintahkan. Perlindungan terhadap generasi harus berporos pada aturan Allah SWT sebagai satu-satunya solusi hakiki. Negara tidak boleh abai apalagi malah turut andil menciptakan kerusakan terhadap generasi.

Islam juga memiliki mekanisme khas dalam memenuhi kebutuhan dasar masyarakat. Sistem ekonomi Islam memiliki prinsip yang tegas dan mandiri tidak boleh memiliki ketergantungan terhadap asing. Pengelolaan SDA dengan distribusi yang jelas sehingga negara dapat membangun berbagai industri strategis. Alhasil akan menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, menyediakan pelayanan publik yang berkualitas, harga kebutuhan pokok terjangkau, dan jaminan sosial yang memadai. Dengan kebijakan tersebut, para penanggung nafkah, termasuk Gen Z mudah mendapat pekerjaan yang layak dan tidak akan merasakan tekanan finansial yang berat.

Terkait upah atau gaji yang diberikan, Islam juga memiliki standar tersendiri yang akan menciptakan rasa keadilan. Islam menetapkan bahwa upah ditentukan berdasarkan manfaat yang diberikan pekerja kepada pemberi kerja. Besarnya upah berbeda antarsektor dan profesi, yang ditetapkan melalui kesepakatan kedua pihak, dengan kemungkinan merujuk pada pendapat ahli (khubara’) ketenagakerjaan sesuai harga pasar tenaga kerja.

Ibnu Mas’ud ra. berkata, Nabi ﷺ bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian, mengontrak (tenaga) seorang ajir, maka hendaknya diberitahu tentang upahnya. Dengan demikian, upah yang diterima seorang pekerja merupakan hak penuh sebagai kompensasi atas tenaga yang telah dicurahkan.” (HR Ad-Daruquthni).

Begitu pula menyikapi persoalan gaya hidup hedonis Gen-Z. Islam tidak hanya sekedar memberikan solusi namun, aturan yang bersifat preventif juga dilakukan. Penancapan akidah yang kokoh pada tataran individu, masyarakat dan negara menjadi landasan utama untuk melindungi generasi dari berbagai ancaman yang merusak kehidupan. Generasi dari sejak awal telah memahami konsep hidup serta arah dan tujuannya hidup di dunia.

Sebagaimana firman-Nya,

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS Adz-Dzariyat [51]: 56).

Inilah tujuan hidup sebagai seorang muslim. Beribadah dan meraih rida Allah semata dalam semua aktivitas kehidupannya. Orientasi hidup di dunia tidak terlepas dari kehidupan akhirat. Ketika seorang muslim memenuhi kebutuhan fisik dan naluri bukanlah dikarenakan tuntutan gaya hidup, melainkan sarana ibadah kepada Allah Taala. Bekerja pun dilakukan untuk mendekatkan diri kepada Allah, mencukupi nafkah keluarga, dan berharap pahala di sisi Allah Taala.

Gaya hidup hedonis yang berkembang dalam sistem Kapitalisme, berorientasi pada kesenangan semata dan kenikmatan materi harus ditinggalkan karena hal tersebut bertolakbelakang dengan perintah Allah SWT. Dengan menerapkan aturan Islam, generasi dibentuk menjadi kepribadian Islam yang mumpuni serta memiliki kemampuan untuk bisa meletakkan segala sesuatu pada posisinya sesuai urutan secara proporsional berdasarkan timbangan hukum syariat. Jika uang hanya cukup untuk membeli kebutuhan pokok, ia tidak akan membelanjakan uang untuk sekadar membeli barang bermerek hanya takut FOMO dan sebagainya.

Setiap individu akan mempertanggungjawabkan perbuatannya didunia, ini lah yang akan dipahami oleh generasi. Islam telah menjelaskan bagaimana arah tujuan hidup yang benar sebagai seorang muslim. Allah Taala berfirman,

فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُۥ وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُۥ

”Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan sebesar zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS Al-Zalzalah [99]: 7-8).

Aturan preventif selanjutnya untuk menangkal gaya hidup hedonis adalah dengan menutup celah masuknya. Salah satunya adalah kurikulum pendidikan, dalam paradigma Islam, pendidikan yang berperan membentuk visi hidup yang benar, yaitu dunia sebagai ladang beramal dan akhirat sebagai tujuan. Dengan itu, gaya hidup sederhana melekat pada generasi. Harta yang dimiliki bukan untuk kesenangan duniawi, melainkan dikontribusikan untuk bekal di akhirat nanti.

Sekolah tinggi bukan dicetak untuk menyandang gelar dan sekedar mendapatkan ijazah. Apalagi membuat generasi sekedar sekolah dan berakhir menjadi buruh tenaga kerja. Pendidikan adalah sarana menimba ilmu yang melahirkan generasi emas untuk kemajuan peradaban.

Begitupula dalam pemberdayaan teknologi. Negara Islam tidak akan membiarkan media swasta apalagi asing bebas membentuk opini publik demi kepentingan ideologi asing. Media dalam negara Islam diarahkan untuk edukasi dan meningkatkan ketakwaan individu.

Negara berperan sebagai perisai yang melindungi ideologi dan ajaran Islam dari bahan olokan dan hinaan, menyaring informasi yang merusak, dan menjadi corong informasi dan dakwah Islam bagi dunia. Kebijakan negara dalam aturan media sosial akan membentengi Gen-Z dari pengaruh tsaqofah asing dan propagandanya untuk merusak generasi.

Gen-Z adalah harapan umat, mereka bertumbuh bersama pesatnya perkembangan teknologi media sosial. Hanya aturan Islam yang diterapkan secara menyeluruh akan menjadi filter mereka dari propaganda barat yang ingin merusak generasi muda Islam. Kebangkitan Islam kelak akan hadir jika dimulai dari generasi muda yang bangkit pemikirannya.

Keterpurukan Gen-Z dalam paradigma sistem Kapitalisme harus segera dihentikan. Ancaman masa depan yang suram dalam sistem Kapitalisme hanya akan berakhir apabila digantikan dengan sistem Islam kaffah. Gen-Z adalah generasi pendobrak kegemilangan Islam. Potensi mereka yang besar akan menjadi tonggak kuat untuk memimpin umat ini dalam naungan Islam yang memberikan jaminan hidup di semua lini. Dengan akidah yang kokoh, Gen-Z akan memiliki visi sebagai pembangun peradaban Islam.

Wallahu alam Bisawwab

  • Penulis: Dewi Sofiariani
  • Editor: Dahlan Batubara

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gerakan Donasi Digulirkan Untuk 11 Bocah di Hutarimbaru

    Gerakan Donasi Digulirkan Untuk 11 Bocah di Hutarimbaru

    • calendar_month Jumat, 14 Sep 2018
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Dalam upaya membantu 11 bocah tak punya ibu di Desa Hutaimaru, tiga media online melakukan kerjasama membuka rekening bank bagi penyaluran donasi bantuan bagi keluarga itu. Upaya itu menindaklanjuti banyaknya masyarakat Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara hingga para perantau yang ingin membantu meringankan kesulitan ekonomi Ummi Roiyah dan 11 adiknya. Tiga […]

  • Ribuan Warga Blokir Jalinsum, Tuntut SMGP Angkat Kaki Dari Madina

    Ribuan Warga Blokir Jalinsum, Tuntut SMGP Angkat Kaki Dari Madina

    • calendar_month Selasa, 11 Nov 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Ribuan  warga dari lima kecamatan di Mandailing Natal (Madina) menutup jalur negara atau jalan lintas sumatera, Selasa ( 11/11) menuntut pemerintah agar mengeluarkan PT.Sorik Marapi Gheotermal Power (SMGP) dari Madina. Gerakan masyarakat 5 kecamatan ini merupakan lanjutan dari aksi-aksi unjukrasa sebelumnya. Kondisi ini menunjukkan situasi investasi eksplorasi panas bumi bagi […]

  • Aparatur Desa: Budiman Sudjatmiko Palsukan Sejarah UU Desa

    Aparatur Desa: Budiman Sudjatmiko Palsukan Sejarah UU Desa

    • calendar_month Sabtu, 5 Jul 2014
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    Prabowo Subianto tidak pernah memalsukan sejarah Undang-Undang Desa. Justru, capres nomor urut 1 itu telah terlebih dahulu menandatangi komitmen dengan para aparatur desa yang tergabung dalam Parade (Persatuan Rakyat Desa) Nusantara. Demikian disampaikan Ketua Parade Nusantara Sudir Santoso  kepada wartawan di Jakarta, Rabu (7/6). "Prabowo Subianto adalah satu-satunya capres yang memiliki andil dan kontribusi dalam […]

  • Inilah Praktik Dinasti Politik yang Berkuasa di Sumut

    Inilah Praktik Dinasti Politik yang Berkuasa di Sumut

    • calendar_month Jumat, 25 Okt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN (Mandailing Online) – Praktik dinasti politik di Sumatera Utara ternyata lebih banyak dari data yang dilansir Kementerian Dalam Negeri (Kemdagri). Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi, menyebut ada 57 dinasti politik di seluruh Tanah Air, termasuk dinasti politik Bachrum Harahap yang kini menjabat Bupati Padanglawas Utara dan anaknya Andar Amin Harahap sebagai Wali Kota Padangsidimpuan. […]

  • Jika Masyarakat Adat Diakui, Akan Tercipta Pembangunan Berdasar Kearifan Lokal

    Jika Masyarakat Adat Diakui, Akan Tercipta Pembangunan Berdasar Kearifan Lokal

    • calendar_month Jumat, 18 Jul 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    ULU PUNGKUT (Mandailing Online) – Pengakuan terhadap masyarakat adat memiliki dampak positif bagi kelangsungan pembangunan di Mandailing Natal (Madina) yang harmonis serta terjaganya alam dari penjarahan perusahaan kapitalis yang rakus. Dampak positifnya juga mudahnya pemerintah daerah menyeselasikan sengketa antara masyarakat dengan investor yang bergerak di sektor pertambangan dan perkebunan. Sampai saat ini Madina belum memiliki […]

  • BAHASA DAN AKSARA MANDAILING (bagian 2 selesai)

    BAHASA DAN AKSARA MANDAILING (bagian 2 selesai)

    • calendar_month Senin, 2 Apr 2018
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Oleh : ASKOLANI NASUTION Budayawan   TATA BAHASA MANDAILING Pada tahun 1861, HN Van Der Tuuk, ahli tata bahasa Belanda, menulis buku “Stukken in het Mandailingsch”, tulisan ilmiah pertama tentang bahasa Mandailing yang terbit di Amsterdam. Melalui buku itu, bahasa Mandailing  dikenal secara luas. Bahasa Mandailing memiliki banyak perbedaan dengan bahasa daerah lainnya di […]

expand_less