Minggu, 9 Agu 2026
light_mode

BAHASA DAN AKSARA MANDAILING (bagian 2 selesai)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 2 Apr 2018
  • print Cetak

Askolani Nasution dan Surat Tulak-tulak

 

Oleh : ASKOLANI NASUTION
Budayawan

 

TATA BAHASA MANDAILING

Pada tahun 1861, HN Van Der Tuuk, ahli tata bahasa Belanda, menulis buku “Stukken in het Mandailingsch”, tulisan ilmiah pertama tentang bahasa Mandailing yang terbit di Amsterdam. Melalui buku itu, bahasa Mandailing  dikenal secara luas.

Bahasa Mandailing memiliki banyak perbedaan dengan bahasa daerah lainnya di Nusantara. Jika bahasa Jawa misalnya dibedakan atas dua ragam penggunaan berdasarkan kelas sosial pendengarnya, bahasa halus dan bahasa kasar, maka bahasa Mandailing jauh lebih luas lagi ragamannya. Perbedaan itu tidak menyangkut kelas sosial. Misalnya, bahasa seorang raja Mandailing tetap sama dengan bahasa rakyat biasa. Perbedaan ragam pengungkapan ada pada tataran situasi.

Ada lima ragam bahasa Mandailing berdasarkan situasi penggunaannya, yakni:

  • Ragam Bahasa Adat. Ragam ini digunakan dalam prosesi adat, baik saat proses pernikahan, kemalangan, dan lain-lain. Pilihan kata yang digunakan merujuk kepada pilihan kata klasik yang amat berbeda dengan pilihan kata yang dikenal dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan beberapa kata yang digunakan dalam prosesi adat, tidak pernah lagi digunakan dalam komunikasi sehari-hari.

Contohnya:

“Marhite-hite tu ujung ni tahi.” Kata [marhite-hite] dan [tahi] tidak ditemukan lagi dalam ragam komunikasi sehari-hari. Terjadinya perbedaan ini karena dalam prosesi adat setiap orang dibedakan kedudukannya atas kahanggi, anak boru dan mora. Selain itu, urutan pembicaraan juga diatur berdasarkan mekanisme tertentu yang disebut ruas. Ruas tersebut mengatur materi atau inti pembicaraan yang harus dilalui secara berurutan.

  • Ragam Bahasa Andung (situasi bersedih).Ragam ini digunakan saat seseorang meratapi kemalangan yang sedang menimpanya. Misalnya ratapan ketika orang tua, suami/istri, anak, atau kekasihnya meninggal. Penutur akan mengungkapkan kesedihannya dengan bahasa tertentu dan disampaikan dengan lagu tertentu.
  • Ragam Bahasa Parkapur (komunikasi di hutan) Ragam ini digunakan saat berada di lingkungan hutan. Beberapa kata yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari dianggap pantang diucapkan dalam lingkungan rimba. Tentu karena kepercayaan bahwa rimba dikuasai oleh penguasa rimba. Misalnya harimau. Jadi untuk menyebut harimau diganti menjadi ‘nagogoi’. Karena kata itu dianggap lebih halus. Dalam lingkungan hutan setiap orang dituntut untuk berprilaku santun, baik dalam tingkah laku maupun ucapan.
  • Ragam Bahasa Somal (komunikasi sehari-hari) Ragam ini digunakan dalam komunikasi sehari-hari tanpa mengenal usia dan jenis kelamin. Bahasa ini lah yang disebut bahasa Ibu, yaitu bahasa yang diturunkan kepada anak dalam lingkungan keluarga. Bahasa tersebut tidak ada perbedaan pilihan kata dalam penggunaan di lingkungan rumah, di antara teman sebaya, maupun di lingkungan sosial penutur. Jumlah koso kata yang digunakan tidak terhingga, juga variasi ungkapannya.
  • Ragam Bahasa Bura (situasi marah) Ragam ini digunakan dalam situasi emosional. Kebanyakan digunakan oleh wanita saat mengekspresikan rasa marahnya kepada orang lain. Kata-kata yang digunakan dianggap tidak patut diucapkan dalam situasi normal. Selain menggunakan kata tertentu juga disampaikan dengan nada yang keras.

Misalnya:

Seseorang dituntut untuk terampil memilih kosa kata yang tepat untuk ragam yang sesuai. Misalnya, Sirih, sama dengan napuran (ragam adat), simanggurak (ragam andung), burangir (ragam nabiaso), dan siroan (ragam parkapur). Karena itu, dalam bahasa Mandailing, setiap konteks dan latar komunikasi berbeda, akan berbeda juga diksi (kata) yang digunakan.

 

AKSARA TULAK-TULAK 

Memang tidak semua suku bangsa memiliki sistem aksara (tulisan) tersendiri. Adanya sistem aksara menandakan bahwa suatu suku bangsa, termasuk Mandailing Natal, merupakan suku bangsa yang amat bermartabat dan  berbudaya pada masa dahulu.

Ada 21 jenis huruf dalam Aksara Mandailing yang dikelompokkan ke dalam sebutan Ina ni Surat, yakni:

Ina ni Surat

 

Kelompok huruf tersebut belum sepenuhnya bisa digunakan dalam pembentukan kata, karena belum memenuhi semua morfem pembentuk bunyi.  Selain karena belum memiliki simbol bunyi [e] dan [o], juga belum memiliki bunyi konsonan atau huruf mati. Karena itu, Ina ni Surat tersebut harus dipadukan lagi dengan Anak ni Surat.

Anak ni Surat digunakan untuk mengubah vokal [a] bervariasi menjadi bunyi vokal [i], [e], [o], dan [u]. Selain itu juga pembentuk bunyi [-ng] dan bunyi konsonan. Penanda Anak ni Surat tersebut adalah:

Anak ni Surat

 

Berikut ini contoh penggabungan Anak ni Surat dengan Ina ni Surat dalam proses pembentukan hata.

Gabungan Anak ni Surat dengan Inang ni Surat

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Selain itu, Aksara Tulak-tulak juga menggunakan huruf pangolat yang ditandai dengan simbol . Huruf ini berfungsi untuk membuat bunyi konsonan atau huruf mati di akhir suku kata. Misalnya:

Huruf Pangolat

 

Catatan: perhatikan penggunaan huruf [ng] pada kata [hambeng] dan [kombang]. Pada kata [hambeng] huruf [ng] masih digunakan, tetapi pada kata [kombang] huruf [ng] hanya menggunakan penanda [-] saja yang diletakkan di sudut kanan atas konsonan terakhir. ***

(Askolani Nasution adalah Sarjana Sastra dan Budayawan Mandailing)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pakai Rakit Lempengan Papan

    Pakai Rakit Lempengan Papan

    • calendar_month Sabtu, 18 Des 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Tiga perempuan memanfaatkan rakitan lempeng papan agar tidak terbenam di arus banjir yang menerjang pemukiman Desa Balimbing, Kecamatan Natal, Mandailing Natal, Sabtu (18/12/2021). Sekitar 200 rumah terbenam di desa ini menyusul luapan Sungai Batang Natal akibat curah hujan yang kontiniu dalam beberapa hari terakhir. Foto: Muhammad Yusuf

  • Sorikmas Mining Didesak Berproduksi atau Angkat Kaki

    Sorikmas Mining Didesak Berproduksi atau Angkat Kaki

    • calendar_month Jumat, 17 Jun 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Meski telah 24 tahun berada di Mandailing Natal, namun PT. Sorikmas Mining belum juga berproduksi. Itu sangat disesalkan DPRD Mandailing Natal (Madina). Ketua DPRD Madina, Erwin Efendi Lubis mendesak manajemen PT Sorikmas Mining segera menyelesaikan pembangungan konstruksi agar cepat dapat beroperasi, sehingga dapat berkontribusi terhadap ekonomi daerah. “Kalau tidak mampu, ya […]

  • Refleksi Radikal di 1/3 Abad IKANAS: Sekadar Pewaris Nasution atau Penjaga Amanah Peradaban?

    Refleksi Radikal di 1/3 Abad IKANAS: Sekadar Pewaris Nasution atau Penjaga Amanah Peradaban?

    • calendar_month Minggu, 19 Jul 2026
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Kebangkitan Peradaban Nasution Menuju “Abad Baru Anak ni Raja” di Zaman Republik Penulis: Ludfan Nasution*     Ada sebuah ungkapan yang begitu melekat dalam kesadaran kolektif orang-orang bermarga Nasution: “Nasution adalah anak ni raja, anak ni namora.“ Ungkapan ini sering disampaikan dengan kebanggaan. Ia menjadi simbol identitas, kehormatan, dan kebesaran sejarah. Bahkan, ada masanya menjadi […]

  • Heboh, Gambar Palu-Arit Bertebaran

    Heboh, Gambar Palu-Arit Bertebaran

    • calendar_month Jumat, 13 Sep 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    TEBINGTINGGI, – Lambang dan tulisan soal komunis hebohkan Tebingtinggi, Kamis (12/9). Saking gegernya, warga menjadi cemas, takut insiden yang tidak-tidak terjadi. Polisi dan tentara telah berkoordinasi untuk mengungkap siapa pelakunya. Kalimat yang menghebohkan tersebut ditulis menggunakan cat pilox. Bunyinya “Komunis harga mati. Bangun dan Melawan! Hidup rakyat. Kita sudah ditindas, kita harus melawan. Revolusi harga […]

  • Polsek Siabu Amankan 40 Ekor Landak

    Polsek Siabu Amankan 40 Ekor Landak

    • calendar_month Rabu, 2 Apr 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIABU (Mandailing Online) – Polsek Siabu, Mandailing Natal (Madina) berhasil mengamankan 40 ekor landak, satwa yang dilindungi. Landak tersebut diduga berasal dari Bukit Tinggi, Sumatera Barat hendak dibawa ke Aceh. Penyitaan 40 ekor landak tersebut bermula saat polisi melakukan razia di Jalinsum depan kantor Polsek Siabu, Sabtu (29/3/2014) lalu, demikian dilansir surat kabar Mandailing Pos […]

  • Nakhodai Srikandi PP Madina, Ida Rosita: Kita Bangkitkan Pergerakan Perempuan

    Nakhodai Srikandi PP Madina, Ida Rosita: Kita Bangkitkan Pergerakan Perempuan

    • calendar_month Jumat, 25 Mar 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Nakhoda Baru Srikandi Pemuda Pancasila (PP) Kabupaten Mandailing Natal (Madina) Ida Rosita yang terpilih secara aklamasi pada Musyawarah Cabang I mengatakan saatnya pergerakan kaum perempuan dibangkitkan. “Melalui Srikandi kita bangkitkan pergerakan perempuan di Madina. Ini sesuai dengan tema Muscab kita, yaitu Mengukuhkan Kiblat Pergerakan Perempuan,” katanya dalam sambutan usai terpilih. Ia […]

expand_less