Rabu, 17 Jun 2026
light_mode

Mengapa Kita Berutang Maaf dan Gelar Pahlawan pada Sosok Willem Iskander?

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month 2 menit yang lalu
  • print Cetak

 

Oleh: Moechtar Nasution
ASN Dinas Pariwisata Mandailing Natal/Aktifis Gerep Institute (Pusat Kajian Madina)

 

Ada amnesia kolektif yang teramat kaku dalam ingatan bangsa kita. Saban tahun kita merayakan kemerdekaan, saban tahun juga memperingati hari pendidikan dan setiap tahun juga mengikuti upacara hari kebangkitan nasional. Lalu, dengan gampang dan mudah kita mendiktekan kepada anak-cucu bahwa fajar kesadaran bangsa baru menyingsing tahun 1908 di Batavia dan pendidikan diawali Ki Hajar Dewantara, dan seterusnya.

Kita mengagungkan sejarah di Pulau Jawa, tapi dengan angkuh menutup mata pada sebuah perjuangan sunyi yang meletus jauh lebih awal di pedalaman Sumatra. Ini cerita sejarah yang sangat heroik, bukan pertempuran senjata namun pertempuran aksara. Sejarah lokal yang menasional walaupun belum diakui sebagai pahlawan nasional. Inilah bukti sejarah yang menghentakkan cara berpikir manusia di zaman disrupsi sekarang ini.

Dari pedalaman, dari penderitaan dan dari kesedihan fakta sejarah ini dilahirkan. Semua berawal dari sini, di daerah yang sekarang dikenal dengan kabupaten Mandailing Natal. Mari lihat tahun 1862. Ketika kerja paksa masih memeras habis keringat rakyat, seorang pemuda belia bernama Sati Nasution glr Sutan Iskandar—yang kelak dikenal sebagai Willem Iskander—sudah mempertaruhkan air mata dan kewarasannya. Untuk apa? Untuk mendirikan Kweekschool (Sekolah Guru) di Tanobato.

Kalau kita mau jujur membuka memori kolektif, ketertinggalan pengakuan terhadap sosok kelahiran Pidoli Lombang ini menyibak sebuah anomali besar. Coba bedah linimasa pergerakan dengan analisis komparatif yang objektif. Posisi Willem Iskander berada di garda depan. Sosok yang ditakdirkan sejarah untuk berdiri dalam barisan paling depan dalam prasejarah kemerdekaan kita.

Saat Kweekschool  Tanobato resmi berdiri dan menampung anak-anak rakyat jelata pada tahun 1862, Raden Ajeng Kartini bahkan belum lahir ke dunia. Tokoh penting sekelas Ki Hajar Dewantara? Dia baru mengembuskan napas pertamanya pada tahun 1889—sekitar tiga belas tahun setelah Willem Iskandar wafat. Bahkan, gerakan Indisch Nederlandsche School (INS) Kayutanam oleh Mohammad Sjafei baru mulai bergerak tahun 1926. Logika empiris ini tidak bisa dibantah: fondasi emansipasi sosial dan pendidikan melalui sekolah modern di Nusantara tidak dimulai dari abad ke-20 di Jawa, melainkan dari pedalaman Mandailing pada pertengahan abad ke-19. Suka atau tidak suka inilah faktanya.

Memperjuangkan gelar Pahlawan Nasional untuknya jelas bukan hanya untuk urusan stempel kenegaraan di atas selembar piagam penghormatan. Sama sekali bukan. Ini urusan menjebol dinding narasi sejarah kita yang terlampau Jawa-sentris. Ini soal menuntut pengakuan atas lahirnya fajar budi pekerti dan literasi modern yang dia nyalakan pertama kali dari  “huta” di kawasan Mandailing, bangsa yang namanya tercatat dalam manuskrip/babat Negarakertagama karangan Mpu Tantular dizaman Majapahit berkuasa.

Dan di balik tembok tebal birokrasi negara ada kenyataan yang jauh lebih pahit dan lebih memilukan. Abainya negara sejatinya adalah cerminan dari tidurnya kesadaran masyarakat sendiri. Kita, sebagai sebuah bangsa dan masyarakat terlibat langsung ataupun tidak langsung dalam pengabaian panjang ini. Kita menjadi pelaku pasif dari kejahatan sejarah saat kita membiarkan diri disuapi narasi tunggal yang serba Jawa-sentris tanpa pernah mau bertanya atau menggugat. Ketidakpedulian kolektif masyarakat yang enggan merawat ingatan lokal, yang lebih memilih silau oleh pahlawan-pahlawan dari daerah lain. Semua ini semakin membuat malam-malam panjang nan sunyi  di Mandailing bertambah pekat. Ketika masyarakatnya sendiri menganggap sejarah kedaerahan sebagai masa lalu yang usang dan inferior, maka secara tidak langsung kita sedang ikut mengubur Willem Iskandar untuk kedua kalinya. Nauzulbillahi Min Zalik…!!

Negara dan segenap komponen bangsa ini harus dipaksa sadar serta jujur pada logika sejarah. Logikanya sederhana saja: jika bukan karena Willem Iskander yang pertama kali membawa obor pendidikan modern ke bumi Nusantara, rasanya amat sangat tidak mungkin pahlawan-pahlawan nasional yang fotonya hari ini berada di hampir semua unit pendidikan nasional bisa menjadi pahlawan nasional.

Bagaimana mungkin sebuah pergerakan kemerdekaan bisa lahir kalau tidak ada yang menyemai benih literasi? Siapa yang mau membaca taktik musuh dan menuliskan gagasan tentang kebebasan kalau ruang kelas tidak pernah ada?

Sati Nasution adalah hulu dari sungai kesadaran itu. Dia mendidik para guru. Guru mendidik murid. Murid melahirkan generasi pembebas. Tragisnya di sinilah letak ironi terbesar yang terjadi. Generasi sesudahnya yang terpaut sangat panjang rentang waktunya—bahkan sesama putra Mandailing bermarga Nasution seperti Jenderal Besar Abdul Haris Nasution—sudah sejak lama dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional. Sementara sang perintis, sang pembawa obor pertama yang membuka jalan intelektual bagi generasi-generasi setelahnya, justru wajahnya absen. Dia asing di dinding-dinding sekolah yang dia rintis jalannya. Tidak dalam posisi membandingkan namun inilah realitasnya. Kita berbangga generasi sesudahnya menjadi Pahlawan Nasional namun hati kecil tetap bertanya kenapa, mengapa dan ada apa dan seribu pertanyaan lainnya dengan nama Willem Iskander sehingga hari ini belum dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional.

Isi kepala Sati Nasution bukanlah hal yang biasa-biasa saja namun sangatlah visioner. Gagasan besar Willem Iskandar tentang pendidikan memancarkan visi yang menyala-nyala, berapi-api, dan melompat jauh melampaui zamannya. Baginya, pendidikan bukan sekadar alat mekanis agar anak pribumi pintar membaca dan berhitung untuk jadi buruh administratif kolonial yang murah. Itu cetak biru murahan milik kolonial Belanda. Willem melihat sekolah sebagai instrumen sakral untuk membebaskan martabat manusia dari belenggu kebodohan struktural. Dia adalah “man of thought”, manusia pemikir.

Melalui buku mahakaryanya, Si Bulus-Bulus Si Rumbuk-Rumbuk, dia merumuskan bahwa literasi adalah kunci emansipasi batin. Semangatnya yang membara untuk membangun negerinya terekam jelas dalam salah satu bait puitisnya yang paling ikonik:

o amang sinuan tunas,

langka maho amang marguru tu sikola,

ulang hun baen song luas-luas

tai ringgas ho amang masrsipoda

Lewat untaian sajak berbahasa Mandailing tersebut dia tidak sedang berbasa-basi. Dia sedang menyuntikkan kesadaran kritis dan harga diri kolektif agar bangsanya bangkit memeluk ilmu pengetahuan. Konsep pedagogi ini—yang berani mengawinkan rasionalisme Barat dengan identitas kultural lokal—adalah embrio murni dari falsafah merdeka belajar dan kemandirian bangsa. Lahir puluhan tahun sebelum para pemikir abad ke-20 merumuskannya secara formal di atas kertas.

Tapi takdir berkata lain. Sejarah mencatat sebuah tragedi kemanusiaan yang memilukan ketika seluruh kobaran semangat yang berapi-api itu harus kandas secara mengenaskan oleh kejamnya realitas. Sati Nasution adalah pemuda yang jiwanya membara untuk melihat bangsanya cerdas, tetapi langkah radikalnya harus membentur tembok kokoh pengabaian dan bias administratif. Pilihan cerdasnya memanfaatkan peluang kedekatan dengan asisten residen Alexander Godon untuk mendanai sekolah pribumi bukanlah bentuk kompromi, melainkan sebuah gerilya intelektual yang taktis. Sayangnya, takdir memadamkan impian besarnya dengan sangat cepat.

Apakah hanya karena nama “Willem” yang diterimanya demi mempertahankan studinya di Belanda dijadikan sebagai penolakan untuk menunda pengakuannya? Jika itu alasannya, maka naiflah sudah cara berpikir kita sebagai bangsa yang beradab dan berbudaya.

Negara tampaknya buta terhadap realitas sejarah bahwa tidak ada satu orang tokoh besar pun di dunia ini yang tidak memiliki kisah kontroversial. Sejak zaman dahulu kala, setiap pahlawan selalu hidup dengan kompleksitas kehidupannya masing-masing—baik sebagai makhluk pribadi yang memiliki kerapuhan, maupun sebagai makhluk sosial yang terjebak dalam pusaran politik zamannya. Berdosakah ia yang mengubah namanya untuk suatu tujuan yang jauh lebih besar, mulia dan luhur itu?

Negara gagal membaca Willem dari kacamata humanisme: bahwa perpindahan nama itu bukanlah bentuk pengkhianatan ideologis, melainkan sebuah pengorbanan batin—taktik paling sunyi yang harus diambil seorang pemuda pribumi agar diizinkan menimba ilmu di tanah Eropa pada abad ke-19. Di tengah himpitan dua budaya yang saling bertolak belakang, dan pergolakan batin serta sosial akhirnya tubuh dan pikiran pria jenius menyerah. Willem Iskander, pria tangguh itupun mengembus napas terakhirnya dalam kesunyian di Amsterdam pada 8 Mei 1876, dalam usia yang masih sangat muda, 36 tahun. Ironis memang bahkan hingga detik ini, makamnya di Zorgvlied dibiarkan sunyi telantar di tanah asing, terpisah ribuan mil dari tanah Mandailing yang amat ia cintai, tanpa ada kepedulian nyata dari negara ataupun tuntutan keras dari akar rumput untuk memulangkan atau memberikan penghormatan yang layak kepadanya.

Negara juga gagal membaca lanskap batin yang paling sunyi dari sang pelopor. Dalam imajiner saya, Willem sering kali duduk terdiam di kursi yang menghadap taman. Di tengah kepungan tembok-tembok Eropa yang asing dan dingin, dia sesekali mengembuskan napas panjang sembari membayangkan wajah-wajah hangat keluarganya di Pidoli Lombang. Dia merindukan kehangatan saudaranya khususnya abangnya Sutan Kumala yang sangat takut kehilangannya, kangen diskusi dengan Yang Dipertuan Hutasiantar dan aroma tanah kelahirannya yang jauh menyeberangi samudra. Kerinduan batin yang mengiris ini adalah bukti paling murni dari sebuah kepedulian yang sangat mendalam terhadap tanah air—sebuah ikatan emosional organik yang oleh para pakar sejarah sekarang didefinisikan secara teoritis sebagai “nasionalisme”.

Karena justru lewat kerinduan yang membakar itulah, semangatnya ikut tersulut hebat untuk bisa sukses dan menyelesaikan pendidikannya di sekolah guru Eropa tersebut. Baginya, setiap ijazah, ilmu, dan keberhasilan yang ia raih di tanah asing harus menjadi modal utama untuk pulang dan mengabdikan seluruh sisa hidupnya bagi tanah kelahiran, bagi rakyat yang tertindas, dan bagi kemanusiaan. Nasionalisme Willem Iskandar bukan lahir dari doktrin politik di ruang rapat, melainkan dari rasa cinta, rindu, dan luka seorang anak bangsa yang menolak membiarkan kaumnya terus-menerus diperbodoh di tanah sendiri.

Menolak atau menunda penyematan gelar Pahlawan Nasional kepada Willem Iskandar bukan lagi sekadar masalah kelambatan administrasi, melainkan sebuah bentuk kejahatan budaya yang dipelihara oleh negara dan didiamkan oleh masyarakat. Pahlawan tidak hanya mereka yang namanya harum karena gugur memegang bedil di medan laga, tetapi juga mereka yang seluruh kobaran semangatnya dipaksa kandas dan jiwanya hancur berantakan demi menyelamatkan akal sehat bangsanya dari kegelapan literasi. Pahlawan tidak sesempit itu maknanya.

Kita harus menyembuhkan luka sejarah ini secara bersama-sama. Tetapi, jangan hanya menuntut kepada negara tanpa berbuat apa-apa, segera ambil bagian. Berikan kontribusi sebanyak-banyaknya. Ruang kerja untuk masyarakat kini terbuka sangat lebar. Kita bisa memulainya dengan tidak lagi membiarkan ingatan lokal tentang Tanobato mati di tingkat akar rumput. Masyarakat, komunitas adat, guru, dan para pemuda bisa bergerak mendigitalkan kembali karya-karya sastra beliau agar bisa dibaca generasi milenial. Kita bisa menyuarakan desakan kolektif melalui petisi publik, menggelar diskusi sejarah di kampus-kampus, hingga mendirikan pusat studi literasi lokal atau nama perpustakaan atau gedung pertemuan atas namanya. Atau paling tidak pampangkanlah foto sang pelopor tersebut dirumah atau ruangan kantormu. Peran kecil itu sesungguhnya sudah sangat berarti sekali.

Gerakan kebudayaan berbasis masyarakat inilah yang akan menjadi motor penggerak sejati untuk mendesak birokrasi negara agar bangun dari tidur panjangnya. Setiap tahun penundaan adalah tambahan lembaran ketidakadilan sejarah yang kita biarkan bersama. Sudah saatnya negara menghentikan sikap dinginnya, dan sudah saatnya masyarakat memecah keheningannya dengan aksi nyata. Mari kita sembuhkan luka ini bersama-sama, lalu dengan bangga menempatkan Sati Nasution di barisan para pahlawan nasional bangsa. InsyaAllah…!!***

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Telinga Sugiono Dipotong Massa

    Telinga Sugiono Dipotong Massa

    • calendar_month Senin, 13 Des 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Merebaknya isu penculikan anak membuat kecurigaan warga terhadap orang asing atau orang tak dikenal semakin tinggi. Korban akibat kecurigaan warga itu kembali dialami Sugiono (30) warga Dusun Kampung Tengah, Desa Jati Sari Kecamatan Tinggi Raja, Kisaran, Ahad (12/12/2010) pagi pukul 09.15 WIB. Pria berkulit gelap itu bahkan kritis akibat dihakimi massa di Dusun Kampung Tanjung, […]

  • PAD Dishutbun Palas Terealisasi 237%

    PAD Dishutbun Palas Terealisasi 237%

    • calendar_month Jumat, 19 Sep 2014
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    Palas – Tercatat hingga pertengahan September 2014, target Pendapatan Asli Daerah (PAD) PADa Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Kabupaten PADang Lawas (Palas) dari sektor penerimaan retribusi terealiasi Rp 488,967 juta atau tercapai 237,37%. Target PAD Dishutbun TA 2014 sebesar Rp 244,55 juta. “Target PAD Dishutbun Palas pada tahun anggaran (TA) 2014 ditetapkan Pemkab Palas Rp […]

  • Warga Sibanggor Tak Lagi Tidur Nyenyak (Bagian 1)

    Warga Sibanggor Tak Lagi Tidur Nyenyak (Bagian 1)

    • calendar_month Kamis, 11 Feb 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Laporan : Dahlan Batubara dan Seri Aida Lubis   Ketakutan, keresahan dan kecemasan. Itu gambaran terkini di kalangan warga Desa Sibanggor Julu, Kecamatan Puncak Sorik Marapi, Mandailing Natal, Sumatera Utara. Penulusuran tim media dari Mandailing Online, Malintang Pos dan Madina Pos, Kamis (11/2/2012) di Sibanggor Julu mencatat banyak hal pengakuan beberapa warga pasca tragedi […]

  • Wabup Atika Pimpin Apel Pasca Pelantikan

    Wabup Atika Pimpin Apel Pasca Pelantikan

    • calendar_month Senin, 24 Mar 2025
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN – Wakil Bupati Mandailing Natal Atika Azmi Utammi Nasution memimpin apel gabungan perdana pasca-pelantikan kepala daerah. Berlangsung di pelataran Masjid Agung Nur Alan Nur Aek Godang, Panyabungan, Senin (24/5/2025). Atika dalam kesempatan tersebut menyampaikan beberapa pesan. Di antaranya meminta pegawai pemerintah menunjukkan citra yang baik kepada masyarakat, termasuk pemudik. “Wajah Madina di mata perantau […]

  • Hari Ini Tercatat 16 Kali Gempa Vulkanik Dalam Gunung Sorik Marapi di Madina, Warga Diminta Waspada

    Hari Ini Tercatat 16 Kali Gempa Vulkanik Dalam Gunung Sorik Marapi di Madina, Warga Diminta Waspada

    • calendar_month Sabtu, 4 Apr 2026
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    MADINA||Mandailing Online – Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Mandailing Natal melaporkan bahwa Gunung Sorik Marapi masih dalam status Level II (Waspada) per 04 April 2026. Dalam 6 jam terakhir, tercatat 16 kali gempa vulkanik dalam (VA). Masyarakat dan wisatawan dilarang keras beraktivitas dalam radius 1,5 kilometer dari kawah puncak. Pos Pengamanan Sibanggor Tonga dan Sibanggor […]

  • Warga Siabu Keluhkan Lampu Jalan Banyak Mati

    Warga Siabu Keluhkan Lampu Jalan Banyak Mati

    • calendar_month Selasa, 14 Jul 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      SIABU (Mandailing Online) – Warga Kecamatan Siabu, Mandailing Natal (Madina) kecewa terhadap Pemkab Madina karena selalu berjanji memperbaiki lampu jalan, tapui tak pernah ditepati. Bola lampu jalan di sepanjang jalan raya dan jalan-jalan kampung sudah lama banyak yang mati, tetapi dibiarkan saja oleh pihak Badan Lingkungan Hidup Kebersihan Pertamanan (BLHKP). “Sudah berkali-kali diberitahukan kepada […]

expand_less