HAMAS MENYERAH, BAGAIMANA GAZA SELANJUTNYA?
- account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
- calendar_month 0 menit yang lalu
- print Cetak

Oleh: Mariani Siregar, M.Pd.I
Dosen dan Pegiat Opini Islam
Sungguh mengejutkan! Hamas dikabarkan telah menyerahkan kekuasaan yang telah dipertahankan selama 2 dekade di Gaza. Berita tersebut telah banyak dirilis oleh berbagai media massa.
Menurut laporan Al-Jazeera News (07/07/2026), keputusan Hamas adalah bagian dari proses kesepakatan damai dengan AS yang menghasilkan gencatan senjata tahun lalu.
Analis Hamas mengatakan, langkah Hamas ibarat tekanan bagi Israel karena berseberangan dengan keinginan presiden AS, Donald Trump. Serta kelompok Hamas dalam hal ini menunjukkan niat baik untuk membangun perdamaian di jalur Gaza yang telah porak poranda.
Laporan terbaru menurut CNBC (09/07/2026), meski pemerintahan Hamas dibubarkan, situasi di Gaza belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Negosiasi menuju fase kedua gencatan senjata masih terhambat oleh perbedaan sikap mengenai pelucutan senjata Hamas, masuknya bantuan kemanusiaan, penarikan pasukan Israel, serta rencana rekonstruksi Gaza.
Hingga kini, sedikitnya 73.098 warga Palestina dilaporkan tewas sejak perang dimulai pada Oktober 2023. Sejak gencatan senjata yang dimediasi AS disepakati pada Oktober 2025, sedikitnya 1.005 orang kembali kehilangan nyawa. Israel juga masih menguasai sekitar 70% wilayah Jalur Gaza, sehingga sebagian besar warga Palestina tetap tinggal di kawasan yang semakin sempit dan padat.
Kabarnya, pasca kemunduruan Hamas, jalur Gaza akan diserahkan kepada The National Committee for the Administration of Gaza (NCAG) yang didirikan pada bulan Januari 2026, yang berada di bawah Konsil Keamanan PBB (The UN Security Council’s Resolution) nomor 2803. Serta merupakan bagian dari kesepakatan BoP yang dibentuk oleh AS yang terdiri dari 20 kesepakatan untuk menghentikan serangan Israel terhadap Gaza.
NCAG diklaim adalah badan kepemimpinan transisi yang netral dan bukan partisan siapapun antara kedua belah pihak.
Namun, yang menjadi persoalan berikutnya apakah dengan Hamas mundur akan membawa Gaza lebih baik? Mampukah NCAG mengakomodir kepentingan warga Gaza untuk bebas dan merdeka seutuhnya dari penjajahan Israel? Atau justru Gaza kelak dijajah dengan wajah baru di bawah kekuasaan adidaya AS ?
Hamas Mundur, Amerika Terus Melangkah Maju
Langkah mundur yang dilakukan oleh Hamas secara politik menyatakan kekalahan serta kesalahan jika ditimbang dalam kaca mata syariat. Sebab menyerahkan tanah dan kekuasaan umat kepada negara kufur harbi fi’lan seperti Amerika adalah dosa besar.
Benar, Hamas terus menjadi alasan dibalik serangan negara Zionis di jalur Gaza. Bahkan, narasi global muncul menuduh Hamas sebagai organisasi teroris bersenjata layak untuk diperangi, sesuai agenda WOT oleh negara-negara kapitalis global yang dikomandoi Amerika.
Namun kemudian, negara Zionis berbalik mendapatkan tekanan masyarakat global akibat genosida di Gaza dan menewaskan puluhan ribu warga sipil. Target awal menyerang Hamas berubah menjadi serangan massal brutal tanpa ampun terhadap seluruh jalur Gaza.
Selama hampir tiga tahun terakhir, Gaza telah menjadi pusat perhatian masyarakat global, dan melahirkan beberapa poin penting terhadap eskalasi dan polarisasi politik internasional yang membuat negara-negara kapitalis global seperti Eropa, dan Amerika harus hati-hati mengambil sikap.
Pertama, isu Gaza menjadi trendsetter yang mengguncang dunia dan terus digaungkan oleh para aktivis kemanusiaan, baik di negeri Muslim maupun di negara-negara Barat. Kondisi ini membuat para penguasa dan elit politik Barat seperti simakalama dengan jargon HAM yang selalu dikampanyekan. Masyarakat global menilai Gaza juga punya hak asasi untuk merdeka tanpa penjajahan negara Zionis.
Kedua, isu Gaza termasuk Palestina secara umum telah memberikan pola politik baru bagi masyarakat internal Barat, yaitu mampu mempengaruhi suara kandidat yang maju berkompetisi.
Setiap pemilihan kandidat pemimpin atau pejabat baru di negara-negara Barat, baik Eropa maupun Amerika termasuk Australia, akan dinilai istimewa dan adil jika mendukung Palestina. Dan kampanye dukungan terhadap Palestina oleh kandidat politik maupun partai akan meraup suara dan simpatik yang banyak.
Ketiga, meskipun masyarakat global telah memenangkan isu Gaza, dan membawanya dalam setiap kegiatan kemanusiaan hingga politik, penguasa negara-negara Barat tidak mau kalah untuk membuat narasi tandingan. Bagi pendukung Gaza berarti mendukung Hamas sama dengan mendukung teroris. Hingga banyak pemberitaan yang kemudian menunjukkan penangkapan para aktivis dan kelompok aksi pendukung Palestina. Artinya, isu Gaza secara politik juga telah membentuk gap dan distrust antara masyarakat dengan penguasanya yang zalim di negara-negara Barat.
Agar negara-negara Barat khususnya Amerika kembali mendapatkan trust dan memulihkan nama baiknya di masyarakat hingga global, tentu langkah yang harus ditempuh adalah bersikap seperti pahlawan yang memberikan solusi.
Langkah yang diambil ternyata menghasilkan lebih dari yang diaharapkan oleh Amerika, yaitu mundurnya Hamas secara sukarela dan seketika dari kekuasaan teritorial jalur Gaza yang sudah 2 dekade memimpin dan menjadi wilayah istimewa, di luar pemerintahan resmi negara nasionalis PA (Palestine’s Authority).
Mundur dari jalur Gaza menurut juru bicara Hamas, Hazem Qassem diyakini sebagai bagian dari implementasi kesepakatan gencatan senjata, serta langkah maju yang positif untuk mendukung proses transisi menuju pemerintahan baru di Gaza.
Akan tetapi, benarkah langkah mundur Hamas adalah sebuah kemajuan postif bagi nasib Gaza kini dan nanti? Untuk menemukan jawabannya tentu memerlukan analisis dari sudut pandang yang khas dan politis serta realistis. Berikut beberapa sudut pandang yang bisa ditarik untuk menjawabnya.
Pertama, kemunduran Hamas tentu bukan tanpa sebab. Tekanan negara-negara global dengan narasi teroris dan menjadikan Hamas sebagai penyeabab negara Zionis menyerang Gaza, secara psikologis akan membentuk rasa tertuduh dan bersalah dengan situasi yang terjadi di Gaza. Puluhan ribu nyawa hilang hanya karena ingin menyerang Hamas yang jumlahnya sangat sedikit. Bahkan membuka konflik baru yang meluas hingga ke Iran.
Desakan untuk mundur dan mempertanyakan pengorbanan Hamas untuk Gaza terus menghujani mereka. Belum lagi, Hamas juga semakin kehilangan sosok-sosok pejuang yang mampu berhadapan dengan Zionis. Kelelahan untuk terus bertempur dengan senjata tanpa ada satu negarapun yang memberikan pertolongan pastinya dirasakan oleh Hamas.
Sehingga, rela tidak rela perjanjian damai dan mundur atau menyerah adalah langkah tepat menurut Hamas untuk mempertahankan eksistensinya dan menunjukkan kepedulian terhadap nasib Gaza.
Sayangnya, Hamas sedang berhadapan dengan Amerika yang tidak mengerti makna “janji” sama seperti Zionis. Kesepakatan tertulis berpeluang besar berbeda dengan rencana sebaliknya.
Hamas telah dinilai sebagai kelompok teroris dan sulit untuk mengubahnya. Hingga kelak, masyarakat yang masih tertinggal di Gaza tidak akan diizinkan untuk menjadi kader-kader baru Hamas. Bahkan Trump sendiri memberikan peluang bagi anggota Hamas yang meletakkan senjatanya untuk pindah ke luar negeri tanpa gangguan. Artinya, kelompok Hamas sedang diusir dengan cara licik Trump.
Kedua, Amerikalah yang maju untuk mewujudkan ambisinya menguasai Gaza tanpa halangan dari siapapun. NCAG yang dibentuk berdasarkan resolusi PBB dan kesepakatan BoP hanyalah kedok untuk menutupi keserakahan ambisinya dari masyarakat global. Trump mengajak negara-negara Timur Tengah dan negara mayoritas Muslim untuk menjadi anggota BoP yang syarat dengan kepentingan Amerika.
Lembaga NCAG akan dipimpin teknokrat Palestina, termasuk Pelaksana Tugas Komisioner Ali Abdel Hamid Shaath, dan dirancang sebagai pemerintahan transisi yang konon katanya bersifat netral. Bagaimana mungkin ada kenetralan dalam persoalan ambisi politik Amerika? Tentu tidak masuk akal. Mereka yang memimpin teritori jalur Gaza dengan model NCAG adalah sosok-sosok yang pro terhadap ide atau gagasan Amerika.
Dan meskipun telah dibentuk, anggota NCAG hingga kini belum diizinkan Israel memasuki Jalur Gaza sehingga operasional sementara dilakukan dari Kairo, Mesir. Al-Thawabta mendesak seluruh pihak mempercepat proses tersebut. Dari sini dapat dinilai bahwa NCAG tidak disetujui oleh Israel. Lalu bagaimana akan terealisasi keamanan bagi warga Gaza?
Ketiga, dikatakan bahwa fokus pengelolaan NCAG adalah urusan sipil. Berbeda dengan pemerintahan Hamas sebelumnya. Badan ini bertanggung jawab memulihkan layanan kesehatan, pendidikan, pasokan air, hingga administrasi pemerintahan sehari-hari. Selain itu, juga akan mengawasi aspek keamanan internal melalui pembentukan satu kesatuan kepolisian terpadu yang bertugas menjaga hukum dan ketertiban.
Lembaga tersebut melapor kepada Komisioner Tinggi di Dewan Perdamaian Presiden Donald Trump serta Dewan Keamanan PBB, sebelum nantinya kekuasaan diperkirakan beralih kepada Otoritas Palestina pada 2027.
Sekilas fungsinya terlihat manusiawi dan peduli. Tetapi dibalik semua rencana yang diumumkan, ada tujuan yang jauh lebih berbahaya. Presiden AS, Donald Trump telah menyebutkan sendiri bahwa Gaza akan menjadi kota wisata modern. Tidak ada perang dan pendudukan lagi kelak di Gaza. Dan Trump juga sempat menyatakan bahwa Gaza akan menjadi miliknya secara cuma-cuma.
Trump sebelumnya pernah meminta beberapa negara Muslim untuk menerima para pengungsi Gaza yang masih tersisa hingga pembanagunan Gaza terealisasi. Pertanyaannya kemudian, apakah Trump begitu saja membiarkan warga Gaza yang masih hidup di negeri lain kembali dengan mudah? Sungguh sangat berseberangan dengan ide hakiki Amerika.
Maka jelaslah dapat dipahami bahwa kemunduran atau menyerahnya Hamas adalah bentuk kekalahan bagi Gaza dan kaum Muslim secara keseluruhan. Kemunduran Hamas semakin menunjukkan betapa terpecahnya umat dalam sekat-sekat nation state yang tidak mampu memberikan bantuan pasukan militer untuk Hamas dan warga Palestina.
Dan umat Islam harus menerima kenyataan pahit bahwa jika Amerika berhasil menduduki Gaza secara legal dalam kaca mata hukum internasional, penguasa baru atau penjajah baru serta perampok baru di Gaza itu bernama Amerika yang dilegalkan oleh dunia internasional. Lalu di mana jumlah kaum Muslim yang mencapai dua miliyar? Kenapa semua diam? Apakah akhir Gaza akan menjadi kemenangan mutlak bagi Amerika dan sekutunya Zionis?
Haram Serahkan Gaza ke NCAG Amerika, Wajib Kirim Pasukan Akhiri Genosida
Allah swt berfirman dalam Al-Qur’an:
وَأَعِدُّوا لَهُم مَّا اسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ وَمِن رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِن دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ ۚ وَمَا تُنفِقُوا مِن شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنتُمْ لَا تُظْلَمُونَ
Artinya , “Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang, yang dengan persiapan itu kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu, dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya, tetapi Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu infakkan di jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dizalimi.” (TQS Al-Anfal: 60)
Ayat tersebut menegaskan bahwa Allah swt memerintahkan kaum Muslim untuk membentuk segala kekuatan dalam menghadapi kebencian dan perang yang dilancarkan oleh musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya, seperti Zionis dan penguasa Amerika. Bukan menyerahkan tanah kaum Muslim dan seluruh kepemilikan kepada keduanya
Negeri-negeri Muslim mulai dari Timur Tengah hingga ke Asia memiliki jumlah kekuatan pasukan militer yang cukup menggemparkan Zionis dan Amerika. Akan tetapi, sekat-sekat nation state telah membuat ukhuwah Islamiyah yang berlandaskan aqidah telah menipis dan memudar.
Padahal, andai Mesir dan Lebanon serta Iran saja bersedia mengirimkan pasukan untuk mengusir Zionis dari Gaza, mungkin dalam hitungan jam, penjajah Zionis akan lari terbirit-birit. Apalagi jika Pakistan, Afganistan, Turki, Malaysia serta Indonesia bergabung mengirimkan pasukan perang menghadapi tentara Zionis yang hanya sebiji zarrah di hadapan Allah swt.
Situasi yang menimpa Gaza hanya bisa diakhiri dengan jihad fi sabilillah. Dan itulah yang wajib dilakukan oleh negeri-neegri Muslim saat ini. Sayangnya, kewajiban jihad telah dikebiri oleh sekat-sekat nation state. Hingga jihad sendiri pun dinarasikan sebagai aksi terorisme. Padahal, Zionis dan AS-lah penjahat perang internasional, tetapi tidak kunjung dicap sebagai teroris.
Karenanya, hanya ada satu kekuatan yang mampu menyatukan pasukan kaum Muslim dari seluruh penjuru negeri, yaitu institusi politik Islam, khilafah islamiyah ala manhaj nubuwaah. Tegaknya adalah berkah bagi seluruh alam.
Ya, seharusnya tidak perlu menunggu tegak khilafah untuk membantu Gaza. Tetapi jika langkah selanjutnya adalah menyerahkan Gaza ke tangan Amerika, tanpa adanya kekuatan politik dan isntitusi khilafah, Gaza akan tinggal sejarah.
Sudah saatnya kamu Muslim mengingat janji Allah swt bahwa orang-orang kafir tidak akan berkuasa atas orang-orang beriman. Maka menjemput janji Allah dan pertolonganNya tiada lain dengan menerapkan syariat Islam secara kafah dalam naungan khilafah, hingga pasukan Muslim bisa dikirim ke Palestina untuk membebaskan Palestina kembali ke pangkuan Islam. Allahu a’alam bissawab.
- Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

