Sabtu, 17 Okt 2026
light_mode

Penghianat Diberi Hormat, Layakkah?

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 29 Okt 2021
  • print Cetak

Oleh: Nahdoh Fikriyyah Islam
Dosen dan Pengamat Politik

Penghianat! Munafik! Laknatullah alaihi! Itulah kata-kata yang layak disematkan kepada sosok Mustafa Kemal Attaturk. Namanya baru-baru ini menjadi viral karena rencana pemerintah menjadikan nama tersebut sebagai salah satu nama jalan di DKI. Alasannya, sebagai simbol kerjasama bilateral yang baik dan rasa hormat terhadap negara Turki.

Sayangnya, rencana penyematan nama Mustafa Kemal tersebut menuai kontroversi di Indonesia. Banyak yang menolak rencana tersebut. Karena sosok Mustafa Kemal Attaturk yang dikenal oleh umat Islam adalah penghianat yang telah menjadi agen penjajah Barat untuk mencabut penerapan syariat Islam secara kafah di muka bumi pada tahun 1924 di Istambul.

Karena banyak menuai protes atas kebijakan tersebut, kelihatannya pemerintah daerah DKI Jakarta mulai melunak dan kembali mempertimbangkan rencana tersebut. Seperti dilansir dalam tribunnews.com, bahwa Pemprov DKI Jakarta mengusulkan rencana penamaan jalan di kawasan Menteng, Jakarta Pusat diganti menjadi nama kota di Turki yakni Istanbul atau Ankara.

Salah satunya perlu digelarnya diskusi dengar pendapat dengan masyarakat jika nama yang diusulkan menimbulkan kontroversi. Diketahui, usai pemerintah Turki menamakan salah satu jalan di negaranya dengan nama Presiden RI pertama Soekarno, mereka mengusulkan nama Presiden pertamanya Mustafa Kemal Ataturk sebagai nama jalan di kawasan Menteng, Jakarta. Pengusulan nama Ataturk belakangan menuai prokontra karena tokoh Turki tersebut dinilai Islamophobia. Karena itu, Pemprov DKI dalam waktu dekat akan segera menggelar dengar pendapat dan forum diskusi bersama masyarakat.

Sebelum memutuskan suatu rencana, harusnya pemerintah terlebih dahulu berfikir matang-matang. Meskipun hanya sekedar menyematkan nama seseorang dalam penamaan suatu jalan, tetapi bukan berarti tidak penting. Sebab jalan tersebut akan selalu dilintasi oleh warga dan pastinya disebut-sebut. Ironisnya, nama yang diusulkan pun adalah nama sosok yang kontroversi dalam sejarah umat Islam.

Indonesia sebagai negeri mayoritas muslim tersebar di dunia tentunya banyak yang mengenal kisah sejarahnya. Apalagi di zaman yang sedang menuju kebangkitan Islam ini, kaum Muslim mulai mencari kebenaran beberapa fakta sejarah yang lama terkubur juga telah dikaburkan. Khususnya untuk nama Mustafa Kemal Attaturk. Bagi yang sudah tahu sepak terjangnya dalam perang dunia kedua dan menghapuskan benteng umat Islam sedunia, otomatis menolak nama tersebut dihormati dan diabadikan sebagai nama jalan di tanah kaum Muslim.

Sementara yang belum kenal, tentu akan mencari tahu kenapa banyak yang menolak nama Mustafa Kemal Attaturk disematkan menjadi salah satu nama jalan di Jakarta. Sehingga memunculkan geliat membongkar kembali kebenaran yang sebelumnya masyarakat tidak tahu. Di satu sisi, tanpa disadari pengusung telah memperkenalkan nama Mustafa Kemal kepada masyarakat Indonesia. Di sisi lain, justur membongkar memori kelam tahun 1924.

Nama Mustafa Kemal Attaturk atau dalam sejarah modern dikenal sebagai Bapak Modern Turki alias Tukri Sekuler adalah presiden pertama untuk negara yang dulunya disebut sebagai The Ottoman Empire. Salah satu state raksasa global yang disegani dunia beratus tahun lamanya. Kekuatan yang dimiliki mulai dari politik, pemerintahan, pendidikan, kesehatan, hingga militernya yang ditakuti hampir seluruh negara lain di luarnya. Lembaga militer “Jenissary” adalah lambang kebanggaan umat Islam saat itu.

Namun peristiwa menyakitkan itu tiba, tatkala satu nama mulai muncul yang bertepatan dengan perang dunia ke dua. Negara-negara Eropa Barat mulai bangkit dan berupaya menguasai dunia dengan trik gold, glory gospel juga politik belah bambunya. Eropa Barat memperkenalkan suatu bentuk kebangkitan semu dengan revolusi industri berideologikan sekuler-kapitalis. Lalu menyebarkannya ke seluruh dunia secara fisik maupun taktik politik.

Tidak terkecuali wilayah Istambul yang sekarang dikenal sebagai negeri Turki. Mustafa Kemal Attaturk adalah penyusup dari dalam tubuh militer Usmaniyah dan berpura-pura menjadi seorang muslim. Sosok munafik itu merupakan agen Inggris yang saat itu memimpin revolusi dunia menuju sekulerisme dan kapitalisme. Melalui kaki tangannya inilah, Inggris berhasil melumpuhkan Ottoman Empire atau kekhilafan Ustmani dari jantungnya, Istambul.

Persekongkolan meruntuhkan kekuasaan Ustamiyyah yang merupakan pusat kekuatan umat Islam sedunia saat itu, melahirkan negara kecil Turki Sekuler yang dipimpin presiden pertamanya adalah Mustafa Kemal Attaturk. Suatu hadiah yang diberikan oleh Inggris kepadanya karena telah berjasa besar dalam menyingkirkan kekuatan umat Islam dari politik dunia selamanya.

Harga mahal menjadi seorang presiden Mustafa Kemal Attaturk harus dibayar dengan pertumpahan darah dan banyak penghianatan penguasa-penguasa boneka di dunia Islam. Mulai dari Palestina, Suriah, Mesir, Lebanon, Tunisia, Yaman, Afghanistan, Pakistan, Kahsmir, Turkistan, Malaysia hingga Indonesia. Lalu, layakkah sosok penghianat seperti Mustafa Kemal Attaturk diberi rasa hormat menjadi nama sebuah jalan? Di negeri muslim lagi! Naudzubillah min zaalik.

Penghianatan terhadap umat Islam dan syariat Allah adalah dosa yang sangat besar. Akibat perbuatan munafik si Laknatullah, kaum Muslim lebih dari 90 tahun sudah mengalami penderitaan yang seolah-olah tidak berkesudahan. Semua kaum Muslim di negeri ini harus sepakat dan kompak menolak penyematan nama jalan atas nama Mustafa Kemal Attaturk. Allahu a’alam bissawab.

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tahun Ini, Arus Mudik Lebaran Turun 50 Persen

    Tahun Ini, Arus Mudik Lebaran Turun 50 Persen

    • calendar_month Rabu, 14 Agt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Jumlah arus mudik lebaran ke Mandailing Natal (Madina) tahun ini turun sekitar 50 persen dibanding lebaran tahun lalu. Demikian diungkapkan Wakil Ketua Organisasi Angkutan Daerah (Organda) Madina, Palit Nasution menjawab wartawan, Rabu (14/8/2013) di panyabungan. Palit mengatakan, jika melihat dari lebaran tahun kemarin, tiga hari lebaran para pengusaha angkutan telah disibukkan […]

  • Guru bukan lagi panggilan jiwa

    Guru bukan lagi panggilan jiwa

    • calendar_month Selasa, 27 Nov 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN, (MO) – Guru di Sumatera Utara masih banyak yang menjadikan prefesi gurunya hanya sebagai pekerjaan biasa yang tidak berdasarkan panggilan jiwa untuk memberikan pengetahuan kepada siswa. “Menurut saya masih banyak guru di Sumut bukan berdasarkan panggilan jiwa,” kata Rektor UISU kampus Al-Munawwarah, Zulkarnain Lubis kepada Wasada Online, hari ini. Dia menilai guru yang mengajar […]

  • Desa Wisata Pastap Julu Capai Target Vaksinasi

    Desa Wisata Pastap Julu Capai Target Vaksinasi

    • calendar_month Sabtu, 20 Nov 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    TAMBANGAN (Mandailing Online) – Desa Pastap Julu Kecamatan Tambangan Kabupaten Mandailing Natal (Madina) berhasil menuntaskan vaksinasi di atas 75 % dosis I dan II. Desa ini telah bejuang lama memperoleh status desa tujuan wisata sehingga hard immunity (kekebalan kelompok) sangat mempengaruhi bagi daya dukung kunjungan wisatawan. Keberhasilan tercapai oleh kesolidan lintas sektor meliputi Pemerintah Desa […]

  • ARONDUK – Kearifan Lokal Dengan Banyak Nilai

    ARONDUK – Kearifan Lokal Dengan Banyak Nilai

    • calendar_month Kamis, 22 Sep 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Safar Harian Soleh Anggota Forum Komunikasi Pendidik Mandailing Natal Mandailing kekinian, dikenal sebagai wilayah yang menyebar hampir di sepanjang Sungai (Batang) Gadis, sebagai bagian dari wilayah Tapanuli Bagian Selatan Provinsi Sumatera Utara. Orang yang mendiami daerah ini dikenal dengan sebutan bangsa Mandailing, yang sangat kental dengan keislamannya. Suku ini memiliki ikatan darah, nasab, bahasa, […]

  • DEBAT PILKADA MADINA MINIM SUBTANSI

    DEBAT PILKADA MADINA MINIM SUBTANSI

    • calendar_month Rabu, 18 Nov 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh : Ali Isnandar, SH Penggiat HAM di KontraS Sumut Dalam  rangka  menyelenggarakan  Pilkada  2020,  KPUD  Madina  memfasilitasi  Debat  Publik Calon Bupati dan Wakil Bupati Madina Tahun 2020 dengan Tema “Menyelesaikan Persoalan Daerah,  Memajukan  Daerah,  dan  Menanggulangi  Covid-19”  yang  telah  dilaksanakan  pada Jumat, (13/11/20) lalu di Convention Hall Pia Hotel, Pandan, Tapanuli Tengah serta disiarkan […]

  • Hindari Pemuda Dari Narkoba, Warga Harapkan Pembangunan Lapangan Sepakbola

    Hindari Pemuda Dari Narkoba, Warga Harapkan Pembangunan Lapangan Sepakbola

    • calendar_month Senin, 6 Mar 2017
    • account_circle webmaster
    • 0Komentar

    Panyabungan, 6/3 (Mandailing Online) –  Untuk mengantisipasi para pemuda  terhadap penggunaan narkoba, warga desa Rantonatas kecamatan Panyabungan Timur, Kabupaten Mandailing Natal harapkan pembangunan lapangan sepak bola. Harapan itu disampaikan oleh warga masyarakat desa itu kepada pada Dprd Kabupaten Mandailing Demokrat, Dodi Martua Tanjung, S.Pi pada reses I tahun  2017  beberapa hari yang lalu. Selain itu […]

expand_less