Selasa, 20 Okt 2026
light_mode

Gerep Institute dan Tawaran MEP (Bukan MOVE!) untuk Madina

  • account_circle M. Ludfan Nasution
  • calendar_month Senin, 20 Jul 2026
  • print Cetak

Sebuah Percikan Pemikiran untuk Menguatkan Ekosistem Bandara AH Nasution

Oleh: Muhammad Ludfan Nasution
Pegiat di Gerep Institute

 

 

Ada sebuah pertanyaan sederhana yang mungkin perlu mulai kita diskusikan bersama:

Apakah Bandara Jenderal Besar Abdul Haris Nasution cukup hanya dibangun sebagai infrastruktur transportasi, atau harus dipikirkan sebagai pintu masuk menuju sebuah ekosistem ekonomi baru?

Pertanyaan inilah yang kemudian memunculkan sebuah percikan gagasan yang saya coba tawarkan untuk didiskusikan, baik di internal Gerep Institute maupun kepada publik yang memiliki kepedulian terhadap masa depan Mandailing Natal.

Namanya: Mandailing Experience Project (MEP)

Dan perlu ditegaskan sejak awal: MEP bukan MOVE! Jadi, tak perlu memunculkan kekhawatiran berlebihan.

Bukan gerakan politik. Bukan kendaraan kepentingan tertentu. Bukan pula sebuah program yang sudah diputuskan secara kelembagaan.

MEP masih merupakan sebuah gagasan yang sedang diuji, didiskusikan dan dipertajam.

Namun, gagasan besar sering kali memang bermula dari percikan kecil yang kemudian menemukan ruang dialog.

Menghubungkan Bandara dengan Masa Depan Kawasan

Kehadiran Bandara Jenderal Besar Abdul Haris Nasution, lebih-lebih setelah punya jadwal penerbangan tiga kali dalam satu pekan per 1 Agustus 2016, merupakan momentum penting bagi Mandailing Natal.

Tetapi sebuah bandara tidak otomatis menghadirkan kemajuan. Bandara hanyalah pintu.

Maka, pertanyaan berikutnya:

Apa, siapa dan bagaimana sesutu yang akan masuk melalui pintu tersebut?

Apakah hanya penumpang?

Atau juga mereka yang termasuk:

  • wisatawan;
  • investor;
  • pelaku usaha;
  • peneliti;
  • Mahasiswa dan pelajar;
  • komunitas; dan
  • peluang ekonomi baru?

Sebuah bandara akan hidup jika ada ekosistem yang membuat orang memiliki banyak alasan (sosial dan komersial) untuk datang.

Sedikit tentang Gerep Institute

Sebelum bicara tentang MEP, ada baiknya berkenalan lebih jauh dengan Gerep Institute (GI). Seperti layaknya komunitas yang melembaga, institusi nir-laba ini merupakan wadah berhimpun sejumlah aktivis sosial yang masing-masing punya latar belakang pengabdian masyarakat.

Gerep Institute merupakan lembaga kajian dan pengembangan masyarakat berbentuk perkumpulan berbadan hukum yang bergerak dalam bidang kajian sosial, budaya, pendidikan, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan kelembagaan lokal.

Gerep Institute hadir dengan pendekatan: Research – Empowerment – Partnership.

Yakni, menghubungkan pengetahuan, masyarakat dan kolaborasi untuk menghasilkan perubahan sosial yang berkelanjutan.

Kalau ditanya soal legalitas dan tata kelola, Gerep Institute memiliki struktur: 1) Dewan Pendiri dengan peran penjaga visi dan nilai dasar organisasi; 2) Dewan Pengarah yang memberikan arahan strategis dan pengembangan jaringan; dan 3) Dewan Pengurus untuk melaksanakan program dan kegiatan organisasi.

Untuk menjalankan misi-misinya, GI terbagi dalam tiga bidang. Pertama, Hubungan Masyarakat dan Lembaga dengan fokus kegiatan kemitraan; komunikasi publik; jaringan pemerintah; dan kerja sama eksternal.

Kedua, Bidang Kajian yang fokus pada penelitian: sosial; policy paper; dan dokumentasi.

Ketiga, Bidang Kebudayaan yang fokus pada pelestarian budaya; sejarah; tradisi; dan ekonomi budaya.

MEP: Dari Ide Wisata Menuju Ekosistem Pengalaman

Gagasan MEP lahir dari sebuah pemikiran sederhana:

Mandailing Natal memiliki begitu banyak potensi, tetapi masih membutuhkan penghubung.

Madina memiliki:

  • budaya Mandailing yang luhur dan kaya;
  • Gordang Sambilan, perkusi terbesar dunia;
  • Dalihan Na Tolu yang masih lestari;
  • Sejarah yang menyimpan kearifan;
  • kopi Mandailing yang mendunia dan melegenda;
  • kekayaan alam beraneka ragam;
  • desa-desa dengan karakter unik;
  • produk masyarakat yang cukup variatif.

Namun semua itu masih berjalan secara parsial.

Yang jelas, kaya potensi. Punya banyak aset. Tetapi, belum menjadi sebuah pengalaman yang terintegrasi.

Di sinilah MEP mencoba menawarkan pendekatan.

Bukan sekadar menjual tempat wisata. Tapi, juga menghadirkan pengalaman Mandailing.

Bandara Sebagai Pintu Masuk, Desa Sebagai Ruang Pengalaman

Bayangkan seorang wisatawan tiba di Bandara AH Nasution.

Ia tidak berhenti hanya pada perjalanan menuju kota.

Ia memiliki pilihan:

  • menikmati pengalaman budaya;
  • mengunjungi kampung tradisi;
  • menikmati kopi Mandailing dari sumbernya;
  • menjelajah alam;
  • belajar kehidupan masyarakat lokal;
  • membawa pulang produk UMKM.

Dalam konsep seperti ini, bandara menjadi pintu masuk. Desa menjadi ruang pengalaman. Dan, masyarakat menjadi pelaku utama.

Mengapa Ini Perlu Dibicarakan Gerep?

Sebagai lembaga kajian dan pengembangan masyarakat, Gerep Institute memiliki ruang untuk memikirkan isu-isu strategis daerah.

Karena pembangunan hari ini tidak cukup hanya dengan pembangunan fisik.

Dibutuhkan:

  • gagasan;
  • kajian;
  • jejaring;
  • model kolaborasi.

Karena itu, MEP perlu pertama-tama dibicarakan di internal Gerep:

Apakah gagasan ini relevan?

Apakah memiliki nilai strategis?

Apakah sesuai dengan visi kelembagaan?

Apakah dapat dikembangkan menjadi sebuah program nyata?

Semua pertanyaan itu membutuhkan ruang dialog.

Mengundang Percakapan Publik

Di sisi lain, gagasan besar tidak boleh hanya berhenti di ruang internal.

Karena masa depan Mandailing Natal adalah tanggung jawab bersama.

Pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, komunitas budaya, dan generasi muda perlu ikut memikirkan:

Bagaimana memanfaatkan momentum Bandara AH Nasution?

Bagaimana menjadikan konektivitas sebagai penggerak ekonomi?

Bagaimana membuat budaya dan alam menjadi sumber kesejahteraan masyarakat?

Pertanyaan Terbuka

Pada akhirnya, tulisan ini bukan pengumuman lahirnya sebuah program.

Ini adalah sebuah ajakan berpikir.

Apakah Mandailing membutuhkan sebuah platform yang menghubungkan budaya, alam, masyarakat, dan ekonomi?

Apakah Bandara AH Nasution membutuhkan ekosistem pendukung agar benar-benar menjadi pintu pertumbuhan?

Apakah kita siap mengubah potensi menjadi pengalaman bernilai?

Mungkin jawabannya perlu kita cari bersama.

Dan mungkin, dari percakapan-percakapan kecil hari ini, akan lahir sebuah gagasan besar untuk masa depan.

Itulah Mandailing Experience Project, MEP. Sebuah ide. Satu kemungkinan.

Sebuah percikan yang menunggu diuji oleh waktu dan kolaborasi. ***

 

  • Penulis: M. Ludfan Nasution
  • Editor: Dahlan Batubara

Rekomendasi Untuk Anda

  • Madina Darurat Narkoba, Korupsi dan Krisis Kepemimpinan

    Madina Darurat Narkoba, Korupsi dan Krisis Kepemimpinan

    • calendar_month Sabtu, 16 Apr 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Saat ini Indonesia darurat Narkoba. Khusus Madina merupakan salah satu produsen narkoba jenis Ganja, bak menanam padi, habis panen ditanam lagi. Beruntung jika yang manennya Badan Narkotika Nasional (BNN) bersama aparat TNI dan Kepolisian, hasil panen tidak sempat beredar, tapi yang berbahaya jika yang memanennya petani ganja itu sendiri. Itu diungkapkan […]

  • Alami Gizi Buruk, Balita di Sipolu-Polu Butuh Perhatian

    Alami Gizi Buruk, Balita di Sipolu-Polu Butuh Perhatian

    • calendar_month Rabu, 4 Okt 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN( Mandailing Online)-Muhammad Erkhan (10 bulan) balita pasangan dari Edi Sunardi dan Nurma Julia warga Jalan Abdul Malik Batang Gadis Vll, Kelurahan Sipolu polu, Mandailing Natal (Madina) hanya terbaring lemas akibat gizi buruk yang dideritanya. Kondisi bocah malang ini sendiri cukup memperihatinkan, sesekali balita terdengar menangis. karena kondisi gizi buruk yang dideritanya. ia hanya bisa […]

  • DPR sahkan UU Ormas

    DPR sahkan UU Ormas

    • calendar_month Rabu, 3 Jul 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 3Komentar

    Rapat paripurna DPR akhirnya mengesahkan RUU Ormas menjadi Undang-undang pada Selasa (02/07) siang, yang ditandai dukungan mayoritas fraksi-fraksi di DPR, kecuali F-PAN, Gerindra dan Hanura. “Enam fraksi, termasuk Demokrat, Golkar dan PDI-P, mendukung, tetapi tiga fraksi yakni F-PAN, Gerindra dan Hanura menolak,” kata wartawan BBC Indonesia, Arti Ekawati, yang melaporkan dari Gedung DPR, Selasa siang. […]

  • Kuasa Hukum Ali Makmur Nasution Ajukan PK, Minta Eksekusi Ditunda

    Kuasa Hukum Ali Makmur Nasution Ajukan PK, Minta Eksekusi Ditunda

    • calendar_month Jumat, 24 Jan 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Kuasa hukum Ali Makmur Nasution, Elsa Syarif meminta Kejaksaan Negeri Panyabungan menunda eksekusi hukuman terhadap Ali Makmur Nasution yang divonsi 2 tahun penjara oleh Mahkamah Agung. Permintaan penundaan eksekusi tersebut dikirim melalui surat nomor 012/ESL/1/2014 tanggal 20 Januari 2014. Sementara itu, Kajari Panyabungan, Satimin, SH melalui Kasi Intel, Muhammad Yusuf, SH […]

  • Bupati Madina Melindungi Koruptor, Langkah Keliru

    Bupati Madina Melindungi Koruptor, Langkah Keliru

    • calendar_month Senin, 8 Feb 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA (Mandailing Online) : Kebijakan bupati Madina menyurati polres untuk menangguhkan penahanan terhadap Kadis Perhubungan Madina Harlan Batubara tersangka korupsi, merupakan langkah keliru. “Seharusnya bupati bukan membuat surat permohonan penangguhan penahan, karena yang paling pas seharusnya bupati itu menonaktifkan Kadishub,” kata pengacara DR.H.Razman Arif Nasution, SH, S.Ag. MA (PHD) yang dilansir surat kabar Malintang Pos […]

  • Bulan Pebruari Diperkirakan Puncak Ekstrim Penghujan

    Bulan Pebruari Diperkirakan Puncak Ekstrim Penghujan

    • calendar_month Sabtu, 7 Des 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Puncak ekstrim curah hujan diperkirakan berada pada bulan Pebruari 2014. Penduduk Mandailing Natal (Madina) yang berdomisili di bantaran sungai dihimbau untuk selalu waspada. Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Madina, Zulkhairi Pulungan Sabtu (7/12/2013) menjawab wartawan menyatakan pemkab melalui SK Bupati Madina Nomor 360/579/K/2013 telah penatapan siaga darurat bencana alam dari […]

expand_less