Habluminallah Vs Habluminannas, Kesenjangan Antara Kesalehan Ritual dan Kesalehan Moral-Sosial
- account_circle Susanti Hasibuan, MA.Hum
- calendar_month 1 menit yang lalu
- print Cetak

Penulis: Susanti Hasibuan, MA.Hum
Dosen Prodi Manajemen Dakwah
STAIN Mandailing Natal
Secara Bahasa habluminllah merupakan hubungan vertikal antara manusia dengan Allah, hubungan ini sifatnya lurus tegak yang menghubungkan langsung antara hamba dengan peciptanya, sedangkan habluminannas adalah hubungan horizontal antara manusia dengan manusia lainnya.
Selama ini, kita beranggapan bahwa jika hubungan manusia dengan Allah baik, yang tercermin dalam ritual ibadah seperti solat, puasa, zakat dan lain-lain, maka secara otomatis hubungan manusia tersebut juga akan baik dengan manusia lainnya. Kalau habluminallah sudah baik, maka habluminannasnya juga baik.
Sayangnya hal tersebut tidak menjadi serta merta, faktanya hubungan antara manusia dengan Tuhan sebagai penciptanya baik, belum tentu hubungannya dengan manusia menjadi otomatis baik. Sama seperti halnya dalam kehidupan sosial, beberapa manusia ditemukan bahwa ibadahnya baik, solat puasa dan zakatnya baik, namun masih melakukan kejahatan-kejahatan sosial yang melibatkan manusia, seperti korupsi, berzina, menipu orang, zolim dan kurang berempati terhadap kesulitan orang lain.
Nyatanya hubungan antara manusia dengan Tuhannya serta hubungan manusia dengan manusia lainnya adalah dua hal berbeda, dua hubungan yang berbeda. Dasar pemahaman yang melandasinya juga berbeda. Hubungan antara manusia dengan Tuhannya adalah hubungan yang dibangun karena azas kebutuhan yaitu penghambaan terhadap sang pencipta. Hubungan ini hadir dari rasa butuh terhadap sesuatu yang lebih kuat dan memiliki kuasa.
Sedangkan hubungan antara manusia dengan manusia lainnya meskipun lebih natural, namun disisipi ego sosial. Adanya keinginan mendominasi, keinginan terlihat lebih baik dibanding dengan yang lain, adanya keserakahan dan kerakusan pada kesenangan dunia.
Sebegitu besarnya ego sosial yang tertanam dalam diri manusia, sehingga tidak dapat diakomodir dan ditaklukkan meski dengan cinta kepada Tuhan sebagai pencipta.
Bisa jadi hal tersebut dikarenakan hubungan cinta kepada sang Khalik sebagai pencipta tidak terrefleksikan dengan baik dalam kehidupan sosial antara manusia. Ritual ibadah yang dibangun manusia untuk mengkukuhkan cinta yang vertikal ternyata masih sekedar ritual fisik saja, tidak benar-benar terinternalisasi dalam diri yang tercermin dalam kehidupan sosial. Maka dalam Surah Al-ma’un Allah menyebutkan kata “kedustaan agama” kepada orang-orang yang beriman, namun masih menghardik anak yatim, mengabaikan solat, tidak memberi makan pada anak yatim, berbuat riya dan enggan memberikan pertolongan.
Dengan kata lain: kesalehan tidak cukup diukur dari intensitas ibadah ritual, tetapi juga dari sejauh mana keberadaan seseorang memberikan manfaat bagi orang lain. Karena jika ritual agama dilaksanakan hanya sebagai rutinitas belaka, bukan menjadi wahana bertransformasi diri maka kesolehan sosial tidak akan benar- benar terwujud. Karena kesalehan ritual harus berbanding lurus dengan kesalehan moral sosial.
Terima Kasih.
- Penulis: Susanti Hasibuan, MA.Hum
- Editor: Dahlan Batubara




