Minggu, 19 Jul 2026
light_mode

Bulang Manuk dan Bulang Pusako Bulang Tonun: Identitas Mandailing yang Hampir Terlupakan di Era Digital

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month 11 menit yang lalu
  • print Cetak

Bulang Manuk, Bulang Pusako Mandailing, Bulan Tonun

Oleh: Dina Syarifah Nasution, M.Pd

….

Di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan media sosial, sebuah budaya akan semakin dikenal apabila semakin sering diperlihatkan kepada publik. Hari ini, media sosial bukan hanya menjadi tempat berbagi foto dan video, tetapi juga telah menjadi salah satu tolok ukur bagaimana sebuah peradaban dikenali oleh masyarakat luas. Apa yang sering muncul akan semakin dikenal, sedangkan yang jarang diperlihatkan perlahan akan terlupakan.

Fenomena inilah yang sedang terjadi pada salah satu warisan budaya Mandailing, yaitu Bulang Manuk dan Bulang Pusako serta Bulang Tonun. Sangat disayangkan, banyak generasi muda Mandailing, terutama generasi Milenial dan Gen Z, yang belum mengetahui bahwa Mandailing memiliki ragam bulang yang begitu indah dan khas. Sebagian besar hanya mengenal Bulang Lima Tingkat dan Bulang Tujuh Tingkat, padahal di balik kekayaan budaya Mandailing masih terdapat bentuk-bentuk bulang lain yang memiliki nilai estetika, filosofi, dan identitas yang sangat kuat.

Bulang Manuk dan Bulang Pusako serta Bulang Tonun merupakan mahkota adat perempuan Mandailing yang tampil lebih sederhana, namun memiliki karakter artistik yang sangat tinggi. Kesederhanaannya justru menjadi kekuatan visual yang memperlihatkan keanggunan perempuan Mandailing tanpa menghilangkan nilai adat yang diwariskan oleh para leluhur. Bentuknya yang unik menunjukkan bahwa masyarakat Mandailing sejak dahulu telah memiliki cita rasa seni yang tinggi dalam merancang busana adat.

Secara sejarah, Mandailing merupakan bagian dari wilayah budaya Tapanuli Selatan. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila terdapat banyak kesamaan dalam berbagai unsur adat, termasuk bentuk bulang yang digunakan oleh kaum perempuan. Bulang yang selama ini dikenal dan digunakan secara luas merupakan bagian dari warisan budaya yang tumbuh dan berkembang dalam ruang budaya yang sama. Akan tetapi, di balik kesamaan tersebut, Mandailing memiliki kekayaan yang menjadi identitas tersendiri. Leluhur Mandailing telah mewariskan bentuk bulang yang lebih khas dan memiliki ciri yang membedakannya dari daerah lain, yaitu Bulang Manuk dan Bulang Pusako serta Bulang Tonun.

Bulang Manuk bukan sekadar hiasan kepala. Bentuk, susunan, dan filosofinya mencerminkan jati diri perempuan Mandailing yang anggun, tangguh, serta memiliki martabat. Demikian pula Bulang Pusako serta Bulang Tonun yang menjadi simbol warisan leluhur, mengandung nilai penghormatan terhadap adat, keluarga, dan kesinambungan budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sayangnya, seiring berjalannya waktu, keberadaan Bulang Manuk dan Bulang Pusako serta Bulang Tonun semakin jarang dikenal, terutama oleh generasi milenial dan Generasi Z. Bahkan tidak sedikit yang mengira bahwa bulang bertingkat yang populer saat ini adalah satu-satunya bulang yang dimiliki masyarakat Mandailing. Padahal, jauh sebelum bentuk bulang yang kini memasyarakat, leluhur telah mengenal dan menggunakan Bulang Manuk serta Bulang Pusako dan Bulang Tonun sebagai identitas khas perempuan Mandailing.

Tentu, tulisan ini bukan untuk mempertentangkan atau menggantikan bulang yang saat ini telah diterima dan digunakan secara luas. Bulang yang kita kenal hari ini tetap merupakan bagian dari kekayaan budaya yang patut dihormati dan dilestarikan. Namun, di saat yang sama, kita juga memiliki tanggung jawab moral untuk menghidupkan kembali ingatan kolektif terhadap bulang khas Mandailing agar tidak hilang ditelan zaman.

Melestarikan budaya bukan berarti menolak perkembangan, melainkan memastikan bahwa identitas asli tidak ikut terlupakan. Kita boleh mengenakan bulang yang hari ini telah menjadi bagian dari tradisi masyarakat, tetapi jangan sampai melupakan Bulang Manuk dan Bulang Pusako sebagai warisan khas yang membedakan Mandailing dari daerah lainnya. Budaya akan tetap hidup apabila dikenali, dipelajari, digunakan, dan diwariskan. Sebaliknya, budaya akan perlahan menghilang ketika generasi penerus tidak lagi mengetahui bahwa warisan tersebut pernah ada.

 

Gambar 1: (Foto kiri) Bulang Manuk dipakai mempelai pengantin zaman dulu. (Foto kanan) Bulang Manuk dipakai oleh Zivanna Letisha Siregar Putri Indonesia 2008 di Jakarta 2016.

 

Gambar 2: Bulang Pusako si dua, di Mandailing Julu. Ada inanta dan nenek di foto ini sebagai pelaku sejarah.

 

Gambar 2: Perempuan baju hitam Bulang Pusako Mandailing, hampir sama dengan sunting pesisir Muara Batang Gadis (perempuan baju orange). Sunting Pesisir Natal (perempuan baju merah jambu)

 

Gambar 4: (foto kiri) Bulang Tonun Mandailing. (Foto kanan) dari kain tenun lengkap dengan aksessoris bunga bunga dan daun daun. (direstorasi AI)

Karena itu, ketika suatu hari ada yang bertanya, “Yang mana Bulang Mandailing?” maka jawaban yang bijaksana adalah: “Sebagai bagian dari sejarah budaya Tapanuli Selatan, Mandailing memiliki bulang yang sama dengan wilayah budaya sekitarnya. Namun, Mandailing juga mempunyai identitas khas yang diwariskan leluhur, yaitu Bulang Manuk dan Bulang Pusako Bulang Tonun. Inilah kekayaan budaya yang harus kita kenal, kita banggakan, dan kita lestarikan bersama.” Mengenal sejarah bukan untuk membedakan, tetapi untuk memahami akar budaya sendiri. Sebab masyarakat yang besar bukanlah masyarakat yang melupakan warisan leluhurnya, melainkan masyarakat yang mampu menjaga identitasnya sambil tetap menghargai persaudaraan budaya dengan daerah lain.

Sayangnya, dokumentasi mengenai Bulang Manuk dan Bulang Pusako masih sangat terbatas. Akibatnya, generasi muda lebih akrab dengan bentuk-bentuk bulang yang lebih sering ditampilkan dalam berbagai kegiatan budaya maupun di media sosial. Kondisi ini menyebabkan sebagian masyarakat bahkan mulai mempertanyakan, “Sebenarnya, bulang khas Mandailing itu yang mana?”

Pertanyaan tersebut sering memunculkan perdebatan di media sosial. Tidak sedikit warganet yang menganggap bulang yang selama ini populer merupakan representasi tunggal dari budaya Mandailing. Padahal, secara sejarah, wilayah Mandailing memang pernah menjadi bagian dari Tapanuli Selatan. Hubungan sejarah tersebut tidak dapat dipisahkan. Namun demikian, dalam perkembangan kebudayaannya, masyarakat Mandailing juga memiliki kekhasan tersendiri, termasuk dalam ragam pakaian adat dan bentuk bulang yang berkembang di tengah masyarakat.

Perbedaan tersebut bukanlah alasan untuk dipertentangkan, melainkan kekayaan budaya yang perlu dipahami melalui kajian sejarah, adat, dan dokumentasi yang baik. Mengakui adanya ciri khas Mandailing bukan berarti menafikan hubungan sejarah dengan Tapanuli Selatan, tetapi justru menunjukkan bahwa setiap daerah memiliki proses perkembangan budaya yang melahirkan identitasnya masing-masing.

Oleh karena itu, sudah saatnya masyarakat Mandailing, khususnya generasi muda, mulai memperkenalkan kembali Bulang Manuk dan Bulang Pusako serta Bulang Tonun kepada publik. Semakin banyak foto, video, tulisan, penelitian, hingga karya kreatif yang menampilkan kedua bulang tersebut, semakin besar pula peluang masyarakat Indonesia bahkan dunia untuk mengenalnya sebagai bagian dari identitas budaya Mandailing. Pelestarian budaya di era digital tidak lagi cukup dilakukan melalui museum atau acara adat semata. Setiap unggahan di media sosial sesungguhnya adalah bentuk dokumentasi sejarah. Setiap foto yang dibagikan, setiap artikel yang ditulis, dan setiap video yang diunggah menjadi jejak digital yang akan membantu memperkenalkan budaya Mandailing kepada generasi berikutnya.

Generasi Milenial dan Gen Z memiliki peran yang sangat besar dalam misi ini. Mereka adalah generasi yang hidup berdampingan dengan teknologi, sehingga mampu menjadikan media sosial sebagai ruang pelestarian budaya. Ketika Bulang Manuk dan Bulang Pusako serta Bulang Tonun  semakin sering muncul di berbagai platform digital, masyarakat akan mulai mengenalnya, mencarinya, mempelajarinya, bahkan bangga menggunakannya dalam berbagai kesempatan. Melestarikan budaya bukan hanya menjaga benda warisan, tetapi juga menjaga ingatan kolektif sebuah masyarakat. Jangan sampai suatu hari nanti kita hanya mengenal nama Bulang Manuk dan Bulang Pusako serta Bulang Tonun melalui cerita, tanpa pernah melihatnya dikenakan oleh generasi Mandailing sendiri.

Karena sesungguhnya, budaya yang terus diperkenalkan akan tetap hidup. Sebaliknya, budaya yang berhenti diceritakan perlahan akan hilang dari ingatan. Maka, mari kita perkenalkan Bulang Manuk dan Bulang Pusako bulang tonun seluas-luasnya, agar dunia mengetahui bahwa Mandailing memiliki kekayaan busana adat yang khas, artistik, dan menjadi bagian penting dari jati diri masyarakatnya. ***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bupati Madina Minta Asisten Tuntaskan Kasus Kantor Kepdes Saba Jambu

    Bupati Madina Minta Asisten Tuntaskan Kasus Kantor Kepdes Saba Jambu

    • calendar_month Selasa, 17 Agt 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Bupati Mandailing Natal (Madina), Jakfar Sukhairi Nasution meminta penuntasan status hukum kantor kepala desa Saba Jambu, Kecamatan Panyabungan. Bupati pada Selasa (17/8/2021) di Saba Jambu usai penyerahan BLT-DD, meminta Asisten I, Alamulhaq Daulay untuk sesegera mungkin melakukan langkah-langkah. Pembangunan gedung itu belum dapat dilanjutkan alias terbengkalai karena tersandung kasus hukum sejak […]

  • Bimtek Desa di Luar Daerah Mubazir

    Bimtek Desa di Luar Daerah Mubazir

    • calendar_month Jumat, 21 Jun 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) : DPRD Mandailing Natal (Madina) mendesak agar pelaksanaan Bimtek aparat desa dilakukan di Madina. Sebab, jika di luar daerah seperti Medan, hanya akan memperbanyak dana keluar alias banyak menguras dana mubazir. Itu dikatakan Wakil Ketua Komisi IV DPRD Madina, Suhandi Lubis menjawab wartawan di gedung dewan terkait hasil Rapat Dengar Pendapat (RDP) […]

  • Jembatan Gantung Desa Kampung Baru Madina Ambruk

    Jembatan Gantung Desa Kampung Baru Madina Ambruk

    • calendar_month Jumat, 3 Feb 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan. Jembatan gantung yang melintasi Sungai Batang Gadis, di Desa Kampung Baru, Kecamatan Panyabungan Utara, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), ambruk. Penyebabnya luapan air Sungai Batang Gadis di akhir tahun 2011 lalu. Akibatnya, warga di lima desa di seberang sungai kesulitan beraktivitas seperti sekolah dan bekerja. Jembatan gantung sepanjang 110 meter dengan lebar sekitar satu meter […]

  • DPRD Madina Minta Menunda Bayar Ekskalasi Harga Pekerjaan Mesjid Agung

    DPRD Madina Minta Menunda Bayar Ekskalasi Harga Pekerjaan Mesjid Agung

    • calendar_month Jumat, 15 Nov 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 3Komentar

    Foto masjid agung Nur Ala Nur, Panyabungan PANYABUNGAN (Mandailing Online) – DPRD Mandailing Natal (Madina) meminta Pemkab Madina menunda pembayaran ekskalasi harga kepada rekanan pekerjaan lanjutan pembangunan mesjid agung Nur Ala Nur sebelum ada upaya hukum yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah. Karena dana yang diperintahkan pangadilan yang harus dibayar oleh Pemkab Madina tak tanggung-tanggung, yakni […]

  • Warga Kurang Mampu, Janda dan Lansia di Huta Lombang Lubis Terima Jatah BLT DD Tahap II

    Warga Kurang Mampu, Janda dan Lansia di Huta Lombang Lubis Terima Jatah BLT DD Tahap II

    • calendar_month Senin, 17 Jul 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN ( Mandailing Online )- Bantuan berupa uang tunai itu dibagikan kepada warga desa sesuai dengan yang terdaftar sebagai Keluarga Penerima Manfaat (KPM). ada 46 warga Desa Huta Lombang Lubis Kecamatan Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal (Madina) yang terdaftar dan hari ini senin 17/7/2023 menerima Bantuan Langsung Tunai (BLT) tahap II tahun 2023. Abdul Haris Lubis […]

  • 20% Pelamar CPNS Absen

    20% Pelamar CPNS Absen

    • calendar_month Rabu, 22 Des 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Berkas Ujian soal CPNS Pemko Medan dan lembar jawaban yang tersisa telah dimusnahkan agar masyarakat yakin Seleksi CPNS Pemko Medan benar-benar bersih dan transparan. Demikian dikatakan Kepala Badan Kepegawaian Daerah Kota Medan Lahum Lubis kepada wartawan di Medan, Kamis (16/12/2010). Menurutnya, jumlah peserta ujian CPNS Kota Medan yang tidak ikut tes sebanyak 3.707 peserta. Mereka […]

expand_less