MENUJU TAPSEL YANG LEBIH TANGGUH (Bagian 3 – selesai)
- account_circle Ludfan Nasution
- calendar_month 7 menit yang lalu
- print Cetak
Lari Full Speed, Tapsel Membangun Selesai
Membaca Visi Gus Irawan dan Mimpi Membalik “Tak Pernah Selesai”
Oleh: Ludfan Nasution
Koordinator Mandailing Epicentrum

Ada satu ungkapan satir lama yang menarik untuk dikenang ketika berbicara tentang pembangunan Tapanuli Selatan.
Tapsel pernah dipelesetkan dalam anekdot sebagai “tak pernah selesai.”
Ungkapan itu tentu bukan ukuran ilmiah tentang pembangunan sebuah daerah.
Tetapi sebagai satire sosial, ia menyimpan pesan: ada pekerjaan-pekerjaan pembangunan yang terasa terlalu lama, ada persoalan yang berulang, dan ada ekspektasi masyarakat yang tidak selalu menemukan titik tuntas.
Kini waktunya membalik anekdot itu.
Bukan dengan membantahnya.
Tetapi dengan membuktikan sebaliknya.
Dan di sinilah visi pembangunan yang dibawa Bupati Tapanuli Selatan, H. Gus Irawan Pasaribu, menjadi menarik untuk dibaca.
Meloncat dari Recovery
Kalau dua gagasan sebelumnya kita rangkai, sebenarnya ada satu alur besar.
Pertama, Gus Irawan mendorong Tapsel melihat bencana bukan sekadar sebagai kerusakan yang harus dipulihkan, tetapi sebagai momentum membangun resilience.
Kedua, ia melihat konservasi Batang Toru tidak cukup berhenti pada perlindungan ekosistem. Ada peluang ekonomi hijau—termasuk carbon credit—yang dapat memberi nilai ekonomi kepada kelestarian.
Maka tahap berikutnya logis:
kalau fondasi semakin kuat dan peluang semakin terbuka, Tapsel harus berlari.
Full speed.
Tetapi berlari dengan arah.
Arti “Selesai Membangun”?
Ini pertanyaan penting.
Selesai membangun bukan berarti seluruh pembangunan Tapsel suatu hari akan berhenti.
Tidak mungkin.
Daerah akan selalu berkembang.
Kebutuhan akan selalu berubah.
Teknologi akan terus bergerak.
Generasi baru akan selalu membawa tuntutan baru.
Maka “selesai” harus dimaknai secara lebih substantif.
Selesai mengerjakan pekerjaan rumah yang memang harus diselesaikan.
Jalan yang menjadi penghambat ekonomi dibangun.
Jembatan yang mengisolasi masyarakat diselesaikan.
Irigasi yang mengganggu produktivitas diperbaiki.
Pelayanan publik dibenahi.
Kawasan ekonomi dikembangkan.
Pertanian dinaikkan produktivitasnya.
UMKM diperkuat.
Lapangan kerja diperluas.
Dan yang paling penting:
masyarakat naik kelas.
Ukurannya Bukan Beton
Pembangunan memang membutuhkan beton.
Membutuhkan jalan.
Membutuhkan jembatan.
Membutuhkan gedung.
Membutuhkan jaringan listrik dan internet.
Tetapi beton bukan tujuan.
Ia hanya alat.
Tujuan akhirnya adalah manusia.
Karena itu, “Tapsel Membangun Selesai” harus diukur dari pertanyaan yang sangat sederhana:
Apakah masyarakat lebih sejahtera?
Apakah pendapatan meningkat?
Apakah petani lebih produktif?
Apakah anak muda memperoleh pekerjaan yang layak?
Apakah UMKM tumbuh?
Apakah desa semakin kuat?
Apakah kemiskinan menurun?
Apakah pelayanan publik semakin mudah?
Apakah investasi menghasilkan manfaat lokal?
Apakah lingkungan tetap terjaga?
Kalau jawabannya semakin banyak “ya”, maka Tapsel sedang menuju pembangunan yang selesai dalam pengertian substantif.
Full Speed: Semua Bergerak
Tetapi satu hal harus diakui:
Bupati tidak mungkin berlari sendirian.
Gagasan besar Gus Irawan hanya akan menjadi visi pemerintah kalau berhenti di meja pemerintah.
Ia akan menjadi visi Tapsel kalau menjadi agenda bersama.
Pemerintah pusat harus ikut.
Pemerintah Provinsi Sumatera Utara harus ikut.
DPRD harus ikut.
Perguruan tinggi harus ikut.
Dunia usaha harus ikut.
Perbankan dan lembaga pembiayaan harus ikut.
NGO dan komunitas harus ikut.
Diaspora Tapsel harus ikut.
Dan masyarakat harus menjadi pelaku utama.
Sebab daerah tidak dibangun oleh seorang kepala daerah.
Kepala daerah memberi arah; seluruh ekosistem pembangunan yang membuat arah itu menjadi kenyataan.
Membalik Sejarah Persepsi
Di sinilah anekdot “tak pernah selesai” memperoleh makna baru.
Mungkin Tapsel tidak perlu lagi sibuk menjelaskan bahwa anekdot itu keliru.
Biarkan sejarah pembangunan yang menjawab.
Jika jalan selesai.
Jika konektivitas selesai.
Jika pertanian naik kelas.
Jika investasi menghasilkan pekerjaan.
Jika desa berkembang.
Jika Batang Toru tetap lestari.
Jika ekonomi karbon memberi manfaat kepada masyarakat.
Jika pendapatan masyarakat meningkat.
Jika anak muda memiliki alasan untuk membangun masa depan di daerahnya sendiri—
maka anekdot itu akan kehilangan relevansinya dengan sendirinya.
Karena masyarakat telah melihat kenyataan baru.
Tapsel: Selesai Membangun
Ini yang perlu ditegaskan.
“Membangun selesai” bukan berarti Tapsel berhenti membangun.
Justru sebaliknya.
Ia berarti Tapsel berhasil menyelesaikan satu fase sejarah pembangunan dan siap memasuki fase berikutnya.
Dari daerah yang sibuk mengejar ketertinggalan menjadi daerah yang mampu menciptakan keunggulan.
Dari sekadar memulihkan bencana menjadi daerah yang tangguh.
Dari sekadar memiliki hutan menjadi daerah yang mampu mengubah aset ekologis menjadi ekonomi hijau.
Dari sekadar membangun infrastruktur menjadi daerah yang membangun kesejahteraan.
Dan dari berjalan pelan — lari full speed.
Kalau Gus Irawan ingin membawa Tapsel ke arah itu, maka tantangannya sekarang bukan lagi bagaimana menyampaikan visi.
Visinya sudah mulai terdengar.
Tantangannya adalah bagaimana membuat visi itu menjadi desain kebijakan, proyek nyata, investasi, kolaborasi dan—pada akhirnya—hasil yang dirasakan masyarakat.
Di situlah seluruh stakeholder Tapsel harus mengambil bagian.
Karena Tapsel bukan milik Bupatinya.
Tapsel milik masyarakatnya.
Tetapi sebuah daerah memang membutuhkan pemimpin yang berani mengatakan:
“Kita punya arah. Mari kita bergerak.”
Dan mungkin inilah saatnya Tapsel membalik anekdot lama itu.
Dulu: “tak pernah selesai.”
Kini: Tapsel Membangun Selesai.
Pekerjaan rampung.
Masyarakat sejahtera.
Ekonomi naik kelas.
Alam tetap terjaga.
Dan setelah itu?
Bukan berhenti.
Tetapi berlari lebih jauh.
Full speed, Tapsel.
- Penulis: Ludfan Nasution
- Editor: Dahlan Batubara

