Jumat, 11 Sep 2026
light_mode

MENUJU TAPSEL YANG LEBIH TANGGUH (Bagian 3 – selesai)

  • account_circle Ludfan Nasution
  • calendar_month Kamis, 13 Agt 2026
  • print Cetak

Lari Full Speed, Tapsel Membangun Selesai

Membaca Visi Gus Irawan dan Mimpi Membalik “Tak Pernah Selesai”

 

Oleh: Ludfan Nasution
Koordinator Mandailing Epicentrum

 

Ada satu ungkapan satir lama yang menarik untuk dikenang ketika berbicara tentang pembangunan Tapanuli Selatan.

Tapsel pernah dipelesetkan dalam anekdot sebagai “tak pernah selesai.”

Ungkapan itu tentu bukan ukuran ilmiah tentang pembangunan sebuah daerah.

Tetapi sebagai satire sosial, ia menyimpan pesan: ada pekerjaan-pekerjaan pembangunan yang terasa terlalu lama, ada persoalan yang berulang, dan ada ekspektasi masyarakat yang tidak selalu menemukan titik tuntas.

Kini waktunya membalik anekdot itu.

Bukan dengan membantahnya.

Tetapi dengan membuktikan sebaliknya.

Dan di sinilah visi pembangunan yang dibawa Bupati Tapanuli Selatan, H. Gus Irawan Pasaribu, menjadi menarik untuk dibaca.

 

Meloncat dari Recovery

Kalau dua gagasan sebelumnya kita rangkai, sebenarnya ada satu alur besar.

Pertama, Gus Irawan mendorong Tapsel melihat bencana bukan sekadar sebagai kerusakan yang harus dipulihkan, tetapi sebagai momentum membangun resilience.

Kedua, ia melihat konservasi Batang Toru tidak cukup berhenti pada perlindungan ekosistem. Ada peluang ekonomi hijau—termasuk carbon credit—yang dapat memberi nilai ekonomi kepada kelestarian.

Maka tahap berikutnya logis:

kalau fondasi semakin kuat dan peluang semakin terbuka, Tapsel harus berlari.

Full speed.

Tetapi berlari dengan arah.

 

Arti “Selesai Membangun”?

Ini pertanyaan penting.

Selesai membangun bukan berarti seluruh pembangunan Tapsel suatu hari akan berhenti.

Tidak mungkin.

Daerah akan selalu berkembang.

Kebutuhan akan selalu berubah.

Teknologi akan terus bergerak.

Generasi baru akan selalu membawa tuntutan baru.

Maka “selesai” harus dimaknai secara lebih substantif.

Selesai mengerjakan pekerjaan rumah yang memang harus diselesaikan.

Jalan yang menjadi penghambat ekonomi dibangun.

Jembatan yang mengisolasi masyarakat diselesaikan.

Irigasi yang mengganggu produktivitas diperbaiki.

Pelayanan publik dibenahi.

Kawasan ekonomi dikembangkan.

Pertanian dinaikkan produktivitasnya.

UMKM diperkuat.

Lapangan kerja diperluas.

Dan yang paling penting:

masyarakat naik kelas.

 

Ukurannya Bukan Beton

Pembangunan memang membutuhkan beton.

Membutuhkan jalan.

Membutuhkan jembatan.

Membutuhkan gedung.

Membutuhkan jaringan listrik dan internet.

Tetapi beton bukan tujuan.

Ia hanya alat.

Tujuan akhirnya adalah manusia.

Karena itu, “Tapsel Membangun Selesai” harus diukur dari pertanyaan yang sangat sederhana:

Apakah masyarakat lebih sejahtera?

Apakah pendapatan meningkat?

Apakah petani lebih produktif?

Apakah anak muda memperoleh pekerjaan yang layak?

Apakah UMKM tumbuh?

Apakah desa semakin kuat?

Apakah kemiskinan menurun?

Apakah pelayanan publik semakin mudah?

Apakah investasi menghasilkan manfaat lokal?

Apakah lingkungan tetap terjaga?

Kalau jawabannya semakin banyak “ya”, maka Tapsel sedang menuju pembangunan yang selesai dalam pengertian substantif.

 

Full Speed: Semua Bergerak

Tetapi satu hal harus diakui:

Bupati tidak mungkin berlari sendirian.

Gagasan besar Gus Irawan hanya akan menjadi visi pemerintah kalau berhenti di meja pemerintah.

Ia akan menjadi visi Tapsel kalau menjadi agenda bersama.

Pemerintah pusat harus ikut.

Pemerintah Provinsi Sumatera Utara harus ikut.

DPRD harus ikut.

Perguruan tinggi harus ikut.

Dunia usaha harus ikut.

Perbankan dan lembaga pembiayaan harus ikut.

NGO dan komunitas harus ikut.

Diaspora Tapsel harus ikut.

Dan masyarakat harus menjadi pelaku utama.

Sebab daerah tidak dibangun oleh seorang kepala daerah.

Kepala daerah memberi arah; seluruh ekosistem pembangunan yang membuat arah itu menjadi kenyataan.

 

Membalik Sejarah Persepsi

Di sinilah anekdot “tak pernah selesai” memperoleh makna baru.

Mungkin Tapsel tidak perlu lagi sibuk menjelaskan bahwa anekdot itu keliru.

Biarkan sejarah pembangunan yang menjawab.

Jika jalan selesai.

Jika konektivitas selesai.

Jika pertanian naik kelas.

Jika investasi menghasilkan pekerjaan.

Jika desa berkembang.

Jika Batang Toru tetap lestari.

Jika ekonomi karbon memberi manfaat kepada masyarakat.

Jika pendapatan masyarakat meningkat.

Jika anak muda memiliki alasan untuk membangun masa depan di daerahnya sendiri—

maka anekdot itu akan kehilangan relevansinya dengan sendirinya.

Karena masyarakat telah melihat kenyataan baru.

 

Tapsel: Selesai Membangun

Ini yang perlu ditegaskan.

“Membangun selesai” bukan berarti Tapsel berhenti membangun.

Justru sebaliknya.

Ia berarti Tapsel berhasil menyelesaikan satu fase sejarah pembangunan dan siap memasuki fase berikutnya.

Dari daerah yang sibuk mengejar ketertinggalan menjadi daerah yang mampu menciptakan keunggulan.

Dari sekadar memulihkan bencana menjadi daerah yang tangguh.

Dari sekadar memiliki hutan menjadi daerah yang mampu mengubah aset ekologis menjadi ekonomi hijau.

Dari sekadar membangun infrastruktur menjadi daerah yang membangun kesejahteraan.

Dan dari berjalan pelan — lari full speed.

Kalau Gus Irawan ingin membawa Tapsel ke arah itu, maka tantangannya sekarang bukan lagi bagaimana menyampaikan visi.

Visinya sudah mulai terdengar.

Tantangannya adalah bagaimana membuat visi itu menjadi desain kebijakan, proyek nyata, investasi, kolaborasi dan—pada akhirnya—hasil yang dirasakan masyarakat.

Di situlah seluruh stakeholder Tapsel harus mengambil bagian.

Karena Tapsel bukan milik Bupatinya.

Tapsel milik masyarakatnya.

Tetapi sebuah daerah memang membutuhkan pemimpin yang berani mengatakan:

“Kita punya arah. Mari kita bergerak.”

Dan mungkin inilah saatnya Tapsel membalik anekdot lama itu.

Dulu: “tak pernah selesai.”

Kini: Tapsel Membangun Selesai.

Pekerjaan rampung.

Masyarakat sejahtera.

Ekonomi naik kelas.

Alam tetap terjaga.

Dan setelah itu?

Bukan berhenti.

Tetapi berlari lebih jauh.

Full speed, Tapsel.

 

  • Penulis: Ludfan Nasution
  • Editor: Dahlan Batubara

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tim Gabungan BNNK Madina Temukan 1,5 Ha Ladang Ganja

    Tim Gabungan BNNK Madina Temukan 1,5 Ha Ladang Ganja

    • calendar_month Selasa, 5 Sep 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN ( Mandailing Online )- Badan Narkotika Nasional Kabupaten ( BNNK ) Mandailing Natal( Madina ) menemukan ladang ganja seluas 1,5 hektar diwilayah tor sihite, Desa Rao Rao Dolok, Kecamatan Tambangan Selasa 5/9/2023. Pada Mandailing Online, Kepala BNNK Madina AKBP. Eddy Mashuri Nasution mengatakan, penemuan ladang ganja 1,5 hektar itu berada di ketinggian 800 MDPL. […]

  • Marhata-Hata Dalam Upacara Marhorja di Nagari Kota Nopan, Rao Utara, Pasaman (1)

    Marhata-Hata Dalam Upacara Marhorja di Nagari Kota Nopan, Rao Utara, Pasaman (1)

    • calendar_month Kamis, 1 Okt 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Pendahuluan Pada hakikatnya sastra lisan merupakan bagian dari suatu kebudayaan yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun secara lisan sebagai milik bersama. Menurut Louis (dalam Sudikan, 2001:3) ada tiga unsur pokok suatu kebudayaan, yaitu: (1) Isi yang berupa pola perilaku sosial gaya yang menyatakan sesuatu dan cara memahami sesuatu benda yang diwariskan; […]

  • Ribuan Batang Ganja Dibakar

    Ribuan Batang Ganja Dibakar

    • calendar_month Senin, 24 Jan 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MADINA-METRO; Kepolisian Resort Mandailing Natal (Madina) memusnahkan barang bukti ribuan batang ganja yang kasusnya telah selesai diproses tahun 2010. Pemusnahan barang haram tersebut dilakukan di halaman Mapolres Madina di Desa Mompang Julu, Kecamatan Panyabungan, Jumat (21/1) (f:metro/ridwan lubis) Kapolres Madina AKBP Hirbak Wahyu Setiawan, Ketua PN Panyabungan Irwan Efendi SH dan Muspida plus saat memusnahkan […]

  • Tim Offroad Harun-Ichwan Dicurhati Warga Desa Ranto Panjang. Warga Sepakati Coblos nomor 1 di Pilkada Madina

    Tim Offroad Harun-Ichwan Dicurhati Warga Desa Ranto Panjang. Warga Sepakati Coblos nomor 1 di Pilkada Madina

    • calendar_month Sabtu, 9 Nov 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    Rantobaek ( Mandailing Online ): Pagi pagi tim relawan Ofroad paslon 1 Harun-Ichwan mendatangi warung kopi di desa Ranto Panjang, Kecamatan Ranto Baek, Kabupaten Mandailing Natal ( Madina ). Bertemu dengan tokoh masyarakat dan warga, tim Harun-Ichwan itu curhati. ” kami didesa ini sudah berkali kali usulkan ke Pemkab Madina agar jalan tembus Madinanke Sumbar […]

  • Pastikan Pekerjaan Baik, PUPR Madina Tinjaun Pekerjaan Jalan Maga- Tanobato

    Pastikan Pekerjaan Baik, PUPR Madina Tinjaun Pekerjaan Jalan Maga- Tanobato

    • calendar_month Selasa, 2 Jul 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    MADINA-Mandailing Online : Pastikan proyek pekerjaan ruas jalan maga -tanobato, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penata Ruang (PUPR) Kabupaten Mandailing Natal (Madina) Elpiyanti Harahap turun kelapangan. Senin (1/7/24). Elpiyanti menerangkan pengerjaan ini terdiri dari dua sumberdana, dimana segmen yang pertama pembangunan ruas Tanobato – Purba Julu menggunakan Dana Alokasi Khusus (DAK) senilai 1,7 Miliar tahun […]

  • Ringan Langkah, Bupati Madina Hadiri Peringatan Maulid Nabi Muhammad di Aek Galoga

    Ringan Langkah, Bupati Madina Hadiri Peringatan Maulid Nabi Muhammad di Aek Galoga

    • calendar_month Minggu, 24 Okt 2021
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    AEK GALOGA (Mandailing Online) – Di tengah kesibukan sebagai orang nomor satu di Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal, H. M. Ja’far Sukhairi Nasution masih meringankan langkah memenuhi undangan peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw di Aek Galoga, Panyabungan, Minggu (24/10). Bupati Madina hadir di pelataran Masjid Al-Abshor Aek Galoga didampingi beberapa pejabat di lingkungan Pemkab Madina. Kehadiran […]

expand_less