MENUJU TAPSEL YANG LEBIH TANGGUH (Bagian 2 dari 3 Tulisan)
- account_circle Ludfan Nasution
- calendar_month 14 menit yang lalu
- print Cetak
Meloncat dengan Carbon Credit
Membaca Gagasan Gus Irawan tentang Ekonomi Hijau Batangtoru
Oleh: Ludfan Nasution
Koordinator Mandailing Epicentrum

Ada satu bagian dari pernyataan Bupati Tapanuli Selatan, H. Gus Irawan Pasaribu, yang layak diberi perhatian lebih jauh.
Gus Irawan tidak ingin konservasi Batang Toru berhenti pada urusan menjaga ekosistem dan keanekaragaman hayati.
Ia menyebut sejumlah kemungkinan ekonomi berkelanjutan: hasil hutan bukan kayu, pertanian ramah lingkungan, ekowisata, jasa lingkungan, carbon credit, dan berbagai potensi ekonomi hijau lainnya.
Ini menarik.
Karena dengan pernyataan tersebut, Batang Toru mulai dibaca bukan hanya sebagai warisan ekologis, tetapi juga sebagai modal ekonomi masa depan.
Dan dari sinilah pertanyaan besar muncul:
Bisakah Tapanuli Selatan meloncat dengan carbon credit?
Hutan Bukan Lagi Sekadar Kawasan yang Harus Dijaga
Selama ini konservasi sering dipahami melalui bahasa larangan.
Jangan menebang.
Jangan membuka kawasan.
Jangan merusak.
Jangan mengganggu habitat.
Semua larangan tersebut penting.
Tetapi masyarakat juga hidup dari ekonomi.
Mereka membutuhkan pendapatan.
Mereka membutuhkan pekerjaan.
Mereka membutuhkan kepastian masa depan.
Karena itu, tantangan terbesar konservasi bukan sekadar membuat aturan agar hutan tidak rusak.
Tantangannya adalah membuat masyarakat memperoleh alasan ekonomi untuk mempertahankan kelestarian hutan.
Di sinilah gagasan ekonomi hijau yang disampaikan Gus Irawan menjadi relevan.
Kalau hutan menghasilkan jasa lingkungan, mengapa jasa tersebut tidak diberi nilai?
Kalau hutan menyimpan karbon, mengapa karbon tidak menjadi salah satu sumber nilai ekonomi?
Kalau ekosistem Batang Toru menjadi daya tarik wisata, mengapa masyarakat sekitar tidak menjadi bagian dari rantai ekonominya?
Pertanyaan-pertanyaan ini membawa kita pada paradigma baru.
Carbon Credit: Peluang Besar, Pekerjaan Rumah Besar
Tetapi di sini pula kritik tipis perlu diletakkan.
Carbon credit tidak otomatis menjadi kesejahteraan.
Ia membutuhkan sistem.
Harus ada pengukuran.
Harus ada metodologi.
Harus ada verifikasi.
Harus ada kelembagaan.
Harus ada kepastian hukum.
Harus ada pasar.
Dan yang paling penting:
harus ada mekanisme pembagian manfaat yang adil.
Sebab ketika karbon menjadi komoditas, pertanyaan tentang siapa yang menerima manfaat tidak boleh datang belakangan.
Ia harus dirancang sejak awal.
Hutan dijaga oleh siapa?
Karbon dihitung oleh siapa?
Kredit diterbitkan melalui mekanisme apa?
Siapa yang membeli?
Siapa yang menerima pembayaran?
Berapa bagian masyarakat?
Berapa bagian pengelola?
Bagaimana transparansinya?
Dan bagaimana memastikan bahwa manfaat ekonomi tersebut benar-benar memperkuat konservasi?
Masyarakat Jangan Hanya Mendapat Tugas Menjaga
Inilah titik paling sensitif.
Jangan sampai masyarakat sekitar Batang Toru mendapatkan tugas konservasi, tetapi tidak mendapatkan manfaat ekonomi konservasi.
Masyarakat diminta menjaga hutan.
Masyarakat diminta tidak membuka kawasan.
Masyarakat diminta menyesuaikan aktivitas ekonominya.
Tetapi ketika hutan menghasilkan nilai karbon, masyarakat justru berada di luar meja pembagian manfaat.
Itu tentu bukan model ekonomi hijau yang ideal.
Karena itu, jika gagasan Gus Irawan tentang carbon credit hendak dikembangkan, salah satu agenda pentingnya adalah membangun model benefit sharing yang jelas.
Masyarakat harus menjadi bagian dari rantai nilai.
Bukan sekadar objek konservasi.
Tapsel Memiliki Peluang yang Tidak Kecil
Di sinilah visi Gus Irawan layak didorong lebih jauh.
Tapsel memiliki bentang alam yang bernilai.
Memiliki kawasan hutan.
Memiliki biodiversitas.
Memiliki masyarakat yang memiliki pengetahuan lokal.
Memiliki potensi pertanian.
Memiliki peluang ekowisata.
Dan memiliki kemungkinan mengembangkan berbagai jasa lingkungan.
Jika semua itu dirajut dalam satu ekosistem ekonomi, maka konservasi dapat menjadi bagian dari strategi pembangunan.
Bukan hambatan pembangunan.
Justru menjadi modal pembangunan.
Tapsel bisa bergerak dari paradigma:
“hutan harus dijaga agar tidak rusak”
menuju:
“hutan dijaga karena kelestariannya menghasilkan nilai ekologis dan ekonomi yang dinikmati bersama.”
Itulah lompatan paradigmatik yang sesungguhnya.
Gus Irawan Sedang Membuka Pintu
Karena itu, penyebutan carbon credit oleh Gus Irawan jangan dibaca sebagai sekadar istilah dalam sebuah pidato.
Ia bisa menjadi pintu masuk menuju agenda yang lebih besar:
ekonomi Tapsel berbasis aset ekologis.
Tetapi pintu itu hanya akan menjadi jalan menuju masa depan kalau segera diikuti kerja teknis dan kelembagaan.
Di sinilah akademisi, pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dunia usaha, lembaga keuangan, NGO dan masyarakat harus duduk bersama.
Bukan untuk sekadar membicarakan carbon credit.
Tetapi untuk merancang:
siapa melakukan apa, siapa mendapat apa, dan bagaimana hutan tetap lestari.
Kalau itu berhasil, maka Batang Toru tidak hanya dijaga untuk generasi mendatang.
Ia juga dapat membantu generasi sekarang membangun kesejahteraan.
Tapsel tidak perlu memilih antara hijau dan maju.
Tapsel bisa maju karena hijau.
Dan jika dikelola dengan benar, carbon credit bukan sekadar instrumen pasar.
Ia bisa menjadi salah satu tangga untuk meloncat.
Meloncat menuju ekonomi Tapsel yang lebih modern, lebih berkelanjutan, dan lebih berkeadilan. (bersambung)
- Penulis: Ludfan Nasution
- Editor: Dahlan Batubara

