33 Tahun IKANAS: Merajut Budaya, Mengabdi untuk Bangsa
- account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
- calendar_month 3 jam yang lalu
- print Cetak

Oleh: Moechtar Nasution
Penggiat GEREP INSTITUTE (Pusat Kajian Mandailing Natal) / Ketua Harian DPC Khusus IKANAS Madina
Pendahuluan
Bagi masyarakat adat Mandailing, silsilah bukanlah sekadar deretan nama di atas kertas usang, melainkan sebuah kompas hidup yang menunjukkan dari mana kita berasal dan ke mana langkah kaki harus diayunkan. Ikatan darah dan marga adalah jangkar yang menjaga manusia agar tidak hanyut di tengah badai zaman. Kesadaran kolektif inilah yang tiga puluh tiga tahun lalu, tepatnya pada 18 Juli 1993, melahirkan Ikatan Keluarga Nasution Dohot Anak Boruna (IKANAS). Kini, di usia tiga dekade lebih, perkumpulan kekeluargaan ini telah tumbuh melampaui batas-batas paguyuban biasa. Ia telah menjelma menjadi sebuah gerakan sosial yang konsisten menyuntikkan kontribusi nyata bagi pembangunan nasional, membuktikan bahwa ikatan silsilah bisa menjadi modal sosial untuk mengabdi pada negeri.
Menjaga sebuah organisasi kultural agar tetap hidup dan relevan selama tiga puluh tiga tahun tentu bukan perkara gampang. Kekuatannya terletak pada filosofi leluhur yang terus dirawat sebagai batin organisasi. IKANAS bergerak dengan memegang teguh semboyan adat yaitu “Ulang Songon Gunting Bola-Bola, Tai Jadima Songon Jait Domu-Domu”. Pesan mendalam ini mengingatkan setiap keturunan Nasution agar tidak menjadi seperti gunting yang membelah dan memisahkan, melainkan harus menjadi seperti jarum jahit yang menyatukan kembali apa yang koyak. Di tengah dinamika bangsa yang sering kali terpolarisasi, prinsip menjadi “penjahit sosial” inilah yang membuat IKANAS mampu berdiri kokoh sebagai wadah pemersatu yang independen, merangkul semua golongan tanpa kehilangan jati diri budayanya.
Panggilan Sejarah Pengabdian
Nadi pengabdian IKANAS juga terus berdenyut karena panggilan sejarah dan terinspirasi oleh keteladanan para tokoh besar marga Nasution yang sejarahnya telah tercatat dengan tinta emas di dalam sanubari Republik Indonesia. Kita tidak bisa melupakan bagaimana Sati Nasution atau Willem Iskander berjuang memajukan pendidikan di tanah Mandailing sejak zaman kolonial, atau bagaimana ketegasan Jenderal Besar Dr. A.H. Nasution dalam merumuskan strategi militer serta mempertahankan ideologi negara. Ada pula Sutan Mohammad Amin Nasution yang ikut menggoreskan sejarah dalam Sumpah Pemuda hingga dipercaya menjadi Gubernur Sumatra Utara yang pertama.
Bahkan, jejak kepahlawanan marga ini diukir lewat pengorbanan darah yang teramat mahal seperti kisah seorang putra Nasution dengan nama lengkapnya Dr. Mr. Masdulhak Hamonangan Nasution gelar Sutan Oloan yang mengabdi setia sebagai sekretaris Mohammad Hatta pada masa mempertahankan kemerdekaan. Dengan gagah berani berdiri mengawal sang proklamator hingga akhirnya gugur ditembak mati oleh peluru kolonial Belanda. Warisan keteladanan dan pengorbanan tak ternilai inilah yang menjadi beban moral sekaligus bahan bakar spiritual bagi generasi IKANAS hari ini untuk tidak sekadar bangga pada masa lalu, melainkan tertantang untuk membuat karya nyata di masa kini.
Di tingkat akar rumput, pengabdian itu diterjemahkan ke dalam aksi-aksi yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat. IKANAS tidak menutup mata terhadap realitas sosial dan lingkungan di daerah. Organisasi ini aktif mengambil peran sebagai mitra strategis pemerintah, mulai dari sektor pendidikan, penguatan ekonomi berbasis komunitas, hingga masalah kesehatan dan yang lainnya. Lewat kepengurusan pusat masa bakti 2026–2031 di bawah kepemimpinan H. Saipullah Nasution,SH, M.M, IKANAS berusaha memastikan bahwa kehadiran organisasi ini harus memberikan dampak ekonomi dan sosial yang instan dan nyata bagi warga di tingkat tapak.
Eksistensi ke Depan
Eksistensi IKANAS di tengah percaturan disrupsi hari ini tidak bisa lagi dipertahankan hanya dengan mengandalkan romantisme masa lalu. Dunia sedang bergeser dari era digitalisasi murni menuju era Society 5.0, sebuah tatanan di mana teknologi kecerdasan buatan, internet tingkat tinggi, dan robotika wajib dikawinkan secara humanis untuk menyelesaikan masalah nyata di tengah masyarakat. Bagi sebuah organisasi sosial-kultural seperti IKANAS, transisi zaman ini adalah sebuah ujian kelayakan. Kita tidak bisa lagi berjalan santai disebabkan dinamika disrupsi menghendaki adanya lompatan paradigma dan keberanian melahirkan inovasi radikal. Jika IKANAS terlambat mengambil lompatan ini, eksistensinya terancam menyusut menjadi sekadar paguyuban arisan keluarga yang usang dan kehilangan relevansinya di mata generasi masa depan.
Inovasi pertama yang mendesak untuk dilahirkan menurut saya adalah adanya digitalisasi silsilah dan database berbasis kompetensi (Smart Tarombo). Di era Society 5.0, sistem pendataan manual harus ditinggalkan. IKANAS berpeluang besar membangun platform digital terintegrasi yang tidak hanya mencatat silsilah darah keluarga besar Nasution di seluruh dunia, melainkan juga memetakan keahlian, profesi, dan bisnis yang mereka miliki. Dengan demikian, platform ini akan berfungsi sebagai ekosistem kolaborasi raksasa (network hub). Ketika seorang pemuda Nasution di pelosok daerah membutuhkan mentor bisnis, akses modal, atau keahlian di bidang teknologi, algoritma sistem ini dapat mempertemukannya langsung dengan para senior marga Nasution yang telah sukses di bidang tersebut. Sinergi ini akan mengubah ikatan emosional persaudaraan menjadi kekuatan ekonomi riil yang saling menguatkan.
Lompatan berikutnya harus menyasar pada modernisasi gerakan sosial dan filantropi. Penggalangan dana sosial konvensional harus bertransformasi menjadi sistem crowdfunding berbasis digital yang transparan dan akuntabel. Melalui inovasi ini, setiap program pengabdian masyarakat mulai dari beasiswa pendidikan untuk anak-anak berprestasi, bantuan hukum bagi warga yang termarginalkan, hingga pendanaan kesehatan darurat atau kegiatan sosial lainnya dikelola dengan manajemen modern yang profesional. Di sinilah esensi Society 5.0 bekerja: teknologi mutakhir digunakan bukan untuk menjauhkan manusia, melainkan untuk mempercepat respons kemanusiaan dan memperluas skala dampak sosial yang bisa dihasilkan oleh organisasi.
Namun, semua lompatan teknologi itu akan menjadi hampa jika kita melupakan modal terbesar yang dimiliki IKANAS, yaitu keunikan karakter manusianya (human-centric). Keunggulan utama era Society 5.0 justru terletak pada kemampuan menyelaraskan kecerdasan mesin dengan kebijaksanaan moral manusia. Di sinilah nilai-nilai Dalihan Na Tolu dan kearifan lokal Mandailing harus tetap diletakkan sebagai kemudi utama inovasi.
Di tengah belantara dunia maya yang kini sering kali bising oleh caci maki dan hilangnya etika, IKANAS harus menyuntikkan substansi penting yakni Digital Adab. Teknologi boleh berganti secepat kilat, cara kita berkomunikasi boleh pindah ke ruang digital, tetapi rasa hormat kepada yang lebih tua, kasih sayang kepada sesama, dan sikap bijak penuh kehati-hatian kepada yang setara harus menjadi algoritma berpikir dan bertingkah laku yang mutlak bagi setiap pengurus dan anggota IKANAS di dunia virtual.
Jaring Pengaman Sosial di Tengah Kompetisi Global
Ke depan, tantangan yang membentang di hadapan IKANAS dipastikan akan berlipatganda dan tingkat kerumitannya juga meningkat serta menjadi jauh lebih kompetitif. Kita berada pada titik persimpangan kritis di mana IKANAS tidak boleh lagi diposisikan, atau memosisikan dirinya sendiri sekadar sebagai paguyuban tempat berkumpul untuk melepaskan kerinduan kepada kampung halaman semata.
Organisasi ini harus berani bermetafosis menjadi sebuah institusi modern yang dikelola dengan manajemen mutakhir, namun denyut nadinya tetap mengalir lurus ke akar sejarah dan martabat luhur marga Nasution. Transformasi ini menjadi harga mati jika kita ingin memberikan kontribusi aktif yang berdampak langsung pada akselerasi pembangunan nasional.
Dalam catatan pinggirnya yang tajam, Goenawan Mohamad pernah melayangkan sebuah otopsi sosial yang sangat relevan untuk kita renungkan hari ini. Dia mengingatkan bahwa ketika sebuah organisasi mulai terlalu sibuk memikirkan struktur jabatan layaknya birokrasi yang dijejali dengan formalitas administratif maka bisa dipastikan wilayah kultural dan esensi pengabdiannya justru akan terpinggirkan. IKANAS tidak boleh membiarkan tesis itu menjadi kebenaran di tubuh organisasi ini.
Semangat pendirian IKANAS tiga puluh tiga tahun yang lalu justru menitikberatkan seluruh energinya pada wilayah pengabdian kultural-sosial yang nyata, bukan pada perebutan jabatan atau pengaruh di dalam struktur bagan organisasi. Institusi modern yang kita tuju bukanlah institusi yang gemuk oleh birokrasi, melainkan institusi yang lincah dan hadir sebagai jawaban atas persoalan riil warga pemilik marga Nasution ini.
Pengabdian kultural di era modern ini harus mewujud menjadi jaring pengaman sosial (social safety net) yang kokoh bagi setiap pemilik marga Nasution. Kebesaran IKANAS harus diukur dari seberapa jauh tangan organisasi ini mampu menjangkau mereka yang lemah. Di mana ada anak bermarga Nasution yang memiliki kecerdasan dan tekad namun langkahnya terhenti untuk melanjutkan mimpi ke bangku perguruan tinggi karena keterbatasan biaya, maka di situlah IKANAS harus hadir sebagai jawaban melalui sistem beasiswa. Di mana ada pemuda bermarga Nasution yang terombang-ambing di tengah ketatnya persaingan industri dan kesulitan mendapatkan pekerjaan, maka IKANAS wajib hadir memberikan solusi melalui jaringan inkubasi bisnis, pelatihan vokasional, serta penyaluran kerja terintegrasi antar-anggota. Begitu pula ketika ada keluarga Nasution yang terhimpit nasib hingga tidak mampu menikmati fasilitas kesehatan yang layak, di titik itulah lembaga sosial IKANAS harus turun tangan memastikan hak medis mereka terpenuhi dan yang lainnya.
Identitas Marga sebagai Lem Perekat NKRI
Ketika kita menakar keberadaan IKANAS dalam konstelasi gerakan sosial di Indonesia, menarik untuk membandingkannya dengan berbagai organisasi kemasyarakatan berbasis kesukuan atau marga yang tersebar luas di tanah air. Kita mengenal paguyuban masyarakat Jawa yang masif berbasis kultur gotong royong. Kita juga melihat kuatnya ikatan kerukunan warga Sunda melalui Paguyuban Pasundan yang menitikberatkan pergerakannya pada pilar kebudayaan dan pendidikan formal, serta masyarakat Minangkabau melalui Gebu Minang yang memiliki jaring ekonomi diaspora. Di rumpun Batak secara umum, ada ratusan punguan marga yang fokus utamanya menjaga garis keturunan silsilah teritorial.
Namun di sinilah letak keunikan sekaligus keunggulan komparatif IKANAS. Sementara organisasi berbasis kedaerahan sering kali bergerak dalam cakupan wilayah geografis yang luas, dan punguan marga lain sering kali berfokus pada ritus adat normatif, IKANAS berhasil memadukan kekuatan ikatan silsilah tunggal yang spesifik dengan manajemen organisasi modern berskala nasional. IKANAS mengawinkan kesetiaan darah adat dengan akuntabilitas kelembagaan profesional. Ini bukan lagi sekadar perkumpulan untuk menghadiri pesta pernikahan atau upacara kematian kerabat, melainkan transformasi dari ikatan emosional menjadi institusi solusi yang terukur.
Satu hal mendasar yang harus digarisbawahi dengan tebal bahwa bangkitnya identitas IKANAS belakangan ini bukanlah sebuah gerakan untuk mengagungkan primordialisme belaka. Ini bukan tentang kesombongan kesukuan yang kaku. Sebaliknya, dari rahim organisasi kultural seperti IKANAS inilah, banyak lahir lem perekat yang mengukuhkan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sejarah bangsa ini membuktikan bahwa Indonesia tidak dibangun dengan menghapus identitas kesukuan, melainkan dengan merajut perbedaan itu menjadi sebuah mosaik yang indah. Ketaatan marga Nasution pada falsafah hukum adat justru memperkuat kepatuhan mereka sebagai warga negara yang pancasialis.
Kapitalisasi Kepercayaan Buta di Tengah Krisis Kepercayaan Global
Namun jika kita mau menembus hingga ke lapisan substansi yang paling hakiki, esensi hari esok bagi IKANAS melampaui perbandingan sosiologis antar suku, bahkan melampaui urusan kedaulatan gerakan sipil. Tantangan terbesar kemanusiaan di abad ke-21 adalah apa yang disebut para sosiolog sebagai The Great Disruption yaitu runtuhnya pilar kepercayaan di tengah masyarakat modern (low-trust society). Di era kompetisi kapitalistik dan disrupsi digital hari ini hubungan antar-manusia menjadi sangat transaksional, dingin, dan penuh rasa curiga. Kita sulit memercayai komitmen bisnis, janji birokrasi, bahkan ketulusan orang di sekitar kita.
Di tengah kegelapan etika global inilah, ikatan silsilah marga seperti IKANAS memegang sebuah senjata rahasia yang tidak dimiliki oleh institusi modern mana pun yaitu Kepercayaan Melekat Bawaan Lahir (Inherent/Trust). Silsilah darah dan relasi anak boru adalah ruang di mana modal sosial berbentuk rasa saling percaya (social trust) sudah tersedia secara gratis, tanpa perlu dibeli atau dinegosiasikan. Ketika dua orang bermarga Nasution yang terpisah benua dan latar belakang sosial saling bertemu lalu menarik garis kekerabatan, dinding kecurigaan modern langsung luruh dalam hitungan detik. Ada garansi moral tak tertulis dari leluhur bahwa “kita adalah satu darah, dan kita tidak akan saling mengkhianati”.
Substansi pengabdian IKANAS ke depan adalah bagaimana mengonversi energi kepercayaan purba ini menjadi kapital riil untuk menyelamatkan warganya yang babak belur di dunia nyata. Rasa saling percaya bawaan lahir ini harus diwadahi secara profesional untuk membangun jaringan ekonomi bebas korupsi, ekosistem bisnis yang saling jujur, serta perlindungan kemanusiaan yang cepat.
Penutup
Kontribusi aktif IKANAS terhadap pembangunan nasional tidak akan pernah lahir dari ruang rapat yang membahas pembagian jabatan keorganisasian, melainkan dari keberhasilan kita menegakkan martabat manusia-manusia Nasution yang mandiri dan berdaya. Ketika institusi ini mampu melahirkan solusi konkrit bagi penuntasan masalah kemiskinan, kebodohan, dan kesehatan di tingkat internal warganya, secara otomatis IKANAS sedang meringankan beban pembangunan dan menyelamatkan satu pilar masa depan Republik Indonesia.
Inilah substansi tertinggi pengabdian budaya masa depan. Kita merawat masa lalu bukan untuk mengurungnya dalam museum kenangan, melainkan menggunakannya sebagai bahan bakar untuk memastikan bahwa setiap manusia yang memikul nama besar marga Nasution memiliki martabat hidup yang baik, berpendidikan tinggi, sehat, dan berdiri tegak sebagai pilar-pilar utama penggerak kemajuan Indonesia.
Pada akhirnya, tiga puluh tiga tahun perjalanan IKANAS adalah sebuah perayaan tentang konsistensi. Ia mengajarkan kepada kita bahwa merawat tradisi tidak berarti membuat kita berpaling dari modernisasi. Justru dengan berpijak kuat pada akar budaya dan ikatan persaudaraan yang kokoh, sebuah komunitas akan mampu melompat jauh ke depan untuk ikut memikirkan dan membangun masa depan bangsa.
Dirgahayu ke-33 IKANAS,
Teruslah menjadi jarum yang merajut persatuan dan mengabdi tanpa lelah demi kejayaan NKRI. Horas Tondi Madingin, Pir Toras Tondi Matogu…!! ***
- Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

