Minggu, 18 Okt 2026
light_mode

Gedung SMP Diserahkan kepada pemerintah

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Selasa, 8 Mar 2011
  • print Cetak


MADINA-
Gedung SMP Desa Muara Botung, Kecamatan Kotanopan, Kabupaten Mandailing Natal selama ini dibangun oleh praktisi hukum senior nasional, DR Todung Mulya Lubis SH LLM diserahkan kepada pemerintah. Acara tersebut di daerah tersebut, Senin (7/3).
Pejabat (Pj) Bupati Madina, Ir H Aspan Sofian Batubara MM dalam sambutanya mengatakan, penghargaan yang tinggi kepada seorang putra daerah Madina yang telah menjadi tokoh nasional dan telah memberikan kontribusi kepada daerahnya. Salahsatunya DR Todung Mulya Lubis sebagai atensi terhadap kondisi pendidikan masyarakat.
”Kami memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada Bapak DR Todung Mulya Lubis dengan memberikan perhatian kepada masyarakat terutama kondisi pendidikan di Madina, dan semoga bantuan ini menjadi motivasi dengan putra daerah lainnya,” sebut Aspan.
Dikatakannya, gedung SMP yang diinfaqkan Todung Mulya kepada Pemkab Madina ini karena proses penerimaan siswa baru Tahun Ajaran (TA) 2011-2012 telah dekat.
Sedangkan DR Todung Mulya Lubis SH LLM dalam sambutannya menyampaikan bahwa tujuan dibangunnya sekolah tersebut hanyalah untuk membantu masyarakat mempermudah proses pendidikan. Dikatakannya, bahwa pembangunan sekolah tersebut bagian kecil dari hutang terhadap bangsa dan kampung halamannya sendiri.
”Kita tak akan bisa membayar hutang terhadap bangsa ini, tetapi kita harus tetap berupaya untuk membayar hutang kita itu, melalui pembangunan sekolah ini. Semoga dengan pembangunan sekolah dan dikelola oleh Pemkab Madina bisa berguna demi pencerdasan kehidupan bangsa,” kata Todung Mulya yang diberi gelar Mangaraja Pinodungan Lubis.
Usai acara, panitia penyerahan gedung SMP tersebut melakukan lelang amal untuk perluasan lokasi sekolah yang akan dijadikan sebagai lapangan olah raga dan lainnya. Seluruh undangan yang hadir menyumbang sehingga terkumpulkan sebesar Rp 177 juta untuk pembayaran tanah 1.500 meter persegi.
Diakhir acara, DR Todung Mulya juga memberikan sejumlah buku karangan DR Todung Mulya Lubis untuk perluasan wawasan anak didik di Madina sekaligus bahan pendorong niat belajar yang baik bagi siswa. Tokoh perantau asal Madina yang berhasil seperti Ahli Kesehatan di Sumut, Prof DR Harun Rasyid Lubis, DR Sulthoni Lubis dan DR Rahim Lubis.
Dalam acara itu juga dihadiri oleh seluruh Muspida Plus dan muspika, tokoh-tokoh masyarakat Kabupaten Madina dari berbagai kecamatan serta lainnya. Dimana, sekolah tersebut sudah berdiri kokoh bersama mobuler didalamnya.
Setelah itu panandatanganan prasasti penyerahan gedung SMP berbiaya hampir Rp1 miliar, dengan 3 ruang belajar dan 1 ruang guru dan memiliki sarana pagar permanent. (wan//nik)
Sumber : Metrotabagsel

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Meraih Kemerdekaan Hakiki

    Meraih Kemerdekaan Hakiki

    • calendar_month Senin, 17 Agt 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Indonesia memang sudah 70 tahun merdeka dari penjajahan fisik (militer). Namun, sejak merdeka tahun 1945 dari penjajahan fisik (militer) hingga saat ini, sesungguhnya negeri ini masuk dalam perangkap penjajahan gaya baru, yakni penjajahan non-fisik (non-militer). Artinya, hingga kini Indonesia sesungguhnya masih terjajah dan belum sepenuhnya merdeka secara hakiki. Masih Terjajah Penjajahan (imperialisme) adalah politik […]

  • Ini Penjelasan Pemkab Madina Terkait Harga dan Regulasi Baru LPG 3kg

    Ini Penjelasan Pemkab Madina Terkait Harga dan Regulasi Baru LPG 3kg

    • calendar_month Selasa, 4 Jun 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Langkanya gas LPG 3kg masih jadi isu hangat di tengah masyarakat. Persoalan yang menjadi pemicu kelangkaan dan mahalnya harga terus menjadi sorotan. Kondisi itu diperparah ditemukannya oleh konsumen gas 3 kg isinya diperkirakan hanya 1 kg saja. ” Hanya 10 menitan saja pak, gas nya sudah habis, padahal saya baru beli […]

  • Warga Buang Sampah di Pinggir Jalinsum

    Warga Buang Sampah di Pinggir Jalinsum

    • calendar_month Selasa, 16 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIPIROK- Sejumlah warga di sekitar Aek Sulum Desa Marsada, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), membuang sampah di pinggir Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) Aek Sulum. Akibatnya, di beberapa titik terlihat tumpukan-tumpukan sampah. Ironinya, tempat pembuangan sampah liar itu berdekatan dengan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Aek Sulum yang anjlok sepanjang 50 meter dengan kedalaman sekitar 10 […]

  • Atika Tantang Pengusaha UMKM

    Atika Tantang Pengusaha UMKM

    • calendar_month Jumat, 5 Nov 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Wakil Bupati Madina, Atika Azmi Utammi Nasution menantang kalangan pengrajin/UMKM memproduksi besek. “Sebagai bentuk dukungan kepada pelaku UMKM di Mandailing Natal, saya menantang siapa saja dari masyarakat Madina yang mampu membuat besek seperti dalam foto ini,” kata Atika. Pembaca silahkan melihat foto-foto yang disertakan di dalam berita ini. Tantangan itu disampaikan […]

  • Pimpin Doa untuk Rakyat Palestina, Saipullah Menangis

    Pimpin Doa untuk Rakyat Palestina, Saipullah Menangis

    • calendar_month Sabtu, 5 Okt 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN TIMUR (Mandailing Online) – Calon bupati Mandailing Natal (Madina) nomor urut 2 H. Saipullah Nasution menangis saat memimpin doa agar Allah SWT memberi keselamatan kepada rakyat Palestina dari serangan Zionis Israel. Doa ini dipanjatkan dalam pengajian rutin yang diikuti 500-an jamaah di Masjid Roudhotul Mu’minin, Desa Pagur, Kecamatan Panyabungan Timur, Madina, Jumat (4/10/2024) sore. […]

  • MENGGAGAS WAJIB BELAJAR 15 TAHUN

    MENGGAGAS WAJIB BELAJAR 15 TAHUN

    • calendar_month Senin, 19 Agt 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh : Rahmad Daulay* Wajib Belajar 15 Tahun? Kenapa tidak. Utopis? Ya memang utopis. Tapi menurut saya realistis dengan syarat harus dilakukan dengan beberapa langkah progresif terukur dan sistematis. Dalam era digitalisasi sekarang ini yang dulunya tidak mungkin sekarang ini sudah menjadi mungkin terjadi. Semua pergerakan kebangsaan Indonesia harus merujuk kepada UUD 1945. Dalam bidang […]

expand_less