Kamis, 22 Okt 2026
light_mode

Diantara Kontaminasi Budaya Flexing dan Konten Negatif

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Sabtu, 25 Mar 2023
  • print Cetak

Oleh: Radayu Irawan, S.Pt
Penulis, tinggal di Padang Sidimpuan

Di era ini, eksistensi diri menjadi prioritas bagi kebanyakan individu. Hal ini dibuktikan dari menjamurnya konten-konten negatif yang berlagak kaya hingga konten membahayakan jiwa bahkan berujung maut. Seperti yang baru-baru ini terjadi.

Seorang wanita inisial W (21) di Bogor, ditemukan tewas tergantung di rumah kontrakannya di Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Menurut keterangan temannya, W saat itu sedang bikin konten gantung diri melalui panggilan video atau video call.

Sebelumnya W sedang melakukan panggilan video dengan teman-temannya. Saat itu W sempat menyebut hendak membuat konten gantung diri. Seutas kain melilit di lehernya.

Nahas, saat itu kursi pijakannya meleset sehingga W benar-benar tergantung. Menyaksikan hal itu via panggilan video, teman-teman W langsung mendatangi kediaman korban di Cibeber 1, Leuwiliang, Kabupaten Bogor. (Detik, 03/03/23)

Memang miris, maksud hati ingin membuat konten, ternyata maut lebih dahulu menghampiri wanita tersebut. Banyak faktor yang melatar belakangi hal tersebut bisa terjadi. Salah satunya bisa jadi terkontaminasi dengan budaya flexing.

Tidak sedikit masyarakat di era ini,  juga terkontaminasi budaya flexing. Yaitu kebiasaan seseorang untuk memamerkan apa yang dimilikinya di media sosial demi mendapat pengakuan dari orang lain.

Budaya flexing membuat pengidapnya ingin terus memamerkan apapun yang ia punya dan aktivitas apapun yang dia kerjakan. Misalnya saat ia sedang makan di cafe ternama, atau sedang jalan-jalan ke tempat-tempat mewah, atau sedang berbuat baik, atau hal apapun yang dapat membuat eksistensinya menjadi tinggi. Tak jarang membuat orang-orang yang tak memiliki uang ingin melakukan hal tersebut. Maka, bagi yang tak memiliki uang demi mendapat pengakuan dari orang lain, mereka akan membuat hal-hal yang aneh, agar dapat dikenal banyak orang.

Budaya ini akan menjadi penyakit di tengah-tengah masyarakat. Sejatinya  perilaku yang demikian menunjukkan perilaku yang rendah dari muncul dari taraf berpikir yang rendah. Yaitu taraf berpikir layaknya hewan, yang hanya memikirkan diri sendiri untuk bisa berkuasa dan eksis di komunitasnya. Hal ini bisa muncul akibat dari cara hidup atau paradigma tentang kehidupan yang salah. Tidak dipungkiri bahwa masyarakat saat ini dipengaruhi oleh cara pandang kehidupan sekularisme kapitalisme.

Paham sekularisme adalah paham yang memisahkan kehidupan dari agama ketika paham ini diambil atau diadopsi oleh mayoritas masyarakat. Maka, masyarakat tersebut tidak akan lagi memikirkan perbuatan mereka apakah sesuai petunjuk agama ataupun bertentangan. Perilaku mereka hanya dikendalikan oleh keinginan ataupun ego mereka sendiri. Sekularisme yang melahirkan ideologi kapitalisme, menjadikan asas manfaat atau keuntungan materi menjadi dasar perbuatan dalam kehidupan.

Mereka berbuat sesuai dengan manfaat yang akan mereka peroleh. Jika sesuatu itu tidak bermanfaat secara materi, hal tersebut tidak akan dilakukan. Nilai-nilai agama pun tidak menjadi pertimbangan. Misalnya jika konten yang telah mereka buat viral mereka akan mendapatkan pundi-pundi uang yang membuat mereka lebih senang dan eksistensi mereka lebih tinggi. Dan bilamana mereka sudah mencapai apa yang diinginkan mereka akan terus-menerus seperti itu bahkan akan membuat yang lebih, agar senantiasa terkenal.

Media saat ini juga memang sengaja didesain demikian agar para kapitalis bisa memasarkan produk-produk mereka. Media banyak diisi dengan iklan-iklan hidup mewah. Agar budaya konsumtif terus merasuki jiwa masyarakat sehingga produk-produk yang mereka tawarkan semakin laku dan para kapitalis akan terus mendapatkan keuntungan yang besar.

Karena itu budaya flexing terus dipelihara di tengah-tengah masyarakat dengan cara membuat mereka berperilaku hedon dan konsumtif. Inilah pangkal masalah muncul konten yang membahayakan nyawa dan atau budaya flexing yang semakin menggila. Maka dapat dikatakan bahwa sistem hari ini gagal menunjukkan kemuliaan manusia.

Akibat pengaruh sistem ini negara juga gagal menciptakan generasi yang memiliki karakter yang tinggi. Lembaga pendidikan saat ini justru semakin terkebak mengokohkan gaya hidup sekularisme kapitalisme. Pendidikan agama terus terminimalisir. Sedangkan pendidikan yang menunjang untuk meraih jabatan, kekuasaan, yang layak kerja sangat masif diberikan. Akibatnya para pemuda semakin terkikis rasa keimanannya dan orientasinya hanyalah materi semata.

Padahal dahulu, manusia pernah hidup dalam naungan yang memuliakan dan membuat mereka beradab. Sistem tersebut bernama Khilafah. Saat Khilafah pernah ada selama 1300 tahun, manusia hidup dalam peradaban yang mulia. Khilafah membuat warga negaranya memiliki taraf berpikir yang tinggi. Yang memiliki pemikiran bahwa dia adalah seorang Abdullah atau hamba Allah yang sudah sepantasnya beriman kepada Allah. Mindset seperti ini akan melahirkan kesadaran bahwa ia hidup  hanya untuk beribadah kepada Allah.

Sesuai dengan firman Allah SWT dalam Qs. Adz Dzariyat ayat 56 “Dan tidak aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada ku”.

Makna ibadah yakni taat kepada Allah, tunduk serta patuh kepada-nya serta terikat dengan aturan agama yang disyariatkan-nya. Sebagaimana tafsir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa beribadah kepadanya yaitu menaatinya dengan cara melakukan apa yang diperintahkannya dan meninggalkan apa yang dilarang. Itulah hakikat ajaran agama Islam.

Sebab makna Islam yakni menyerahkan diri kepada Allah ta’ala yang mengandung puncak ketundukan, perendahan diri dan kepatuhan. Karenanya manusia khususnya yang hidup dalam sistem negara Khilafah akan menjadikan orientasi hidupnya hanya untuk meraih ridho Allah. Mereka akan mengoptimalkan semua potensi yang dimiliki demi kemuliaan Islam dan kepentingan kaum muslimin.

Orientasi hidup yang demikian akan disuasanakan oleh Khilafah melalui sistem pendidikan sosial, masyarakat, media dan sistem lainnya.

Pendidikan Islam akan melahirkan generasi yang bersyaksiyah Islam, yaitu orang-orang yang memiliki pola pikir dan pola sikap Islam. Para pelajar atau generasi juga akan dibekali ilmu kehidupan agar mereka bisa menyelesaikan masalah diri mereka sendiri khususnya serta umat umumnya.

Melalui pendidikan islam, generasi akan sibuk melakukan inovasi dan pengembangan ilmu. Agar masyarakat semakin mudah untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Diperkokoh dengan kehidupan sosial masyarakat Daulah Khilafah yang berorientasi pada amar ma’ruf nahi mungkar (saling memberikan nasehat) dan saling tolong menolong. Orientasi seperti ini tidak akan membuat generasi terkontaminasi budaya flexing, pamer harta dan membuat konten-konten negatif.

Media juga didesain untuk mengedukasi seluruh warganya agar memahami syariat Islam secara sempurna, menambah pengetahuan ilmu sains, politik dalam dan luar negeri, serta tayangan-tayangan yang berfaedah lainnya. Sehingga masyarakat akan tersuasanakan dalam hal kebaikan seperti ke tawadhu-an, tidak pamer ataupun terkontaminasi budaya flexing. Konsep kehidupan dalam Khilafah inilah yang membuat manusia hidup dengan taraf berfikir yang tinggi yakni hidup untuk kemuliaan Islam.

Sehingga jika dikaitkan dengan kondisi saat ini yakni saat daulah khilafah belum terwujud. Maka konsekuensi seseorang yang memahami hakikat berkehidupannya hanyalah untuk beribadah kepada Allah maka dia akan berjuang untuk mengembalikan kembali kehidupan Islam dalam naungan khilafah. Wallahu A’lam Bishowab

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kronologi Menjelang Pembakaran Camp Sorikmas Mining

    Kronologi Menjelang Pembakaran Camp Sorikmas Mining

    • calendar_month Rabu, 11 Jul 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 4Komentar

    Panyabungan (MO) – Pembakaran camp PT. Sorikmas Mining (PT.SM) di perbukitan Sambung pada Sabtu (7/7) lalu tidak terlepas dari dinamika aktivitas warga yang melalukan penambangan emas tanpa izin (PETI) atau penambang liar di sana. Sejak pertengahan November 2011, warga penambang emas tanpa izin mulai menjamur mengambil batuan di wilayah kontrak karya (KK) PT.SM di perbukitan […]

  • Bupati Hadiri Zikir di HUT Madina

    Bupati Hadiri Zikir di HUT Madina

    • calendar_month Rabu, 5 Mar 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Zikir – Plt Bupati Madina, Dahlan Hasan Nasution diapit tokoh masyarakat Ismail Lubis (Oji Atas) dan ustaz Mahyudin sebelum memulai kegiatan zikir. Seribuan kaum muslimin dan muslimat melakukan zikir dan do’a di halaman masjid agung Nur Ala Mur, Panyabungan dalam rangka menyongsong Milad Kabupaten Mandailing Natal (Madina) 1998-2014 yang jatuh pada 9 Maret 2014. (foto: […]

  • Wakil Bupati Target Renegosiasi KK Sorikmas Mining 1 Bulan Kelar

    Wakil Bupati Target Renegosiasi KK Sorikmas Mining 1 Bulan Kelar

    • calendar_month Jumat, 18 Okt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 2Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Wakil Bupati Mandailing Natal (Madina) menarget tahapan renegosiasi kontrak karya PT. Sorikmas Mining (PT.SM) tuntas dalam satu bulan ini. “Masyarakat bersabarlah, saya yakin dalam satu bulan ini akan tuntas semua, sesuai dengan tahapan-tahapan yang saya lalui di kementerian, dan juga pendekatan-pendekatan saya terhadap manajemen Sorikmas Mining,” katanya. Itu dikatakan Dahlan Hasan […]

  • Bandara AH Nasution: Momentum Kebangkitan Tabagsel Menuju Daerah Maju

    Bandara AH Nasution: Momentum Kebangkitan Tabagsel Menuju Daerah Maju

    • calendar_month Minggu, 2 Agt 2026
    • account_circle Irwan Daulay
    • 0Komentar

    Oleh: Irwan Daulay Pemerhati Ekonomi & Pembangunan         … Pembangunan Bandara AH Nasution merupakan salah satu tonggak sejarah penting bagi Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel). Gagasan awal bandara ini dirancang oleh Bapak Amru Daulay sebagai upaya membuka keterisolasian wilayah Tabagsel melalui konektivitas udara dengan berbagai daerah di Indonesia, bahkan ke luar negeri. Bandara […]

  • Taat Pajak, KUD Kuala Tunak di Madina Lunasi PBB Senilai 2,4 M

    Taat Pajak, KUD Kuala Tunak di Madina Lunasi PBB Senilai 2,4 M

    • calendar_month Selasa, 11 Mar 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    Muara Batang Gadis ( Mandailing Online ) Koperasi Unit Desa ( KUD ) Kuala Tunak Desa Tabuyung, Kecamatan Muara Batang Gadis di Kabupaten Mandailing Natal ( Madina ) secara resmi telah membayar pokok dan tunggakan pajak bumi dan bangunan (PBB) kebun plasma sebesar Rp. 2,474,932,914, pembayaran dilakukan di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Padang Sidimpuan. Uang […]

  • Di Dinkes Madina Ternyata Ada Dana Beli Kantong Mayat, Adrenalin, hingga Obat Kejang

    Di Dinkes Madina Ternyata Ada Dana Beli Kantong Mayat, Adrenalin, hingga Obat Kejang

    • calendar_month 10 jam yang lalu
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) –Di balik besarnya anggaran obat miliaran rupiah, Dinas Kesehatan Kabupaten Mandailing Natal ternyata menyimpan paket kecil tapi vital yang menyangkut nyawa yakni Belanja Obat-Obatan Lainnya senilai Rp119,4 Juta. Data LKPP 2026 mengungkap paket ini bukan obat batuk pilek biasa. Uraian pekerjaan paket ini sangat detail dan mayoritas adalah obat emergency yang harus […]

expand_less