Sabtu, 5 Sep 2026
light_mode

Diantara Kontaminasi Budaya Flexing dan Konten Negatif

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Sabtu, 25 Mar 2023
  • print Cetak

Oleh: Radayu Irawan, S.Pt
Penulis, tinggal di Padang Sidimpuan

Di era ini, eksistensi diri menjadi prioritas bagi kebanyakan individu. Hal ini dibuktikan dari menjamurnya konten-konten negatif yang berlagak kaya hingga konten membahayakan jiwa bahkan berujung maut. Seperti yang baru-baru ini terjadi.

Seorang wanita inisial W (21) di Bogor, ditemukan tewas tergantung di rumah kontrakannya di Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Menurut keterangan temannya, W saat itu sedang bikin konten gantung diri melalui panggilan video atau video call.

Sebelumnya W sedang melakukan panggilan video dengan teman-temannya. Saat itu W sempat menyebut hendak membuat konten gantung diri. Seutas kain melilit di lehernya.

Nahas, saat itu kursi pijakannya meleset sehingga W benar-benar tergantung. Menyaksikan hal itu via panggilan video, teman-teman W langsung mendatangi kediaman korban di Cibeber 1, Leuwiliang, Kabupaten Bogor. (Detik, 03/03/23)

Memang miris, maksud hati ingin membuat konten, ternyata maut lebih dahulu menghampiri wanita tersebut. Banyak faktor yang melatar belakangi hal tersebut bisa terjadi. Salah satunya bisa jadi terkontaminasi dengan budaya flexing.

Tidak sedikit masyarakat di era ini,  juga terkontaminasi budaya flexing. Yaitu kebiasaan seseorang untuk memamerkan apa yang dimilikinya di media sosial demi mendapat pengakuan dari orang lain.

Budaya flexing membuat pengidapnya ingin terus memamerkan apapun yang ia punya dan aktivitas apapun yang dia kerjakan. Misalnya saat ia sedang makan di cafe ternama, atau sedang jalan-jalan ke tempat-tempat mewah, atau sedang berbuat baik, atau hal apapun yang dapat membuat eksistensinya menjadi tinggi. Tak jarang membuat orang-orang yang tak memiliki uang ingin melakukan hal tersebut. Maka, bagi yang tak memiliki uang demi mendapat pengakuan dari orang lain, mereka akan membuat hal-hal yang aneh, agar dapat dikenal banyak orang.

Budaya ini akan menjadi penyakit di tengah-tengah masyarakat. Sejatinya  perilaku yang demikian menunjukkan perilaku yang rendah dari muncul dari taraf berpikir yang rendah. Yaitu taraf berpikir layaknya hewan, yang hanya memikirkan diri sendiri untuk bisa berkuasa dan eksis di komunitasnya. Hal ini bisa muncul akibat dari cara hidup atau paradigma tentang kehidupan yang salah. Tidak dipungkiri bahwa masyarakat saat ini dipengaruhi oleh cara pandang kehidupan sekularisme kapitalisme.

Paham sekularisme adalah paham yang memisahkan kehidupan dari agama ketika paham ini diambil atau diadopsi oleh mayoritas masyarakat. Maka, masyarakat tersebut tidak akan lagi memikirkan perbuatan mereka apakah sesuai petunjuk agama ataupun bertentangan. Perilaku mereka hanya dikendalikan oleh keinginan ataupun ego mereka sendiri. Sekularisme yang melahirkan ideologi kapitalisme, menjadikan asas manfaat atau keuntungan materi menjadi dasar perbuatan dalam kehidupan.

Mereka berbuat sesuai dengan manfaat yang akan mereka peroleh. Jika sesuatu itu tidak bermanfaat secara materi, hal tersebut tidak akan dilakukan. Nilai-nilai agama pun tidak menjadi pertimbangan. Misalnya jika konten yang telah mereka buat viral mereka akan mendapatkan pundi-pundi uang yang membuat mereka lebih senang dan eksistensi mereka lebih tinggi. Dan bilamana mereka sudah mencapai apa yang diinginkan mereka akan terus-menerus seperti itu bahkan akan membuat yang lebih, agar senantiasa terkenal.

Media saat ini juga memang sengaja didesain demikian agar para kapitalis bisa memasarkan produk-produk mereka. Media banyak diisi dengan iklan-iklan hidup mewah. Agar budaya konsumtif terus merasuki jiwa masyarakat sehingga produk-produk yang mereka tawarkan semakin laku dan para kapitalis akan terus mendapatkan keuntungan yang besar.

Karena itu budaya flexing terus dipelihara di tengah-tengah masyarakat dengan cara membuat mereka berperilaku hedon dan konsumtif. Inilah pangkal masalah muncul konten yang membahayakan nyawa dan atau budaya flexing yang semakin menggila. Maka dapat dikatakan bahwa sistem hari ini gagal menunjukkan kemuliaan manusia.

Akibat pengaruh sistem ini negara juga gagal menciptakan generasi yang memiliki karakter yang tinggi. Lembaga pendidikan saat ini justru semakin terkebak mengokohkan gaya hidup sekularisme kapitalisme. Pendidikan agama terus terminimalisir. Sedangkan pendidikan yang menunjang untuk meraih jabatan, kekuasaan, yang layak kerja sangat masif diberikan. Akibatnya para pemuda semakin terkikis rasa keimanannya dan orientasinya hanyalah materi semata.

Padahal dahulu, manusia pernah hidup dalam naungan yang memuliakan dan membuat mereka beradab. Sistem tersebut bernama Khilafah. Saat Khilafah pernah ada selama 1300 tahun, manusia hidup dalam peradaban yang mulia. Khilafah membuat warga negaranya memiliki taraf berpikir yang tinggi. Yang memiliki pemikiran bahwa dia adalah seorang Abdullah atau hamba Allah yang sudah sepantasnya beriman kepada Allah. Mindset seperti ini akan melahirkan kesadaran bahwa ia hidup  hanya untuk beribadah kepada Allah.

Sesuai dengan firman Allah SWT dalam Qs. Adz Dzariyat ayat 56 “Dan tidak aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada ku”.

Makna ibadah yakni taat kepada Allah, tunduk serta patuh kepada-nya serta terikat dengan aturan agama yang disyariatkan-nya. Sebagaimana tafsir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa beribadah kepadanya yaitu menaatinya dengan cara melakukan apa yang diperintahkannya dan meninggalkan apa yang dilarang. Itulah hakikat ajaran agama Islam.

Sebab makna Islam yakni menyerahkan diri kepada Allah ta’ala yang mengandung puncak ketundukan, perendahan diri dan kepatuhan. Karenanya manusia khususnya yang hidup dalam sistem negara Khilafah akan menjadikan orientasi hidupnya hanya untuk meraih ridho Allah. Mereka akan mengoptimalkan semua potensi yang dimiliki demi kemuliaan Islam dan kepentingan kaum muslimin.

Orientasi hidup yang demikian akan disuasanakan oleh Khilafah melalui sistem pendidikan sosial, masyarakat, media dan sistem lainnya.

Pendidikan Islam akan melahirkan generasi yang bersyaksiyah Islam, yaitu orang-orang yang memiliki pola pikir dan pola sikap Islam. Para pelajar atau generasi juga akan dibekali ilmu kehidupan agar mereka bisa menyelesaikan masalah diri mereka sendiri khususnya serta umat umumnya.

Melalui pendidikan islam, generasi akan sibuk melakukan inovasi dan pengembangan ilmu. Agar masyarakat semakin mudah untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Diperkokoh dengan kehidupan sosial masyarakat Daulah Khilafah yang berorientasi pada amar ma’ruf nahi mungkar (saling memberikan nasehat) dan saling tolong menolong. Orientasi seperti ini tidak akan membuat generasi terkontaminasi budaya flexing, pamer harta dan membuat konten-konten negatif.

Media juga didesain untuk mengedukasi seluruh warganya agar memahami syariat Islam secara sempurna, menambah pengetahuan ilmu sains, politik dalam dan luar negeri, serta tayangan-tayangan yang berfaedah lainnya. Sehingga masyarakat akan tersuasanakan dalam hal kebaikan seperti ke tawadhu-an, tidak pamer ataupun terkontaminasi budaya flexing. Konsep kehidupan dalam Khilafah inilah yang membuat manusia hidup dengan taraf berfikir yang tinggi yakni hidup untuk kemuliaan Islam.

Sehingga jika dikaitkan dengan kondisi saat ini yakni saat daulah khilafah belum terwujud. Maka konsekuensi seseorang yang memahami hakikat berkehidupannya hanyalah untuk beribadah kepada Allah maka dia akan berjuang untuk mengembalikan kembali kehidupan Islam dalam naungan khilafah. Wallahu A’lam Bishowab

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kalangan Pengusaha Minta Lelang Proyek Dipercepat

    Kalangan Pengusaha Minta Lelang Proyek Dipercepat

    • calendar_month Kamis, 12 Feb 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Kalangan pengusaha jasa konstruksi mendesak pemerintah daerah agar tidak memperlambat jadwal pelelangan paket-paket proyek fisik yang dikelola Dinas Pekerjaan Umum Mandailing Natal (Madina) tahun anggaran 2015. Sebab, semakin cepat ditenderkan akan semakin cepat proses pelaksanaan pekerjaan di lapangan. Jangan seperti tahun-tahun sebelumnya dimana para pengusaha jasa konstruksi harus berhadapan dengan […]

  • Natal Batahan Sebaiknya Diajukan Menjadi Kawasan Ekonomi Khusus

    Natal Batahan Sebaiknya Diajukan Menjadi Kawasan Ekonomi Khusus

    • calendar_month Jumat, 2 Jun 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      MEDAN (Mandailing Online) – Pemkab Mandailing Natal sebaiknya mengajukan Natal Batahan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Itu dicuatkan mantan Calon Bupati Madina, Irwan H Daulay di laman Facebook-nya, Jum’at (2/6/2017). Disebitkannnya, kawasan Natal dan Batahan memiliki prospek menjadi kawasan ekonomi khusus, terutama di sektor industri, mengingat melimpahnya sumber daya alam di kawasan Madina, Tapanuli […]

  • Siap MoU Dengan Yakopi, Sudahkah Madina Menghitung Carbon Credit-nya?

    Siap MoU Dengan Yakopi, Sudahkah Madina Menghitung Carbon Credit-nya?

    • calendar_month Minggu, 16 Agt 2026
    • account_circle Ludfan Nasution
    • 0Komentar

    Oleh: Muhammad Ludfan Nasution Koordinator Mandailing Epicentrum   … Ada yang menarik dari MoU Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal dengan Yayasan Konservasi Pesisir Indonesia (YAKOPI), Jumat, 14 Agustus 2026. Di dalam siaran resmi Pemkab, kerja sama itu diarahkan kepada tiga hal: konservasi dan rehabilitasi ekosistem pesisir, pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir, serta peningkatan kapasitas dan edukasi. Bupati […]

  • Lusa, Polda Akan Periksa Bupati Madina

    Lusa, Polda Akan Periksa Bupati Madina

    • calendar_month Senin, 8 Agt 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN (Mandailing Online) – Penyidik Subdit 2 Harda-Bangtah Direktorat Reskrimum Polda Sumut menjadwalkan, Rabu lusa kembali memeriksa Bupati Madina Dahlan Hasan Nasution terkait kasus dugaan penipuan uang kepada H. Tajuddin Pardosi warga Hutabargot. “Rabu pekan depan, penyidik menjadwalkan pemanggilan Bupati Madina Dahlan Nasution,” kata Kasubbid Penmas Polda Sumut AKBP MP Nainggolan, pekan lalu seperti dilansir […]

  • Dahlan Hasan Daftar di 4 Parpol

    Dahlan Hasan Daftar di 4 Parpol

    • calendar_month Jumat, 22 Nov 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Dahlan Hasan Nasution mendaftar di 4 parpol, Jum’at (22/11/2019) sebagai bakal calon bupati Madina. Pendaftaran ini menunjukkan kesungguhan bupati Madina ini untuk ikut lagi sebagai kandidat bupati Madina di Pilkada 2020. Keempat partai politik itu Partai Golkar, Demokrat, Perindo, PPP. Dahlan didampingi rombongan yang terdiri dari berbagai unsur masyarakat 23 […]

  • STOP BEROPERASI!!! Imbauan kepada Pemilik Betor dari Luar Psp

    STOP BEROPERASI!!! Imbauan kepada Pemilik Betor dari Luar Psp

    • calendar_month Kamis, 10 Okt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 4Komentar

    SIDIMPUAN, (Mandailing Online)- Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Kota Psp mengimbau seluruh pemilik becak bermotor (betor) yang bukan dari Kota Psp agar secepatnya berhenti beroperasi, sebelum digelar razia. Hal itu untuk mengurangi volume betor guna penataan lalulintas yang rapi. Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Ahmad Bestari, Selasa (8/10) mengatakan, imbauan itu khusus untuk seluruh […]

expand_less