Kamis, 11 Jun 2026
light_mode

Pembongkaran Dua Kuburan Bukan Akibat Perebutan Warisan

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Rabu, 13 Mei 2026
  • print Cetak

 

PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pembongkaran dua kuburan di Desa Huta Lombang Lubis, Kecamatan Panyabungan, Mandailing Natal (Madina), Sumut bukan akibat perebutan harta warisan, melainkan disebabkan kesepakatan yang tidak terrealisasi.

Hal itu ditegaskan Sakti Matondang, keponakan Nurhayati (almarhumah) dan Fahrizal Piliang (almarhum). “Tak ada yang berebut, mungkin yang ada merebut. Ini perlu saya luruskan supaya masyarakat tahu cerita sebenarnya. Biar masyarakat yang menilai,” katanya, Rabu (13/5/2026) pagi sebagaimana dilansir BeritaHuta.

Sakti, yang juga keponakan K, menjelaskan sebelum Nurhayati meninggal ada kekhawatiran bahwa apabila penyakit Nurhayati tak sembuh atau umurnya pendek, maka hasil penjualan rumah milik almarhumah dipakai membayar utang terhadap Sakti, sisa uang tersebut semuanya diwakafkan.

Ceritanya, sekitar dua bulan sebelum Idul Fitri 2025 lalu, K menemui Sakti di rumanya, Huta Lombang Lubis. Ia meminta tolong supaya keponakannya itu mengurus Nurhayati yang sedang sakit parah.

Ini lantaran K ditegur kepala desa setempat. Sebab dalam keadaan sakit Nurhayati hanya seorang diri di rumah lantaran suaminya sudah meninggal sekitar 10 tahun lalu, sementara mereka tak punya anak.

“Saya dan saudara-saudara saya bukan tak mau ngurus, tapi kami kan punya keterbatasan. Kami juga punya keluarga dan aktivitas sehari-hari. Semestinya K-lah selaku ahli waris yang lebih bertanggung jawab,” katanya.

Namun K terkesan enggan mengurus adiknya karena terkait waktu, dan biaya berobat.

Saat datang ke rumah Sakti, K meminta tolong kepada keponakannya itu supaya mengurus Nurhayati. “Mangido tolong bere pature etekmu. Sanga sadia habis epengmu, adong do bagas ni etekmu,” kata paman seolah memelas.

Saat itu K secara tegas mengatakan suatu saat jika rumah dijual, hanya dipakai untuk bayar utang terhadap Sakti dan untuk Nurhayati—jika umurnya pendek diwakafkan semuanya.

Intinya, K meminta Sakti menanggung semua biaya perawatan dan berobat selama Nurhayati sakit.

“Sah mei mamak,” tegas Sakti dua kali berturut-turut.

Bahkan ketiga kalinya, Sakti mengulang lagi, “Sah mei mamak, ulang suatu saat jadi parbadaan jita. Rundut kita non.”

“Sah bere,” jawab K. Pernyataan ini juga disaksikan istri Sakti.

“Jadi mamak, upature mei etek,” kata Sakti.

Saat itulah Sakti menelepon kakak-kakak dan adiknya supaya berkumpul di rumah Nurhayati menyampaikan kesepakatan dengan K. Mereka juga membicarakan teknis menjaga Nurhayati secara bergiliran supaya ada kawan di rumahnya.

Beberapa hari kemudian, Nurhayati dibawa berobat di Bukit Tinggi selama seminggu. Berdasarkan pemeriksaan dr. Delsi Hidayat, almarhumah mengidap pembekakan usus dan syaraf kejepit.

Setelah berobat di Bukit Tinggi, penyakitnya belum juga ada perkembangan positif. Lalu, dibawa ke dr. Saud Siregar di Sibolga. Juga tak banyak perubahan. Tentu saja upaya penyembuhan juga dilakukan secara medis dan alternatif di sekitar Panyabungan.

Pernah sekitar sebulan Nurhayati dirawat oleh seseorang yang digaji merawatnya. Karena tak tahan, perawat itu berhenti.

Sempat dicari penggantinya, tak dapat. “Selama bulan puasa, kami bersaudara-lah secara bergantian mengurus etek. Kalau jujur, istri saya sempat mengeluh karena buang air besar almarhumah selalu berserakan. Tetapi alhamdulillah saya sabar-sabarkan, dan tetap kami urus dengan baik.”

Maaf, kata dia, ini disampaikan supaya semua tahu cerita sebenarnya. “Jangan seolah-olah saya berebut harta warisan, seperti pemberitaan. Kami sudah berkoban untuk saudara kandungnya, tapi apa balasannya, kami disebut seolah merebut harta warisan,” ucap Sakti.

Siang hari pada Hari Raya kedua 2025, lanjut Sakti, Nurhayati mengembuskan nafas terakhir. Saat K datang ke rumah duka, dia langsung marah-marah. Dia menyebut para keponakannya tidak mengurus etek mereka.

“Dia datang hanya liat. Kami semua yang mengurus, termasuk mengurus jenazah etek, bahkan sampai setelah hari ketiga kami adakan mangido doah. Saya semua yang nanggung biaya. Seribu rupiah pun dia tak pernah memberi uang.”

Saat musyawarah, K sempat meminta izin kepada Sakti supaya Nurhayati dimakamkan di tempat pemakaman keluarga miliknya, apalagi suami almarhum juga dimakamkan di lokasi tersebut. “Tak masalah,” jawabnya.

Usai “palampas kubur”, K mulai bahas soal rumah. “Kita jual saja rumah ini supaya uangmu dikembalikan,” ujarnya.

Pendek cerita, seseorang mau membeli rumah itu seharga Rp250 juta. Pembeli tidak menawar sama sekali lantaran dia tahu, hasil penjualan rumah semua diwakafkan setelah uang Sakti dikembalikan. Pembeli juga mau membeli rumah itu lantaran dia mengenal pribadi Sakti, bukan disebabkan orang lain.

Bahkan, ketika istri pembeli hendak menawar Rp5 juta sekadar pengganti biaya administrasi, sang suami langsung menyebutkan, “Biarlah, uangnya kan mau diwakafkan.”

Sebagai ahli waris K pun mengambil semua uang tersebut dari tangan pembeli disaksikan Sakti. Apalagi surat tanah rumah itu atas nama K karena dibeli dari dia. Kabarnya, Nurhayati sudah beberapa kali mau balik nama surat tanah, namun K tak pernah memberikan KTP-nya.

Setelah uang diterima K, Sakti menerima pengganti biaya perawatan dan pengobatan Nurhayati sebesar Rp24 juta. Termasuk dibayar juga utang pengobatan di Bukit Tinggi Rp10 juta.

Menurut Sakti, semua sisa penjualan rumah dipegang K. “Katanya saya tidak ada urusan. Memang betul, tetapi saya ada kesepakatan dengan dia. Sisa uang setelah bayar utang ke saya dan (jika ada) ke pihak lain, dipakai untuk wakaf almarhum-almarhumah. Itu yang saya tuntut.”

Bukti bahwa janji atau kesepakatan itu dipegang teguh oleh Sakti, dia sempat janji dengan salah seorang pengurus masjid di salah satu desa akan memberi wakaf almarhum-almarhumah ke masjid di desa tersebut, namun tak jadi terealisasi.

Setahun lebih berlalu, tidak ada kejelasan soal penggunaan uang sisa penjualan rumah, Sakti mengaku emosi lantaran merasa dibohongi. “Anggo naso diwakafkon do epeng i, ela kuburuan ni etek dohot apak sian tano pemakaman nami i,” ujar Sakti suatu ketika.

Dengan kalimat seperti itu, harapannya K ingat janji yang pernah diucapkannya di dapur rumah Sakti. Harapan kedua, K tak tega melihat kuburan Nurhayati dan Fahrizal dibongkar.

Almarhum-almarhumah, kata dia, butuh amal jariyah disebabkan mereka tidak punya anak. “Dari awal sedikit pun saya tidak mengharap sepeser pun dari hasil penjualan rumah, kecuali utang ke saya dibayar. Saya sadar, saya bukan ahli waris. Dan InsyaAllah warga Huta Lombang Lubis dan sekitarnya tahu tentang saya.”

Pindahkan Kuburan

Seperti diberitakan sejumlah media, Selasa (12/5/2026) siang, kuburan suami-istri yakni Nurhayati dan Fahrizal yang berlokasi di Huta Lombang Lubis dibongkar, lalu dipindahkan ke tempat lain. Menurut informasi yang beredar, hal ini diduga akibat perselisihan harta warisan.

Rajab Lubis, keponakan Nurhayati, membenarkan adanya perselisihan keluarga terkait warisan yang menjadi pemicu pembongkaran kedua makam tersebut.

Rajab yang juga anak kandung K mengaku ikhlas dan rido memindahkan kedua makam ke tempat lain agar menghindari konflik dengan Sakti, selaku pemilik tempat pemakaman keluarga itu. (rel)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Lencana Pancawarsa Harus Akhiri Kevakuman Pramuka

    Lencana Pancawarsa Harus Akhiri Kevakuman Pramuka

    • calendar_month Sabtu, 25 Sep 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Sembilan penggerak pramuka di Mandailing Natal (Madina) memperoleh Tanda Penghargaan Lencana Pancawarsa. Tanda Penghargaan itu berdasar Surat Keputusan Kwartir Daerah Sumatera Utara Nomor 42 Tahun 2021 tentang Penganugerahan Tanda Penghargaan Lencana Pancawarsa tanggal 24 Agustus 2021 ditandatangani Ketua Kwarda Pramuka Sumut, H. Nurdin Lubis, SH.MM. Penyematan dilakukan Asisten II Pemkab […]

  • 4,7 Juta Rupiah Terkumpul Untuk Kurniawan Bocah Tanpa Anus

    4,7 Juta Rupiah Terkumpul Untuk Kurniawan Bocah Tanpa Anus

    • calendar_month Kamis, 26 Mei 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online)  – Bantuan kepada Karniawan, bocah usia 15 bulan yang mengalami penyakit Atresia (lahir tanpa lobang anus, red) terus mengalir. Beberapa pimpinan media masaa dan organisasi mahasiswa serta organisasi kepemudaan menyerahkan bantuan dana kepada kepada orangtua Karniawan, Kamis (26/5) di RSU Panyabungan, Mandailing Natal (Madina) Karniawan yang berasal dari Muara Bangko, Kecamatan Ranto […]

  • Kades Tanggabosi 2 Dilaporkan ke Bupati

    Kades Tanggabosi 2 Dilaporkan ke Bupati

    • calendar_month Kamis, 7 Okt 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MADINA-METRO; Kepala Desa (Kades) Tanggabosi, Kecamatan Siabu, Kabupaten Mandailing Natal (Madina) AN (40), dilaporkan warganya ke Bupati Madina melalui Asisten Tata Praja di kantor camat belum lama ini. Kades tersebut diduga selingkuh dengan salah seorang warga berinisial RSM (22). Selanjutnya, Rabu (6/10), Inspektorat Madina meminta keterangan 8 warga yang menjadi saksi atas pengaduan warga tersebut […]

  • Kapoldasu: Polisi Harus Jadi Pengayom Masyarakat

    Kapoldasu: Polisi Harus Jadi Pengayom Masyarakat

    • calendar_month Selasa, 17 Nov 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Kapolda Sumut Irjen Polisi Drs.Ngadino, SH.MM menekankan kepada Polres Madina bahwa polisi harus menjadi pengayom bagi masayarakat. “Sebagai polisi, kita harus memahami jati diri kita sebagai polisi yang merupakan pelindung, pengayom masyarakat,” katanya, Senin (16/11) pada pengarahannya dalam kunjungan kerja ke Mandailing Natal. Kedatangan Kapolda didampingi Dir intel Polda Sumut, Kombes […]

  • Yamaha Gandeng Wartawan Rencanakan Touring Tertib Lalu Lintas

    Yamaha Gandeng Wartawan Rencanakan Touring Tertib Lalu Lintas

    • calendar_month Senin, 9 Jan 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Padangsidimpuan. Yamaha Padangsidimpuan wilayah Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel) menggandeng wartawan untuk diikutkan dalam acara touring tertib berlalu-lintas. Ini dilakukan pihak Yamaha guna mendukung pemerintah terutama pihak kepolisian, untuk menyosialisasikan UU No 22/2009 tentang Lalulintas dan Jalan. Pimpinan perwakilan Yamaha wilayah Tabagsel Jhonny Tuerah, kepada MedanBisnis, Minggu (8/1), menyebutkan touring direncanakan melibatkan komunitas wartawan yang ada […]

  • RI Berpeluang Masuk 10 Negara Ekonomi Terbesar

    RI Berpeluang Masuk 10 Negara Ekonomi Terbesar

    • calendar_month Rabu, 17 Agt 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PIDATO KENEGARAAN : Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan pidato kenegaraan dalam Sidang Bersama DPR/DPD memperingati HUT Ke-66 Kemerdekaan Republik Indonesia, di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (16/8). Presiden Yudhoyono memaknai kemerdekaan sebagai sebuah jembatan untuk mewujudkan bangsa dan negara Indonesia yang lebih adil, makmur, unggul, dan bermartabat. FOTO ANTARA/Yudhi Mahatma/ed/pd/11 Jakarta : Presiden RI, […]

expand_less