Rabu, 21 Okt 2026
light_mode

Jeruk Manis Sibanggor, Riwayatmu Kini.

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 10 Des 2010
  • print Cetak


Masa kejayaan Jeruk Huta Sibanggor yang sempat terkenal hingga ke Sumatera Barat agaknya kian hari kian mengalami kepunahan. Kekhasan rasa jeruk yang terbilang lebih manis dari jeruk kebiasaannya tersebut dikhawatirkan akan tinggal nama, akibat adanya hama CCPD atau jamur batang merah yang menyerang tanaman sejak 2001 dan hingga kini belum dapat diatasi. Wajar saja masyarakat yang selama ini bertani jeruk di kawasan tiga desa yakni, Simbanggor Julu, Simbanggor Toga, dan Simbanggor Jae mulai dilanda keresahan. Pasalnya, tanaman jeruk yang sempat dijadikan andalan mata pencarian, kini tidak lagi hidup subur akibat serangan jamur batang merah, “Kalau dulu lahan sepuluh hektar saya tanami jeruk, bahkan jika panen kami bisa menjualnya sampai ke Jakarta,”.kenang Baharuddin, salah seorang petani jeruk. Menurut Baharuddin Nasution (45) yang juga sebagai Ketua Kelompok Tani Desa Sim­banggor Julu karena serangan hama jamur batang merah ia kini hanya menanam jeruk hanya beberapa batang saja yang ditaman di sekitar rumahnya dan itu pun sangat jarang berbuah. Padahal menurut Baharuddin, sekitar tiga tahun lalu mereka menanam jeruk paling sedikit satu sampai dengan dua hektar dan hasilnya sangat memuaskan. “Sejak munculnya hama tersebut, setiap kali kami menanam namun belum cukup umur, jeruk itu kering dan lama-kelamaan mati dan saat itu. Kejadian ini kami konsultasikan dengan Dinas Pertanian di Penyabungan dan setelah adanya hasil dari penelitian, hama yang menyerang bernama CCPD atau Jamur batang merah atau api namun sampai saat ini belum juga tertanggulagi,” jelas Baharuddin. Meskipun dalam keterpurukan namun harapan untuk kembali mengulang gernilangnya tanaman jeruk masih belum sirna, maka beberapa petani masih berusaha untuk melestarikan beberapa pohon jeruk untuk dijadikan bibit yang mereka yakini akan dapat menanam kembali dalam jumlah besar.

Harapan yang dinanti ternyata datang juga dengan adanya bantuan pihak Pemerintahan melalui Dinas pertanian Kab. Mandailing Natal yang memberikan sejumlah bibit, namun sayangnya bantuan itu belum memiliki manfaat yang besar. Persoalannya, untuk kembali menanam jeruk dengan jumlah besar bukan kebutuhan bibit semata yang dibutuhkan namun bagaimana pemerintah terelebih dahulu dapat menanggulagi penyakit yang menyerang tanaman jeruk mereka. Sebenarnya menurut Baharuddin yang mewakili para petani lainnya, ia sudah beru­lang kali mengadukan hal ini kepada intansi yang berwenang namun respon dari pemerintah sangat lamban bahkan terkesan seperti tidak mempedulikannya, “Saya sudah melaporkan hal ini ke Dinas Pertanian, tapi sampai sekarang belum tanda-tanda dinas pertanian yang menanganinya secara serius, apakah memang mereka tidak memiliki keahlian dalam menanggulangi hama jamur api itu” ungkap Baharuddin dengan nada bertanya.

Alihfungsi
Akibat serangan hama jamur api yang belum dapat ditanggulagi, terpaksa para petani saat ini banting stir untuk menanami lahannya dengan tanaman lain. Saat ini banyak petani di Desa Sibanggor Julu beralih ke tanaman keras seperti karet dan coklat . Masing-masing bisa mencapai 1/4 s/d 1 ha yang mereka tanam. Baharuddin sendiri telah menanam karet dan coklat sekitar satu hektar. Hanya saja, alihpungsi tanam itu belum juga menunjukkan hasil yang maksimal, “Karena baru beberapa bulan ini saya beralih ke karet dan coklat, sebelumnya saya menanam tanaman muda, seperti cabe, tomat dan lainnya, namun karena cabe kami juga terserang penyakit daun keriting, saya menghentikan tanaman tersebut,” keluh Baharuddin.

Tanaman alih fungsi ke cabe sebenarnya boleh dibilang sempat berhasil namun kondisi itu tidak bertahan lama akibat kembali datangnya serangan hama. Baharuddin bersama petani lainnya sempat beralih ke tanaman cabe dan Baharuddin sendiri memiliki tiga rante atau 500 batang pohon cabe, dan dari tanaman itu dia bisa menghasilkan 2 juta setiap kali panen. Keberhasilan itu pula yang akhimya menggairahkan para petani lebih meningkatkan tanaman cabe dengan skala besar bahkan hingga sampai 40 ha. Dan pada musim panen mereka bisa meraup hasil sampai 20 ton per­minggu. Namun lagi-lagi hama kembali datang menyerang hingga tanaman cabe yang sempat memberikan nadi kehidupan mereka kembali gagal panen.

“Dalam kurun waktu dua tahun terakhir ini hasil cabe kami hanya bisa menghasilakan empat ratus kilogram per-minggunya. Jelas harga jual pun sangat merosot karena serangan hama banyak cabe yang membusuk atau mengecil,” tutur Baharuddin kesal. Agaknya perjuangan Baharuddin bersama teman petani lainnya sudah cukup maksimal namun apa daya nasib keberuntungan belum berpihak pada mereka. Meskipun demikian, Baharuddin bersama kelompok tani lainnya tetap berharap untuk mencari jalan keluar agar bisa kembali menanam jeruk sebagai mata pencarian mereka yang juga sekaligus membawa nama harum Huta Sibanggor sebagai penghasil jeruk bermutu baik. “Kami berharap kiranya peran pemerintah dalam hal ini harus serius, sebab jeruk Sibanggor harus tetap menjadi primadona di desa ini. Kami tidak ingin jeruk sibanggor hanya tinggal nama nantinya dan tentunya akan membawa kematian bagi kami” harap Baharuddin.

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Seri HUT Madina : Mandailing Melahirkan Banyak Ulama Kharismatik (3)

    Seri HUT Madina : Mandailing Melahirkan Banyak Ulama Kharismatik (3)

    • calendar_month Jumat, 10 Mar 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh : BASYRAL HAMIDI HARAHAP (In Memorial) Sejarahwan Mandailing Syekh Abdul Manan Siregar lahir di Sipirok pada tahun 1894 dan wafat pada tahun 1989 di Padangsidimpuan. Pada usia mudanya ia bercita-cita menjadi ulama. Ia pun meningkalkan desanya, Sipirok, berjalan kaki selama berhari-hari menempuh jarak hampir 300 kilometer menuju Basilam di Tanjungpura. Untuk belajar agama pada […]

  • Kementerian ESDM Diminta Tinjau Ulang izin PT SMGP

    Kementerian ESDM Diminta Tinjau Ulang izin PT SMGP

    • calendar_month Kamis, 4 Feb 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Tokoh pemuda mendesak Kementerian ESDM meninjau ulang izin PT SMGP dalam eksploitasi panas bumi untuk pembangkit listrik. Desakan itu menyusul hasil investigasi Kementerian ESDM terhadap peneyabab keracunan warga Sibanggor di kawasan yang bersinggungan dengan sumur panas bumi yang dikelola PT SMGP. “Kita beri apresiasi kepada DPR RI dalam hal ini Komisi […]

  • Tradisi Nazar dan Makan 1 kampung di Gunung Baringin

    Tradisi Nazar dan Makan 1 kampung di Gunung Baringin

    • calendar_month Kamis, 17 Okt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 2Komentar

    Masyarakat Kelurahan Gunung Baringin melaksanakan gotong royong gotong memasak bersama didepan depan mesjid Jamik Gunung Baringin, Selasa (15/10). Selain kambing dan lembu yang disembelih juga ditambah dari kurban masyarakat sebagai lauk makan. Tradisi Nazar dan makan 1 kampung ini terjadi terkait dengan nazar warga masyarakat tahun lalu agar kelurahan Gunung Baringin terhindar dari segala bahaya […]

  • Korupsi DAK 11 Milyar Kian Terbongkar, Pejabat Dinas Pendidikan Madina Perang Dingin

    Korupsi DAK 11 Milyar Kian Terbongkar, Pejabat Dinas Pendidikan Madina Perang Dingin

    • calendar_month Jumat, 16 Apr 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Heboh! Kasus dugaan korupsi di Dinas Pendidikan Kabupaten Mandailing Natal kian menghebohkan. Para pejabat di instansi itu mulai perang dingin menyusul kian terkuaknya indikasi korupsi dana DAK mencapai 11 miliar Rupiah tahun 2020. Kasus dugaan korupsi ini mencuat setelah kalangan mahasiswa beberapa kali berunjukrasa di Kejati Sumut meminta pengusutan proyek-proyek fisik […]

  • Pusuk Ni Otang Masih Primadona

    Pusuk Ni Otang Masih Primadona

    • calendar_month Jumat, 26 Jul 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pusuk ni otang atau lebih populer sebutan pangkat, laris manis dan menjadi buruan konsumen di pasar Panyabungan, Mandailing Natal (Madina) selama Ramadhan. Lalapan khas Mandailing ini tak diketahui persis sejak kapan bermula dan menjadi popular di Mandailing. Di kawasan Angkola, pucuk rotan ini dijadikan gulai berkuah santan tanpa cabai bermenu ikan […]

  • Panwaslu Adakan Sosialisasi Di Lapas Klas IIB Panyabungan

    Panwaslu Adakan Sosialisasi Di Lapas Klas IIB Panyabungan

    • calendar_month Rabu, 5 Feb 2014
    • account_circle webmaster
    • 0Komentar

    Panyabungan, Untuk memperkecil pelanggaran Pemilu serta memberikan pengetahuan terkait tata cara pemilu kepada masyarakat binaan (narapidana) , Pengawas Pemilu Mandailing Natal (Panwaslu Madina) melakukan sosialisasi di Lembaga Pemasyarakatan Klas IIB Panyabungan, selasa (4/2) Ketua Panwaslu Madina, Hendri Pulungan, S.sos yang didampingi anggotanya Ahmad Husein, SH dan Sekretaris Panwaslu Madina, Sarman Nasution, Sag dihadapan para anak […]

expand_less