Minggu, 8 Mar 2026
light_mode

Jeruk Manis Sibanggor, Riwayatmu Kini.

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 10 Des 2010
  • print Cetak


Masa kejayaan Jeruk Huta Sibanggor yang sempat terkenal hingga ke Sumatera Barat agaknya kian hari kian mengalami kepunahan. Kekhasan rasa jeruk yang terbilang lebih manis dari jeruk kebiasaannya tersebut dikhawatirkan akan tinggal nama, akibat adanya hama CCPD atau jamur batang merah yang menyerang tanaman sejak 2001 dan hingga kini belum dapat diatasi. Wajar saja masyarakat yang selama ini bertani jeruk di kawasan tiga desa yakni, Simbanggor Julu, Simbanggor Toga, dan Simbanggor Jae mulai dilanda keresahan. Pasalnya, tanaman jeruk yang sempat dijadikan andalan mata pencarian, kini tidak lagi hidup subur akibat serangan jamur batang merah, “Kalau dulu lahan sepuluh hektar saya tanami jeruk, bahkan jika panen kami bisa menjualnya sampai ke Jakarta,”.kenang Baharuddin, salah seorang petani jeruk. Menurut Baharuddin Nasution (45) yang juga sebagai Ketua Kelompok Tani Desa Sim­banggor Julu karena serangan hama jamur batang merah ia kini hanya menanam jeruk hanya beberapa batang saja yang ditaman di sekitar rumahnya dan itu pun sangat jarang berbuah. Padahal menurut Baharuddin, sekitar tiga tahun lalu mereka menanam jeruk paling sedikit satu sampai dengan dua hektar dan hasilnya sangat memuaskan. “Sejak munculnya hama tersebut, setiap kali kami menanam namun belum cukup umur, jeruk itu kering dan lama-kelamaan mati dan saat itu. Kejadian ini kami konsultasikan dengan Dinas Pertanian di Penyabungan dan setelah adanya hasil dari penelitian, hama yang menyerang bernama CCPD atau Jamur batang merah atau api namun sampai saat ini belum juga tertanggulagi,” jelas Baharuddin. Meskipun dalam keterpurukan namun harapan untuk kembali mengulang gernilangnya tanaman jeruk masih belum sirna, maka beberapa petani masih berusaha untuk melestarikan beberapa pohon jeruk untuk dijadikan bibit yang mereka yakini akan dapat menanam kembali dalam jumlah besar.

Harapan yang dinanti ternyata datang juga dengan adanya bantuan pihak Pemerintahan melalui Dinas pertanian Kab. Mandailing Natal yang memberikan sejumlah bibit, namun sayangnya bantuan itu belum memiliki manfaat yang besar. Persoalannya, untuk kembali menanam jeruk dengan jumlah besar bukan kebutuhan bibit semata yang dibutuhkan namun bagaimana pemerintah terelebih dahulu dapat menanggulagi penyakit yang menyerang tanaman jeruk mereka. Sebenarnya menurut Baharuddin yang mewakili para petani lainnya, ia sudah beru­lang kali mengadukan hal ini kepada intansi yang berwenang namun respon dari pemerintah sangat lamban bahkan terkesan seperti tidak mempedulikannya, “Saya sudah melaporkan hal ini ke Dinas Pertanian, tapi sampai sekarang belum tanda-tanda dinas pertanian yang menanganinya secara serius, apakah memang mereka tidak memiliki keahlian dalam menanggulangi hama jamur api itu” ungkap Baharuddin dengan nada bertanya.

Alihfungsi
Akibat serangan hama jamur api yang belum dapat ditanggulagi, terpaksa para petani saat ini banting stir untuk menanami lahannya dengan tanaman lain. Saat ini banyak petani di Desa Sibanggor Julu beralih ke tanaman keras seperti karet dan coklat . Masing-masing bisa mencapai 1/4 s/d 1 ha yang mereka tanam. Baharuddin sendiri telah menanam karet dan coklat sekitar satu hektar. Hanya saja, alihpungsi tanam itu belum juga menunjukkan hasil yang maksimal, “Karena baru beberapa bulan ini saya beralih ke karet dan coklat, sebelumnya saya menanam tanaman muda, seperti cabe, tomat dan lainnya, namun karena cabe kami juga terserang penyakit daun keriting, saya menghentikan tanaman tersebut,” keluh Baharuddin.

Tanaman alih fungsi ke cabe sebenarnya boleh dibilang sempat berhasil namun kondisi itu tidak bertahan lama akibat kembali datangnya serangan hama. Baharuddin bersama petani lainnya sempat beralih ke tanaman cabe dan Baharuddin sendiri memiliki tiga rante atau 500 batang pohon cabe, dan dari tanaman itu dia bisa menghasilkan 2 juta setiap kali panen. Keberhasilan itu pula yang akhimya menggairahkan para petani lebih meningkatkan tanaman cabe dengan skala besar bahkan hingga sampai 40 ha. Dan pada musim panen mereka bisa meraup hasil sampai 20 ton per­minggu. Namun lagi-lagi hama kembali datang menyerang hingga tanaman cabe yang sempat memberikan nadi kehidupan mereka kembali gagal panen.

“Dalam kurun waktu dua tahun terakhir ini hasil cabe kami hanya bisa menghasilakan empat ratus kilogram per-minggunya. Jelas harga jual pun sangat merosot karena serangan hama banyak cabe yang membusuk atau mengecil,” tutur Baharuddin kesal. Agaknya perjuangan Baharuddin bersama teman petani lainnya sudah cukup maksimal namun apa daya nasib keberuntungan belum berpihak pada mereka. Meskipun demikian, Baharuddin bersama kelompok tani lainnya tetap berharap untuk mencari jalan keluar agar bisa kembali menanam jeruk sebagai mata pencarian mereka yang juga sekaligus membawa nama harum Huta Sibanggor sebagai penghasil jeruk bermutu baik. “Kami berharap kiranya peran pemerintah dalam hal ini harus serius, sebab jeruk Sibanggor harus tetap menjadi primadona di desa ini. Kami tidak ingin jeruk sibanggor hanya tinggal nama nantinya dan tentunya akan membawa kematian bagi kami” harap Baharuddin.

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Demo, Mahasiswa UGN Pertanyakan Status Lahan

    Demo, Mahasiswa UGN Pertanyakan Status Lahan

    • calendar_month Minggu, 15 Feb 2015
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    SIDIMPUAN – Rupanya, selain menuntut kejelasan tentang status kampus UGN yang belum kunjung menjadi PTN, puluhan mahasiswa yang melakukan aksi unjuk rasa di kampus I Jalan Sutomo juga mempertanyakan persoalan lahan milik kampus mereka yang berada di daerah Simarsayang. Hendra Ibrahim Siregar, selaku kordinator aksi, saat diterima pihak Yayasan bersama dengan puluhan mahasiswa lainnya, di […]

  • TNI Sosialissikan Bios 44 Kepada Petani Palas

    TNI Sosialissikan Bios 44 Kepada Petani Palas

    • calendar_month Kamis, 18 Jul 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SOSA (Mandailing Online) – Kodim 0212 / Tapanuli Selatan mensosialisasikan Bios 44 kepada petani Desa Hutaraja Lamo dan Desa Mondang, Kecamatan Sosa, Kabupaten Palas, Kamis (18/7/2019). Bios 44 adalah cairan yang dapat mencegah kebakaran lahan gambut, digunakan untuk mengurai tanah tandus menjadi subur, juga dapat dipergunakan untuk lahan perikanan. Merupakan temuan prajurit TNI yang sudah […]

  • Eli Mahrani Ikuti Seminar Kesehatan Kanker Serviks

    Eli Mahrani Ikuti Seminar Kesehatan Kanker Serviks

    • calendar_month Selasa, 25 Okt 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Ketua TP PKK Kabupaten Mandailing Natal (Madina) Ny Eli Mahrani Jafar Sukhairi Nasution Menghadiri Workshop dan Seminar Kesehatan di Hotel Rindang, Kecamatan Panyabungan, Madina, Sumut, Minggu (25/10/2022). Seminar kesehatan tersebut mengangkat tema tata laksana deteksi dini kanker serviks dengan metode pemeriksaan IVA test di masa pandemi Covid-19. Eli menyampaikan perempuan sebagai […]

  • Mau Jadi Honorer, Rp30 Juta Lenyap

    Mau Jadi Honorer, Rp30 Juta Lenyap

    • calendar_month Sabtu, 8 Jan 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIANTAR-Raja Umbang Saragih (46), warga Jalan Singosari, Kelurahan Martoba, Kecamatan Siantar Barat, ditipu sebesar Rp 30 juta Rudi Turnip (35), warga Jalan Rindam, Siantar Barat, tahun 2010 lalu. Raja Umbang memberikan uang tersebut kepada Rudi sebagai pelicin agar adiknya dimasukkan jadi tenaga honorer di Pemkab Simalungun. Tapi setahun berlalu, adik korban tak kunjung dipekerjakan sebagai […]

  • Ziarah ke Makam Syekh H. Bahauddin Hasibuan

    Ziarah ke Makam Syekh H. Bahauddin Hasibuan

    • calendar_month Minggu, 18 Sep 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh : Muhammad Isamuddin Mahasiswa Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas Berziarah ke kubur bagi masyarakat muslim Indonesia merupakan hal yang lumrah, bahkan menjadi tradisi. Ziarah tidak hanya dilakukan laki-laki, perempuan pun ikut meramaikan kuburan. Tawaran pahala yang besar sebesar dua qiradh dan keinginan untuk mendo’akan kerabat yang telah meninggal menjadi alasan untuk menuju […]

  • Situs Menhir di Runding Indikasi Peradaban Mandailing Sudah Ada Sejak Zaman Batu

    Situs Menhir di Runding Indikasi Peradaban Mandailing Sudah Ada Sejak Zaman Batu

    • calendar_month Jumat, 16 Mei 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Tympanum Novem Film sejak pekan lalu memulai penggarapan video situs-situs peninggalan Mandailing masa lampau. Tiga situs yang direkam video pada Kamis (15/5/2014) meliputi situs reruntuhan candi di Saba Biara, Pidoli; situs yang diduga reruntuhan candi di Padang Mardia, Hutasiantar dan Menhir di Runding satu peninggalan dari zaman batu. Situs-situs tersebut sangat […]

expand_less