Jumat, 16 Okt 2026
light_mode

DALIHAN NA TOLU

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Selasa, 1 Nov 2016
  • print Cetak

Catatan : Askolani Nasution
Budayawan Mandailing

Dalihan Na Tolu grafis (grafis oleh Mandailing Online)

Dalihan Na Tolu grafis (grafis oleh Mandailing Online)

Hubungan kekerabatan antar individu dalam masyarakat Mandailing tercermin dalam konsep Dalihan Na Tolu. Segala aktivitas sosial budaya indovidu tidak dapat dipisahkan dari ikatan kekerabatan ini. Konsep ini diyakini asli kreasi nenek moyang Mandailing karena tidak ditemukan padanannya dalam budaya manapun.

Mereka meyakini bahwa konsep Dalihan na Tolu dapat membentuk suatu sistem kemasyarakatan yang ideal. Masyarakat yang ideal menurut Mandailing adalah massayarakat yang di dalam interaksi sosialnya ditemukan holong (kasih sayang). Holong dijadikan sumber semua kehidupan. Karena itu ada istilah dalam Mandailing: holong do mula ni ugari (kasih sayang awal dari adat), atau holong do maroban domu, domu maroban parsaulian (kasih sayang membawa keakraban, keakraban membawa kebaikan bersama)

Konsep Dalihan na Tolu seperti sebuah segitiga sama sisi. Masing-masing sisi terdiri dari: Mora (pemberi anak gadis), Kahanggi (kerabat satu marga), dan Anak Boru (penerima anak gadis). Setiap orang secara abstrak memolakan diri mereka dalam segitiga itu. Hak dan kewajiban seseorang ditentukan oleh posisinya dalam pola itu. Tetapi sewaktu-waktu posisi itu dapat berubah karena terjadinya perkawinan.

Hubungan masing-masing unsur di dalamnya diatur melalui norma atau etika yang disebut apantunon (adab). Apantunon diyakini mampu menciptakan hidup yang beradab. Karena itu ada istilah pantun hangoluan, teas hamatean. Artinya, dengan beradab kita bisa hidup, kalau tak beradab kita akan binasa.

Anak boru memiliki kewajiban terhadap moranya dengan istilah:

(1) sitamba na urang siorus na lobi (si penambah yang kurang si pengurang yang lebih).
(2) na manorjak tu pudi juljul tu jolo (yang menerjang ke belakang menonjol ke depan). Maksudnya, adanya kewajiban anak boru untuk memuliakan moranya.
(3) si tastas nambur, artinya pihak anak boru berkewajiban sebagai perintis jalan (barisan terdepan) untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi pihak mora.

Mora berkewajiban kepada anak-borunya dalam istilah elek mar anakboru. Maksudnya, senantiasa menyayangi pihak anak boru.

Selain itu, juga dikenal kelompok kekerabatan tambahan, yakni:

(1) Mora ni Mora, yaitu kelompok mora dari mora
(2) Pisang Raut, yaitu kelompok anak boru dari anak boru
(3) Kahanggi pareban, yaitu kerabat dari beberapa keluarga batih yang berlainan marga, tetapi sama-sama menjadi anak boru dari satu keluarga yang bermarga tertentu.
(4) Koum Sisolkot. Koum merupakan kekerabatan yang terbentuk karena hubungan perkawinan. Sisolkot kekerabatan merujuk kepada adanya pertalian darah. Koum meliputi anggota yang lebih banyak.

Dalam adat mandailing kekerabatan yang diikat oleh Dalihan Na Tolu membentuk satu ikatan rasa sahancit sahasonangan dan sasiluluton sasiriaon. Artinya, sakit senang dirasakan bersama. Karenanya dalam menyikapi berbagai persoalan yang mereka hadapi, orang Mandailing dituntut untuk sahata saoloan satumtum sapartahian. Maksudnya, seia sekata menyatu dalam mufakat untuk sepakat. Juga dikenal istilah mate mangolu sapartahian, atau hidup dan mati dalam mufakat untuk sepakat.

Agar setiap individu mengatahui hak dan kewajibannya dalam relasi kekerabatan Dalihan na Tolu, maka diciptakanlah partuturon. Dengan begitu, pada tutur melekat hak dan kewajibannya pada orang lain. Misalnya, seseorang yang dipanggil mamak, berarti padanya melekat hak dan kewajiban sebagai mora, dan orang yang memanggilnya melekat hak dan kewajiban sebagai anak boru. Anak boru harus menghormati (somba) moranya.

Dengan begitu seseorang harus senantiasa memposisikan dirinya secara konkrit dari partuturon itu. Adab paling mendasar dalam relasi mora, kahanggi dan anak boru adalah tolu apantunon, yaitu somba marmora, elek maranak boru dan manta-manat markahanggi.

 

Dicopy dari : https://askolan.wordpress.com/mandailing/

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Madina Turun ke Level 3

    Madina Turun ke Level 3

    • calendar_month Senin, 20 Sep 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Status covid-19 di Mandailing Natal (Madina) telah berada di level 3. Turun dari level 4. Kepastian itu diperoleh dari Rapat Evaluasi PPKM Level 4 Covid-19 oleh Forkopimda Madina di aula Pemkab Madina, Senin (20/9/2021). Penurunan itu berdasar hasil tim evaluasi Pemerintah Provinsi Sumatera Utara yang akan menjadi referensi bagi Menteri Dalam […]

  • Ini Data Bantuan Alsintan Dari Provinsi Untuk Petani Madina tahun 2024

    Ini Data Bantuan Alsintan Dari Provinsi Untuk Petani Madina tahun 2024

    • calendar_month Kamis, 13 Mar 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN – ( Mandailing Online) – Dinas Pertanian Mandailing Natal ( Madina ) kemaren selasa 12/3/2025 menyerahkan alat mesin pertanian ( Alsintan ) dari Kementerian Pertanian kepada sejumlah kelompok tani/ brigade pangan di Madina. Penyerahan sendiri dilakukan secara simbolis di Kecamatan Siabu. Setelah penyerahan Alsintan berlangsung ternyata salah satu brigade pangan penerima bantuan bersuara pada […]

  • Bupati Pasaman Tertarik Gabung di KEK Batahan

    Bupati Pasaman Tertarik Gabung di KEK Batahan

    • calendar_month Rabu, 11 Mar 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pihak Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat menyatakan ingin bergabung dalam Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Batahan di Mandailing Natal (Madina). Itu diungkap Bupati Pasaman, M Yusuf Lubis di Panyabungan dalam satu pembicaraan dengan Bupati Madina Dahlan Hasan Nasution serta Ketua Komisi 1 DPRD Madina Sobir Lubis usai menghadiri peringatan HUT Kabupaten Madina […]

  • Aksi Pagelaran Seni menyambut kemerdekaan RI

    Aksi Pagelaran Seni menyambut kemerdekaan RI

    • calendar_month Selasa, 2 Agt 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Bulan Agustus tahun 2011 merupakan bulan yang sangat istemewa. Bulan Agustus yang merupakan bulan keramat dan penuh cerita perjuangan bagi rakyat Indonesia, tahun ini bersamaan pula ritual umat Islam masuk ramadhan. Bila kita sejenak kembali pada sejarah bangsa Indonesia, kondisi tersebut hampir sama dengan bulan Agustus 1945, di mana saat di Proklamasikanya kemerdekaan Indonesia, waktu […]

  • Gula Aren Sipapaga Tembus Pasar Sumut

    Gula Aren Sipapaga Tembus Pasar Sumut

    • calendar_month Senin, 24 Jun 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 2Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Gula aren buatan Desa Sipapaga, Kecamatan Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina) sudah lama menembus pasaran di kawasan Sumatera Utara. Kepala Desa Sipapaga, Zulkarnaen Nasution, SP, Senin (24/6) menyatakan, para pedagang pengumpul selalu datang menjemput langsung ke desa itu. Sehingga para pengrajin gula aren di desa ini tak repot-repot mencari pembeli. “Biasanya […]

  • Relawan Alumni SMA Cabup Harun Mustafa Ajak Alumni Pilih nomor 1 di Pilkada Madina

    Relawan Alumni SMA Cabup Harun Mustafa Ajak Alumni Pilih nomor 1 di Pilkada Madina

    • calendar_month Sabtu, 26 Okt 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    Panyabungan ( Mandailing Online ): Relawan Alumni SMA Willem Iskandar Tanobato terus bergerak merangkul pemilih untuk pasangan calon bupati dan wakil bupati madina nomo urut 1 Harun Mustafa Nasution dan Ichwan Husein Nasution. Cara relawan alumni sealmamater Harun Mustafa merangkul pemilih cukup unik, mereka mendatangi setiap group keluarga alumni mulai dari group lulusan 86 sampai […]

expand_less